[FF] Ikhlas

Title                      : IKHLAS

Rate                      : PG 13+

Genre : ROMANCE, ANGST tapi gagal, FRIENDSHIP

main Cast         : LEE JINKI SHINEE (ONEW)

OTHER CAST       : SHINEE’S MEMBER (KIM JONGHYUN, KIM KIBUM, CHOI MINHO, LEE TAEMIN) LUNA F(X)

length               : One shot

Author              : HANAN HANIFAH hadir lagi

Disclaimer       : ini udah beres dari jaman kapan. Ini sebenernya udah bisa aku posting dibulan februari tapi karena ada satu hal baru bisa ku posting sekarang. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

Rinai hujan turun membasahi bumi.  Jinki sedari tadi hanya berdiiam diri didepan jendela, memandangi titik hujan yang menghiasi jendela kamarnya dengan wajah sendu serta tatapan kosong.

“Hujan. Hal yang sangat kau sukai,bukan?” gumam Jinki. Jinki memainkan jarinya dijendela tersebut. Jari-jarinya berpindah dari satu titik air ke titik air lainnya. Jinki kemudian memalingkan wajahnya ke meja yang ada disampignya. Ia menatap sebuah figura foto, kemudian Ia berbicara kepada foto itu.

“Setiap hujan pasti Kau selalu memandanginya dipinggir teras rumahmu. Sambil tersenyum kau  menjulurkan tanganmu keluar agar tanganmu dapat terkena tetesan hujan,” Jinki menghela nafas sesaat Andai saja Aku bisa melihat hal itu lagi.”

Jinki kembali menghadap jendela. Telunjuk kanannya kemudian menulis rangkaian huruf Hangeul pada jendela yang berembun. Bogoshipda,Luna.

Terdengar suara pintu terbuka, namun Jinki tak menyadari hal itu. Ia hanya menatap tetesan hujan dijendela.

Hyung.” panggil Taemin.

Jinki diam, tak menggubris panggilan sahabatnya itu.

“Mau makan enggak? Sudah jam dua siang nih. Sudah lewat waktunya makan siang.”

Jinki seolah tak mendengar pertanyaan Taemin. Ia hanya diam.

“Apa Hyung enggak lapar? Hyung kan belum makan apa-apa daritadi pagi. Terakhir Hyung makan kan kemarin malam.”

Lagi, Jinki tak menanggapi perkataan Taemin. Taemin mulai frustasi.

Hyung, jebal. Makanlah.” Mohon Taemin.

“Aku enggak lapar.” Akhirnya Jinki bersuara.

“Hm… kalau begitu, jika Hyung merasa lapar, panaskan saja sup jamur yang sudah dibuat Kibum Hyung. Aku harap sebelum waktunya makan malam, Hyung sudah makan siang.” Ujar Taemin sambil pergi keluar kamar Jinki. Taemin khawatir dan merasa sedih melihat keadaan,sahabat yang sudah dianggap sebagai Hyungnya sendiri itu, seperti itu.

Taemin menghampiri ketiga sahabat Jinki lainnya duduk di sofa ruang tengah. Ketiga orang itu langsung mencecarnya dengan pertanyaan.

“Gimana, berhasil ngebujuk Dia buat makan?” Tanya Kibum penasaran

Taemin menggeleng lemah.

“Apa Dia masih meratapi hujan?” Tanya Jonghyun.

Taemin mengangguk sedih.

“Ya Tuhan! Kalau Dia kayak gini terus, bisa-bisa Dia nyusul Luna!” Cemas Minho sambil mondar-mandir tak jelas.

“Aku tadi sudah memaksanya, tapi Dia bilang, Dia masih kenyang.” Ujar Taemin.

“Kenyang dari Hongkong! Jelas-jelas Dia terakhir makan tadi malam. Hari ini Dia hanya minum air putih saja! Gimana bisa Dia bilang kalau Dia masih kenyang!” kesal Jonghyun.

“Kesedihannya dan ketidakikhlasannya bikin Dia kenyang.” lirih Minho.

“Sudah 5 bulan Dia hidup seperti ini. Sejak ditinggal Luna, Jinki Hyung begitu kacau. Rambutnya dan bulu-bulu diwajahnya dibiarkan tumbuh tak terawat. Makan sehari sekali. Kerjaanya cuman diam di kamar, bengong. Diam meratapi semua itu. Dia enggak bisa hidup kayak gitu terus. Dia harus bangkit. Kita enggak bisa ngebiarin Dia hidup seperti ini!” seru Jonghyun semangat.

“Ah, gimana kalau aku dan Minho mencoba mengajaknya keluar. Dia harus menghirup udara luar, siapa tahu dengan begitu Dia bisa bangkit.” Kibum mencetuskan idenya.

“lakukanlah! Secepat mungkin! Kalau bisa besok!” titah Jonghyun.

Minho mengangguk “Tenang saja Hyung. Akan kami lakukan besok.”

