[FF] Karma

Title               : KARMA

Rate               : 15+ PLEASE……

Genre             : CRIME, DRAMA, FAMILY.

main Cast     : PARK CHANYEOL EXO

OTHER CAST   : CHOI SULLI F(X), BYUN BAEKHYUN EXO, KIM JONGDAE (CHEN) EXO, pARK YURA (chanyeol’s sister) WITH CAMEO : CHOI MINHO SHINEE, CHO KYUHYUN SUPER JUNIOR, KIM JONGHYUN SHINEE, KANG MINHYUK CNBLUE.

length           : One shot

Author          : perluasan imajinasi HANAN HANIFAH

INSPIRED        : PASUPATI ARDAN EDISI APRIL 2014 *aku lupa tanggalnya ya kalo ga tanggal 2,9,1623,30*, YOU’RE ALL SURROUNDED, and also for Nouvelle Vague song JOHAN AL!!!

Disclaimer   : akan muncul beberapa kata kasar dalam ff ini dan juga sejujurnya ini enggak cocok buat yang dibawah 15. agak dewasa boooo. Ini ff pertamaku yang menghadirkan chanli, walau sulli udah sama om itu tuh… *oppa apa om ya? aku seusia sulli soalnya* SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

 

Irama ketukan menggema di ruang introgasi. Semakin lama, ketukan itu semakin cepat dan tak beraturan. Irama itu berasal dari jemari Chanyeol yang bergerak mengetuk meja. Sudah 15 menit jemarinya tak henti menghasilkan bunyian bernada sembarang. Semakin cepat Ia menggerakan, semakin menunjukan rasa kesalnya.

Kini dihadapannya duduk seorang pria dengan tampilan cukup necis. Wajahnya cukup dingin namun terbilang tampan. Rambut hitamnya dibiarkan acak-acakan untuk menampilkan kesal kasual. Ia memakasi kemeja denim yang dikeluarkan dari celana chino abunya. Don’t judge a book by it’s cover sangat berlaku. Melihat penampilannya orang pasti takkan menyangka jika pria itu merupakan pelaku kejahatan, tapi itu nyatanya. Pria dihadapan ini merupakan orang yang paling Chanyeol benci. Bagaimana tidak? Orang ini telah menghilangkan keperawanan nunanya secara paksa. Sebagai detektif dan adik Ia ingin mengungkap kasus ini.

Chanyeol mulai kehilangan kesabaran. Orang dihadapannya ini tak juga menjawab pertanyaannya. Chanyeol pun mulai menggebrak meja. Meluapkan emosinya.

“YA!!! JANGAN DIAM SAJA! JAWAB!” Teriak Chanyeol penuh emosi. Sang pelaku hanya tersenyum sinis dengan tatapan mengejek melihat emosi Chanyeol yang tersulut.

Baekhyun yang merupakan seorang detektif juga yang ditugaskan untuk menginterogasi, mencoba menenangkan Chanyeol. “Tenang. Jangan membawa emosi pribadi.”

Chanyeol mengacak-acak rambutnya. Ia memang terlalu kesal karena korbannya adalah kakaknya sendiri. Ia menarik nafasnya, dan menghembuskannya dengan perlahan. Dadanya Ia elus-elus untuk menenangkan diri.

“Baiklah saya ulangi kembali. Choi Minho-ssi, pada hari Kamis malam 13 maret anda bersama korban pergi bersama. Kalian yang merupakan teman satu kantor memutuskan untuk makan malam bersama setelah selesai bekerja. Kemudian anda mengajak korban untuk jalan saat malam hari, dan anda mengajaknya ke sebuah rumah kaca berisi berbagai bunga. Korban yang mempercayai anda sebagai teman tak curiga dibawa ketempat sepi seperti itu saat malam hari. Ditempat itulah anda melakukan pelecehan seksual padanya, selain itu juga anda melakukan kekerasan dalam bentuk pukulan benda tumpul karena korban berusaha melawan. Setelah anda melakukan kejahatanmu, korban pingsan, kemudian anda membuangnya di bawah jembatan sungai Han. Anda mengakui hal itu?”

Minho –Sang pelaku – menganggukan kepala tanpa rasa bersalah. Wajahnya terlihat tenang bahkan matanya berani untuk menatap Chanyeol dengan tajam. Tatapan Chanyeol pun tak kalah tajam. Ia menatap Minho penuh kebencian.

“Anda sudah mengakui kejahatanmu, tetapi apakah anda mengakui ini sebagai kejahatan tunggal murni?” Baekhyun mulai melontarkan pertanyaan.

Minho mengerutkan dahinya. “Maksudnya?”

“Ya, anda melakukan ini semua murni karena keinginanmu?”

Minho menggerakan kepalanya keatas dan kebawah. “Yap.”

“Anda yakin?” Timpal Chanyeol sinis.

“Tentu saja! Aku melakukannya karena keinginanku sendiri.” Jawab Minho penuh dengan kemantapan.

“Kalau begitu apa motifmu?”

“Entah mengapa Tubuh Park Yura saat itu sangat menggodaku. Lekuk tubuhnya, kulitnya yang mulus ingin kusentuh. Aku begitu ingin merasakannya, tapi Ia tak mengizinkannya, setan terlalu menguasai diriku. Aku yang tak kuat ingin menjajal tubuhnya, dengan paksa.” Minho mengucapkan itu sambil membayangkan tubuh Park Yura yang sudah Ia cicipi. Di otaknya kembali terlintas kenikmatan menjelajahi tubuh Yura. Air liur Minho tak terasa menetes begitu saja. Minho sdar dan langsung menghapusnya.

“duh maaf ya. aku tiba-tiba jadi terbayang malam itu.” Ujar Minho dengan seringai sinis. Terlihat sekali Minho ingin memanas-manasi Chanyeol, dan berhasil. Amarah Chanyeol kembali memuncak. Chanyeol berdiri dengan tangan terkepal. Chanyeol sudah siap untuk memukuli Minho, untung Baekhyun kembali berhasil mencegahnya.

“Saat kapan kamu berencana untuk melakukan hal tersebut?” Selidik Baekhyun.

“Entahlah, tiba-tba aja terlintas hari itu.”

Nunaku eh maksudnya korban pada hari itu menggunakan Rok hitam dengan pnjang tigaperempat dan kemeja berwarna pink tua. Bentuk tubuhnya tak begitu terlihat, dan juga kulit tubuhnya tidak terekspos, bagaimana bisa libidomu naik hanya karena melihatnya memakai baju seperti itu?” Sentak Chanyeol dengan keras.

“Wajar jika libidomu tidak naik, dia adalah nunamu.” Cibir Minho.

“Tapi aku saja yang tak punya hubungan darah atau ikatan kekeluargaan, hormonku tak bergejolak melihat korban memakai pakaian seperti itu.” Sahut Baekhyun.

“Wajah cantiknya membuat jantungku berdegup dan setan langsung menguasaiku.”

“Tunggu dulu, dari sudut pandang pria, wanita cantik memang menggoda, tapi secantik apapun dia, jika Ia memakai baju seperti itu, libido pria tersebut takkan melonjak sangat tinggi sampai-sampai ingin mencoba tubuh wanita tersebut!” Baekhyun mengeluarkan hipotesisnya.

