[FF] Bunuh Diri

Title               : bunuh diri

Rate               : pg 13+

Genre             : horror, supernatural, life, and a little bit ROMANCE

Cast               : kim taeyeon snsd, kim heechul super junior, im yoona snsd

length           : One shot

Author          : siapa lagi kalau bukan HANAN HANIFAH

Inspired        : Novel danur by risa saraswati chapter danur kasih

Disclaimer   : nampaknya bulan ini merupaka bulan penuh ide. Saat uas di depan mata, dan lapak menanti, sempet-sempetnya nulis FF. aku milih tokoh utamanya Taeyeon, karena pengen aja, enggak ada alasan lain SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING.GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Please ENJOY =D.

 

“argh” Kepalaku terasa pusing. Begitu berat untuk membuka kelopak mataku. Kupaksakan untuk membuka mata. Perlahan-lahan aku membuka mata, walau semakin lebar aku membuka mata, kepalaku semakin pusing. Begitu membuka mata terlihat dengan samar cahaya putih. Ah… apakah aku sudah berada di dunia lain? Akhirnya, aku berhasil pergi dari dunia fana yang penuh kebullshitan. Sayangnya, ternyata aku belum pergi menuju akhirat. Ketika mataku sudah terbuka secara sempurna, aku baru sadar bahwa aku masih hidup. Ternyata cahaya putih itu berasal dari lampu neon. Jika aku belum mati berarti kini aku berada di….. segera kulirik tangan kananku. Tepat dugaanku, aku berada di rumah sakit. Kini di tangan kananku tertusuk jarum infus. Argh sial! Kenapa aku masih hidup juga?! Aigo, kepalaku pusing sekali. Aku pun memejamkan mataku kembali

Terdengar bunyi pintu dibuka. Seseorang masuk ke dalam kamar rawatku.

“Taeyeon-ah! Apakah kau sudah sadar?” dari suara dan gaya bicaranya aku tahu siapa yang datang. Tetanggaku yang sangat berisik.

“hm..” jawabku sekenaku

“ah syukurlah. Sebenarnya apa yang kau lakukan? Saat aku masuk rumah aku shock menemukanmu dalam keadaan mulut berbusa dan disamping mu itu ada sebotol obat racun serangga yang sudah kosong. Ada apa denganmu? Selelah itu kah kau menjalani hidupmu ini?”

Aku hanya diam tak menjawab.

“Ya! waeyo? Jangan diam saja!” hardik Heechul

“bukan urusanmu,Oppa!”

“ya! tentu saja ini urusanku! Kau ini tetangga terdekatku, sebelum ayahmu meninggal, beliau menitipkanmu padaku! Jadi aku harus tahu apa yang terjadi pada dirimu sebenarnya? Sebenarnya aku benci untuk mengatakan ini, karena ini membuatku terlihat tua, tapi melihat keadaanmu yang seperti ini akan ku katakan, anggaplah aku ini walimu! Aku akan bertanggung jawab apa yang terjadi pada dirimu!” lama-lama Oppa tampak kesal karena sikapku yang acuh akan perhatiannya

“kalau begitu, kalau aku anggap kau waliku yang bertanggung jawab atas diriku, apakah kau bisa menyelesaikan masalahku? Bisa kah kau melepaskan ku dari jeratan mereka?”

Oppa terdiam mendengar pertanyaanku. Cih, sudah kuduga pasti dia takkan mau dan takkan bisa.

“kau pasti tak mau kan membayarkan semua hutang yang ditinggalkan ayahku yang jumlah hingga 500 juta?” cibirku

“aigo, Bukan begitu Taeyeon-ah, tapi…..”

