[FF] Between Now and Past

Title               : BETWEEN NOW AND PAST

Rate               : pg

Genre             : ROMANCE, FRIENDSHIP, a little DRAMA  

main Cast     : EUNJI A-PINK, SUHO EXO, GONGCHAN B1A4

OTHER CAST   : KYUNGSOO (D.O EXO), MINAH GIRLS DAY, BOMI A-PINK, SUNGJONG INFINITE

length           : One shot

Author          : buatannya HANAN HANIFAH

SUMMARY      : Hidup harus memilih, kita tak boleh egois.

Disclaimer   : sebelum masuk kuliah, Aku target aku harus posting ff, tapi berhubung lagi ga mood nulis, jadi mungkin agak aneh.  SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

“Nonton yuk!” Ajak Suho sambil merangkul Eunji. Mereka berdua berjalan bersama.

“Jangan sekarang, Aku enggak bisa.” Tolak Eunji dengan nada sedih.

Suho mengernyitkan dahinya, “Lah kenapa?”

“Biasa, Aku mau ngumpul sama anak-anak.”

“Lagi? Bukannya minggu kemarin sudah?”

“Mumpung liburan, jadi Kita mau main. Kan jarang-jarangnya Kita bisa main bareng. kita semua kan punya kesibukan yang berbeda. Kuliah lah, organisasi lah, dan lainnya.”

“Kita kan juga jarang kan. Ketemu paling seminggu sekali gara-gara Aku kerja.” Protes Suho.

“Ya tapi kan seminggu sekali pasti ketemu. Kalau sama mereka kan sebulan sekali saja belum tentu.” Debat Eunji.

“Buat Gongchan saja selalu ada, Buat Aku susah.” Sindir Suho dengan matanya melirik ke kiri atas.

“Kenapa sih harus Gongchan? Lagian Gongchannya juga enggak ikut! Kenapa enggak yang lain? Kayak Kyungsoo, Taemin, atau Sungjong!” Eunji kesal karena Suho membawa-bawa Gongchan.

“Ya wajar dong kalau ngebahas Gongchan. Diantara mereka berempat mantan Kamu kan Gongchan!”

“Ya Tuhan! Itu kan masa lalu. Sudah 3 tahun yang lalu!” Seru Eunji kesal karena Suho masih saja cemburu dengan Gongchan.

“Mantan tuh cuman status saja. Kelihatannya kok kalian masih berhubungan dekat?” Ujar Suho dengan wajah malas.

“Ya masalahnya Kita teman satu permainan. Kan enggak mungkin kalau Aku ngejauhin Dia!.”

“Tapi bisa kan enggak usah dekat banget?”

Eunji menghela nafas kesal. Ia menepis lengan Suho dari bahunya. “Sudahlah,Oppa. Aku malas ribut. Lagian aku sudah ditungguin sama mereka.”

“Oke, Ya sudah Aku antar. Kumpul dimana?” Suho mengalah untuk tidak memperpanjang keributan.

“Di rumah Minah. Tahu kan?”

“Oh yang rumahnya dekat dengan Minho?”

“Iya. Yuk ah cepat!” Eunji menarik lengan Suho agar berjalan lebih cepat.

*****

Uno!” Eunji mengeluarkan kartu Uno yang bisa membuat si pemilik kartu merubah warna. Eunji mengeluarkan kartu sambil tersenyum penuh arti. “Aku mau warna biru!”

Lawan main Eunji tinggal Gongchan seorang. Dua orang lainnya, yaitu Minah dan Kyungsoo berhasil menghabiskan kartu terlebih dahulu. Gongchan tampak percaya diri. Kartu ditangannya tinggal berjumlah dua. Kyungsoo yang disamping Gongchan ikut tersenyum melihat kartu yang dimiliki Gongchan.

“Jangan Kamu pikir Kamu bisa menang,” Gongchan mengeluarkan kartu bergambar 4+ sambil tersenyum meremehkan, “Uno.”

Muka Eunji langsung seketika pucat. Melihat muka Eunji pucat, Gongchan tersenyum penuh kemenangan. Hanya saja sedetik kemudian, raut wajah Eunji langsung berubah menjadi ceria.

“Kamu kira Aku enggak bisa balas?” Eunji mengeluarkan kartu yang sama dengan Gongchan sambil berkata, “Uno games.”

Damn!” Gongchan melemparkan kartu yang tersisa ditangannya dengan kesal. Ketiga temannya melihat itu tertawa puas.

“Hahaha. Sudah senang-senang, tahunya Eunji punya kartu yang sama juga. Hahahaha.” Minah tertawa puas.

“Anda kurang beruntung,bro!” Kyungsoo menepuk bahu Gongchan. Eunji tertawa sampai keluar mata saking puasnya. Melihat teman-temannya mentertawakannya dengan puas, Gongchan mendelik dengan kesal.

Suara tawa mereka tiba-tiba terhenti dengan suara telepon.

Handphone siapa itu yang bunyi?” Tanya Minah.

It’s mine.” Jawab Eunji sambil mengeluarkan handphonenya dari saku celana jeansnya. “Yeobeoseyo. Ada apa Oppa? Eu… sekarang…sekarang Aku lagi dijalan pulang ke rumah kok. Tenang saja Aku diantar oleh Kyungsoo kok, Dia mau mengantarku pulang tenang saja. Sudah ya. Dadah.”

Kyungsoo melongo mendengar jawaban Eunji ditelepon, “Kau berbohong pada Suho?”

Eunji mengangguk, “Kalau enggak gitu Dia pasti bakalan ribut karena jam segini Aku masih diluar.”

Gongchan melirik jam tangannya, “Ya ampun baru juga jam tujuh malam.”

“Bawa-bawa Aku lagi, bohongnya.” Sebal Kyungsoo , “Lagian siapa juga yang mau nganterin Kamu? Aku maunya nganterin Minah.”

“Ya itu kan alibi saja.” Sahut Eunji.

“Kenapa juga kamu harus bohong?” Tanya Minah.

Eunji tak menjawab pertanyaan Minah, Ia malah mengalihkan pembicaraan. “Gongchan, karena Kamu kalah, Kamu harus traktir Kita!”

“Malah mengalihkan pembicaraan.” Gerutu Minah, “Tapi iya benar. Kamu harus traktir kita.”

“Setuju!” Kyungsoo setuju dengan ide Eunji,

Gongchan tersenyum kecut. Ia pun membuka dompetnya untuk melihat isinya. “Oke, tapi minum saja ya.”

