Lapar

Entah sudah berapa kotak dan tong yang penuh dengan sisa-sia makanan yang sudah kuacak-acak. Setiap tempat sampah yang kulalui kubongkar satu persatu untuk memenuhi kebutuhan energiku. Tubuhku sudah mulai melemah. Langkah kakiku mulai terseok-seok. Dipinggir jalan yang amat ramai dengan lalu lalang manusia dan hirup pikuk mesin, Aku mencoba lagi mengais dari tong sampah berwarna biru itu. Kuacak-acak seluruh isinya. Nihil. Tak ada yang bisa kumakan. Hm.. sebenarnya ada sih yang bisa kumakan, aku menemukan sisa tulang ayam, dan remeh ikan, hanya saja aku bosan memakan itu semua. Sudah hampir sebulan aku tak makan enak. Setiap hari aku memakan sisa-sisa itu semua. Makanya setiap aku menemukan sisa-sisa tulang di tempat sampah, aku menjadi tak bernafsu makan.

Duh.. perutku kembali berbunyi. Nampaknya cacing-cacing diperutku sudah berdemo meminta sari makanan. Dari matahari belum tinggi hingga matahari berada dipuncaknya, aku masih belum menemukan makanan yang ingin kumakan. Kebutuhan biologis ku memang penting, tapi hawa nafsuku pun sangat penting. Aku ingin memuaskan hasratku untuk menikmati daging yang benar-benar segar, atau setidaknya

Semilir angin menggelitik hidungku yang kecil. Angin itu membawa wangi yang begitu menggoda lidah. Perutku langsung bergejolak. Tampaknya cacing-cacingku tertarik dengan aroma tadi. Aroma itu berasal dari gedung yang ada dihadapan mataku. Ah tampaknya gedung ini sebuah tempat makan yang terkenal dan enak. Didepannya terdapat gambar seorang kakek tua gendut. Ah tampaknya si kakek tua ini pemilik restoran ini. Dia pasti kaya dan terkenal. Aku melihatnya dimana-mana, lagipula setiap aku lewat tempat ini selalu saja penuh. Dari luar aku bisa melihat mereka memakan ayam dengan lahapnya. Ah… aku makin saja tergiur. Nampaknya air liurku mulai menetes. Itu semua membuat pikiran gila melintas dihadapanku. AKU HARUS MENDAPATKAN AYAM ITU!

Memang saat kondisi lapar, apapun akan dilakukan demi kebutuhan perut, termasuk apa yang akan kulakukan kini. Seumur-umur aku baru kali ini memberanikan diri masuk ke tempat manusia makan dan berkumpul yang mereka sebut restoran. Selama ini jika mengais pada manusia, aku hanya mengais dari tempat makan pinggir jalan. Aku belum pernah mendengar dan melihat kaumku mengais makanan dengan masuk ke restoran. Nampaknya aku membuat sejarah baru. Aku memang nekat, tapi peduli iblis! Aku butuh makanan yang enak!

Percayalah, manusia itu mudah ditipu oleh makhluk sepertiku. Aku bertingkah sedikit menggemaskan saja, pasti mereka akan kasihan dan akhirnya memberiku makan, HAHAHAHA. Kita lihat saja, nanti pasti ada manusia yang memberiku makan.

Dengan mantap kulangkahkan keempat kakiku masuk ke gedung berlantai dua tersebut. Suasananya cukup ramai. Aku mulai mencari ‘mangsaku’. Diujung sana tampak ada sekumpulan gadis yang sedang makan. Biasanya anak perempuan lebih mudah luluh dengan suara dan tatapan polosku.

Untuk menyadari kehadiranku, aku sengaja meliuk-liukkan tubuhku diantara kaki-kaki kurus mereka. Ekorku kugerakkan kesana-kemari. Usahaku tak sia-sia. Salah satu dari mereka menyadari kehadiranku. Ia langsung terlonjak kaget karena kakinya mungkin terasa geli. Lalu matanya menuju padaku. Saat itulah kukeluarkan jurus andalanku.