“Lagipula jika anda tergoda akan tubuhnya, beberapa waktu sebelumnya korban pernah memakai pakaian lebih terbuka, kenapa anda tak tergoda saat itu? sangat aneh.” Ujar Chanyeol dengan nafas memburu.

Tetap, Minho menjawab itu semua dengan tenang. “Saat itu setan tidak merasukiku.”

“Kami menyelidiki riwayat panggilanmu. Terlihat selama beberapa hari sebelum kejadian ka uterus menghubungi nomer ini.” Chanyeol mengeluarkan bukti daftar panggilan ponsel Minho. Terdapat juga bukti pesan yang dikirim nomer tersebut kepada Minho. “Lalu ada bukti pesan singkat, nommer tersebut mengirim pesan ‘laksanakan.’ Apa maksud itu? kau melakukan ini semua karena ada yang menyuruhmu kan?”

Minho tertawa  keras mendengar hal itu, tetapi wajahnya kembali menjadi dingin “Detektif Park, Detektif Byun, dan teman kalian satu lagi apakah ini semua tidak terasa familiar bagi kalian, terutama kau, Park Chanyeol-ssi?” Tanya Minho. Matanya tampak menelisik tajam menatap kedua detektif itu dengan tajam.

Baekhyun dan Chanyeol saling bertukar pandang. Mereka bingung tak mengerti apa yang maksud dibalik ucapan Minho.

“Maksud anda?” Garis kerutan terbentuk didahi Chanyeol.

“Wah masih tak sadar juga!” Cibir Minho. “Greatest Place Apartement no 1505 Apgujeong.” Minho menyebutkan sebuah alamat. Entahlah itu alamat apa, yang jelas dapat menjadi bukti penting untuk memberatkan hukuman Minho.

“Alamat siapa itu?”

“Jika kau ingin tahu semua jawaban interogasi hari ini, kau bisa mendatangi tempat itu, tapi hanya kau sendiri detektif Park.”

“Kenapa harus aku sendiri?”

Minho tersenyum remeh. “Kau akan tahu itu. setelah kau tahu, mungkin kau akan merasa frustasi bahkan mungkin bernasib sama sepertiku, hahahahaha.”

“Tak guna berbicara dengan anda. Kita akhiri saja nterogasi hari ini.” Tutup Baekhyun sembari berdiri membereskan berkas-berkas. Chanyeol pun ikut berdiri dan Ia langsung meninggalkan ruangan itu. Ia terlalu emosi. Ia langsung masuk ke ruang sebelah, dimana ruangan tersebut merupakan tempat untuk mengawasi jalannya interogasi.

“Dia mau mengaku?” Tanya Jongdae, rekan Timnya yang juga sekaligus sahabatnya dari SMA, seperti Ia dan Baekhyun. Chanyeol menghempaskan tubuh ke kursi plastic yang sebenarnya cukup keras, tapi Ia tak peduli. Rasa lelah dan pusing membuatnya tak merasakan sakit saat menghempaskan tubuhnya. Chanyeol menatap Jongdae dengan tatapan sebal, tapi kemudian Chanyeol mengangguk.

“Tapi dia mau mengaku tidak jika dia hanya mendapat perintah?”

“Tidak.” Jawab Baekhyun yang baru saja masuk ke ruangan. Baekhyun terlihat kerepotan membawa banyak berkas. Chanyeol tadi seenaknya pergi begitu saja tanpa membantu Baekhyun membawa berkas-berkas bukti.

Baekhyun melanjutkan kata-katanya “Tapi dia mengatakan sesuatu yang aneh.”

Jongdae menatap Baekhyun dengan rasa penasaran.

“Dia bilang apa ini semua enggak terasa asing buat Aku dan Baekhyun, terutama aku.” Jawab Chanyeol malas-malasan.

“Kamu dan Baekhyun? Kalau begitu pasti ada hubunganny juga dengan aku.”

Baekhyun mengangguk-angguk. “Yap, dia tadi menyebutkan ‘dan teman kalian satu lagi.’ Tampaknya Minho mengenal kita, tapi dimana kita mengenal dia? Aku merasa tak pernah mengenal orang itu.”

“Aku pun.” Sahut Jongdae. “Apa mungkin ini berhubungan dengan kejadian empat tahun lalu?”

“Kejadian apaan?” Tanya Baekhyun dan Chanyeol bersamaan.

“Dulu pas masih zaman kebodohan kita itu loh, cewek yang kamu incar!”

Senyum polos dengan wajah riang itu langsung terlintas di wajah Chanyeol. Mendadak Chanyeol jadi merasa tak enak hati. Ada rasa bersalah sekaligus sedih jika mengingat wajah itu. Chanyeol mengacak-acak rambutnya sebagai bentuk rasa tak enak hatinya.

“Tapi masa iya? Kayaknya enggak ada hubungannya.” Baekhyun berusaha menyangkal.

“Ya tapi bisa saja kan?”

“Sudah,sudah!” Chanyeol menengahi perdebatan Jongdae dan Baekhyun. “Minho tadi memberiku sebuah alamat. Kita sebagai detektif harus menyelidiki itu.”

“Ah iya, mana ketua tim Cho? Seingatku sebelum masuk interogasi, dia ada disini? Kita harus memberitahunya mengenai bukti baru!” Ucap Baekhyun dengan semangat.

“Tadi Ia harus menjemput ibunya.” Jawab Jongdae sambil berpikir, kemudian Ia menggumam “Tapi ya sebaiknya menurutku, kita jangan laporan dulu padanya.”

Wae?

“Jika dugaan Jongdae benar, matilah kita!” Timpal Chanyeol. Chanyeol menghelas nafas. Ia merasa ketakutan mulai menjalari dirinya. Ia takut jika memang kasus ini berhubungan dengan kejadian empat tahun lalu. Kejadian yang seharusnya tak terjadi jika Ia tak bersikap arogan dan bertindak bodoh. Jika benar, karirnya di kepolisian bisa kacau. Raut kecemasan pun terpantul dari wajah kedua sahabatnya Baekhyun dan Jongdae. Mereka pun terlibat dengan kejadian empat tahun lalu, dan dapat dipastikan jika terbongkar, karir mereka pun akan kacau pastinya.

“Tapi itu menyalahi prosedur kan? Tidak memberitahu ketua tim.” Sahut Baekhyun.

“Iya sih, tapi kita harus memastikan terlebih dahulu jika itu tidak ada hubungannya dengan kita. Ya paling  nanti kita cuman kena marah.” Jawab Jongdae.

Untuk membunuh rasa penasaran, dan melaksanakan tugasnya sebagai detektif kini Chanyeol sudah berdiri di depan pintu kayu bertuliskan 1505. Apartemen tersebut sudah terkenal akan kemewahannya, dan merupakan salah satu apartemen dengan harga sewa setinggi langit dikawasan ini. Chanyeol sedikit takjub, bagaimana bisa Minho mengenal orang kaya seperti ini. Minho bukanlah berasal dari kalangan jetset. Ia hanyalah seorang pegawai biasa.

