[FF] Sorry

Title               : SORRY

Rate               : G

Genre             : FAMILY, SISTMANCE (?)

main Cast     : KRYSTAL JUNG F(X), JESSICA SNSD

OTHER CAST   : KANG MINHYUK CNBLUE

length           : One shot

Author          : alhamdulillah HANAN HANIFAH lagi

Disclaimer   : terinpirasi dari kejadian sehari hari lah pokoknya mah. Bakalan rada geje sih. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

 

Berulang kali Jessica melirik jam dinding di ruang tengahnya. Jamnya kini sudah berdentang sebanyak duabelas kali. Entah sudah berapa kali Ia menempelkan ponselnya ditelinganya, namun tak terdengar juga nada sambung. Ia cemas, sudah tengah malam adiknya,Krystal tak ada kabar berita. Membuatnya begitu cemas. Memang bisa saja Krystal sedang bermain bersama teman-temannya atau dengan pacarnya, tapi biasanya Ia selalu memberitahu Jessica jika pulang telat. Namun Krystal sama sekali tak memberitahunya. Ia jadi tak bisa tenang. Jika Ia pergi tidur begitu saja, Ia takut terjadi sesuatu dengan adik satu-satunya itu, sehingga Ia memaksakan diri untuk tetap terjaga walau rasanya tubuhnya daritadi sudah protes meminta untuk berbaring dikasur.

Terdengar suara orang sedang membuka kunci pintu. Jessica langsung berlari ke depan untuk memastikan yang membuka kunci adalah Krystal. Sesampainya di depan, tepat saat pintu baru saja terbuka. Sesuai harapannya orang yang membuka pintu adalah Krystal. Betapa leganya Jessica saat tahu kalau itu Krystal.

“Aku pulang!” Seru Krystal.

“Kirain enggak akan pulang.” Sambut Jessica seraya menyindir.

Disindir sepert itu Krystal hanya tersenyum. “Kok Eonni belum tidur? Masih ngerjain tugas kantor?”

“Tugas sudah beres dari jam 10.” Jawab Jessica dingin.

“Lah terus kenapa belum tidur?”

“Nunggu kamu! Darimana saja? Enggak ada kabarnya. Ponsel enggak bisa dihubungi.” Ketus Jessica. Nada bicaranya mulai tinggi.

“Biasa aku main sama Minhyuk Oppa. Kenapa nunggu aku? Aku bawa kunci kok.” Jawab Krystal.

“Kenapa enggak bilang kalau kamu pulang telat mau main dulu sama Minhyuk?”

“Ponselku habis baterai. Makanya Eonni tak bisa menghubungiku.”

“Kalau Ponsel kamu mati, kenapa enggak coba menghubungi lewat ponselnya Minhyuk.”

“Enggak apa-apa. Lagian Aku pikir Eonni pasti tahu kalau aku pulang telat gara-gara main.” Jawab Krystal dengan santai seolah tak terjadi apa-apa. Raut mukanya sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah.

“Bilang kalau kamu main! Jadinya kan aku enggak usah nunggu kamu. Aku kan bisa tidur daritadi. Capek tahu!” Jessica langsung mengeluarkan amarahnya.

“Ya kan aku juga enggak minta Eonni buat nunggu aku pulang.”

“Aku enggak akan menunggumu kalau kamu bilang kamu main!” Jessica mulai berteriak kesal.

“Ya gimana mau bilang? Ponselku lowbat!” Krystal pun pada akhirnya emosinya ikut tersulut.

“Ya kan kamu bisa kasih tahu aku lewat Minhyuk!” Bantah Jessica

“Tanpa aku kasih tahu juga, Eonni sudah mengertilah, kalau aku ini main!”

Suasana di ruang tengah menjadi memanas. Serasa ada api yang mengililingi ruangan itu. Urat dan syaraf kakak beradik itu sama-sama menjadi tegang dengan muka yang memerah. Jessica menatap adiknya dengan tajam. Krystal pun yang sudah kesal ikut memandangi kakaknya dengan tajam, namun Dia menatap seperti itu hanya sesaat. Krystal pun sadar. Ia memalingkan mukanya dari hadapan kakaknya. Agar suasana tak memanas, Krystal memutuskan untuk tak memperpanjangnya. Ia pamit menuju kamar.

