[FF] You Know That I Love You

Title               : YOU KNOW THAT I LOVE YOU

Rate               : G

Genre             : ANGST *tapi gagal ;(*

main Cast     : LEE DONGHAE SUPER JUNIOR

length           : FICLET, One shot

Author          : ide sepintasnya HANAN HANIFAH

Disclaimer   : Hello I’m back! Muahahaaha maaf ya baru nulis lagi. FF ini sih ga segaja ketulis, ya bisa dikatakan sebagai penanda aku kembali, makanya pendek. Aku ada ide ff tapi belum ketulis-tuli, nah ini selingannya. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

Donghae berjalan diantara rerumputan yang hijau serta pepohonan yang rindang. Dahulu selalu ada orang yang menemaninya ke tempat ini, namun kini Ia hanya ditemani angin yang bertiup kencang yang sanggup membuat dedaunan dan ranting saling bergesekan dengan ributnya. Donghae berhenti di salah satu pohon. Dibawah langit yang kelabu, Donghae hanya bisa menatap pohon di depannya dengan sendu.

Di pohon itu, kini tertanam butiran abu hasil pembakaran raga dari tubuhlseorang yang sangat berharga baginya. Sesosok wanita yang selalu menemaninya kemari saat Ia ingin kemari. Sosok yang begitu ayu dan tentu saja wanita yang paling Ia cintai. Tak ada wanita yang paling Iain cintai selain wanita ini, dan kini Ia harus hidup tanpa wanita itu.

Segenggam bunga yang dibawa Donghae, ditaruhnya diatas akar yang menyembul ke permukaan tanah. Ia sengaja membawa bunga matahari. Bunga itu menggambarkan diri wanita tercintanya. Selalu tersenyum dan cerah. Donghae menekukan lututnya. Dibelainya dengan lembut batang pohon tersebut. Mulanya segaris senyum masih bisa terhias di mukanya, namun Ia tak sanggup untuk terus berpura-pura tersenyum. Kini di pipinya basah karena aliran air mata yang semakin lama semakin deras. Suara segukan makin terdengar jelas dari bibirnya. Lututnya yang tertekuk semakin rendah, bahkan kini tubuhnya merunduk menempel pada bumi.

“Mianhae… mianhae…” Donghae melirihkan kata itu berulang-ulang kali dalam tangisnya. Hatinya meraung keras. Sakit rasanya, terlalu pilu untuk Ia hadapi. Ia merasa teramat perih, tapi bukan karena kehilangan. Ia merasa perih karena apa yang telah Ia lakukan selama ini semasa wanita itu hidup.

Donghae tahu dan sadar betul betapa Ia mencintai, begitupula sebaliknya, tetapi yang dilakukannya hanyalah menyia-nyiakan cinta yang telah diberi sepenuh hati oleh wanita tersebut.

Sembari memeluk pohon dengan deraian air mata, Donghae berbicara sepenuh hati, seolah-olah pohon tersebut adalah jiwa dari wanita tersebut.

“Kenapa Kau meninggalkanku secepat ini?” Isak Donghae penuh rasa pilu. “Belum saatnya kau meninggalkanku. Aku belum berbuat banyak untukmu. Aku belum sepenuhnya membalas rasa cintamu.”

Ya, Dia belum berbuat banyak. Selama ini Ia hanya menerima cinta tulus tanpa balasan. Selama ini Ia hanya bersikap acuh tak acuh, bahkan kerapkali Ia bersikap acuh, padahal Ia sangat mencintai wanita itu. Ia selalu menolong wanita tercintanya, tetapi saat wanita tercintanya membutuhkan perhatian, Ia agak sedikit masa bodoh. Padahal selama ini wanita tercintanya tak pernah luput memberi perhatiannya.

Pria macam apa dia? Katanya Dia sangat mencintai wanitanya, tapi yang Ia lakukan hanya mempedulikan dirinya sendiri. Sudah delapan tahun Donghae sibuk dengan pekerjaannya. Ia sangat fokus akan pekerjaannya, sampai-sampai Ia seringkali mengabaikan orang-orang yang menyayanginya, termasuk wanita ini. Saking fokusnya, Dia pun sampai tak bisa menemani wanita ini di akhir masa hidupnya, dan tentu jelas, Donghae sangat teramat menyesali hal itu.