Chanyeol mulanya agak ragu untuk menekan bel. Tak bisa dipungkiri, kekhawatiran menyelimuti dirinya. Ia khawatir jika dugaan Jongdae benar. Hanya saja Chanyeol teringat kakaknya yang kin terbaring di rumah sakit dengan tatapan kosong. Semenjak kejadian itu, Park Yura mendapat bekas luka yang amat mendalam dan juga menyakitkan. Hal itu tentu saja meninggalkan trauma yang berat. Ia menjadi diam seribu bahasa dan pandangannya selalu kosong. Itu sangat menyakitkan untuk dilihat. Mengingat betapa perihnya hati nunanya, Chanyeol membunyikan bel kamar tersebut. Ia pun harus melaksanakan tugasnya sebagai detektif.

Nuguseyo?” Terdengar suara wanita dari interkom bel panggilan.

“Saya Park Chanyeol dari kepolisian. Saya membutuhkan keterangan pemilik apartemen ini untuk kasus Choi Minho.” Jawab Chanyeol.

Lama tak terdengar jawaban. Chanyeol menanti penuh harap.

“Ah tunggu sebentar!” Rasa-rasanya Chanyeol seperti pernah mendengar warrna suara tersebut. ucapannya yang bernada naik namun merdu ditambah bumbu keriangan. Chanyeol langsung menepis itu dari pikirannya. Mungkin hanya suaranya saja yang mirip. Pasti kasus kakanya ini tak ada hubungannya. Dalam otaknya Chanyeol terus meyakinkan diri.

“Silahkan masuk, pintunya tak dikunci kok.” Chanyeol pun membuka pintu dengan hati-hati. Irama jantungnya berdentam tak jelas. Sangat sumbang alunan detak jantungnya. Ia membuka pintu dengan perlahan. Ia bersiap-siap melihat orang yang ada dibalik pintu tersebut, namun ternyata setelah pintu terbuka lebar , tak ada orang yang menanti dibalik pintu.

Chanyeol pun masuk ke apartemen tersebut. Ia melihat ke sekelilingnya. Ia merasa tkajub dengan desain interior apartemen tersebut. konsep  setiap ruangannya begitu minimalis namun tetap chic dan elegan. Lagu Nouvelle Vague mengalun mengisi keheningan apartemen tersebut. Orang yang menempati tempat ini pasti seseorang yang high class.

Pria jangkung ini menjelajahi satu persatu ruangan untuk menemukan orang yang tinggal disana, tapi semua ruangan yang Ia jelajahi tampak tak ada tanda kehidupan. Barulah saat Ia mencapai dapur Ia merasakan ada kehadiran manusia. Ia melihat seorang wanita tinggi yang menggunakan backless dress dengan rambut merah kecoklatan sepanjang leher bergelombang. Punggung putih mulusnya yang terlihat begitu menggoda untuk diseluncuri. Anehnya saat melihat punggung wanita tersebut, Chanyeol merasa pernah melihat kulit seputih susu itu. Wanita itu tampak sedang menuangkan botol wine ke dalam dua gelas cantik dihadapannya.

“Permisi, apakah anda tinggal di apartemen ini?.”

“Lama tak jumpa Chanyeol Oppa!” Wanita itu membalikan badannya, dan bagai di sambar guntur tengah hari. Chanyeol terkejut tingkat dewa saat melihat wajah wanita itu. Tubuhnya mendadak terasa lemas. Ototnya terasa menegang pada seluruh tubuhnya, bahkan Ia merasa otot jantungnya pun ikut berkontraksi terus menerus sehingga menyebabkan ketukan jantugnya amat kacau. Ia merasa ini pasti mimpi.

“Kenapa dengan wajahmu Oppa? Kau begitu terkejut tampaknya.” Senyum wanita itu mengembang. Chanyeol mengucek-kucek matanya. Ini bukan mimpi. Ia mengenal betul senyuman wanita tu. Begitu khas. Senyum polos, siapapun yang melihatnya pasti merasa bahagia dan tenang.

“Duduklah.” Wanita itu menarik kursi di meja makan. Chanyeol pun mengikutinya.

Otak Chanyeol masih belum merespon apa yang terjadi sebenarnya. Chanyeol masih saja diam termangu menatap wanita tersebut.

“Sulli?”

“Ya aku Sulli. Wajahmu terlihat sangat heran? Ada apa? Apa kau kaget?” Tanya Sulli dengan penuh senyuman. Senyumannya masih sama, tapi entah mengapa Chanyeol merasa senyuman Sulli terasa begitu berbeda. Seperti ada sesuatu dibalik senyuman itu. Tak tulus.

“Iya aku sedikit terkejut karena akan bertemu denganmu lagi.” Chanyeol membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegak. Ia merasa canggung.

“Kau banyak berubah ya, Oppa? Tampaknya Park Chanyeol yang sekarang sudah bukan Park Chanyeol yang dulu. Tak kusangka kau akan menjadi seorang detektif.” Ujar Sulli sembari menyodorkan gelas wine yang tadi Ia isi kehadapan Chanyeol.

Chanyeol menelan ludahnya. “Kau juga. Perubahanmu cukup drastis.” Ya Sulli sangat begitu berbeda di mata Chanyeol. Perubahan fisik sudah jelas. Sulli yang dahulu rambutnya selalu panjang dan berwarna hitam, kini rambut itu dipangkas banyak dan warna rambutnya berubah. Perubahan warna rambut itu tampaknya berhubungan dengan perubahan dalam diri Sulli sendiri. Sorot matanya tak sepolos dahulu. Pantulan matanya terasa tajam dan seperti ada monster dalam matanya yang siap memangsa Chanyeol saat menatap mata itu. senyumnya masih tetap khasnya, polos. Namun, tak ada lagi rasa bahagia dan tenang melihat senyum itu. kini yang ada malah rasa khawatir dan ketakutan dan ada aura kemarahan yang menyelubungi senyum dan tatapan Sulli.

Chanyeol mulai mengeluarkan catatannya. Ia mulai melakukan kerjanya sebagai detektif “Sulli, aku datang kemari sebagai seorang detektif. Sebelumnya aku jelaskan maksud kedatanganku kesini. Kami sedang menyelidiki kasus pemerkosaan dengan tersangka Choi Minho. Dari tersangka kami mendapatkan keterangan mengenai alamat ini. Jadi, apartemen ini milik siapa”

Mata dan kepala Sulli bergerak ke semua arah. Matanya menelisik setiap detail apartemen. Dengan tenang Ia menjawab pertanyaan Chanyeol. “Apartemen ini atas namaku. Kau tahu Choiza, mafia narkoba yang menguasai seoul? Aku mendapatkannya  darinya, walau sekarang aku sudah tak berhubungan dengan mafia itu lagi, apartemen ini tetap milikku.”

Chanyeol terkejut mendengar jawaban Sulli. “Si-simpanan mafia?”

Sulli mengangguk sambil menenggak winenya. “Yap, semenjak ‘itu’ aku selama dua tahun menjadi pelayan hawa nafsu mafia muda itu. Ia hanya beda 14 tahun denganku, jadi aku tak keberatan untuk memberikan tubuhku pada mereka.”