*****

Minho, Kibum, dan Jinki sedang berjalan di Taman Yeouido Sungai Han. Menikmati keindahan pepohonan sakura yang bunganya belum  mekar. Menyaksikan pertunjukan tarian air mancur yang tersembur dari jembatan Banpo. Sesekali melirik gerombolan gadis, siapa tahu ada yang menarik. Suatu  hal yang menyenangkan dan mengasyikan sebenarnya untuk berada disana bersama sahabat. Hanya saja hal itu hanya berlaku untuk Kibum dan Minho. Kibum dan Minho begitu riang berada disana, bahkan sesekali mereka menebar pesona pada gadis yang bersepeda seorang diri. Jinki sendiri melihat tingkah laku dua sahabatnya itu cuek saja. Ia tak peduli dengan itu semua. Ketika diajak berbincang oleh Kibum dan Minho, Jinki hanya menjawab seperlunya saja.

Suasana taman sangat bagus. Seharusnya membuat mood lebih baik dan membuat pikiran tetap berada dalam tempatnya, tidak berjalan kemana-mana, tetapi tidak begitu dengan Jinki. Raganya memang berada di Taman Yeouido, namun pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Mulanya Kibum dan Minho tak menyadari itu. mereka berdua terus saja mengajak Jinki mengobrol. Mereka tak sadar jika Jinki lebih banyak diam, menjawab seperlunya, atau menanggapi hanya dengan dehaman.

“Ya lucunya anak kecil yang duduk disebelahku itu terus berusaha menyendokkan eskrimnya, padahal jelas-jelas wadahnya tertutupi oleh cup,” Kibum terus menyerocos tanpa memperhatikan apakah Jinki mendengarnya atau tidak, “Anak kecil itu pun berusaha membuka tutupnya, tapi dengan cara mendorongnya menggunakan sendok. Mungkin dia berharap tutupnya itu akan terbuka jika terdorong, hahahaha,”

“Lalu? Apa Ibu anak itu tidak membantu anaknya untuk membuka tutup cup eskrimnya?” Tanya Minho excited.

“Ibunya malah melihat jalan, tak memerhatikan anaknya yang sedang kesulitan. Akhirnya anak itu menggigit tutupnya, lalu menarik tutup itu agar bisa terbuka. Hahahaha.”

“Ya Tuhan, kalau aku jadi anak itu, pasti aku menggunakan tanganku untuk menarik tutupnya” geleng-geleng Minho.

“Ya namanya juga anak kecil. Tangan kanannya memegang sendok, tangan kirinya memegang eskrim. Mungkin Dia merasa tangannya sudah penuh, sehingga tak bisa melakukan apa-apa dengan tangannya.” Kibum terus tertawa.

Minho pun ikut tertawa, “Hahaha, how cute it is. Aku jadi ingin melihatnya langsung. Iya kan Jinki Hyung?”

Jinki yang dimintai pendapat, hanya menjawab “hm… ya.”. Tatapannya terus kedepan dan kosong. Saat itulah mereka berdua sadar, kalau daritadi Jinki tak menyimak ocehan mereka berdua. Saat itu juga mereka menghentikan langkah kaki mereka.

Hyung!” Kibum melambaikan tangan kanannya persis didepan mata Jinki. “Apa kau melamun?”

“Tidak. Hanya teringat sesuatu saat Aku menginjak kaki ke Taman ini.” Jawab Jinki masih dengan tatapan kosong dan seperti yang sedang menerawang.

“Teringat apa?” Tanya Minho

“Ini salah satu tempat kenangan Aku dan Luna. Kami sering berkencan disini. Luna paling suka saat ada pertunjukan air mancur pelangi malam hari.” Jawab Jinki sambil tersenyum. Senyumnya itu antara senyum senang dan senyum sedih.

Mendengar itu Kibum dan Minho saling berpandangan. Seketika mereka merasa salah memilih tempat.

“Aduh, lapar juga nih. Ayo kita makan!” Ajak Kibum.

“Aku tahu satu tempat makan yang enak, tapi sedikit jauh dari Taman ini, tapi dijamin deh pasti enggak akan menyesal.” Usul Minho.

“Tak apa. Ayo kita kesana sekarang juga!” Kibum dan Minho berbalik arah dan langsung berjalan, namun baru beberapa langkah, kaki mereka terhenti. Mereka sadar jika Jinki tak mengikuti langkah kaki mereka berdua. Jinki masih mematung ditempat yang sama sambil memandangi jembatan Banpo. Kibum dan Minho pun menghampiri Jinki.

“Ayo!” Kibum menarik tangan Jinki, namun Jinki menepisnya.

“Eh kenapa?” Kibum bingung.

“Sok,kalian saja. Aku masih ingin disini dulu. Masih ingin mengenang saat Aku dan Luna disini.” Balas Jinki.

“Memangnya kau tak lapar?” Minho mengerenyitkan dahinya.

Jinki menggeleng.

“Yakin?”

Jinki menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah.

“Ayolah,Hyung, ikut kami! Masa tadi keluar dari rumah barengan, pulangnya misah.” Rajuk Kibum memaksa.

Jinki tersenyum, “Nanti Aku akan menyusul. SMS saja nanti kalian makan dimana. Jika Aku sudah puas berada disini, Aku akan kesana.”

“Masalahnya kapan kau akan merasa puas, Hyung?” dan lagi Jinki menjawab dengan gelengan.

“Ya sudah kalau begitu. Kami duluan” Pamit Minho.