“tapi apa? Sudah kalau kesini hanya untuk merecok, pergi dari sini” usirku dengan kasar

“Hei! Bagaimana bisa kau mengusir dewa penolongmu? Harusnya kau berterima kasih padaku! Jika Aku tak berniat meminjam panci dari apartemenmu, kau pasti sudah pergi dari dunia ini! aku lah yang membawamu ke rumah sakit! Aku sudah melakukan kebenaran, kau malah mengusirku” omel Heechul

“kenapa kau membawaku ke rumah sakit? Kenapa kau tak membiarkan ku mati? Dengan membawaku ke rumah sakit, itu membuat pengeluaranku bertambah! Kau tahu kan aku tdak punya uang?! Jangankan untuk membayar biaya rumah sakit, biaya makanku pun tak ada!” hatiku mulai sakit mengingat betapa miskinnya aku.

“janganlah kau khawatirkan biaya rumah sakit, itu masalah gampang”

“YA!!!!” teriakku dengan histeris “oppa bilang ini masalah gampang? Siapa yang akan membayar semua ini?! memangnya kau punya uang untuk membayar semua ini? seharusnya kau tak menolongku! Kalau aku mati kau tak usah susah-susah mengeluarkan uang tabunganmu untuk membayar biaya rumah sakitku. Seharusnya kau membiarkanku mati, Oppa”

“kenapa kamu begitu ingin mati?, hah?” seru Heechul dengan penuh emosi

“aku ingin mati… aku ingin mati…” air mataku mulai menetes hatiku begitu sesak. Aku benar-benar tak kuasa menanggung beban hidupku ini “aku tak mau hidupku menjadi kotor, seberusaha apapun aku mencari uang, tapi tetap saja 500 juta takkan terkumpul hanya dalam waktu 2 bulan. Aku tak ingin hidupku dihabiskan di klub malam untuk memenuhi hasrat pria jalang”

Melihat air mataku yang mengalir deras, Oppa duduk ditempat tidurku, lalu dia menghapus air mataku dengan tangannya. Dengan nada yang lebih lembut dia berkata “aku tahu kau tak mau hidupmu seperti itu, dan aku pun tak ikhlas jika kehidupanmu akan seperti itu, tapi pasti ada jalan lain kan selain bunuh diri?”

“jalan lain apa? Aku tak punya pilihan lain. Aku tak mau hidupku menjadi pelacur, lebih baik aku mati saja!”

“tapi bunuh diri takkan menyelesaikan masalah!”

“tapi selain cara itu, aku tak tahu lagi jalan yang lain. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Nan eotte? Eotteokhae? Eottekhae?” tangisku makin terisak-isak. Betapa sakitnya hati ini jika mengingat kepedihan hidupku.  Aku pun terus menangis. Oppa hanya melihat ku dengan tatapan sedih.

Kini aku ingin sendiri dulu. Aku butuh waktu untuk merenungkan ini semua. Aku tak ingin diajak bicara dengan siapapun, karena itu aku pun mengusir Oppa “leave me alone,Oppa

ani, kau tak boleh ditinggal sendiri, bisa-bisa kau kabur dari sini” tolak Heechul

Ide bagus. Seharusnya aku mencoba hal itu

“tinggalkan aku sendiri,Oppa. Aku butuh waktu berpikir. Jebal”

“baiklah kalau itu maumu,tapi kau jangan kabur, apalagi mencoba bunuh diri kembali. hidupmu terlalu berharga untuk kau akhiri dengan cara kotor seperti ini” Pesan Heechul

Oppa menuruti keinginanku. Ia pun pergi dari hadapanku. Saat Oppa pergi, tangisanku makin pecah. Sedih, kesal, benci, muak kini bercampur jadi satu dan berkecamuk dalam hatiku. Aku benci karena memiliki Ayah seorang pemabuk dan penjudi. Akibat hobi mabuknya itu,Ia meninggal. Kegemarannya mengonsumsi alkohol menyebabkan hatinya mengalami sirosis. Aku kesal karena ketika ayahku meninggal, Dia meninggalkan banyak hutang karena judinya itu. Aku sedih karena aku terlahir miskin, bukan terlahir dari keluarga chaebol. Seandaikan ayahku seorang chaebol pastinya sebesar apapun hutang yang ditinggalkan ayah, aku pasti masih bisa membayarnya. Aku muak karena hampir setiap hari para lintah darat itu mendatangi rumahku dan mengancamku jika tak bisa bayar hingga jatuh tempo aku akan dijadikan wanita penghibur. Aku tak mau menjadi seorang jalang yang melayani birahi para hidung belang yang tak tahu agama.

