[FF] My Brother My Guard

TITLE : MY BROTHER MY GUARD
RATE : G
GENRE : FAMILY
MAIN CAST : PARK SIBLINGS : PARK SANDARA 2NE1 & PARK SANGHYUN (THUNDER MBLAQ)
OTHER CAST : LEETEUK SJ, JAEJOONG DBSK/JYJ, LEE JOON MBALQ, MIR MBALQ, HYOMIN T-ARA
LENGTH : ONE SHOT
AUTHOR : ketikkannya HANAN HANIFAH
SUMMARY : keluarga itu harus saling melindungi
DISCLAIMER : aku terinspirasi dari sebuah artikel yang mengatakan kalau Thunder itu protektif terhadap Dara, terutama masalah pasangan. Alhasil bikin FF ini. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Please ENJOY =D.

Kesalahan. Membawa seorang pria – entah itu dengan status hanya teman, atau lebih dari sekedar itu – ke rumah itu merupakan kesalahan. Kalau saja Dara tak membawa pria itu kehadapan adiknya, Thunder alias Sanghyun, ini semua tidak akan terjadi. Dara takkan mengalami rasa malu dan gengsi, seperti hari ini.
Hari ini Dara membawa Leeteuk ke rumahnya. Status Leeteuk hanyalah seorang teman. Mereka hanya sekedar mengobrol-ngobrol santai dan sedikit mengobrolkan pekerjaan. Saat sedang asyik-asyiknya berbincang, tiba-tiba Sanghyun muncul dan mulai menganggu. Ia berteriak-teriak kelaparan sambil memukul-mukul panci. Teriakannya itu sungguh mengganggu dan memalukan. Akibatnya Dara pun memotong obrolan mereka dan memasak untuk Sanghyun. Sembari menunggu Dara memasak, Sanghyun justru mengajak Leeteuk untuk bermain catur dan Sanghyun membuat peraturan jika Leeteuk menang, setelah Dara selesai memasak, Leeteuk boleh mengobrol kembali dengan Dara, namun jika 3 game berturut-turut Leeteuk kalah, Ia harus pulang. Berhubung Leeteuk tak bisa bermain catur, dengan mudahnya Sanghyun mengalahkan Leeteuk. Dengan terpaksa Leeteuk pun pulang. Sebelum pulang Sanghyun berpesan.
“Wah menyenangkan bermain catur denganmu, Hyung! nanti kalau kau kemari lagi, kita bermain lagi ya! oh iya tapi tetap dengan peraturan yang sama ya, Hyung. hati-hati dijalan” pesan Sanghyun sambil tersenyum penuh arti.
Dara pun dengan rasa malu dan bersalah meminta maaf pada Leeteuk karena telah diusir secara halus oleh adiknya. Leeteuk hanya membalas permintaan maaf Dara dengan senyuman. Keesokan harinya Leeteuk pun sedikit menjauh dari Dara, dan Dia jadi tidak mau lagi jika diajak ke rumah Dara. Karena kejadian itu Dara langsung mengomel pada adiknya.
“Sanghyun! Apa yang kau lakukan sih? It so bad manner, you know? Kenapa sih kamu mengusir dia?” omel Dara pada adiknya
“aku tidak mengusirnya kok. kan itu sudah rulesnya, kalau kalah 3 kali berturut-turut, Dia harus pulang” jawab Sanghyun dengan wajah tanpa dosa
“ya ampun! Lagian untuk apa kamu bikin aturan seperti itu? Leeteuk kan tak bisa bermain catur. Kamu sengaja ya?”
Sanghyun menggeleng. “kan aku enggak kenal dia. Jadi bagaimana bisa aku tahu Dia tidak bisa?”
“Sanghyun, Leeteuk itu cuman teman. Enggak lebih. Jadi enggak seharusnya kamu mengujinya”
“Iya cuman teman, tapi Leeteuk Hyung mengharap lebih” ujar Sanghyun
“sok tahu! Kata siapa?”