“Meong…” Sahutku. Aku langsung memasang wajah memelas dengan mata membesar dan tapak berkaca-kaca. Menurut manusia itu sangat menggemaskan dan biasanya berhasil membuat luluh.

Hanya saja aku lupa, tak semua manusia akan luluh. Aku lupa jika tak sedikit mereka membenciku. Nasib beruntung belum menghampiriku. Keempat gadis yang kuhampiri, ternyata mereka semua membenci kucing. Mereka langsung berteriak kencang dan mengusirku. Duh.. bisa kali enggak usah teriak-teriak. Nanti aku ketahuan! Terpaksa aku pergi dari meja itu, daripada aku diusir pelayan restoran itu.

Aku melirik ke arah serong kanan. Ah disana ada seorang perempuan sedang melahap roti tangkap berisi daging sendirian. Aku memutuskan untuk merayu perempuan itu. Mengapa aku mencoba mengais makanan dari perempuan lagi? Karena mereka mudah luluh dengan makhluk lucu sepertiku. Ya sebenarnya ada juga kau lelaki yang menyukaiku juga, tapi mereka tak mudah luluh. Aku akan kesulitan mendapatkan sarapan sekaligus makan siangku ini.

Seperti biasa, aku menggodanya lewat kaki. Ku tempelkan bulu-buluku ke kakinya. Dia menyadari kehadiranku, tetapi Ia tak mengusirku. Yes! I did it!  Aku pun mengeong dan kembali memasang puppy eyes. Perempuan yang ku rayu ini tak bergeming. Ia terus saja melahap makanannya sambil jari mengusap-usap benda batangan persegi panjang. Kenapa orang ini diam saja? Ah mungkin karena ditelinganya terpasang kabel. Aku pun kembali mengeong dengan suara keras dan menggerakkan ekorku menyentuh kakinya yang putih, tapi tetap saja Ia diam saja. Menyebalkan! Sebenarnya dia itu menyukaiku apa tidak sih? Jika iya, cepat berikanku makanan, jika tidak usir aku secara halus!

Walau Dia tidak menghiraukanku, aku terus saja berusaha mendapat perhatiannya. Aku mengeong terus menerus, bahkan aku bermanja-manja dengan menggerakan kepalaku ke kakinya, tapi perempuan itu tetap saja acuh. DUG! Kok bokongku rasanya seperti menabrak sesuatu. Aku pun menengok kebelakang, dan JENG JENG JENG… benar saja. Bokongku telah dipukul menggunakan papan plastik yang biasa digunakan manusia untuk membawa makanan. Kulihat manusia yang telah memukulku. Dia merupaka seorang lelaki yang menggunakan kemeja berwarna merah dengan garis putih. Di dadanya ada gambar si kakek tua gendut. Tampaknya Dia pelayan restoran ini. Sial! Aku ketahuan!

Pelayan itu melototiku dengan tajam. Aku pun balik memolototi dirinya.

“Apa kamu, hah? Jangan ganggu aku! Aku mau cari makan!” Seruku dengan bahasa kucing, tapi gertakanku itu sia-sia karena yang terdengar olehnya hanya “Meong…meong…”

“Hus… tempatmu bukan disini hus…” Dia mengusirku dengan cara mendorongku menggunakan papan plastik itu. Dia terus saja melotot padaku dan mengusirku. Oke! Oke! Aku pergi! Aku pun berjalan menuju pintu keluar. Saat melihatku berjalan, pelayan itu tak lagi melihat ke arahku. Aku pun terus berjalan menuju luar tapi bohooong! Kakiku kubelokan ke arah lain. Siap menggoda manusia lain untuk mendapatkan mangsaku. Sayangnya, pelayan itu ternyata masih memperhatikanku. Ia kembali menghampiriku.