Aku diberi waktu 2 bulan untuk melunasi itu semua. Sekeras apapun aku bekerja, uang sebesar 500 juta takkan terkumpul. Aku hanya punya tabungan 10 juta dari hasil mengajar les dan honor menyanyiku di cafe. Jika aku menjual apartemen yang kumiliki, takkan cukup untuk melunasinya. Apartemenku hanyalah sebuah apartemen bobrok, jika dijual hanya akan mendapat 100juta. Aku tak punya lagi saudara, sehingga aku tak punya lagi tempat bergantung, aku harus mandiri.

Demi mendapatkan uang 500 juta aku setiap harinya memiliki beberapa pekerjaan. Menjadi guru les, pelayan restoran, menyanyi di kafe, penjaga toko buku, bahkan aku rela menjadi tukang angkut sampah hanya demi tidak menjadi seorang jalang. Aku pun telah menjual beberapa barang yang bisa dijual, kecuali apartemen, karena jika aku menjual apartemen, aku tak punya tempat tinggal, namun semua usahaku itu tak juga membuahkan hasil yang berarti. Tetap saja uang yang aku punya tak mencapai 500juta. Jangankan 500juta, seperempatnya pun tak sampai. Alhasil aku pun memilih untuk menenggak racun serangga, daripada menjadi jalang. Setidaknya jika aku mati, semua masalahku akan selesai. Takkan ada lagi orang yang mengejar-ngejarku untuk menagih hutang.

Kini yang kulakukan hanya menangis karena aku gagal mati, dan jatuh tempoku adalah besok. Itu berarti aku harus bersiap-siap  akan kedatangan mereka untuk menjemputku menjadi pekerja hiburan. Aku membayangkan hidupku disana. Aku hanya menjadi kacung dan harus mau melakukan yang mereka suruh. Jika mereka menyuruhku untuk bernyanyi, maka aku harus bernyanyi. Jika mereka menyuruhku untuk menuangkan minum, maka harus kulakukan. Jika mereka menyuruhku untuk buka baju, maka dengan sukarela harus kulakukan. Tidaaaaak!!!!! Aku tidak mau!! Membayangkannya saja sudah membuatku gila! Membayangkan itu semua membuat hatiku makin sakit, dan tangisku menjadi lebih kacau dari sebelumnya.

Terlintas dipikiranku untuk kembali bunuh diri. Aku jadi ingin kabur, seperti yang di’saran’kan Oppa. Aku pun berusaha mencabut infusku, tapi tubuhku terlalu lemah. Aku tak sanggup untuk menarik jarumnya dari pembuluh darahku, karena kesal aku pun melempar infusku. Lemparanku tadi menyebabkan infusku tak berjalan dengan baik sehingga darah dalam tubuhku malah masuk kedalam selang infus tersebut. aku dengan sengaja membiarkannya. Siapa tahu dengan begitu darahku akan habis dan aku akan mati.

But… Damn it! Tak lama kemudian suster masuk ke kamarku untuk mengecek kondisiku. Melihat infusku yang berada di lantai dan selangnya teraliri darah, suster tersebut langsung panik dan mengambil tindakan. Suster itu membenarkan letak infusku dan laju aliran cairan dalam selang sehingga darah itu kembali dalam tubuhku. Pada akhirnya aku hanya bisa diam, dan lagi…. Aku menangis kembali dalam diamku.

“hoam~”

Aku melirik jam di dinding kamar rawatku. Ternyata sudah 6 jam aku tertidur. Saking lelahnya menangisi nasib sendiri, aku pun ketiduran. Kini waktu menunjukkan angka 12. aku melirik meja disamping ranjangku. Ada satu set makan malam tersedia, hanya saja aku terlalu tak berselera untuk makan. Kini aku bagaikan mayat hidup. Mati tidak, hidup enggan. Terlalu frustasi aku menghadapi kenyataan yang akan aku jalan menyebabkan pikiranku kosong. Hatiku terasa mati rasa. Alhasil yang kulakukan kini hanya diam termangu. Bengong.

