[FF] Did You Feel It

Title               : DID YOU FEEL IT (kaistal ff)

Rate               : pg +15

Genre             : ROMANCE, FRIENDZONE

main Cast     : Krystal f(x) (JUNG SOOJUNG) , kai exo (KIM JONGIN)

OTHER CAST   : OH SEHUN EXO

length           : One shot

Author          : imajinasi liarnya HANAN HANIFAH

inspired        : novel LONDON by WINDRY RAMADHINA. Salah satu adegan di novel ini membuatku terinspirasi bikin FF Kaistal. Mungkin agak mirip, tapi kemasan, cara penyampaian, dan endingnya beda kok.

Disclaimer   : klise sih ceritanya, tapi aku harap kalian para arcadians suka ini.  SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING.GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Please ENJOY =D.

 

“Ayo ,angkat dong!” Aku terus mencoba menghubunginya, namun nomor handphonenya tak aktif juga. Panik, khawatir, cemas bercampur menjadi satu. Rasa-rasa itu membuatku mondar-mandir tak jelas dan Sehun melihatku dengan tatapan bingung.

“Kenapa sih?” Tanya Sehun sambil mengemil sebungkus snack kecil.

“Soojung tak mau mengangkat teleponku.” Jawabku masih sambil mondar-mandir

“Cuman gara-gara itu, Kamu jadi cacing kepanasan. Bolak-balik enggak jelas.” Cibirnya

“Masalahnya, ada kejadian sebelumnya.” Aku mencoba kembali menghubungi Soojung, namun tetap gagal.

“Memangnya ada kejadian apa sih?”

“Aku telah melakukan hal bodoh.” Aku menghela nafas.

Sehun terlihat penasaran, “Hal bodoh apa? Malhaebwa!

“Enggak seharusnya tadi Aku melakukan itu!”

“Ya apa? Tadi Kamu ngapain?” Sehun mulai greget rupanya.

“Hal yang seharusnya tak dilakukan seorang sahabat.”

“Enggak usah bertele-tele! Cepat ceritakan!”

Aku menghela nafasku,kemudian Aku duduk disebelah Sehun. Sehun pun membenarkan posisi duduknya. Ia siap mendengar ceritaku. Aku pun mulai bercerita. Itu semua berawal dari 4 jam yang lalu.

Aku dan Soojung baru saja pulang dari pesta pernikahan senior kami. Dalam perjalanan Ia terus menerus memuji pengantin prianya.

“Ya Tuhan pengantin prianya begitu sempurna. Tampan, pintar, tinggi, badan bagus, baik, kaya, dermawan pula. Sungguh beruntung Lina Sunbae mendapatkan suami seperti itu.” ujar Soojung dengan mata berbinar-binar. Aku menanggapi omongannya tu dengan gumaman, karena aku tak setuju. Apa bagusnya suami Soyeon Sunbae? Dia memang pintar, tapi oh my! Badannya tidak sebagus itu! badannya agak gempal, dan tingginya sama denganku. Ia sering berkata bahwa Aku tak tinggi-tinggi amat, tapi bagaimana bisa Ia memuji pengantin pria itu Tinggi? Dan masalah kekayaan, masih lebih kaya Junmyeon Hyung, mantannya. haish… jinja!

“Dan kamu tahu? Saat mereka berpacaran, mereka sangat so sweet. Jika Soyeon Sunbae meminta Minwoo Sunbae untuk menjemputnya, dengan senang hati Minwoo Sunbae menjemput Soyeon Sunbae dimanapun. Mau mencicipi setiap masakan Soyeon Sunbae, Selalu membelai rambut Soyeon Sunbae, memegang tanganya dengan erat setiap berjalan. Ah andai saja ada pria yang bertindak seperti itu! Aku jadikan Dia pacar!”

