[FF] GEN

Title               : GEN

Rate               : 15+

Genre             : ROMANCE, DRAMA

main Cast     : VICTORIA F(X), ZHOUMI SJ-M

OTHER CAST   : KANGTA, KEVIN (OC)

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH

Disclaimer   : niatnya mau agak dewasa, tapi gagal. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

 

Seorang pria tinggi kurus berjalan diantara kerumunan orang yang berdesakan di gedung pusat perbelanjaan yang tingginya mencakar langit. Saat kakinya melangkah melewati orang-orang tersebut hampir semua mata tertuju padanya, terutama para wanita yang haus akan pria tampan. Siapa yang tak tahu pria itu? Dia anak pemilik gedung ini. Walaupun statusnya sebagai warga negara asing, tapi gedung yang kini dikelolanya berkembang dengan pesat. Dengan wajah tampan dan juga statusnya sebagai pebisnis perusahaan multinasional membuat para wanita ingin menjadi pendampingnya. Wanita di negeri asalnya dan wanita di negeri kini Ia tinggal siapa tak mengenal dirinya, Zhoumi.

Saat ini Ia sedang melakukan kegiatan hariannya berjalan-jalan dalam mall untuk memantau bisnisnya itu. Ditemani sekretaris pribadinya Ia memasuki toko satu persatu mengecek penjualan toko tersebut. Setelah menjelajahi toko disetiap lantainya, Ia memasuki toko terakhir yang merupakan sebuah coffee shop. Selain memantau jalannya toko tersebut,  Ia pun sengaja memilih tempat itu sebagai kunjungan terakhir agar bisa sekalian untuk istirahat.

Sekretarisnya membukakan pintu untuknya. Zhoumi melangkahkan kakinya memasuki coffee shop tersebut, namun mendadak langkahnya terhenti saat Ia matanya mengarah lurus 90 derajat. Seketika semuanya terasa membeku baginya. Ia langsung terpaku dengan Jantungnya berdegup kencang dan aliran darah yang mendadak cepat. Sorot matanya berubah menjadi sendu merindu.

Hampir lima tahun sudah Ia menginjakkan kaki di negeri ginseng ini untuk mengelola bisnis orang tuanya yang membuka cabang di negeri ini. Selama di negeri ini Ia sudah banyak menjalin hubungan dengan para wanita,namun sudah setahun belakang ini Ia sendiri. Mengingat usianya yang nyaris kepala tiga bukan waktunya lagi Ia main-main. Selama setahun ini Ia terus berharap bertemu lagi dengan seorang wanita yang tiba-tiba menghilang sekitar empat tahun kurang yang lalu. Akhirnya kini wanita yang Ia cari ada berada tak jauh dari posisinya kini. Mereka hanya terpisah jarak 3 meter. Wajahnya kini terpancar rasa kebahagian bercampur rindu. Tanpa ragu Ia segera mendatangi wanita tersebut. Ia menyuruh sekretarisnya untuk duduk disudut lain menunggu dirinya.

Wanita yang dirindukannya itu terlihat sedang memusatkan perhatiannya pada tablet berwarna putih yang diletakkannya di meja kayu bundar. Sesekali Ia mengesap cangkir minumannya. Zhoumi berdiri dihadapan wanita itu sambil tersenyum. Tampaknya wanita tersebut tak menyadari akan kehadiran Zhoumi. Jarinya terus mengusap tabletnya tersebut. Zhoumi pun inisiatif untuk menarik kursi dihadapan wanita itu dan lalu Ia duduk diatas kursi rotan tersebut. Mendengar suara gesekan, wanita itu langsung mengangkat kepalanya dari tabletnya. Saat melihat orang yang menarik kursi untuk duduk dihadapannya, matanya langsung melebar dan urat wajahnya tampak menegang. Terlihat jelas betapa terkejutnya dirinya dengan kehadiran Zhoumi.

“Zhoumi?”

Zhoumi membalasnya dengan senyuman. “Lama tak jumpa, Victoria.”

Victoria benar-benar terlihat kaget. Matanya masih terus melebar. Ia menggenggam cangkirnya dengan kencang, kemudian menegak lattenya dengan cepat. Sekilas tersirat raut cemas dan panik.

“Ah iya lama tak jumpa.” Balas Victoria masih dengan ekspresi tak percaya.

Victoria menarik nafasnya kemudian menghembuskannya. Ia tampak mengatur nafasnya agar dirinya terlihat lebih tenang. Ia kembali meminum lattenya. Setelah itu wajahnya kini terlihat lebih relaks.

“Apa kabarmu?” Zhoumi memulai pembicaraan.

So far so good.” Jawab Victoria tenang namun terasa dingin.

“Kemana saja? Kok baru kelihatan? hehehe.”

Belum mendengar jawaban dari Victoria, perhatian Zhoumi teralihkan oleh sebuah suara ringan nan nyaring. Suara itu berasal dari seorang lelaki kecil yang masih balita berlari-lari keil dan menghampiri Victoria.