Udara tengah malam terasa begitu dingin. Tiba-tiba terasa ada semilir angin meniup leherku. Aku tidur menghadap sebelah kanan. Disebelah kiri memang jendela. Aku bingung angin itu datangnya dari mana, karena seingatku jendela sudah tertutup dengan baik. aku ingin memeriksa, tapi entah mengapa aku punya feeling tak enak. Aku pun membiarkan semilir angin itu meniupi leherku, tetapi rasa dingin itu lama-lama menjadi tidak nyaman. Aku pun berusaha tidur untuk melupakan rasa dingin yang tak wajar itu, namun semakin kuat ku berusaha tidur, semakin dingin, dan itu membuatku semakin sulit untuk tidur.

Akhirnya sampai pada satu titik dimana aku benar-benar tak bisa tidur. Bulu kudukku mendadak berdiri ketika tiba-tiba pundakku terasa ada yang memegang. Tangan yang memegang pundakku begitu dingin. Dengan sedikit keberanian, aku melirik pundak kiriku untuk memastikan bahwa dingin yang kurasa memang dari tangan seseorang. Eomona, dan itu ternyata memang benar sebuah tangan! Aku pun mulai merasa takut. Ya Tuhan, siapa yang memegang pundakku. Seingatku tak ada orang yang masuk kamarku, tapi mengapa kini ada tangan dipundakk? Rasanya ingin menengok kebelakang untuk melihat sosok pemilik tangan tersebut, tapi aku terlalu takut. Aku pun hanya dapat berdoa pada Tuhan semoga tidak terjadi apa-apa. Tiba-tiba aku sampai dipuncak ketakutanku. Terdengar suara lirihan seorang wanita dengan suara serak

“Tolong….tolong….tolong aku….”

Mendengar suara itu membuat jantungku berdetak begitu kencang. Aku sangat ketakutan, tapi aku sungguh penasaran dengan sosok suara itu. Akhirnya aku pun mengumpulkan keberanianku. Aku pun perlahan-lahan melihat kebelakang, dan saat melihat kebelakang, Astaga! Aku begitu terkejut sekaligus ketakutan. Kini didepanku ada sesosok wanita berwajah pucat, dengan rambut sedada, mulutnya meneteskan darah, dan pada lehernya terdapat tali tambang yang melilit lehernya tersebut.

“KYAAAA!!!!” secara otomatis aku berteriak. Dengan sigap aku pun langsung berdiri untuk menjauhi wanita tersebut. aku pun berusaha kabur, tapi ditanganku ada infuse sehingga menyulitkan ku untuk kabur, alhasil wanita itu keburu menghalangiku di depan pintu.

“jangan pergi…. Tolonglah aku…..” mohon wanita itu dengan wajah pucat dan menyedihkan. Aku terlalu takut untuk merasa kasihan pada dirinya. Wanita itu menghalangi jalan pintu keluarku. Aku pun memberontak berusaha agar Dia menyingkir dari hadapanku.

“Awas! Iih! Awas!” seruku pada wanita itu

“kumohon, jangan pergi. Tolong aku” wanita itu mulai menangis. Saat melihat tangisannya entah mengapa aku menjadi tak tega, tapi tetap saja aku merasa ketakutan. Keraguan mulai muncul dalam hatiku. Apakah sebaiknya aku kabur atau menuruti permintaan wanita itu?

“Ap..apa maumu?” tanyaku dengan lantang agar seolah-olah aku tak telrihat ketakutan. Ya akhirnya aku memutuskan untuk meladeni wanita itu terlebih dahulu

“tolong lepaskan jeratan tali ini dari leherku…. Kumohon, ini sangat menyakitkan” wanita itu begitu memohon dengan derai air mata. Sungguh aku kasihan melihat dirinya seperti itu. dengan sisa keberanian yang ada aku pun berusaha melepaskan tali yang melilit lehernya. Simpul yang terbentuk pada tali tambang itu tak rumit, pasti dengan mudahnya akan terlepas. Sayangnya, perkiraanku salah. Entah mengapa tali itu tak mau terlepas, setiap aku berhasil melepas satu ikatan, akan terbentuk ikatan lainnya. Setelah beberapa menit aku pun kelelahan untuk melepas tali tersebut. aku pun menyerah.