Aku terkejut mendengar omongan Soojung. Apa Dia sedang meracau? Bercandakah Dia? Apa selama ini Dia tak sadar? Oh My! Semua yang Ia sebutkan sudah kulakukan! Aku rela menjemputnya kemanapun Ia minta, bahkan Aku pernah menjemputnya ke Busan. Mencicipi makanan? Dengan senang hati Aku mencicipi makanannya, bahkan Aku selalu memuji setiap masakannya. Aku pun sering membelai rambutnya. Setiap mengobrol dengannya pasti beberapa kali membelai rambutnya lang begitu halus dan lembut, bahkan Saat Dia Sakit Aku la yang berada disampingnya, membelai rambutnya agar Ia bisa tidur. Hanya Saja ada satu hal yang Soojung sebutkan tadi yang belum kulakukan, memegang tangannya.

Aku memegang tangannya hanya saat menyebrang jalan, atau saat aku menariknya. Sebenarnya Aku ingin sekali menggenggam tangannya saat berjalan, tapi tak bisa kulakukan. Ini semua karena status sialan itu,sahabat. Sungguh tak etis rasanya jika Aku memegang tangannya dengan erat saat berjalan, padahal kami hanyalah sahabat. Walaupun kami sudah bersahabat sejak SMA sampai sekarang, ya jika dihitung Kami sudah bersahabat enam tahun, walau begitu tetap saja Aku tak bisa mengenggam tangannya, karena Jung Soojung hanya sahabatku. Sejauh ini Soojung hanya melingkarkan lengannya di lenganku, seperti saat ini.

Soojung terus saja mengoceh. Aku tak mendengarkannya dengan baik, aku hanya berjalan terus, sambil sesekali melihat dirinya. Angin malam cukup berhembus dengan kencang, dan jalan juga cukup sepi. Aku memandanginya sesekali, dan beberapa kali perhatianku hanya terpusat pada bibir merahnya. Sial pikiran liar melintas di otakku. Apa yang sedang kupikirkan? Ya kali, Aku mencium sahabatku sendiri. Aku pun kembali fokus pada jalan dihadapanku.

“Tadi Aku bertemu Oppa. Akhir-akhir ini Dia memang mulai sering menghubungiku lagi, dan tadi saat Kau sedang mengobrol dengan anak-anak Dance Club , Oppa menghampiriku dan Dia ingin bersamaku lagi.” Cerita Soojung

Oppa yang mana? Semua Mantanmu kan  bertitle Oppa. Jongsuk Hyung? Minhyuk Hyung? Junmyeon Hyung? Minho Hyung? atau Myungsoo Hyung?” tanyaku Sinis. Aku sinis karena ya aku cemburu! Banyak sekali lelaki yang menyukai gadis ini. Mereka semua sirik denganku yang bisa begitu dekat dengan Soojung, tapi mereka tak tahu kalau aku lebih sirik dari mereka, karena orang yang tadi kusebutkan adalah orang-orang yang beruntung pernah mengecap bibir Soojung.

“Aku dan Myungsoo Oppa tak pernah berpacaran!” Sergah Soojung

“Tapi Dia pernah menciummu!”

“Itu tak terduga, saat Dia mengatakan perasaanya, Dia tiba-tiba menciumku! Lagian Aku nolak Dia kok. Oh My God! Jongsuk Oppa dan Minho Oppa mantanku saat SMA, Aku sudah tak tahu kabar mereka. Junmyeon Oppa kan sudah pacaran dengan Luna eonni. Jadi ya siapa lagi?”

“Lalu jawabanmu?”

“Pengen tahu banget ya?.” Goda Soojung

“Jadi jawabanmu apa?” Tanyaku dengan nada lebih tinggi. Cepatlah jawab, Aku penasaran!

“Biasa saja dong! Belum aku jawab kok”

Aku menghela nafas lega. Dia belum menjawabnya. Eh tunggu… kalau begitu Ia harus memberikan jawabannya. Sial, kira-kira apa jawaban apa yang akan diberikan Soojung?

“Kau mau jawab apa memangnya?”

Soojung mengangkat bahu, “Entahlah. Aku dan Dia sudah putus dari setahun yang lalu. Ku akui Minhyuk Oppa merupakan mantanku yang paling baik, dan mendekati sempurna.”