“Ya sudahlah, enggak usah dibahas lagi. Aku mau ke kamar capek.” Pamit Krystal sambil berjalan melewati Jessica.

“Kamu tuh enggak ada rasa bersalahnya sama sekali ya? minimal minta maaf gara-gara enggak kasih tahu aku! Aku lebih capek! Kerja lebih capek! Kamu capek apa sih? Main?” Emosi Jessica benar-benar berada dipuncak. Ia langsung menumpahkan isi pikirannya.

Krystal langsung membalikkan badannya. Ia memprotes Jessica. “Apa sih Eonni? Enggak usah berlebihan deh! Enggak usah dibahas lagi kenapa sih?”

“Enggak bisa! Nanti bakalan jadi kebiasaan! Kalau mau pergi kasih tahu aku! Kamu enggak tahu apa aku begitu cemas? Aku ingin istirahat daritadi! Tapi gara-gara kamu belum pulang aku enggak bisa istirahat!”

“Aku bukan anak kecil lagi,Eon! Aku tahu salahku, nanti aku enggak akan gitu lagi kok!” Sahut Krystal sambil berjalan menaiki tangga.

Emosi Jessica semakin tersulut dengan jawaban Kystal. Ia berjalan mendekati Krystal. “Anak kecil saja bisa merasa bersalah? Kamu? mana ada rasa bersalahnya. Minta maaf bisa kan?”

Eonni, enggak usah dibesar-besarkan deh ini masalahnya! Masalah gini saja marah-marah. Pakai acara minta maaf pula!”

“Masalah gini saja? Ya Tuhan! Minta maaf saja susah ya kamu? Kamu gimana kalau kamu diculik, terus aku enggak peduli nyariin kamu? Kamu enggak akan ketemu! Enggak tahu diuntung ya kamu! Harusnya kamu beruntung punya kakak yang care sama kamu! Ya sudah, kalau kamu enggak mau dapat perhatian dari Aku lagi. Besok Aku enggak akan ngomong sama kamu! Aku enggak akan peduli lagi sama kamu!” Ujar Jessica penuh emosi. Dengan cepat Ia meninggalkan Krystal menaiki tangga, dan masuk kamar dengan pintu dibanting.

Melihat Kakaknya marah-marah, Krystal jadi ikut kesal. Ia pun berjalan masuk ke kamar dan ikut membanting pintu kamar. Dibalik pintu kamar, Krystal bersandar dan menengok ke tembok sebelah kirinya, dimana disebelah tembok itu adalah kamar kakaknya,

“Kenapa sih dia? Masalah macam gitu saja dilebih-lebihkan. Pakai acara ngamuk pula. Ah paling juga besok baik lagi.” Ujar Krystal berusaha cuek sambil berbaring di kasurnya.

*****

Paginya, seperti biasa Krystal memasak untuk sarapan Ia dan Jessica. Dari Ia bangun sampai sekarang Ia memasak, Krystal belum bicara juga dengan Jessica. Bukan karena Jessica tak mengajaknya bicara, tapi karena Ia belum melihat Jessica. Saat Ia bangun Jessica belum bangun. Krystal langsung bergegas ke lantai bawah untuk memasak. Saat Ia memasak Ia mendengar suara kaki menuruni tangga lalu terdengar suara air dari kamar mandi. Tampaknya Jessica sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor.

Setelah selesai memasak, Ia sajikan makanannya diatas meja makan, dan mengajak Jessica untuk memakan sarapan yang telah Ia buatkan.

Eonni, sarapannya sudah siap!” Krystal teriak mengarah pada lantai atas. Tak terdengar jawaban dari Jessica. Krystal berlalu kembali ke dapur untuk membereskan peralatan yang tadi Ia pakai untuk memasak. Krystal tak mempermasalahkan jika Jessica tak menjawab, karena biasanya juga Jessca tak menjawab ajakan sarapannya itu.

Krystal pun mencuci semua peralatan masaknya. Saat Ia sedang mencuci, Jessica turun ke bawah dan menuju dapur untuk minum. Krystal pun langsung menyapa Jessica dan mengajaknya sarapan.

Eonni, ayo sarapan!” Ajak Krystal dengan tangan penuh busa.

“Aku telat.” Jawab Jessica dingin sambl berjalan pergi.

“Nanti pulang jam berapa? Nanti malam aku masakin, kebetulan Aku hari ini enggak ngampus, jadi santai.”