“aku ini seorang pria,noona. Aku tahu mana tatapan pria terhadap seorang teman, mana tatapan pria yang tertarik pada wanita. Tatapan matanya padamu itu jelas-jelas menggambarkan kalau Dia tertarik padamu” jelas Sanghyun
“tapi aku kan belum tentu mau dengannya. Gara-gara kamu Dia jadi menjaga jarak denganku, dan enggak mau diajak kesini lagi”
“tuhkan baru segitu saja sudah mundur. Itu belum apa-apa. Jangan mau dengan pria seperti itu. enggak mau berkorban!” cibir Sanghyun
“ya lagian kamu itu suka aneh-aneh nguji mereka. Jelas saja kalau mereka enggak kuat dan mundur. Ah gara-gara sikap kamu ini sampai sekarang aku enggak punya pacar! Rasanya kebahagianku kurang lengkap tanpa adanya pasangan” kesal Dara
“cemen! Aku itu sengaja menguji mereka, aku ingin tahu mereka itu serius enggak sama noona, mereka itu pria baik-baik bukan? Aku hanya ingin yang terbaik untuk noonaku”
“ya tapi enggak gitu juga kali”
“Kalau mereka baru saja sekali aku uji langsung mundur, berarti mereka bukan pria yang terbaik, karena mereka langsung menyerah”
“masalahnya kamu itu suka keterlaluan dalam menguji mereka. Misalnya beberapa waktu lalu hampir gaji sebulannya minseok habis hanya untuk mentraktirmu makan”
Sanghyun hanya cengengesan mendengar pernyataan dari kakaknya.
“Sanghyun, noona mohon. Janganlah kamu terlalu ikut campur urusan ini. iya noona tahu kalau ada yang mau jadi pacar noona harus dapat persetujuan kamu, tapi kamu enggak usah uji mereka. Noona tahu mana yang baik untuk noona. Biarkan kebahagian noona lengkap,Sanghyun”
“iya, tapi bagaimana caranya aku tahu Dia itu yang terbaik kalau aku tidak mengujinya? Sudahlah Dara noona, percaya padaku. Aku ini seorang pria”
“Aku tahu, tapi tolonglah jangan ikut campur. Biarkan aku yang menguji mereka, kamu tinggal bilang setuju atau enggak, tanpa harus menguji mereka” mohon Dara
Sanghyun menanggapi permohonan kakaknya dengan gelengan sambil berjalan masuk ke dalam kamar. Dara hanya bisa cemberut akan tanggapan Sanghyun.

Usia Dara sudah berada di usia rawan untuk seorang wanita. Biasanya di usia Dara ini seharusnya Ia sudah memiliki pasangan, bahkan seharusnya Ia sudah mengikat janji dan menimang satu bayi lucu. Namun nyatanya hingga kini jangan memiliki bayi, pasangan pun tak ada. Hal itu semua terjadi karena tingkah laku adiknya.
Sanghyun selalu menguji setiap pria yang sedang dekat dengan Dara. Namun terkadang – lebih tepatnya sering – Sanghyun keterlaluan dalam hal menguji. Itu membuat para pria itu menjadi mundur untuk mendekati Dara. Akibatnya jika Dara berpacaran, itu takkan lama karena tak lama setelah Dara mengajak pria itu ke rumahnya, Pria itu akan memutuskan hubungannya dengan Dara.
Sanghyun benar-benar melindungi kakaknya itu. Ia hanya ingin yang terbaik untuk kakaknya, hanya saja caranya itu membuat Dara tidak juga mendapatkan pasangan. Setelah beberapa kejadian seperti itu, akhirnya Dara memutuskan untuk tidak membawa lagi pria ke rumahnya. Akan Ia seleksi sendiri siapa pria yang akan Ia kenalkan pada Sanghyun
Sebenarnya sudah beberapa bulan Dara menjalin hubungan dengan Jaejoong. Setelah menjalani bersama selama 5 bulan, Dara merasa Jaejoong lah pria yang selama ini Ia cari. Dara merasa Jaejoong merupakan pria baik dan serius dengan Dara. Namun belajar dari pengalaman sebelumnya, Dara belum berani membawa Jaejoong ke rumahnya. Jaejoong sudah berulang kali meminta untuk bermain ke rumah Dara. Jaejoong ingin mengenal adik Dara. Namun Dara masih saja menolak dengan beribu alasan. Dara sadar Jaejoong pria baik dan sudah mempunyai ‘modal’ yang cukup untuk diperkenalkan dengan Sanghyun, akan tetapi ada sedikit keraguan yang mengganjalnya untuk mengenalkan Jaejoong pada Sanghyun. Jaejoong terus saja memaksa. Pada bulan ke 7, Dara pun dengan kepercayaannya pada Jaejoong yang notabenenya pria baik-baik, mencoba membawa Jaejoong ke rumah.
