[FF] It Has Been Finished

Title               : IT HAS BEEN FINISHED

Rate               : 13+ lah seperti biasa, enggak berani tinggi-tinggi aku…

Genre             : ideku keseringan mengenai ROMANCE, dan ada sedikit ANGST

main Cast     : PARK JIYEON T-ARA, KIM MYUNGSOO (L INFINITE)

OTHER CAST   : LUNA F(X)

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH kembali ^^

INSPIRED        : mimpiku di bulan agustus lalu yang sukses bikin aku uring-uringan berhari-hari -,- untung sekarang udah biasa lagi.

Disclaimer   : mau curcol dulu. haaah parah gila semester 5 hecticnya. Bagi yang sudah merasakan semester 5 pasti tau rasanya T_T. Sedih, November kemaren enggak kekejar deh satu bulan menghasilkan satu karya. November kemaren aku sibuk banget sama tugas dan lapak yang bejibun :((. Jadi aja FF ini baru jadi sekarang. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

Suara dering bel terdengar setiap kali pintu coffee shop terbuka. Sesosok gadis berambut coklat tampak berjalan memasuki coffee shop tersebut. Luna –gadis berambut coklat– datang ke tempat itu untuk memenuhi janji untuk bertemu sahabatnya Jiyeon. Pagi buta Jiyeon tiba-tiba meneleponnya. Suarnaya terdengar kacau, dan tampak sepert kehabisan nafas. Jiyeon merengek dan memaksanya untuk menemuinya siang ini.

Ditengah sepinya coffee shop, Jiyeon mengaduk-aduk minuman dalam cangkirnya menggunakan sendok. Wajahnya ditekuk dengan mata yang tampak menerawang. Badannya memang disini, tapi entah jiwanya pergi melayang kemana. Luna dapat merasakan hal tersebut. Terbukti saat Ia hadir dan duduk dihadapan Jiyeon, Jiyeon sama sekali tak sadar. ia terus mengaduk minumannya.

“Ya!” Luna menjentikan jarinya tepat di depan mata Jiyeon. Barulah Jiyeon tersadar.

“Luna….” Jiyeon tampak seperti merengek matanya berkaca-kaca. Jelas Luna kebingungan apa yang terjadi dengan sahabatnya ini.

“Kenapa sih?” Jiyeon seketika menelungkupkan wajahnya ke meja. Jiyeon beberapa kali menghela nafas. Auranya benar-benar suram.

“Aku bisa gila lun….” Jiyeon mulai mengungkapkan isi hatinya dengan muka tetap menempel pada meja.

“Duh.. kalau cerita itu mulut kamu jangan nempel sama meja. Enggak jelas tahu! mukanya diangkat dulu dong.” Protes Luna karena suara Jiyeon tak terdengar jelas.

Jiyeon pun mengangkat wajahnya, dan matanya kini makin memerah. Tampak jelas air mata bisa tumpah kapan saja. Sorot frustasi tampak jelas dari raut wajahnya. “Aku mimpi Lun… Ya bisa dikatakan mimpi buruk.”

“Mimpi apa sih?”

“Aku mimpi…” Jiyeon terhenti. Entah mengapa rasanya sulit sekali kata-kata itu meluncur dari lidahnya. Otaknya mengirimkan impuls agar lidah berucap, namun impuls itu terhenti karena perasaan hati. Jiyeon pun berusaha meyakinkan dirinya. “Aku mimpi Myungsoo nikah…. Tapi nikah sama Suzy”

Dahi Luna mengerut. “Ya bagus lah. Kenapa mimpi buruk? Apa jangan-jangan kamu………”

Jiyeon mengangguk lemah. “Ya kan kamu tahu sendiri…. Kalau aku… aku… aku masih berharap.”

Luna bergeleng-geleng heran. “Heol… Ji, it was 3 years!”

“Aku tahu ini semua sudah berakhir dari 3 tahun lalu tapi… tapi…” Jiyeon mengacak-acak rambutnya kesal. “Entah kenapa rasa kepadanya tak pernah pudar! Aku selalu stuck. Selama 3 tahun ini aku sudah pacaran dua kali sama orang lain, dan setiap hubunganku berakhir aku selalu saja kembali padanya. Selalu berharap walau tahu itu tak mungkin.”

Jiyeon menundukan kepalanya. Air matanya mulai mengalir. Dengan cepat Ia menghapusnya.

Luna sedih melihat temannya yang masih terjebak masa lalu. “Sudah ah enggak usah sedih. Mimpi itu pertanda kamu harus benar-benar menghapus semua harapan kamu itu.”

