[FF] Obat

Title               : OBAT

Rate               : pg 13+

Genre             : FRIENDSHIP, CRIME tapi aku ga yakin, cuman garnish kali yaa

main Cast     : EXO BEAGLE LINE, OUR 92LINE, BYUN BAEKHYUN, KIM JONGDAE (CHEN), PARK CHANYEOL

OTHER CAST   : POLISI PENDEK DAN POLISI TINGGI

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH punya

Disclaimer   : Mumpung belum banyak tugas, mumpung masih sempet bikin ff. tahun 2014 ini tampaknya aku akan sibuk, karena aku mengikuti dua organisasi di kampus *eh maap malah curcol*.  Eh ya maaf ya kalau agak lebay, dan ga nyambung. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

Suasana klub tampak riuh. Bau alkohol merebak sepanjang klub. Kebulan asap rokok muncul diantara kelap-kelip lampu warna warni. DJ memainkan perannya dengan baik. Semua orang menggerakan tubuhnya sesuai irama musik dengan wajah sumingah. Bagi yang tak terjun ke lantai dansa, Mereka terlihat duduk santai, Ada yang sedang mengobrol sambil sesekali tubuhnya bergerak mengikuti irama musik, adapula yang sambil minum ditemani wanita-wanita cantik.

Di salah satu pojok klub, ada tiga orang lelaki yang sedang melarikan diri dari kerumitan kehidupan kampus. Mereka adalah Baekhyun, Jongdae, dan Chanyeol. Mereka terlihat sedang asyik bersantai. Mereka menikmati sebotol wine yang mereka beli patungan sambil mengobrol dan tertawa. Tak lupa juga mata mereka sesekali jelalatan mencari pemandangan yang menyegarkan.

“Kita disini mahal-mahal masuk hanya untuk duduk menikmati wine? C’mon let’s dance!” Ajak Baekhyun sambl menggoyang-goyangkan tubuhnya mengikuti irama musik.

Slow saja lah. Baru juga sampai. Nikmati dululah pemandangan yang ada.” Sahut Chanyeol dengan senyum nakal.

“Lagian kita belum dapat mangsa untuk menemani kita bersenang-senang.” Mata Jongdae berkeliaran mencari mangsa.

“Masalahnya waktu kita cuman sebentar. Kita bisa disini cuman sampai jam satu. jam setengah dua kita harus sudah ada di kampus.” Keluh Baekhyun sambil meminum seteguk wine.

“Kamu saja sana yang ke sana. Aku sih ogah.” Tolak Chanyeol.

“Kamu serius mau ikut penelitian Yura ke pantai?” Tanya Jongdae.

Baekhyun bersandar pada sofa dengan pasrah. “Sebenarnya Aku malas buat ikut terjun ke penelitian Dia, tapi karena Dia yang minta, Aku enggak bisa nolak.”

“Mau-maunya mengorbankan diri untuk tak bersenang-senang hanya demi Yura. Mending kalau Yura mau nerima cintamu itu.” Cibir Jongdae sambil mengambil rokok dari dalam tasnya.

“Ya namanya juga usaha,bro.

“Usaha melulu, tapi enggak ada kemajuan. Itu artinya Kamu cuman sebatas teman sama Dia.” Chanyeol menasehati Baekhyun.

“Kata siapa? Dia belum pernah menolakku secara terang-terangan. Itu artinya Aku masih punya kesempatan.” Sangkal Baekhyun.

“Iya enggak tersurat, tapi secara tersirat. Dia nolak Kau dengan halus. Dia jarang kan membalas LINE mu? Dia bales kalau cuman ada butuhnya doang kan? Itu artinya Dia menganggapmu hanya sekedar teman.”

“Sok tahu!” Baekhyun menoyor kepala Chanyeol.

“Yee… terserah Kamu deh kalau enggak percaya.”

“Ya begitulah orang yang dibutakan cinta. jadi terlihat bodoh.” Ejek Jongdae sambil tertawa diikuti oleh Chanyeol yang juga ikut tertawa. Baekhyun melirik kesal kepada kedua sahabatnya.

“Sial. Lihat saja akan kubuktikan, kalau Dia juga minat denganku!”

Chanyeol dan Jongdae saling berpandangan. Sorot mata mereka menunjukkan kalau mereka meremehkan niat Baekhyun. Mereka berdua pun kembali tertawa.

