[FF] Not A Bad Thing

Title               : not a bad thing

Rate               : 13+ pastinya

Genre             : a ROMANCE lovey dovey nan alay

main Cast     : KIM JONGDAE (CHEN EXO), WENDY SON RED VELVET

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAHnya lagi punya ide dan mood buat ngerjain, Alhamdulillah.

INSPIRED        : FROM TWO OF MY FAVORITE SONGS, AT GWANGHWAMUN BY KYUHYUN AND NOT A BAD THING BY JUSTIN TIMBERLAKE

Disclaimer   : Fyi, aku ngeshippin bgt mereka. Semenjak sebelum Wendy debut, aku udah ngeship Chendy. Aku mikir-mikir kira-kira siapa yang cocok buat Chen, dan yang terpikir adalah Wendy, dan aku merasa mereka cocok, jadi aja suka sama couple ini XP. Dua-duanya bias aku nih ahahaha. FF ini untuk kalian chendy hehehe. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D AND HAPPY NEW YEAR 2015 ^^.

 

 

Angin berhembus cukup kencang. Salju menyelimuti tipis permukaan jalan. Udara dingin yang menusuk tulang seperti ini membuat orang bermalas-malasan dalam rumah dengan penghangat, namun tak sedikit juga yang masih banyak berkeliaran di jalanan, dan Jongdae termasuk orang yang mau memakai jaket tebal agar menjaga suhu tubuh tetap hangat saat diluar. Suhu udara malam ini sanggup membuat air raksa menyentuh nyaris angka 0 pada termometer. Suhu yang sanggup membekukan cairan dengan rumus kimia H2O, tapi menurut Jongdae tak hanya air saja yang dapat membeku, harapannya pun kini nyaris membeku.

Sejak pukul lima sore hingga kini jarum jam mencapai angka delapan Ia duduk dibangku dingin ini. dittengah hirup pikuk namsan. Tak habis pikir mengapa Ia bisa menanti selama ini ditengah cuaca yang membuat nafasnya menjadi pendek. Semua ini berawal dari obrolan kemarin sore. Kalau saja sore itu Ia tak membicarakan hal serius, Ia takkan berada di tempat ini.

Sore itu, Jongdae baru saja selesai berlatih drama musikal di kampusnya. Ia melihat “gadisnya” yang juga baru selesai latihan yang sama dengannya, sedang duduk di bawah pohon dengan kaki terlentang dan bahu tersandar. Ia tampak kelelahan dan meminum air mineral dari tempat minum yang selalu Ia bawa. Padahal udara cukup dingin untuk berdiam diri di taman, namun Wendy tampak menikmati itu. Tentu saja, melihatnya sendiri membuat Jongdae menghampiri gadis itu.

“Wendy!” Sapa Jongdae sembari duduk disampingnya.

Ne, Sunbae?”

“Haish… aku bosan mengingatkanmu berkali-kali! Jangan panggil aku Sunbae, tapi panggil aku Oppa!”

Ucapan jongdae itu hanya ditanggapi Wendy dengan delikan dan senyum masam. Mulanya mereka hanya mengobrol ngalor-ngidul, sampai akhirnya entah bagaimana mereka dapat mencapai suatu obrolan yang serius –Setidaknya bagi Jongdae–.

“Wendy, selama setahun ini aku mengejarmu, ada beberapa orang juga yang berusaha mendapatkanmu, tapi kenapa hanya aku saja yang tetap bisa berada didekatmu?” Tanya Jongdae penasaran.

Wendy melongo mendapat pertanyaan aneh dari seniornya itu. “Ya itu semua karena kau tak gentar, padahal entah sudah berapa kali aku menolakmu.”

“Bukan itu maksudku! Ya dari semua lelaki yang pernah mendekatimu, kenapa kau membiarkanku tetap berada didekatmu, terus mencoba, sedangkan lelaki lain yang sudah kau tolak, benar-benar kau tolak. Kau mencoba menjauhi mereka, kenapa tidak denganku?”

Wendy menghela nafas. Ia menegak air kembali. “Entahlah. Mungkin karena aku tak mau kehilanganmu sebagai teman. Setiap mengobrol denganmu, aku selalu merasa senang dan nyaman. Aku tak mau kehilangan hal itu.”

“Berarti itu menunjukkan kau punya rasa padaku kan? kalau begitu untuk apa kita hanya jadi sekedar teman?” Protes Jongdae.

“Aku pun tak tahu perasaan apa yang ku punya terhadapmu.” Wendy menggeleng lemah. “Apa benar-benar hanya sebagai skedar teman berbagi cerita atau memang aku punya perasaan padamu. Aku ragu akan hal itu.”

“Apa sih yang buat kamu ragu denganku?”

Sunbae, kau tahu kan aku punya sedikit trauma…”

Mendapat jawaban seperti itu, Jongdae berdecak kesal. “Ya,Wendy! Kau sudah mengenalku setahun kebelakang ini. aku benar-benar sudah menunjukan aku apa adanya. Kau tahu kan aku takkan menyakitimu baik fisik maupun hati seperti mantanmu dulu!”

“Aku tahu… tapi tetap saja aku masih punya ketakutan akan hal itu.”

“Wendy, tolonglah, coba buka hatimu. Biarkan lah kau merasa jatuh cinta, jangan merasa takut. It’s not a bad thing for try and fall in love!

Jongdae menyandarkan bahunya ke batang pohon. Ia memejamkan matanya dan mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. “Sejujurnya, aku sudah mulai lelah, dan aku sudah mulai merasa aku tak mau memperjuangkan sesuatu yang sia-sia. Jadi tolong pastikanlah perasaanmu padaku! Jika tidak ada, maka aku akan mulai menjauh darimu.”