Mereka bertiga langsung berteriak kegirangan. Mereka pun langsung memanggil pelayan kafe itu untuk kembali memesan. Sambil menunggu pesanan mereka kembali bermain sambil mengobrol. Selama bermain Eunji beberapa kali ditelepon oleh Suho, tapi Eunji membiarkan telepon itu untuk tidak diangkat. Minah mengingatkan agar Eunji mengangkat teleponnya, tapi  Eunji cuek saja. Eunji malah asyik bermain.

Waku sudah menunjukkan pukul delapan malam. Akhirnya setelah tiga jam berada di kafe itu mereka memutuskan untuk pulang. Eunji pun pulang dengan diantar oleh Gongchan. Selama dijalan mereka berbincang.

“Hei iya, Kamu punya hutang traktir sama Aku!” Seru Eunji sambil memukul bahu Gongchan pelan.

“Aw!” Ringis Gongchan, “Enggak usah mukul juga kali.”

“Lebay! Aku mukulnya juga pelan.” Cibir Eunji.

“Hutang traktir yang mana?” Bingung Gongchan.

“Sebulan lalu, di LINE Kamu kan ngomong kalau IPK Kamu naik, Kamu mau traktir Aku. IPK Kamu sudah keluar kan? IPK Kamu naikkan?”

“Sok tahu!”

“Memang Aku benar tahu. Aku kan ngecek data student center Kamu.”

“Kok bisa?” kaget Gongchan. “Kita kan beda kampus, kok bisa kamu buka user student center Aku?”

“Kamu kan tipe orang yang satu password untuk semua akun. Aku kan tahu password twittermu. Aku iseng saja coba, eh ternyata benar. Ternyata dari 3 tahun yang lalu, Kamu enggak rubah-rubah password kamu, hahaha.”

“Haish… Aku malas menggantinya.”

“Padahal Kita sudah lama putus, tapi Kamu enggak ganti password. Padahal itu Aku yang buat.”

Gongchan hanya diam mendengar ocehan Eunji.

“Besok ya Kamu bayar hutangnya? Besok Aku mau ke kampus dulu mau perwalian. Perwalian kan cuman bentar. Enggak asyik kan kalau langsung pulang.”

“Ya sudah, hayu deh besok.” Gongchan mengiyakan permintaan Eunji.

“Hore!” Girang Eunji.

Tak terasa perjalanan mereka telah selesai. Kini mereka berdua sudah berada di depan rumah Eunji.

“Besok ya, jangan lupa!”

“Iya,bawel!” Gongchan mengelus rambut Eunji. Tiba-tiba ada suara dehaman yang mengagetkan mereka semua.

 “Oppa!” Kaget Eunji sambil meihat ke belakang. Ternyata ada Suho yang keluar dari gerbang rumah Eunji. Melihat Suho, raut muka Gongchan langsung berubah jadi tak enak. Ia pun menyapa Suho dengan anggukan kepala. Suho pun ikut membalasnya dengan anggukan, tapi wajahnya dingin.

“Apa yang Kau lakukan disini?” Tanya Eunji sedikit tergagap.

Suho hanya tersenyum tipis. Suho mengangguk-anggukan kepalanya, lalu menyindir, “Gongchan dan Kyungsoo mirip ya.”

Gongchan hanya bisa diam dan Eunji mengigit bibirnya karena ketahuan berbohong. “Eu… itu…”

Melihat situasi tidak enak, Gongchan langsung pamit pada mereka berdua.

“Sudah malam nih. Pulang dulu ya.” Pamit Gongchan sambil menyalakan mesin motornya.

“Makasih ya sudah menjaga Eunji dan mengantarnya pulang malam-malam.” Suho mengulurkan tangannya pada Gongchan dengan memasang mimic dingin menyindir. Gongchan menelan ludah melihat ekspresi Suho, walau begitu Ia tetap menyambut uluran tangan Suho. Setelah mereka berdua berjabat tangan, Gongchan melesat pergi.

Eunji dan Suho pun masuk ke dalam rumah Eunji. Mereka berdua mengobrol di teras rumah Eunji sambil duduk diatas kursi kayu. Mereka berdua dibatasi oleh sebuah meja bundar yang terbuat dari rotan.

Saat duduk mereka berdua hanya diam membisu. Eunji menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah dan malu karena telah berbohong pada kekasihnya itu. Setelah hening beberapa menit, Suho memecah keheningan tersebut.

“Aku ke rumah kamu cuman mau ngasih ini.” Suho mengeluarkan sebuah kantong plastik hitam dari tasnya. Eunji menerima kantong plastik itu dan melihat isinya. Ternyata di dalamnya adalah sebuah novel cetakan pertama yang Ia cari selama ini.

Eunji senang mendapatkan itu. sebenarnya Ia ingin berteriak kegirangan, tapi rasa bersalahnya membuatnya hanya bisa tersenyum kalem sambil berkata, “Gomawo,Oppa.

“Niatnya sih mau bikin kejutan, tapi malah aku yang terkejut.” Suho tersenyum kecut.

“Masalah itu…” Eunji menghela nafasnya, “Maafkan Aku.”

“Kamu benar main sama anak-anak? Atau cuman berdua sama Gongchan?”

Eunji langsung menyanggahnya, “Enggak berdua saja kok!”

“Sama siapa lagi?”

“Kyungsoo,Minah..”

“Terus?”

“Sudah.”

“Cuman berempat? Katanya sama anak-anak, terus katanya Gongchan enggak ikut, tapi kok malah Dia yang nganterin Kamu pulang?” Selidik Suho.

“Iya kan memang benar sama anak-anak, Aku enggak sepenuhnya bohong kok. asalnya mau banyakan tapi yang bisa cuman berempat, dan Gongchan itu awalnya enggak bisa. Dia harus ke kampus, ternyata urusan Dia di kampus cuman bentar, jadi Dia ikut.”

“Kenapa Kamu tadi bohong kalau Kamu sudah di jalan dan diantar Kyungsoo? dengan kamu bohong itu bikin Aku makin percaya kalau Kamu sama Gongchan itu masih ada apa-apa!” Kesal Suho.

Eunji tak bisa membalas. Ia hanya bisa diam sambil menundukkan kepalanya.

“Kenapa enggak Kyungsoo yang mengantarmu? Kenapa harus sama Gongchan?”

“Aku sama Gongchan itu searah rumahnya. Kalau Kyungsoo kan kasihan, Dia mutar jauh banget kalau ke rumah Aku.” Alibi Eunji.

“Kamu bisa kan minta tolong Aku buat jemput kamu! Enggak usah Gongchan yang antar Kamu.”

Eunji kembali terdiam mendengar omongan Suho. Ia tak bisa mendebat lagi omongan Suho.

“Kenapa enggak kayak gitu? Atau memang Kamu pengen sama Gongchan?” Tuduh Suho dengan tatapan serius.