“Aku tahu itu, tapi masalahnya… serius susah!gara-gara mimpi itu dari semalam hingg detik ini aku merasa resah. Frustasi. Aku bingung kenapa sulit sekali lepas dari bayang-bayangnya?”

“Mungkin kamu masih merasa penasaran.” Sahut Luna sambil meminum Hazelnut Coffee milik Jiyeon. “Kalian tak berhasil mencapai hubungan resmi karena kurangnya komunikasi dan pastinya itu membuat kamu memiliki berjuta pertanyaan yang ingin kau tanyakan padanya. Kau tak bisa lepas karena rasa penasaran kamu belum terjawab.”

Jiyeon mengangguk pelan. Ia setuju dengan pendapat Luna. “You right. You know me so well. Ya memang benar aku punya banyak pertanyaan, tapi ya Luna, satu hal dari mimpi itu yang bikin aku merasa sesak banget.”

“Apa?”

Air mata Jiyeon kembali mengalir. Kini diiringi dengan isakan. Sepertinya hal tersebut benar-benar menyesakkan dadanya. “Aku kangen dia. Aku ingin bertemu dan ngobrol saja sebentar. Aku benar-benar kangen. Saat pagi aku jogging, rasanya aku seperti melihatnya dari jauh. Lalu terdengar suara-suara dia memanggilku. Aku berhalusinasi saking rindu padanya.” Kepala Jiyeon besandar pada kedua tangannya.

“Jiyeon-ah.” Lagi. Kali ini Jiyeon seperti mendengar suara Myungsoo. Ia berhalusinasi lagi.

“Tuh… Aku mendengar suaranya lagi. Aku mulai gila!”

“Eu.. Jiyeon lihat ke kanan kamu deh.”

Jiyeon mengarahkan kepalanya ke arah kanan. Di depannya ada sesosok pria jangkung putih sambil membawa segelas americano. Ia sangat mengenal sosok itu. Itu adalah Myungsoo.

“Tuh kan, aku mulai gila. Jangan-jangan aku skrizofernia. Luna kamu tahu enggak masa aku melihat Myungsoo ada dihadapan aku sekarang. Aku memang gila.” Jiyeon tertawa, namun tertawa sedih.

“Eu… Jiyeon kau tidak gila. Aku memang ada disini.” Ujar Myungsoo dengan wajah kebingungan melihat keadaan Jiyeon yang kacau.

Jiyeon terkejut setengah mati. Ia langsung duduk tegak dan menghapus air matanya. Ia langsung protes pada Luna tanpa suara. Hanya menggerakkan bibirnya.

“Ya! kenapa kau tak memberitahuku ada dia?!”

“Aku sudah kasih tahu, tapi kamunya saja enggak sadar.”

“Oh Hai Myungsoo. Kapan pulang dari Tokyo? Disana kuliah sudah libur?” Jiyeon mencoba berbasa-basi

“Semalam. Sebenarnya belum sih, tapi kan aku hanya tinggal menyusun skripsi dan tak harus berada dikampus tiap hari. Aku rindu ibuku dan teman-temanku. Jadi aku memutuskan pulang dan menyusun sedikit draft disini.” Jawab Myungsoo sambil menarik kursi di hadapan Jiyeon.

“Hm… eh aku duluan ya? Aku ada janji lagi soalnya. Bye.” Tiba-tiba saja Luna pamit pergi. Tentu saja Jiyeon seketika panik. Ia langsung melotot pada Luna. Luna pun memberikan tanda agar Jiyeon mengecek ponselnya. Ternyata Luna mengiriminya pesan.

 

Aku pergi ya. biar kalian berdua bisa ngobrol bebas. Bicarakan dan tanyakan semua rasa penasaranmu itu. ini saatnya. Jangan ragu! Semangat! ^^

 

Sial! Umpat Jiyeon dalam hati. Jiyeon mengetuk-ngetuk layar ponselnya. Jantungnya berdegup tak jelas. Ia amat gugup.

“Basa-basi enggak apa-apa lah ya. apa kabar?”

“Begitulah, tapi overall cukup baik.” Jiyeon menggigit bibirnya. “Sudah lama jug ya kita tak bertemu, terakhir sekitar setahun yang lalu, iya enggak sih?”

“Iya. Waktu itu kan kita main bareng sama anak-anak kelas.”

“Lama juga kita tak saling berkomunikasi.” Lirih Jiyeon dengan suara pelan. Ia tak ingin Myungsoo mendengar itu.