Jessica tak menanggapi pertanyaan Krystal. Ia terus saja berjalan pergi.

Eonni?” Krystal melirik Jessica, tapi sayangnya Jessica sudah menghilang dari hadapannya. Terdengar suara pintu dibuka. Ternyata Jessica sudah pergi, tanpa pamit pada dirinya.

Krystal memasang mimik heran sekaligus tak percaya. Tak seperti biasanya kakaknya dingin padanya, bahkan pergi tanpa pamit. Sesuatu yang jarang sekali terjadi, bahkan bisa dibilang inilah pertama kalinya Jessica bersikap seperti ini.

“Kenapa Eonni kayak gitu? Apa Dia benar-benar marah?” Krystal bertanya pada dirinya sendiri. Krystal menyadari jika kakaknya itu tampaknya memang benar marah. Seketika Krystal langsung panik.

Aigo, gimana ini? ah paling nanti baik  dengan sendirinya? Tapi kalau enggak? aduh gimana ya?” Panik Krystal. Batin Kystal bergulat antara harus memikirkan hal itu atau tidak. Pada akhirnya Krystal melanjutkan pekerjaannya tanpa mau memikirkan masalah itu, tapi tetap saja hal itu terus terlintas dibenaknya. Ia menjadi tak tenang. Pekerjaan rumahnya terselesaikan namun tak terselesakan dengan baik.

Saat Ia mencuci piring, Ia membilas sisa sabunnya secara asal sehingga asih ada sisa sabun yang tertinggal. Saat menyapu pun tak semua debu ikut tersapukan. Lebih parah lagi saat Ia mengepel karena lap yang Ia gunakan untuk mengepel terlalu basah sehingga lantai rumahnya agak becek dan lama keringnya. Marahnya Jessica benar-benar mengganggu pikirannya.

Siangnya, Minhyuk mengunjungi rumah Krystal. Minhyuk datang dengan senyum menghias wajahnya dan tangan kanannya membawa sebuah plastik kecil berwarna putih susu. Krystal menyambut kehadiran kekasihnya hanya dengan senyum tipis dan wajah yang terlihat gelap karena otot-ototnya lesu. Melihat raut Krystal yang tampak suram, Minhyuk mengerutkan dahinya.

“Kok suram gitu?” Tanya Minhyuk sambil memandangi wajah Krystal dengan heran.

Krystal menggeleng. “Masuk yuk.”

Minhyuk mengikuti langkah Krystal untuk masuk ke dalam rumah. Kemudian mereka duduk di sofa berwarna light brown yang dikelilingi dinding berwarna peach ruang tamu Krystal.

Minhyuk mengeluarkan isi plastik yang Ia bawa tadi. Plastik itu berisikan  dua buah cup eskrim rasa coklat. Satu cup Ia berikan pada Krystal, satunya lagi untuknya. Krystal langsung menyambut cup eskrim itu. Ia langsung membuka penutup cup, kemudian dengan segera sendok kayu yang sudah ditempeli eskrim coklat mendarat mulus di lidahnya.

“Ada apa sih?” Tanya Minhyuk sembari membuka bungkus eskrimnya.

Krystal menghela nafasnya lalu menyandarkan tubuhnya di sofa dengan lemas. “Eonni, benar-benar  marah.”

“Marah gimana?” Dahi Minhyuk berkerut.

Eonni enggak mau ngomong sama aku.”

“Loh kok bisa?” Minhyuk terkejut.

“Aku yang salah sih, tapi masa cuman gara-gara itu saja dia marah?” Keluh Krystal sambil mengaduk-aduk eskrimnya dengan kasar.

“Memangnya apa yang terjadi?” Minhyuk merangkul Krystal. Ia siap mendengarkan cerita Krystal.

Krystal pun membuka mulutnya. Ia menceritakan kejadian yang terjadi semalam, bagaimana Ia dan Jessica bertengkar, dan pada akhirnya Jessica mulutnya menjadi bungkam terhadap Krystal, karena saking kesalnya. Minhyuk mengangguk-angukkan kepalanya sebagai tanda Ia serius mendengarkan Krystal bercerita.

“Iya. Kamu memang salah.” Tanggap Minhyuk atas cerita Krystal.

“Iya aku tahu aku salah! Tapi please but it so over act! Masalah seperti itu saja dia marah besar.”

“Mungkin dia lagi PMS jadi dia marah.”

