[FF] Behind The Case of Amnesia Soul

Title               : behind the case of amnesia soul

Rate               : pg +13

Genre             : MYSTERY, SUPERNATURAL, a little bit ROMANCE

cast               : D.O EXO, MINAH GIRLS DAY, CHEN EXO, HEECHUL SJ, LEETEUK SJ, L INFINITE, BARO B1A4, JIYEON T-ARA

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH

Disclaimer   : awalnya FF ini tuh buat lomba, tapi ternyata belum rezeki aku. Aku ga menang. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING.GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Please ENJOY =D.

 

“kau pelakunya!” tunjuk D.O pada seorang pria “kau yang membunuhnya. Dia tidak bunuh diri. Awalnya kau menyekapnya, hal itu terlihat dari tubuhnya seperti ada bekas ikatan tali. Setelah kau menyekapnya kau menggantungnya, seolah-olah Dia bunuh diri”

“mana buktinya kalau aku membunuh hah? Kau menuduhku sembarangan!” Pria itu tidak menerima jika dirinya dituduh

“hah? Buktinya? Eu….” D.O terdiam sesaat namun kemudian Ia melanjutkannya “eu… pasti di tasmu ada tali yang sama dengan tali yang terlilit dileher korban”

Polisi pun memeriksa tas Pria tersebut, dan benar ditemukan tali yang sama. Akhirnya Pria itu pun tak bisa menyanggah lagi. Polisi pun memborgol pria tersebut dan membawanya ke kantor polisi.

“terima kasih D.O. Sekali lagi kau memecahkan kasus pembunuhan dalam waktu singkat” ujar Heechul yang merupakan inspektur kepolisian

“ah iya sama-sama” ucap D.O

“nanti kalau kau sudah lulus, kau jangan melamar di televise atau Koran. Sudah kau jangan jadi jurnalis, kau jadi detektif saja di kepolisian kami hahahaha” canda Leeteuk, rekan kerja Heechul

“ah  betul, aku setuju hahahaha” timpal Heechul

“hahaha baiklah, nanti saya pikirkan setelah lulus”

“kalau begitu kami permisi dulu” pamit Heechul

D.O melirik keadaan sekitar, memastikan bahwa disekitarnya tak ada orang.

“ah udah enggak ada orang. aku sudah mengungkap siapa yang membunuhmu. Sekarang pergilah dengan tenang ke alammu” ujar D.O

“iya terimakasih sudah memberitahu mereka siapa yang telah membunuhku. Dengan begini aku bisa pergi dengan tenang. Terima kasih”

D.O melambaikan tangannya. Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan.

“prok-prok-prok hebat… sudah kuduga” cibir Chen yang muncul dari balik pintu “sudah kuduga ada yang salah denganmu. Untuk kesekian kalinya kamu berhasil memecahkan kasus pembunuhan kurang dari sejam. Baru saja aku mengumpulkan bukti-bukti, kau sudah memecahkannya lagi.”

D.O tersenyum miring “terima kasih atas pujianmu”

“tapi sayang pujian itu bukan untuk kemampuan analisismu, tapi karena kau berhasil menipu orang-orang. mereka berpikir kalau kau memiliki kemampuan analisis yang hebat. Orang berwajah tablo sepertimu itu enggak mungkin memiliki kemampuan analisis diatas aku. Analisis kamu itu begitu rendah. Aku tahu, kamu bisa memecahkan kasus-kasus itu menggunakan kemampuan supernaturalmu itu” tuduh Chen sinis

“analisa darimana itu? Emangnya kamu ngelihat kalau aku menggunakan sixth senseku?” Tanya D.O

“aku emang enggak bisa lihat arwah korban yang berusaha memberitahumu, tapi aku beberapa kali melihat kau berbicara sendiri. Seantero kampus kan sudah tahu kalau kamu bisa ‘ngelihat’ jadi aku berspekulasi kalau kau bisa memecahkan kasus karena bantuan arwah, bukan otakmu”

D.O hanya diam mendengar analisa Chen. Tak menampik tapi tak mengiyakan.

“kenapa diem? Bener ya analisaku? Hm… ya sudahlah” cibir Chen sambil meninggalkan D.O sendirian. D.O yang kesal hanya bisa memukul tembok.

D.O dan Chen merupakan teman sejurusan. Sudah menjadi rahasia umum di kampus mereka, jika mereka berdua adalah saingan berat dalam segala aspek. Akademik, non-akademik, ketenaran, dsb. Mereka berdua juga terkenal sebagai detektif. Mereka berdua telah beberapa kali memecahkan kasus-kasus kriminal yang terjadi di sekitar mereka. Sebenarnya Chen lebih sering memecahkan kasus tetapi untuk kasus pembunuhan seringkali D.O yang lebih dulu memecahkan dari Chen. D.O dapat memecahkan kasus pembunuhan karena Dia memiliki sebuah rahasia.

D.O memiliki sixth sense. Dia bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk astral. D.O menggunakan kemampuan sixth sensenya tersebut untuk memecahkan kasus, karena memang benar apa yang dikatakan Chen, kemampuan analisis D.O begitu rendah. Setiap terlibat kasus pembunuhan, D.O selalu menebak pelakunya melalui arwah korban. Dia bertanya dan meminta arwah korban untuk menceritakan apa yang terjadi saat Ia dibunuh. Saat D.O mengeluarkan analisa, arwah-arwah tersebut membisikkan kejadian yang terjadi. Oleh karena itu analisa D.O selalu rinci dan detail. Hanya dalam waktu sejam Dia sudah bisa menemukan pelakunya. Padahal normalnya butuh waktu berjam-jam untuk memecahkan kasus-kasus yang terjadi. Itu membuat kagum para petinggi polisi, seperti Heechul dan Leeteuk. Semenjak D.O sering memecahkan kasus pembunuhan, reputasinya menjadi tinggi dan baik, dan itu tentu saja membuat Chen sirik.

*****

D.O baru saja tiba di kampus. Saat melewati toilet, Ia melihat ada kerumunan orang. Sebagai mahasiswa jurnalis, jika ada keramaian sudah menjadi kewajiban untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi. Ia pun menyerobot masuk diantara kerumuanan orang. sampailah Ia di barisan paling depan. Ternyata di wc itu ada sesosok mayat wanita. Dari pergelangan tangan kanannya mengalir darah yang cukup deras.

D.O pun mengeluarkan kamera DSLRnya dari tas dan memotret TKP. Tak lama kemudian Heechul dan kawanannya datang dan membersihkan area TKP dari kerumunan orang. saat polisi sibuk menyelidiki, D.O melihat sekeliling toilet. Ia mencari arwah wanita tersebut. Ia belum lama terbunuh sehingga pasti arwahnya masih berada disekitar situ. Dugaan D.O tepat. Arwah wanita tersebut sedang berada di toilet tersebut. Arwah wanita tersebut tampak panik dan heboh melihat tubuhnya sendiri.

“apa?! Astaga?! Apa itu tubuhku? Apa aku bunuh diri? Tidak… seseorang tolong jelaskan padaku!” panik arwah wanita tersebut sambil berjalan mondar-mandir, lebih tepatnya melayang mondar-mandir. Arwah wanita itu mencoba bertanya pada tap orang, namun tak ada yang menjawab karena tak ada yang bisa melihat arwah wanita tersebut. D.O terus memperhatikan arwah wanita itu.

Arwah wanita itu masih saja tampak heboh dan linglung. Melayang mondar-mandir mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bertanya tak ada yang menjawab. Akhirnya wanita itu sadar kalau dirinya sedang diperhatikan D.O. Dia pun mendekati D.O.

“hei daritadi kau memperhatikanku kan? Berarti kau bisa melihatku. Ayolah jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku bunuh diri?” Tanya arwah wanita itu. D.O tak langsung menjawab karena disitu banyak orang. Jika ia ketahuan bicara sendiri, selain dianggap gila, bisa-bisa terbongkar jika selama ini Dia menebak pelaku pembunuhan bukan hasil analisa otaknya.

“hei, jawab dong! Apa kamu enggak bisa lihat aku juga? Ah enggak mungkin, orang dari tadi kamu ngelihatin aku mulu. Kenapa sih kamu ngelihatin aku mulu? Aku cantik ya?”