“Gini nih, kenapa Aku bohong. Aku malas ribut sama Kamu masalah kayak gini. Kenapa sih Kamu harus cemburu sama Gongchan? Sedangkan sama sahabat cowok ku yang lain kayak Taemin, Kyungsoo, Sungjong, kamu enggak cemburu?”

“Kalau dulu Kamu sama Gongchan enggak ada apa-apa Aku enggak akan secemburu ini!” Seru Suho dengan nada tinggi. “Begitu juga dengan yang lain, jika dulu pernah ada apa-apa, Aku pasti bakalan cemburu juga sama yang lain.”

“Oppa! Itu masa lalu! Lagian Aku sama Gongchan pure sahabat, sekarang.”

“Yakin? Memangnya Kamu enggak ketergantungan sama Dia?”

“Hm… ya..ya..yakin.”Eunji menjawab dengan keraguan.

“Kenapa ragu jawabnya? Eunji-ah, Aku sekarang lebih marah karena Kamu bohong. Kebohongan Kamu itu makin Aku enggak percaya. Kalau Kamu jujur, Aku enggak akan semarah ini, paling gondok saja melihatmu pulang dengan Gongchan, tapi pasti Aku enggak akan marah kayak gini.”

Eunji makin merasa bersalah mendengar alasan kemarahan Suho. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Mianhae.” Uap Eunji dengan suara menahan tangis.

Mendengar suara Eunji yang seperti itu membuat Suho kasihan, “Sudah. Itu jadikan pelajaran saja. Kalau gitu sok masuk, sudah malam. Istirahat. Besok kamu kuliah pagi kan?”

Eunji mengangguk. Suho pun akhirnya pamit pulang. Eunji mengantarkan Suho sampai gerbang rumahnya.

“Aku pulang dulu ya.” Pamit Suho sambil tersenyum lembut.

Eunji mengangguk. Eunji melihat kesekeliling seperti mencari sesuatu.

what are you looking for?

“Ah, Kau kemari menggunakan bis?” Tanya Eunji.

“Tidak.” Geleng Suho, “Aku bawa mobil. Aku sengaja parki di minimarket depan, biar Kamu enggak sadar Aku ada di rumah Kamu. kalau Kamu sadar, nanti pasti Kamu buru-buru turun dari motor Gongchan.”

Oppa, mianhae. Makasih untuk novelnya.”

Suho kembali mengangguk sambil tersenyum, kemudian Ia melambaikan tangan pada Eunji dan berjalan meninggalkan rumah. Eunji menatap kepergian Suho dengan tatapan sayu.

*****

Yeobeoseyo, Gongchan.”

“Yo, Kenapa?”

“Lagi ngapain? Kosong enggak?” Tanya Eunji dengan nada memelas.

“Kosong kok Aku lagi main game. Memang kenapa?”

“Temani Aku yuk.”

“Kemana?”

“Bosan nih, Kemana saja deh. Pokonya Kamu jemput Aku.”

“Boleh. Ya sudah Aku siap-siap, Kamu juga siap-siap, biar Aku sampai, Kit alangsung pergi.”

“Asyik. Oke. Sampai bertemu. Annyeong.” Eunji menutup telepon dengan girang. Akhirnya Ia bisa membunuh kebosanan liburan karena berada di rumah seharian. Sebenarnya Eunji awalnya mau mengajak Suho keluar sepulang Ia kerja, tapi saat Eunji menelepon Suho tak diangkat juga, padahal sudah jam pulangnya Suho. Akhirnya Eunji pun memutuskan untuk mengajak Gongchan. Setengah jam menanti, Gongchan pun tiba. Mereka berdua pun langsung pergi.

“Mau kemana nih?” Tanya Gongchan.

Eunji melihat jam, “Sudah jam setengah tujuh nih, enaknya kemana?”

“Sudah waktunya makan malam. ya sudah Kita makan saja. Mau makan dimana?”

Eunji menggeleng., “Enggak tahu. terserah Kamu deh.”

Gongchan tampak berpikir sejenak. Ia pun menemukan sebuah tempat yang enak. Gongchan pun mengarahkan sepeda motornya ke tempat itu.

Ternyata pilihan Gongchan jatuh pada sebuah kafe. Kafe itu cukup ramai karena selain sedang jam makan, kafe ini juga seringkali dijadiakn tempat meeting kecil untuk orang kantoran. Kafe ini pun dilengkapi dengan live music dari band kafe.

Mereka pun duduk, kemudian memilih pesanan. Sambil enunggu pesanan seperti biasa mereka selalu mengobrol banyak hal.

“Bosan banget tahu enggak seharian di rumah, mana pas sore oang-orang rumah pergi lagi. Ya sudah Aku juga pergi.” Curhat Eunji.

“Aku juga di rumah cuman main game saja dari pagi.”

“Dari pagi?” Kaget Eunji , “Memang Kamu enggak pegal.”

“Pegal sih.” Gongchan meregangkan tubuhnya, “Makanya Aku harus keluar biar enggak pegal lagi.”

Makanan pun tiba. Mereka pun asyik menyantap makanan yang tersaji. Sesekali mereka bertukar makanan yang mereka miliki dengan saling menyuapi.

“Sekarang Kamu yang traktir ya.” Pinta Eunji sambil menyuapi Gongchan dengan makanannya.

“Kenapa Aku?” Protes Gongchan dengan mulut penuh makanan.

“Kamu belum traktir Aku gara-gara IPK Kamu naik.”

“Sudah hangus ah. Itu kan seminggu yang lalu, tapi enggak jadi.”

“Ih kan yang bikin hangusnya Kamu. Kamu yang batalin Kita enggak jadi pergi. Kenapa sih? Gara-gara Kamu ketahuan mengatarku pulang?”

Gongchan diam menatap Eunji. Dia tak menjawab, Dia kembali fokus pada makanannya.

“Jawab ih! Kenapa? Kamu enggak enak sama Suho Oppa?”

“Itu tahu jawabannya, kenapa mesti nanya lagi?” Gerutu Gongchan.

“Ya hanya untuk memastikan. Kenapa harus enggak enak? Toh Kta enggak ngapa-ngapain dan enggak ada apa-apa.”

Gongchan tersenyum sinis, “Enggak ada apa-apa? Cih. Aku sih merasa Kita memang masih ada apa-apanya.”

“Kenapa kayak gitu?”

“Lihat saja, Kamu masih ketergantungan akan Aku.”

“Kata siapa Aku ketergantungan sama Kamu?” Sanggah Eunji dengan nada menyolot.

“Kamu menyolot pun itu sudah bukti.”

“Itu bukan bukti tapi spekulasi!”