Ternyata setelah dibawa ke rumah, Sanghyun benar-benar tidak menyukai Jaejoong. Petemuan pertama pun Sanghyun sudah mengujinya dengan bermain karambol. Jaejoong yang tak lihai bermain karambol pun langsung kalah. Sanghyun mengajukan tantangan yang sama dengan yang Ia ajukan pada Leeteuk, yaitu jika ingin mendapatkan kakaknya, Ia harus menang dalam bermain karambol melawan Sanghyun.
Dikira Jaejoong akan mundur, nyatanya tidak. Jaejoong pantang menyerah. Setiap malam Ia sempatkan waktu sejam untuk bermain karambol demi mendapat restu dari Sanghyun. Setiap malam itu pula Dara harus kecewa karena Jaejoong selalu kalah. Akhirnya karena Jaejoong yang terus berusaha – bahkan hingga belajar karambol pada temannya – pada malam ke 30 Ia berhasil mengalahkan Sanghyun.
Menurut perjanjian, Jika Jaejoong menang, Sanghyun akan memberi restunya. Sayangnya, yang membuat perjanjian adalah Sanghyun, sehingga Sanghyun bisa mengubahnya kapanpun Dia mau. Sanghyun kembali merubah perjanjian. Untuk mendapatkan Dara, ada tahapan ujian. Jaejoong baru lulus tahap 1. Masih ada tahapan lainnya yang tidak diketahui hingga berapa tahapan pastinya. Tahapan itu akan selesai, Jika Sanghyun menginginkannya.
Dara kesal dengan tingkah polah adiknya. Di lain hari Ia pun menggertak adiknya.
“kamu ini ngapain sih? Kok ada tahapan-tahapannya segala? Alay, tahu enggak? lihat, dia itu beda dengan yang lain. Dia enggak gampang menyerah. Dia terus berjuang demi aku. Selama sebulan penuh Dia luangkan waktu buat main karambol denganmu, walau Ia lelah sehabis pulang kerja, tapi Ia selalu menyempatkan agar Ia bisa mendapatkan restu kamu, tapi setelah Dia menang kamu malah memberi Dia tantangan lagi. Apa sih maksud kamu?”
“itu cara aku menolak Dia halus. Aku enggak suka dengannya, noona” jawab Sanghyun kalem
“kenapa kamu enggak suka? Dia itu pria baik-baik loh, dan Dia serius denganku. Hal itu sudah terbukti kan dengan cara dia berusaha untuk menang karambol dari kamu?” Dara mulai emosi
“Dia orang yang terlalu ambisius dan begitu menyukai tantangan. Aku curiga Dia seorang playboy”
“loh apa hubungannya ambisius dan playboy?” bingung Dara
“seorang playboy itu biasanya suka dengan tantangan demi mendapatkan sebuah reward, dan dia ambisius untuk menyelesaikan tantangan itu. setelah selesai dengan tantangannya dan mendapatkan rewardnya Ia akan membiarkan reward itu begitu saja” jelas Sanghyun sambil memakan snack.
“Dia memang ambisius. Di kantor pun katanya begitu, tapi ambisius Dia itu positif kok. sudahlah kamu ini enggak usah sok tahu. Aku yang kenal Dia, jadi aku tahu Dia itu seperti apa. ” emosi Dara mulai memuncak
“kalau Dia serius Dia bakalan mengenalkan noona pada keluarganya. Sudahkah Ia melakukan itu?” Tanya Sanghyun
Dara menggeleng “orang tua Dia ada di luar kota”
“dibawa ke rumahnya?”