Aigo, ini arwah udah bawel, narsis pula pikir D.O. D.O yang tak tahan dengan bawelan arwah wanita tersebut memberi kode pada arwah wanita tersebut untuk mengikuti dirinya. Arwah wanita tersebut pun mengikuti dirinya. Kini mereka berdua berada di belakang toilet. Tempat tersebut cukup sepi sehingga aman jika D.O berkomunikasi disini.

“ada apa kamu bawa aku kesini? Sebenernya ada apa denganku? Kok aku bisa bersimbah darah gitu?” Tanya arwah wanita itu.

“harusnya aku yang nanya gitu!” seru D.O “kamu ini siapa? Apa kamu mahasiswi kampus sini? Ceritakan semua yang terjadi sehingga kamu bisa terkapar tak bernyawa di toilet”

Arwah wanita itu pun tertegun. Ia tampak seperti yang berpikir. “hm….. enggak tau”

D.O terkejut “loh kok enggak tahu?”

Arwah wanita tersebut mengangguk “iya aku enggak tahu. Aku enggak ingat apa-apa, bahkan aku enggak ingat nama aku siapa”

D.O menepuk jidatnya “ya Tuhan! Seriusan kamu enggak tahu nama kamu siapa? Kamu enggak ingat apa-apa sama sekali?”

Arwah wanita itu mengangguk sambil memanyunkan bibirnya. D.O tampak mulai frustasi. Bagaimana bisa Ia mengungkap kasus ini kalau arwah wanita itu tidak ingat apa-apa. Padahal harapan Ia untuk bisa mengungkap kasus dalam waktu cepat hanyalah mendengarakan pengakuan arwah wanita itu.

“aneh. Kok bisa kamu amnesia? Biasanya orang yang sudah meninggal walaupun mendapat benturan keras di kepalanya, Dia takkan amnesia. Pasti Dia akan mengingat kejadian sebelum Ia mati, tapi kamu enggak ingat apa-apa. Kok bisa?” bingung D.O

“sebenernya apa yang terjadi denganku?” Tanya arwah wanita itu

“manakutahu!” gerutu D.O “aduh bagaimana bisa aku mengungkap kasus ini kalau kamu enggak ingat apa-apa. Kalau sampai aku enggak bisa memecahkan, reputasiku turun drastis  dan Chen akan merendahkanku. Haish… bagaimana ini? hei kau! Seriusan sama sekali enggak ada yang kamu ingat?”

Kepala arwah wanita itu menggeleng.

“haduh. Bagaimana ini?” bingung D.O. D.O pun memutuskan untuk kembali ke TKP dan arwah wanita itu mengikutinya. Di TKP tampak Heechul, Leeteuk, dan Chen sedang membuat analisa.

“korban bernama Bang Minah. Dia merupakan mahasiswi kedokteran. Kematian diduga bunuh diri. Untungnya korban ditemukan cepat sehingga Dia masih bisa dibawa ke rumah sakit, hanya saja saat ini Ia sedang koma” ujar Leeteuk

“oh jadi namaku Minah? Dan aku masih hidup? Wah kau dengar? aku masih hidup! hore!” girang arwah wanita itu yang ternyata bernama Minah sambil menggoyang-goyangkan badan D.O, tetapi D.O mengacuhkannya

“koma? Berarti Dia masih hidup? Oh… aku mengerti! Pantesan aja Dia amnesia, orang Dia belum meninggal” D.O berbicara pada dirinya sendiri dengan suara kecil

“di TKP ditemukan pisau yang diduga untuk memotong urat nadinya, dikepalanya seperti ada pukulan dari benda tumpul” jelas Leeteuk

“benda tumpul? Hm… kenapa bisa ada luka benda tumpul?” selidik Heechul

“selain itu di pisau tersebut memang hanya ditemukan sidik jari korban, tapi anehnya sidik jari tangan kanan, padahal nadi yang terpotong berada di tangan kanan”

“itu berarti dia bukan bunuh diri, tapi dibunuh. Bukan begitu D.O-ssi?” tebak Chen sambil mendelik sinis pada D.O

“bagaimana menurutmu D.O? apakah ini bunuh diri atau pembunuhan?” D.O diminta pendapat oleh Leteuk. D.O langsung gelagapan panik, karena tanpa ingatan Minah, Ia takkan bisa mengungkap kasus tersebut

“eu….”

“bagaimana? Biasanya kau sudah mempunyai analisa lengkap” sindir Chen

Jir, ini bunuh diri apa pembunuhan. Sumpah, gelap! Pikir D.O

“masa iya sih aku bunuh diri, kayaknya enggak mungkin deh. Pasti aku dibunuh!” seru Minah

“gimana menurutmu?” Heechul ikut bertanya

D.O bingung mau menjwaab apa. Mereka semua bertanya pertanyaan yang sama. D.O yang tak mau kehilangan kreditibilitasnya, Ia pun mencoba menjawabnya

“eu… aku pun berpikir seperti itu. Pembunuhan”

“mengapa?” serang Chen

                Mana ku tahu! Arwahnya sendiri yang bilang! Jawab D.O dalam hati. D.O pun tetap berusaha menjawab “eu… karena aku merasa aneh saja kenapa ada memar di kepalanya, padahal Ia kan mau bunuh diri”

 “tahu dari mana? Bisa aja kan luka benda tumpul itu karena Ia terjatuh, atau Ia tak sengaja dipukul”

Hell yeah,you Chen! rasanya D.O ingin kata makian itu keluar dari mulutnya, tapi sayangnya saat tiba diujung lidah kata-kata itu terhenti.

“eu… menurutku kasus ini agak rumit. Kalau begitu izinkan aku untuk keluar sebentar untuk berfikir” alibi D.O. Ia ingin keluar dari TKP untuk kembali ‘mengintrogasi’ Minah ditempat mereka tadi mengobrol.

“hei, bagaimana kau tahu kalau kau dibunuh bukan bunuh diri?” Tanya D.O

mollayo. Feeling aja” jawab Minah

what? Feeling? Ayolah! Jawab dengan jawaban masuk akal agar aku bisa memberi analisa pada yang lain!”

“jawaban masuk akal yang kayak gimana?” Minah bertanya balik

“jawab pertanyaan ku sekali lagi. Seriusan enggak ada satupun yang kamu ingat?”

Minah menggeleng

“sedikiiiiit aja. Tak usah tentang percobaan pembunuhanmu, tentang dirimu sendiri saja. Apa ada yang kau ingat?”

“enggak”

“Haish!” frustasi D.O “apa yang bisa diharapkan dari hantu amnesia macam dia ini?!”

“bagaimana sudah mendapatkan inspirasi untuk analisa kasus ini?” Tanya Chen yang tiba-tiba muncul

aigo, kau ini selalu muncul tiba-tiba.” Protes D.O “Ada apa kau mendekatiku?”

“sedang membuktikan dugaanku. Ternyata benar selama ini analisamu bukan hasil otakmu, tapi karena keburuntungamu yang bisa berkomunikasi dengan makhluk gaib” ujar Chen

Dugaan Chen yang tepat membuat D.O mulai panas, tapi D.O masih berusaha untuk bersabar.

“apa yang kau katakan? Aku enggak ngerti” kata D.O berusaha tenang

“masih menyangkal? Kalau gitu kita buktikan. Kita bertaruh. Kita selesaikan kasus ini dalam waktu 5 hari. Siapa yang paling cepat Dia pemenangnya. Yang memang berhak mendapatkan 100.000 won dari yang kalah. Bagaimana?” Chen mengajukan penawaran

D.O diam saja mendengar tawaran Chen. Sesungguhnya Ia enggan menerima taruhan tersebut, karena Ia tak yakin kemampuan analisanya dapat memecahkan kasus itu dalam waktu 5 hari. Apalagi jika harus bertaruh dengan Chen yang kemampuan analisanya diatas dirinya. Jika kalah selain uang 100.000wonnya melayang, reputasi Dia bisa hancur.

“kenapa diem? Takut?” tantang Chen

“kalau kita berdua sama-sama tidak bisa memecahkan kasusnya dalam 5 hari?” Tanya D.O

“enggak mungkin sih, karena aku pasti bisa memecahkannya”

“segala kemungkinan bisa terjadi,bung!”

“hm… bener juga sih. Oke kalau kita berdua sama-sama enggak berhasil, kita harus menyumbangkan 100.000 won kita pada gelandangan. Bagaimana? Deal?

D.O tampak berpikir sesaat. Jika Ia menolak taruhan tersebut itu membuktikan kalau dirinya memang bodoh, pengecut dan hanya mengandalkan kemampuan sixth sensenya, kredibilitassnya dapat hancur seketika. Jika Ia menerima Ia tak yakin dapat menang, tapi Ia bisa berjuang untuk mempertahankan harga dirinya.