“Ngapain juga sih balikkan sama mantan? Kayaknya keledai bodoh saja, enggak belajar dari pengalaman.”

I’m not donkey!” protesnya

“Ya makanya enggak usah balikkan!” Seruku “Lagian kamu itu suka enggak sadar ya?”

“Enggak sadar gimana?”

“Ngapain juga sih balikkan sama mantan. Jelas-jelas ada orang yang seperti kamu inginkan. Ada orang yang mau menjemputmu kemana saja, membelai rambutmu, yang mau mencicipi makananmu, orang yang rela melakukan apapun demi Kau.” Ya kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Entah apa yang sedang kupikirkan. Aku rasa ini mungkin karena Aku sudah tak mampu lagi menahan perasaanku ini, ditambah lagi Aku cemburu.

“Hah? Memangnya Siapa?” Tanya Soojung bingung

Aigo, Dia benar-benar tak sadar. Aku pun menghentikan langkahku. Badanku pun berbali untuk menghadap dirinya. Lalu, kupegang bahu Soojung, dan Aku pun menatapnya dengan dalam.

“Kau tak tak tahu? Sungguh?”

Soojung hanya mengangguk polos. Haish… Aku memalingkan mukaku sesaat, lalu kembali menghadapnya.

“Selama ini Kau menganggapku apa?”

Soojung tampak berpikir. Jantungku berdegup kencang menanti jawabannya. Apakah Dia merasa hal yang sama denganku.

“Hm… Tentu saja, you are my really really best friend ever. No one like you. You are the best I ever had”  Mendengar jawabnnya langsung memporak porandakan hatiku.

“Hanya sekedar itu? Tak lebih?” Ketusku sambil melihatnya dengan tajam.

Soojung terlihat sedikit ketakutan melihatku yang ketus dan menatapnya dengan tajam. “A…A…Aku salah ngomong ya? Eu… Iya lebih sih sebenarnya,” Mendengar kata “lebih” mataku langsung berbinar kembali. Ternyata masih ada cahaya terang, jika Ia merasakan hal yang sama.

“Kamu itu sudah kayak keluarga aku sendiri. Sudah seperti Oppa bagiku. Terkadang Aku suka lupa kalau Kamu itu bukan saudaraku, makanya Aku sering banget cerita tentang anggota keluarga yang lain.”

Sketika aku menundukkan kepalaku dengan lemas. Ah Soojung bukan itu jawaban yang aku mau! Habis sudah harapanku. Aku pun melepaskan Soojung dan kembali berjalan mendahuluinya dengan lemas. Melihatku yang seperti itu, tampaknya Soojung merasa bersalah. Ia pun berlari kecil menyusulku.

“Ada apa sih denganmu? Apa Aku slaah ngomong? Atau Kamu ada masalah? Maafin kalau Aku salah ngomong.” Ucap Soojung sambil memelukku. Eomona~ kenapa Dia harus memelukku. Jantungku kini makin berdetak tak karuan. Aku pun segera membalikkan badanku, dan aku mendekap badannya. Kini jarakku dengannya hanya sejengkal.

Aku pun membelai rambutnya, dan menyingkirkan rambut yang menghalangi telinga kanannya. Tanganku pun turun hingga menyentuh bahunya. Kemudian Tanganku kembali naik. Mengusap tiap inchi wajahnya, dan pada akhirnya telunjukku berhenti didekat bibirnya. Sial, fokusku kini berada di bibirnya. Bibirnya begitu ranum. Rasanya aku ingin benar-benar mengecupnya, merasakan ranumnya bibir Soojung. Kini Aku sudah dikuasai setan. Akal sehatku kini tak berjalan. Hati dan nafsu lah kini yang mengendalikanku. Aku tak berpikir dan tak peduli apa yang akan terjadi kedepannya. Aku pun mendekatkan wajahku dengan wajahnya.