Dara kembali menggeleng
“tuhkan…. Walau Dia pantang menyerah tapi bukan berarti Dia serius”
“lah bukannya kamu pernah bilang kalau pria yang langsung menyerah bukanlah pria yang serius? Jaejoong pantang menyerah, berarti Dia serius kan?” sanggah Dara
“I don’t think so. Pokoknya dia tidak sebaik yang noona pikir. Jauhi Dia sekarang juga” geleng Sanghyun
“kamu tuh ya bagaimana sih? Enggak bisa begitu! Aku merasa kebahagianku lengkap dengan adanya dirinya. Aku enggak mau putus dari Dia!” emosi Dara berada tepat diujung puncak
“terserah noona deh mau percaya apa enggak. tapi aku sudah memberitahumu ya. jadi jika terjadi sesuatu, don’t blame on me”
Dara yang sudah emosi langsung pergi meninggalkan Sanghyun ke dalam kamar sambil membanting pintu. Dara sungguh kesal. Ia merasa Sanghyun sudah keterlaluan. Sanghyun sudah mulai sok tahu. Ia tahu Sanghyun seorang lelaki, dan pastinya akan lebih mengerti lelaki, tapi bukan berarti Dia menjadi sok tahu dalam menilai seorang pria. Sanghyun masihlah muda. Pengalamannya akan hidup belum banyak.
Dara terlanjur sayang dengan Jaejoong. Hubungan yang sudah Ia bina selama 8 bulan tak ingin pupus begitu saja hanya karena sebuah restu dan praduga yang belum tentu kebenarannya. Dara diam merenung, memikirkan bagaimana caranya agar Sanghyun setuju. Sembari bengong Ia melihat jam dinding kamarnya. Kemudian Ia sadar, jarum jam menunjuk angka 8. Ia janji akan menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya, Hanbyul. Ia berjanji akan berangkat bersama Jaejoong. Ia pun langsung bersiap-siap.
Dara dan Jaejoong berjanji untuk bertemu di depan kantor Jaejoong yang tak jauh dari rumah Dara. Sengaja Jaejoong tak menjemput Dara, agar Sanghyun tak tahu. Jika Sanghyun tahu Dara pergi dengan Jaejoong, Sanghyun tentu saja takkan mengizinkan.
Dara pun keluar dari kamar. Untuk keluar rumah otomatis Ia harus melewati ruang keluarga. Disitu Sanghyun sedang asyik menonton televisi sambil mengemil. Melihat kakaknya berdandan rapi, Sanghyun langsung curiga.
“noona, mau kemana? Rapi amat seperti yang mau kencan” sindir Sanghyun
Dugaan Sanghyun langsung tepat sasaran. Ya tujuan utamanya datang ke acara ulang tahun Hanbyul adalah untuk berkencan dengan Jaejoong. Ia ingin berdansa dengan Jaejoong semalam suntuk.
“euh.. eng…enggak… kok….” jawab Dara sedikit gelagapan “mau ke ulang tahunnya Hanbyul”
“sama siapa? Jaejoong? Enggak boleh!” Sanghyun langsung melarang Dara
“bu…bukan kok…. Jaeojoong enggak bisa, Jaejoongnya lagi…. Eu… lagi lembur, jadi dia enggak bisa menemaniku. Aku pergi dengaan Bom kok” bohong Dara
“hm… baiklah. Hati-hati ya noona! Eh ya kau akan pulang tidak malam ini?”
“entahlah. Mungkin aku akan pulang besok pagi. Nampaknya aku akan menginap di Hanbyul. Ya sudah, noona pergi dulu ya” pamit Dara buru-buru karena Jaejoong sudah menunggu.
Sesampainya di tempat pesta, Dara sempat berbincang-bincang sebentar dengan Hanbyul dan Bom. Setelah itu Ia habiskan waktu bersama Jaejoong. Mereka saling bercanda, minum wine, kemudian menari di lantai dansa bersama. Rasanya malam itu begitu indah. Bisa berpesta ditemani Jaejoong.
Sayangnya, keindahan malam itu tak berlangsung lama. Saat mereka berdua sedang asyik berdansa, tiba-tiba ada wanita yang menghampiri Jaejoong. Hal itu tentu saja mengejutkan Dara, dan hal yang lebih mengejutkan lagi wanita itu mengaitkan lengannya dengan lengan Jaejoong dan memanggil Jaejoong “sayang”.