Eomma!”

Kata itu sungguh mengejutkannya, dan yang lebih membuat jantungnya tertohok anak itu datang bersama pria yang merupakan tetangga apartemen Victoria dulu, Kangta.

Anak itu langsung memeluk Victoria, dan Victoria langsung membalas pelukan anak itu dengan sayang.

“Enggak kemana-mana. Aku di Seoul terus kok.” Jawab Victoria sambil menggendong lelaki kecil itu.

Saat melihat Zhoumi dihadapan Victoria, Kangta menunjukan ekspresi yang hampir sama dengan Victoria. Kaget. Hanya saja Kangta dapat lebi mengendalikannya sehingga Ia jauh lebih tenang.

“Zhoumi? Kemana saja? Sudah berapa tahun aku tak mendengar kabarmu?” Kangta berbasa-basi.

“Halo hyung. Aku selalu berada di gedung ini kok, enggak kemana-mana.”

Eomma, ayo kita jalan-jalan.” Ujar anak itu sembari bergelayut manja.

“Kevin jalan-jalan dulu sama Kangta Abeonim ya? Eomma ada urusan dulu sama Ahjussi ini.” Jawab Victoria sambil menunjuk Zhoumi. Zhoumi menyaksikan pemandangan itu dengan penuh tanda tanya.

Anak yang ternyata bernama Kevin itu langsung menatap pada Zhoumi dengan tajam dengan bibir mengerut maju. Terlihat jelas kehadiran Zhoumi mengganggu waktu jalan-jalannya, sehingga Kevin memberi tatapan sinis. Zhoumi diberi tatapan tak suka, sama sekali tak bereaksi. Otaknya masih berkecamuk. Terlalu banyak muncul pertanyaan yang ingin dikeluarkan lidahnya, tapi lidahnya terlalu kelu. Zhoumi hanya bisa menatap lekat wajah Kevin.

“Siapa ahjussi ini?” Tanya Kevin.

“Dia teman sebangsa yang seperjuangan dengan Eomma saat merantau di negeri orang.” Jawab Victoria dengan tatapan tajam dan dingin kepada Zhoumi.

“Ayo Kevin kita jalan-jalan saja duluan. Nanti ibumu akan menyusul.” Kangta mengambil alih Kevin ke pangkuannya.

“Nanti Eomma nyusul ya?”

“Iya sayang.” Victoria mencium kening Kevin dengan sayang.

“Pamit dulu sama Ahjussi.” Titah Kangta.

Ahjussi aku pergi dulu.” Walaupun Kevin terlihat sebal tapi Ia tetap memberi rasa sopan dan hormat pada Zhoumi.

Zhoumi menatap kepergian Kangta dan Kevin dengan tatapan kosong dan bingung. Zhoumi teringat saat Ia menatap lekat wajah anak itu. Entah mengapa saat melihat wajah anak itu, terutama saat Kevin tersenyum dan menatap. Rasanya tiba-tiba ada desiran yang menggelitik. Seolah-olah ada angin hembusan yang menenangkan, namun disaat bersamaan Zhoumi merasakan kegelisahan yang membuat hatinya tak tenang. Ia tak mengerti kenapa Ia seperti ini.

Melihat Zhoumi yang masih terpaku hampa, Victoria menyunggingkan bibirnya ke samping kiri. “Kenapa bengong? Bingung dengan pemandangan yang tadi?”

Zhoumi diam tak menjawab. Tatapannya masih kosong. Ia masih belum kembali ke alam sadarnya.

“Pasti di otakmu kini banyak pertanyaan.” Tebak Victoria sambil memegang tangan kanan Zhoumi yang ada di meja.

Sentuhan tangan Victoria membuat Zhoumi kembali berpijak. Ia langsung menatap Victoria penuh tanya. Ia mempunyai banyak tanda tanya yang harus dihilangkan.

“Tadi anak siapa?” Tanya Zhoumi ragu-ragu.

“Jelas-jelas Kevin tadi memanggilku Eomma.”

Zhoumi terkejut akan pengakuan Victoria. Kekhawatirannya benar, jika yang tadi itu anak Victoria. Dengan pernyataan itu, timbullah pertanyaan baru.

“Siapa ayahnya? Kangta hyung?”

“Apakah wajah Kevin terlihat seperti Oppa?” Sinis Victoria. “Dia memanggilnya abeonim karena dari lahir, Oppa membantuku mengurusnya sehingga Ia anggap Oppa seperti ayahnya sendiri.”

“Hah? lalu si-siapa? Kkk..kau sudah menikah?”

Victoria merentangkan tangannya ke hadapan Zhoumi. Ia membalik-balikkan telapak tangannya. Dilihatnya jarinya satu persatu. “Apa ada cincin dijari manisku ini?”