“Maaf, aku tak bisa melepasnya. Sudah berulang kali ku coba, tetap tak bisa. Sungguh sangat sulit untuk melepas tali ini”

Wanita itu kembali lesu dan sedih “sudah banyak orang yang mencoba tak bisa. Ya sudah tak apa” wanita itu pun berjalan menuju jendela. Sambil melihat keluar jendela, Ia berkata “tak seharusnya 5 tahun yang lalu aku melakukan ini”

Aku merasa penasaran kenapa Dia bisa seperti itu. Aku pun mendekatinya. Aku duduk kembali dikasurku. Kini rasa takut tak menyelimuti diriku, malah rasa ingin tahu yang menguasaiku kini. Aku pun mengajaknya mengobrol.

“memang apa yang kau lakukan? Mengapa kau bisa seperti ini?” tanyaku penasaran

“namaku Yoona. Aku terlahir sebagai anak haram. Ibuku merupakan simpanan seorang penjabat. Dengan terlahir sebagai anak haram, hidupku begitu menyedihkan. Seringkali mendapat cemooh dari orang-orang, dikucilkan, dijauhi, walau begitu tapi tetap semangat menjalani hidup. Aku dari kecil sudah membantu ibuku bekerja karena ayahku menelantarkan kami. Aku sudah terbiasa untuk menjalani kemiskinan. Aku ikhlas dengan hidupku. Sampai akhirnya kesempatan emas datang padaku. Ada sebuah agensi yang menawarkanku untuk menjadi artis. Tentu saja aku tak melewatkan itu semua. Aku ingin merubah nasibku menjadi lebih baik. Aku pun ditraining, aku pun akhirnya bisa menjadi model di beberapa majalah. Aku pun sudah merasakan berjalan di catwalk. Aku pikir kehidupan selebritas itu menyenangkan, tapi ternyata itu hanya khayalanku saja. Aku harus mengikuti gaya hidup yang mewah agar bisa diterima, padahal itu bukan gaya hidupku. Aku harus mau menerima kencan dengan pejabat atau petinggi perusahaan agar aku mendapat pekerjaan” wanita itu yang tenyata bernama Yoona menghentikan ceritanya sejenak untuk menghela nafas. Tampaknya bagian selanjutnya merupakan bagian terberat

“Sampai pada akhirnya aku mendapat tawaran untuk sebuah drama. Aku begitu senang, tapi jika aku ingin berperan dalam drama itu, aku harus tidur dengan produsernya. Aku tak mau jika harus seperti itu, tapi agensiku memaksa diriku. Hari itu pun tiba. Aku dibawa ke hotel oleh managerku. Awalnya aku hanya makan malam dengan produser tersebut, sampai akhirnya aku dibawa ke kamar, aku pun berusaha kabur, tapi orang itu berhasil menahanku. Akhirnya malam itu pun terjadi. setelah terjadi aku merasa jijik dengan diriku sendiri. Aku pun meratapi nasibku di apartemenku sendirian. Betapa menyedihkan dan kotornya diriku, ku terlahir sebagai anak haram, mendapat tekanan dari agensi, dan kini tubuhku telah ternodai. Aku merasa frustasi akan masalah yang aku hadapi. Akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku dengan gantung diri. Aku pikir dengan aku bunuh diri, permasalahanku akan beres, tapi ternyata tidak”

Aku semakin tertarik pada obrolan ini karena membahas bunuh diri yang ingin kulakukan. Yoona mengatakan bahwa Dia berpikir jika Ia bunuh diri akan menyelesaikan masalah, sama seperti pikiranku, tapi Dia juga mengatakan bahwa pada kenyataannya tidak. Aku tak mengerti pada bagian itu. aku pun bertanya pada dirinya “maksudnya ternyata tidak bagaimana?”

