[FF] Bracelet

Title               : BRACELET

Rate               : 13+

Genre             : FLUFF, ROMANCE

main Cast     : KIM JONGIN EXO

OTHER CAST   : DO KYUNGSOO EXO, JUNG SOOJUNG F(X)

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH punya

Disclaimer   : ada yang pernah marah-marah sama saya gara-gara kaistal. Kata dia sih ngapain sih ngeshippin mereka, belum tentu bener juga. Ya aku sih ngeshippin mereka karena aku suka aja sama mereka, chemistry mereka sekuat yoonhae, khunfany wkwkwk, tpi ya terlepas dari itu, aku ngeship mereka hanya sekadar fun aja, ga ampe yang maksa bgt krystal harus sama kai, kai harus sama krystal! Enggak gitu. Ya terserah mereka mau pacaran sama siapa aja, ya tapi aku sih syukur dan seneng klo mereka beneran, HAHAHAHA *evil laugh*, tetapi ya sudahlah kan ship-ship gini mah bebas,semau kita gada yg larang, kecuali yg kita ship adalah sodara kandung, jadi ya suka-suka kita. Kita boleh berkhayal, got it kan? Jadi yak lo aku sering bikin kaistal ya krna suka aja, dan sekali lagi aku ga maksa kalau kai harus sama krystal atau sebaliknya yaaa! Aduh maaf panjang inih pengantarnya.  SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

 

Jongin menatap dua buah gelang yang beranyamkan tali kur dengan hiasan cangkang siput tersematkan diatasnya. Pancaran matanya terlihat ada kebingungan dan sedikit rasa sesal. Ia menyesali kenapa Ia tak tegaan dan dengan mudah kasihan dengan orang.

Sejam yang lalu Ia keluar untuk membeli beberapa makanan kecil ke minimarket. Saat Ia baru saja melangkah kaki keluar dari minimarket, tiba-tiba ada seorang nenek menghampirinya. Nenek itu tampak lesu, dan dari wajah tergurat dengan jelas rasa lelah dan putus asa. Pakaiannya agak lusuh, punggungnya yang agak bungkuk makin terlihat bungkuk karena Ia harus menanggung beban tas yang Ia bawa. Tas itu tak begitu besar, tapi cukup berat tampaknya.

“Anak muda, kemari!’ Panggil nenek tersebut sembari jalan menghampiri Jongin. Jongin pun menghampiri nenek itu dengan bingung.

“Kamu punya pacar enggak?” Tanya nenek itu dengan serius. Jongin menggeleng.

“Ah tapi ada orang yang kau suka kan?”

Jongin menatap nenek tersebut dengan pandangan bingung. Untuk apa nenek tersebut menanyakan hal pribadi seperti itu,, padahal mereka tak pernah saling kenal. Jongin diam tak menjawab.

“Haish, anak muda ini tak sopan sekali! Jangan diam saja, jawab pertanyaanku!” Gertak nenek itu kesal sambil memukul lengan Jongin. Mau tak mau Jongin pun menjawab.

“Eu… iya ada.” Angguk Jongin dengan muka memerah. Setiap membayangkan wanita idamannya pasti muka Jongin memerah.

“Ah baguslah!” Lega nenek. “Kau pasti ingin bisa bersama orang yang kau sukai itu kan?”

Jongin kembali mengangguk bingung.

Nenek itu membuka resleting tas yang Ia jinjing tadi, Ia mengeluarkan dua buah gelang yang kini menjadi miliknya. Nenek itu menyodorkan gelang tersebut padanya. “Ah kalau begitu belilah gelang ini, nak. Gelang ini buatanku sendiri dan sudah kuberi doa di kuil. Gelang ini dapat menjadi jimat cinta! jika kamu dan orang yang kamu sukai akan bersatu dan kekuataan cinta kalian akan bertahan selamanya. Aku menjualnya khusus padamu hanya 250 won saja untuk dua gelang. Aku biasanya menjual 300 won”

Jongin menatap gelang tersebut dengan tatapan aneh. Dahi terlihat jelas mengkerut saat mendengar penjelasan sang nenek. Sejujurnya Ia tak percaya dengan hal seperti itu. Ia pun memutuskan untuk menolaknya, namun Ia menjadi ragu saat melihat mata nenek tersebut. Mata sang nenek terlihat jelas begitu berharap besar pada Jongin. Jongin pun menjadi tak tega.

“Hm… kalau begitu aku beli satu saja ya nek gelangnya.” Ujar Jongin.