Baekhyun yang kesal langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Dengan gayanya yang sok asyik Ia langsung ikut gabung dengan segerombolan remaja perempuan di lantai dansa. Ia pun ikut menggoyangkan tubuhna,namun karena Ia muncul secara tiba-tiba dan tampak sok asyik, para remaja itu mengabaikan kehadiran Baekhyun. Melihat itu, Chanyeol dan Jongdae pun tertawa semakin keras.

“Jongdae, minta rokok dong.” Pinta Chanyeol.

“Enggak modal. Minta melulu.” Protes Jongdae sambil melemparkan tasnya, walau Ia protes tapi Chanyeol tetap dibaginya rokok yang Ia punya. Chanyeol pun mencari rokok dari dalam tas Jongdae.

“Dimananya?” Tanya Chanyeol sambil terus merogoh tas Jongdae mencari rokok.

“Didalam, di kantong yang kecil.”

“Ah ini.” Chanyeol pun menemukan kantong kecil itu. dia membuka resleting kantong itu. Ia pun menemukan benda yang Ia cari, namun selain tembakau beracun ada barang lain yang menarik perhatiannya. Dalam kantong itu selain rokok adapula plastik kecil bening berisi beberapa tablet berwarna kuning. plastik isi obat itu tak hanya satu, tapi ada tiga. Chanyeol terpaku melihat obat-obat itu. Tiba-tiba Ia merasa curiga dengan Jongdae.

Obat apa ini? Batin Chanyeol. Seingatku Ia sedang tak sakit. Obat apa ya itu? Jangan-jangan itu narkoba? Itulah pertanyaan yang terlintas dipikirannya, namun dengan segera Chanyeol mengenyahkan pikiran anehnya itu.

“Ah mikir apa  Aku ini. Tak mungkin. Tak mungkin.” Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya. Jongdae heran melihat Chanyeol seperti itu.

Wae?” Heran Jongdae melihat Chanyeol yang sedang bengong.

Ani.” Geleng Chanyeol. “Korek dong.”

Jongdae mengeluarkan korek dari saku celananya. Chanyeol menyalakan pematik api itu dan menyulutkan rokoknya. Ia pun menghisap racun tubuh yang nikmat itu sambil menerawang. Ia menerka-nerka obat apa yang ada di tas Jongdae.

“Enggak minum? Merokok melulu daritadi.” Tanya Chanyeol.

Jongdae menggeleng, “Aku lagi sakit kepala, jadi cuman minum sedikit. Kalau lagi pusing begini lebih enak merokok”

Chanyeol pun hanya manggut-manggut curiga. Apa itu memang benar obat untuk sakit? Tapi kenapa sebanyak itu hingga ada puluhan? Pikir Chanyeol.

“Hei, Bro!” Tampak jongdae melambaikan tangan kepada seseorang yang sedang duduk di bar menghadap bartender.

“Kau sedang menyapa siapa?” Bingung Chanyeol.

“Teman. Aku kesana dulu ya. Mau tegur sapa.” Ujar Jongdae sambil meraih tasnya.

“Loh kok tegur sapa pakai bawa tas. Simpan sajalah tasnya disini.” Chanyeol menarik tas Jongdae ke sofa.

“Aku sekalian mau transaksi coy. Lagian Aku pasti ke kursi ini lagi kok. Tunggu saja.” Jongdae kembali meraih tasnya.

“Transaksi? Transaksi apa?” Tanya Chanyeol, tapi sayangnya sebelum pertanyaan Chanyeol terjawab, Jongdae sudah pergi meninggalkan Chanyeol yang kebingungan.

Chanyeol memperhatikan Jongdae dan temannya. Tampak teman Jongdae memiliki badan kurus dan wajah yang sayu. Melihat penampilan teman Jongdae membuatnya curiga dan penasaran, tranksaksi apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan.

“Mencurigakan. Ada yang enggak beres ini pasti.” Chanyeol langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia menghampiri Baekhyun. Ia menyeret Baekhyun dengan paksa kembali menuju sofa mereka. Diseret paksa seperti itu, Baekhyun langsung protes.

“YA!! apa sih? Main tarik saja! Lagi enak-enak ajojing, Kamu malah ganggu!”

“Lihat deh!” chanyeol menunjuk Jongdae dan temannya yang sedang mengobrol. “Ada yang aneh enggak?”

Baekhyun ikut memperhatikan sesaat, kemudian Dia menggeleng. “Enggak ah biasa saja.”