Krystal menepok dahinya. “Astaga! Sekarang tanggal berapa?” Krystal melihat ponselnya untuk melihat tanggal. Dilayar ponselnya tertera angka 04/13. Krystal seketika lemas. “Ya ampun. Kamu benar. Tanggal segini kan Eonni biasanya lagi PMS. Eotteokhae?

“Ya sederhana saja. Minta maaf lah.” Usul Minhyuk santai..

Krystal menghela nafas. Ia terdiam. Dari wajahnya jelas tersirat rasa keraguan yang bercampur dengan bingung. Minhyuk menyadari hal itu. Ia pun berusaha memberi pengertian.

“Loh benar kan? Kalau salah, ya harus minta maaf. Benar kan?”

“Iya sih, tapi …” Krystal setuju sekali dengan ucapan Minhyuk, hanya saja …

“Tapi gengsi?” Tebak Minyuk dengan matanya menyelisik mata Krystal. Mencoba membaca pikiran Krystal.

Tebakkan Minhyuk yang tepat langsung menyentak benak Krystal. Malu sebenarnya untuk mengaku, tapi jika Ia berbohong, Minhyuk pasti tahu Ia berbohong. MInhyuk benar-benar mengenal dirinya. Dengan berat hati Krystal menganggukkan kepalanya. Ia mengakui hal itu.

“Iya …” Angguk Krystal. “Sama saudara sendiri itu rasanya gengsi dan canggung tahu mau minta maaf.”

“Tapi ya masa sama saudara kandung sendiri, sama keluarga sendiri gengsi sih buat minta kata maaf?”

“Kamu merasa enggak sih karena kita sudah saling dekatnya, jadi rasanya untuk minta maaf itu rasanya sulit banget. Kita merasa bersalah, tapi kata maaf tak dapat terluncur dari lidah kita. Kamu pasti pernah merasakan itu kan sama adik kamu?” Ujar Krystal berapi-api.

Minhyuk menganggukan kepalanya. Ia setuju. “Iya sih. Aku sama adikku kalau lagi berantem enggak pernah saling minta maaf. Kita sih baik dengan sendirinya. Enggak pernah yang kayak kamu gini. Saling diam dan cuek. Mungkin karena kita beda jenis kelamin jadi enggak manjang.”

“Tuhkan… kamu juga merasa kan? Lalu Aku harus gimana?” Krystal mengacak-acak rambutnya karena saking bingungnya.

“Ya minta maaf.”

“Ya tapi gimana caranya? Kalau ngomong langsung kata maaf enggak akan keluar!” Krystal frustasi. Ia menngoyang-goyangkan kakinya dan juga memuul-mukul sofa yang Ia duduki.

Minhyuk meletakkan tangan kirinya di dagunya, sedangkan tangan kanannya menopang tangan kirinya. Otaknya mencoba mencarikan solusi untuk kekasihnya itu, sedangkan orang yang sedang dicarikan solusi menatap Minhyuk dengan penuh harap, walau dengan wajah frustasi.

Tak butuh waktu lama untuk Minhyuk untuk berpikir. Tiga menit kemudian Ia menjentikkan jarinya. Sebuah ide sudah terlintas diotaknya. Dengan semangat Ia langsung memberitahukan idenya pada Krystal.

“Ah! Kamu kan enggak bisa bilang maaf secara langsung, ya sudah kamu harus mengucapkannya secara tak langsung!” Ujar Minhyuk.

Krystal mengerutkan dahinya. “Caranya?”

“Surat!” Jawab Minhyuk mantap dengan penuh senyuman.

“Surat?” Krystal melongo.

Minhyuk menganggukkan kepalanya. “Iya surat. Kamu tulis saja surat untuk kakakmu itu. curahkanlah isi hatimu padanya melalui tulisan. Minta maaflah melalui surat. Rasa gengsi dan malu akan berkurang kan kalau lewat surat. Setidaknya kamu enggak usah melihat reaksi dia, dan dia juga tak melihat reaksi kamu.”

Krystal mencoba memahami maksud Minhyuk. Ide Minhyuk Ia proses terlebih dahulu dalam otaknya. Setelah otaknya mencerna ide Minhyuk, Krystal pun langsung memeluk Minhyuk dengan girang sebagai tanda setuju.

“Benar juga…” Angguk Krystal “Ah kamu pintar banget sih!”

