Come and Go (This Memories Will Always be There)

 

Pelayan meletakkan buku menu dihadapan Seruni. Seruni membuka lembaran daftar menu itu satu per satu, hingga lembar terakhir. Setelah mencapa lembar terakhir, Ia membuka beberapa lembaran sebelumnya. Di halaman itu lah Seruni memutuskan pesanannya.

“Mojito yang non alkoholnya satu.” Pesan Seruni.

“Makanannya?” Tanya sang Pelayan.

Seruni menggeleng pelan, “Nanti saja. Sekarang Saya pesan minum saja dahulu.”

“Baik.” Angguk Pelayan itu seraya pergi.

Sembari menunggu pesanannya datang, Seruni memperhatikan isi resto tersebut. Resto yang dikunjunginya kali ini bernuansa modern. Banyak furnitur dan ornamen-ornamen khas lifestyle masa kini. Musik yang mengalun menemani pengunjung makan merupakan musik yang sanggup menghentakkan tubuh dan kaki. Suasananya tak begitu ramai. Hanya ada segelintir orang saja di resto itu. Sekumpulan orang kantoran yang walau sedang hari libur tetap terpaksa bekerja berada di depannya. Disudut lain ada sepasang muda-mudi yang asyik bercengkrama. Sementara dibelakangnya ada beberapa wanita yang asyik bergosip, dan di arah jam dua ada seorang pria yang sedang sendiri sama seperti dirinya. Entah lah Dia sedang menunggu seseorang atau berniat datang sendirian.

Orang-orang berseliweran di Resto itu. Ada yang datang dan ada juga yang pergi. Seruni merasa keadaan resto tersebut layaknya hidup. Ada yang datang dan adapula yang pergi. Tak mungkin kita berada pada keadaan dan situasi yang sama untuk selamanya. Pasti aka nada yang berubah. Ada yang datang pada kehidupan kita, adapula yang pergi dari kehidupan kita.

Setiap kita pindah pada suatu fase kehidupan yang baru akan muncul orang-orang baru dan orang-orang lama perlahan-lahan akan pergi. Tentu saja hal itu sebenarnya tak ingin terjadi, tapi karena kita adalah manusia yang hidup pasti akan mengalami terus roda perputaran. Tak mungkin kita akan terus bersama orang tersebut untuk selamanya. Bersama keluarga pun takkan kekal. Ada yang dipisah karena perceraian, berpindah alam atau ketika beranjak dewasa perlahan-lahan anak-anak akan meninggalkan rang tua karena ikatan janji suci berupa pernikahan. Kelurga pun seperti apalagi teman yang pastinya akan mencapai masa dimana tidak bisa bertemu setiap hari, setiap bulan, bahkan mungkin setiap tahun.

Seruni sangat merasakan hal itu. Ia menyadari itu semua. Hal tersebut mengingatkannya pada sahabat-sahabat masa SMAnya. Kenangan tentang mereka kembali terputar di otaknya. Seruni membuka galeri foto di tabletnya. Ia membuka folder-folder lamanya. Ia melihat lagi satu per satu foto-fotonya bersama sahabat-sahabatnya itu. Ah sungguh hatinya kembali merindu. Rasanya Ia sangat ingin kembali ke masa-masa itu, dimana tiada hari tanpa bersama mereka.

Delapan tahun sudah Ia melepas seragam putih abunya. Sudah selama itu pula Seruni dan kawan-kawannya tak bertemu untuk setiap hari. Mulanya mereka masih bisa saling bertemu setiap minggu, lama kelamaan karena ada yang datang pada kehidupan masing-masing sehingga intensitasnya makin berkurang. Sampai akhirnya mereka hanya bisa saling bertemu minimal setahun sekali. Terkadang lebih dari sekali, tapi itu pun harus curi-curi waktu di sela kesibukan. Sekalinya pun kumpul belum tentu lengkap. Seringkali kekurangan personil karena Dia sangat sibuk dengan kehidupan yang tak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Seiring keidupan yang terus bergulir pun, komunikasi pun bisa terbilang jarang. Hanya sesekali saling mengomentari, atau sekedar chatting. Itu pun jika ada topik. Tak seperti dulu yang chatting untuk membicarakan hal-hal yang sangat tak penting tapi sangat menyenangkan untuk diobrolkan.

