[FF] It’s Over

Title               : IT’S OVER

Rate               : pg 13+

Genre             : ROMANE again, maapin. Abis genre yang paling sering terlintas ini *dasar anak muda ababil*

main Cast     : TIFANNY HWANG SNSD , NICHKHUN 2PM

OTHER CAST   : JESSICA JUNG SNSD, KIM TAEYEON SNSD

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH dongski

Disclaimer   : Niatnya mau ngerjain tugas statistic, tapi apa daya daku tak mengerti, jadi besok sajalah. Ayo KHUNFANNY shipper merapat eehehe.\

 SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

Tifanny menatap wajahnya di cermin dengan penuh senyuman. Ia baru saja selesai mandi. Tubuhnya yang masih mengenakan handuk berbentuk kimono, dan rambutnyapun masih terbalut oleh handuk kecil berputar-putar kecil dihadapan cermin. Bercermin sesaat membuatnya menghasilkan keputusan pakaian apa yang akan Ia kenakan malam ini. Tifanny membuka lemarinya dan mengambil mini dress dengan warna white broken.

Setelah selesai mengenakan dressnya, Tifanny duduk di meja riasnya. Ia mengeluarkan peralatan make upnya dari laci meja rias tersebut. Dengan terampil Ia memoleskan foundation sebagai dasar, yang kemudian disusul dengan bedak. Tak lupa juga Ia memulaskan shadow, blush on dengan warna soft. Digoreskannya pula eyeliner dikelopak matanya. Bulu matanya makin cantik dengan tambahan mascara.

“Tok-tok” Terdengar ketukan di pintu kamar Tifanny.

“Ya masuk.” Sahut Tifanny sambil mengoleskan lipstik berwarna soft pink dibibirnya.

Jessica pun masuk kedalam kamar Tifanny. Jessica pun duduk diatas kasur Tifanny. Jessica memperhatikan Tifanny yang sedang bersolek dengan wajah khawatir.

“Kamu yakin mau datang?” Tanya Jessica.

Tifanny mengangguk, “Memangnya kenapa?”

“Kalau Kamu enggak mau enggak usah maksain buat datang. Biar Aku saja sendiri.”

“Aku enggak enak sama Taeyeon kalau enggak datang.” Balas Tifanny sambil memblow rambutnya.

“Taeyeon sudah bilang kalau Dia enggak apa-apa kalau Kamu enggak datang. Aku dan Dia malah khawatir kalau Kamu ikut.” Raut cemas benar tergurat jelas dimuka Jessica.

“Kenapa juga Kamu harus khawatir?” Tifanny masih menanggapinya dengan santai.

“Fan, Kamu tahu kan kalau Dia datang?”

Mendengar kata Dia, Tifanny menghentikan sesaat kegiatan blow rambutnya. Matanya mendadak kosong seperti sedang menerawang. namun itu tak berlangsung lama. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya, matanya kembali fokus. Dengan santai Tifanny menjawab bahwa Ia tahu Dia yang dimaksud Jessica akan datang, dan Ia tak masalah akan hal itu.

“Serius enggak masalah?” Jessica kembali meyakinkan Tifanny.

Tifanny mengangguk dengan mantap, “Aku sudah biasa saja kok dengannya. Jantungku tak dag dig dug lagi jika melihatnya.

“Bohong!” Cibir Jessica, “Orang beberapa bulan yang kamu LINE sama Dia kamu senyam-senyum sendiri. Kayak orang kegirangan. Lagian kan kalian dulu putus dua tahun lalu masih menyisakan tanda tanya. Kamu masih enggak bisa melupakannya kan?”

Tifanny hanya bisa menelan ludah mendengar cibiran Jessica. Ia memang tak bisa menyangkal fakta kalau Dia memang senang saat itu dan memang benar jika Tifanny beleum sepenuhnya melupakan mantan kekasihnya itu.

“Kalau kamu ketemu Dia, terus dengar kabar buruk –versi kamu – gimana? Apakah kamu siap dengan fakta itu?”