“ya aku pikir jika aku bunuh diri, semua akan berakhir, tapi ternyata tidak. Di alam sana aku tak diterima. Aku benar-benar dibuang dan diacuhkan dari alam sana. Alhasil aku pun tersasar di dunia antara ini. mati tidak diterima, hiduppun tidak bisa. Saat itulah aku sadar, aku ingin hidup kembali. hidupku terlalu berharga untuk kuakhiri dengan cara tak wajar itu. Andai saja aku masih hidup, akan ku perbaiki itu semua. Seharusnya saat itu aku memutuskan kontrakku dengan agensiku itu, bukannya bunuh diri. Mungkin jika aku masih hidup aku bisa menjadi artis terkenal, bukannya sekarang menjadi hantu gentayangan yang tersiksa karena jeratan tali di lehernya”

“tahu kah kau kenapa aku bisa dirwat disini?” tanyaku. Yoona menggeleng. “aku berusaha bunuh diri”

Yoona terkejut “kenapa?”

Aku pun menceritakan permasalahanku padanya, dan kalian tahu apa reaksi dari Yoona. Dia menangis bersyukur.

“Ya Tuhan, terima kasih telah member kesempatan hidup pada dirinya”

“tapi aku ingin mati, aku tak sanggup jika hidupku akan menjadi jalang! Aku memutuskan untuk bunuh diri karena aku tak punya pilihan”

“Jangan! Kam harus hidup! Setiap permasalahan pasti jalan keluarnya. Pasti nanti akan datang bantuan tak terduga. Percayalah itu. hidupmu terlalu berharga untuk kau akhiri, lagian setelah aku mati aku pun sadar jika bunuh diri itu hanya membuat kita lari dari masalah saja, tak menyelesaikan masalah. Hidup itu pilihan, jadi bohong kalau kau tidak punya pilihan. Sekarang kamu hanya harus memilih untuk mati tapi kau tersiksa, atau hidup tapi kau bisa memperbaiki itu semua? Pilihan ada ditanganmu”

Aku termenung mendengar kata-kata Yoona. Mendengar cerita Yoona, seketika aku tersadar. Hei bodoh! Apa yang kau lakukan Kim Taeyeon? Kau mau mengakhiri hidupmu hanya karena masalah hutang dan kemiskinan? Yoona saja yang terlahir sebagai anak haram, miskin pun tetap bersemangat akan hidupnya. Ia bunuh diri hanya karena merasa dirinya kotor, itu pun Dia menyesal. Ya benar, pasti ada jalan keluar akan masalahku itu.

“semoga kau menemukan jalan keluar untuk masalahmu itu. aku pergi dulu, siapa tahu ada orng yang bisa membantuku untuk pergi ke alam abadi dengan tenang, tak tersiksa seperti ini. terima kasih telah membantuku” pamit Yoona

“terima kasih juga kau telah menyadarkanku. Aku akan mendoakanmu semoga kau bisa pergi dengan tenang dan tak tersiksa lagi di dunia antara ini”

Yoona tiba-tiba menghilang dari pandanganku. Air mataku pun mengalir menyesali perbuatanku. Beruntunglah aku masih bisa hidup. Seharusnya aku berterima kasih pada Heechul Oppa karena telah menyelamatkanku.

Benar, pasti ada jalan keluar. Akhirnya aku pun memutuskan untuk menjual apartemenku, dan uang sisanya aku akan meminjam kepada beberapa kenalanku. Tentu saja aku takkan meminjam pada rentenir, karena itu sama saja dengan gali lubang tutup lubang. Aku punya beberapa teman yang kaya dan baik hati. Jadi jika aku meminjam uang pada mereka aku tak harus takut akan dikejar-kejar dan aku tak harus takut bunga dari pinjamanku. Aku pun akhirnya dapat tidur dengan tenang.