Lamunan Seruni terbuyar dengan kehadiran pelayan yang memberikan pesanannya. Seruni langsung menyambut mojitonya itu. Rasa segar mint bercampur sedikit asam dan sedikit sengatan kecil dari soda membuat pikiran dan hatinya tenang. Setidaknya Ia tak begitu tenggelam dengan rasa rindunya.

Hanya saja itu tak berlangsung lama. Seruni kembali menatapi foto-foto itu. Seolah seperti rol film, otaknya kini memutar setiap momen yang pernah terjadi diantara mereka semua. Momen saat mereka SMA dimana mereka saling menjahili satu sama lain, belajar bersama, mengacak-acak rumah salah satu dari mereka, makan bersama. Beranjak lulus mulai sering keluar bermain mengunjungi satu tempat, berwisata kuliner, bertukar cerita mengenai kampus masing-masing. Beranjak dewasa mulai saling bertukar pikiran mengenai kehidupan nyata macam masalah politik, sosial. Mengunjungi pernikahan teman bersama-sama. Sudah bertahun-tahun Seruni mengenal dan bersama mereka. Ada satu yang tak pernah hilang walau mereka beranjak dewasa, yaitu canda dan humor mereka tak pernah berubah. Rasa canda dan humor itu malah semakin berkembang sesuai usia mereka.

Mengingat itu semua benar-benar membuat Seruni ingin mengulang masa-masa itu. bisa bersama mereka setiap harinya. Hanya sekedar bertemu mengobrol dan bercanda itu merupakan suatu keindahan dan kenikmatan bagi dirinya. Namun inilah kehidupan, ada yang datang dan ada yang pergi. Saat ada yang datang pasti aka nada yang pergi. Begitupula dengan Seruni dan kawan-kawannya. Perlahan-lahan orang datang dan mereka dengan sendirinya harus meninggalkan kehidupan lama.

Kini yang bisa Ia lakukan adalah biarkan itu semua menjadi kenangan. Dengan kenanganlah persahabatan mereka tetap  hidup dalam sanubari mereka masing-masing. Dengan kenanganlah mereka dapat ingat bahwa mereka pernah ada pada masa yang sama. Melalui kenangan tersebut akan tetap hadir rasa rindu dan rasa saling memiliki. Akibat kenangan itulah Seruni berada disini.

Lamunan Seruni kembali terbuyarkan oleh suara yang sangat Ia kenal.

“Seruni!!!!”

“Talisha! Hanum!” Seru Seruni girang menyambut kedua sahabatnya tersebut. mereka pun saling berpelukan melepas rasa kangen.

“Daritadi?” Tanya Talisha.

“Mayanlah udah setengah jam.” Jawab Seruni penuh senyuman.

“Tumben banget Kamu datang duluan?” Celetuk Hanum.

“Aku habis dari rapat tahunan sama yayasan di Dago atas. Jadi Aku langsung kesini.”

Tak lama kemudian personil lain menyusul satu persatu. Melihat mereka berdatang senyum Seruni makin mengembang Ia senang akhirnya setelah tujuh bulan yang lalu tak berkumpul. Akhirnya mereka dapat berkumpul kembali walau tanpa personil yang lengkap.

Mereka pun mulai memesan makan dan mulai mengobrol-obrol heboh. Saling bertukar cerita dan bercanda. Rasanya begitu membahagiakan dapat berkumpul seperti ini. ditengah kehebohan obrolan mereka tiba-tiba hadir sebuah kejutan.

“Lihat!” Theo menunjuk arah jam 12. Mata mereka semua mengikuti telunjuk Theo. Melihat sosok yang ditunjuk Theo mata mereka semua langsung berbinar. Terpancar sorot kebahagian.