“Bukti, Hari ini adalah buktinya, Kamu…” Tiba-tiba terdengar bunyi ringtone handphone. Tak salah lagi itu berasal dari ponsel milik Eunji. Gongchan menyuruh Eunji untuk mengangkatnya, tapi Eunji tak mau. Eunji mengabaikan telepon itu. Akhirnya dering ponselnya berhenti. Mereka kembali melanjutkan pembicaraan.

“Kamu bosan berada di rumah seharian, dan Kamu hanya mengajakku untuk keluar. Setiap mnta ditemani ke suatu tempat Kamu selalu mengajakku. Jika Kamu butuh bantuan, Kamu selalu meminta tolong padaku. Kenapa Kamu enggak minta tolong dengan pacarmu atau memintanya untuk menemani?”

“Dia kerja. Dia sibuk karena Dia pewaris perusahaan, jadi kerjanya banyak banget. Aku enggak mau jadi beban buatnya.”

“Enak banget ya Kamu ngebebanin aku.”

“Jadi kamu enggak ikhlas?” Eunji mulai kesal.

Gongchan langsung menyangkal tuduhan Eunji.,“Bukan begitu, tapi kenapa Kamu harus bergantung padaku? Kamu tahu enggak hal itu bikin Aku…”

“Bikin Kamu kenapa?” Eunji penasaran.

“Bikin Aku…” Lagi, terdengar bunyi dering ponsel, “YA!!! Angkatlah. Daritadi bunyi terus, berisik! Dari siapa sih?”

Oppa. Enggak mau. Aku mau balas dendam dengan Oppa karena tak mengangkat teleponku daritadi.” Sahut Eunji.

“Sudah angkat saja!” Desakan Gonghan membuat Eunji mau mengangkat teleponnya.

“Ya, Oppa.”

“Ada apa tadi Kau meneleponku?” Tanya Suho.

“Enggak apa-apa, cuman tadi mau ngajak Kamu jalan saja.”

“Tadi aku lagi rapat. Sekarang baru beres. Ya sudah sekarang saja yuk kit jalan.”

“Ah besok lagi saja deh. Aku enggak bisa.”

“Kenapa?”

“Soalnya… soalnya ada sepupuku. Aku mau main sama Dia.” Bohong Eunji. Mendnegar Eunji berbohong, Gongchan memperingatkannya untuk tak berbohong, tapi Eunji mengabaikan peringatan Gongchan.

“Oh. Memangnya Kamu sama sepupu Kamu sekarang ada dimana?”

“Jangan berbohong.” Gongchan bicara tanpa suara, Ia menggerakkan mulutnya.

“Masih di rumah kok.” Mendengar jawaban Eunji Gongchan menepuk jidatnya.

“Kok terdengar suara lagu paramore ya? sejak kapan Kamu suka paramore?”

“Eu… Itu sepupuku yang memutarnya.” Eunji menjawab dengan tergagap.

“Oh iya? Tapi kok bukan suara Hayley ya? bukan suara rekaman, kayak suara live band gitu.” Curiga Suho.

“Eu… Itu… eh Oppa kok suaramu terdengar begitu jelas ya?” Bingung Eunji. Gongchan dengan kepala sedikit tertunduk menunjuk ke arah belakang Eunji. Eunji pun melihat kebelakang, dan Ia langsung tekejut, hingga ponsel yang ada di telinganya jatuh ke bawah.

Oppa?

Suho membalas keterkekutan Eunji dengan senyuman.

Eunji langsung membalikkan kembali ke badannya. Ia pun melotot pada Gongchan. Raut mukanya seolah berkata “Kenapa enggak ngasih tahu kalau ada Oppa dibelakangku?”. Gongchan membalas raut muka Eunji hanya dengan bisikan “Babo!”

“Kok bi…bi…bisa ada disini?” Tanya Eunji dnegan waja pucat.

“Tadi Aku rapat disini. pas Aku mau ke parkiran, Aku malah melihatmu. Oh jadi Gonghan itu sepupumu? Kok Kamu enggak pernah cerita? Aku baru tahu.”

Eunji  menelan ludah mendengar sindiran Suho. Eunji benar-benar panik. Ia tak tahu berbuat apa. Dengan bahasa tubuh, Gongchan menyuruh Eunji pergi dengan Suho.

“Kita bicarakan d mobilmu ya?” Mohon Eunji dengan wajah takut. Suho menyeutujui hal itu. suho dan Eunji pun pamit pada Gongchan. Gongchan pun akhirnya hanya bisa merelakan kepergian Eunji dengan Suho dengan ikhlas dan sedih.

Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil. Suho pun menjalankan mobilnya. Ia menyetir ke arah rumah Eunji.

“Kenapa bisa Kamu sama Gongchan disana?” Suho memulai interogasi.

“Aku bosan di rumah. Telepon Kamu, enggak diangkat-angkat. Aku kesel, jad Aku ngajak Gongchan.”

“Aku lagi rapat. Kenapa Kamu enggak nunggu? Malah hubungi Gongchan? Kenapa cuman ngajak Gongchan? Enggak ngajak yang lain?”

“Itu… itu…”

“tu karena Kamu cuman ingin berdua dengannya saja kan?”

“Enggak gitu!” Sangkal Eunji.

“Kalau bukan begitu kenapa Kamu hanya menghubunginya saja?”

“Itu, Soalnya, anu, eu… itu karena…” Eunji tak bisa jujur pada Suho. Ia takut Suho akan marah.

“Karena apa?” Suho mulai menaikkan nada suaranya.

“Kebiasan.” Lirih Eunji.

“Benar dugaanku, kalau Kamu mash ketergantungan sama Dia.” Ujar Suho dingin. Suho menghentikan mobilnya. Ia menatap Eunji.

“Aku ini pacarmu, tapi Kamu malah ketergantungan sama Dia. Aku ngerasa sebagai pacar gagal, karena Kamu masih saja tergantung dengannya bukan denganku. Sudah kesekian kalinya jika ada apa-apa Kamu menghubungi Gongchan, tak memberitahuku, bahkan sahabat-sahabat kalian.”

“Aku enggak mau jadi beban buat Kamu. Aku kasihan melihatmu pusing karena urusan kantor. Aku merasa Gongchan bisa diandalkan, tapi bukan berarti kamu gagal. Enggak kamu enggak gagal. Kamu bisa bikin Aku nyaman.”

“Nyaman saja enggak cukup. Kalau kam tergantung sama keluarga Kam sih enggak masalah, tapi ini sama mantan Kamu!”

“Gongchan memang mantan, tapi kan Aku tergantung dengannya karena Dia sahabatku.”