“Eh iya. Jiyeon, tadi pagi aku melihatmu di taman sedang berolahraga. Aku memanggilmu dari jauh tapi kau tak menengok ke arahku.” Ujar Myungsoo dengan nada sedikit kecewa.

Thanks god, I’m still normal! “Oh jadi itu memang kamu? hahaha aku kira aku berhalusinasi.”

“Halusinasi?” Myungsoo menatap Jiyeon dengan tatapan bingung. “Tadi saat aku tiba kau juga mengatai dirimu gila. Kenapa?”

Jiyeon terdiam. Ia tak berani mengutarakan yang sebenarnya. Ia tak ingin menjawab pertanyaan Myungsoo. Ia hanya tersenyum menanggapi itu. Senyum getir.

“Biar kutebak. Apa ada kaitannya denganku? Hahaha” Tanya Myungsoo dengan maksud bercanda.

“Iya… itu karena kau.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Jiyeon. Jiyeon sendiri pun terkejut dengan apa yang Ia katakan. Ia bermaksud melontarkan kalimat tadi dalam hatinya, tapi ternyata hatinya malah membocorkannya.

Myungsoo pun ikut terkejut. Ia pun berusaha membuat suasana tetap enak. “Waduh, candaan kamu lebih lucu ternyata. Hahaha aku menyerah.” Myungsoo mencoba tertawa walau terasa begitu crunchy.

Jiyeon menggeleng. “Itu bukan sekedar candaan, tapi memang benar adanya.”

Myungsoo lebih kaget lagi dengan rangkaian kata dari mulut Jiyeon. Maksud hati berkelakar, tapi malah candaannya itu bukanlah sebuah candaan bagi Jiyeon. Myungsoo langsung menatap Jiyeon dengan rasa sedih.

“Ada apa? Mengapa karena aku?” Myungsoo pun mulai menanggapi dengan serius.

“Aku… Aku…” Jiyeon masih tak punya keberanian untuk mengungkapkan itu. Kalimat itu tak sanggup ia selesaikan. Myungsoo mlihatny dengan rasa penasaran dan terlihat amat menanti kelanjutannya.

Jiyeon pun memejamkan matanya. Ia menguatkan dirinya. “Aku… Aku merindukanmu. Aku tahu aku tak punya hak untuk itu, tapi aku merindukanmu.”

“Benar kau memang tak punya hak. Begitu juga denganku.” Myungsoo mengangguk setuju.

“Maafkan aku… tak seha..” Myungsoo seketika langsung memotong pembicaraan.

“Aku pun merindukanmu.” Mata Jiyeon terbelalak. Kepalanya yang mulanya tertunduk kini mengangkat keatas. Menatap Myungsoo dengan penuh ketidakpercayaan.

“Aku pun tak punya hak itu, tapi aku pun merindukanmu.”

“Myungsoo, sadarlah seharusnya kamu tak mengatakan itu. kamu tak boleh berbicara seperti itu! kamu tak boleh membuat jantungku berdegup kencang. Sadarkah kau? Ucapanmu tadi membuatku berharap lagi padamu. Kau pun tahu aku tak boleh lagi berharap denganmu!” Ujar Jiyeon penuh emosi. Kini perlahan-lahan isi hatinya mulai terungkap.

“Aku sadar! aku sadar betul aku tak boleh mengatakan ini, hanya saja rasa itu terus menghantuiku. Kepala rasanya mau pecah jika tak ku ucapkan padamu. Aku tak seharusnya merindukan orang lain, selain pacarku, tetapi nyatanya selain merindukannya, aku pun rindu kamu.”

“Kenapa kau harus merindukanku?”

“Bagaimana denganmu? Kenapa kau merindukanku?” Myungsoo balik bertanya.

“Karena… karena aku masih berharap. Berharap suatu hari nanti kau akan datang padaku, dan kita dapat menyelesaikan apa yang belum terselesaikan 3 tahun lalu.”

“Kita tak pernah memulai sesuatu, jadi tak ada yang harus kita selesaikan.” Myungsoo terdengar berat mengucapkan itu. “Tak seharusnya kau berharap padaku.”

Jiyeon terdiam. Ia tak percaya Myungsoo mengucapkan kalimat itu. Ia tak menyangka kalau 3 tahun yang lalu tak berarti apa-apa untuknya. Walau tak pernah saling memiliki secara status, tapi 3 tahun lalu hati mereka saling bertaut. Tak pernah ada kata sayang diantara mereka, namun mereka dapat saling merasakannya.