“Itu kan baru spekulasi kamu. belum tentu kalau aku ketemu dia dengar kabar itu.” Sahut Tifanny sambil menyisir rambut hitamnya yang panjang bergelombang yang sudah selesai diblow.

“Tapi kamu yakin bisa bertemu dengannya? Kamu yakin hati kamu siap? Enggak akan ngerasa sesak?”

Tifanny terdiam sesaat terlihat dari matanya ada sorot keraguan dan ketakutan. Sebenarnya Tifanny takut kalau hatinya kembali meletup-letup saat bertemu Nichkhun, mantan pacarnya yang telah berpacaran dengannya selama tiga tahun namun Ia harus menghadapi itu semua. Ia tak bisa terus bersembunyi dibalik ketakutannya itu.

“Ya Aku yakin.” Jawab Tifanny sambil memasangkan jepit warna silver berukiran daun di sebelah atas kepalanya.

Tifanny melirik jam dinding dikamarnya. Jarum jam menunjukkan angka 7:13. “Ayo kita pergi, kita terlambat nih. Acara 17 menit lagi dimulai.” Ajak Tifanny sambil mengambil clutch bagnya.

Jessica menahan lengan Tifanny, “Are you sure to come to Taeyeon’s party?

Tifanny Diam tak menjawab. Jessica bisa melihat ada keraguan dalam diri Tifanny. Tapi Tifanny berusaha menyembunyikannya. Sebagai gantinya Ia menjawab pertanyaan Jessica dengan senyum yang lebar dan lembut.

“Apakah Kau cukup kuat untuk bertemu dengannya?”

Tifanny mengangguk, “Yeah I’m strong enough.

Dengan mobil Jessica, mereka berangkat menuju pesta pertunangan sahabat mereka, Taeyeon. Waktu yang mereka tempuh untuk mencapai tujuan mencapai satu jam. Mereka terlambat datang, acara pertunangan resminya sudah selesai. Saat mereka tiba acara sudah mencapai sesi makan dan bebas.

Tempat pesta sudah ramai. Ratusan manusia berbaur didalam gedung yang bernuansa klasik itu. Nada-nada romantis mengalun ditelinga para tamu undangan. Diantara pilar-pilar yang menjulang tinggi, Pelayan sibuk kesana kemari menyajikan makanan dan minuman. Beberapa tamu undangan tampak menikmati hidangan yang tersaji. Ada juga yang asyik mengobrol, adapula yang badannya mengikuti alunan music bersama pasangannya terjun ke lantai dansa.

Acara pertunangan seperti ini menjadi acara reuni kecil. Tak sedikit diantara para tamu saling menyapa, mengobrol sebentar untuk menanyakan kabar, kemudian berlalu lagi. Banyak juga teman lama yang bertemu saling bertukar gosip. Begitu juga dengan Tifanny dan Jessica, mereka sibuk menyapa teman-teman lama mereka. Sesekali mereka berhenti dikerumunan untuk sekedar bertukar gosip. Setelah itu mereka kembali memisahkan diri untuk makan.

Tifanny dan Jessica mengambil wine yang ditawarkan seorang pelayan wanita. Tiba-tiba Taeyeon datang menyapa mereka.

“AAAH~” Mereka bertiga bersorak senang karena akhirnya mereka bertemu.

“Selamat ya!” Tifanny dan Taeyeon saling mencium pipi kiri dan pipi kanan mereka.

“Mana calonmu?” Tanya Jessica.

“Dia sedang menemui teman-temannya.” Jawab Taeyeon, “aku kira kamu enggak akan datang loh,fan.”

Tifanny tersenyum,”ya masa sahabatku tunangan Aku tak datang.”

“Padahal kalau kamu enggak mau, enggak apa-apa kok. Aku mengerti.” Simpati Taeyeon.

“Aku sudah bilang enggak usah, tapi Dia tetap maksa pengen ikut.” Sahut Jessica.

“Enggak apa-apa kok. Tenang saja, aku baik-baik saja. Aku cukup kuat kok untuk bertemu dengannya.” Jawab Tifanny dengan senyum yang terlihat agak getir.

Jessica mengarahkan matanya ke seluruh penjuru gedung. “Tapi Aku enggak lihat Nichkhun kok. Mungkin Dia enggak jadi Datang.”