Kibum dan Minho pun akhirnya hanya berdua, sedangkan Jinki masih tenggelam dengan masa lalunya. Tak jauh setelah berjalan menjauhi Jinki, Kibum tiba-tiba mendaratkan tangannya diatas kepala Minho.

“Bego! Kenapa kamu malah ngajak kesini! Ini kan tempat kenangan mereka berdua!” gertak Kibum.

“Aduh!” Ringis Minho. “Mana Ku tahu kalau tempat ini tempat kenangan mereka. Aku pikir dengan membawanya ke Taman Yeouido akan menjadikannya lebih baik.”

“Tapi yang terjadi malah sebaliknya! Hyung malah makin terpuruk. Makanya cari info dulu yang bener! Gagal deh!” Kibum mendelik Minho dengan tajam, dan  Minho pun  hanya bisa menunduk.

*****

“Tok-tok-tok” Taemin mengetuk pintu kamar Jinki. Tanpa menunggu jawaban Jinki, Taemin masuk ke kamarnya.

Hyung,lihat aku bawa apa.” Taemin memperlihatkan piring yang berisikan ayam goreng berjumlah 5 potong.

“Tadi aku beli di Hyojin ahjumma. Ayo dimakanlah” Taemin duduk disamping Jinki.

Melihat makanan kesukaannya, Jinki sempat melirik tertarik, tapi hanya sesaat saja. Setelah itu Jinki kembali melamun diatas kasurnya.

“Yakin enggak mau Hyung?” Tanya Taemin sambil asyik melahap sayap ayam goreng. “Kalau enggak salah, Hyung sudah lama enggak makan ayam, iya kan?”

Jinki hanya tersenyum tipis “Tapi sekarang Aku lagi enggak nafsu makan.”

“Yakin enggak nafsu dengan ayam ini? Menurut Hyung kan ayam  buatan Hyojin ahjumma kan ayam paling enak.” Taemin kembali meyakinkan.

Pertahanan Jinki mulai goyah. Ia melirik piring berisikan 4 potong ayam. Ia mulai menelan air liurnya.

“Ayolah. Segigit saja. Lagian Hyung baru makan tadi pagi saja kan? Sekarang sudah jam 9 malam, jadi ayolah makan.” Taemin menyodorkan sepotong paha ayam pada Jinki. Jinki pada mulanya ragu, tapi karena Taemin terus memaksa, akhirnya Jinki tergiur juga. Ia mengambil Paha ayam goreng tersebut.

“Aku bingung, sudah berbulan-bulan,Hyung hanya mengurung diri di kamar. Enggak keluar rumah. Apa enggak bosan?” Oceh Taemin.

“Kemarin aku keluar rumah kok dengan Kibum dan Minho.” Potong Jinki.

“Itu juga setelah sekian lama dan dipaksa. Coba kalau enggak dipaksa, pasti Hyung enggak akan mau.”

“Enggak lama juga, Aku sempat keluar rumah untuk…” Jinki belum selesai berbicara, Taemin langsung memotongnya.

“Untuk mengunjungi makam Luna. Hyung mau sampai kapan sih kayak gini terus?” Taemin mengubah arah obrolan menjadi lebih serius, karena itulah tujuan sebenarnya masuk ke kamar Jinki. “Sampai kapan Hyung mau bersedih? Ini sudah 5 bulan.”

Jinki menghentikan makannya. Ia kembali terdiam dan menunduk.

“Tak bisakah Hyung memulai lembaran baru?”

Jinki menggeleng lemah.

“Kenapa? Sebegitu berarti kah Luna?”

“Dia enggak cuman sekedar berarti, tapi istimewa. Hanya Dia gadis yang bisa membuatku tersenyum hanya dengan melihat senyumnya. Tertawa saat Dia tertawa, dan ikut menangis saat Dia menangis. Aku merasa Dia merupakan bagian dariku. Ya she is my soulmate,” Jinki tersenyum lebar dan melanjutkan kata-katanya,

“Cuman Dia gadis yang bisa bikin Aku enggak melihat gadis lainnya saat bersamanya. 3 tahun bersamanya, itu benar-benar tahun-tahun terindah dihidupku. Kelembutannya, kebaikkannya, sikap rendah hatinya, ramahnya, ah semua yang ada pada dirinya selalu membuat letupan di hatiku,” Jinki menghentikan ceritanya sesaat. Dia menghela nafasnya dengan berat, tampaknya bagian selanjutnya merupakan bagian yang paling menyedihkan.

“Dia selalu tersenyum, bahkan disaat Ia sakit dan kritis, Ia masih bisa tersenyum.  Senyumannya itu sungguh menipu. Tak terlihat Ia sakit, bahkan Aku baru tahu Dia sakit 4 bulan sebelum Ia meninggal. Ia tak pernah menunjukkannya betapa tersiksanya saat harus menjalani masa kemoterapi. Aku begitu bodoh dan enggak peka saat Dia lagi dalam keadaan buruk. Itulah yang kusesali.”

Taemin menatap sedih Jinki. Melihat sorot Jinki yang begitu pilu dan sendu, Taemin jadi ikut merasakan nestapa hati Jinki.