“Kalau Kamu tergantung dengannya sebagai sahabat, kenapa Kamu juga enggak tergantung dengan yang lainnya?”

Eunji diam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ia pun bingung kenapa Ia hanay bergantung pada Gongchan. Apa benar Ia bergantung pada Gongchan sebagai teman, atau karena Gongchan masih ada di hatinya.

“Kenapa diam? Kamu bingung kan? Atau Kamu sadar kalau Gongchan bukan sekedar sahabat dan mantan?”

Dipojokkan seperti itu membuat Eunji makin diam. Ia jadi bingung sendiri.

Suho menghela nafas. Ia menghempaskan tubuhnya ke jok mobilnya. Suho menatap keluar seperti sedang berpikir. Kemudian Suho kembali menghadapkan wajahnya pada Eunji.

“Jung Eunji. Kita sudah hampir setahun. Selama setahun ini kita jarang bertengkar, tapi sekalinya kita bertengkar itu karena masalah yang sama. Aku sudah lelah untuk ribut masalah ini. Awalnya Aku berusaha sabar, dan percaya kalau Kamu dan Gongchan hanya masa lalu, tapi kelihatannya Kalian masih terjebak di masa lalu. Akhir-akhir ini Aku makin sadar Kalau Kamu dan Gongchan itu belum selesai,” Suho benar-benar serius. Eunji hanya diam dengam mata berkaca-kaca mendengar ungkapan Suho.

Suho menggenggam tangan Eunji, “Sekarang tentukan pilihanmu. Jika Kamu ingin kembali denganku, selesaikan dulu masa lalumu dengannya. Jika Kamu masih ingin berkutat dengan masa lalumu, Aku ikhlas melepasmu.” Kemudian Suho melepaskan genggaman tangannya.

Eunji terkejut, Ia tak menyangka masalahnya akan serumit ini. “Jadi intinya Kamu ngajak Aku putus?”

Suho menggeleng, “Putus enggaknya tergantung sama Kamu. kita break saja dulu. selama break Kamu selesaikan urusanmu. Aku pun akan berinstropeksi.”

“Tapi break sampai kapan? Aku enggak mu kita gantung.” Ujar Eunji dengan nada sedih.

“Itu semua tergantung Kamu. Begitu urusanmu beres, Kita tentukan hubungan kita. Kalau Kamu enggak mu kita gantung terus, cepatlah selesaikan urusanmu.”

Suho pun menstarter mobilnya. Ia kembali melajukan mobilnya menuju rumah Eunji. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam. Begitu sampai, Suho pun langsung pamit tak turun dari mobil, begitupun dengan eunji yang langsung masuk. Eunji langsung berlari ke dalam kamar. Ia membenamkan wajahnya di bantal, dan air matanya langsung mengalir dengan deras.

*****

“Jangan murung terus dong!” Protes Sungjong. Eunji tak mengacuhkan Sungjong. Ia terus menyantap popcorn yang ada dihadapannya.

“Sudah berapa hari Dia enggak menghubungimu?” Tanya Bomi.

“Ya semenjak malam itu, berarti hari ini sudah hari keenam.” Jawab Eunji lemas.

“Terus langkah kamu selanjutnya apa?”

Eunji mengangkat bahunya. Ia bingung harus berbuat apa.

“Tapi kalau Aku jadi Suho, ya pasti Aku cemburu dan marah. Marah karena setiap sama Gongchan Kamu bohong, cemburu soalnya Kamu sering banget jalan sama Gongchan. Ngomongnya sih teman, sahabat, tapi kan tetap saja Dia mantanmu.” Ujar Sungjong.

“Jadi wajarr banget kalau Dia cemburu,marah dan minta break.” Tambah Bomi.

“Kok kalian berdua malah memojokkanku?” Kesal Eunji sambil melempar bantal yang ada di kamarnya pda kedua temannnya.

“Kita buka memojokkan, tapi bicara fakta.” Sungjong membela diri.

“Sekarang Kamu maunya apa? Perasaan Kamu ke Gongchan gimana? Ke Suho gimana?” Selidik Bomi.

“Setelah kemarin-kemarin Aku berpikir, rasanya Aku lebih sayang sama Suho, tapi Aku juga enggak mau kehilangan Gongchan. Aku merasa Aku masih butuh Dia. Aku enggak mau kalau Di cuek ke Aku. Aku masih ingin perhatian darinya.”

Bomi dan Sungjong berdecak bersamaan. Mereka melihat Eunji dengan wajah kesal.

“Gini nih. Gini nih!” Serun Sungjong emosi, “Dasar cewek. Egois banget. Maruk. Kamu enggak bisa gitu. Plih salah satu!”

“Benar kata Suho, kalau Kamu masih terjebak di masa lalu. Kalau Kamu sudah milih Suho, seharusnya Kamu harus bisa melepas Gongchan.” Bomi member nasehat.

Sungjong menambahkan nasehat Bomi, “Kamu tahu kan kalau Gongchan masih mengharapkanmu? Sikapmu yang tergantung dengannya itu membuatnya enggak bisa move on. Itu membuatnya terus menggantung harapannya padamu.”

“Terus Aku harus gimana?” Eunji mengacak-acak rambutnya.

“Ya Kamu maunya apa dulu?”

“Aku ingin tetap sama Oppa, tapi Aku juga enggak mau kehilangan Gongchan.”

“Egois itu namanya. Kalau enggak au kehilangan Gongchan, lepas Suho, tapi kalau Kamu ingin bersama Suho, lepas Gongchan.” Kata Sungjong serius.

“Sekarang Kamu telepon Gongchan, selesaikan.” Bomi menaruh ponsel Eunji ditangan kanan Eunji.

“Apa yang harus Aku selesaikan?” Bingung Eunji.

“Gongchan. Selesaikan Dia. Terserah Kamu akhirnya mau gimana, tapi Kamu dan Gongchan harus mengobrol dari hati ke hati.”

Eunji terpaku. Ia hanya melihat ponselnya tanpa sanggup memencet nomor. Akhirnya Sungjong lah yang mengambil ponsel Eunji dan menelepon Gongchan.

“Ah sudah tersambung!” Sungjong menyerahkan ponsel itu pada Eunji, “Bicaralah.”

Eunji menerima ponselnya dengan ragu, “Gongchan-ah, hm… kosong enggak? Datangalah ke rumahku. Ada yang ingin kubicarakan.”

“Eunji, kalau begitu Kita pulang ya?” Pamit Bomi.

“Jangan!” Cegah Eunji, “Mungkin nanti Aku dan Gongchan membutuhkan kalian.”

“Kalian berdua saja lah membicarakan itu.” Tolak Sungjong.