“oke, deal!” D.O dan Chen pun bersalaman menandakan petandingan dimulai.

*****

D.O melihat-lihat foto yang Ia ambil dari TKP. Berusaha menyelidiki keanehan pada foto tersebut, tetapi sudah berjam-jam Ia berpikir otaknya masih buntu.

“petunjuk… ayolah petunjuk, please. Ada petunjuk dari foto ini, tolong!” D.O mengacak-acak rambutnya

“bagaimana? Masih bingung juga? Payah, sudah dari kemaren berjam-jam berkutat melihat foto, tapi enggak bisa menemukan apapun. Waktumu tersisa tinggal 3 hari lagi loooh” ejek Minah

“BERISIK!!!” teriak D.O “gara-gara siapa juga aku enggak nemuin pentujuk? Gara-gara kamu! daritadi bawel mulu! Lagian ngapain juga sih kamu ngikutin aku ampe rumah?”

“selain aku enggak tahu mau kemana, aku juga penasaran dengan kasusku sendiri”

“kalau kau penasaran, kenapa enggak ikutin aja si Chen? pasti Dia bakalan banyak nemuin petunjuk”

“ya tapi kan aku enggak bisa berkomunikasi dengannya. Yang bisa lihat aku cuman kamu”

“kalau mau ngikutin aku, jangan berisik! Enggak guna banget!”

“apa? aku enggak guna?” Minah mulai meradang “sialan kau! Aku ini berguna, tahu! Akan kubuktikan. Coba deh zoom foto aku”

D.O menuruti perintah Minah. D.O memperbesar foto Minah. Ia mulai menggeser-geser, melihat secara detail tubuh Minah. Saat dibagian pergelangannya yang terluka, D.O berhenti. Dia mulai memperhatikan.

“Hm…. Garis lukamu cukup banyak dan berantakan” gumam D.O

“apa kamu enggak aneh? Biasanya orang yang bunuh diri dengan cara memotong nadinya akan melakukan pelan-pelan sehingga garis luka yang diciptakan akan lebih rapi dan berupa garis lurus, karena kalau berantakan seperti itu akan sakit sekali” ujar Minah sambil menunjuk fotonya

“jadi dengan kata lain ini fix pembunuhan bukan bunuh diri?” Tanya D.O

“menurutku sih gitu”

D.O tampak takjub dengan analisa Minah “ckckck kamu ini amnesia tapi kok bisa bikin analisa seperti ini?”

“walau aku amnesia, tapi bukan berarti logikaku enggak jalan kan?”

D.O pun fokus kembali pada garis luka. Perkataan Minah tadi sedikit membuka otaknya. Ia pun mulai mencoba berpikir dan mencari sesuatu yang aneh dari garis luka tersebut.

“banyak dan tampak berantakan. Bener juga garis ini seperti dibikin oleh orang yang terburu-buru, jadi enggak mungkin bunuh diri” D.O mulai menganalisis. Ia perhatikan dengan baik-baik garis luka tersebut. Kemudian Dia menyadari sesuatu “semua garis luka ini memiliki garis yang miring ke atas dari kanan ke kiri. Tunggu dulu… miring ke atas dari kanan ke kiri ditangan kanan?”

D.O mencoba memperagakannya dengan kertas dan pulpen. Pulpen dianggap sebagai pisau, kertas sebagai pergelangan kanan Minah. D.O mencoba membuat garis beberapa kali menggunakan tangan kanannya.

“kok rasanya enggak enak ya? berasa janggal” ucap D.O

“coba pake tangan kiri” usul Minah

D.O pun mencoba menggunakan tangan kirinya.

“lebih enak. Jangan-jangan pelakunya bertangan kidal” duga D.O

“bisa jadi! Bisa jadi!”

“kata Heechul kemaren ada 3 tersangka. Aku harus datang pada mereka semua untuk tahu alibi dan motif, dan untuk tahu siapakah diantara mereka yang bertangan kidal. Aku harus minta kontak mereka ke Heechul”

*****

“ting tong”

Keluarlah seorang gadis cantik berambut panjang. Gadis itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Gadis itu hanya memberi tatapan sinis. D.O awalnya sempat terpesona namun karena diberi tatapan sinis, D.O hanya dapat menelan ludah.

nugu?” Tanya Minah

“katanya sih saingan kamu buat masuk agensi. Dia juga sekampus ama kita. Dia anak manajemen” jawab D.O dengan suara pelan karena takut disangka ngomong sendiri

“agensi?” bingung Minah, tapi D.O mengacuhkan kebingungan Minah. Dia memperkenalkan dirinya pada gadis tersebut

annyeong haseyo. Nama saya D.O. saya anak Jurnalistik. Apakah kamu yang bernama Jiyeon?” D.O mengulurkan tangannya tapi tak ditanggapi oleh gadis tersebut.

“ada apa sih ama anak-anak jurnal? Kemaren juga udah ada anak jurnal yang dateng. Mau ngapain sih kalian? Enggak penting banget sih!” sinis gadis tersebut yang bernama Jiyeon

“kemaren ada anak jurnal? Siapa?” heran D.O

“tau! Lupa”

“Chen?”

“ah iya ya. Dia. Kamu kesini buat apa? Buat nanyain masalah si gadis genit itu?”

Damn, keduluan Chen. WTF! Umpat D.O dalam hati. D.O pun menjawab pertanyaan Jiyeon dengan anggukan

“kalau mau ngomongin masalah Dia, sorry, enggak nerima!” seru Jiyeon sambil menutup pintu apartemennya, tapi langsung D.O cegat

“tolong jangan ditutup dulu. Sejam aja minta waktunya bentar” mohon D.O

Jiyeon langsung berusaha untuk menutup pintu, tapi kembali dicegat D.O

“45 menit gimana?” tawar D.O tapi tetap ditanggapi dingin oleh Jiyeon

“saya sibuk!”

“setengah jam? Ah oke..oke. only 15 minutes. Gimana?”

Jiyeon pun tampaknya mulai lunak “oke. 15 menit aja! Masuk”

D.O dan Minah pun duduk berhadapan. D.O meminta Jiyeon untuk menceritakan apa yang sedang Ia lakukan pada saat waktu perkiraan pembunuhan Minah, yaitu jam 6-7 pagi.

“tak ada yang kulakukan. Aku tidur. Aku baru bangun sekitar jam 8an” jawab Jiyeon

“ada saksinya?” interogasi D.O

“tak ada. Aku hanya sendiri disini”

“berarti alibi kamu itu enggak kuat. Bisa saja kau berbohong”

“memang” angguk Jiyeon “tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Lagian kalau aku keluar pasti satpam dan resepsionis apartemen ini melihatnya. Ya kalau kau mau tanyakan saja pada mereka.”

“kudengar kau dan Dia saat dini hari bertengkar melalui telepon?”

“iya benar. Memang kenapa? Apakah karena itu aku dijadikan tersangka? Polisi, anak jurnal yang kemaren, dan kamu menanyakan hal yang sama”

D.O mengiyakan dugaan Jiyeon “ya begitulah. Oh iya aku dengar dari Heechul motifmu cukup kuat untuk membunuh Minah, yaitu karena kalian berdua adalah grandfinalis ajang pencarian bakat untuk memasuki sebuah agensi. Benar begitu?”

“memang iya. Aku dan Minah merupakan grandfinalis dan hanya salah 1 dari kita yang bisa masuk agensi tersebut. Aku memang ingin menang dari Dia. Aku dan Dia dari awal juga sudah bersaing sangat ketat. Walaupun aku enggak suka ama Dia dan ingin menang dari Dia tapi aku ini mahasiswa, orang terdidik. Aku enggak sepicik dan sekotor itu” sanggah Jiyeon dengan emosi. Jiyeon meminum air mineral untuk meredam emosinya.

“D.O,liat! Dia minum pake tangan kiri! Dia kidal! Pasti Dia yang ngebunuh aku!” seru Minah. Minah pun berdiri dibelakang Jiyeon, kemudian mengepalkan tangannya seolah-olah ingin memukul Jiyeon “pasti kamu kan yang mau ngebunuh aku? Ngaku! Ayo ngaku!”

Melihat tingkah laku Minah, D.O mempelototi Minah.