Hyung, Aku mengerti kesedihanmu, tapi jangan berlarut-larutlah. Ini waktunya Hyung untuk move on.” ujar Taemin

“Enggak!” tolak Jinki mentah-mentah “Aku enggak akan bisa semudah itu move on dari Dia.”

“Oke,itu pasti sulit, tapi harus dicoba. Butuh waktu, tapi pasti bisa.”

“Luna never forget!”

“Bangkit dari kesedihan bukan berarti melupakannya kan?”

Jinki terdiam. Kepalanya ditundukkan dan matanya tampak menerawang. Ia sepertinya merenungkan kata-kata Taemin. Melihat itu Taemin merasa agak senang karena Jinki memikirkan kata-katanya.

“Makanya, sekarang Hyung bangkit. Minimal urus diri sendiri. Cukur itu rambut, kumis. Makanlah dengan baik, pergi keluar, beraktivitaslah seperti biasa.” Taemin menyemangati Jinki agar bisa lebih baik.

Jinki memalingkan mukanya kearah Taemin. “Taemin, besok tanggal berapa?”

“12, memang kenapa?”

“Ah aku harus bersiap-siap malam ini.” Jinki bangkit dari tempat tidurnya.

“Ngapain?” Bingung Taemin

“jam 12 nanti adalah hari ulang tahunnya Luna.” Jawab Jinki sambil berganti baju.

Mendengar jawaban Jinki, ditambah melihat Jinki sedang berganti baju, Taemin mendadak panik, “Jangan bilang Hyung mau merayakan tengah malam di makamnya?”

“Sayangnya Aku harus bilang Iya. Aku mau membeli bunga, kado, kue, mungkin juga terompet.” Jawab Jinki santai.

Hyung!” seru Taemin. “Hyung, please sadar! Luna sudah enggak ada! Ngapain masih ngerayain?!”

“Raganya memang enggak ada, tapi jiwanya selalu ada. Jika Aku tak datang ke makamnya tepat jam 12 tengah malam, Ia akan kecewa.” Jawab Jinki sambil keluar dari kamarnya. Ternyata di depan pintu kamarnya sudah berdiri Jonghyun, Kibum dan Minho. Sepertinya mereka bertiga mendengarkan obrolan Jinki dan Taemin.

“Tapi Luna akan lebih kecewa jika melihatmu seperti ini.” Jonghyun menghadang Jinki.

“Kalau mau ngerayain, besok saja lah, enggak usah tengah malam juga.” Ucap Kibum khawatir.

“Itu pun cukup dengan memberinya bunga, mendoakannya, lalu pulang.” Minho menambahkan.

“Benar,Hyung! Enggak usah sampai beli kado, kue. Sayang enggak akan ke pakai.” Taemin ikut bersuara.

“Tapi, itu yang selalu Kami lakukan jika ada yang ulang tahun diantara Kami berdua. Merayakan saat tepat jam 12.” Kilah Jinki.

“Tapi itu dulu! Saat Luna masih ada. Sekarang Dia sudah tak disini!” Jonghyun mulai emosi.

“Terserah kalian.” Jinki pun mendorong Jonghyun pelan agar Ia bisa melangkah pergi, namun Jonghyun menahan tangan Jinki.

Don’t go. Stay here!

Jinki menepis tangan Jonghyun. “Jangan halangi Aku.”

BUG!

Hyung!”

Kesabaran Jonghyun sudah habis. Ia mendaratkan kepalan tangannya di pipi kiri  Jinki, hingga Jinki jatuh tersungkur dan yang lainnya sangat terkejut.

Hyung, apa yang kau lakukan?” Tanya Minho panik.

“Diajak main, enggak berhasil. Diomongin baik-baik, enggak ngaruh. Keterlaluan saja jika dengan cara kasar Dia masih enggak sadar!” jawab Jonghyun sambil berkacak pinggang.

Jinki memegangi pipi kirinya. Ia sedikit meringis, namun kemudian Ia bangkit lagi, lalu berjalan kembali seolah tak terjadi apa-apa. Melihat Jinki yang bersikap cuek, Jonghyun langsung mendorong tubuh Jinki dengan keras.

Hyung belum sadar juga? Haruskah ada pukulan kedua?” Lagi-lagi Jonghyun melayangkan tinju ke pipi Jinki, dan Jinki kembali jatuh tersungkur. Jonghyun langsung menarik Jinki untuk berdiri, kemudian Ia menarik kerah baju Jinki sehingga jarak mereka hanyalah sejengkal.

“Mau sampai kapan kayak gini? Hyung Kau ini laki-laki bukan sih? Sedih kok berlarut-larut! So weak!” Sinis Jonghyun sambil melepaskan Jinki dengan kasar.

Jinki terlihat mulai terbawa emosi. Jinki mengepalkan tangan kanannya. Tangan kirinya mengelus-elus tangan kanannya, dan kemudian…

BUG! Jinki membalas pukulan Jonghyun. “Sudah diam  saja Kau, Kim Jonghyun. Kamu enggak tahu apa rasanya ditinggal pergi orang yang Kamu cintai!”

“Kata siapa?” Jonghyun menekan bahu kiri Jinki “Aku tahu rasanya! Setahun yang lalu Aku ditinggal sepupu yang paling dekat denganku. Aku sedih, tapi hanya seminggu, setelah itu Aku bangkit lagi. Menjalani kehidupan secara normal, tapi kau, Hyung?  Kau benar-benar kacau, HANCUR!”