“Ada kok.” Timpal Taeyeon.

“Mana?” Tanya Tifanny dan Jessica berbarengan.

“Tuh dibelakangmu. Kelihatannya Dia sedang berjalan menuju kemari.

Secara otomatis, Tifanny langsung memutarkan kepalanya ke belakang. Benar yang dikatakan Taeyeon, Nichkhun sedang berjalan ke arah mereka. Mendadak jantung Tifanny berdegup dengan kencang, namun disaat yang bersamaan hatinya kembali menjadi sesak. Ternyata Tifanny masih belum biasa saja saat bertemu dengan Nichkhun. Ya masih ada rasa yang tak biasa, padahal mereka sudh [utus dari dua tahun yang lalu.

Nichkhun sadar jika mereka bertiga melihatnya. Nichkhun pun melambaikan tangan mereka dengan senyuman. Melihat Nichkhun tersenyum, Tifanny merasa seperti tersengat listrik kecil. menggelitik mengejutkan jantung. Aliran darahnya terasa begitu deras. Mendadak hatinya terasa merindu melihat senyuman itu. kerinduan yang begitu menyesakkan dadanya. Tifanny berusaha menyembunyikan semua itu, tapi sialnya tubuhnya tak mau diajak berkompromi. Terukir senyuman kecil dibibirnya.

“Hai, kalian lama tak jumpa ya?” Sapa Nichkhun. “Taeyeon selamat ya.”

“Iya terima kasih juga sudah mau datang.” Balas Taeyeon.

How are you Jessie?”

Fine.” Jawab Jessica singkat.

Nichkhun kemudian beralih pada Tifanny. Ia melemparkan senyuman yang begitu lebar. Sorot matanya penuh kehangatan. Cara menatapnya masih sama seperti dulu. hal itu membuat Tifanny semakin gugup.

Long time no see.”

“Sudah hampir setahun kita tak bertemu.” Sahut Tifanny dingin untuk menutupi rasa gugupnya.

“Terakhir kita bertemu, enggak terduga ya?”

“Iya, Di tempat tak terduga, dan situasi yang tak terduga. Segalanya terasa tak terduga.” Ujar Tifanny dengan nada kesal saat mengatakan itu. Ia menjadi teringat saat terakhir bertemu dengan Nichkhun. Saat itu Ia sedang membeli sebuah tas melalui online. Ia berjanji bertatap muka dengan penjualnya untuk melakukan transaksi . Ternyata penjualnya itu adalah pacar Nichkhun. Akhirnya mereka bertiga terjebak dalam situasi canggung.

“Aku kesana dulu ya, mau menyapa yang lain.” Pamit Taeyeon pergi. Disaat yang bersamaan, ada seseorang yang memanggil Jessica dan mengajak Jessica mengobrol. Alhasil kini tinggalah mereka berdua.

Ditinggal berdua membuat suasana diantara mereka berdua menjadi canggung. Mereka sama-sama dam dan tak tahu harus melakukan apa, terutama Tifanny. Jantung Tifanny detaknya makin tak karuan. Ia berusaha mengontrol hatinya tapi selalu gagal, terutama setelah melihat wajah Nichkhun.

Ditelusurinya setiap inchi tubuh pria itu. kemanapun matanya melihat bagian tubuh Nichkhun, masih sama seperti dulu, dimata Tifanny Nichkhun tetaplah sempurna, tak ada cacat sedikit pun. Wajah pria itu tetap tampan, sorot matanya tetap hangat, dan senyumannya tetap lembut. Tifanny pun pada akhirnya menyerah. Ya Ia tak bisa bersikap biasa, dan Ya Ia masih berharap pada pria satu ini.

“Apa kabarmu?” Nichkhun memulai pembicaraan.

So far so good. How about you?”

“Aku baik-baik saja. Selam kita tak bertemu, apa saja yang sudah kau lakukan?”

Tifanny mengernyitkan dahinya. “Pertanyaan macam apa itu? kita sedang mengobrol apa wawancara kerja? Hahaha.”