Kini aku bisa merasakan deru nafasnya. Aku sedikit melihat reaksinya. Terlihat wajahnya bercampur bingung dan tersirat sedikit rasa ketakutan, tapi persetanlah dengan itu semua! Aku sudah tak bisa menahan perasaan yang begitu meledak-ledak dalam hatiku ini. sebelum benar-benar bibir kami bertemu, Aku berkata,

“Jung Soojung, Aku melihatmu bukan hanya sekedar sahabat, tapi seorang wanita.”

Sedetik kemudian bibir kami bertemu. Aku mengecupnya dengan lembut. Aku tak tahu raut mukanya seperti apa, karena aku memejamkan mataku. Hanya saja yang jelas, Dia tak membalas ciumanku, tapi tak menolaknya juga. Ia hanya diam saja.

Bibir kami masih saling menempel, tiba-tiba berasa ada malaikat datang. Akal sehatku mendadak sadar. Aku pun langsung membuka mataku, dan terkejut dengan apa yang sudah kulakukan. Aku pun melepasnya dariku.

“Soojung… Mianhae. A… A…Aku tak sengaja melakukan hal itu. Itu diluar kendaliku. Maafkan Aku. Anggap saja itu tidak pernah terjadi.”

Soojung tak menjawab. Dia hanya menatapku dengan kosong. Aku pun merasa bersalah padanya. Aku pun berusaha meraih tangannya.

“Soojung-ah…” Belum juga aku meraihnya, Soojung sudah menghindar.

“Ah sudah jam 9 malam rupanya.” Soojung melirik jam tangannya “Jongin-ah, Aku harus pergi. Aku ada janji dengan Eonni di stasiun.”

“Mau aku antar?”

“Tak usah, dekat kok dari sini. Aku duluan ya,Annyeong.” Dengan buru-buru Soojung pergi.

“Soojung-ah! Mianhae!” Teriakku padanya, tapi Dia tak berbalik. Dia terus berjalan seolah tak mendengarku. Aku pun hanya bisa diam melihatnya pergi, dan Aku hanya merutuki diriku sendiri, kenapa Aku bisa berbuat seperti itu? betapa bodohnya Aku tak berpikir panjang.

Babo!” Cibir Sehun

Nan eotteohkae?” Tanyaku “Aku memang bodoh tak berpikir panjang.”

Sehun tertawa melihatku yang frustasi. “Ya minta maaf lah! Omongin baik-baik.”

“Gimana mau ngomong? Teleponnya saja tak aktif!” kesalku

“Hahahaha” Sehun kembali tertawa “Lalu, Gimana rasanya bibir Soojung? Ranumkah?”

Aku menatap Sehun dengan sinis. What are you talking about?

“Kau lebih suka yang mana? Sohee atau Soojung?”

Aku pun langsung memukul bahu Sehun cukup keras. Sehun pun sedikit meringis.

“Aku lagi enggak bisa diajak bercanda!” Seruku kesal

Aigo… calm down. Ya sudah besok saja kau ke rumahnya. Lagian seandaikan handphonenya aktif, Aku tak yakin Dia masih bangun. Lihatlah sekarang sudah jam 1 malam.” Sehun menunjuk jam dinding.

“Baiklah, tapi Aku tak tenang.”

“Sudah tidur sana. Dengan tidur siapa tahu membuatmu lebih tenang.”

“Gimana Aku bisa tidur jika begini keadaannya?”

“Ya dicoba dong! Memangnya Kau mau begadang hanya untuk menelepon yang tak pasti? Sudah lebih baik Kau tidur saja!” ujar Sehun sambil masuk kamar.

Aku melihat pintu kamarku dan handphoneku secara bergantian. Benar juga kata Sehun, belum tentu Soojung masih bangun. Aku pun meloncat dari sofa dan masuk ke kamarku.

*****

Ini sudah hari keempat semenjak kejadian itu berlalu, dan Soojung masih tak bisa dihubungi. Aku pun mengunjungi rumahnya kosong tak ada siapapun. Semarah itukah Dia padaku, sampai Dia harus menghindar dariku?