“Lihat deh orang yang ngobrol sama Jongdae. Dia terlalu kurus untuk seorang pria, matanya sayu, mukanya tampak kusut, dan badannya gemetar.”

“Kamu menyeretku cuman buat nanya hal kayak gini doang? Enggak penting,sumpah! Ganggu kesenangan orang saja!” Kesal Baekhyun sambil beranjak pergi.

“Tunggu dulu! Bukan gitu! Haish!” Chanyeol menghela nafas kesal, “Jadi gini, tadi pas Aku ambil rokok di tas Dia, Aku lihat ada tiga plastik isinya puluhan tablet.”

“Hah? Puluhan?” Baekhyun kaget dengan jumlah tablet yang ada di tas Jongdae.

“Kamu pasti merasa aneh juga kan? Aku juga. Aku jadi curiga jangan-jangan…”

“Jangan-jangan Jongdae pemakai?” Baekhyun terbelanga kaget dengan dugaan itu, tapi sedetik kemudian Dia langsung menyangkalnya. “Ah tapi Jongdae terlalu sehat untuk ukuran seorang pemakai. Dia tak terlalu kurus, serta wajahnya selalu segar. Dia selalu tersenyum.”

“Aku pun berpikir seperti itu, jadi menurutku Dia bukan pemakai.” Chanyeol memberi hipotesa.

“Mungkin itu Dia lagi sakit, jadi itu obatnya.” Baekhyun mencoba berprangsaka baik.

“Iya sih Dia tadi mengeluh sakit kepala, tapi mana mungkin jika Ia sedang sakit mengonsumsi obat yang sama sampai puluhan.”

Baekhyun menganggukkan kepalanya, “Benar juga, jadi?”

“Lihat deh orang itu. Dia kurus, muka sayu, mukanya tampak kusut, dan badannya gemetar. Aku tadi nanya ke Jongdae, katanya Dia mau melakukan transaksi dengan orang itu.”

“Hah,transaksi?” Teriak Baekhyun kaget.

“Biasa saja kali suaranya. Enggak usah pakai toa. Kamu sama saja kayak Jongdae, kalau ngomong suaranya keras!” Protes Chanyeol sambil mengorek-ngorek telinganya yang mendenging karena suara Baekhyun.

“Maaf-maaf.” Baekhyun memelankan suaranya, “Jadi maksudmu jangan-jangan Jongdae itu pengedar?”

Chanyeol mengangguk lemah, “Dugaan sementaraku itu.”

“Eh lihat!” Kini di mata mereka ada peristiwa yang makin meyakinkan dugaan sementara Chanyeol. Terlihat Jongdae mengeluarkan satu plastik tablet, lalu dibungkus dengan sebuah kaos warna merah. Kaos yang didalamnya sudah ada tablet diberikan kepada lawan bicaranya itu, dan lawan bicaranya itu memberi Jongdae beberapa lembar uang.

Melihat kejadian itu membuat mereka semakin terkejut. Secara serentak mereka terduduk lemas di sofa. Muka mereka langsung sedih. Mereka tak menyangka sahabat mereka adalah seorang pengedar narkoba.

Eomona uri Jongdae.” Lirih Baekhyun sedih.

“Kita memang bukan anak baik, tapi kenapa Dia harus dagang sesuatu yang haram? Apakah Dia butuh uang?” Chanyeol terus bertanya-tanya. Ia mencoba mencari penyangkalan.

“Apa yang harus kita lakukan?” Baekhyun dan Chanyeol sama-sama tertunduk lemas.

“Memangnya apa yang mau kalian lakukan?” Tiba-tiba Jongdae sudah berada dihadapan mereka. Jongdae kebingungan melihat kedua sahabatnya yang tertunduk lemas dengan wajah sedih.

“Ada apa? Kok lemas?” Bingung Jongdae.

Baekhyun menghela nafas. Ia mengangkat wajahnya menghadap Jongdae. Ia menyuruh Chanyeol untuk bergeser tempat duduk, kemudian Ia meminta Jongdae duduk diantara mereka berdua. Jongdae sebenarnya bingung, tapi Ia menurut.

Baekhyun kemudian merangkul Jongdae. “Kim Jongdae. Kita tahu hidup ini memang berat dan sulit. Pasti Kamu ingin terlepas dari itu semua, tapi kayaknya jalan yang Kau ambil itu salah.”