Zhoumi menelan ludahnya. Hatinya mengatakan ada yang tak beres. Perasaannya semakin gelisah. Ia mulai berkeringat dingin.

“Ja-ja-jadi… Ke-kevin a-a-nak siapa?” Tanya Zhoumi tergagap.

“Sudah kubilang, dia anakku!” Sentak Victoria.

“Mak-maksudku… eu…” Zhoumi tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Kata tersebut sudah sampai diujung lidahnya, tapi tiba-tiba saja kata itu tersendat. Ia memiliki kekhawatiran yang luar biasa. Ia takut mengetahui fakta yang selama ini tersembunyi, namun hatinya memberitahunya agar Ia thau fakta yang tersembunyi mengenai Victoria.

“Eu… Ayahnya?” Akhirnya kata itu bisa keluar juga dari jeruji lidah Zhoumi.

“Tak sadarkah kau saat melihat wajahnya? Sorot mata dan senyumnya begitu mirip ayahnya. Hidungnya pun terwariskan dari ayahnya. Kevin has good looking.”

Dahi Zhoumi penuh lipatan-lipatan kulit. Zhoumi kembali mengingat saat Ia memperhatikan wajah Kevin. Memang saat melihat Kevin Ia seperti melihat sesuatu. Sesuatu yang memanggil jiwanya, namun Zhoumi ingin menyangkal. Hal ini membuat Zhoumi memiliki sebuah prakiraan. Zhoumi harap prakiraannya itu hanya sebuah kekhawatiran, bukanlah fakta.

“Aku tak memperhatikan wajah Kevin.” Bohong Zhoumi.

Perhatian Victoria terfokus pada tablet putihnya. Tak berapa lama Victoria menyodorkan tabletnya kehadapan Zhoumi. Zhoumi memperhatikan layar tablet. Layar tersebut menampilkan foto Kevin yang sedang tersenyum polos.

“Perhatikanlah wajahnya. Setiap detailnya perhatikanlah, maka kau akan menyadarinya.”

Zhoumi memandangi foto Kevin. Dilihatnya baik-baik setiap detail muka Kevin. Ia tercekat menyadari apa yang sedang yang Ia lihat. Matanya melebar dengan mulut agak menganga. Zhoumi menyadari sesuatu. Perasaannya mendadak menjadi kacau. Pikirannya kini menjadi carut marut.

Melihat ekspresi Zhoumi, Victoria tahu jika Zhoumi telah menyadarinya.

“Bagaimana? Benar kan kalau Dia sangat mirip denganmu?”

Zhoumi terdiam mendengar itu. Otaknya sulit mencerna fakta tersebut.

“Mungkin kamu bingung, kenapa bisa genmu bisa terdapat pada Kevin?” Victoria mencoba membuka kenangan.

“Ingatkah kau malam itu? Berawal dari sebuah permainan bodoh yang membuat kita berdua pikiran kita melayang?”

Zhoumi mencoba mengingat masa yang dikatakan Victoria. Otaknya mencoba memutar kembali kenangan terdahulunya. Sejujurnya Zhoumi tak pernah melupakan hari itu. Iya betul-betul mengingat malam itu dimana mereka sedang berkumpul dengan teman-teman dan bermain truth or dare dimana seseorang yang tak mau jujur harus meminum segelas penuh beer. Zhoumi dan Victoria sama minum banyak, tetapi Victoria tak semabuk Zhoumi sehingga Victoria mengantar Zhoumi pulang. Saat mabuk itulah mereka saling mengungkap isi hati masing-masing dan akhirnya terjadilah pemuasan hasrat nafsu dan cinta yang menggebu malam itu. Apartemen Zhoumi adalah saksi bisu kejadian itu semua.

Zhoumi benar-benar bingung dengan kenyataan yang ada. Ia tak tahu harus berbuat apa. Jantungnya kini berdegup sangat cepat. Carut marut pikirannya makin kusut dalam benaknya. Hatinya terasa perih mengingat malam itu. Zhoumi pun menyadari hasil dari hasrat nafsunya empat tahun yang lalu. Sebuah yang sebenarnya adalah anugerah tetapi baginya itu merupakan sebuah masalah yang tak tahu harus Ia apakan.

Zhoumi mengangguk. “Aku mengingatnya, tapi kenapa kau tak menghubungiku? Tiga bulan setelah malam itu kau menghilang! Bagaimana aku tahu kalau kejadian malam itu berbuahkan hasil?”

“Aku sengaja melakukan itu.” Jawab Victoria dengan dingin namun matanya mulai menunjukkan sebuah kesenduan.

“Ke-ke-kenapa?”

“Aku tahu malam itu hanyalah sebuah permainan, bukan datang dari hati, jadi aku tak mungkin minta pertanggungjawabanmu.”

“Permainan? Kau hanya menganggap itu sebuah permainan? Bagaimana dengan ungkapan cinta kita masing-masing?” Zhoumi tak terima jika malam itu disebut sebagai permainan.