“Sayang, kok kamu ada disini? Katanya lagi menemani bos di pesta? Ternyata pesta yang kamu hadiri itu pesta ulang tahunnya Hanbyul eonni” ucap wanita itu sambil bergelayut manja. Jaejoong yang mendapat perlakukan itu hanya diam termangu. Tak berusaha melepas lengan wanita itu, namun tak menyambutnya juga, sedangkan Dara bengong setengah mati.
“bos kamunya mana?” Tanya wanita itu sambil melihat ke sekeliling “oh pasti bos kamu wanita yang sedang berdansa denganmu ini ya?” wanita itu menunjuk Dara, kemudian wanita itu membungkukkan badannya dan mengulurkan tangannya
“annyeong haseyo jeoneun Hyomin imnida. Saya pacarnya Jaejoong, nona”
Dara tak menyambut uluran tangan Hyomin. Ia hanya terpaku. Cukup lama. Ia bingung akan apa yang baru saja Ia lihat. Wanita itu – yang ternyata bernama Hyomin – terus tersenyum sambil mengulurkan tangannya, namun karena tak jua disambut, Ia pun menurunkan tangannya dengan muka bingung.
Setelah terpaku cukup lama, Dara pun bersuara “se…sejak… kapan?”
“baru kok, nona. Ya sekitar sebulan setengah” jawab Hyomin penuh sopan santun
Dara langsung mendelik ke arah Jaejoong. Orang yang dideliki oleh Dara hanya bisa menunduk.
“angkat dagumu Kim Jaejoong!” dengan paksa Dara mengangkat Dagu Jaejoong “look at me! Everyword what she said, is it true?”
Jaejoong diam, tak menjawab.
“answer my question!!! Don’t you love me ah?!” seru Dara kesal
“mianhaeyo, Dara. Maaf, bukan aku tidak mencintaimu tapi….” Jawab Jaejoong lirih
Dara memotong jawaban Jaejoong “enough! Aku enggak butuh alasan! Mulai sekarang kita akhiri saja semua ini”
Dara pun menampar Jaejoong lalu pergi meninggalkan Jaejoong. Kejadian itu disaksikan banyak orang. Hyomin yang melihat itu hanya bisa diam. Sekarang giliran Dia yang kebingungan. Jaejoong sendiri hanya bisa terdiam. Ia ingin mengejar Dara, tapi disampingnya ada Hyomin. Setelah sekian detik berpikir, Jaejoong melepaskan lengannya dari lengan Hyomin dan mengejar Dara. Hyomin yang ditinggal makin kebingungan sendiri.
Dara berdiri dipinggir jalan untuk menunggu taksi yang lewat. Tiba-tiba Jaejoong mencengkram lengannya.
“tunggu! Tolong dengarkanlah dulu penjelasanku” cegat Jaejoong
Dara langsung menepis cengkraman Jaejoong “aku enggak butuh penjelasan”
Untung tak lama kemudian ada taksi yang bisa dihentikan Dara sehingga Dara bisa menghindari Jaejoong. Dara langsung masuk ke dalam taksi, sedangkan Jaejoong hanya bisa berteriak kesal.
Dalam taksi Dara merenung. Mata Dara tampak berkaca-kaca. Ia menahan tangisnya. Ia sedih Jaejoong mengkhianatinya, tapi ada yang jauh membuatnya lebih sedih. Pendapat Sanghyun.
Pendapat adiknya mengenai Jaejoong langsung terlintas di otaknya. Ternyata dugaan Sanghyun benar, kalau Jaejoong tak sebaik itu. Omongan Sanghyun ternyata ada benarnya juga. Tak seharusnya Ia mengabaikan perkataan Sanghyun.
Di rumah terlihat Sanghyun sedang mengobrol santai bersama kedua temannya, Joon dan Mir. Ditengah obrolan yang seru, perhatian merreka semua tiba-tiba teralih pada Dara. Joon dan Mir yang mengagumi kecantikan Dara, setiap main ke rumah Sanghyun, pasti selalu menyapa Dara agar mendapat perhatian Dara.
“Hai Dara noona“ Sapa Joon dan Mir
“Loh kok pulang? Bukannya mau menginap?” heran Sanghyun
Dara berlalu begitu saja. Tanpa menjawab sapaan maupun pertanyaan. Joon dan Mir termenung melihat sikap Dara yang dingin. Biasanya jika ada tamu Dara suka berbasa-basi, terlebih lagi jika Joon dan Mir, Dara selalu membalas sapaan mereka dan menyempatkan sebentar untuk mengobrol dengan mereka.