“Iya Kami akan bicara berdua saja, tapi mungkin setelah pembicaraan, Kita butuh Kalian.”

Bomi dan Sungjong saling melihat, mereka bingung, tapi pada akhirnya mereka menyetujui hal itu. Setengah jam kemudian Gonghan pun tiba. Eunji dan Gongchan berbicara di teras rumah, sedangkan Bomi dan Sungjong menunggu di kamar Eunji.

“Ada apa?” Tanya Gongchan.

Eunji meletakkan minum di depan Gongchan. Eunji menghela nafas, “Aku break.”

Gongchan tampak terkejut dengan kabar itu. Ia yang sedang minum langsung tersedak. “Uhuk. Serius?”

Eunji menganggguk lemah.

“Terus kenapa Kamu memintaku kesini hanya untuk membicarakan break mu saja?”

“Tahukah Kau penyebabnya?”

Gongchan langsung speechless. Tampaknya Ia menyadari kalau dirinyalah penyebab faes istirahatnya hubungan Eunji-Suho.

“Gongchan, Kamu tahu kan kalau Aku tergantung denganmu? Hal ini membuat Suho murka. Hm.. bukan murka juga sih, itu lebay, ya Suho marah,kesal, kecewa karena hal itu. Kenapa aku terus bergantung ada dirimu? Karena Kau membiarkannya. Kau membiarkanku untuk bergantung padamu. Kau tak mencegahnya. Kin Aku enggak bisa melepaskan itu. Kenapa Kau tak melakukan itu? Apa karena Kamu enggak bisa melepasku?”

Gongchan terdiam. Semua yang dikatakan Eunji benar. “Ya Aku tak bisa melepasmu.”

“Kenapa enggak bisa? Kalau Kamu bisa, pasti Aku enggak akan tergantung sama Kamu.”

Gonghan menghela nafas. Raut wajahnya tampak enggan menjawab pertanyaan Eunji. Melihat itu Eunji langsung memasang wajah memelas dan memaksa Gongchan untuk mengatakannya.

Ya, pada akhirnya Gongchan mau mengatakannya. “Karena Kamu yang memulai. Kamu yang selalu memulai. Kamu yang selalu mengajakku main berdua, meminta tolong. Kalau Kamu enggak mulai duluan, pasti Aku sudah bisa melepasmu.”

“Kenapa Kamu enggak menolak?”

“Karena Aku tak bisa menolakmu. Kamu tahu kan saat dulu Kamu yang memutuskanku. Aku masih berharap denganmu, makanya setiap Kamu bergantung padaku membuatku semakin berharap dan semakin enggak bisa melepasmu. Saat Aku menawarkan untuk Kita kembali bersama, Kamu tak mau, tapi Saat Aku ingin melepasmu, tapi Kamu tak membiarkannya.”

Eunji frustasi. Ia menunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kaki kirinya bergerak-gerak tak jelas. Eunji pun sadar ini semua memang karena Dia yang mengawalinya. Jika saja Ia tak meminta duluan, mungkin in semua takkan terjadi.

“Benar, semua ini salahku. Kalau saja Aku tak meminta duluan. Aku selalu tergantung denganmu juga karena Aku masih belum bisa melepasmu sepenuhnya. Maafkan Aku karena selama ini ketergantunganku membuatmu tak bisa melepasku. Maafkan juga karena Aku belum bisa melepas sepenuhnya,” Eunji terdiam sesaat. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu, namun kata-kata itu tak sanggup Ia keluarkan. Kata-kata itu hanya sampai pada ujung lidahnya, tap tak terucap. Eunji menarik nafas dan menghela nafas beberapa kali untuk menenangkan diri.

Eunji pun meyakinkan diri untuk mengeluarkan kalimat yang sudah ada diujung lidahnya, “Mulai sekarang, carilah wanita lain. Lepaskan Aku. Aku akan melepaskanmu. Aku akan berusaha untuk tidak tergantung padamu lagi, tapi Aku mohon satu saja. Jangan menjauh dariku, tetaplah menjadi temanku. Kita harus tetap bertemu, berman bersama yang lainnya.”

Gongchan menggerak kepalanya ke kanan dan ke kiri, “Aku enggak bisa,”

“Kenapa?”

“Aku enggak bisa melakukan keduanya. Jika kita tetap ingin berteman biasa, tetap bertemu dan bermain bersama, Aku tak bisa melepasmu, tapi jika Aku melepasmu, kita tak bisa bertemu untuk sementara waktu.”

“Tapi Aku enggak ingin kehilanganmu sebagai teman, Aku enggak mau.” Mata Eunji mulai berkaca-kaca. “Iya, memang ini egois, Aku ingin Kamu melepasku, tapi Aku juga enggak mau kehilangan Kamu sebagai teman. Kita sudah kenal selama lima tahun. Kita pacaran selama 2,5 tahun, Kita putus tiga tahun yang lalu. Selama dua tahun ini kita menjalin persahabatan yang mungkin terbilang mesra. Kalau tiba-tiba Aku harus kehilangan Kamu, Aku enggak sanggup.”

“Masalahnya kalau Kita tetap berhubungan, walau sebagai teman, tetap saja Aku sulit melepasmu. Hingga detik ini Aku masih melihatmu sebagai wanita, bukan seorang teman.”

“Jadi?”

“Ya jadi untuk sementara waktu Aku enggak bisa main bareng kalian. Aku akan menolak mendengar curhatanmu, Aku takkan membantumu. Dengan begitu Aku bisa melepasmu.” Ujar gongchan sambil tersenyum pahit.

“Kenapa harus gitu sih?” Pipi Eunji mulai teraliri air mata, “Kenapa harus bawa anak-anak? Kasihan kan mereka kalau mau main sama Kamu?”

“Kalau pas kalian main, dan Kamu enggak ikut, Aku bisa ikut, tapi kalau Kamu ikut, maaf untuk sementara waktu Aku enggak bisa. Tenang kok, bukan selamanya. Aku hanya butuh waktu untuk recovery hatiku.”

“Tapi sampai kapan?”

Gongchan mengangkat bahunya, “Biar waktu yang menjawab. Doakan saja semoga Aku bisa dengan cepat memulihkannya.” Gongchan meminum sirupnya hingga habis. Ia berdiri dari tempat duduknya.

“Jung Eunji, maafkan Aku selama ini. Terima kasih karena Kamu mau bergantung padaku selama ini. Berbahagialah dengan Suho. Sampai berjumpa di lain kesempatan. Aku pulang dulu. annyeong.” Gongchan membungkukkan bahunya. Gongchan pamit pergi.