“Satria!!!!”

Seruni, Hanum, Talisha, dan Alea langsung berdiri dan menghampir Satria. Mereka langsung memeluk Satria dengan senangnya. Sementara kedua pria hanya duduk sambil tersenyum melihat itu semua.

Satria membalas pelukan keempat sahabat wanitanya dengan raut muka cengengesan khas Satria. Setelah berpelukan, Satria menyapa kedua teman lelakinya dengan berhigh five.

“Bro, Lu di Bandung?” Sapa Lendra.

“Iya ih. Katanya kamu lagi tugas di Jogja.” Rajuk Alea.

“Iya Aku lagi tugas di Jogja. Perkiraan Aku baru beres Jumat Malam, dan Aku baru bisa pulang sabtu pagi, sedangkan kita janjian sabtu sore, pasti enggak akan keburu. Eh ternyata beres jumat sore, jadi aku pulang jumat malam biar ketemu kalian hehehe. Mumpung bisa aku sempatkan untuk ketemu kalian” Jawab Satria tetap sambil cengengesan.

“Bener! Setuju! Mumpung bisa,sempatkan! Belum tentu ke depan-depannya bisa. Kan jarang-jarang bisa lengkap kayak gini!” Seru Theo.

“Kenapa enggak bilang sih kalau kamu jadi?” Protes Seruni pura-pura kesel.

“Kan ceritanya mau surprise.” Sahut Satria.

Geuleuhlah sok-sok mau kasih kejutan.” Ejek Hanum sambil mendorong bahu Satria.

“Ih justru so sweet tahu.” Alea membela Satria.

“Ya sudah ya sudah, yang penting Satria datang, dan kita akhirnya bisa komplit juga.” Lendra melerai mereka semua.

Mereka kembali duduk dan kembali mengobrol. Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Mereka dengan semangat langsung menyerbu makanan pesanan mereka.

Seruni menatap sahabat-sahabatnya satu per satu. Hanum, Theo, Lendra, Talisha, Alea, Satria. Lengkap. Sebuah momen yang sangat jarang setelah delapan tahun berlalu mereka dapat berkumpul secara lengkap. Melihat mereka semua saling tersenyum, penuh canda hingga membuat tawa yang memegalkan rahang dan otot perut. Berbincang penuh kehebohan sehingga menimbulkan keberisikan bagi pengunjung yang lain. Sungguh momen yang sangat indah dan begitu Ia rindukan.

Seruni sadar ini semua bisa terjadi karena komunikasi. Mereka bisa berkumpul kembali karena obrolan di grup LINE sehingga terjadilah pertemuan hari ini. obrolan yang awalnya hanya menggosipkan teman yang akan menikah, dan mengobrol hal yang tak penting, berujung pada ajakan Theo untuk berkumpul. Dengan komunikasi yang terjaga walau waktu dan jarak memisahkan, hubungan mereka dapat terjaga.

Benar kata Satria dan Theo. Mumpung bisa ,sempatkanlah, karena ke depannya belum tentu bisa. Tak ada yang abadi. Ada yang datang dan pergi. Sampai masa itu hilang, dan sebelum semuanya benar-benar pergi, nikmatilah setiap kesempatan yang ada. Sempatkanlah untuk membuat momen-mone baru yang dapat dikenang. Dengan kenangan itulah persahabatan itu dapat selalu terjaga dan tak pernah mati. Walau ada yang datang, dengan kenangan itu, hal tersebut takkan benar-benar pergi jika ada kenangan yang selalu tersimpan. Karena kenangan takkan lekang oleh waktu, dan takkan ada matinya.

Friday, 18 April 2014

11:15 AM

 

This story is inspired fron @yeahmahasiswa tweets and my longing to anatomi which never ending. I miss you so my brothers my sisters. SORRY for typo, and bad story, both in characterization, or grammar, and etc. THANK YOU SO MUCH for reading. PLEASE DON’T DO PLAGIARISM THIS STORY. See you at next story and FF. annyeong~ ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s