“Ungkapan cinta kita masing-masing itu hanya ungkapan alam bawah sadar yang tak sengaja. Lagian dulu kau saat melakukan itu kau sedang berpacaran dengan Fei. Aku tahu kau melakukan itu hanya karena rasa tertarik dan nafsumu saja. Kau tak benar-benar mencintaiku.” Victoria mencoba terlihat biasa saja, namun tetap saja matanya tak bisa berbohong. Matanya menunjukkan rasa sedih saat mengatakan itu.

Zhoumi menggeleng. “Tidak… Dengan Fei lah aku bermain-main. Justru perasaanku padamu itu yang serius!”

“Kalau kau serius denganku kenapa kau melakukan itu?”

Zhoumi menunduk. Ia memejamkan matanya sesaat. Dihela nafasnya dengan berat. “Karena aku benar-benar mencintaimu. Walau aku mabuk, tapi aku sadar dengan apa yang kulakukan. Aku tak pernah mau melakukan lebih jika aku tak mencintai wanita itu. Menyentuh bibir Fei pun tak kulakukan. Hubunganku dengan Fei hanya 2 bulan. Aku hanya bermain-main dengannya! Victoria, kaulah wanita yang pertama yang aku sentuh.” Zhoumi mengatakan hal itu dengan mata berkaca-kaca. Sungguh Ia sangat mencintai Victoria bahkan empat tahun tak bertemu pun, Ia tetap mencintai Victoria.

“Kalau kau benar mencintaiku kenapa saat aku menghilang kau tak berusaha mencariku?”

“Sudah kulakukan! Aku mengunjungi apartemenmu, tapi kosong! Ku bertanya pada tetangga-tetanggamu, satpam, teman-temanmu tak ada yang tahu keberadaanmu! Kau sangat pintar bersembunyi. Sekarang aku ingin bertanya, jika kau menganggap itu permainan, kenapa kau mau melakukannya?”

“Karena…” Victoria tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Matanya tampak mulai terlihat genangan air. Ia berusaha menahan itu. Ia memalingkan mukanya pada Zhoumi. Ia tak mau menjawab sambil melihat Zhoumi. “Aku pun terlena oleh rasa nafsu. Ya hanya bermain-main. Aku tak serius.”

Zhoumi tak percaya dengan pengakuan Victoria. Ia pun berusaha memancing lagi. “Jika kau anggap itu permainan, kenapa tak kau gugurkan?”

“Aku yang bermain maka aku harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan. Aku bukanlah pembunuh. Mana tega aku harus membunuh manusia yang tak bersalah, yang tak tahu apa-apa.” Victoria menjawab dengan suara yang serak dan berat.

“Hanya itu alasanmu? Bukan karena ada darahku yang mengalir pada tubuh anak itu sehingga kau mempertahankannya?”

“Bukan.” Geleng Victoria cepat. Wajah Victoria kini tak terlihat lagi dingin. Wajahnya kini menjadi begitu mendung. Matanya memandang kosong ke bawah. Tampak otaknya juga sedang berkecamuk. Otak dan hatinya sedang tak sinkron. Otaknya menyuruh untuk berbohong, sedangkan hatinya memintanya untuk mengungkap kebenaran hatinya, namun lidahnya lebih memilih untuk menuruti otaknya.  Itulah yang menyebabkan wajahnya yang mendung tak berani menatap Zhoumi.

“Lihat aku! Katakan sekali lagi sambil menatapku!” Pinta Zhoumi.

Victoria menggigit bibirnya. Ia tak bisa melakukan itu. Jika melakukan itu topeng yang sudah Ia pasang saat bertemu Zhoumi terbongkar sudah.

“Kenapa tak kau lakukan? Kau takut ketahuan berbohong?”

Ucapan Zhoumi yang benar adanya membuat Victoria bimbang. Ia ingin Zhoumi berpikir bahwa Dia membesarkan Kevin karena rasa tanggung jawab, bukan karena ada gen Zhoumi pada diri Kevin. Victoria pun meyakinkan dirinya. Ia menarik nafasnya kemudian menatap Zhoumi dan mencoba menata ekspresi dingin walau dengan susah payah.

“Aku membesarkan Kevin karena rasa tanggung jawabku, bukan karenamu!” Seru Victoria dengan mata yang terlihat mantap, walau hatinya terasa pilu.

Zhoumi sedih mendengar itu. Ia pun mencoba mengalihkan ke pertanyaan lainnya yng masih berderat di otaknya.

“Saat dia bertanya tentang ayahnya. Apa yang kau jawab? Kau tak bilang bahwa kau lari dariku atau aku tak bertanggung jawab kan?”

“Tenang saja tidak kok. Aku bilang bahwa ayahnya telah meninggal,” Jawab Victoria sambil menerawang.