Mulut Chanyeol langsung menganga. Sulli benar-benar berbeda 180 derajat dari Sulli yang dulu Ia kenal. Sulli merupakan sesosok gadis yang penuh semangat, kelucuan, dan keluguan yang menggemaskan. Ia bagaikan kertas putih yang belum ditulisi apapun, namun kini Ia menjadi kertas putih yang penuh coretan tinta warna-warni, ditambah dengan sikap dingin dan juga apatis. Chanyeol ingin menanyakan apa alasan Sulli seperti itu, tapi Ia teringat, Ia berada disini sebagai detektif Park, bukan Chanyeol. Ia melanjutkan proses interogasinya.

“Selanjutnya, dengan siapa kau tinggal disini dan apa hubunganmu dengan Choi Minho?”

“Aku tinggal disini bersama kakakku, Choi Minho.”

Serangan kejut bab dua didapat lagi Chanyeol. Ia begitu terkejut mengetahui jika orang yang melukai nunanya merupakan kakak dari gadis yang pernah Ia kejar setengah mati.

“Kakak? Wow! Tampaknya hari ini akan menjadi hari paling mengejutkan hahaha.” Chanyeol berusaha bersikap santai. Ia tertawa untuk membuat jantungnya lebih tenang, tapi sia-sia. Jantungnya justru makin berdegup kencang tak jelas. Tawa yang awalnya keras kini menjadi lemah. Chanyeol menghela nafasnya.

“Berdasarkan keterangan tersangka, aku akan mengetahui motif yang sebenarnya jika aku datang kemari. Apakah kau tahu apa alasan kakakmu melakukan itu semua?”

Kini giliran Sulli yang tertawa. Ia tertawa amat keras dan tampak puas. “Hahahaha tentu saja, aku tahu!”

Chanyeol melirik Sulli penuh tanda tanya dan juga kecurigaan. Ia menggigit bibirnya, Ia mendadak panik mendengar tawa Sulli. Jarinya diketukan ke meja makan. Rasa kekhawatiran makin menyelimuti dirinya.

“Tolong katakana apa alasannya, eh tunggu dulu. Jika kau tahu motifnya, berarti kau tahu siapa korbannya?”

“Tentu saja! Kakakmu kan,Park Yura?” Sulli menatap gelas wine yang Ia pegang sambil menggoyang-goyangkannya, Sulli melanjutkan ucapannya. “Aku tak mungkin tidak tahu korban kakakku, jika aku tidak tahu, Oppaku takkan melakukannya.”

Lagi-lagi, ucapan Sulli membuat Chanyeol sport jantung. Misteri alasan kejahatan yang terjadi pada Yura pun mulai terungkap.

Wait a minute, jika aku tidak tahu, Oppaku takkan melakukannya. Berarti…” Chanyeol tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia tak menyangka jika Sulli memang benar ada hubungannya dengan kasus Yura.

“Berarti… kau… yang menyuruhnya?”

Sulli dengan mantap mengangguk. “Yap! Memangnya kenapa?”

Chanyeol mengepalkan tangannya. Emosinya mulai naik. “Harusnya aku yang bertanya kenapa!

Sulli memajukan tubuhnya kehadapan Chanyeol. Wajahnya kini hanya berjarak sejengkal dari wajah Chanyeol. “Kau adalah seorang detektif, pastinya punya berbagai hipotesa, dan kau masih saja tanya kenapa? Harusnya kau sadar. ini semua terjadi karena dirimu juga,Oppa!”

DEG! Kini jantung Chanyeol bagai terhantam beton seberat satu ton. Tampaknya dugaan Jongdae terbukti. “Apa ini ada hubungannya dengan kejadian empat tahun lalu?”

Bibir Sulli tersungging sebelah. Tersenyum penuh arti. “Ternyata kau tak pikun akan kejadian itu.”

Otak Chanyeol kini mulai membuka lembaran-lembaran memori lamanya. Memori itu kini mulai memutar gulungan film kejadian empat tahun lalu. Chanyeol tak pernah akan sejarah kelamnya saat masa remaja dahulu. Sisi paling buruk dan bodoh dalam dirinya yang pernah ada.

Dahulu semasa bangku high school, Chanyeol, Baekhyun, dan Jongdae merupakan salah satu kawanan yang paling popular di sekolah. Oleh para siswa mereka begitu disegani, disenangi, dan juga disanjung. Para siswi berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan perhatian dari mereka. Hampir setiap siswa pasti ingin bergaul dan bisa dekat dengan mereka bertiga, walau ada juga yang sirik dengan mereka, tetapi mereka mempunyai banyak sekali teman dan fans.

Keterkenalan itu membuat mereka gila akan wanita. Mereka kerapkali bergonta-ganti pasangan terutama Chanyeol. Mereka berpacaran hanya untuk bersenang-senang, and sometimes for “having fun”. Dengan mudahnya mereka mendapatkan wanita yang mereka inginkan. Tak ada wanita yang menolak untuk menjadi teman kencan mereka. Tentu saja itu membuat mereka besar kepala, apalagi Chanyeol. Chanyeol lah yang paling sering bergonta-ganti pasangan, dan dia tidak pernah gagal mendapatkan wanita yang diinginkannya. TIDAK PERNAH SEKALIPUN! Namun itu semua berubah saat Ia bertemu Sulli.

Saat ditahun terakhirnya di masa SMA, Chanyeol bertemu dengan Sulli yang merupakan juniornya yang baru saja masuk ke sekolah itu. Chanyeol terpesona akan kecantikan Sulli. Sebagai seorang playboy dengan percaya dirinya Chanyeol mendekati Sulli. Sulli pun merespon Chanyeol dengan baik. Mereka sering makan dan jalan bersama. Semakin mengenal Sulli, Chanyeol pun semakin terpesona. Menurutnya, Sulli sangat berbeda dari wanita lain. Semenjak itulah, Chanyeol bertekad untuk mencoba hubungan serius dengan Sulli.

Singkat cerita, Chanyeol menyatakan perasaannya pada Sulli, namun jawaban yang Sulli berikan…

Mianhae Oppa, aku sangat senang jalan bersamamu, tapi untuk menjadi pacarmu kurasa tidak. Aku tak yakin kau serius denganku, lagipula selama ini aku pun hanya menganggapmu sebagai kakakku saja.”

Hancurlah harga diri Chanyeol. Seumur hidupnya, Ia tak pernah ditolak. Baru kali ini ada wanita yang berani menolaknya. Walau harga dirinya jatuh, tapi justru ini membuat Chanyeol makin penasaran dengan Sulli. Ia tak patah semangat. Chanyeol semakin gencar untuk mendekati Sulli, dan berusaha meraih hati Sulli. Sayangnya, semua usaha itu sia-sia. Lagi, kedua kalinya harga diri Chanyeol jatuh. Sulli menolaknya kembali dengan tegas. Gengsi Chanyeol benar-benar hancur seketika. Rasa kebanggaanya sebagai penakluk wanita mendadak terpecah berkeping-keping. Disitulah Chanyeol merasa amat marah dengan Sulli.

“Gila, bro! baru kali ini  aku ditolak sama cewek! Dua kali pula!” gerutu Chanyeol kesal.“Parah banget ya tuh orang? bisa-bisanya enggak kena pesona seorang Chanyeol!”