“ITU TUH BEDA!” teriak Jinki emosi.

“ITU SAMA SAJA!” Jonghyun ikut berteriak kesal. “Sama-sama kehilangan orang yang kita sayangi, orang yang Kita cintai. Memang cinta hanya dalam bentuk lawan jenis saja? Enggak kan! Hyung, kumohon sadarlah. Kau ini lelaki! Harusnya lebih kuat. Tak baik bersedih berlarut-larut, itu tuh bikin hidupmu hancur, kacau. Lihatlah dirimu! Hyung, kau begitu tak terurus. Kau seperti zombie,mayat hidup!”

“Biar saja hidupku kacau! Jika kalian  tak suka, aku bisa mati. Menyusul Luna, itu adalah masa yang paling kutunggu.” Jawab Jinki dengan tatapan tajam.

Jonghyun kembali menarik kerah baju Jinki, “Hyung, hidupmu terlalu berharga untuk diakhiri karena kesedihan akan kehilangan seseorang! Luna pasti sedih melihatmu seperti ini. Kau masih punya otak untuk berpikir kan? Pikirkan lah hal itu!”

Perkataan Jonghyun terakhir tampaknya begitu mengena pada diri Jinki, tapi karena Jinki sedang emosi, ia mengeskpresikan dengan cara yang salah. Lagi, Jinki memukul Jonghyun. Pada akhirnya yang terjadi adalah adu jotos antara mereka berdua. Mereka berdua saling memukul hingga keduanya sama-sama jatuh. Jinki yang kondisi tubuhnya lemah karena kurang asupan, tak dapat melawan banyak saat Jonghyun memukulinya secara bertubi-tubi. Kibum, Minho, dan Taemin berusaha melerai.

Hyung,hentikan!” Pinta Minho cemas. “Nanti kalian berdua yang akan terluka.”

“Biarin!” Jawab Jonghyun kasar. “Biar anak ini sadar! Luna sudah enggak ada, Lee jinki! Apa sih yang membuatmu seperti ini? hah?”

“Aku tahu itu! tapi jiwa Dia masih ada! Tak seharusnya Aku melupakannya! Aku tak bisa melupakannya.” lirih Jinki yang kini dalam posisi terbaring dilantai.

“Bukan … Bukan karena Hyung enggak mau melupakan atau enggak bisa melupakan, tapi itu karena Hyung tak ikhlas.. Hyung enggak mau melepas dengan ikhlas kepergian Luna!” Jonghyun terus memukuli Jinki.

“Kamu pikir mudah melepasnya!” Jinki menahan tinju Jonghyun. “Aku enggak bisa… Dia terlalu berarti. Aku enggak mau melupakannya”

Hyung itu bukannya enggak bisa, tapi enggak mau! Hyung enggak mau usaha buat ngikhlasin!” Jonghyun kembali mencengkram kerah Jinki. “Luna itu masa lalumu! Dia enggak akan ada di masa depan  maupun masa kinimu! Biarlah Luna hidup sebagai kenangan, jangan sampai terbawa angan bawah sadarmu! Enggak melupakan bukan berarti enggak mau ikhlas kan? You have brain, use it to think about that.  You aren’t donkey,right?

Adegan pergelutan mereka kembali berlanjut. Mereka masih saling memukul. Lebam, dan bercak darah mulai terlihat dari wajah mereka. Kibum tak bisa lagi diam melihat ini semua.

HYUNG, STOP IT!” Kibum melerai mereka berdua. Dengan cepat, Minho menarik Jonghyun menjauhi Jinki, begitupun dengan Taemin langsung menghentikan Jinki.

“Lihatlah! Kalian berdua sudah terluka! Cukup!” Kibum melototi kedua Hyungnya tersebut. Kibum bersama Minho pun mengajak Jonghyun keluar. Diluar Kibum dan Minho mengobati luka Jonghyun, sedangkan Taemin mengobati Jinki di kamar Jinki.

Taemin mengobati jinki dalam diam. Jinki pun hanya menunduk, seperti sedang memikirkan kata-kata Jonghyun barusan. Ya Jinki memang sadar jika 5 bulan terakhir ini Dia hidup. Raganya ada, tapi jiwanya mati. Dirinya benar-benar hampa sepeninggalan Luna. Ia sendiri bingung, sebenarnya Ia seperti ini apa karena tidak bisa atau tidak mau ikhlas seperti yang dikatakan Jonghyun tadi? Tak hanya fisik Jonghyun saja yang meninjunya, tapi perkataan Jonghyun pun meninju hati dan otaknya. Ia merasa marah, karena hal itu benar, tapi dalam dirinya Ia ingin menyangkal. Kini otak dan hatinya begitu kacau. Tak berjalan serirama.

Saat obrolan ‘keras’nya dengan Jonghyun tadi, tiba-tiba Jinki merasa mendapat setruman untuk bergerak melupakan Luna. Mengikhlaskan dan kembali menjalani hidup dengan normal. Seperti itulah yang diperintahkan otaknya, hanya saja hatinya menyuruh untuk tetap bertahan pada kehidupannya sebagai zombie, yang penting Ia tak melupakan Luna. Membiarkan dirinya tenggelam dalam angan bersama Luna.