“Kevin sedih sebenarnya dengan hal itu, tapi itu tak begitu mengganggunya. Lagipula dengan kehadiran Kangta Oppa mengobati rindunya pada sosok ayah. Tanpa sosok ayah kandung Kevin tumbuh dengan baik. Ia anak yang baik,penurut, dan juga cerdas. Ia sangat menggemaskan membuat orang-orang disekitarnya ingin mencubitnya. Walau membesarkannya penuh perjuangan, baik aku maupun Kevin sama-sama nyaris kehilangan nyawa. Saat melahirkannya teramat menyiksa. Saat lahir pun jantungnya bermasalah. Beruntung Tuhan masih memberinya kesempatan. Operasi menyembuhkannya hingga kini Ia tumbuh normal seperti anak lain. Aku sangat bahagia memilikinya” Lagi-lagi suara Victoria tampak serak dan berat. Ia agak tersendat-sendat saat mengatakan hal tesebut, tapi Ia berusaha menjaga ekspresinya tetap dingin.

Zhoumi termenung. Ia membayangkan hidup Victoria selama empat tahun ini. Betapa beratnya hidup Victoria selama tiga tahun harus membesarkan seorang anak seorang diri. Betapa sulitnya menghadapi cobaan saat Kevin dalam keadaan tidak baik. Betapa sabarnya dan tabahnya saat Kevin masih berada dalam rahim Victoria. Victoria harus menutup telinganya dari semua cibiran orang mengenai statusnya sebagai single parents. Ia harus mengeraskan hatinya saat ada orang yang menghinanya karena Ia tak bersuami. Ia harus siap berkelit jika ditanya dimana ayah Kevin. Hati Zhoumi terasa miris. Dengan membayangkan itu semua, Zhoumi dapat merasakan betapa perihnya hati Victoria saat menjalani itu semua.

Mengingat itu semua membuat Zhoumi menjadi berpikir. Ia berusaha menenggelamkan hati dan otaknya dalam benaknya. Ia berusaha memusatkan pikirannya dengan hatinya. Sebenarnya semenjak Zhoumi mengetahui fakta tersebut, nuraninya sebagai manusia dan pria dewasa sudah memberikan jawaban, namun Ia belum yakin. Dalam hati kecilnya Ia merasa takut. Ia takut tak sanggup dan tak siap. Namun Zhoumi mengingat kembali kehidupan Victoria selama empat tahun belakang. Hidup Victoria pasti terasa berat dan sulit selama itu. Atas pertimbangan itu dan juga atas rasa sayangnya pada Victoria, kalimat yang selanjutnya terluncur begitu saja dari lidahnya.

“Vic, biarkan aku menjadi ayah Kevin. Biarkan aku bertanggung jawab.”

Mulut Victoria terbuka lebar. Matanya pun ikut melebar. Jelas-jelas Victoria terkejut mendengar keinginan Zhoumi itu.

Victoria seketika langsung menggeleng. Ia menolaknya mentah-mentah. “Tidak! Sudah kubilang aku takkan meminta pertanggung jawabanmu! Aku akan menanggung itu semua sendiri!”

“Kau jangan menanggung itu semuanya sendiri! Berbagilah denganku! Aku ingin bertanggung jawab. Aku ingin mengurus darah dagingku sendiri! Aku ingin diakui oleh gen penerusku sendiri!”

“Sudahlah! Waktu itu kita hanya bermain! Jadi kau tak perlu bertanggung jawab!”

“Mengapa kau tak mau? Kau benar-benar tak mencintaiku?”

Victoria terdiam mendengar itu. wajahnya berubah menjadi lesu. Ia menundukkan kepalanya dan berkata dengan lirih. “Maafkan aku Zhoumi. Hidupku kini kuserahkan seluruhnya untuk Kevin. Aku hanya akan bersama pria pilihan Kevin, dan itu adalah Oppa dan lagipula Aku sudah melupakanmu” Saat mengatakan melupakan, Victoria menelan ludahnysa sendiri.

“Kamu merelakan hatimu bersama orang yang tidak kamu cintai hanya demi Kevin? Plese kasih aku kesempatan untuk mengenal Kevin. Akan kurebut hatinya, kita bisa bersama! Vic, percayalah padaku. Aku benar-benar mencintaimu. Walau aku suka bermain-main dengan wanita tapi wanita yang aku cintai hanya kamu!”

“Enggak bisa, Zhoumi. Aku menyukai Oppa. Perhatiannya selama ini dan kebaikkannya membuat hatiku luluh.” Aku Victoria sambil melihat ke atas. Ia tak berani menatap Zhoumi.

Zhoumi langsung memegang tangan Victoria. Ia menatap Victoria dengan dalam dan tajam. “Katakan sekali lagi sambil melihat mataku.”

Victoria diam terpaku. Ia tak berani melakukan itu. Ia pun menolak dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Zhoumi, namun tak berhasil karena genggaman Zhoumi yang cukup kuat.