Chanyeol pun ikut meletakkan lengannya disepanjang bahu Jongdae, “Kita ini memang bukan anak baik, hobi kita menghabiskan uang orang tua, pesta, minum, merokok, IPK pas-pasan, tapi itu bukan berarti Kita harus jadi kriminal kan?”

Jongdae bingung dengan racauan Baekhyun dan Chanyeol, “Kalian pada ngomong apa sih? Kalian sudah mabuk ya?”

Chanyeol menggeleng, “Aku enggak mabuk, si Bacon ini juga enggak mabuk. Kita sadar kok. kita ngomong kayak gini untuk kebaikanmu.”

Jongdae makin kebingungan. Ia sama sekali tak mengerti dan tak tahu kemana arah pembicaraan ini.

“Jongdae-ah, jawab jujur. Kamu lagi butuh uang?” Tanya Baekhyun serius.

“Enggak juga sih.” Jongdae berpikir sesaat, beberapa detik kemudian ia langsung meralat jawabannya. “Eh butuh juga sih. Kenapa? mau ngasih? Aku sih terima saja hehehe.”

“Kamu butuh uang buat apa sih? Sampai segitunya.” Sedih Chaneyol.

“Hah? Segitunya gimana maksudnya? Kalian ngomong apa sih? Malhaebwa , apa maksud kalian?” Jongdae masih kebingungan.

“Uang buat apa?”

“Aku butuh buat…” Jongdae belum selesai menjawab, tiba-tiba keadaan klub menjadi ricuh. DJ menghentikan permainannya. Orang-orang berlari kesana kemari seperti sedang mencoba kabur. Secara otomatis mereka menghentikan obrolan mereka dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Kenapa ramai gini? Ada apa?” Tanya Baekhyun pada seorang pria yang berlari di depannya.

“Ada polisi! Ada razia! Aku bawa barang nih, Aku harus kabur!” Jawab pria itu sambil lari terbirit-birit.

“Polisi?!” Chanyeol dan Baekhyun seketika panik. Mereka langsung teringat nasib Jongdae. Bagaimana jika Jongdae ketahuan membawa obat terlarang. Bisa-bisa Jongdae akan menetap di hotel prodeo. Tentu saja itu akan membahayakan masa depan Jongdae. Dengan sigap mereka membawa kabur Jongdae.

“Ayo kita harus pergi!” Seru Chanyeol.

“Kenapa kita harus pergi? Ini kan razia polisi seperti biasa. Kita enggak salah apa-apa, kita enggak akan apa-apa kok.” Tolak Jongdae dengan kebingungan yang makin bertumpuk.

“Enggak apa-apa gimana? Bisa-bisa kalau Kamu ketahuan dipenjara!” Gerutu Baeekhyun sambil menarik pergi Jongdae dengan berlari. Chanyeol pun berlari mengikuti Baekhyun dan Jongdae.

“Penjara? Kenapa bisa dipenjara? Memang kita melakukan tindak kriminal apa?”

“Kita tahu kok sebenarnya Kamu pengedar kan? Sejak kapan sih?” Tanya Chanyeol sambil terus berlari berusaha keluar dari klub itu.

“Pengedar? Pengedar apaan?” Tanya Jongdae terkejut.

“Sudah enggak usah pura-pura di depan kita. Tenang kita enggak akan menjauhimu kok. Kau tetap sahabat kita.” Ujar Baekhyun.

“Kalian berdua kayaknya memang mabuk deh! Daritadi ngomongnya ngaco melulu!” Kesal Jongdae karena daritadi Ia hanya mendengar racauan tak jelas dari Baekhyun dan Chanyeol.

“Kita harus menyembunyikan Dia dimana nih?” Tanya Baekhyun.

Mereka berlari menuju basement. Saat di basement Chanyeol melihat ke sekeliling. Di arah jam dua terlihat sebuah pintu ruangan. Ia langsung menarik Baekhyun dan Jongdae untuk bersembunyi disana.

“Jongdae, Kamu aman disini.” Chanyeol menghela nafas lega.

“Enggak ada polisi disini.” Ujar Baekhyun dengan nafas tersengal-sengal.

Tiba-tiba terdengar suara dehaman yang mengagetkan mereka bertiga, “Kata siapa?”

Mereka bertiga seketika langsung menegakkan tubuh, mereka pun langsung membalikkan tubuh mereka ke belakang. Ternyata dibelakang mereka sudah ada 2 orang pria memakai seragam polisi.