Nenek itu menggerakkan jari telunjuk kanannya ke kiri dan ke kanan. “aniya! Tidak bisa! Jika kua ingin gelang ini berfungsi sebagai jimat kau harus membeli keduanya dan memberikan gelang yang satunya pada gadis yang kau sukai. Ayolah anak muda belilah kedua gelang ini.”

Jongin melihat penampilan nenek yang ada dihadapannya. Nenek tersebut tampaknya sudah bejalan cukup jauh membawa dagangannya. Nenek itu tampak sesekali memegangi pinggang dan kakinya. Mata nenek tersebut masih memancarkan secercah harapan pada Jongin. Jongin menghela nafasnya. Ia tak tega melihat nenek itu. Ia jadi membayangkan bagaimana jika itu adalah neneknya sendiri. Dengan niat menolong akhirnya Jongin merogoh saku celananya mengeluarkan 250 won. Tanpa banyak bicara Ia langsung memberikan uang itu pada nenek tersebut, dan nenek tersebut sangat berterima kasih pada Jongin karena telah mau berbaik hati membeli dagangannya.

Kini Jongin agak menyesali kebaikan hatinya tadi. Ia bingung apa yang harus Ia lakukan dengan gelang tersebut. apa Ia harus benar-benar memberikannya pada gadis yang Ia sukai? Sayangnya Jongin tampaknya tak punya keberanian untuk melakukan hal itu. Ataukah Jongin harus membuang gelang tersebut? tapi Ia mengingat perkataan nenek tadi jika nenek tu membuat gelangnya sendiri. Rasanya terlalu kejam jika Ia membuang jerih payah nenek tersebut, dan lagipula Ia merasa sayang dengan uang 250 wonnya. Ia tak mau 250 wonnya itu sia-sia. Atau pilihan lainnya, Ia memberikan kedua gelang tersebut pada pasangan lain. Huh… tapi Jongin merasa tak rela untuk melakukan itu. Tetap saja dala lubuk hatinya Ia ingin memberikan gelang itu pada gadis itu.

Jongin pun meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi LINE. Jarinya mengetikan sebuah nama. Nama yang Ia cari pun tertera di layar ponsel. Ibu jarinya bersiap untuk menyentuh nama tersebut untuk mengirim pesan, namun entah mengapa rasanya ibu jarinya tak mau bergerak. Jempolnya mendadak terasa kaku.nyalinya kembali ciut. Dengan kesalnya Ia melempar gelang ke sofa yang Ia duduki. Jongin mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Untuk melepas rasa kesalnya Jongin berteriak.

Kyungsoo yang baru membuka pintu kamarnya setelah bangun dari hibernasinya terkejut melihat Jongin berteriak. Kyungsoo segera menghampiri Jongin dengan khawatir.

“Terjadi sesuatu?” Panik Kyungsoo sambil duduk disebelah Jongin.

Jongin menggeleng lemah.

“Terus kenapa kamu teriak? Kayak yang histeris. Bikin kaget orang, tahu!” Protes Kyungsoo.

Jongin diam menatap Kyungsoo dengan muka sinis bercampur sebal. Kyungsoo jelas makin tak mengerti diberi tatapan seperti itu.

“Kenapa kau memberiku tatapan seperti itu?”

Jongin langsung memukul bahu Kyungsoo dengan keras. Sudah asti Kyungsoo langsung meringis dan protes.

“Ya! Kenapa kau memukulku?” Protes Kyungsoo sebal.

“Kau menduduki gelangku!”

Kyungsoo pun langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia mengambil gelang yang telah Ia duduki dan melihatnya dengan tatapan tak percaya sekaligus remeh. “Ya ampun, cuman gelang ini. biasa aja kali, enggak usah histeris.”

“Ini tuh enggak cuman, tapi…” Jongin tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

“Tapi kenapa?”

Jongin diam tak menjawab. Matanya terus menatap gelang itu dengan tatapan kosong bercampur galau. Melihat skap Jongin, Kyungsoo pun mengerti apa yang membuat Jongin tadi berteriak hingga mengagetkannya.

“Gara-gara gelang ni tadi kamu teriak? Ada sesuatukah tentang gelang itu?” Tanya Kyungsoo penasaran.

Jongin menghela nafasnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa. Ia pun akhirnya menceritakan semuanya. Bagaimana Ia bisa mendapat gelang tersebut hingga kegalauannya mengenai nasib gelang tersebut.