“noona kamu kenapa?” Tanya Mir. Sanghyun menggeleng tak tahu.
“jutek, dingin. Enggak biasanya. Ya walau begitu, tetap cantik dan enak dilihat hehehe” Joon cengengesan
Mendengar candaan Jon, Sanghyun langsung menatap Joon tajam.
“kenapa sih?” heran Joon melihat tatapan Sanghyun “Thunder, ayolah biarkan kami mendekati noonamu itu”
“no way!” tolak Sanghyun mentah-mentah
“kenapa sih enggak boleh? Ayolah, kita ini temanmu. Bolehkan kami mendekatinya” protes Mir
“karena kalian temanku, aku tak memberi izin. Aku tahu sifat kalian seperti apa, pria macam apa. Aku tak bisa memberikan kakakku pada lelaki macam kalian” jawab Sanghyun tegas
“ih, memangnya kita tipe pria yang jelek? Enak saja” cibir Mir
“ah sudahlah. Tak usah dibahas. Lagian ini kan sudah dibahas beberapa kali. Aku mau ke kamar noona dulu. Aku khawatir. Tumben-tumbennya Dia seperti itu. Aku curiga ada sesuatu” ujar Sanghyun
“Thunder, kami ikut dong!” pinta Joon bercanda. Mendengar itu Sanghyun langsung mendaratkan kepalan tangannya di kepala Joon dengan kekuatan sedang. Ya lumayan membuat Joon meringis kesakitan.
Sanghyun menghampiri Dara di kamarnya. Kamarnya ditutup. Sanghyun tak langsung membukanya. Sanghyun malah menempelkan daun telinganya dengan pintu. Ia berusaha mencuri dengar untuk menebak apa yang sedang terjadi dibalik pintu. Daun telinganya menangkap rambatan suara isak tangis. Sanghyun pun mengetuk pintu kamar Dara.
“waeyo noona?” Tanya Sanghyun. Tak terdengar ada jawaban dari balik pintu
“noona, aku boleh masuk enggak?”
Dara tak menjawab juga.
“ya sudah. Kalau noona enggak mau. Aku hanya ingin tahu saja kalau kau baik-baik saja atau tidak. Jika tidak, aku hanya ingin noona cerita padaku, siapa tahu aku bisa membantu,itu juga kalau mau. Tapi ya berhubung noona enggak mau, ya sudah tak apa” ucap Sanghyun sambil berlalu pergi. Namun baru saja 2 langkah, terdengar suara Dara menjawab.
“Park Sanghyun! Masuk!” seru Dara
Sanghyun pun masuk ke dalam kamar Dara. Tampak Dara menangis dengan posisi badan tengkurap di atas kasur dan wajah terbenam pada bantal. Sanghyun duduk disamping Dara. Ia menepuk-nepuk pundak Dara agar Dara lebih tenang. Sanghyun tak langsung membuka obrolan. Ia membiarkan kakaknya menangis terlebih dahulu agar hati kakaknya lebih lega.
Setelah sekian menit, Dara bangun dari posisinya kemudian duduk. Dara membuka suaranya.
“Sanghyun-ah mianhae, seharusnya aku mendengarkan kata-katamu” Dara meminta maaf
“memang apa yang terjadi?” Tanya Sanghyun
“aku bohong tadi sama kamu. Aku memang ke ulang tahunnya Hanbyul, tapi aku enggak pergi bareng Bom, melainkan dengan Jaejoong” Dara menarik nafas sejenak
“terus?”
Dara pun meceritakan semua kejadian yang baru saja Ia alami. Ia ceritakan semua dengan mendetail. Ia pun mencurahkan rasa sesalnya terhadap Sanghyun.