“Kang Minhyuk!” Minhyuk langsung berlagak sok. Ia langsung mendekap tangannya didada dan dagunya terangkat ke atas. Krystal langsung sebal melihat itu.

“Enggak usah sombong!” Krystal menoyor kepala Minhyuk sambil cengengesan. Krystal kemudian beranjak dari tempat duduknya. Ia berlari kedalam kamarnya untuk mengambil selembar kertas dan pulpen. Setelah itu Ia kembali ke ruang tamu untuk menuliskan surat untuk Jessica.

Pulpen sudah berada ditangannya. Kertas putih berukuran A4 sudah terletak diatas meja dihadapannya. Posisi duduknya pun sudah nyaman. Pulpen pun sudah berada diatas kertas itu, namun walau begitu pulpen tersebut tak juga berjalan diatas kertas. Sudah lima menit Krystal berdiam diri memikirkan kata-kata.

Heol… bahkan dalam surat pun Aku enggak bisa mengucapkan kata-kata.” Krystal melempar pulpennya karena Ia sangat bingung apa yang harus Ia tulis.

“Harus aku bantu kata-katanya? Itu buat kakakmu loh!” Minhyuk menawarkan bantuan namun dengan nada menyindir. Krystal menyadari jika Minhyuk sebenarnya tak menawarkan bantuan, melainkan menyindirnya. Krystal pun langsung menolak mentah-mentah.

“Enggak usah! Aku bisa sendiri!” Tolak Krystal sambil cemberut. Ia mengambil pulpennya yang tergeletak di lantai akibat lemparannya tadi.

Minhyuk tertawa kecil melihat sikap Krystal yang menurutnya begitu lucu. Ia pun langsung membelai-belai rambut Krystal, kemudian Ia mencubit pipi Krystal dengan gemas. “Imut amat sih!”

Krystal langsung menepis tangan Minhyuk. “Diam ih! Kalau enggak membantu, sudah deh diam saja!”

“Hahahaha” Minhyuk tertawa. “Aku kan sudah bantu cari ide. Eksekusinya harus kamu sendiri dong.”

Krystal diam tak menjawab Minhyuk. Krystal berusaha berkonsentrasi dengan suratnya itu, tapi tetap saja kertas itu masih bersih, belum terkotori tinta sama sekali.

Minhyuk melirik kertas Krystal. Ia pun kembali tertawa. “Hahaha. Macam itu pun kau susah? Ckckck” Minhyuk menggeleng-gelengkkan kepalanya.

Krystal hanya melirik tajam Minhyuk. Diberi tatapan seperti itu Minhyuk pun menyerah.

“Oke deh Aku bantu. Begini, kamu enggak usah berpikir untuk membuat kata-kata yang bagus. Ini bukan pelajaran sastra! Tulislah apa yang kamu ingin ceritakan dan curahkan. Pasti akan mengalir dnegan sendirinya. Gampang kok!”

Krystal pun menuruti saran Minhyuk. Ia pun mencoba memejamkan matanya. Berpikir apa saja yang harus Ia curahkan pada Jessica. Tak lama kemudian matanya terbuka dan tangannya mulai bergerak. Pulpen pun mulai menari mengotori kertas putih yang polos.

*****

Jessica mencoba membuka pintu rumahnya namun tak bisa. Ia pun mengetok pintu rumahnya itu, berharap ada jawaban, tapi ternyata tak ada. Tampaknya tak ada orang di rumah. Jessica pun akhirnya ingat, tadi siang adiknya mengiriminya pesan jika Krystal pergi keluar bersama Minhyuk dan akan pulang malam. Jessica melirik jam ditangannya. Jarum jam menunjukkan angka tujuh. Tentu saja jam segini, Krystal belum pulang. Dengan terpaksa Ia pun mengeluarkan kunci cadangan yang tersimpan di dompetnya untuk bisa masuk ke rumah.

Saat membuka pintu rumah tampak gelap. Jessica pun segera menyalakan lampu-lampu rumahnya agar tak gelap. Setelah itu seperti biasa Ia menuju dapur untuk mengambil segelas air putih, setelah itu Ia baru naik ke atas menuju kamarnya. Setiba di kamarnya, Jessica langsung merebahkan badannya. Rasanya badannya ini mau remuk. Kerjaannya hari ini memang cukup melelahkan. Saat Ia merebahkan badannya, Ia melirikkan matanya ke sebelah kiri. Matanya menangkap sesuatu. Diatas selimutnya terhadap sebut kertas. Jessica bingung sendiri. Kertas apa itu? karena seingatnya Ia tak pernah meletakkan kertas diatas selimutnya. Jessica yang penasaran langsung meraih kertas itu dan membukanya.