“Kau sadar tidak mengapa aku terus berharap denganmu walau aku tahu itu salah? Setelah akhirnya kita tak jadi bersama dan memilih jalan masing-masing, aku merasa ada yang mengganjal. Entah mengapa aku merasa ada yang belum terselesaikan. Kamu sadar enggak sih kita itu enggak dapat saling melepas, Setiap aku putus dari pacarku, aku selalu menghubungimu, dan kau menyambutku. Tak seharusnya kau menyambutku! Itu salahmu aku jadi berharap terus padamu walau itu salah! Mengapa kau lakukan itu?!” Nafas Jiyeon berderu dengan cepat. Matanya memerah. Ia benar-benar emosional. Isi hatinya telah terungkap banyak kini.

Myungsoo menunduk sedih. Ia tersenyum pahit. “Ya itu memang salahku. Tak seharusnya aku menyambutmu. Kuakui aku memang tak bisa melepasmu. Aku ingin meraihmu, tapi untuk meraihmu aku harus melepaskan dia, dan aku tak bisa melepaskan dia. Setiap aku ingin melepaskannya, aku selalu merasa ragu dan resah, namun saat aku ingin melepaskanmu, rasanya sulit, tak bisa. Aku tak mau. Aku memang egois.”

“Kenapa kau tak mau melepasku? Dan juga kau belum jawab, kenapa kau merindukanku?” Suara Jiyeon kini mulai terdengar parau.

“Karena… kau orang yang paling berkesan dihatiku dan aku tak bisa berhenti peduli pada orang yang pernah membuatku tak bisa tidur karena jantungku yang terus berdetak kencang karena memikirkan orang itu. iutlah yang membuatku tidak bisa lepas dan merindukanmu.” Jiyeon lagi-lagi tak percaya dengan apa yang dikatakan Myungsoo. Akhirnya Ia mendengar kata-kata yang Ia ingin dengar 3 tahun lalu bahwa Myungsoo pun merasa gugup jika mengingatnya. Ia sempat ragu, namun melihat mata Myungsoo yang sendu dan teduh menunjukkan ketulusan dalam perkataannya dan hal itu malah membangkitkan rasa harapannya kembali.

“Apa… apa artinya kita, ah bukan tapi aku. Aku masih ada harapan?” Jiyeon meraih tangan Myungsoo.

“Dulu mungkin iya, tapi semenjak 6 bulan lalu kurasa tidak.” Suara Myungsoo melemah. Rupanya Ia cukup sulit mengucapkan apa yang selanjutnya harus diucapkan. “Ingatkah kau? 6 bulan lalu saat itu kau baru saja putus dengan Taemin. Kau mengirimiku pesan. Saat kau mengirimiku pesan, sejujurnya aku amat senang. Saat itu aku pun sedang ada masalah dengan Suzy. Akan tetapi aku mencapai satu titik kesadaranku. Suzy mendatangiku, ke Tokyo hanya demi meminta maaf dan agar hubungan kami tak berakhir. Dia pun datang untuk memberikan kejutan ulang tahun untukku. Saat itu aku melihat matanya yang benar-benar tulus. Disitulah aku sadar, aku tak seharusnya mengkhianati wanita baik seperti dia. Seharusmya aku tak menyia-nyiakannya hanya karena masa lalu.”

Myungsoo mengusap-usap tangan Jiyeon yang tadi menggenggamnya. “Mulai sekarang berhentilah mengharapkanku. Berhentilah merindukanku. Jangan pernah hubungi aku karena itu semua akan sia-sia. Orang yang kau harapkan dan rindukan takkan merindukanmu balik bahkan takkan peduli denganmu.” Kini Myungsoo melepaskan tangannya sebagai tanda jika Ia sudah melepas Jiyeon. Ia menunjukkan ketegasannya sebagai pria. Sebagai pria Ia tak boleh rakus untuk memegang dua perempuan dengan kedua tangannya, karena suatu hari nanti Ia harus melepaskan salah satunya dan memegang satu perempuan dengan kedua tangannya.

Ya ketegasan itu lah yang ingin di dengar Jiyeon, tapi entah mengapa dadanya terasa sesak. Terasa aneh bagi dirinya. “Myungsoo-ah, sebelum ini benar-benar selesai, aku ingin bertanya satu hal padamu. Kenapa saat kita tinggal melangkah satu langkah lagi mencapai status, kenapa kau tiba-tiba mundur dan beralih pada Suzy?”

Myungsoo menghela nafas. “Saat itu kau tak juga memberiku tanda-tanda kepastian. Kau terlalu sulit dibaca, dan tenryata di dekatku ada seseorang yang mengharapkanku dan dia jelas lebih pasti daripadamu.”