“Unik juga itu orang! sayang, susah ditaklukin.” Jongdae menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sialan itu cewek! Giliran aku mau serius, dia malah enggak mau! F**k!” chanyeol menendang batu yang ada disepanjang jalan.

“Harus dikasih pelajaran tuh!” Usul Jongdae.

“Benar kata Jongdae, kamu harus pelajaran buat Sulli, biar dia menyesal enggak nerima kamu!” Seru Baekhyun semangat mengiyakan ide Jongdae.

“That’s right! Tapi harus diapain itu anak?”

Mereka bertiga menghentikan langkah kaki mereka. Mereka berpikir, mencari ide untuk membalas dendam pada Sulli yang dengan tanpa rasa bersalah telah menolak Chanyeol. Tiba-tiba Bakehyun membunyikan jarinya. Ia telah mendapatkan ide.

“Ah aku tahu! Gimana kalau kita…..”

Ya, pada akhirnya Chanyeol setuju akan ide yang diusulkan Baekhyun. Mereka pun menyusun rencana mereka dengan baik. Tibalah hari pembalasan itu. Chanyeol mengajak Sulli untuk makan bersamanya untuk merayakan “Ulang tahun” Chanyeol.

“Aku hari ini ulang tahun loh!” Ucap Chanyeol dengan girang.

“Oh iya? Saengil chukahae Oppa!” Senyum Sulli.

“Ikut aku yuk! Kita makan-makan!”

Sulli Nampak ragu untuk menerima ajakan Chanyeol. Sadar akan itu Chanyeol melanjutkan kalimatnya. “Aku mengajakmu sebagai seorang kakak, sebagai teman, bukan sebagai pria.”

“Benar?”

“Yap! I swear!” Chanyeol mengangguk penuh senyuman.

“Oke,aku mau!”

Sulli pun dbawa Chanyeol ke apartement milik Baekhyun. Disana sudah ada Baekhyun dan Jongdae yang menunggu. Mereka pun mulai makan pasta,pizza dan kue yang ditemani dengan bergelas-gelas cola. Baru saja meminum empat gelas cola, Sulli merasa pusing. Ia merasa aneh, karena tak seperti biasanya. Ia sanggup menghabiskan satu liter cola sendirian, tapi kini baru empat gelas saja Ia sudah merasa tak sanggup. Chanyeol menyadari hal itu.

“Kenapa, Sull?”

Sulli memegangi kepalanya. “Enggak tahu nih. Kok rasanya pusing ya?”

“Pusing gimana?”

“Ya berkunang-kunang gitu, like I’m under controled by alcohol.” Sulli mulai sempoyongan.

“Wah cepat juga efeknya nih. Ternyata kamu bukan peminum yang hebat hahahaha.” Baekhyun tertawa puas.

“Hah? peminum yang hebat? Jangan-jangan colanya kalian kasih alkohol?”

Mereka bertiga hanya tertawa tak menjawab pertanyaan Sulli.

“Kenapa? Kenapa kalian lakukan ini?”

Chanyeol mendekatkan tubuhnya pada Sulli. Ia membelai wajah Sulli. “Supaya kamu tidak melawan kami.”

Chanyeol mulai membuka Kancing kemeja Sulli yang paling atas. Sulli pun berusaha melawan.

“Apaan sih ini!” Sulli berusaha memukul lengan Chanyeol, namun tangannya ditahan oleh Baekhyun dan Jongdae.

“Enggak mau diam ya! Biar kamu diam kamu harus minum satu gelas lagi.”

Sulli melawan Chanyeol yang memaksakan segelas cola untuk mengalir di kerongkongannya, namun sayang Ia ditahan oleh Baekhyun dan Jongdae, dan benar saja, setelah menegak segelas penuh, Sulli terjatuh diatas sofa. Ia pingsan.

“Hahahaha, siapa nih yang pertama?” Tanya Baekhyun yang nampaknya sudah bersemangat.

“Aku dulu lah! She’s mine! aku yang berhak merasakan kesegarannya hahaha.” Sahut Chanyeol sambil membaui leher Sulli.

“Oke, aku kedua ya! kan aku yang menyediakan tempat” Pinta Baekhyun dengan nada genit.

“Yah dapat sisa deh.” Gerutu Jongdae

“Ya walau sisa, tapi dia termasuk fresh! Lagipula lihatlah tubuhnya yang begitu menggoda, walau bekas pun kau pasti takkan menyesal!” Timpal Chanyeol sembari meneruskan kembali melepaskan kancing-kancing kemeja Sulli yang belum terbuka.

“Hari itu, Sore itu! Dengan seenaknya tubuhku kalian lahap semau kalian! Kalian jelajahi setiap inci tubuhku secara bergiliran! Kesucianku menguap begitu saja. Tubuhku menjadi KOTOR!” Sulli penuh amarah saat mengucapkan itu. Matanya begitu tajam dengan otot menegang dan rahang yang mengeras.

“JIJIK AKU! JIJIK! Hina sudah tubuhku ini! betapa frustasinya aku! Seminggu penuh aku menangisi ini semua. Sampai sekarang pun aku amat membenci tubuhku! Setiap mandi aku selalu menangis kesal karena tubuhku yang teramat KOTOR, HINA, MENJIJIKAN!”

Cucuran keringat dingin mulai membasahi keningnya. Detak jantung Chanyeol semakin tak karuan. Nafasnya menderu tak jelas. Ia panik sepanik-paniknya. Ia tak tahu apa yang Ia rasakan kini. Kaget, panik, khawatir, takut, dan rasa sejenis lainnya beraduk jadi satu dalam hatinya. Tangannya meremas-remas lututnya. Kalut menggerogoti dirinya.

“Semarah itu kah kau padaku?” Tanya Chanyeol pelan.

Sulli tersenyum sinis. Ia kembali memajukan tubuhnya, lalu tangannya menengadahkan kepala Chanyeol “Menurutmu? YA TENTU SAJA! Karenamu, hidupku hancur sudah! Pendidikanku terbengkalai. Impianku terkubur begitu saja! Sudah terlanjur tercebut ke kubangan lumpur yang berlimbah racun, aku biarkan diriku berenang dalam kubangan itu. Aku sempat kabur dan menjadi simpanan mafia itu. Jadi kehancuran diriku ini semua karena BAJINGAN sepertimu! YA KARENA MU, PARK CHANYEOL!”

PLAK! Seketika tangan Sulli mendarat di pipi kanan Chanyeol dengan keras. Chanyeol pun hanya bisa diam memegangi pipinya yang merah kesakitan.

“Kemarahanku padmau belum terluap dengan tamparan itu. Itu hanya 5% dari kemarahanku padamu!”

Chanyeol menggigit bibirnya. Chanyeol kembali mengatur nafasnya agar tidak tersulut emosinya. Rasa bersalah makin menghampirinya.

“Jika kau dendam, marah, kenapa dulu kau tak melaporkan pada polisi? Jika kau melaporkanku, aku pasti sudah terpenjara. Aku mendapatkan balasannya. Kenapa kau harus membalas dendam melalui kakakku?”

“Apakah kau mengingat ucapanku saat terakhir kali kita bertemu?”

Chanyeol kembali membongkar memori itu. Ia berusaha mengingat-ingat, dan DEG! Jantungnya seperti tertohok lagi mengingat itu.