 

Hm… sejujurnya Aku bingung mau mengawali isi surat ini bagaimana. Hm.. langsung saja ya …

Eonni, Aku tahu dan aku sadar jika kemarin aku memang salah. Sudah seharusnya aku mengakui hal itu dan tak menyangkalnya. Namun karena rasa gengsi dan lelah aku terus saja menyangkal, dan bodohnya aku tak mengerti dirimu yang sedang dan PMS, dan lebih bodohnya lagi aku tak meminta maaf sehingga membuatmu marah.

Aku kira kau akan marah hanya semalam, pada pagi hari Eonni akan biasa lagi ternyata dugaanku salah. Kau tetap diam membisu. Itu membuatku makin tak enak hati dan makin merasa bersalah.

Sejujurnya aku benar-benar merasa bersalah saat kau marah kemaren malam. rasanya aku ingin mengucapkan kata maaf, namun entah mengapa kata maaf itu hanya sampai diujung lidah. Rasanya sulit sekali untuk dikeluarkan.

Aku sadar aku salah, dan sewajarnya kau marah. Aku tak ingin kau marah lagi. Kau adalah Eonniku satu-satunya. Semenjak kita tinggal di Korea lima tahun yang lalu tanpa Mommy dan Daddy, Aku hanya mempunyai kamu. Kalau Eonni marah, gimana nasib aku?

So, I just wanna say Sorry. Jeongmal mianhaeyo. Aku janji takkan mengulanginya lagi, dan aku akan berusaha untuk bisa mengucapkan maaf secara langsung padamu.

Jangan marah lagi ya? nanti kita takkan bisa gossip girls night with a pan of pizza and a can of coke hehehe,

Eonni kau adalah kakak yang baik hati. Jadi sudah pasti kau mau memaafkanku kan? Iya kan? Hehehe

Sorry and love

From your damned sister

Krystal Jung

 

Jessica tersenyum membaca isi surat itu. Setelah selesai membaca surat tersebut, Jessica langsung bergegas mengambil jaket dan dompetnya dan turun ke bawah lalu memakai sandal dan segera menuju keluar rumah.

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Krystal berdiam diri didepan pintu rumahnya. Ia megintip dari jendela rumahnya yang tertutup gorden. Tampak terlihat seberkas cahaya putih. Hal itu menandakan bahwa ada orang dalam rumahnya. Ada rasa khawatir dan takut sehingga Ia tak berani melangkah kakinya untuk masuk rumah. Ia masih belum siap berteu dengan kakaknya. Ia masih khawatir jika Jessica masih menyimpan amarah pada dirinya. Namun Ia teringat dengan kata-kata Minhyuk tadi saat dijalan bahwa Ia jangan lari dari masalah. Ia harus menghadapinya. Krystal pun mengatur nafasnya. Ia pun menyiapkan dan memantapkan hatinya. Ia sudah bertekad jika Jessica masih marah, Ia akan meminta maaf secara langsung.

Krystal pun membuka pintu rumahnya. “Eonni, aku pulang!” Tak terdengar jawaban dari sapaan tersebut. Krystal sudah pasrah jika Jessica masih saja belum memaafkan dirinya. Setibanya di rumah Ia memiliki kebiasaan yang sama seperti Jessica yaitu mengambil segelas air minum.

Krystal pun memasuki dapur. Saat memasuki dapur betapa terkejutnya Ia saat melihat meja makannya. Dimeja tersebut sudah terdapat seloyang pizza dan empat botol kaleng coke. Ia terkejut karena biasanya itu tersaji jika Ia dan Jessic akan begadang untuk mengobrol saling berbagi pikiran dan juga berbagi cerita.

“AKhirnya pulang juga! Pizzanya keburu dingin tuh gara-gara kelamaan nunggu kamu pulang.” Celetuk Jessica yang tiba-tiba hadir dibelakang Krystal.

Mendengar celetukan kakakknya, Krystal langsung membalikkan tubuhnya dan Ia langsung terkejut. Seketika Ia langsung gugup dan bingung.