“Itu artinya kau menyerah padaku kan? mengapa kau tak memperjuangkan ku?” Mata Jiyeon kini sudah dipenuhi air mata yang siap meluncur. Suaranya pun sudah agak tercekat.

“Karena aku tak mau memperjuangkan sesuatu yang sia-sia. Aku melihat selama ini perjuangkanku untukmu terlihat akan sia-sia, kau tak juga memperlihatkan ketertarikanmu. Aku baru tahu kau pun memiliki rasa yang sama saat Sungjong memberitahuku, dan itu terlambat karena aku sudah bersamanya. Lagipula… saat itu kau terlihat bahagia dengan Seungho.”

“Asal kau tahu, kenapa pada akhirnya aku memilih Seungho? Karena kau pada akhirnya bersama Suzy, sehingga aku memutuskan untuk menerima Seungho. Andai saja ka uterus memperjuangkanku, aku pasti memilihmu, tapi ternyata kamu menyerah begitu saja.”

“Iya itu memang salahku. Tak seharusnya aku berhenti memperjuangkanmu,” Myungso mengangguk-angguk kecil “tapi mungkin kita dari awal berada di jalan yang berbeda. Kita mungkin memang takkan pernah dipersatukan, sehingga tak ada yang pernah kita mulai.”

“Benar dari awal tak ada yang pernah dimulai. Semenjak 3 tahun yang lalu pun sebenarnya itu semua sudah selesai, sudah tutup buku. Tak ada istilah berhenti ditengah jalan.” Ucap Jiyeon sambil tersenyum getir dan tak terasa air mata kirinya mengalir sedikit. Ia langsung menghapusnya.

Gwaenchana?

Jiyeon tersenyum walau senyum palsu. “Yeah I’m fine!

Myungsoo berdiri dari tempat duduknya “Jiyeon-ah, maafkan aku. Kita bertemu lain waktu saat kita sudah bisa saling melepas. Bye Jiyeon. Jaga diri.”

Myungsoo menundukan kepalanya dan melambaikan tangannya. Ia berjalan keluar dari Coffee shop dengan langkah tegap. Sebenarnya Ia merasakan kesedihan dan tak tega harus meninggalkan Jiyeon dalam keadaan terluka.  Ia tahu walau Jiyeon mengatakan kalau dia baik-baik saja, tapi sebenarnya dia sangat terluka, tapi jika Ia terus berada disana Ia malah bisa menjadi ragu dan yang ada mereka akan saling melukai. Myungsoo memantapkan hatinya untuk tak melihat ke tempat Jiyeon agar tak goyah.

Sementara itu Jiyeon diam terpaku. Dia merasa lega karena akhirnya ini semua benar-benar selesai. Berakhir. Hanya saja, Ia merasakan kejanggalan lagi. Bukankah ini yang Ia inginkan? Tak lagi berharap dan merindukan Myungsoo. Bukankah ini yang Ia harapkan? Mendapat ketegasan penolakan dari Myungsoo, tetapi janggalnya walau Ia merasa lega, tapi hatinya tetap resah. Hatinya terasa pedih. Dadanya makin lama makin sesak. Ia memukul-mukul dadanya. Berusaha menguatkan diri sendiri.

“Enggak apa-apa… Gwaenchana… All is well…”

Ia sudah mensugestikan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja, tapi apa daya ternyata rasa sakit itu mengalahkan sugestinya. Ia pun menyerah untuk membohongi diri sendiri. Jiyeon akui kalau ini semua menyakitkan dan menyedihkan. Air matanya mengalir begitu deras dan Ia memegangi dadanya yang amat sesak. Saking sesaknya Ia menangis hingga bersuara. Terisak-isak sendirian. Semua rasa sakitnya tergambar melalui air matanya.

Mulanya akan terasa sakit, tapi itulah proses yang harus Ia lalui. Untuk mencapai kebahagian dan tak terbayang-bayang lagi akan masa lalu yang semu Ia harus merasakan kesedihan yang amat menyesakkan, namun setelah berhasil melaluinya, suatu hari nanti Jiyeon pun akan dapat melepaskan Myungsoo sepenuhnya dan menemukan kebahagiannya sendiri.

—The End—

Monday, December 22, 2014

 

Finally!!! Beres juga!!! Ini aku bikin intronya dari jaman oktober, tapi baru bisa aku beresin sekarang. ya maklum November kemaren aku bener-bener sibuk. Duhh maafin yah ceritanya ga jelas, alur kemana aja. MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

 

Iklan

3 thoughts on “[FF] It Has Been Finished

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s