Hyung” Tiba-tiba Minho sudah berdiri dihadapan Jinki sambil menyodorkan sekeping CD. Jinki melihat itu dengan wajah bingung.

“Tadi aku bertemu Sulli dan Krystal. Mereka memintaku untuk menyerahkan ini padamu. Aku harap ini jadi motivasi hidup, bukan dijadikan motivasi untuk mati.” Ujar Minho sambil memberikan CD itu kepada Jinki, kemudian Ia menarik Taemin untuk keluar kamar Jinki.

“Itu apa, Hyung?” Penasaran Taemin.

Molla,” Minho mengangkat bahunya “Sudah ah enggak usah ikut campur. Sepertinya itu dari Luna. Biarlah itu menjadi privasinya,Hyung.

Jinki melihat CD dengan memutar-mutarnya. Ia penasaran. CD itu diberikan dari Sulli dan Krystal, yang notabenenya sahabatnya Luna. Ia yakin CD itu berasal dari Luna. Segala hal yang berbau Luna membuatnya ingin tahu. Ia pun menyalakan laptopnya untuk melihat isi file CD itu.

Setelah laptopnya menyala, Ia pun memasukkan CD itu ke dalam DVD writer, kemudian Ia membuka CD itu. Didalamnya terdapat satu file berformatkan MP4. Ya sebuah video dengan judul, “Untuk Jinki Oppa”. Membaca judul video itu, Jinki yakin itu berasal dari Luna. Ia pun langsung memutar video itu di laptopnya.

Benar saja, ternyata itu berasal dari Luna. Kini di layar laptopnya ada wajah Luna. Ternyata Luna sedang merekam dirinya sendiri. Dalam video tersebut Luna sedang berada di kamar rumah sakit di tempat Ia dirawat. Baju yang dikenakan merupakan seragam dari rumah sakit. Rambutnya pendek dan ditutupi topi rajut untuk menutupi rambutnya yang menipis akibat kemoterapi. Bibirnya terlihat putih dan pecah-pecah. Ya mukanya begitu pucat dengan pipi tirus. Terlihat Dia begitu menderita dengan semua itu. Jika dilihat dari tanggal file tersebut, tampaknya video ini dibuat seminggu sebelum Luna meninggal.

Annyeong, Jinki Oppa” sapa Luna dengan senyum hangatnya. Demi Tuhan, melihat senyum Luna, jantung Jinki langsung berdegup dengan kencang, lidahnya begitu terkelu, dan hatinya terasa merindu. Sudah lama sekali Ia tak melihat senyum itu.

“Apa kabarmu? Sudah lama ya ternyata. Sudah 5 bulan Aku tak berada disampingmu,” Ucap Luna masih penuh senyum. “Sebenarnya Aku  harap Oppa tak pernah melihat video ini, Aku harap Oppa selalu baik-baik saja. Jika Oppa melihat video ini, Aku harap dan sungguh Aku mohon, Oppa menonton ini untuk pertama dan terakhir kalinya,”

“Aku ingin meminta maaf sebelumnya karena Aku tak bisa berada disampingmu lagi. Maaf juga karena aku menyembunyikan ini semua. Aku hanya …” Luna menghela nafas sejenak, “Aku hanya tidak ingin Oppa khawatir. Aku takut ini akan menganggu pikiranmu,”

Oppa, kau tahu? Kau adalah surga duniawi paling indah untukku. Aku sangat bahagia menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Tertawa bersama, menangis bersama, nonton bersama, jalan-jalan, bahkan Kau mau menemaniku menikmati hujan. Sungguh itu semua adalah kenangan paling indah untukku. Melewati hari bersamamu merupakan saat paling berharga. Oke mungkin ini terdengar berlebihan, tapi sungguh kehadiranmu itu oase bagiku. Oppa lah alasanku untuk bertahan dari penyakit ini. Rasanya memang sakit melewati semua proses penyembuhanku, tapi aku berusaha bertahan agar Aku bisa bersamamu lebih lama,”

Mendengar pengakuan Luna, Jinki tak bisa berhenti tersenyum. Ia merasa tersentuh, tapi disisi lain Ia juga merasa sedih, karena Luna harus mengalami kesakitan yang teramat luar biasa.

Luna melanjutkan kata-katanya, “Namun, Aku hanyalah manusia biasa. Aku merasa saat ini Aku sudah berada di titik nadhirku. Aku sudah berusaha menahan semua rasa sakit ini, tapi kini semakin hari, Aku semakin lelah. Rasa sakit ini sudah tak bisa lagi kutanggung,”

Mata Luna tampak mulai berkaca-kaca, “Mungkin ini memang saatnya Aku berhenti. Setiap kesakitan Aku selalu mengingatmu,Oppa, tapi Setiap mengingatmu pun sudah tak banyak membantu. Mungkin memang sudah waktunya Aku berhenti. Mungkin sebentar lagi waktunya Aku menghadap pada penciptaku, dan Aku punya satu permintaan,”

“Saat Aku sudah tidak ada, Aku mohon Kau hiduplah dengan baik. Janganlah terus menerus sedih akan kepergianku, karena jika Oppa hidup seperti itu, Aku akan sungguh sedih,” Air mata Luna mulai mengalir. Luna mulai terisak. Ia pun menghentikan omongannya sesaat.