“Tatap mata aku. Katakan kalau kau tak mencintaiku.” Tantang Zhoumi.

Victoria akhirnya berani menatap Zhoumi, namun sorot matanya menyiratkan suatu kecemasan. Victoria menepis tangan Zhoumi dengan keras. “Sudahlah ini semua sudah berakhir sejak lama! Kevin takkan mau! Hidupku hanya untuk dia! Aku rela melakukan apapun demi dia!”

Ditengah obrolan serius itu terdengar lagi ringan nan nyaring. Pertama kali mendengarnya terasa menggangu, namun kini suara itu bagi Zhoumi tak lagi menganggunya, malahan terdengar begitu merdu dan rasanya Ia ingin mendengar suara itu terus.

Kevin dan Kangta datang menghampiri mereka berdua. Seperti biasa Kevin langsung bergelayut manja pada ibunya itu.

Zhoumi memperhatikan Kevin yang bermanja-manja pada Vicotria. Terlintas rasa iri alam hati Zhoumi Ia pun ingin merasakan Kevin yang bermanja-manja pada dirinya.

“Vic, izinkan aku memeluknya sekali saja.” Zhoumi meminta dengan wajah yang memelas.

Victoria tampak ragu akan permohonan Zhoumi. Ia melihat Zhoumi dan Kevin secara bergantian. Melihat Zhoumi dan Kevin benar-benar menyadarkan Victoria jika mereka ada hubungan darah. Betapa miripnya Kevin dengan Zhoumi. Victoria sadar jika Zhoumi sebagai ayah biologis mempunyai hak tersebut. Victoria pun mengiyakan keinginan Zhoumi.

Ahjussi boleh peluk Kevin enggak?” Tanya Zhoumi sembari membelai rambut Kevin.

Eomma?” Kevin berbalik pada ibunya dan menunjukkan wajah sedikit ketakutan.

“Enggak apa-apa kok. Dia teman Eomma kok. Dia baik. Ayo peluk dia.” Sahut Victoria menenangkan Kevin.

Zhoumi pun langsung memeluk Kevin. Digendong pulanya darah dagingnya itu. Zhoumi membelai Kevin dengan sayang. Darah memang lebih kental dari air. Walah baru bertemu, Zhoumi merasa sangat menyayangi anaknya itu. Ia tak mau melepasnya.

Zhoumi menatap Kevin. Benar-benar, saat menatap Kevin, Ia seolah menatap dirinya sendiri. Gen dirinya benar-benar terwarisi pada Kevin. Hatinya menjadi terasa sesak. Ia merasa perih karena tak bisa menemani anaknya itu. Secara otomatis kata maaf meluncur dari mulutnya.

Mianhae Kevin-ah.”

Kevin yang tak tahu apa-apa hanya menatap Ahjussi yang sebenarnya ayahnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Melihat wajah bingung Kevin, Zhoumi pun tersenyum.

“Ah sudah abaikan kata-kata Ahjussi tadi.” Hati Zhoumi terasa teiris harus memanggil dirinya sendiri Ahjussi di depan penerusnya itu. “Kevin kamu berapa tahun sekarang?”

“Kata Eomma bulan depan aku ulang tahun yang ketiga.” Jawab Kevin polos.

“Kamu sebelumnya sudah pernah lihat wajah Ahjussi enggak? Rasanya akrab enggak sih sama wajah Ahjussi?”

Kevin menggeleng. Zhoumi sadar jika Kevin tak menyadari kemiripan wajah mereka. Wajar saja karena Kevin masih kecil. Zhoumi pun merasa sedih lagi.

“Kevin ingin punya ayah enggak?” Zhoumi berdegup saat menanyakan hal tersebut.

“Mau…” Betapa senangnya Zhoumi mendengar tersebut, namun itu tak berlangsung lama karena Kevin melanjutkan perkataannya.

“Mau, tapi harus Kangta Abeonim.

Zhoumi terkejut. “Kenapa harus Kangta Abeonim?”

“Soalnya Abeonim baik banget sama Kevin apalagi sama Eomma. Abeonim suka beli mainan buat Kevin.” Jawab Kevin benar-benar polos. Ia tak tahu apa-apa. Yang Ia ucapkan benar-benar dari lubuk hatinya. Dengar jawaban Kevin membuat wajah Kangta terlihat agak bersalah.

“Kalau ada orang lain yang baik juga sama Kevin sama Eomma, terus dia juga beli mainan buat Kevin, Kevin mau enggak kalau orang itu jadi ayah Kevin?”

Kevin menggeleng dengan keras.

“Kenapa enggak mau?” Wajah Zhoumi mulai terlihat kacau.

“Enggak mau! Enggak kenal!”

“Kan bisa kenalan dulu.” Balas Zhoumi.

Sayangnya Kevin tetap bersikukuh pada jawabannya. “Enggak mau. Kevin maunya yang jadi ayah kevin Kangta Abeonim.”