“HEI!” aku terbangun akibat suara sentakan seseorang. Saat aku membuka mata, ternyata itu suara dari penagih hutang.

“maaf, pasti akan kubayar, tapi sekarang aku sedang dirawat, jadi kumohon, berilah aku waktu seminggu untuk melunasi. Pasti aku bayar kontan, kumohon beri aku waktu seminggu, jangan bawa aku klub” aku memohon pada penagih hutang tersebut

Penagih hutang tersebut raut muka berubah menjadi bingung. Aku pun ikutan bingung.

“kenapa ada yang salah?” tanyaku sedikit ketakutan

“tidak. Aku bingung kau bicara apa. Aku kesini untuk mengucapkan terimakasih karena kau telah membayar hutang ayahmu tepat waktu, dan aku kesini untuk menjengukmu” ujar penagih hutang tersebut sambil memperlihatkan sekeranjang buah yang Ia bawa.

Aku bingung. Hutangku sudah lunas? Siapa yang melunasi semua hutangku?

“katanya kau sakit tipus?”

“tipus?” aku bingung. Siapa yang bilang kalau aku sakit tipus? Jelas-jelas aku keracunan obat serangga karena ingin bunuh diri, tapi aku tak ingin Dia tahu aku disini akibat bunuh diri, akhirnya aku anggukan kepalaku.

“ah kau pasti kelelahan gara-gara kejar setoran untuk bayar hutangmu ya. ah ya sudahlah. Cepat sembuh. Aku takkan mengganggumu lagi. Kini hidupmu tenang. Nanti kalau kau cari suami, jangan yang suka berjudi. Kasihan anak istrinya. Lihatlah dirimu sekarang. ya sudah aku pamit dulu”

Penagih hutang itu pun pergi. Aku kebingungan. Siapa yang telah membayar hutangku? Siapa juga yang bilang kalau aku tipus? Hm… tunggu dulu… sepertinya aku tahu siapa yang telah melakukannya. Jangan-jangan…..

“mukanya enggak usah bingung gitu dong. Kau berhutang budi padaku” tiba-tiba Heechul Oppa muncul dengan gayanya yang sok keren. Tangannya terlipat didada dan badannya disenderkan di tembok.

“kata siapa aku tak bisa dan tak mau bertanggung jawab atas dirimu. Sudah kubilang aku ini walimu, dan kau adalah teman sekaligus tetangga baikku. Tak mungkinlah aku membiarkanmu kesusahan”

Jeongmal gomawo, Oppa” ucapku dengan mata berkaca-kaca

“haish.. jangan terharu begitu dong. Aku jadi malu”

“dengan uang siapa kau membayar hutang-hutang ayahku?” tanyaku

“tentu saja uangku aku ini orang kaya” ujar Heechul dengan pede tingkat tinggi

“cih, orang kaya dari mana? Panci bocor saja enggak diganti-ganti ehehe” candaku

“ah, selama ada kau untuk apa aku membeli panci baru? Ehehe” sahut Heechul sambil duduk dikasurku

“seriusan itu uangmu?”

“tentu saja! Aku punya tabungan yang sudah kukumpulkan dari zaman aku kuliah. Rencananya jika aku menikah nanti uang itu akan kupakai untuk membeli rumah untuk istriku”

jinja? Ah mianhae, Oppa. Apakah tabunganmu itu habis?”

Heechul Oppa menggeleng “enggak habis juga sih, ya masih tersisa sekitar 100 juta, itu pun nantti untuk membayar rumah sakitmu, berarti sisanya ya sekitar 90 juta an lah”

“bagaimana aku harus menggantinya,Oppa? Aku takkan bisa menggantii itu semua dalam waktu cepat”

“bagaimana menggantinya?” Oppa tampak berpikir kemudian Ia menunjukkan muka jahil “ah, karena uang yang kau pakai itu untuk membeli rumah untuk istriku, jadi kau harus menggantinya dengan cara kau menikah denganku. Dengan begitu kau tak harus pusing-pusing dan capek-capek kerja untuk membayar itu semua hehehe”

Aku melirik Oppa dengan tajam “ndasmu! hahaha kami berdua pun tertawa.