“Eh mau nipu ya kamu? hus! Sana pergi! Tempat kamu itu bukan disini! harusnya kamu di tempat sampah!”

Apa? Tempat sampah? Kasar sekali manusia satu ini! mentang-mentang aku bukan manusia, aku diusir dari sini? Dasar manusia gila! Aku juga salah satu customer! Kalau aku bisa bayar, aku bayar deh buat beli ayam ini! dasar, baru saja jadi pelayan sudah sombong! Menghinaku seenak jidatnya!

Rasanya aku ingin menyakar wajahnya, tapi aku yang kelaparan tak memiliki kekuatan untuk melompat di wajahnya. Sebagai bentuk protes aku pun hanya bisa menggores-goreskan kuku ku ke karpet yang menyelimuti lantai. Tak lupa aku mengeluarkan raungan sebagai bentuk kekesalanku. Pelayan itu tak kalah galak daripada aku. Dia mulai berteriak dan kembali memukul bokongku.

“Hus! Pergi! Kamu mengganggu pelanggan yang lain!” Usirnya sambil melambai-lambaikan tangannya. Aku tak mau kalah dengan pengusirannya. Aku makin menggila. Setelah merusak karpet restoran tersebut, aku berlarian kesana-kemari. Pelayan itu pun sibuk mengejarku. Gerakanku yang lincah membuatnya sedikit kerepotan. Terdengar juga derai tawa dari manusia yang menontonku. Tampaknya aku berbakat jadi aktor laga. Tak sedikit yang menyemangatiku dan senang melihat aksiku yang keren ini.

Sial! Pelayan itu berhasil menangkapku. Aku yang kurang energi hanya sanggup berlarian selama satu menit sehingga saat lengah dia menangkapku. Tampaknya Dia tak menyukai kucing. Begitu berhasil menangkapku, dengan kasarnya melemparku ke lantai. Aku benci pelayan ini! dia terus saja membuat bokongku sakit, entah karena dipukul atau karena bokongku mencium lantai akibat dia melemparku. Dia mendorongku dengan sekuat tenaga menuju arah pintu keluar. Aku yang sudah kelaparan tingkat akut, tak punya tenaga melawan. Terpaksa aku pun harus mau didorong olehnya untuk keluar dari restoran itu. GAGAL DEH!

Eh… tunggu dulu! itu semua belum gagal! Aku akan mencoba jurus terakhir. Siapa tahu hati pelayan ini yang awalnya keras akan melumer dengan jurus terakhir dariku. Saat berada di pintu keluar, aku langsung membalikkan badanku. Kini badanku menghadap keatas. Aku pun berbaring dilantai, kemudian sedikit berguling-guling. Tak lupa tanganku juga bermain. Aku seolah-olah sedang bermain gulungan benang dengan tanganku. Biasanya manusia yang melihatku seperti ini akan luluh. Bahkan yang benci kucing pun, karena sikapku ini akan menjadi menyukai kucing.

Benar dugaanku. Jurusku ini manjur. Mata pelayan itu mulai terlihat luluh. Dia mulai melihatku dengan tatapan yang bersahabat. Senyum pun mulai tersungging diwajahnya.

“Hm.. aih lucunya!” Pelayan itu membelai kepalaku. Aku mengeong untuk membalas pujiannya. Hanya saja, tiba-tiba ekspresinya berubah. Matanya kembali menjadi melotot dan senyumannya menguap begitu saja tergantikan oleh keriput amarah.

“Tapi aku enggak akan tertipu denganmu! Enggak usah sok manja dan lucu untuk mendapatkan makanan! Sudah sana keluar!” Dia memberi salam terakhirnya dengan menendang bokongku hingga aku terdorong keluar. Setelah aku diluar di langsung menutup pintu restoran, padahal sebelum aku masuk pintu itu selalu terbuka.