Mendapat jawavan seperti itu, Zhoumi merasa separuh jiwanya pergi. Hatinya yang telah patah karena ditolak Victoria kini makin hancur berkeping-keping. Bahkan anaknya sendiri pun menolaknya.

“Hoo… begitu ya.” Zhoumi mengerakkan kepalanya kebawah dan keatas. “Kevin, ahjussi cuman mau nitip pesan ya. Jadi anak yang baik, nurut sama Eomma. Jangan sampai Eomma sedih. Kalau ada yang jahat sama Eomma, Kevin harus bela Eomma. Kamu harus tumbuh dengan baik agar bisa melindungi diri sendiri dan Eomma.  Jangan nakal ya Kevin. Mengerti?” Zhoumi memberikan pesan pada Kevin sebagai bentuk kasih sayangnya yang tak tersalurkan.

Ne ahjussi. Kevin mengerti.” Angguk Kevin.

Good boy.” Zhoumi mengusap-usap rambut Kevin. “Eu… Kevin. Kalau kapan-kapan ahjussi ingin ketemu sama Kevin, boleh enggak?”

Kevin mendelik pada ibunya meminta jawaban atas permintaan Zhoumi. Victoria agak bimbang untuk memberi izin. Ia takut jika Kevin nantinya akan tahu kalau Zhoumi ayah kandungnya dan akan merasa terluka. Victoria pun takut kalau cerita lamanya akan terbuka kembali. Namun saat melihat wajah Zhoumi yang tampak memelas, Ia menjadi tak tega. Lagipula Ia tersadar saat melihat wajah Kevin yang tampak serupa dengan Zhoumi.

“Terserah Kevin. Kalau Kevin mau, Eomma takkan melarang.” Sahut Victoria,

Kevin tampak menimbang-nimbang. Akhirnya Kangta ikut menyahut.

Ahjussi ini baik kok. Dia loh yang punya mall ini. Kalau kamu mau mainan apapun yang ada disini pasti dikasih.” Kangta membantu untuk membujuk Kevin dan berhasil. Kevin terlihat tertarik.

“Apakah itu benar ahjussi?” Tanya Kevin dengan mata yang melebar. Terlihat sekali Ia sangat antusias.

Sambil tersenyum Zhoumi mengangguk.

“Mau!” Teriak Kevin girang. “Ahjussi boleh ketemu Kevin kapanpun, asalkan Kevin bisa dapat mainan dari sini.”

“Pasti, Kevin. Janji?” Zhoumi mengulurkab kelingking kanannya pada Kevin.

“Janji!” Kevin membalasnya. Kini kelingking mereka saling tertaut. Setelah itu Zhoumi menurunkan Kevin dari gendongannya.

“Ayo Eomma, kita main!” Kevin menarik-narik lengan Victoria.

“Sudah tak ada yang perlu dibicarakan lagi kan?” Ucap Victoria sambil membereskan barang-barangnya ke dalam tas.

Zhoumi menggeleng lemah.

“Sudah kubilang kita tak di takdirkan bersama, Zhoumi. Walau terikat Kevin, kita tak bisa bersama. Takdir kita hanya mendapat titipan tapi tak mengurus itu secara bersamaan. Selamat tinggal.” Ujad Victoria seraya pamit pergi pada Zhoumi.

Zhoumi pun hanya bisa menatap kosong kepergian Victoria. Kevin sudah menolak dirinya. Kini Ia tak bisa berbuat apa-apa.

Kevin tampak sedang asyik bermain diantara ratusan bola-bola kecil plastik yang berada di sudut ruangan tempat bermain tersebut. Kangta dan Victoria mengawasinya dari luar jaring yang membatasi kolam bola tersebut. Sambil mengawasi, Victoria bercerita pada Kangta obrolan yang tadi terjadi antaranya dan Zhoumi.

“Mengapa kau menolaknya? Terlihat jelas dari wajahmu sebenarnya kau memiliki keinginan yang sama.” Tanya Kangta.

“Dari awal aku memang tak berniat untuk meminta pertanggung jawabannya, walau aku tahu jika dulu aku meminta padanya mungkin saja dia mau, tapi jika itu terjadi, aku dan Kevin hanyalah penghalang bagi karirnya.” Victoria menghela nafasnya sejenak. “Aku hanyalah seorang wanita biasa yang merantau dinegeri orang untuk mencapai impiannya sebagai desainer, sedangkan dia adalah seorang pewaris tonghan grup. Seharusnya dia menikahi wanita pewaris juga.” Wajah tertekuk Victoria saat mengatakan hal tersebut.

“Jadi alasanmu masih tetap sama?”

Victoria mengiyakan pertanyaan Zhoumi. “Dari dulu sebenarnya aku tahu. dia memang suka bermain dengan wanita, tapi saat bersamaku dia berbeda. Aku menyadari ketulusannya. Jadi sebenarnya permainan bukanah alasannya. Seperit yang tadi kubilang dan yang Oppa tahu alasanku kaena aku tak mau jadi penghalang.”