Sungguh, aku benar-benar frustasi dengan keadaan ini. Tak seharusnya Aku melakukan itu. sebenarnya jika Ia tak mau lebih tak masalah bagiku, asalkan Aku jangan kehilangan Dia sebagai seorang sahabat. Namun tampaknya itu akan terjadi padaku. Damn!

Entah sudah berapa jam Aku menunggu di depan pintu rumahnya. Sepulang dari kmapus Aku langsung kemari. Yang jelas Aku tiba disini dari langit berwarna degradasi jingga dan putih, hingga kini langit telah benar-benar gelap dan berhiaskan bintang. Sudah beratus kali Aku mencoba meneleponnya, tapi tetap saja handphonenya tak aktif.

Sebenarnya Aku akan sia-sia menunggunya di depan rumah. Hal ini sudah kulakukan 3 hari kebelakang, dan Soojung tetap tak ada. Aku melirik jam ditanganku. Ah sudah hampir jam 9 malam. Aku tak pernah sampai selarut ini. Biasanya Aku hanya bertahan disini sekitar 2 jam saja, tapi entah mengapa hari ini Aku ingin bertahan lebih lama.

Seandainya saja waktu itu Aku tak melakukan kebodohan itu, pasti tidak akan begini. Haish! Aku benar-benar kesal pada diriku sendiri. Sedari tadi Aku hanya duduk didepan pintu rumahnya sambil terus menelepon. Sesekali aku memakan makanan yang tadi Aku beli di kampus. Jam sudah menunjukkan angka 9. Udara dinging mulai menusuk tubuhku. Aku pun mendekap kedua lututku dan membenamkan kepalaku diantara lututku. Selain karena dingin, Aku sudah terlalu frustasi. Posisiku yang seperti itu benar-benar sudah menunjukkan rasa keputusasaanku.

Angin malam terus menyentuh tubuhku dan menggodaku untuk terus menguap. Mataku pun terasa berat. Akhirnya Aku membiarkan diriku terlelap, masih dengan posisi yang tadi, dan tetnu masih di depan pintu rumah Soojung.

“Jongin! Apa yang kau lakukan disini?” Ah Saking Aku ingin bertemu dengannya, aku bermimpi mendengar suaranya yang terdengar begitu nyata.

“Kim Jongin! Ngapain kamu tidur di depan rumahku?” Soojung menggerakkan bahuku. Ah sentuhannya sungguh nyata. Eh tunggu dulu, ini terlalu nyata. Jangan-jangan…

Aku pun segera membuka mataku, dan benar kini dihadapanku sudah ada Soojung.

Ya! Ireona! Don’t sleep at there!” Soojung membangunkanku.

“Soojung!” Aku terkejut. Aku senang akhirnya Soojung ada. Secara refleks Aku memeluk dirinya.

“Ada apa denganmu? Tidur di depan pintu rumahku, sudah kayak gelandangan, terus tiba-tiba meluk,lagi.” Bingung Soojung “Yuk ah, masuk. Dingin loh.”

Setelah membuka kunci pintu rumahnya, Aku dan Soojung masuk. Aku melihat barang bawaan Soojung yang cukup banyak. Ia membawa dua koper, dan ransel dipunggungnya.. Sepertinya Ia telah pulang dari suatu tempat.

Setelah meletakkan barang-barangnya, Soojung masuk ke dalam dapur. Aku pun mengikuti Soojung ke dalam dapur. Soojung membuatkanku segelas coklat hangat.

“Nih minum. Pasti kamu kedinginan.” Soojung meletakkan gelas tersebut dihadapanku.”Ngapain kamu tidur di rumahku?”

“Aku enggak tidur. Aku hanya ketiduran sebentar.” Jawabku

“Kayak gelandangan banget jam 10 malam tidur di depan rumah orang.”

“jam 10? Huh… ternyata aku tertidur sejam.”

“Sejam? Kamu diam di rumahku dari jam berapa?”

“Entahlah. Yang jelas sudah berjam-jam Aku diam disini.”