“heh, ngapain melotot?! Biasa aja kali matanya” cibir Jiyeon yang merasa dipelototi D.O

“eh maaf-maaf enggak sengaja. Enggak maksud” D.O sedikit kalang kabut “Kalau begitu, terima kasih atas informasinya. Saya permisi dulu”

Setelah dari apartemen Jiyeon, D.O dan Minah mendatangi tersangka kedua. Tersangka tersebut berada di rumah sakit. Ia sedang berjaga di depan ruang ICU tempat raga Minah dirawat. Tersangka tersebut merupakan kakak tiri Minah.

“L?” sapa D.O. Kakak tiri Minah mengiyakan

“ah kenalkan saya D.O” D.O menundukkan kepalanya “bisa ngobrol bentar?”

“ngobrolin apa ya?” L mengkerutkan keningnya

“soal Minah”

“Minah? Oke. Kita jangan ngobrolin disini. Kita ngobrol di kantin” kata L

L dan D.O pun berbincang di kantin rumah sakit. Mereka mengobrol sambil memesan minuman. Sikap L jauh lebih ramah dibandingkan Jiyeon, sehingga D.O dapat mengorek-ngorek lebih dalam. L tak canggung untuk menceritakan keluarganya.

“Ibuku menikah dengan Ayahnya Minah. Ayah Minah merupakan pengusaha yang sukses, sehingga kehidupanku dan Ibuku akan terjamin. Awalnya aku tak setuju, karena aku pikir Ibuku tak sayang lagi dengan Ayahku yang sudah meninggal, aku pikir nanti ayah tiriku dan adik titirku akan menyebalkan, ternyata tidak. Mereka orang yang menyenangkan, apalagi Minah anaknya gokil. Sebulan yang lalu Ayah tiriku meninggal dan Ia meninggalkan warisan yang banyak. Minah mendapatkan jatah yang lebih besar dibandingkanku.” cerita L

D.O mengangguk-angguk mendengarkan cerita L “oke. apakah kamu ingin mendapatkan lebih besar dari dia?”

“Aku sempet ga terima hal itu, tapi setelah kupikir-pikir Minah berhak mendapatkan lebih besar karena Dia merupakan anak kandung, sedangkan aku anak tiri” jawab L sambil meminum espressonya

Tangan kiri

“berarti itu bisa jadi motifmu?” tuduh D.O

“sembarangan!” seru L “memang iya jika Minah meninggal aku bisa mendapatkn hartanya Dia, tapi aku enggak mungkin aku berbuat sekeji itu. Aku udah menganggap Dia sebagai adikku sendiri. Masa iya aku yang ngebunuh. Aku yang nungguin Dia tiap hari di ICU bergantian dengan Ibuku. Lagian kalau aku ngebunuh Dia, Ibuku enggak akan memaafkanku. Lagian alibiku cukup kuat. Saat waktu kejadian aku lagi di restoranku bersama kokiku. Kami sedang mempersiapan resep baru”

“kau seorang chef? oh ya bukannya kamu sempat bertemu Minah sekitar jam 5an di restoran? Makanya kau dijadikan tersangka”

“emang iya aku sempet ketemu Dia. Aku meminjam novel dan komik dari Dia, tapi itu pun hanya sebentar. Padahal aku ingin mengobrol dulu, tapi katanya Dia lagi buru-buru. Ada janji katanya”

“janji dengan siapa?” Tanya D.O

L mengangkat bahunya “entah”

“begitu ya…. oke oke. Terima kasih atas waktunya L Hyung” pamit D.O

“iya sama-sama”

Pengintrograsian dilanjutkan kepada tersangka terakhir. Mereka mengunjungi apartemen tersangka ketiga. Saat baru saja akan memencet bel, pintu apartemen itu terbuka. D.O terkejut saat pintu itu terbuka, karena yang membuka pintu adalah Chen.

“Chen?!” D.O terkejut

“halo D.O. bagaimana? Sudah mendatangi para tersangka? Aku sih udah semua, dan ya aku mulai nemu titik terang. Tinggal menemukan bukti 1 lagi” jelas Chen dengan sombong. D.O hanya diam mendengar penjelasan Chen. Ia sebal.

“terima kasih Baro. D.O, siap-siap aja 100.000 won mu melayang. Saya permisi dulu” pamit Chen

“ih itu orang nyebelin ya? tenang aja aku percaya kamu bisa memecahkan kasus ini. kalau kamu membutuhkanku, aku akan selalu berada disampingmu!!” ujar Minah bersemangat.

“ga butuh!” timpal D.O

“ah ya kenapa?” Tanya Baro yang bingung melihat D.O ngomong sendiri

“hah? Oh enggak-enggak” jawab D.O cepat “betul kamu yang bernama Baro?”

“iya” angguk Baro “kamu pasti bermaksud sama dengan orang tadi, untuk menanyakan Minah kan? Sikahkan masuk”

D.O dipersilahkan masuk dan duduk. Sementara itu Baro sedang membuatkan minuman untuk tamunya itu. Sambil menunggu D.O melihat-lihat piala yang dipajang dan foto-foto. Kebanyakan foto-foto tersebut adalah foto dirinya saat memanjat tebing, rafting, hiking, dan kegiatan alam lainnya. Adapula foto dirinya saat bersama Minah.

“loh ada fotoku dengannya! Memang Dia itu siapa?” Tanya Minah

“Dia itu pacarmu. Pacar sendiri aja enggak nyadar” jawab D.O “memangnya kamu enggak merasakan yang beda saat melihat Dia? Enggak deg-degan? Walau amnesia tapi biasanya kalau kamu memang sayang ama orang itu kamu bisa merasakannya.”

“enggak tuh biasa aja”

“dasar aneh!”

“silahkan diminum dulu” tiba-tiba Baro datang mebawa minuman

“iya terima kasih. Oh iya ini piala-piala apa? Jumlahnya cukup banyak”

“itu piala-piala dari kejuaraan climbing. Saya adalah seorang pecinta alam. Terakhir aku mengikuti lomba 5 hari yang lalu, tapi karena ada kecelakaan saya enggak menang” ujar Baro sambil meletakkan minuman di meja.

D.O melihat tangan Baro. Ia meletakkan gelas minuman menggunakan tangan kanan dengan sedikit gemetar. Setelah berbasa-basi sedikit, mereka mulai memasuki pokok pembicaraan. D.O menanyakan apa yang dilakukan Baro saat waktu perkiraan kejadian.

“aku lagi jogging di deket kampus, abis itu aku makan bubur di deket taman. Memang iya aku sempat bertemu Minah sekitar jam 5 di taman deket kampus tapi itu cuman bentar Karena katanya Dia ada janji” cerita Baro

“janji? Janji dengan siapa?” Tanya D.O

“entah. Lagian Aku ini pacarnya Minah. Masa iya aku ngebunuh Dia? Apa coba motif aku?”

“kudengar akhir-akhir ini kamu dan Dia sering bertengkar hebat. Bahkan beberapa orang pernah ngelihat kamu nampar Minah. Entah alasan apa yang membuat kalian bertengkar hebat sampai menampar Dia, tapi kurasa itu bisa jadi motif” jelas D.O

what? Dia pernah nampar aku? Pacar macam apa dia! Jangan-jangan Dia ngebunuh aku lagi?” sebal Minah

“ssuuut diem!” seru D.O pada Minah

“kejadian aku menampar Dia itu sudah hampir 1 minggu yang lalu. Aku menampar Dia karena aku lepas control, tapi setelah itu aku minta maaf dengan Dia. Walau aku sempet bertdak kasar ama Dia, aku sayang ama Dia. Enggak mungkin aku ngebunuh Dia! Lagian aku mempunyai saksi kalau aku memang lagi jogging di jam kejadian. Tanyakan saja pada tukang bubur itu”

D.O mengangguk-angguk “oke, baiklah. Terima kasih atas infonya. Saya pergi dulu”

Selain mendatangi tersangka, D.O pun mendatangi saksi untuk menguatkan alibi tersangka. Ketiga saksi untuk alibi tersangka mengatakan hal yang sama dengan tersangka. Hal itu menunjukkan bahwa alibi mereka cukup kuat dan masih belum diketahui siapa yang berbohong.