“Pasti kalian sedang mencoba kabur kan?” Tebak Polisi berbadan pendek kurus.

Chanyeol dan Baekhyun menelan ludah mereka sendiri. Mereka ketakutan.

“Ada apa sih kalian mencoba kabur. Pasti ada sesuatu. Boleh Kami lihat isi tas kalian?” Pinta Polisi berbadan tinggi berisi.

“Oh iya silahkan.” Jongdae langsung menyerahkan tasnya dengan sukarela. Melihat Jongdae menyerahkan tasnya dengan sukarela, Chanyeol langsung mencegahnya. Ia menyerahkan tas miliknya.

“Periksa isi tas Saya saja dulu,Pak.” Chanyeol menyerahkan tas dengan penuh senyuman. Melihat senyuman Chanyeol, kedua polisi itu sedikit keheranan, tapi tak mempermasalahkannya. Mereka pun langsung memeriksa isi tas Chanyeol. Setelah dikeluarkan semua isinya, tas Chanyeol dinyatakan aman dari barang terlarang.

“Selanjutnya!” Baekhyun tak membawa tas, sehingga polisi langsung mencoba untuk memeriksa tas Jongdae, namun lagi-lagi dicegah. Kini Baekhyun yang mencegahnya.

“Eh tunggu dulu pak. Bapak enggak mau meriksa saya?” Tanya Baekhyun sambil menghalangi Jongdae.

“Kamu kan enggak bawa tas.” Sahut polisi pendek.

“Ya tapi Bapak bisa cek badan saya. Siapa tahu saya menyembunyikan sesuatu dibadan.”

Kedua polisi itu keheranan melihat tingkah laku Baekhyun. “Anak aneh. Baiklah kalau itu maumu.”

Kedua polisi itu memeriksa badan Baekhyun, dan hasilnya nihil. Polisi itu pun bersiap memeriksa Jongdae, tapi dicegah kembali oleh Chanyeol. Kini Chanyeol minta untuk dperiksa badannya juga.

Kedua polisi itu pun curiga karena setiap akan memeriksa tas milik Jongdae, selalu dicegah oleh mereka berdua. Jongdae pun ikut kebingungan melihat pola tingkah kedua orang itu.

“Ada apa sih ini? kenapa kalian terlihat seperti sedang melindungi bocah itu?” Tanya polisi tinggi sambil menunjuk Jongdae.

“Enggak kok…” Jawab Baekhyun dengan gugup.

“Mencurigakan. Hei, Kamu! kemarikan tasmu!”

“Baik,pak.” Jongdae menyerahkan tasnya dengan sukarela dan wajah tanpa dosa. Chanyeol dan Baekhyun tak dapat mencegah hal itu. Wajah mereka kini tergurat rasa cemas. Kaki mereka bergerak tak jelas untuk menghilangkan rasa cemas.

Polisi berbadan pendek itu mengorek-ngorek isi tas jongdae. Dikeluarkan semua isi tas itu. dilihat satu persatu isi dari tas itu. Tak ditemukan barang mencurigakan. Dimasukkannya kembali barang-barang Jongdae kedalam tas, tetapi polisi tinggi itu mencegahnya. Ia menatap curiga kepada mereka bertiga dan tas Jongdae. Polisi tinggi itu pun kembali memeriksa tas Jongdae. Kini Ia membuka satu persatu kantong kecil dalam tasnya.

I got it!” Polisi tinggi itu menemukan dua bungkusan plasti berisi tablet yang Chanyeol lihat tadi. kedua polisi itu langsung menatap curiga kepada Jongdae. Baekhyun dan Chanyeol seketika panik.

“Ini obat apa? Kok banyak banget?” Tanya polisi tinggi dengan curiga.

Ditanya seperti itu, Jongdae terlihat tenang. Ia pun bersiap menjawab, namun tiba-tiba tanpa aba-aba dan musyawarah terlebih dahulu, Baekhyun dan Chanyeol serempak berlutut dihadapan polisi sambil memegangi kaki kedua polisi itu.

“Pak jangan tangkap Dia pak. Dia anak baik pak. Masa depannya lumayan cerah,pak. Bentar lagi mau lulus,pak.” Mohon Chanyeol sambil menggoyang-goyangkan kaki polisi tinggi.