Nichkhun pun ikut tertawa. “Hahaha, bukan begitu. Aku hanya ingin tahu, perkembanganmu saja.”

“Hm… Ya seperti yang kamu lihat di LINE dan di twitter, Aku sibuk dengan bisnis sepatuku.”

“Itu sih Aku tahu. Setiap hari pasti kau promosi bisnismu itu.”

“Kalau sudah tahu, mengapa juga kau bertanya?” Sinis Tifanny, walau menyerah, tapi Tifanny tak ingin Nichkhun tahu.

“Ya kan Aku ingin tahu perkembanganmu.”Balas Nichkhun masih dengan penuh senyumannya itu. “Aku sendiri saat in sedang sibuk menjalani pekerjaanku sebagai manajer di perusahaan multinasional. Ya you know lah…”

I know.” Tifanny mengangguk-angguk kecil sambil meminum wine yang daritadi belum Ia minum.

Tak ada bahan obrolan membuat mereka kembali sama-sama terdiam. Kecanggungan kembali terjadi. kecanggungan tersebut membuat Tifanny merasa sepi diantara hirup pikuk pesta. Tifanny benci akan situasi itu. Ia pun menelan rasa gengsinya. Ia resmi benar benarkalah melawan dirinya sendiri. Ia pun memulai kembali perbincangan.

“Enggak bawa pendamping nih?” Canda Tifanny yang sebenarnya merupakan pertanyaan serius. Tifanny penasaran, apakah Nichkhun masih menjalin hubungan dengan si penjual tas, karena selama ini Nichkhun tak pernah menunjukkan dirinya berpacaran atau tidak di social medianya.

“Pendamping apa? Hahaha” Tawa Nichkhun, “kamu sendiri?”

Tifanny menjadi kesal sendiri sekaligus penasaran. Kenapa Nichkhun tak langsung menjawab pertanyaannya? Sebenarnya Nichkhun sudah putus belum dengan pacarnya yang dulu? jika sudah apakah mungkin mereka bisa menjalin kembali hubungan bersama.

“Hah? Aku? Aku kesini sama pendamping kok.” Tifanny tersenyum licik. Ia berusaha memancing reaksi Nichkhun.

Mata Nichkhun membesar seketika. Ia begitu terkejut mendengar Tifanny ke pesta pertunangan Taeyeon bersama seorang pendamping. Nichkhun yang sedang minum tiba-tiba terbatuk-batuk. “Oh iya? Siapa? Kok enggak dikenalin?”.

“Kamu tadi sudah ketemu kok.” Tifanny masih mempermainkan reaksi Nichkhun. Ada segaris tipis terlengkung di bibirnya melihat keterkejutan Nichkhun.

Nichkhun mengernyitkan dahi, “Hah? siapa?”

“Jessica kan pendampingku, begitu juga sebaliknya. Aku pendampingnya Jessica hehehe.” Canda Tifanny. Mendengar itu tersirat kelegaan dari wajah Nichkhun.

“Hoo dikira… hahaha.” Nichkhun pun ikut tertawa walau tawanya itu tak benar-benar tulus karena Ia masih terkejut. “Masih betah saja sendiri nih?”

Tifanny menanggapinya dengan tertawa renyah.

“Setelah kita putus kamu belum punya pacar lagi?” Nichkhun merasa penasaran.

Tifanny sambil minum menjawab dengan gelengan.

“Kenapa juga masih betah sendiri?”

Menurutmu? Tentu saja itu karena mu! Batin Tifanny. “Hahaha belum waktunya saja Aku punya pacar.”

“Kenapa juga belum waktunya? Kita kan sudah dewasa. Sudah waktunya memikirkan hal itu? atau jangan-jangan kau belum punya pacar karena Aku? Hahaha”

Tifanny menelan ludahnya. Ia benar-benar kaget dengan tebakan Nichkhun yang benar. Ia tak menyangka Nichkhun punya pemikiran seperti itu. apakah itu berarti Nichkhun juga sama dengannya, bahwa selama ini mereka tak bisa saling melupakan?