“Maafkan aku. Aku bukanlah orang baik. Saat kau memintaku untuk pulang untuk bertemu, aku sering menolak karena sibuk, bahkan saat kau pergi dari bumi ini pun aku tak ada disampingmu. Aku pun tak bisa mengantarmu ke peristirahatan terakhirmu. Aku memang kurang ajar baru datang sehari setelah kau beristirahat dengan tenang.” Donghae memegangi dadanya. Dadanya terasa sesak mengingat apa yang telah Ia lakukan. Terlalu menyakitkan.

“Maafkan aku, aku lebih mementingkan pekerjaan, tidak…” geleng Donghae. Ia sadar Ia bukan mementingkan pekerjaan, tapi mementingkan dirinya sendiri. “aku… aku… lebih mementingkan diriku sendiri. Aku memang egois. Saat aku merindukanmu, aku memaksamu untuk mengangkat teleponku, tetapi saat kau merindukanku aku lebih sering tak menghiraukannya karena kau selalu menelepon setiap hari, dan lagi aku menolakmu karena alasan pekerjaan. Egois kan aku?”

Donghae menghela nafas, mengatur nafasnya. Ia memejamkan matanya berusaha mengontrol emosinya. Ia pun sempat menghapus air matanya menggunakan jemarinya yang besar, namun semua usahanya itu sia-sia. Emosi tetap meletup-letup. Air matanya tetap saja mengalir. Dadanya terlalu sesak akan rasa sakit itu. Tanpa Ia sadari selama ini Ia telah menyakiti perasaan wanita itu, dan menyadari fakta itu membuat hatinya teramat perih. Hatinya terasa tercabik-cabik menjadi serpihan debu yang tak berguna.

“Seharusnya kau jangan pergi dulu. Aku belum membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu, bahkan aku belum mengatakan aku mencintaimu. Aku tahu, kau pasti tahu kalau aku mencintaimu, tapi aku ingin kau mendengarnya langsung dari mulutku. Aku ingin kau tahu bahwa aku memang mencintaimu lewat tindakanku yang membahagiakanmu. Aku ingin menjadi kebanggaanmu. Selama ini aku belum benar-benar membuatmu bangga. Aku ingin kau tahu bahwa kau membesarkan seorang anak dengan baik. aku ingin membuktikan itu padamu, tapi sebelum itu semua terbukti kenapa kau meninggalkanku, eomma?” Air matanya semakin mengucur saat mengatakan kata paling sacral dan menyentuh, eomma. Ibu.

“Maafkan aku telah menyakiti hatimu selama ini, maafkan aku telah menjadi anak yang durhaka. Eomma beristirahatlah dengan tenang. Akan kubuktikan jika kau membesarkan seorang anak lelaki menjadi pria dewasa yang hebat dan bertanggung jawab. Akan kubuat kau bangga di atas sana. Terima kasih atas cintamu yang selama ini tulus dan rasa sayang yang tak terhingga. Aku takkap pernah bisa membalas sepenuhnya, walau rasanya ingin. Maafkan aku selama ini aku sering acuh pada dirimu. Eomma, walau kau tak pernah mendengar langsung dari bibirku, but you know that I love you.  Jeongmal saranghae, eomma. you the best women I ever known.”

Donghae menghapus air matanya dan berdiri. Ia menatap pohon itu sesaat, kemudian Ia meutuskan membalikan badannya untuk berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Hatinya terasa lebih lega. Ia memang kurang ajar jarang pulang untuk bertemu wanita nomor satu di hatinya, bahkan dia tak ada saat di pemakaman, namun setidaknya hari ini agak terobati setelah mencurahkan isi hatinya dan mengucapkan salam perpisahan pada wanita yang mencintainya setulus hati, Ibu.

—The End—

Maaf baru nulis lagi, aku sibuk pkl soalnya di tangerang dan lappy aku tinggal di bandung. Aku baru beres pkl tanggal 22 juli, dua hari lagi sih ehehe. Ini idenya muncul saat di perantauan saat aku rindu dengan keluarga terutama mama. Ide udah dari jaman awal-awal pkl tapi baru sempet nulis hari ini. buat kalian yang sedang merantau, telepon lah ibu kalian mumpung masih ada. Jangan terlalu sibuk, sempatkanlah waktu ehehe, kalau yang udah enggak ada doakanlah selalu ibu kalian setiap kalian beribadah. Maaf ya kalau ceritanya kurang touching, aku agak kesulitan bikin cerita yang menyentuh. MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s