“Dia jadi pengedarnya baru hari saja kok Pak. Dia terpaksa karena lagi butuh uang.” Baekhyun memeluk kaki polisi dengn wajah amat memohon.

“Jangan tangkap Dia pak. Kami mohon.” Ucap Chanyeol dan Baekhyun berbarengan.

Melihat tingkah kedua sahabatnya itu, Jongdae masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“Ho… jadi anak ini adalah pengedar narkoba.” Kedua polisi itu manggut-manggut. Setelah mendengar ucapan Polisi, barulah Jongdae mengerti mengapa Baekhyun dan Chanyeol bersikap aneh. Ia terperangah saat Dirinya dituduh pengedar narkoba.

“Pengedar narkoba? Hei! Apa-apaan ini? sejak kapan Aku jadi pengedar? Kenapa kalian menuduhku yang enggak-enggak!” Jongdae berteriak kesal karena tuduhan itu

“Itu narkoba kan?” Tanya Chanyeol sambil menunjukkan bungkusan plastik milik Jongdae yang sedang dipegang Polisi tinggi.

“Narkoba? Eomona!” Jongdae menepuk jidatnya. Dia menggeleng-geleng kepala dengan lemas. Wajahnya tampak memasang wajah kaget bercampur tak percaya, dan kesal. “Itu bukan narkoba! Itu…”

Polisi pendek memotong pembelaan diri Jongdae, “Jelaskan itu semua di kantor polisi.” Polisi pendek itu memborgol tangan Jongdae dan menyeretnya. Chanyeol dan Baekhyun pun ikut diborgol oleh polisi tinggi.

“Pak kenapa Saya ditangkap? Itu bukan narkoba pak!” Protes Jongdae, tapi kedua polisi itu mengabaikan protesan Jongdae.

“Kenapa Kami juga ikut ditangkap?” Tanya Chanyeol tak terima dirinya ikut diseret.

“Karena kalian berusaha melarikan diri pengedar.” Jawab Polisi tinggi singkat.

“Tapi Saya bukan pengedar pak!” Teriak Jongdae kesal.

“DIAM! Ikuti prosedur yang ada. Kita buktikan ini narkoba apa bukan!”

Dengan berat hati mereka bertiga terpaksa harus ikut digiring bersama berbelas orang lainnya yang terjaring razia. Mereka pun menjalani serangkaian pemeriksaan. Dimulai ditanya identitas diri, sampai menjalani tes urin untuk melihat apakah dalam tubuh mereka terkandung zat psikotropika apa tidak. Tak luput juga obat yang dibawa Jongdae diperiksa. Sambil menunggu hasil pemeriksaan, mereka ditahan di sel bersama belasan orang lainnya.

Jongdae manatap kesal kepada kedua orang yang telah menuduhnya sebagai pengedar narkoba. Baekhyun dan Chanyeol hanya bisa duduk sambil menundukkan kepala. Mereka merasa bersalah karena telah menuduh Jongdae macam-macam. Jongdae benar-benar kesal karena akibat prangsangka buruk mereka, kini mereka harus merasakan dinding prodeo.

“Narkoba? Narkoba dari hongkong!!!” Jongdae menjitak kepala mereka berdua, “Sok tahu banget sih kalian! Asal tuduh! Kalian itu harusnya nanya itu obat apa!”

“Tadi sebenarnya kita mau nanya, tapi keburu kondisi di klub kacau.” Jawab Baekhyun dengan telunjuknya menggaruk-garuk lantai.

“Kalau mau nanya itu to the point saja! Enggak usah berputar-putar!”

“Habisnya Kita curiga. obat apa itu? kok jumlahnya banyak banget? Kok bisa?” Sahut Chanyeol.

“Itu cuman Paracetamol!” Seru Jongdae dengan suara keras, sehingg orang-orang yang ada di sel itu meperhatikan mereka. Sadar jad pusat perhatian, Jongdae memelankan suaranya. “Ibuku mendapat sebotol paracetamol dari temannya yang kerja di Apotek. Ibuku menyuruhku untuk membagikannya ke yang butuh. Kan enggak mungkin 1000 tablet habis oleh keluargaku!”

“Terus transaksi yang Kamu lakukan dengan temanmu itu, tranksaksi apa? Kami melihat Kamu memberinya obat itu.” Tanya Baekhyun.

“Aku dapat kaos, tapi ukurannya kekecilan, nah Temanku yang tadi itu mau beli, sekalian Dia juga minta paracetamol. Aku kasih 30 tablet.” Jelas Jongdae.