“Ya Ampun. Pasti kamu lapar? Aku bikinin makanan ya? tapi kalau bikin nasi pasti lama. Pancake mau enggak? kebetulan Aku masih ada sisa es krim.”

“Terserah.”

Soojung pun membuatkan pancake untukku. Ternyata reaksi Ia biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya antara kami. Ini membuatku bingung, dan makin merasa bersalah. Reaksinya yang biasa saja ini membuatku berspekulasi jika Ia memang benar marah padaku, tapi jika Ia marah seharusnya Ia mengusirku tadi, tapi ini malah biasa saja. Sungguh wanita itu membingungkan.

“Kenapa handphonemu tak aktif? Kau pun berapa hari kemarin Kau tak ada di rumah. Kamu kemana?” Tanyaku

“Aku berlibur bersama Eonni. Tempat liburan kami begitu tenang dan terpencil sehingga tak ada sinyal.” Jawab Soojung

“Tapi kan setelah Kau keluar dari desa itu, Kau bisa mengatifkannya.”

“Nah masalahnya handphoneku low bat. Aku lupa bawa charger.”

“Lalu Noona mana?”

she’s on dating now. Makanya tadi Aku bawa dua koper. Yang satunya punya Eonni. Setibanya di stasiun Dia langsung pergi.”

“kencan jam 10 malam? apa enggak salah?”

“Enggak kencan sih sebenernya. Yuri Eonni lagi ngadain pesta. Eonni pergi ke pesta itu.”

Aku pun mengangguk-anggukkan kepalaku. Kami pun kembali diam. Melihat sikapnya yang baisa saja, membuatku mengurungkan niatku untuk meminta maaf pada dirinya. Hanya saja hati kecilku merasa tak tenang. Lagian sayang banget, Aku sudah membuang waktuku berjam-jam untuk menunggunya sudah seharusnya Aku meminta maaf.

“Soojung-ah,” Panggilku

“Apa?”

“Soal kejadian itu… Maafkan Aku. Sungguh Aku tak bermaksud. Aku terlalu terbawa suasana.” Sesalku

Soojung terus saja memasak. Ia bertindak seolah tak mendengar.

“Soojung-ah, jeongmal mianhae.”

Soojung pun menghentikan memasaknya sesaat, kemudian Ia berkata, “Well,that’s ok. Tapi apakah omonganmu saat itu benar?”

Aku mengangguk, “Iya itu semua benar. Aku melihatmu sebagai wanita. Aku…” Lidahku terkelu. Aku ragu untuk melanjutkan kata-kata itu. Otakku memerintahkan untuk tidak mengatakannya, namun sayang lidahku bertindak lebih cepat, “Aku mencintaimu.”

since when? Apa itu alasanmu tak berpacaran?” Tanya Soojung sambil kembali melanjutkan membuat pancake.

Molla” gelengku “Ya bisa jad itu alasanku. Yang jelas setiap Aku melihatmu berpacaran, rasanya Aku ingin menginjak-injak pacarmu.”

Soojung tertawa, “Hahaha. Terakhir Kamu pacaran sama Sohee itu awal masuk kuliah, berarti Kau sudah menyukaiku sejak hampir 3 tahun yang lalu?”

Aku mengangguk lemah. “Aku sadar kalau Aku menyukaimu saat Kau bersama dengan Junmyeon Hyung. Aku pun bingung kenapa Aku bisa menyukaimu?”

“Jongin-ah. Kau tahu kan kalau Aku tak ingin punya pacar tampan,” Ujar Soojung

Aku rela dibilang jelek agar Kau menjadi milikku.

“Tapi kenyataannya, Aku selalu mendapatkan pacar yang tampan. Aku ingin mencoba punya pacar yang tak begitu tampan, dan tak popular. Aku ingin berpacaran dengan tenang. Masalahnya Kau ini kan punya banyak fangirls. Lagian selama ini aku melihatmu sebagai sahabatku, sebagai Oppa. Kau sudah sepeti keluargaku.”