Tifanny ingin mengingkari hal itu, tapi bibirnya berkata lain. Bibirnya lebih jujur dibanding hatinya sendiri. “Iya itu karenamu. Aku belum bisa melupakanmu.”

Mendengar jawaban Tifanny membuat seketika memalingkan mukanya menghadap Tifanny. Matanya kini benar-benar membesar. Otot-otot mukanya mengeras. Jawaban Tifanny tadi bagai gempa bumi yang datang tiba-tiba. Begitu mengejutkan.

“Hah? serius? Padahal tadi Aku cuman bercanda.” Nichkhun memastikan dengan selingan tawa kecil untuk menutupi rasa keterkejutannya.

Sadar akan bibirnya yang terlalu jujur, Tifanny langsung meralat jawabannya yang tadi, “Ya enggaklah. Tentu saja Aku tadi bercanda, hahaha.”

Nichkhun tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya saat tahu kalau itu semua hanya candaan.

Tifanny menghela nafas. Ia merasa diantara menyesal dan tidak atas perkataannya tadi. Ia menyesal karena Ia tadi telah jujur, tapi Ia juga menyesal karena Ia telah berbohong atas kejujurannya tadi. Kini Ia bingung, haruskah Ia mengatakan yang sejujurnya

Kini Raut muka Tifanny menjadi serius.  Tifanny menerawang ke atas.  Ia sedang berpikir. Tifanny pun mengatur nafasnya. Ia mencoba menguatkan dan memantapkan hatinya. Sambil menatap wine ditangan kanannya, Ia berkata, “Kalau Aku tadi jawab serius gimana?”

Bola mata Nichkhun melirik ke atas, “Hm… Enggak gimana-gimana sih, tapi mungkin Aku akan memintamu untuk melupakanku.”

“Loh kenapa?” Tifanny tak menyangka akan jawaban yang diberikan Nichkhun.

“Untuk apa mengingat orang yang takkan kembali pada kita?”

Tifanny merasa hatinya remuk mendengar jawaban dari Nichkhun. Ya Ia tahu sekarang jika Nichkhun tak mengharapkan dirinya lagi. Tifanny menggigit bibirnya untuk menghilangkan kegelisahannya. Ia berusaha untuk tetap tenang. Ia kembali meneguk winenya

“Lagian…” Nichkhun mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Ia memberikan sebuah kartu kepada Tifanny. Tifanny menerima kartu itu. ia membaca tulisan di kartu itu. saat membaca kartu itu, Tifanny langsung menjatuhkan gelas winenya kebawah. Tangan kanannya yang kini sudah bebas digunakannya untuk menutup mulutnya yang menganga tak percaya.

Di kartu itu tertulis jika itu adalah sebuah kartu undangan pertunangan. Disitu tertera nama Nichkhun bersama seorang wanita yang namanya tak asing baginya. Ya Victoria si penjual tas itu. saat mengetahui kabar itu, Tifanny merasa semuanya hilang. tak terdengar suara riuhan orang berbicara maupun alunan musik. Dimatanya terasa semuanya menjadi gelap. Ia merasa seperti tertelan bumi.

Tifanny merasa hatinya kini yang sudah remuk menjadi hancur berantakan. Hatinya kini terasa menjadi serpihan yang tersapu angin badai. Hatinya benar-benar sakit akan kenyataan tersebut. Dadanya begitu sesak sehingga ia seolah-olah sulit mengambil oksigen di udara. Air matanya sudah berkumpul dipelupuk matanya. Jika tersentuh sedikit saja, air mata itu sudah siap meluncur diatas pipi putihnya.

“Kau tak apa-apa?” Tanya Nichkhun khawatir melihat reaksi Tifanny saat menerima kartu undangan itu sampai menjatuhkan gelas wine.

Tifanny tersadar dari lamunannya, “Ah Iya aku enggak apa-apa. Aku hanya terkejut saja, ternyata aku sudah tertinggal jauh dari langkahmu.”

Sangat jauh. Kau sudah melangkah maju di depan, melupakan hubungan masa lalu, sedangkan aku masih berjalan ditempat. Batin Tifanny dengan sedih.

“Serius?”