“Kalian semua keparat! Bajingan! Kalian lebih hina dari binantang!” Hina Sulli dengan suara tercekat dan deraian air mata. “Awas saja ya! kalian akan mendapatkan karma! Aku akan balas dendam!”

“Hahahaha, balas dendam? Kamu bisa apa?” Tantang Chanyeol sambil memakai bajunya.

“Aku enggak akan balas dendam langsung padamu. Lihat saja suatu hari nanti kau akan merasakan sakit yang kurasakan! Jaga baik-baik keluargamu!”

“Aku ingin kau merasakan apa yang kakakku rasakan! Betapa sakitnya dia saat melihat saudara perempuannya hancur! Betapa frustasinya dia karena merasa gagal untuk menjaga diriku! Aku dan Oppa ingin kau merasakan itu semua! Jika ku melaporkanmu ke polisi, kau hanya akan mendapatkan hukuman secara legal. Kau takkan mendapatkan balasan yang pantas kau dapatkan! Aku ingin melihatmu merana karena nunamu itu!” Sulli meluapkan emosi yang telah Ia simpan selama bertahun-tahun. Amarah disertai air mata yang meluncur dari pelupuk matanya menjelaskan bahwa selama ini Ia benar-benar merasa sakit dan marah.

Chanyeol memegangi dadanya yang terasa sesak. Nafasnya yang menderu kembali Ia atur agar lebih tenang. “Ja-jadi kau merencanakan ini sudah lama?”

Sulli menggeleng. “Niatan ku untuk suatu hari balas dendam denganmu memang sudah lama, tapi perencanaan itu baru sebulan yang lalu. Saat aku melihat foto-foto Oppa bersama teman-teman kantornya, aku melihat Park Yura. Saat melihat wajahnya, entah mengapa amarahku langsung melonjak. Wajahnya yang mirip membuatku teringat pada dirimu. Setelah Oppa selidiki, ternyata benar Dia adalah kakakmu. Kita berdua pun kemudian merencanakan hal itu.”

“Kalian berdua yang merencanakan, tapi hanya kakakmu saja yang masuk penjara? Adik macam apa kau! Mengorbankan kakakmu sendiri!” Seru Chanyeol dengan mata melotot.

“Dia sendiri kok yang mau. Dia enggak mau aku makin terpuruk, dengn msuk penjara. Jika Ia mengaku, hukumannya paling hanya 2-3 tahun.” Ujar Sulli santai.

“Dasar wanita jalang, bedebah! Harusnya kau kena proses hukum juga! Kaulah otak diatas itu semua!”

“Cih!” Sulli tersenyum miring. “Apa kau punya bukti untuk menyeretku ke pengadilan? Sama sekali tak ada bukti tertinggal yang menyatakan kalau aku terlibat.”

“Walau tak ada bukti, tapi kau mengakui kalau kau terlibat?”

“Ya! akulah otak dibalik pemerkosaan Park Yura. Aku lah yang meminta Oppa untuk melakukan itu, dan Oppa dengan sukarela mau melakukannya. Ia juga ingin balas dendam padamu! Hah… rasanya puas sudah hati ini. balas dendamku terselesaikan sudah. Aku dapat hidup bebas! Hahahaha!”

“Jangan senang dulu Choi Sulli. Kebebasanmu tak akan lama lagi!”

“Ma-maksudmu? Kau kan tak punya bukti untuk membawaku ke penjara?!”

“Terimakasih atas pengakuanmu itu. itu sudah cukup untuk dijadikan bukti ke pengadilan.” Ujar Chanyeol dengan senyum penuh kemenangan. Ia mengeluarkan alat perekam dari saku jaketnya. Ternyata percakapan mereka telah Ia rekam sebagai barang bukti.

Sulli langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia meremas-remas tangannya dnegan kuat. Sorot matanya penuh amarah dan kebencian. “Dasar keparat! Bajingan kamu!” Sulli mengambil gelas wine milik Chanyeol dan Ia guyurkan seluruh isinya ke wajah Chanyeol. Chanyeol pun hanya bisa menghela nafas sambil mengelap wajahnya.

Chanyeol mendekatkan wajahnya pada wajah Sulli sambil memperlihatkan alat perekam suara didepan mata Sulli. “Begitu bukti ini diserahkan, tak lama lagi surat perintah penangkapanmu akan keluar. Saat itulah kebebasanmu berakhir.”

Mata Sulli menatap Chanyeol. Monster dalam matanya seperti siap melahap Chanyeol. Lagi, tangannya akan mendarat di pipi Chanyeol, tapi Chanyeol menahannya.

“Terima kasih atas keteranganmu. Saya permisi dulu.” Chanyeol melepaskan tangan Sulli kemudian berjalan pergi dari hadapan Sulli. Sulli pun hanya bisa berteriak kesal sambil membanting gelas-gelas.

Di luar sudah ada Baekhyun dan Jongdae yang menunggu. Mereka sudah mendengar percakapan yang terjadi antara Chanyeol dan Sulli. Sama seperti Chanyeol, mereka pun mendadak lemas mengetahui itu semua. Sambil berjalan ke parker mobil, mereka mendiskusikan hal tersebut.

Heol, She’s crazy! Michyeosseo!” Baekhyun menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.

“Benarkan dugaanku, kalau ini semua ada hubungannya sama si Sulli.” Sahut Jongdae dengan sedikit nada bangga.

“Terus kita harus gimana?”

“Gimana apanya?”

“Ya dengan bukti rekaman itu, terbukti dan terbongkar juga kelakuan masa lalu kita. Kita enggak akan masuk penjara sih, karena korban tak menuntut kita dan bukti sudah menguap. Dipecat pun tidak karena kita melakukan itu saat kita belum menjadi polisi, tapi tetap saja karir kita pasti bye bye.”

Jongdae langsung mengacak-acak rambutnya. “Haish, benar juga. Karirku… huhuhu susah payah lolos jadi detektif, masa harus hancur begitu saja?”

“Kalau kita kasih bukti rekaman, karir kita sebagai detektif berakhir, tapi kalau enggak dikasih Yura nuna kasihan.” Baekhyun merasa galau.

“Kita kembalikan pada keluarga korban.” Tunjuk Jongdae pada Chanyeol yang berjalan di depan mereka. “Bagaimana menurutmu?”

Chanyeol menghentikan langkahnya. Dia menarik nafasnya dengan berat, dan menggelengkan kepalannya. “Molla.”

“Kamu sih! Malah ngasih ide kayak gitu! Jadinya kan Sulli malah balas dendam.” Jongdae mendorong lemah bahu Baekhyun.

“Woi, kamu juga salah! Kalau kamu enggak mendorong Chanyeol buat menyetujui ide itu, Chanyeol enggak akan melakukan itu. kan kalau chanyeol enggak setuju ideku hanyalah sebuah ide!” Baekhyun membalasnya dengan jitakan.

Pada akhirnya Jongdae dan Baekhyun malah ribut sendiri, sedangkan Chanyeol terus berjalan dengan tatapan kosong. Sesampainya diparkiran mereka langsung masuk ke dalam mobil. Awalnya Chanyeol yang menyetir, tapi karena perasaannya sedang kalut, Jongdae yang menyetir. Chanyeol merebahkan tubuhnya di jok belakang.