“seharusnya aku mengacuhkan peringatanmu. Harusnya aku mendengar kata-katamu. Ternyata Dia enggak sebaik yang aku kira” isak Dara
Sanghyun merangkul kakaknya, dan mengelus-ngelus bahunya “sudah noona, jangan bersedih lagi. Untung ketahuan sebelum ke jenjang yang lebih serius”
“aku baru sadar, walau kamu lebih muda dari aku, tapi kamu ada benarnya juga. Seleksi yang kamu lakukan itu ternyata berfungsi. Maafkan aku ya karena selama ini aku meremehkan ujian yang telah kamu buat untuk mereka”
“gwaenchana,noona. Ya syukurlah kalau noona mengerti akan semua yang ku lakukan. Aku sadar,usia noona sudah bukan waktunya untuk bermain dan mencari. Sudah saatnya noona menjalin yang serius, oleh karena itu aku sering bersikap menyebalkan kepada para lelaki yang mendekati noona. Aku ingin tahu mereka serius tidak padamu. Kalau baru saja ku ganggu dikit Dia langsung menyerah, berarti dia enggak serius. Aku juga mau minta maaf padamu, karena sikapku ini noona susah mendapat pacar”
“tak apa, lagian sekalinya aku diam-diam pacaran, ternyata malah begini”
“makanya, percayalah pada ku noona. Aku melakukan ini juga untuk kebaikanmu. Aku ingin kakakku ini mendapat yang terbaik. So, I’ll be your guard”
“gomawo”
“sudah Dara noona, jangan menangis lagi. Kakakku ini kan wanita yang strong” Sanghyun menghapus air mata Dara
Dara tertawa kecil “hahaha, terima kasih, adikku. Aduh aku jadi malu sendiri. Seharusnya aku sebagai kakak yang melindungimu, tapi kok ini malah terbalik ya? justru kamu yang melindungiku”
“jangan ngomong begitu ah! Kita kan keluarga, harus saling melindungi. Tak peduli kedudukannya sebagai adik atau kakak. Aku sebagai adik hanya ingin yang terbaik untuk kakakku. Aku sebagai seorang pria ingin melindungi kakak perempuanku. Kan malu kalau seorang pria tidak bisa melindungi wanita, terutama kakaknya. Sebelum appa dan eomma ke Filipina, Appa kan pernah bilang aku ini lelaki harus bisa menjaga kakak perempuanku. Aku hanya menjalankan tugas saja”
“Appa pun menitipkanmu padaku. Ternyata Appa saling menitipkan kita hahaha” Dara mulai tertawa bahagia “ya intinya kita harus saling menjaga dan saling percaya”
Sanghyun tersenyum sambil mengangguk-angguk kecil. setuju dengan omongan Dara
“Sekarang aku 100% percaya padamu. Jika nanti ada pria yang sedang dekat denganku, tolong uji Dia ya, apakah Dia serius dan baik untukku” pesan Dara sambil menatap Sanghyun penuh kepercayaan
“Siap” Sanghyun mengangkat tangannya ke kepala seolah memberi hormat “percayakan saja padaku. Urusan pria, I know what I have to do cause I’m a man too”
Dara tertawa mendengar perkataan Sanghyun.
“hm…. Aku baru sadar bahagia itu sederhana” gumam Dara
“maksudnya?” Sanghyun mengenyitkan alisnya. Tanda Ia bingung
“aku tuh enggak pernah sadar kalau bahagia itu sederhana. Bahagia itu tak serumit yang dikira. Manusia lah yang sering membuat itu menjadi kompleks. Menurutku bahagia itu saat keluarga selalu ada disetiap kondisi dan selalu ada keluarga yang menjaga dari bahaya.”
Mendengar pernyataan Dara, Sanghyun hanya bisa tersenyum dan menatap kagum. Betapa bijak dan dewasa. Ia bersyukur mempunyai kakak seperti Dara. Dara pun bersyukur mempunyai adik seperti Sanghyun yang mau melindunginya. Ya begitulah keluarga. Walaupun berbeda pendapat tapi tetap harus saling melindungi, saling percaya dan tak menyalahkan. Dengan begitu terasa indah persaudaraan yang ada.
—The End—
Saturday, October 26, 2013

Finally done! Sempat tertunda beberapa hari karena harus mengerjakan tugas sinbiotik -,-. Ah indahnya persaudaraan mereka >< hihihi. MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan EYD jelek.. GOMAWO udah baca. don't forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). Terutama masalah EYD dan diksi. Aku lagi belajar banget dan memperbaiki mengenai itu soalnya. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s