“Ya aku baik-baik saja kok.” ucapan Tifanny itu sangat kontras dengan hatinya. Hatinya sangat merasa tidak baik-baik saja. Hatinya benar-benar terluka. Perih rasanya.

“Selamat ya.” Tifanny mengulurkan tangannya. Ia berusaha sangat keras untuk tersenyum. Walau bibirnya melengkungkan senyuman, namun matanya sama sekali tak tersenyum.

“Iya, makasih.” Nichkhun membalas uluran tangan Tifanny.

“Kapan dilaksanakannya? Memang kapan kalian merencanakan pernikahan ini?”

“Kami berencana menikah sekitar tiga bulan lagi, makanya kita mengadakan tunangan dua minggu lagi.”

“Hoo begitu…” Tifanny menundukkan kepalanya. Air matanya kini tak terbendung, tapi ia masih berusaha menahannya. Ia menghapus jejak air yang sempat meluncur dipipinya.

“Nichkhun, boleh aku bertanya sesuatu?” Mohon Tifanny.

“Ya?”

“Saat dulu Aku memutuskanmu, apakah Kamu percaya alasanku memutuskanmu adalah karena Aku tak lagi merasakan debaran saat bersamamu?”

Nichkhun menatap Tifanny dengan lekat. Dengan mantap Ia menggeleng, “Tidak. Aku tahu saat itu Kamu sedang bosan.”

“Kalau begitu, kenapa Kau tak menahanku?”

“Karena Aku ingin memberimu waktu. Aku tahu kau butuh waktu agar tak bosan. Sebenarnya Aku tak pernah melepasmu sepenuhny, oleh karena itu setelah putus, aku sesekali menghubungimu, bahkan hingga kini Aku masih suka mengomentari statusmu.”

“Lalu setelah memberiku waktu, kenapa Kau tak berusaha kembali lagi padaku?”

The past is just past. I learned it from her. Tak seharusnya aku menatap masa lalu. Lagipula saat Aku berusaha kembali, Kau seperti menahan dirimu. Kau menahan perasaanmu. Karena itu aku menyerah. Victoria mengajarkanku untuk melihat ke depan.”

Ya Nichkhun memang benar. Selama ini Tifanny memang menahan dirinya agar tak jatuh kembali pada Nichkhun, tapi Ia sendiri tak ma bergerak maju. Ya Tifanny sadar semua ini bisa erjad karena dirinya.

Tifanny mengatur nafasnya. Ia berusaha tenang dan menahan tangisnya. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Nichkhun, namun karena Ia buru-buru membalikkan badannya, Ia tak melihat ada pelayan yang sedang membawa beberapa gelas wine. Tifanny menabrak pelayan itu. segelas wine tumpah mengenai dress Tifanny, sedangkan beberapa gelas lainnya jatuh ke lantai dan ada juga yang mengenai pakaian pelayan tersebut.

Oh my god! My dress!” seru Tifanny sambil meratapi dress white brokennya.

Pelayan itu merasa bersalah, Ia langsung meminta maaf, “Jwesong hamnida. Jwesong hamnida” Pelayan itu beberapa kali membungkukkan badannya kepada Tifanny.

That’s ok!” Dress yang terkena noda wine merah ini tak ada apa-apanya dibanding rasa pedihnya hati Tifanny saat ini. Justru Tifanny emrasa berterima kasih kepada pelayan itu karena sekarang Ia memiliki alasan untuk pergi dari hadapan Nichkhun. Ia bisa menyembunyikan kesedihannya itu.

are you ok?” Tanya Nichkhun khawatir.

I’m ok.” Angguk Tifanny. “Aku ke toilet dulu ya untuk membersihkan ini.”

“Ya. Aku juga akan keliling menjumpai kawan lainnya.”

Tifanny langsung bergegas menuju toilet. Sesampainya di toilet Ia tak membersihkan noda tumpahan wine. Ia malah membiarkan air matanya jatuh begitu saja dengan derasnya.

Matanya sudah tak tahan untuk menahan aliran air mata yang sudah terbendung dipelupuk matanya. Ia pun langsung menangis, menumpahkan rasa sedih dan pedih hatinya. Ia menangis dengan sesegukan sangking pilu hatinya. Hatinya yang telah menjadi serpihan terasa nestapa dan amat menderita.