“Tapi  Temanmu itu tampak seperti pemakai. Bada kurus, mata sayu, badan bergemetar.” Ujar Chanyeol sambil memperagakan.

“Dia bukan pemakai kok. Badannya memang kurus. Mata sayu dan badan gemetar karena Dia lagi enggak enak badan, makanya Dia meminta Paracetamol juga.”

“Lalu kenapa sampai ada tiga plastik?”

“Satu untuk Dia, terus satu lagi unuk temanku yang lain, Dia juga minta. Yang satu lagi punyaku karena Aku sedang sakit kepala. Lihatlah plastic yang punyaku jumlahnya hanya berjumlah 5 tablet. Jadi gimana bisa Aku dikatakan sebagai pengedar?!” Jongdae menjelaskan dengan berapi-api. Walaupun suaranya sudah cukup pelan, tapi karena Dia menjelaskan dengan emosi, tetap saja menjadi pusat perhatian orang-orang.

Mianhae.” Lirih Baekhyun dan Chanyeol bersamaan.

“Kita kenal sudah lama! Bisa-bisanya kalian bilang aku pengedar! unbelieveable

Mianhae.”

Jongdae diam bergeming menghadap permintaan maaf mereka berdua. Jongdae yang terus diam membuat mereka akhirnya berlutut dihadapan Jongdae. Mereka pun memohon, persis seperti saat mereka memohon pada polisi tadi.

“Maaf. Harusnya tadi kita langsung nanya saja. Maafkan Kami ya?” Pinta Chanyeol dengan puppy eyes.

“Maafkan Kami. Iya Kami memang jahat menuduhmu yang tidak-tidak, tapi kumohn maafkan kami.” Baekhyun memeluk kaki Jongdae.

Cara meminta maaf Baekhyun dan Chanyeol agak berlebihan. Mereka berlutut dihadapan Jongdae sambil memegangi kaki Jongdae. Mereka pun terus mengatakan maaf dengan anada seolah-olah menangis menyesal. Sesekali pun mereka meronta-ronta seperti anak kecil. Tingkah laku mereka tersebut lagi-lagi menjadikan mereka bertiga pusat perhatian. Mata semua orang tertuju pada mereka. Orang-orang saling berbisik membicarakan mereka bertiga. Jongdae pun jadi malu karena tingkah Baekhyun dan Chanyeol. Ia pun memaafkan mereka berdua.

“Iya-iya Aku maafkan. Berhentilah bersikap bodoh seperti anak kecil!” Seru Jongdae sambil melepaskan kakiknya dari Baekhyun dan Chanyeol.

“Ah Gomapta.” Senang karena telah dimaafkan, Baekhyun dan Chanyeol pun langsung memeluk Jongdae.

“Hei, lepaskan. Sudah jangan bikin malu dong ah. Sudah cukup karena kebodohan kalian, kita telah terseret ke kantor polisi!” Jongdae berusaha melepaskan pelukan Baekhyun dan Chanyeol, namun Baekhyun dan Chanyeol malah mempererat pelukannya.

Untungnya kejadian memalukan itu terhenti. Seorang polisi memanggil mereka berdua dan berbicara kepada mereka bertiga.

“Baiklah, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, dan Kim Jongdae kalian dinyatakan bersih, dan Kau Kim Jongdae, Kau terbukti bukan seorang pengedar narkoba. Benar itu hanya Paracetamol,” Jelas Polisi.

“Apa kubilang itu bukan narkoba. Itu hanya paracetamol!” Gerutu Jongdae.

“Ya oleh karena itu, kalian sekarang boleh pulang.” Polisi itu membuka kunci sel untuk mengeluarkan mereka bertiga. Begitu keluar mereka bertiga langsung bersorak kegirangan, kemudian memeluk polisi itu sambil mengucap terima kasih. Orang-orang yang tertahan di dalam sel, hanya bisa menatap sirik kepada mereka bertiga.

Segeralah mereka melangkah kaki mereka keluar dari gedung pembasmi kejahatan. Bebasnya mereka dari tuduhan membuat mereka lupa dengan pertengkaran kecil tadi. Mereka langsung mencari taksi untuk pulang. Mereka menunggu dipinggir jalan yang sudah sangat sepi. Kendaraan yang lewat bisa dihitung jari. Taksi tak kunjung lewat, padahal mereka sudah menunggu selama 15 menit. Angin berhembus cukup kencang sehingga membuat mereka cukup kedinginan.