Fix! Aku benci pelayan itu! sudah kasar, hatinya sangat keras pula! Memang manusia adalah raja paling tega! Mereka selalu saja seenaknya dengan makhluk lemah macam aku. Mentang-mentang aku hewan, aku tidak diperlakukan secara berkeprimanusiaan! Aku juga punya nurani! Perlakukanku secara baik dong! Kasih aku makan kek minimal! Huh… menyebalkan sekali!

Aku hanya bisa menatap manusia melahap ayam dari balik jendela. Brubuk… perutku berbunyi dengan keras. Aku mengelus-elus perutku yang lapar. Sabar ya cing, tampaknya menu kita hari ini tulang ikan dan tulang ayam lagi, no meat. Sebelum aku pergi dari tempat itu, aku menggores-goreskan kuku tajamku ke kaca restoran itu. selain sebagai bentuk protes, itu juga salam perpisahanku.

Aku pun mulai melangkahkan kaki-kakiku keluar dari gedung itu. tiba-tiba…

“Pus! Sini!”

Ada seseorang yang memanggilku. Aku membalikan badanku. Ternyata itu adalah perempuan yang tadi mengacuhkanku. Ada apa dia menghampiriku.

Dia berlari mendekatiku. Dia berjongkok dihadapanku, lalu mengelus-elus kepala dan buluku.

“Pus, maaf ya tadi aku cuekin. Habisnya aku lagi bad mood!” Kamu menghampiriku hanya untuk meminta maaf dan curhat? Cih! Enggak butuh! Aku butuh makanan!

“Tapi karena kamu, mood aku sudah balik lagi. Kamu tadi itu lucu banget sih! Bandel ya kamu, berani ngelawan pelayan restoran. Kamu pengen banget ya diam disana, sampai keukeuh kayak tadi?”

Menurutmu?? Ya wajar aku keukeuh. Aku butuh makan! Aku harus hidup! Gimana sih!

“Sebagai rasa terimakasihku ini.” Dia mengeluarkan sebuah kotak. Didalam kotak itu ada sepotong ayam goreng. Apa? Dia memberikanku makanan? Sungguh? Akhirnya…

“Makasih ya karena tingkah lakumu tadi itu bikin aku ketawa lepas banget. Sekarang mood aku sudah kembali ceria. Aku bisa menulis lagi deh! Ini aku kasih apa yang kau inginkan. Tadi kamu masuk kesana karena pengen makan ayam ini kan?”

“Meong..” Ah ternyata manusia satu ini pengertian sekali. Tanpa banyak basa-basi aku langsung menggigit ayam pemberiannya. Ah ternyata tak hanya aromanya saja yang enak, tapi rasanyapun juga. Baru kali ini aku makan ayam seenak ini.

“Kamu pasti lapar banget ya? kasihan… sudah dulu ya aku pergi dulu. selamat makan,pus!”

“Meong..meong” Aku mengeong sebagai tanda terima kasihku padanya. Terima kasih banyak! Benarkan kataku, manusia itu gampang luluh. Tingkahku mempertahankan diri di restoran tadi ternyata sudah menghibur dan terbilang menggemaskan, akibatnya aku dapat makanan enak deh. Cacing, kita makan enak hari ini. nyaaam!

“Meong…”

—The End—

Friday, 22 August 2014

12:01 AM

Cerita ini true story loh. jadi sekitar awal agustus aku lagi makan di salah satu gerai fastfood berlogo kakek berpangkat kolonel di salah satu mall kawasan cicadas Bandung. Lalu ada kucing masuk, nampaknya dia ingin minta makanan dari kami para manusia. Eh terus ketahuan pelayan. Diusrilah dia, tapi susahnya minta ampun. Aku dengan sobatku, Aju ketawa ngakak banget lihat tingkah lakunya. Dia gagaro ka karpet, terus pas mau keluar dia kalakah gogoleran di pintu =)) duh kalau kalian liat itu lucu banget. Hiburan banget! MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di cerita selanjutnya. Bubah~

 

 

Iklan

2 thoughts on “Lapar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s