Tifanny sadar bahwa Ia ternyata tak cukup kuat. Jangankan untuk menerima kemungkinan terburuk, untuk bertemu saja tadi Tifannya merasa tak kuat menahan letupan dalam hatinya, apalagi menghadapi kenyataan yang buruk menurut versinya. Ia tak mempersiapkan ini semua sehingga rasanya benar-benar sakit dan hancur.

Untung toilet dalam keadaan sepi, sehingga Ia bisa menangis semaunya. Ia sengaja menyalakan keran air, agar tak ada orang luar yang curiga. Ia pun mengunci pintu toilet agar tak ada yang menganggunya. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.

“Fan, buka pintunya.” Terdengar suara Taeyeon.

“Tenang saja Ini Aku, Jessica dan Taeyeon. Kita tahu kamu didalam. Buka dong.” Jessica mengetuk pintu dengan tak sabaran karena khawatir.

Tifanny pun membukakan pintu untuk mereka. Setelah membiarkan mereka masuk, Tifanny kembali mengunci pintu toilet tersebut.

“Kenapa kalian tahu aku disini?” Heran Tifanny dengan air mata yang masih mengalir.

“Tadi Aku merhatiin kamu saa Nichkhun ngobrol. Pas lihat kamu tabrakan saa pelayan, Aku merasa ada yang enggak beres. Jadi Aku ngikutin kamu ke toilet.” Ujar Jessica sambil mengelus rambut Tifanny dengan khawatir.

Taeyeon ikut menjawab, “Aku tadi melihatmu saat akan ke toilet. Wajahmu begitu kacau. Ada yang sebenarnya terjadi?”

Tifanny tak sanggup bercerita. Ia pun hanya memperlihatkan kartu undangan pertunangan Nichkhun. Melihat itu Jessica dan Taeyeon tak kalah terkejut. Mereka pun langsung merangkul Tifanny. Dalam rangkulan mereka, tangis Tifanny makin pecah.

“Sekarang semuanya benar-benar sudah berakhir. It’s really really over.” Ujar Tifanny sambil sesegukan. “Tak ada lagi rasa penasaran, rasa gantung. Semua perasaan ini sudah berakhir. Kisah ini sudah menemukan ujungnya. It’s over.”

Jessica dan Taeyeon menatap Tifanny dengan rasa sedih. sebagai shabat yang bis mereka lakukan hanyalah menyediakan telinga mereka untuk mendengar, pundak mereka untuk bersandar, dan pelukan untuk membuatnya merasa tak sendirian.

“Aku tahu ini pasti berat, maka dari itulah menangis semaumu.” Ucap Taeyeon sambil menepuk-nepuk punggun Tifanny.

“Maafkan Aku menganggu hari bahagiamu.” Sesal Tifanny.

“Enggak apa-apa. Tenang saja. Aku memang bahagia, tapi Aku ennggak bisa membiarkan sahabtku bersedih.”

“Tak seharusnya kamu datang.” Kata Jessica.

Tifanny menggelengkan kepalanya, “Tidak memang harusnya Aku datang. Jika aku tak datang, Aku takkan menyadari jika ini semua sebenarnya sudah berakhir lama.”

Ya walaupun sakit akan kenyataan ini, tapi Tifanny tak menyesal telah datang kemari. Ia kini sdar jika semua ini sudah berakhir. Benar-benar berakhir. Bukan baru berakhir, tapi ini smeua sudah berakhir lama semenjak Tifanny memutuskan Nichkhun. Benar, masa lalu hanyalah masa lalu, biarkan lah berlalu. Yang harus dilakukan adalah berjalan kedepan, mulai menata kehidupan kedepan. Bukannya berjalan ditempat sambil berharap pada masa lalu.

Sunday, March 23, 2014

09:17 PM

Kalau enggak kerasa sedih maaf *bow*. Kalau ngerasa aneh dan drama maaf *bow*, daku juga masih belajar muehehehe. MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

 

Iklan

2 thoughts on “[FF] It’s Over

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s