Kangta merangkul Victoria yang mulai merasa sendu. Ia berusaha menenangkan Victoria. Hati Victoria yang daritadi terasa sesak, kini Ia luapkan dihdapan Kangta.

“Saat melihatnya menggendong dan berbicara dengan Kevin, aku tahu dia dapat menjadi ayah yang baik. apalagi saat dia berpesan pada Kevin untuk menjagaku, aku benar-benar dapat merasakan ketulusannya. Saat itu aku menjadi memiliki khayalan untuk memiliki keluarga kecil dengannya, tapi kemudian aku sadar itu tak mungkin.” Tak terasa air mata Victoria kini mulai bergulir berjatuhan dari pelupuk matanya. Hatinya benar-benar sesak dan sakit. Ia ingin menumpahkan segalanya.

Sembar terisak Ia melanjutkan kembali curahan hatinya. “Saat aku bilang aku sudah melupakannya, itu benar-benar dusta besar. Setiap hari, setiap melihat Kevin aku selalu mengingatnya. Aku takkan pernah bisa melupakannya. Kevin lah hasil rasa cintaku padanya. Jika aku tak mengingat dirinya takkan kubesarkan Kevin. Sungguh Kevin hadiah terbesar darinya untukku.”

“Kalau kamu masih sayang sama Zhoumi, mending kita batalkan saja rencana pernikahan kita. Aku enggak mau kamu tersiksa sama perasaan kamu sendiri. Aku enggak mau kamu merasa menyesal karena telah menikahiku.” Ujar Kangta.

Andwaeyo, Oppa. Kita tetap harus menikah. Tak dengarkah jawaban Kevin tadi? Ia sangat berharap kau ayah bagi dirinya.” Tolak Vicoria keras.

“Bagaimana dengan dirimu? Kau tak mencintaiku. Jika kau menikah denganku hatimu pasti takkan merasa tenang. Kau akan tersiksa. Aku tak mau itu.”

Oppa, aku memang belum bisa mencintaimu, tapi percayalah aku benar menyukaimu. Semua kebaikanmu meluluhkan hatiku. Kau berhasil membuatku tak begitu memikirkan Zhoumi, walau ya sejujurnya Dia masih ada di hatiku.” Lirih Victoria seraya menunduk.

Kangta menggenggam tangan Victoria. “Aku ingin menikahimu bukan hanya agar bisa menjadi sosok ayah bagi Kevin, tapi aku ingin menjadi sosok suami bagimu. Tanpa menikahimu pun aku sudah tetap menjadi sosok ayah bagi Kevin. Untuk menjadi sosok suami bagimu, aku ingin dirimu juga merasa menjadi sosok istri bagiku dengan setulus hati. Jika kau mencinta orang lain, kau takkan bisa melakukan hal itu. kumohon kau juga harus memikirkan dirimu,Vic. Kembalilah pada Zhoumi.” Sanggah Kangta.

Victoria menggeleng. “Hidupku kini kuserahkan semuanya untuk Kevin. Seorang Ibu pasti rela melakukan apapun demi anaknya, begitpun aku. Kevin maunya kau yang jadi ayahnya, aku akan mewujudkan hal itu, lagipula aku akan belajar mencintaimu. Percayalah.”

Victoia menyenderkan kepalanya di bahu Kangta sembari melingkarkan lengannya dilengan Kangta. Mata Victoria kini terlihat jika dirinya pasrah dengan semuanya. Kangta pun akhirnya membelai rambut Victoria dan mengenggam tangannya erat. Merreka berdua memperhatikan Kevin yang sedang bermain dengan bibir terlengkung di wajahnya mereka masing-masing. Tujuan mereka berdua kini sama, yaitu membahagiakan Kevin.

—The End—

Tuesday , May 13, 2014

11:13 PM

Aku bikin ff ini lama banget, ada kali tiga minggu mah. Aku ngerjian ini sebagaian besar di memo hape pas lag perjalanan pulang dari kampus ke rumah di damri. Aku lagi agak gak mood nih, aaah bantu aku kembalikan moodku ini. berhubung lagi gak mood buat nulis. Enggak rame ya? ah sdahlah. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

 

Iklan

2 thoughts on “[FF] GEN

  1. ah.. qo sad end thor? 😥 syeudih zhoutoria g bersatu 😥 ff nya keren bgt aku suka 😀 tpi kalo blh aku saran,kalimat2 yg g formal kya contoh “engga” tlg d ganti jdi “tidak” biar lbh enak d bca 😀 ok keep writing 😀

    • waktu nulis itu pengen sesuatu yg mellow jadi sad end deh hehehe
      aku lebih suka pake enggak, soalnya biar agak ga bgitu kaku, tapi terimakasih sarannya ^^ makasih juga udah mau baca ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s