“Kemana kita sekarang?” Tanya Jongdae.

“Kita ke rumah sakit, aku ingin menemui nuna.” Jawab Chanyeol lemah.

Setibanya di rumah sakit, mereka langsung masuk ke kamar rawat Yura. Disana tampak ada suster yang baru saja membereskan peralatan makan.

“Ah tuan Chanyeol, ada kabar gembira. Kakakmu menunjukan sedikit kemajuan. Hari ini dia mulai mau makan, walau tak banyak, tapi itu sebuh kemajuan besar.” Ujar Suster sambil membawa nampan berisi sisa makanan.

“Syukurlah. Terima kasih.” Chanyeol mengelus dadanya lega.

“Sama-sama, saya permisi dulu.”

Chanyeol duduk di kursi sebelah ranjang kakaknya. Seminggu sudah kakaknya berada di rumah sakit ini. Efek malam kelabu itu, membuat Yura mengalami luka ringan secara fisik, tapi secara mental lukanya teramat berat. Ia mengalami trauma luar biasa. Ia ditemukan dalam keadaan pingsan. Begitu sadar, Ia menangis histeris selama berjam-jam, dan setelah itu Ia hanya terdiam. Tatapannya selalu kosong, dan Ia tak mau diajak berbicara. Mulutnya begitu tertutup rapat, sehingga pada awalnya sulit mendapatkan siapa pelakunya, untung pelaku meninggalkan bukti yang cukup kuat untuk menguak dirinya. Selama seminggu ini, selain tak mau berkomunikasi, Ia pun tak mau makan. Asupan gizinya hanya berasal dari selang infuse yang mengaliri darahnya. Chanyeol sangat senang akhirnya Yura mau makan melalui mulutnya.

Mianhae, nuna aku baru datang setelah dua hari.” Ujar Chanyeol sambil mengelus rambut Yura. “Kudengar kau hari ini sudah makan ya? syukurlah. Aku senang kesehatanmu mulai membaik. Aku juga punya kabar gembira. Pelaku pelecehan padamu sudah berhasil ditangkap.”

Chanyeol menarik nafasnya. Ia melihat wajah kakaknya lekat-lekat. Biru-biru pada wajahnya masih sedikit terlihat. Mata Yura tampak kosong, tapi pantulan sorotnya menggambarkan kesedihan dan luka. Hati Chanyeol seperti teriris melihat itu semua, ditambah lagi Ia tahu jik ini semua akibat kebodohannya dahulu. Hatinya benar-benar hancur. Ia benar-benar merasakan apa yang dirasakan Minho. Ya kini Ia sudah mendapat ganjarannya.

“Dan nuna tahu? ini semua adalah kesalahanku. Ini semua salahku! Saat SMA aku pernah melakukan dosa besar. Aku melakukan suatu kebodohan. Aku ini benar-benar setan. Aku tak jauh berbeda dengan Minho! Maafkan aku nuna… andai saja dulu aku tak sebodoh itu! andai aku tidak terbawa gengsi… ini… ini semua enggak harus terjadi. Kau tak harus seperti ini. maafkan aku… jeongmal mianhae, nuna.” Chanyeol mulai menitiki air mata. Ia membenamkan wajahnya pada lengan Yura. Ia menangis. Hatinya menjerit perih. Dia benar-benar merasa bersalah dan juga sakit hati melihat kakaknya amat terluka.

“Apa yang harus kulakukan? Karirku akan hancur jika kuberikan bukti ini, tapi jika tidak bagaimana denganmu? Eotteokhae? Eotteokhae?”

Melihat Chanyeol menangis pilu, membuat kedua sahabatnya juga merasakan kepiluan yang sama. Mereka pun merasakan rasa bersalah yang sama.

“Maaf ya,bro. Ini semua salah aku. Seharusnya aku enggak ngasih ide itu.” Lirih Baekhyun. Ia meminta maaf dengan tulus.

“Maaf aku juga salah, kalau aku enggak mendukung ide Baekhyun, ini semua enggak akan terjadi.” Jongdae pun merasa amat bersalah.

Chanyeol menggeleng. “Aku pun salah, dan aku lah yang paling bersalah. Buktinya Sulli balas dendam hanya padaku saja, bukan kalian. Aku dulu terlalu marah karena aku merasa gengsi dan harga driku sebagai playboy jatuh hanya oleh gadis sepolos dirinya. Aku memang salah.”

Baekhyun melihat Yura dengan tatapan sendu. “Kita serahkan saja rekaman ini pada ketua tim. Mereka harus mendapatkan balasannya. Dengan begitu luka kakakmu setidaknya agak terobati.”

“Tap..tapi karir kita?” Jongdae gelagapan.

Baekhyun menjitak kepala Jongdae. “YA!!! kau ini seorang polisi bukan! Koe etik kita adalah menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah yang salah! Kita tak boleh menyembunyikan bukti! Lagipula lihat wajah Yura nuna! Lihat matanya!”

Baekhyun mengarahkan kepala Jongdae untuk melihat Yura. Jongdae menelisik setiap inci wajah Yura, dan juga menyelami sorot matanya. Semakin Ia menyelam, semakin Ia merasakan kesakitan yang dirasakan oleh Yura. Rasa bersalah pun makin menjalari Jongdae.

“Ya, kita serahkan saja bukti itu. aku siap dengan semua konsekuensi yang harus kita terima.” Ujar Jongdae dengan mata berkaca-kaca.

Chanyeol menatap alat perekam dengan ragu.  “Eotteokhae? Haruskah aku menyerahkan ini semua dengan taruhan karir detektifku?” Chanyeol menatap mata Yura. Ia kembali menitikan air mata. “Baiklah, demi nuna aku rela melepas lencanaku sebagai detektif.”

Mendadak tetesan air mata meluncur di pipi Yura. Tangan Yura menggenggam tangan Chanyeol. Yura merespon semua omongan Chanyeol. Ia seolah mengatakan turut sedih akan keputusan Chanyeol, karena Ia tahu betapa Chanyeol menyukai pekerjaannya sebagai detektif. Betapa sulitnya Chanyeol untuk mencapai itu semua, dan kini harus hancur. Yura pun hanya bisa ikut menangis sedih.

Nuna,uljima. Kau sudah banyak terluka, air matamu sudah terkuras habis. Sudahlah. Aku memang layak menanggung ini semua. Maafkan aku…”

*****

“Hei, bocah-bocah! Darimana saja kalian?” Tanya Kyuhyun, sang ketua tim. Ketiga anak buahnya tak menjawab, mereka hanya duduk dikursi mereka dengan wajah lesu. Kyuhuyn heran melihat itu.

“Ada apa dengan kalian? Lesu amat!”

Anio,hyung.” Geleng Baekhyun.

“Gimana interogasi tadi? ada keterangan baru?”

“Maafkan kami, Hyung kami tidak melapor padamu dulu untuk mengadakan penyelidikan lebih lanjut.” Ujar Chanyeol.

“Kami mendatangi satu saksi yang diucapkan tersangka saat interogasi, dan kami menemukan bukti baru.” Jongdae menambahkan.