“diantara mereka bertiga yang bertangan kidal ada 2 tersangka, yaitu Jiyeon dan L. Motif cukup kuat” gumam D.O

“tapi untuk kakak tiriku itu kayaknya Dia terlalu baik deh buat jadi pembunuh” sahut Minah

who knows? Bisa aja kan. Lagian enggak nutup kemungkinan juga Baro yang ngebunuh kamu. ada yang aneh dengan pengakuan Baro dan L. L dan Baro sama-sama bertemu denganmu sekitar jam 5 dan sama-sama bentar karena kamu ada janji, dan mereka juga sama-sama enggak tahu kamu janjian dengan siapa. Hm.. pasti diantara mereka ada yang berbohong”

“tapi kan Baro tidak bertangan kidal” sanggah Minah

“nah itu yang aku bingungin. Aku juga enggak yakin. Dia kan enggak kidal, kalau seandainya Dia yang negbunuh kenapa coba Dia pake tangan kiri?”bingung D.O

“sudahlah aku yakin pasti yang ngebunuh aku itu adalah Jiyeon! Aku enggak suka dengan orang itu!” gerutu Minah

“kamu enggak suka dengannya? Berarti kamu mengingat sesuatu dong?”

“aku belum mengingat apapun, tapi entah mengapa setiap ngelihat Jiyeon bawaannya kesel. Lagian sikap Dia tadi sama sekali tidak menyenangkan. Pasti Dia yang membunuhku!”

D.O mengacuhkan tuduhan Minah. D.O kembali fokus pada analisanya sembari melihat foto-foto hasil jepretannya. Diacuhkan D.O, Minah terus saja mengoceh. Dia terus menuduh Jiyeon yang membunuhnya. Minah yang berisik membuat D.O tak bisa berkonsentrasi.

“untuk apa kau berpikir lagi? Sudah pasti Jiyeon yang melakukannya” tuduh Minah “Jiyeon! Jiyeon! Jiyeon! Jiyeon, D.O! Jiyeon!!! Ih dicuekkin lah. Udah yakin padaku, pasti Jiyeon!”

“BERISIK BAWEL!!! Mana bisa kau percaya padamu kalau kau amnesia. Aku harus mencari bukti dan membuat analisis sendiri. Kau ini mengganggu konsentrasiku! Kalau kamu masih pengen ngikutin aku, menjauh dariku sekarang! ke dapur kek, ke ruang TV kek, kemana aja deh asal jangan di dekatku sekarang!!!” kesal D.O

Dimarahi D.O, Minah langsung cemberut. Ia keluar dari kamar D.O. akhirnya D.O bisa berpikir tenang. Baru saja beberapa menit Dia berpikir dengan tenang, konsentrasinya kembali buyar saat mendengar teriakkan Minah.

“KYAAA!!!”

D.O pun langsung keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi.

“aduh… ada apa sih kamu teriak-teriak?” Tanya D.O

“i…itu…. Apa?” Tanya Minah sambil menunjuk pojokkan sofa. D.O melihat apa yang ditanyakan Minah. Setelah tahu apa yang Minah lihat, D.O menepuk jidatnya.

“ya ampun. Minah…Minah… kau ini arwah, masa takut juga ama arwah sih? Dia arwah anak tetanggaku, Dia sering main kesini. Sudah biarkan saja, dia takkan mengganggu kok” jawab D.O sambil kembali ke kamarnya meninggalkan Minah yang masih shock karena melihat arwah bocah botak tersebut. Namun dibalik pintu kamarnya D.O tertawa kecil melihat tingkah laku Minah yang polos.

*****

Tinggal tersisa hari ini dan esok untuk mengungkap kasus Minah. Walau sudah ada titik terang, tetap saja D.O belum bisa menemukan siapa pelakunya. Bukti yang ada belum menguatkan spekulasinya. Agar mendapat inspirasi, D.O kembali mengunjungi TKP. Ia mencoba menyelidiki sekitar toilet. Ia pun mengobrol dengan penjaga wc.

“waktu itu yang pertama nemuin Minah itu bibi ya?” Tanya D.O. bibi penjaga wc itu mengangguk.

“Bi, pas hari itu bibi udah di kampus dari jam berapa? Yang pegang kunci toilet cewek cuman bibi kan?”

“jam 6 juga bibi udah di kampus. Iya cuman bibi yang megang. Hari itu bibi begitu tiba langsung ngebuka pintu toilet. Jam 6 kan biasanya masih sepi enggak ada siapa-siapa, alhasil bibi pergi keluar buat nyari sarapan dan ngobrol-ngobrol bentar ama temen. Sekitar jam 7 lebih bibi dateng, eh udah ada Minah yang bersimbah darah. Harusnya bibi waktu itu enggak ngebuka wc dulu” jelas Bibi penjaga

“setelah bibi ngebuka toilet, kuncinya dibawa bibi?”

“iya”

“begitu ya? baiklah… terima kasih bi atas infonya”

Hm… tampaknya pelaku memanfaatkan kampus yang masih sepi.

D.O pun mulai memikirkannya kembali. Lagi dan lagi saat D.O berpikir, Minah merecoki.

“kan aku ditemukannya di toilet cewek, yang bisa masuk toilet cewek itu kan pastinya cewek. Enggak mungkin cowok senekat itu. Jadi pasti Jiyeon pelakunya! Percaya ama aku!” seru Minah

“berisik ih! Jangan asal nuduh kalau cuman spekulasi, kecuali kalau amnesia kamu sembuh terus inget cerita kejadian sebenarnya, baru aku percaya” protes D.O

“nyebelin” cemberut Minah. Minah pun pergi melayang menjauhi D.O, tetapi baru saja menjauh sebentar, Ia menghampiri lagi D.O dengan panik

“D.O!!!” panggil Minah panik “aneh, tubuhku kok agak transparan ya?”

“ya kali… kamu kan arwah gimana sih?” jawab D.O asal

“bukan transparan dalam arti aku nembus benda, tapi aku ngelihat tubuhku sendiri transparan”

Belum sempat D.O menjawab, tiba-tiba terdengar sapaan.

“halo D.O” terdengar sapaan Chen yang mengejutkan D.O “bagaimana sudah menemukannya?”

D.O hanya tersenyum miring. “how about you?

i found it” Chen tersenyum kemenangan “tinggal selangkah lagi. Kamu?”

D.O menelan ludah. Chen ternyata sudah menemukan siapa pelakunya. Dia tinggal mengungkapkannya saja. D.O kesal, tapi Ia berusaha menyembunyikan rasa kekalahannya

“kalau kau sudah menemukannya, mengapa tidak kau ungkap siapa pelakunya?” Tanya D.O sinis

“aku belum menemukan pelakunya kok, tapi aku sudah tahu benda apa yang membuat kepala Minah memar. Tinggal selangkah lagi aku tahu pelakunya. Aku yakin pasti kamu belum tahu benda apa yang membuat Minah memar” ujar Chen

D.O hanya diam mendengar dugaan Chen yang tepat. Ia belum terpikir apa yang membuat Minah memar.

“kenapa diem? Bener ya dugaanku? Oh cupcupcup kasian. Oke, karena aku baik hati aku kasih kamu clue. Periksa benda-benda sekitar toilet cewek. Perhatikan detail.” Chen memberi petunjuk kemudian pergi meninggalkan D.O yang kebingungan. D.O penasaran detail apa yang harus Ia lihat. D.O pun langsung mencarinya disekitar area toilet wanita. Dibelakang toilet dan didepan, tetapi tetap saja tak Ia temukan.

“detail apaan coba? Haish sudahlah, nampaknya aku enggak bisa memecahkan kasusmu! Sudahlah kurelakan saja reputasiku hancur dan uang 100.000 ribuku jatuh ke Chen” keluh D.O

“jangan patah semangat dong! Aku tahu pasti bisa. Kamu ini anak jurnal, anak jurnal pasti punya kemampuan analisis yang bagus. Kamu pasti bisa! Semangat!” Minah menyemangati

Mendengar semangat dari Minah entah mengapa D.O langsung dapat energi kembali. Ia pun berusaha mencari lagi, tapi sebelum mencari D.O meminum air dari wastafel keran air minum yang tak jauh dari toilet wanita. Saat Ia minum dari keran tersebut, D.O memperhatikan wastafelnya. Di wastafel tersebut terdapat garis-garis kasar, seperti bekas tergores sesuatu. D.O memperhatikan dengan betul. D.O mendadak mendapat cahaya terang. Ia mengambil kameranya dan melihat foto-foto Minah saat ditemukan. Setelah melihat itu D.O pun mulai tersenyum senang.