“Ah… Ne Eon.” Jawab Krystal sambil agak tergagap. Ia memperhatikan Jessica baik-baik berusaha membaca perasaan Jessica. Dimatanya Jessica tampak biasa saja. Krystal pun ingin memastikan apakah Jessica masih marah apa tidak.

Dengan takut-takut Ia pun mencoba untuk bertanya. “Eon, masih marah?”

Jessica agak terkejut mendengar pertanyaan Krystal, tapi sedetik kemudian Ia langsung biasa lagi. Ia tak langsung menjawab. Jessica malah duduk dihadapan meja makan. Ia membuka sebotol cokenya, lalu meminumnya.

Melihat sikap Jessica seperti itu membuat Krystal makin bingung. Ia pun mengikuti Jessica duduk dihadapan meja makan. Krystal menatap Jessica dengan cemas. Melihat tatapan adknya itu Jessica langsung tersenyum.

“Aku lebih enggak marah kalau kamu minta maafnya secara langsung.” Ujar Jessica sambil tersenyum jahil.

Eonni! Aku kan sudah meminta maaf lewat surat!” Protes Krystal.

“Katanya mau berusaha untuk meminta maaf secara langsung.” Sindir Jessica.

Krystal langsung menghela nafas mengingat isi suratnya itu. “Oke… oke…” Krystal menghela nafasnya. “Eonni I’m so sorry.

Senyum Jessica pun makin merekah mendengar kata maaf langsung dari mulut Krystal. “Nah gitu dong! Sebenarnya tanpa kamu menulis surat dan meminta maaf juga aku sudah memaafkanmu kok.”

“Tapi kan kemarin Eonni ingin maaf dari aku.” Sahut Krystal manja.

“Kemarin aku lagi capek dan PMS jadi ya begitulah sensi, jadi rasanya aku ingin mendapat rasa hormat yang teramat sangat sehingga aku ingin maaf darimu. Maafkan aku juga ya?” Ujar Jessica dengan muka yang sangat tergambarkan jelas bahwa Ia juga merasa bersalah.

Krystal menggelengkan kepalanya, “Enggak kok. harusnya aku yang minta maaf karena aku sudah salah. Kan seharusnya yang salah lah yang meminta maaf. Aku sulit mengucapkan itu karena saking gengsinya.”

“Iya aku mengerti kok, aku meminta maaf karena sudah menyakiti perasaanmu sehingga kau merasa bersalah.” Jelas Jessica. Kini keduanya terdiam. Mereka sama-sama meresapi dan memaknai apa yang telah terjadi. Begitulah hubungan kakak-adik. Kerapkali bertengkar bahkan terkadang hingga ribut yang cukup besar sehingga membuat keduanya saling terdiam. Ya namun darah lebih kental daripada air. Semarah-marahnya mereka, mereka takkan bisa marah besar hingga berhari-hari. Tanpa meminta maaf pun dengan sendirinya rasa amarah itu akan redam juga, yang pada akhirnya seolah-olah tak terjadi apa-apa. Walau begitu bukan berarti kita tak usah meminta maaf, karena sudah sewajarnya djika salah kata maaf harus terucap, walau rasanya sangat sulit sekali. Dengan kata maaf itulah sebuah hubungan akan dapat menjadi lebih baik.

“Sudah ah jangan mellow begini! C’mon let’s gossip girls night time!” Seru Jessica.

Krystal pun langusng menyambar sepotong pizza yang sudah daritadi memanggil-manggil benaknya. Jessica pun melakukan hal yang sama. Mereka pun kemudian membuka obrolan. Saling berbagi pikiran, dan juga bertukar cerita diiringi tawa dan senyum, dan juga kasih sayang saudara sembari ditemani pizza dan coke.

—The End—

Saturday May 3, 2014

04:54 PM

Geje ya? hhehe maaf. Aku bikin ini ff terinspirasi dari diri sendiri yang suka gengsi minta maaf sama keluarga sendiri. Kalian ngerasa juga ga sih kayak gitu? Aku sesekalinya ngomong maaf cuman setahun sekali pas lebaran L yeah I’m bad girl L . ff ini udah dibikin dari pertengahan april tpai baur aku bisa beresin awal mei. Maap sibuk ngelapak, ini aja masih harus direvisi lapaknya, lima lapak booo T___T duh maaf jadi curcol. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s