Kajima…kajima…” Isak Eunji sambil menatap punggung Gongchan. Gongchan menyalakan mesin motornya. Ia memakai helmnya, dan Ia siap untuk memacu gas motornya. Sebelum benar-benar Ia pergi, Gongchan membuka kaca pada helmnya, Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya. Kini Gongchan benar-benar pergi.

Setelah Gongchan pergi, Eunji langsung naik ke atas menuju kamarnya. Sungjong dan Bomi sudah siap untuk mewawancarai Eunji, tapi melihat Eunji masuk dengan mata merah dan berair, mereka mengurungkan niat itu. Mereka berdua pun langsung menghampiri Eunji dan memeluknya. Tangis Eunji pun pecah saat mereka memeluknya.

*****

Setiap semenit sekali Eunji melirik jam tangannya. Ia terus memandangi ponselnya dengan cemas. Sesekali melihat ke arah pintu coffee shop. Setiap ada orang yang membuka pintu Eunji tersenyum, namun saat melihat orang yang masuk bukanlah orang yang Ia tunggu, dengan sekejap ia langsung murung lagi.

Akhirnya setelah penantian selama hampir dua jam, orang yang Ia tunggu tiba juga.

“Ku kira Oppa takkan datang.” Ujar Eunji.

“Syukurlah Kau masih menungguku, ku kira Kau sudah pulang.” Balas Suho dengan terengah-engah.

“Kenapa nafasmu tampak tak teratur? Oppa berlari?”

Suho mengangguk, “Jalanan macet, Aku takut Kau sudah tak berada di tempat, jadi mobil kutinggal, dan Aku berlari kemari. Maafkan Aku telat. Tadi rapatnya delay, sehingga beresnya pun terhambat, ditambah jalanan Seoul yang macet.”

Eunji tersenyum, “Gomawo Oppa, sudah mau datang.”

Suho duduk dikursi yang menghadap Eunji. “Jadi?”

“Basa basi dulu lah Oppa. Enggak usah langsung to the point begitu dong.” Protes Eunji.

Suho terkekeh, “Hehehe, maaf. Lagian mau berbasa-basi apa? Mending langsung.”

Oppa, kita sudah tak berkomunikasi selama seminggu!”

“Ya terus kenapa?”

“Kamu enggak kangen sama Aku?”

Suho tertawa melihat tingkah lucu Eunji, “Ya menurutmu?”

Eunji langsung cemberut, “Ah sudah enggak Asyik. Kita langsung ke pokok pembicaraan saja.” Wajah Eunji kembali menjadi serius, begitupun dengan Suho.

“Kemarin Aku sudah berbicara dengan Gongchan,” Eunji memulai obrolan. “Aku berjanji takkan bergantung padanya lagi, dan Dia pun berjanji akan melepasku, dan akan menghilang sementara waktu.”

Jinja?” Kaget Suho.

Eunji mengangguk. Sorot matanya terlihat sedih, “Padahal Aku hanya memintanya untuk melepaskanku, bukan menjauh dariku, tapi Dia menolak itu. Dia harus menghilang dulu. Katanya Dia butuh waktu untuk recovery hatinya.”

“Kamu sedih akan hal itu?”

“Aku sedih karena Harus kehilangan Dia sebagai teman. Aku enggak mau tapi Dianya memaksa.” Suara Eunji mulai tercekat. Ia benar-benar sedih harus melepas Gongchan.

“Nanti juga Dia akan kembali sebagai teman. Dia butuh waktu.”

“Sampai kapan tapinya?” Eunji menghela nafasnya, kemudian Ia mencoba tersenyum. “Tapi ya sudahlah. Dia masa lalu. Sekarang Aku sudah menyelesaikan masa laluku. Aku hidup dimasa sekarang bersamamu.”

Suho tersenyum mendengar itu. Ia pun membungkus tangan Eunji dengan kedua tangannya diatas meja. “Lebih baik kita putus saja.”

Senyum Eunji yang awalnya merekah langsung mendadak kuncup. Ia kaget dengan pernyataan Suho. “Loh ke…kenapa?”

“Kembalilah pada Gongchan. Tampaknya Dia benar-benar unforgettable untukmu. Kamu sepertinya lebih siap kehilangan Aku dibanding Dia.”

Oppa ngomong apa sih? Buktinya apa?” Tanya Eunji penuh emosi, matanya mulai berair.

“Sampai sekarang Aku melihat matamu masih ada sosok Gongchan. Kau pun terlihat begitu bersedih karena harus kehilangan Dia. Pada nyatanya jauh dilubuk hatimu, hatimu telah tertambat dengan Gongchan, Sekarang hubungilah Gongchan. Katakana padanya bahwa Kau putus dan kalian bisa bersama.”

Eunji menggeleng keras. Ia tak mau melakukan itu. “Aku milih kamu,Suho Oppa. Kenapa Kau malah menyuruhku untuk kembali pada Gongchan. Aku enggak mau. Gongchan saja yang sudah berkali-kali memintaku untuk kembali padanya, Aku menolaknya.”

Suho mencecar Eunji dengan pertanyaan, “Kenapa Kamu menolaknya? Bukankah Kau selalu tergantung padanya? Bukankah Kamu sulit melepasnya? Kenapa tak bisa kembali bersama?”

“Aku enggak bisa. Entah mengapa Aku merasa, sebenarnya Aku dan gongchan itu tak cocok jadi pasangan. Selama Kami pacaran Kami seringkali ribut karena hal kecil, tak seperti saat bersamamu. Kita jarang bertengkar. Saat Kami putus, hubungan Kami lebih baik, dan jarang ribut. Oleh karena itu Aku tak ingin kembali dengannya, agar hubungan Kami berdua baik-baik saja.” Jelas Eunji dengan lemah.

“Nah itu. Itu mengartikan bahwa Kamu masih sayang dengannya, makanya Kamu enggak mau kembali padanya tapi tak mau juga melepaskannya.” Suho melepas tangannya dari tangan Eunji.

“Ya tapi itu kan masa lalu. Sekarang Aku sudah memantapkan hati untuk bersamamu.”

“Aku enggak ingin melihatmu tersiksa saat bersamaku. Aku ingin Kau bahagia. Jadi sebaiknya kit putus saja ya.”

“Enggak mau!” Seru Eunji, “Enggak, pokoknya enggak!”

Suho diam. Ia menatap Eunji dengan dalam. Senyumnya kembali merekah, namun kepalanya menggeleng. “Maaf, tapi Aku enggak bisa. Bahagialah. Terima kasih karena selama setahun ini sudah mengisi hariku, membuatku senang akan dirimu.” Suho pun pergi meninggalkan Eunji sendiran. Ia pun berjalan menuju keluar coffee shop.