“hooo jadi ini… ya ya ya aku mulai mengerti” girang D.O “kayaknya ini bukan terencana. Di pisau enggak ditemukan sidik jari pelaku, tapi di tong sampah sekitar sini enggak ditemuin sarung tangan. Pelakunya menggunakan apa ya untuk menutup sidik jarinya?”

“mungkin pake bajunya kali” sahut Minah

“kayaknya enggak deh. Terlalu ribet”

“atau enggak pelakunya memanfaatkan benda disekitar toilet”

“benda sekitar toilet ya? hm….” Kini logika D.O sudah mulai terasah. Sebenarnya D.O memiliki kemampuan logika dan analisa yang cukup baik, namun Dia tidak menyadari itu. Dia hanya malas berpikir. “toilet itu ada…… tunggu. Jangan-jangan pelaku pakai itu lagi?!”

D.O langsung berlari menghampiri bibi penjaga toilet.

“bi. Apakah sampah hari senin kemarin masih ada?” Tanya D.O

“iya masih ada di tempat sampah belakang. belum diangkut.” Jawab bibi penjaga

“tempat sampah belakang itu tempat semua sampah dikampus ini dikumpulkan kesitu?”

Bibi penjaga toilet mengangguk

“haish… bagaimana aku mencarinya?” D.O mengacak-acak rambutnya

“tenang saja. Dipisahkan kok. sampah dari toilet wanita ini berada di tong warna hijau tua. Sampahnya diangkut seminggu sekali. Satu hari satu kantong plastik, jadi sampai hari ini di tong itu ada 4 kantong plastik”

“begitu ya… oke terima kasih Bi”

D.O langsung berlari menuju tempat pembuangan sampah. Tak butuh waktu lama Ia sudah menemukan tong warna hijau tua. Ia langsung membongkar keempat kantong plastic yang ada di tong itu menggunakan sarung tangan. Setelah membongkar-bongkar beberapa menit, akhirnya Ia menemukan apa yang Ia cari. Bukti tersebut Ia foto, setelah itu bukti tersebut Ia masukkan kedalam plastic. Tinggal selangkah lagi.

Malam harinya D.O mencoba mengumpulkan semua bukti dan alibi pelaku. Ia terus mencoba mencari benang merah diantara itu semua. Ia hanya perlu 1 bukti lagi untuk memastikan Siapa pelakunya.

D.O melihat-lihat kembali foto di TKP. Dia bolak-balik, Dia zoom berulang kali. Ia mencoba mencari sesuatu yang aneh. Ia berusaha berpikir dan konsentrasi dengan sungguh-sungguh, tapi lagi-lagi, setiap kali Ia mencoba serius berpikir, Minah selalu mengganggu.

“D.O! makin malam, kok tubuh aku makin transparan sih?” tanya Minah

D.O hanya melirik Minah sesaat tapi fokusnya kembali pada laptopnya. Minah yang dicuekkin merasa sebal. Akhirnya Minah mengeluarkan sebuah pernyataan mengejutkan.

“D.O aku telah mengingat sesuatu!” seru Minah. Mendengar pengakuan Minah, D.O langsung mengalihkan perhatiannya pada Minah

“Sungguh? Sejak kapan?” Tanya D.O semangat

“sejak tadi siang”

“kenapa enggak bilang dari tadi kalau kamu ingat sesuatu?! Lalu, siapa yang telah berusaha membunuhmu?”

Minah menggeleng “enggak tahu”

D.O terkejut “loh kok enggak tahu. Katanya Inget sesuatu”

“aku inget sesuatu bukan berarti aku ingat semuanya kan? Aku ingat ya, namaku Bang Minah. Aku mahasiswi kedokteran dan ingin menjadi dokter forensik atau spesialis mata. Ya aku ingat, Jiyeon dan aku bersaingan sangat ketat. Dia tak menyukaiku karena sirik, aku tak menyukai Dia karena Dia menyebalkan, tapi ada satu hal yang mengagumkan dari Jiyeon Dia seorang hair stylist handal. Aku ingat aku mempunyai ibu tiri dan kakak tiri. L orang yang sangat baik, aku udah nganggap Dia kakak sendiri. Sekitar 3 bulan lalu ayahku meninggal, dan ya aku mendapat harta warisan lebih banyak darinya. Aku tahu Dia butuh uang itu untuk memodali restorannya. Restorannya tak begitu menguntungkan, padahal Dia seorang chef handal. Masakannya enak banget. Lalu, aku dan Baro memang berpacaran. Kurang lebih udah 9 bulan. Baro orang yang menyenangkan walau terkadang kasar, tapi Dia selalu berkelakuan baik” cerita Minah panjang lebar

“udah? Gitu aja?”

“iya, tapi anehnya aku enggak inget kejadian 2 bulan kemaren. Kenapa ya? dan kenapa tubuhku makin transparan?”

“ada 2 kemungkinan” jawab D.O “kemungkinan pertama sebentar lagi kau akan sadar dari komamu, atau kemungkinan kedua kamu akan meninggal”

“serius?” Mata Minah membelalak “kalau aku meninggal gimana? Aku kan masih pengen nerusin cita-citaku. Hiks. Kalau aku meninggal aku harus kemana? Bolehkan kalau aku terus bersamamu? Habisnya aku enggak tahu mau kemana lagi”

“enggak boleh!” tolak D.O mentah-mentah. Minah langsung cemberut

“ih padahal aku seneng loh berada dideket kamu. walau kamu terkadang galak, tapi kamu baik. Mau mecahin kasus aku dan mengizinkanku mengikutimu”

“aku mau mecahin kasus kamu bukan demi kamu, tapi demi aku sendiri! Kalau aku enggak berhasil mecahin kasusmu uang 100.000 ku melayang dan yang paling parrah reputasiku hancur dan Chen akan menganggapku rendah! Aku mengizinkanmu untuk bersamaku, karena ya mau gimana lagi?”

“tuh kan kamu orangnya baik hati. Kamu enggak bisa kan menolak aku?” goda Minah

“apaan sih?!” hardik D.O dengan sedikit wajah memerah “udah ah fokus lagi”

D.O kembali fokus melihat foto-foto di TKP. Baru saja melihat sebentar tiba-tiba Minah ribut lagi, namun ributnya kali ini benar-benar membuka pikiran D.O.

“D.O! lihat deh. Itu apaan? Coba zoom” Minah menunjuk foto

D.O pun memperbesar foto tersebut “jejak sepatu!”

“itu sepatu bukan sepatu biasa. Enggak semua orang punya sepatu kayak gitu”

“tunggu kayaknya aku tahu! Itu kan sepatu…….”

Tabir mulai terungkap dengan jelas. D.O kembali semangat. Untuk menambah bukti kebenaran akan spekulasinya, D.O iseng melihat foto pisau yang digunakan untuk memotong urat nadi Minah. Ia pun memperbesar foto itu untuk melihat pisau itu. Tiba-tiba Ia menyadari sesuatu.

“loh? Itu kan pisau yang biasa digunakan seorang……..” D.O langsung loncat kegirangan “ya enggak akan salah lagi. Dia yang membunuhmu!”

“siapa?” Minah mulai ikut gembira

“sekarang udah malam. Kita lihat besok. Besok kita bangun pagi-pagi untuk bertanya pada saksi mereka”

“kenapa harus nanya lagi ke saksi yang menguatkan pendapat mereka?”

“ada yang ingin kutanyakan, dan aku yakin Dia pasti tahu. Chen, bersiaplah. 100.000mu jadi milikku” D.O tersenyum penuh arti

*****

 “ada apa kalian mengumpulkan kami? Enggak enak banget tempatnya di ICU, dihadapan tubuh Minah” Tanya Jiyeon

“kami mengumpulkan kalian semua disini untuk mendengarkan analisa dari Chen. dia sudah mengetahui pelaku yang berusaha membunuh Minah 5 hari lalu” jelas Heechul

“oh ya mana anak yang satu lagi? Bukannya Dia kemaren-kemaren sempet interogasi juga?” Tanya Baro

“yang ikut interogasi? Yang mana?” bingung Leeteuk

“itu yang pendek. Yang mukanya agak-agak bloon”

“oh D.O? oh iya itu anak kemana ya? kok enggak ada kabar?”