Mendengar permasalahan Jongin, Kyungsoo langsung menanggapinya dengan cepat. “Kenapa harus bingung coba? Untuk apa kamu galau? Jelas-jelas hati kamu bilang kalau kamu harus memberikan gelang itu padanya. Tadi kamu marah kan gara-gara aku menduduki gelanng itu eara tak sengaja. Itu artinya kamu menganggap gelang itu sangat berharga. Jadi untuk apa kamu berpikir-pikir lagi? Berikan saja pada dia!”

“Ya tapi kan kau tahu, aku tak bisa semudah itu memberinya begitu saja. Aku terlalu…” Jongin tak sanggup melanjutkan perkataannya. Ia merasa payah jika mengatakannya, tapi nyatanya walau Ia tak mengatakannya, Jongin memang merasa dirinya sudah payah.

“Terlalu malu? Terlalu kaku? Huh, dasar bodoh! Payah! Kamu itu lelaki bukan sih?” Cibir Kyungsoo dengan tatapan mengejek.

Jongin mengangguk lemah. “Lagipula aku tak tahu dia akan menyukainya apa tidak. Bagaimana jika Ia tak menyukainya? Bisa gagal pendekatanku selama ini!”

“Kalau belum dicoba kan kita enggak akan tahu. kamu jangan mengkhawatirkan apapun yang belum terjadi! jadi coba saja!” Kyungsoo memberi semangat.

“Lagipula, kalau aku memberinya ini aku tak tau waktu yang tepat kapan. Libur kita hanya hari ini, besok hingga minggu depan kita padat. Dia juga sama padatnya.” Lirih Jongin lemas. Nadanya bicara sedikit terdengar putus asa.

“Ya sudah di lain hari saja.” Usul Kyungsoo.

“Keburu basi. Keburu gelangnya jadi jelek.”

“Memang jadwal dia hari ini apa?”

“Semalam sih dia bilang dia ada pemotretan.”

“Pemotretan kan enggak terlalu makan waktu banyak macam rekaman. Ya sudah hari ini saja sambil kalian makan atau nonton.” Kyungsoo memberikan ide, namun Jongin lagi-lagi berkilah.

“Kasihan ah takut dia capek. Besok kegiatan dia seabrek dia butuh isirahat pastinya!”

“Ah banyak alasan!” Kyungsoo menoyor kepala Jongin. “Pengecut! Payah!”

whatever!” Jongin tak mempeduikan ejekan Kyungsoo pada dirinya. Jongin beranjak dari tempat duduknya ia berjalan meninggalkan sofa. Ia memutuskan untuk tak terlalu memikirkannya.

“Mau kemana?” Tanya Kyungsoo.

“Kamar mandi! Menunaikan panggilan alam!” Sahut Jongin sambil berlalu.

Kyungsoo melihat ponsel Jongin dan gelang yang tergeletak begitu saja. Tiba-tiba Kyungsoo langsung menyunggingkan senyumnya dengan tawa kecil. sebuah ide terlintas dikepalanya. Kyungso melihat ke kamar mandi memastikan bahwa Jongin sedang konsentrasi dengan panggilan alamnya. Begitu Jongin benar-benar berada di dalam kamar mandi, Kyungsoo langsung melaksanakan idenya.

Jongin keluar dari kamar mandi dengan wajah sumringah. Ia mengelus perutnya yang ni terasa lega. Kyungsoo terlihat sedang berada di dapur sedang membuat makanan. Jongin kembali ke sofa dan meraih ponselnya. Ia melihat LED ponselnya tampak menyala wana hijau, menandakan ada sebuah pesan masuk. Jongin pun membukanya. Begitu tahu isi pesannya, Jongin langsung terbatuk-batuk. Ia terkejut membaca isi pesan LINEnya itu.

 

Kim Jongin              : Beres jam berapa pemotretannya?
Jung Soojung          : Bentar lagi nih. Kenapa?
Kim Jongin              : Kalau gitu, sempat kali ya kita ketemu
Jung Soojung          : Ketemu? Ada apa memang?
Kim Jongin              : Enggak ada apa-apa sih. Cuman pengen makan bareng hehehe
Jung Soojung          : Boleh… boleh… kebetulan aku lapar banget nih. Belum sarapan T^T
Kim Jongin              : kasian :( lagian aku punya hadiah buat kamu.
Jung Soojung          : Wah iya? Apaan? Penasaran >.<
Kim Jongin              : ra-ha-si-a :p
Jung Soojung          : ih gitu deh! Ya sudah jam satu kita ketemu di resto depan bank yaaa.