“Oppa, maafkan aku kemaren aku sudah arah-marah padamu karena kau menyelamatkanku. Aku sekarang ingin berterima kasih Karena kau telah menyelamatkan nyawaku. Aku sadar nyawaku terlalu berharga jika diakhiri dengan bunuh diri. Aku sadar kalau bunuh diri itu hanya lari dari masalah,bukannya menyelesaikan masalah” aku menundukkan kepalaku karena menyesal

“sadar juga kau! Kok bisa sadar begitu?” bingung Heechul

“seseorang telah menyadarkanku”

nugu?”

“seseorang yang tak kasat mata”

“Hah?” Oppa tampak terlihat bingung. Sungguh lucu melihat muka bingungnya itu

“hahaha sudah tak usah dipikirkan. Yang penting sekarang aku sadar”

“benar. Oh iya nih” Oppa memberikanku sebuah brosur. Ternyata itu brosur iklan audisi penyanyi untuk sebuah agensi besar. “daripada kamu hanya menjadi penyanyi café, lebih baik kau menjadi penyanyi profesional. Aku yakin dengan suara emasmu itu kau bisa lolos dan menjadi artis hebat”

“tapi……” ada sedikit keraguan ada diriku

“enggak usah tapi-tapi an! Pede saja lagi! Suaramu itu sungguh bagus. Lagian dengan kau menjadi artis, kau bisa membayar hutangmu lebih cepat”

“benar juga. Oke begitu aku keluar rumah sakit, aku akan audisi” anggukku

“nanti ku temani deh” senyum Heechul “yasudh sekarang kau istirahatlah. Aku pun harus pergi siaran. Istirahatlah dengan baik. cepat sembuh. Eh ya jangan lupa sejam lagi kau dengarkan aku siaran”

ne,Oppa”

Heechul pun berdiri dan berjalan keluar kamar, tapi sebelum Dia membuka pintu, Ia berbalik dan berkata “eh iya, ajakanku untuk menikah itu serius loh. Sebaiknya kau pikirkan baik-baik, aku takkan mengulang untuk meminta. Nanti saat kau keluar rumah sakit akan kutagih jawabanmu”

Aku terkejut “kau sungguh melamarku?”

“menurutmu?” Heechul menjulurkan lidahnya “ah sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Lagian aku yakin kau pasti jodoh denganku hahaha. Ya sudah annyeong Taeyeon”

“khayal babu! Annyeong hahaha”

Hm…. Iya hidupku terlalu berharga. Ternyata masih banyak yang menyenangkan dari kehidupanku, salah satunya adalah memiliki wali, sekaligus tetangga dan teman seperti Oppa. Yap, benar setiap masalah pasti ada jalan keluar, dan pasti akan ada bantuan yang muncul. Kini aku sadar bunuh diri itu takkan menyelesaikan masalah, tetapi hanya lari dari masalah. Hidup itu pilihan, pasti ada pilihan yang baik untuk hidup kita. Terima kasih Yoona kau menyadarkanku, semoga kau bisa terlepas dari jeratan tali itu dan kau bisa pergi ke akhirat dengan tenang. Terima kasih juga Heechul Oppa. Telah mau menjadi waliku yang membayar hutangku. Terima kasih juga telah menghiburku. Untuk ‘lamaranmu’ itu…. ya baiklah akan ku pikirkan. Kau bukan calon suami yang buruk lah hahahah. Ah hidup ini ternyata begitu indah jika kita bisa menikmatinya.

— The End —-

Thursday, 19 December 2013 5:38 PM

Akhirnya setelah berhari hari tertunda karena harus mengerjakan lapak, tugas, dan harus kulap ke semarang-jogja, serta sempat tertunda karena aku ketakutan sendiri pas ngerjain adegan Taeyeon ama Yoona, malam-malam. ya maaf ya kalau aneh, geje. MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

 

Iklan

2 thoughts on “[FF] Bunuh Diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s