“Hiruplah udara segar, bergaulah dengan banyak orang, dan juga jaga penampilanmu agar Oppa mendapat wanita yang lebih baik dariku,” Luna berusaha tersenyum disaat matanya terus mengeluarkan air mata. “Oppa, berjanjilah untuk hidup dengan baik, ok? Berjanji juga Kau takkan melupakanku. Biarkan Aku hidup dalam masa lalumu, jangan sampai Aku terbawa terus dalam kenangan masa sekarang dan masa depanmu. Aku tak ingin kau terbebani akan hal itu. Janji ya,Oppa?”

Luna mengulurkan jari kelingking kanannya kehadapan kamera. Seolah-olah Ia mengajak Jinki untuk saling menautkan jari kelingking mereka. Jinki mulanya ragu untuk ikut mengulurkan jari kelingkingnya. Jinki diam sambil memandangi kelingkingnya, dan kelingking Luna.

Oppa, berjanjilah. Demi Aku… Demi Kau juga,” Seolah tahu apa yang akan terjadi, Luna berusaha meyakinkan Jinki, dan itu berhasil. Jinki pun menempelkan kelingkingnya di layar laptop.

“Hiduplah dengan baik. aku yakin Oppa pasti bisa hidup tanpa Aku. Lee Jinki yang Aku kenal adalah orang yang kuat. Cukup kenanglah Aku dalam hatimu saja. Buang semua barang tentang kita. Bukalah lembaran baru ya? Tolong ikhlaskan kepergianku nanti.” Luna kembali diam sambil terisak. Ia menundukkan kepalanya membiarkan pipinya basah teraliri air mata, namun itu tak berlangsung lama. Luna kembali menengakkan kepalanya. Ia menatap kamera dengan mantap, dan penuh senyum, walau matanya basah

“Jika saatmu sudah tiba. Kita bertemu di surga ya nanti.  Mianhae, Oppa, Sarang…” Jinki tak sanggup lagi melihat video itu. Ia pun menghentikan video itu sebelum Luna selesai berkata-kata.

Jinki pun kemudian menangis. Hatinya begitu pilu melihat video tadi. disaat terakhirnya pun Luna masih memikirkan Jinki. Jinki pun memandangi foto Luna. Sungguh sedih hatinya. Rasanya Ia ingin menyusul Luna, tapi Luna memintanya untuk hidup dengan baik.

“Gimana bisa Aku hidup dengan baik tanpa Kamu?” Jinki bertanya pada dirinya sendiri sambil memandangi foto Luna.

Aku yakin Oppa pasti bisa hidup tanpa Aku. Lee Jinki yang Aku kenal adalah orang yang kuat. Kata-kata Luna terngiang-ngiang dalam pikiran Jinki. Jinki pun hanya bisa menunduk sedih.

Biarlah Luna hidup sebagai kenangan, jangan sampai terbawa angan bawah sadarmu! Enggak melupakan bukan berarti enggak mau ikhlas kan? Kata-kata Jonghyun tadi pun ikut membebani pikiran Jinki.

Tolong ikhlaskan kepergianku nanti. Jinki menghela nafas dengan berat. Sungguh bingung dirinya. Ia melirik gunting dan silet yang ada di samping laptopnya.

Jika saatmu sudah tiba. Kita bertemu di surga ya nanti. “Sekuat itukah Aku?” Jinki terus memandangi gunting,silet dan foto Luna secara bergantian. Terjadi pergulatan batin dalam dirinya. Sekian menit batinnya bertarung, hati dan pikiran Jinki telah memilih. Dengan mantapnya Jinki mengambil gunting dan silet untuk dibawanya ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.

*****

“Sudah satu setengah jam setelah Aku menyerahkan video itu. kok Hyung enggak keluar kamar juga ya? kok berasa enggak ada reaksi?” Minho bertanya-tanya dengan cemas.

“Tadi sih Aku seperti mendengar suara menangis.” Sahut Kibum.

“Tadi pas Aku di kamar, Aku seperti mendengar suara air mengalir. Kamarku kan bersebelahan dengan kamar mandi Hyung.” ujar Taemin.

“Tapi kok mandi lama banget ya? Perasaan Hyung enggak pernah mandi selama ini deh?” Bingung Minho.

“Efek habis lihat video dari Luna kali!” celetuk Jonghyun.

“Efek video ya. Hm… ” gumam Kibum.

“Hah? Jangan-jangan…” Taemin menduga dengan cemas. Mereka mengerti apa yang diduga Taemin. Seketika langsung panik.

Aigo,Hyung!” panik Kibum.

“Si bodoh!” gerutu Jonghyun. Mereka pun secara serentak melirik pintu kamar Jinki, lalu berlari untuk memasuki kamar Jinki.

Begitu pintu terbuka, Taemin langsung histeris, “Hyung! Andwae!

“Ada apa Taemin?” Jinki melihat ke arah Taemin dengan muka bingung. Begitupun mereka berempat, melihat Jinki dengan bingung. Terlihat Jinki sedang memasukkan beberapa barang ke dalam kardus. Apa yang dilakukan Jinki membuat mereka berempat terkejut. Ternyata mereka salah duga.