“Aduh, ini taksi mana sih? Dingin nih!” Seru Jongdae sambil matanya melihat ke sekeliling mencari taksi.

“Iya nih, sepi banget ya? memang sekarang jam berapa?” Sahut Chanyeol.

Baekhyun melirik jam ditangannya, “Jam dua.” Mulanya Baekhyun biasa saja, namun sedetik kemudian Ia tersadar. Baekhyun terkejut karena sekarang sudah jam dua pagi. “Hah? Jam dua? Yah gagal dong ke Yura! Ah pasti Aku sudah ditinggal pergi mereka!” Baekhyun jadi kesal sendiri.

“Rasakan!” Ejek Jongdae.

“Ah gara-gara ditahan polisi nih, ah jadinya gagal kan.” Keluh Baekhyun.

“Siapa juga yang bawa kita ke kantor polisi?” Sindir Jongdae.

“Iya-iya. Maaf. Ini salahku.” Lirih Baekhyun.

“Lagian Kamu memberinya obat di klub. Kan mencurigakan. Mending kalau ada merknya, kan ini enggak.” Ujar Chanyeol.

“Ngajak ribut lagi Huh?” Salak Jongdae.

“Bukan gitu, tapi kenapa harus di klub sih? Kenapa enggak di tempat lain?”

“Ya suka-suka Aku dong, mau dimana aja!” Seru Jongdae dengan emosi.

“Santai, bro.” Baekhyun berusaha menenangkan Jongdae.

“Santai,santai!” Jongdae melempar tasnya kebawah. “Gara-gara kalian tiga jamku berlangsung sia-sia di kantor polisi! Sebenarnya Tadi Aku belum puas marah-mrah sama kalian, gara-gara malu jadi pusat perhatian!”

“Kita kan sudah minta maaf, jadi tenang ya,bro?” Chanyeol mencoba mencooling down kan Jongdae sambil menyerahkan Tas Jongdae yang tergeletak dibawah.

“Iya, Aku maafkan kalian, tapi Aku belum puas. Sini kalian berdua!” Baekhyun dan Chanyeol mulanya enggan mendekatkan diri mereka ke Jongdae, namun Jongdae sudah menatap mereka dengan tatapan garang. Akhirnya dengan takut-takut mereka mendekatkan diri mereka ke Jongdae.

Jongdae menatap mereka berdua secara bergantian. Baekhyun dan Chanyeol mempunya firasat tak enak langsung menundukkan kepala mereka. Benar saja, sedetik kemudian Jongdae langsung menendang kaki mereka berdua. Mereka berdua pun langsung meringis kesakitan.

“AW!!”

“Keras banget! Sakit tahu!” Protes Baekhyun sambil mengusap-usap betisnya.

“Kena tulang kering nih. Linu!” Ringis Chanyeol sambil terjatuh dilantai.

Lebay! Berdiri!” Jongdae pun berancang-ancang untuk melakukan siksaan keduanya. Ia mengepalkan tangan kanannya.

“Belum selesai?” Chanyeol terperanjat.

“Aku belum puas melampiaskan kekesalanku pada kalian.” Timpal Jongdae santai.

Chanyeol pun langsung bangkit dan sedetik kemudian Ia langsung berlari kabur dari hadapan Jongdae.

“Lah? Jangan tinggalkan Aku!” Seru Baekhyun menyusul Chanyeol.

“YA!! YA!! haish… payah kalian! Hei, Jangan kabur!” Jongdae berlari mengejar kedua sahabatnya itu.

Mereka berdua pun saling berkejaran ditengah dini harinya kota sambil ditemani hembusan angin yang bertiup pelan dan cahaya warna-warni lampu yang menyinari jalanan dan gedung sekitarnya.

—The End—

Sunday, March 02, 2014

09:42 AM

FF ini sempet terrtunda beberapa hari karena Aku harus mengerjakan tugas dulu. Aku bikin ff ini terinspirasi dari ratusan butir paracetamol di rumahku. Temanku meminta 20 paracetamol, aku simpen di plastic bening biasa. Melihat itu mamaku menyuruhku untuk menuliskan “PARACETAMOL 50 MG” di plastic itu, soalna bisi dipajarkeun narkoba. Alhasil terinsprasilah ff ini. MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s