Aku mengerti arah pembicaraan Soojung. Aku tak ingin mendengar itu lebih lanjut. Memang tak masalah jika Dia menolakku, tapi tetap saja akan menyakitkan mendengar penolakkan darinya. Aku pun berdiri pamit.

“Ya baiklah Aku mengerti. Persahabatan kita tak rusakpun Aku sudah bersyuku. Kalau begitu Aku  pulang dulu.”

“Mau kemana kamu? Pancakenya bentar lagi matang. Duduklah, Kau harus memakannya! Lagian Aku belum selesai bicara!” Cegah Soojung. Ah iya benar. Ia akan ngambek jika Ia sudah membuat makanan, tapi makanan itu tidak dimakan. Aku pun kembali agar Soojung tak marah. Ya agar tak memperumit keadaan.

“Aku duduk lagi karena Aku ingin memakan pancakemu, tapi Aku tak ingin mendengar ocehanmu.” Aku menjawab dengan jujur.

“Kenapa enggak mau?” Protes Soojung sambil memindahkan pancake dari atas pan ke atas pirinng.

“Aku sudah tahu arah pembicaraanmu, jadi Kau tak perlu melanjutkannya.”

“Sok tahu! yang tadi itu belum ke inti. Tadi itu baru pembukaan.” Soojung meletakkan eskrim diatas pancake, lalu menyiraminya dengan saus maple. Pancake itu pun siap dihidangkan.

Listen to me! Aku pergi berlibur itu bukan hanya untuk liburan, tapi untuk berpikir.” Soojung menghidangkan pancake dihadapanku, kemudian soojung mengambil kursi untuk duduk disebelahku. Aku dan Soojung melahap pancake buatannya.

“Apa Ia Aku hanya menganggapmu sebagai sahabat dan keluarga saja? Apa jangan-jangan tanpa Aku sadari Aku pun menyukaimu. Sudah setahun Aku single. Tahukah kau kenapa Aku menolak mreka yang mendekatiku? Ya seperti yang Kamu tahu, Aku tak menyukai mereka. Mereka tak cocok denganku, tapi Aku punya alasan lain.”

“Apa itu?” Tanyaku sambil memasukkan sepotong pancake ke mulutku.

Soojung juga sedang mengunyah pancakenya. Setelah selesai mengunyah, Ia melanjutkannya, “Karena Aku lebih senang saat bersamamu. Jika Aku punya pacar, Aku takkan bisa menghabiskan waktu denganmu. Aku sungguh nyaman berada di dekatmu. Rasanya tak ingin jauh darimu, dan Aku merindukanmu setiap hari. Saat liburan aku memikirkan hal itu, dan Aku pun sadar, bahwa ternyata tanpa Aku sadari Aku telah jatuh hati pada dirimu.”

Aku membelakakan mataku. Apa Aku tak salah dengar? Soojung mengaku bahwa Dia juga menyukaiku! Dia juga mencintaiku! Aku pun kembali memastikan, takut Aku salah dengar.

“Apa? Ulangi!” Pintaku

“Ah enggak ada siaran ulang!” Tolak Soojung

“Aku enggak salah dengar? Kau serius mengatakan hal itu?”

“Ya tentu saja! Saat Aku berada disana, Aku merindukanmu. Aku terus terbayang-bayangi oleh diirimu, bahkan Aku…” Soojung melipat bibirnya kedalam. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tertahan.

“Aku apa?”

“Aku…” Soojung menarik nafas, “Aku terus terbayangi kejadian malam itu. Aku tak membalas karena Aku bingung.”

Aku tak bisa Manahan senyumku. Bibirku langsung melengkungkan sebuah senyum. Ternyata Ia terbayangi oleh kejadian malam itu. Ternyata Soojung tak dapat melupakan itu. kini hatiku berasa ada ratusan bunga yang sedang ditebar. Jantungku terasa mau loncat mendengar ini semua. Aku tak percaya, namun Aku sangat bahagia. Dia merasakan perasaan yang sama denganku. Yes, she feel same too.