“ngapain juga nyariin dia? Kan saya udah tahu siapa pelakunya” timpal Chen “oke saya mulai ya. kalian bertiga dijadikan tersangka karena kalian lah orang yang terakhir berkomunikasi dengan Dia. Yang memperkuat lagi adalah kalian bertiga sama-sama punya motif yang kuat”

“motif apa?” Tanya L

“kau, L. Kau pasti ingin harrta warisan bagian Minah, Jiyeon, kau adalah saingan beratnya Minah, dan terakhir Kau Baro, akhir-akhir ini kalian sering berantem besar, entah karena apa, tapi nampaknya itu hal serius karena katanya kau sempat sampai bertindak kasar. Jadi, bisa jadi kan?”

“tunggu.. jadi kamu menuduh aku?” Baro tidak terima dirinya dituduh

“eits.. tunggu dulu. Dengarkan dulu. Dilihat dari garis luka yang banyak dan berantakan jelas Dia dibunuh. Yang saya perhatikan dari garis lukanya, tampaknya pelaku bertangan kidal. Diantara ketiga pelaku yang bertangan kidal ada 2 yaitu Jiyeon dan L”

“jadi menurutmu pelakunya ada diantara mereka berdua?” Tanya Heechul

Chen mengangguk “iya. Pelaku bertemu di kampus dengan korban. Lalu mungkin terjadi perkelahian dan sebagainya, sehingga korban jatuh dan kepalanya terbentur wastafel keran air minum di dekat toilet wanita, setelah itu pelaku membawa korban kedalam wc, kemudian memotong nadi korban menggunakan pisau, lalu membuat sidik jari di pisau agar terlihat korban bunuh diri. Seseorang yang bertangan kidal, kemudian motifnya cukup kuat, dan alibinya meragukan, serta seseorang yang bisa memasuki toilet wanita tanpa rasa khawatir dan malu hanyalah kau, Jiyeon!”

Jiyeon terkejut mendengar penjelasan Chen. Ia langsung membantah habis-habisan. “enggak mungkin! Aku terakhir komunikasi dengan Dia kan lewat telepon!”

“iya, tapi siapa yang bisa menjamin setelah menelepon itu kamu tidak bertemu dia? Lagian alibi mu itu tidak kuat. Kau bilang saat kejadian kau sedang tidur, tapi itu kan tidak ada saksi” sanggah Chen

“heh! Demi tuhan! Bukan aku!” kesal Jiyeon

“ya memang pelakunya bukan Dia kok” tiba-tiba D.O muncul “aku sepakat dengan semua analisamu tadi kecuali yang Jiyeon. Dia bukan pelakunya”

“tahu apa kamu? Kalau bukan Dia, siapa?” tanya Chen dengan sedikit nada kesal

“apa kau lupa? Jiyeon seorang wanita. Jarak dari wastafel keran air minum ke toilet cewek itu memang dekat, tapi jika seorang wanita membopong orang ke tempat itu, pasti Dia akan kepayahan. Pasti Dia akan mencari tempat yang lebih dekat atau mencari lebih mudah”

“Dia dapat menyeret korban ke dalam toilet” Chen mempertahankan pendapatnya

no no no” D.O menggeleng “kalau korban diseret seharusnya ditemukan bekasnya disepatu korban, tetapi nyatanya tidak. Bukan begitu?”

Leeteuk mengangguk. Setuju akan pendapat D.O

“ada satu petunjuk yang cukup membuktikan orang itulah pelakunya. Lihat foto ini” D.O menunjukkan foto yang menjadi bukti kuat.

“jejak sepatu? Terus kenapa?” tanya Heechul

“itu jejak sepatu yang sering dipakai ke lapangan, seperti gunung, rawa, dan semacamnya. Dari ukurannya terlalu besar untuk seorang wanita, serta ada satu bukti lagi. Lihat lah ini” D.O menunjukkan foto pisau yang digunakan pelaku

“itu pisau yang biasa digunakan pecinta alam. Diantara 2 pria yang merupakan pecinta alam hanyalah Baro. Well,  sudah dapat dipastikan…..”

Baro terkejut “kok aku? jelas-jelas tadi katanya pelakunya bertangan kidal, sedangkan aku tidak!”

D.O tertawa kecil “ya memang pelaku menggunakan tangan kiri, tapi bukan berarti Dia kidal kan? Kau menggunakan tangan kiri karena tangan kanan kau cedera, sehingga masih belum bisa menggenggam dengan benar. Saat aku mengunjungimu aku melihat tangan kananmu sering bergetar kecil dan kau juga ceritakan kalau kau baru saja mengalami kecelakaan?”

Baro langsung gelagapan “eu..eu… itu benar, tapi saat kejadian kan aku lagi jogging, kalau enggak percaya tanyakan saja pada tukang bubur di taman itu. Dia melihatku berkeringat kelelahan setelah berolahraga”

“aku sudah menanyakan pada tukang bubur itu. Iya Dia melihatmu berkeringat, tapi Dia merasa aneh karena keringatmu terlalu basah, dan kau tak menggunakan pakaian olahraga. Kau menggunakan kemeja, celana PDL, dan sepatu lapangan. Agar terlihat berkeringat bisa jadi kamu membanjur dirimu”

“enggak! Bukti itu enggak cukup!” sanggah Baro mati-matian

“kata siapa aku enggak ada bukti lain?” D.O mengeluarkan bukti yang Ia temukan di plastik sampah yang kemarin Ia cari. Sebuah plastik transparan berisikan Puluhan centimeter tissue gulung. “untuk menutupi sidik jarimu kau menggunakan ini. Kalau diperiksa pasti akan ditemukan sidik jarimu”

“Leeteuk, segera periksa bukti itu!” perintah Heechul

Baro langsung menendang kursi yang ada di depannya “enggak usah! Oke! Aku ngaku! Aku yang ngebunuh Dia! Akhir-akhir ini aku dengannya sering ribut, dan makin kesini makin sering. Dia tahu bahwa kemenanganku karena aku mensabotase lawan. Dia enggak suka akan hal itu, tapi aku enggak bisa menghentikannya karena aku butuh kemenangan itu untuk diakui di klub dan kalau aku menang aku dapat uang. Seminggu yang lalu aku enggak menang. Tempramenku cukup buruk. Saat itu awalnya aku dan Minah bertemu hanya untuk mengobrol di pagi hari, tapi Dia mendadak minta aku untuk mengakui sabotase itu, kalau tidak Ia mengancamku putus. Aku kesal, sehingga tanpa sengaja aku memukul Dia hingga tersungkur jatuh dan kepalanya mengenai wastafel sehingga Ia pingsan. Entah setan apa yang merasukiku, sehingga aku terpikir untuk membunuhnya”

“sudah, ceritakan selengkapnya di kantor polisi” Leeteuk langsung memborgol Baro dan menggiringnya ke kantor polisi

“terima kasih D.O, walau butuh 5 hari, tapi kau tetap bisa memecahkannya” Heechul menjabat tangan D.O.

Setelah terpecahkan, Jiyeon dan L pun keluar dari ruang ICU. Kini hanya ada Chen, D.O, dan tubuh Minah yang terpasang alat-alat kedokteran. Arwah Minah pun sebenarnya ada disana.

“100.000 won….” D.O tersenyum miring

WTF! Bagaimana bisa kamu memecahkannya? Bukankah selama ini kamu hanya mendengarkan cerita dari arwah?” Chen membelalak

“ah itu hanya spekulasimu saja. Lagian jangan remehkan kemampuanku. Sekarang, mana 100.000won kamu?”

Dengan kesal Chen mengeluarkan uang 100.000 won dari dompetnya. D.O sudah membuka tangannya. Dia sudah bersiap-siap menerima uang tersebut. Chen menyerahkan uang itu dengan muka sangat kesal dan langsung pergi meninggalkan D.O

“hahahaha akhirnya, aku bisa membuktikan kalau aku bisa!!!” girang D.O “Minah terima kasih, ya walau kau bawel tapi ocehanmu ada gunanya juga”

“tuhkan. Tanpa disadari kamu itu bisa. Tanpa bertanya pada yang bersangkutan, kamu hanya perlu memutar otak sedikit, pasti kamu menemukannya” ujar Minah

“iya kamu bener. Selama ini aku cuman enggak pede ama malas mikir aja. Padahal kalau aku mau, ternyata aku bisa”

Minah pun tersenyum tetapi seketika wajahnya menjadi murung.

“kok sedih mukanya?” tanya D.O

“D.O, aku ingat semuanya. Ya Baro memukulku.”

“badanmu…. makin tak terlihat…. mungkin ini udah waktunya…..” lirih D.O

“waktunya untuk apa? Aku hidup kembali atau mati?”