Air mata Eunji langsung mengalir deras saat Suho pergi meninggalkannya. Dia diam, tak tahu apa yang harus dilakukan. Eunji hanya bisa menatap kepergian Suho. Otaknya mencoba berpikir, tapi tak bisa. Untungnya hatinya masih bisa merasa.

Berdasarkan hatinya, Eunji pun bangkit dari duduknya. Ia segera berlari mengejar Suho. Untung Suho belum jauh. Terlihat Ia sedang berdiri dan sedang berusaha menghentikan taksi yang lewat, tapi tak ada satu pun taksi yang berhenti karena penuh. Dengan segera Eunji berlari menghampiri Suho dan langsung memeluk Suho dari belakang.

Kajima! Kajima! Oppa, Aku benar mencintaimu. Aku memilihmu, bukan Gongchan. Aku sayang sama Kamu. Dei Kamu Aku rela melepas Gongchan. Mungkin selama ini Aku memang salah karena tak mengandalkanmu, Aku malah bergantung pada Gongchan, tapi mulai sekarang Aku akan selalu bergantung padamu. Aku takkan berbohong lagi. Jadi kumohon, jangan pergi. Ayo kita jalani bersama.” Eunji mengatakan hal itu sambil menangis. Ia menelungkupan wajahnya dipunggung suho.

Suho pun terdiam mendengar pengakuan Eunji. Sebenarnya Ia pun tak rela untuk melepas Eunji, tapi jika Eunji bahagia, Ia mau melakukan hal itu, namun setelah mendengar itu semua Ia menjadi ragu. Ia tambah ragu setelah mendengar isakan Eunji. Hatinya pun ikut pilu mendengar tangisan Eunji. Matanya jadi ikut berkaca-kaca.

Suho menarik nafas untuk menenangkan diri. Ia melepaskan pelukan Eunji dan berbalik ke arahnya. Suho memegang bahu Eunji dan menatapnya. Tangan kanannya bergerak menuju kepala Eunji. Dibelai dengan lembut rambut Eunji, kemudian tangannya turun ke wajah Eunji. Ia menghapus air mata Eunji.

Uljimayo. Baby, don’t cry.”

Eunji terus menangis, Ia sulit berhenti.

Suho memohon, “Sudah jangan menangis. Itu membuatku makin pilu.”

Eunji pun ikut memohon, “Berilah aku kesempatan. Akan ku perbaiki. Jadi tolong beri Aku kesempatan, jebal. Percaya sama Aku.”

“Lihat Aku.” Eunji dan Suho pun bertatapan. Ketika melihat mata Eunji, Suho sadar jika Eunji mengatakan sebenarnya. Suho pun langsung memeluk Eunji.

“Aku percaya sama Kamu, Aku percaya. Maaf kalau ternyata keputusanku tadi menyakiti hatimu. Maaf. Iya, Aku kasih Kau kesempatan. Sudah jangan menangis lagi.”

Eunji mulai menghentikan tangisannya. “Serius?”

“Iya, serius. Sudah jangan menangis lagi. Makasih sudah memilihku. Makasih Kamu sudah mau hidup di masa sekarang.” Suho membelai rambut Eunji dengan lembut.

Eunji pun memeluk Suho dengan erat. Suho pun membalas pelukan Eunji, dan membelainya dengan lembut. Kini mereka berdua berbaikkan. Mereka berdua pun berjalan bersama sambil berpegangan tangan menuju tempat terparkirnya mobil Suho.

 “Kenapa Kamu memilih melepaskan Gongchan dan memilih bersamaku?” Tanya suho.

Eunji mengarahkan matanya ek atas, seolah sedang berpikir, “Karena Aku ingin hidup di masa sekarang. Gongchan itu masa lalu, Aku enggak mau kesalahan yang sama terulang. Aku bisa sampai putus dengan Gongchan, itu berarti Aku Dia bukan yang terbaik. Dia bukan yang Aku cari. Aku masih belum bisa menerima Dia apa adanya.”

“Kenapa Kamu bisa putus dengan Gongchan?”

“Waktu itu memang lagi puncak-puncaknya bosan, jenuh. Lagipula Aku sudah terlalu lelah untuk ribut dengannya. Hatiku sudah terkuras habis karena keributan yang tak penting. Pada akhirnya Aku memutuskannya, tapi karena putusnya karena bosan, Kami masih berkomunikasi, tapi tak seintes dulu. Saat Aku tak bosan, Aku ingin bersamanya lagi, tapi Aku tersadar. Sesudah Kami putus dan tak memiliki hubungan apa-apa, hubungan Kami jauh lebih baik. tak ada keributan. Hanya sesekali. Saat itu Aku sadar bahwa memang sebaiknya Kita tak bersama. Jadi saat Dia memintaku kembali,Aku menolak.”

“Lalu kenapa Kamu bergantung padanya?”

Eunji mengangkat bahunya, “Entahlah. Mungkin karena terbiasa selalu mengandalkannya, jadinya begitu, dan ternyata itu salah, apalagi setelah Aku tak sendiri.”

“Kenapa Kamu merpertahankanku?”

“Banyak nanya banget sih!” Protes Eunji.

“Ya Aku ingin tahu saja apa alasanmu.” Sahut Suho.

“Ya mungkin karena Kau yang Aku cari. Kita jarang bertengkar. Aku rasa Aku bisa mengertimu dengan baik, dan Kamu juga. I hope you are the one and the last for me.”

Suho melepaskan pegangannya, lalu merangkul Eunji.  “Aku juga berharap seperti itu. Sekali lagi makasih sudah mau memilih.”

Eunji tersenyum, “Iya, karena hidup itu harus memilih.”

Mereka berdua berjalan dengan penuh senyuman. Ya hidup itu harus memilih. Kita tak bisa egois untuk menginginkan semua pilihan yang ada. Saat kita harus memilih, kita harus berani merelakan pilihan yang tidak Kita pilih untuk pergi. Mungkin awalnya sulit, tapi percayalah semuanya akan lebih baik jika Kau memilih salah satu, bukan mengambil semuanya, karena saat Kita memilih semua pilihan, yang adda Kamu akan kehilangan semua pilihan itu.

—The End—

Saturday, 15 February 2014

12:20 AM

Ah finally beres. Butuh berhari-hari membereskannya. Aku akhir-akhir lagi enggak mood nulis. Otak berasa buntu banget buat bikin ff. ad aide, tapi susah ngembanginnya, tapi ya karena Aku punya target sebelum masuk harus posting, jadi aku paksain. Alhamdulillah beres. Aaah senin aku sudah mulai menangor nih >< semangat semester baru! MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

 

 

Iklan

2 thoughts on “[FF] Between Now and Past

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s