Hyung, enggak bunuh diri?” Tanya Taemin.

“Bunuh diri? Siapa yang mau bunuh diri? Kamu berharap Aku bunuh diri?” Jawab Jinki sambil terus memasukkan beberapa barang.

PLETAK! Jonghyun menjitak kepala Taemin. “Makanya jangan bereaksi berlebihan!”

“Itu mulut juga dijaga omongannya!” Minho menarik bibir Taemin dengan kesal. Taemin meringis kesakitan karena mendapat ‘siksaan’ dari kedua Hyungnya.

“Apa yang Kau lakukan?” Tanya Jonghyun.

“Sedang berusaha memulai hidup baru. Aku akan membuang benda kenanganku dengan Luna. Kau benar Jonghyun. Luna akan sedih jika melihatku dengan ini. Kau juga benar bahwa Aku memang enggak mau ikhlas dengan kepergiannya. Kini Aku akan mengikhlaskannya. Makasih sudah menyadarkanku.” Jinki menghampiri Jonghyun dan memeluknya.

Jonghyun pun membalas pelukan Jinki, “Ya sama-sama. Maaf juga tadi aku bertindak kasar padamu.”

“Enggak apa-apa.” Jinki menepuk-nepuk punggung Jonghyun.

Eomona! Hyung, kau mencukur rambut dan kumismu ya?” celetuk Kibum dengan suara keras.

“Hahaha sadar juga. Iya. Ini untuk menandakan kalau Aku mau hidup dengan baik.” Jawab Jinki sambil melepaskan pelukannya dari Jonghyun.

“Tapi potongan rambutmu sungguh berantakan!” Ejek Minho.

“Makanya nanti Aku mau ke salon untuk merapikannya, sekalian jalan-jalan dan membuang semua ini.” Jinki menunjuk kardus kenangan.

“Biar aku membantumu,Hyung.” Taemin menawarkan bantuannya. Kibum, Minho, dan Jonghyun pun ikut membantu. Tak butuh waktu lama, barang-barang yang akan dibuang sudah terpilih,termasuk foto-foto Luna.

“Ya sudah Aku pergi dulu ya.” Pamit Jinki

“Tunggu Dulu, Hyung!” Cegah Kibum. “Kau takkan membuang ini?” Kibum menyerahkan CD yang berisikan video dari Luna. Jinki menatap CD itu dengan ragu. Ia pun memasukkan CD itu kedalam kardus, namun Diambilnya lagi CD itu. Ia bingung dan ragu untuk membuang itu.

Aku harap dan sungguh Aku mohon, Oppa menonton ini untuk pertama dan terakhir kalinya.. Kata-kata Luna diawal video kembali terputar diotaknya. Jinki masih menatap CD itu dengan ragu. Haruskah Ia membuang barang kenangan terakhir dai Luna tersebut?

PRAK! Jinki mematahkan CD itu, kemudian Ia masukkan kedalam kardus. Ya, Jinki memutuskan untuk melaksanakan permintaan Luna agar melhat video itu untuk pertama dan terakhir kalinya. Ia benar-benar ingin membuang semua barang tentang Luna.

“Aku keluar dulu ya! Dadah!” Pamit Jinki sambil keluar rumah. Jonghyun, Kibum, Minho, Taemin menatap kepergin Jinki dengan senyum.

“Syukurlah, Dia sadar juga.” Senyum Jonghyun.

“Untung Luna meninggalkan pesan itu, dan untung juga Jonghyun Hyung menghajar Jinki Hyung, Jadi Ia bisa berpikir.” Ujar Minho.

Sementara itu, Jinki sampai di tempat pembuangan sampah dan membuang kardus kenangan itu tanpa ragu. Sesaat Ia sempat meratapi kardus itu, namun kemudian Ia berjalan pergi meninggalkan kardus kenangan itu. Kini resmi sudah Jinki mengikhlaskan Luna. Kini Jinki mulai bisa mengikhlaskan Luna, dan membiarkan Luna hanya hidup dalam kenangan masa lalunya. Semua barang kenangannya dengan Luna sudah Ia buang. Satu-satunya kenangan Luna yang masih tersisa hanyalah ingatannya saja.

Jinki berjalan-jalan sambil menghirup udara segar. Ia menikmati angin semilir yang menyentuh tubuhnya. “Sudah lama Aku tak menikmati ini.”

Sebelum pergi ke salon, Jinki menyempatkan diri untuk mampir dulu di taman untuk sekedar duduk-duduk melihati orang hilir mudik dihadapannya. Mendengar deru angin yang halus, serta menikmati bunga-bunga yang akan bermekaran.

Sambil menatap langit yang luas, Jinki berkata sambil tersenyum, “Luna tenanglah disana. Aku berjanji aku akan hidup dengan baik, dan akan terpuruk.”

—The End—

Monday, January 20, 2014

01:24 AM

Isn’t sad? Maafkan huhuhuhu, aku selalu merasa diriku ga bakat bikin yang sedih tapi aku ingin mengasahnya ya siapa tau berkembang, hehehe aamiin. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s