D.O mengangkat bahunya. Ia tak tahu

“D.O kalau aku hidup apa aku masih bisa ingat kamu?”

D.O menggeleng. “biasanya orang yang sadar dari koma tidak akan mengingat kejadian yang Ia alami selama koma, kalaupun Ia ingat, itu hanya sebagai mimpi, dan yang Ia ingat hanya sebagian kecil. sebenarnya yang ingat itu karena orang itu ingin banget mengingat kejadian Dia saat koma”

“kalau aku mati, berarti aku bisa jaddi arwah dan bisa bareng kamu terus kan?”

“Minah menjadi arwah itu enggak baik”

“kamu enggak mau aku ikutin terus ya? padahal aku seneng tahu bareng-bareng terus ama kamu” Minah makin sedih mendengar penolakan D.O

“bukan gitu. Enggak seharusnya manusia yang udah meninggal menjadi arwah. Kalau kamu jadi arwah seolah dunia maupun alam sana tak mau menerima. Aku enggak mau kamu kayak gitu. Lagian kalau udah enggak ada urusan duniawi lagi, kamu akan berada di alam yang seharusnya”

“tapi….” Minah sedih mendengar itu. Hanya kecil harapan ia bisa mengingat dan bertemu D.O lagi.

“sudah. Kalau kamu ternyata masih hidup, dan aku melihat kamu. aku berjanji aku yang akan mengajak kamu ngobrol duluan”

Mendadak Minah merasa tubuhnya makin ringan dan tubuhnya makin tak terlihat jelas. Sekarang benar-benar waktunya.

now, this your time.” D.O tersenyum tapi matanya kosong

thanks for everything. Makasih banyak. Kamu udah ungkap kasus aku, kamu udah mau aku ikutin, kamu sabar menghadapi kebawelanku. Good bye” ucap Minah sambil mengeluarkan air mata

no problem. Bye!” D.O melambai pada Minah. Dalam hitungan detik Minah sudah menghilang. D.O melihat mesin detak jantung yang terasang ada tubuh Minah. Mesin detak jantung itu makin melambat. D.O pun hanya menghela nafas dengan sedikit senyum, kemudian meninggalkan ruang ICU tersebut.

*****

D.O tengah berkaraoke ria di dalam kamar mandi. Tiba-tiba Ia teringat akan Minah. Saat itu D.O lagi mandi sambil bersenandung, secara tiba-tiba Minah masuk menembus dinding.

“wah suara kamu bagus juga ya?” puji Minah

D.O terkejut, Ia langsung menutupi badannya dengan handuk “Hei!!!! Kau gila apa?! Ngapain kamu ngintip orang lagi mandi? Jangan sembarangan masuk nimbus dinding ruangan!!!”

“kamu sedang mandi?” Minah tak sadar jika D.O sedng mandi. Ia pun melihat D.O hanya berbalut handuk dan pada tubuhnya masih ada sabun. Minah pun sadar dan langsung berteriak dan pergi dari situ.

Mengingat kejadian itu membuat D.O tersenyum-senyum sendiri. D.O merasa kehilangan Minah. Ia merasa sepi, tak ada suara cerewet yang selalu berkomentar. Tak ada yang berteriak ketakutan saat melihat arwah. Tak ada lagi yang mengikutinya kemanapun. Ah Dia merindukan itu semua. Padahal mereka hanya 5 hari bersama, tetapi itu sangat berkesan.

D.O melakukan flashback pada kejadian 3 bulan lalu. 5 hari bersama Minah begitu berkesan untukknya. Semenjak kejadian itu, D.O lebih percaya diri untuk memecahkan kasus tanpa bantuan arwah. Memang butuh waktu lebih lama, tapi Ia selalu berhasil memecahkannya sendiri. Hubungannya dengan Chen pun menjadi tidak begitu buruk. Terkadang mereka melakukan kerjasama untuk memecahkan kasus, walau masih dalam bidang akademik dan reputasi mereka masih bersaing.

Hari ini semester baru. D.O sudah di tingkat akhir. Tak banyak mata kuliah yang Ia ambil. Oleh karena itu hri pertama semester baru Ia kosong. D.O memutuskan untuk mengikuti latihan UKM PSM (Unit Kegiatan Mahasiswa Paduan Suara Mahasiswa). Mumpung masih menjadi mahasiswa disitu, Ia ingin memanfaatkan masa-masa terakhirnya sebagai mahasiswa.

“Do re mi re do do re…….” saat sedang asyik berlatih, fokusnya teralihkan pada seorang wanita yang datang dengan tergopoh-gopoh. Ia mengenali betul wanita itu. Bang Minah. Ternyata Ia masih hidup.

“maaf saya datang terlambat. Ayo mulai lagi latihannya”

Selama latihan Ia tak bisa berkonsentrasi. Ia terus melihat pada Minah. Saat beristirahat D.O langsung mendekati Minah.

“suara kamu bagus juga kok” puji D.O

Minah tampak tertegun, tapi tak lama kemudian Dia mengucapkan terima kasih.

“ternyata kamu masih hidup” ujar D.O sambil tersenyum

“hah?” bingung Minah. Wajah Minah tampak berkerut. “bagaimana kamu tahu kalau aku sempet koma?”

Sudah kuduga, Dia tak mengenaliku. Dia tak mengingatnya. Okelah kalau begitu

“tahu aja. Sudah enggak usah dipikirin” D.O pun pergi meninggalkan Minah yang tampak sedang berpikir keras. Namun tak lama kemudian Minah menyusul D.O

“tunggu!” seru Minah

D.O pun berbalik

“tunggu dulu. Kita pernah ketemu sebelumnya enggak sih? Kok rasanya aku kayak kenal kamu ya?” Tanya Minah

D.O pun tersenyum. Ternyata Dia mengingatnya.

“iya enggak sih kita pernah ketemu?”

D.O mengulurkan tangannya “aku D.O, anak jurnalistik tingkat akhir”

Minah menyambut uluran tangan D.O “aku Minah. Kedokteran. Kita seangkatan loooh. Seneng bisa kenalan ama kamu”

Mereka pun hanya saling bertatapan dan tersenyum satu sama lain

—The End—

Sunday, 25 August 2013 08:31 PM

Aku mau sedikit curcol. Ya wajar aja sih ga menang, soalnya aku sendiri ga puas ama cerita ini. aku ngerasa FF ini jelek banget. Untuk bikin FF ini aku pikirin banget, dan terburu-buru karena mendekati deadline. Aku jadiin beban, jadi aja hasilnya jelek banget. Eksekusinya kurang baik, alurnya membingungkan, penokohannya juga kurang kuat. Tolong dong kritik dan sarannya. MIANHAEYO klo jelek, klo banyak typo. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

 

Iklan

4 thoughts on “[FF] Behind The Case of Amnesia Soul

  1. FFnya daebak kok chingu… Sumpah bagus. Misteri bgt, seneng aku klo ceritanya ttg detektif gini!! 🙂 sering2 buat FF kyk gini donk chingu. Soal bahasa, alur, penokohan, dan apalah itu udh bagus kok… Cuman pastinya kudu ditingkatin lg biar lebih dari bagus ​>̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴͡ќε … Yang penting Main Castnya MinSoo pasti aku baca kok! Klo Main Castnya OC biasanya aku males baca ^_^ g tahu kenapa?? Tapi bawaannya aku kudu bosen aja soalnya namanya kebanyakan bingungin and wajahnya g bisa dibayangin ya.. Walau udh ada foto posternya.Hehehehehe 🙂 aku jadi bnyk cincong deh… Ya udh chingu ditunggu FF yg lainnya nde. Figthing and Keep Writing >o< ^_^

  2. FFnya daebak kok chingu… Sumpah bagus. Misteri bgt, seneng aku klo ceritanya ttg detektif gini!! 🙂 sering2 buat FF kyk gini donk chingu. Soal bahasa, alur, penokohan, dan apalah itu udh bagus kok… Cuman pastinya kudu ditingkatin lg biar lebih dari bagus >̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴͡ќε … Yang penting Main Castnya MinSoo pasti aku baca kok! Klo Main Castnya OC biasanya aku males baca ^_^ g tahu kenapa?? Tapi bawaannya aku kudu bosen aja soalnya namanya kebanyakan bingungin and wajahnya g bisa dibayangin ya.. Walau udh ada foto posternya.Hehehehehe 🙂 aku jadi bnyk cincong deh… Ya udh chingu ditunggu FF yg lainnya nde. Figthing and Keep Writing >o< ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s