Aigo… kalian ini ya penyakit!” Kyuhyun mengangkat tangannya seolah-olah akan memukul mereka.

Chanyeol mengeluarkan alat perekam suara dari saku jaketnya, lalu Ia berikan pada Kyuhyun. Kyuhyun mengenakan headset untuk mendenga lebih jelas rekaman tersebut. Ia pun mulai menekan tombol play. Rekaman itu kembali memutarkan percakapan tadi.

Mulanya Kyuhyun manggut-manggut, tapi saat percakapan sampai ke tahapan fakta yang mengejutkan, mata Kyuhyun melebar. Ia langsung mengalihkan perhatiannya pada mereka bertiga.

“Ka-ka-kalian?”

Mereka bertiga pun hanya bisa menunduk menyesal.

 

Enam bulan kemudian….

Chanyeol tampak mengendari sepedanya dijalanan aspal yang sepi. Ia tampak menikmati udara segar yang menimpa wajahnya. Terdengar desir ombak dan pasir dari sebelah kirinya, sedangkan sebelah kanannya ada beberapa jajaran ruko dengan beberapa pemiliknya menyapa dirinya.

“Pak polisi!” Panggil seorang ibu-ibu berusia 40-an yang berbada gempal.

“Ya?” Chanyeol menghentikan sepedanya.

Ibu tersebut langsung membelai wajah Chanyeol. “Duh tampan sekali polisi ini. kulitnya mulus kali. Kau ini masih mudah, aku merasa tak enak memanggilmu pak polisi.”

Chanyeol tersenyum canggung. “Hahaha tak apa kok ibu memanggilku pak polisi. Ada apa bu?”

“Ini loh lampu kamar mandi saya mati, suami saya lagi diluar dan saya mau mandi. Tolong ya kamu ganti lampunya?” Pinta ibu tu sambil mengeluarkan lampu pengganti.

“Oh ya baiklah.” Chanyeol dengan segera mengganti lampu kamar mandi ibu tersebut. setelah selesai Ia pamit dan kembali ke pos polisi tempatnya bekerja kini.

Di pos tampak Jongdae yang sedang melerai pertikaian dua orang gadis yang sedang memperebutkan siapa yang terbaik diantara idola mereka, sedangkan Baekhyun sedang asyik bermain kartu bersama dua orang polisi lainnya. Setelah tertangkapnya Sulli dan terbongkarnya “kejahatan yang tak disengaja” yang dilakukan mereka, mereka diputuskan untuk melepas karir mereka sebagai detektif dan kini mereka menjadi polisi layanan masyarakat di daerah perbatasan.

Terdengar suara pintu dibuka. Ternyata Yura yang masuk. Ditangan kanannya Ia meneteng sebuah plastik putih berisi beberapa kotak makanan. Melihat itu, semua yang berada di pos tersebut langsung menghampiri Yura.

Keadaan Yura kini sudah jauh lebih membaik. Ia sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Keputusan Chanyeol untuk turut serta membawa kakaknya kemari, keputusan yang tepat. Dengan kepindahan mereka ini proses kesembuhan mental Yura menjadi begitu pesat. Kini setiap hari Yua selalu mengantarkan makan siang untuk petugas polisi di pos tersebut.

Mereka mulai makan setelah Jongdae membereskan masalah kedua gadis remaja tersebut. sambil makan mereka sambil mengobrol.

“Enggak kerasa ya kita sudah enam bulan disini!” Celetuk Baekhyun dengan mulut penuh makanan.

“Kalian menikmati tidak waktu kalian selama disini?” Tanya Jonghyun, rekan polisi mereka.

So far sih I’m enjoyed it!” Sahut Jongdae sambil memasukan mie kedalam mulutnya.

Rekan mereka satu lagi, Minhyuk, ikut bertanya “Menyesal enggak sih kalian pindah kesini?”

“Kalau masalah apa yang telah kita buat, tentu saja kami menyesal. Pekerjaan impian kami sebagai detektif hancur sudah, tapi kami merasa beruntung bisa ada disini, ya enggak nuna.” Jawab Chanyeol dengan wajah senang.

Yura pun tersenyum sembari mengangguk.

“Lihatlah nunaku kondisi jauh lebih baik dari pertama kali Ia datang kemari!”

Yura membelai kepala Chanyeol. “Maafkan aku ya, karena aku, kamu harus menanggung aku yang sekarang sangat bergantung padamu. Seharusnya aku bisa menjaga diri lebih baik. kalau aku bisa menjaga diri lebih baik, mungkin sekarang kau sedang disibukkan menginterogasi pelaku kriminal.”

Gwaechana nuna. Sudah seharusnya kau bergantung padaku, aku adik laki-lakimu harus menjagamu. Lagipula memang inilah yang harus kuterima akibat perbuatanku dulu. Rasa sakit dan juga bersalah yang menghantui dan juga kehancuran karirku. Itu masih lebih baik daripada aku harus masuk penjara dan tidak bisa menjagamu,nuna.”

“Aaah~ aku jadi ingin menjadi saudara perempuanmu!” Sahut Baekhyun dengan genit. Tingkah laku Baekhyun itu dapat mencairkan kembali suasana yang serius, mereka semua pun tertawa keras karena hal itu.

Ya seperti itulah. Pada akhirnya setiap perbuatan akan mendapatkan balasannya, dan Chanyeol sudah merasakan hal itu dengan baik. Jika ada aksi maka akan timbul reaksi, maka dari itu bersikap baiklah pada semua orang agar kalian mendapatkan balasan yang baik juga.

—The End—

Monday, September 01, 2014

10:10 PM

Butuh berhari-hari nulis ini. ini idenya udah dari bulan april cuman baru kekerjain sekarang-sekarang. untuk kejadian yang melatar belakangi kasus Yura aku terinspirasi dari cerita PASUPATI ARDAN edisi april 2017, lalu untuk ending dan beberapa bagian aku terinspirasi dari drama YOU’RE ALL SURROUNDED and for sulli’s character when she meet again Chanyeol, dinginnya dan hobinya yang minum wine sambil menikmati alunan lagu Nouvelle Vague thanks to Johan Al di novel Metropolisnya Windry Ramadhina. Seringkali pelaku kejahatan itu adalah korban yang sebelumnya pernah mendapatkan kejahatan yang sama. Penanganan dan pengendalian diri yang tak benar membuat mereka dendam dan pada akhirnya mereka malah menjadi pelaku, bukan lagi korban. Makanya ada yang bilang para lelaki, perlakukanlah wanita dengan baik seperti kamu memperlakukan ibumu dan saudara perempuanmu, karena sikap kamu itu akan berbalik pada ibumu dan saudara perempuanmu #asiiik. Aku merasa agak aneh yang awal ceritanya, pembukaannya terasa kurang nendang. Aah maafkan yaaa, abis aku bingung mau gimana hehehe. Duh panjang bener yak omen aku. MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

 

 

Iklan

2 thoughts on “[FF] Karma

  1. Cerita yg panjang dan Kerennn bnget kak ffnya,. bkin greget, dan emang stiap ap yg kita lakuin pasti ada blsannya,,
    Aku suka ff yg ngandung pesan moral gini..

    D tnggu ff chanlli lainnya,,
    Keep writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s