“Ya lagi-lagi, Aku punya pacar tampan. Aku ingin menolak, tapi pesona kenyamanan pria tampan ini begitu memikat. Lagipula Aku sudah mengenalnya luar dalam. Na johahaeyo” Soojung tampak memanyunkan bibirnya. Ia seolah protes tapi dengan melihat matanya, Aku tahu bahwa Ia merasa senang. Ah sungguh cute melihatnya seperti itu, dan Aku sungguh kata-kata terakhirnya. Aku ingin mendengar ulang.

“Apa? Aku enggak dengar kata-kata yang terakhir tadi.” Godaku

“Luar dalam.” Jawab Soojung asal

“Bukan,yang setelah itu loh.”

Soojung diam. Ia tak mau menjawab. Mukanya memerah.

“Ayolah. Aku tak mendengarnya.”

“Enggak ada siaran ulang!”

“Aku ingin mendengarnya,please

Soojung tampak sedikit cemberut, tapi Ia pun menuruti permintaanku. “oke, Allrght. Na johahaeyo. Saranghanda, saranghantago!” Hahaha lucunya melihatnya merajuk dengan nada kesal, bahkan Ia menambahkan kata-kata cintanya.

Gomapta. Jeongmal gomawo. Nado saranghae. Ucapku dengan senyum yang sangat mengembang. Soojung pun membalas senyumanku dengan senyuman paling manis yang Ia kembangkan.

“Bocah, makan saja belepotan. Itu ada eskrim, diatas bibir kamu!” Aku menunjuk atas bibirnya

“Oh iya?” Soojung berusaha membersihkan eskrim yang tertinggal.

“Sini Aku saja yang membersihkannya.” Secara tiba-tiba aku menarik kepalanya, dan Aku pun membersihkan eskrim yang tertinggal itu dengan bibirku. Kini bibir kami saling bertautan. Tak seperti 4 hari yang lalu, kini Soojung membalasnya.

Aku menghentikan kegiatan itu sesaat. Kami saling berpandangan. Ah matanya begitu indah. Melihat matanya yang begitu indah membuat bibirku bergerak cepat. Bibirku dengan segera mendarat diatas mata kirinya.

Oh My!” Seru Soojung terkejut. Aku pun hanya tersenyum. Aku yang sedang dimabuk cinta, kembali mengecup bibirnya dengan cepat sekali, kemudian dua kali, tiga kali, dan lalu ke empat kalinya Aku kembali menautkan bibirku dengan bibirnya secara singkat. Hanya berlangsung sekitar 10 detik saja

Aigo, what are you doing?” Tanya Soojung dengan wajah yang sangat merah. Dia tampak malu

but, you like it, right?” Balasku

Soojung pun hanya tersenyum kemudian tertawa lepas. Ia pun melanjutkan kembali memakan pancakenya yang masih tersisa sepertiganya. Aku pun membelai rambutnya dengan lembut, kemudian menggenggam tangannya dengan erat.

“Setiap masakanmu sangat enak. Aku pun selalu membelai rambutmu, dan Kini Aku menggenggam tanganm dengan erat. Keinginanmu sudah tercapai kan?”

“Dari dulu juga keinginanku yang waktu itu Aku sebut sudah tercapai semua olehmu, kecuali yang satu ini.” Soojung menunjukkan tangannya yang sedang kupegang. “please, don’t ever release this”

“of course. I’ll always holding your hands forever”

Aku dan Soojung saling menatap satu sama lain, dan kami tersenyum bahagia dengan tangan saling menggenggam.

—The End—

Monday, January 20, 2014

11:19 PM

Butuh berjam-jam aku menyelesaikan ini -_-. Lagi gak terlalu mood nulis, tapi aku pengen mosting sesuatu di blog. Maaf ya kalau ceritanya klise, kurang greget. Endngnya terduga sih, tapi kalau aku kasih ending Soojungnya nolak, nanti selain takutnya mirip ama LONDON, Aku pun tak suka dengan sesuatu yang sad ending. Aku ini pecinta happy ending ehehe. MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s