Jongin bengong membaca isi perbincangannya dengan Soojung di LINE. Ia bingung kapan Ia melakukan percakapan itu. Ia merasa tak melakukannya. Seingatnya tadi ponselnya diletakkan di sofa dan disitu ada Kyungsoo. Jongin tersadar. Pasti Kyungsoo yang melakukannya. Jongin langsung mengarahkan matanya dengan tajam pada Kyungsoo sambil menyerukan nama Kyungsoo.

“DO KYUNGSOO!!!”

Kyungsoo berpura-pura tak mendengar dan tak tahu apa-apa. Ia malah terus memasak sambil bersenandung tak jelas. Jongin langsung menghampiri Kyungsoo. Ia langsung mengomel.

“Apa yang kau lakukan? Aigo…” Ome Jongin Kesal.

“Memang aku melakukan apa?.” Balas Kyungsoo dengan wajah polos.

“Tak usah pura-pura bodoh!” Gerutu Jongin sambil menjitak kepala Kyungsoo

Kyungsoo mengelus-elus kepalanya yang terkena jitakan Jongin.

“Haish… gara-gara kamu! Aku harus bagaimana?”

“Pakai nanya lagi! Ya temui dia! Kasihan kan dia nunggu kamu?”

“Tapi kalau dia enggak suka gimana?”

“Kalau belum dicoba kan kita enggak tahu. Nanti menyesal,kamu!” Sahut Kyungsoo tenang.

“Seandaikan dia benar enggak suka?”

“Ya paling kamu dan dia gagal.” Jongin melotot mendengar jawaban Kyungsoo. Kyungsoo langsung tertawa kecil.

“Ya sudah kamu kan bisa belikan dia hadiah lain, gelangnya kasih ke orang lain. Sudah jangan khawatir deh. Percaya deh, Dia pasti suka, apalagi kalau tahu kamu juga pakai gelang yang sama.”

“Tapi…”

“Sudah, sudah!” Kyungsoo memotong omongan Jongin. “Bentar lagi jam 1. Ayo kamu siap-siap menemui dia.”

Akhirnya karena terlanjur pesan yang terkirim, Jongin pun pergi menemui Soojung. Sebenarnya dia senang dapat bertemu Soojung, tapi ada rasa gelisah. Ia takut jika dirinya tak memiliki keberanian untuk memberikan gelang itu. Dia pun merasa cemas jika Soojung takkan menyukai hadiahnya itu.

Setibanya di Resto, Jongin tiba terlebih dahulu. Diantara tempat duduk yang terbuat dari kayu, plastik, dan sofa, Ia memilih kursi dan meja yang terbuat dari kayu karena tempatnya mudah terlihat dan lebih terasa intens. Suasana Resto sudah tak begitu ramai karena jam makan siang sudah hampir habis. Hanya ada beberapa segelintir orag yang tersebar di beberapa sudut Resto. Suasana yang cenderung sepi itu justru membuat Jongin menjadi lebih tegang. Jantungnya berdegup semakin cepat.

Tak lama kemudian terlihat perempuan yang Ia tunggu membuka pintu resto. Irama degup jantung Jongin makin tak karuan. Ia menarik nafasnya lalu menghembuskannya. Mengatur nafasnya setenang mungkin. Ia menggenggam erat gelangnya tersebut dibawah meja. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

“Sudah lama nunggu?” Tanya Soojung sambil menarik kursi untuk duduk.

Jongin menggeleng. “Enggak kok. yuk langsung pesan saja.”

Jongin pun langsung memanggil pelayan untuk meminta buku menu. Tak butuh waktu lama untuk memutuskan untuk memakan apa. Dengan cepat mereka meyebutkan pesanan mereka kepada pelayan wanita yang mengantarkan buku menu. Pelayan itu pun tak akalah cepat menanggapi pesanan mereka. Kini mereka tinggal menunggu pesanan makanan mereka datang.

Sambil menunggu pesanan mereka mengobrol seperti biasa, hanya saja Jongin tak fokus akan obrolan. Ia terus memikirkan gelang yang ada di genggaman tangan kirinya yang Ia simpan dibawah meja. Walau sudah belum mengatur nafas,tetap saja dirinya tak tenang. Keberaniannya belum saja terkumpul, yang ada kecemasan yang terus terakumulasi.

“Eh iya, katanya kamu punya hadiah buat aku, mana?” Soojung menagih janji Jongin di LINE, walau itu bukan Jongin yang sebenarnya berjanji, tapi karena atas namanya, dan kini Soojung berhadapan dengannya, mau tak mau Jongin harus menghadapinya.

Jongin teringat akan perkataan Kyungsoo tadi. Kalau belum dicoba kan kita enggak tahu. Nanti menyesal,kamu! Jongin tak mau menyesal, dan Jongin sadar jika Ia harus hadapi ini. Ia pun mengeluarkan keberaniannya. Satu gelang pun bepindah tangan dari tangan kiri ke tangan kanan.

“Bukan sesuatu yang besar sih. Kebetulan tadi ada nenek-nenek yang menawarkan dagangannya padaku. Kupikir ini bagus jika kau memakainya, jadi ku beli deh. Ya semoga saja kamu suka.” Jongin menyodorkan gelang tersebut kehadapan Soojung. Saat meliht gelang tersebut mata Soojung langsung terlihat bersinar. Tampak sekali jika dia sangat tertarik dan suka dengan hadiah dari Jongin.

“Wah ini bagus loh. lucu, simple. Ini aku suka banget! Makasih ya!” Tangan Soojung sudah bersiap untuk mengambil gelang tersebut, namun Jonginlebih cepat bergerak. Ia langsung menarik tangan kanan Soojung, kemudian memakai gelang tersebut ke pergelangan tangan kurus Soojung. Entah dari mana keberanian itu datang. Itu semua spontan terjadi begitu saja. Ia pun tak mengerti mengapa badannya bisa berbuat seperti itu. Diperlakukan seperti itu membuat Soojung tersenyum. Rona merah terlihat  di kulit wajahnya yang putih.

Gomawo.” Soojung melihat gelang itu dengan senyu lebar dan sorot mata yang begitu bercahaya. Soojung memperhatikan setiap detail gelang tersebut. ia meraba-raba tekstur gelang tersebut. terlihat sekali Dia benar-benar senang.

“Gelang ini bagus, rapi. Joha!

Melihat reaksi Soojung yang benar-benar girang mendapat hadiah darinya, Jongin pun jadi berani untuk memakai gelang yang sama. Secara diam-diam, Ia memakai gelag tersebut dibawah meja. Setelah selesai, dengan sengaja tangan kanannya digunakannya untuk menopang dagu agar Soojung dapat melihat gelang yang Ia pakai.

“Syukurlah kalau kamu suka.” Senyum Jongin. Benar kata Kyungso, jika kita belum mencob kita takkan pernah tahu. Jongin setuju dengan itu kini. Ia merasa tak menyesal telah mencobanya, apalagi setelah tahu hasilnya sesuai harapannya.

Begitu Jongin menopangkan dagu, Soojung langsung tersadar. Ia langsung memegang gelang Jongin dan membandingkan dengan gelang milik dirinya. “Wah, gelang milikm juga sama denganku ya?”

Jongin sedikit tergugup saat menjawab. “Eu… iya. Beli satu gratis satu hehehe.”

Soojung manggut-manggut. “Hoo… kita kembaran.”

“Eh kenapa kamu enggak suka? Kalau enggak aku lepas.” Jongin agak khawatir. Ia bersiap melepas gelang yang Ia kenakan.

“Eh jangan!” Cegah Soojung. “Enggak apa-apa kok. aku suka! Lucu kita samaan! Berasa couple bracelet.”

“Hah? apa bracelet? Jongin terkejut dengan apa yang Ia dengar. Ia merasa tak percaya. Ia takut salah dengar, sehingga Ia minta pengulangan.

couple bracelet hihihi.”

Jongin tersenyum bahagia mendengar itu. Soojung pun melakukan hal yang sama. Mereka saling melempar senyum dengan muka kemerahan bercampur sorot kebahagian yang terpancar dari wajah mereka.

—The End—

Tuesday, 27 May 2014

12:03 AM

Hahaha maapin kalau ngaco. Ini ide ceritanya dadakan banget. Untuk harga gelangnya ini aku ngasal, karena aku ga tahu harga gelang di korea sebenarnya berapa, jadi udah iyain aja gitu ya harganya 250won wkwkwkwk. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

 

Iklan

5 thoughts on “[FF] Bracelet

  1. Sequel plis tor, suka banget.manis banget tau itu sii dio iseng bnget, keisengannya dia berbuah hasil 😀 lgi thor gue kaistal shiipper ssoalnya 😀

    • sequel? biarlah menjadi rahasia dan khayalan kita semua saja hehehe :)) ga janji deh sequel, klo ada ide buat sequelnya, insya allah aku bikin. ya kan isengnya dia tujuannya baik biar jongin bisa ngasih hadiah ke soojung :)) makasih ya udah mau baca ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s