Wendy terkejut mendengar hal itu. “Sunbae! Tak bisakah walau aku tak menerima perasaanmu, tapi kita tetap berteman seperti ini. ya bisa mengobrol banyak hal, saling berbagi cerita, ya layaknya seorang teman dan sahabat.”

Jongdae mendengus sebal. “Heol… Enak banget ya jadi perempuan, bisa minta seperti itu! Wendy, maafkan aku. Aku melihatmu selama ini sebagai perempuan, dan akan sangat sulit untuk menjadi teman selama aku melihatmu sebagai perempuan.”

“Aku memang egois. Maafkan aku, Jongdae Sunbae.” Wendy tertunduk sedih.

Jongdae tak tega melihat perempuan yang sudah mengisi hatinya itu bersedih, tapi bagaimana lagi Ia butuh ketegasan. Mau tak mau, Ia harus membicarakan hal ini.

“Tolong pastikanlah hatimu. Besok kutunggu kau di Namsan Tower jam 5 sore. Jika kau mau membuka hatimu padaku, datanglah. Akan kutunggu kau sampai jam berapapun. Ini merupakan perjuangan terakhirku untuk mendapatkanmu. Jika kau tak datang, aku akan menyerah. Aku takkan mencoba lagi untuk menaklukan kamu.”

Ya obrolan serius itulah yang membawa Jongdae menunggu 3 jam. Seperti orang bodoh saja Ia berharap akan sesuatu yang tak pasti. Ia menanti dengan cemas. Entah sudah berapa gelas kopi yang Ia habiskan selama menunggu agar Ia tak kedinginan. Ia terus saja melirik jalanan dan ponselnya. Berharap ada sosoknya akan hadir atau setidaknya ada kabar darinya. Sayangnya, sudah beberapa pesan yang Ia kirim, tapi tak kunjung mendapat balasan jua.

Rasanya sungguh, Ia ingin menyerah saja. Rasanya Ia ingin pulang Semilir angin sudah mulai membuat tubuhnya goyah. Walau Ia sudah memakai saputangan, tapi Ia tetap harus menggosok-gosokan kadua tangannya agar hangat. Kalau bukan saja demi Wendy Son, Ia takkan menunggu selama ini. Disaat Ia ingin menyerah, meninggalkan tempat ini, tapi entah mengapa tubuhnya tak mau beranjak dari tempat itu. Ia merasa aneh pada dirinya.

Selama hidupnya, Ia tak pernah mau berkorban sebanyak ini untuk seorang perempuan. Wendylah yang sukses membuatnya mau berjuang mati-matian hanya untuk mendapatkan hati seorang perempuan. Biasanya jika perempuan yang Ia dekati tak juga menunjukan ke arah yang positif, Ia akan berhenti, tapi berbeda saat Ia mendekati Wendy. Walau responnya tak jelas, dan Wendy selalu menganggap hanya teman, tapi anehnya Ia tak pernah mencoba berhenti. Ia merasa perempuan seperti Wendy ini harus dan layak Ia perjuangkan. Oleh karena itu Ia kini rela menunggunya datang ditengah cuaca dingin bulan Desember. Ia ingin mencoba terakhir kali untuk memperjuangkan dan berharap pada perempuan bersuara merdu itu.

Sementara itu orang yang ditunggu Jongdae, sedari tadi sore Ia berkutat terus dengan laptopnya mengerjakan tugas kuliahnya. Namun sebenarnya Ia tak benar-benar konsentrasi dengan tugasnya. Berkali-kali Ia melirik ponselnya yang terus berbunyi. Jongdae terus mengiriminya pesan. Membaca pesan-pesan dari Jongdae mmbuatnya tak tenang. Perasaannya terasa campur aduk. Ia merasa bersalah tetapi Ia juga merasa sedih. Ia sendiri bingung apa yang harus Ia lakukan

Wendy melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya. Ternyata sudah cukup malam. Jam di ruang keluarganya berdentang Sembilan kali. Ia merebahkan tubuhnya di kasur, sembari melihat pesan-pesan yang dikirim Jongdae.

 5:03 PM
Wendy-ah. Aku sudah disini. kutunggu (:
6:15 PM
Salju mulai turun, jika kau mau kesini, pakailah jaket yang tebal.
7:24 PM
Hujan saljunya berhenti., tapi udara cukup dingin. Jangan lupa gunakan syal!
8:37 PM
Udara semakin dingin. Sejujurnya aku mulai kedinginan. How?

 

Nafas Wendy terasa berat saat membaca pesan-pesan itu. Ia benar-benar tak tahu akan perasaannya sendri. Ia merasa enggan untuk tak datang, tapi untuk datang pun Ia merasa ragu. Ia mengetuk-ngetukan jarinya ke layar ponsel. Nafasnya dihela berkali-kali. Tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Jongdae kembali mengiriminya pesan.

 

9:03 PM
Wendy Son, u know I’m still waiting and hoping…

 

“Aaargh!!!” Wendy menendang-nendang udara kosong, kemudian membenamkan wajahnya pada bantal. Ia benar-benar bingung. Wendy pun mencoba membalas pesan Jongdae.

 

Sunbae,udara diluar sangat dingin. pulanglah. Aku takkan datang.
Sent? No, Saved as draft

 

Wendy menatap layar ponselnya dengan wajah kusut. Seketika matanya menangkap widgets weather dilayar ponselnya. Disitu tertera suhu udara saat ini di Seoul 1 derajat celcius. Ia teringat jika Jongdae sudah menunggunya diluar, pada suhu sedingin itu selama empat jam. Wendy mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Ah, eotteokhaeyo?

Namsan Tower sudah mulai sepi. Jongdae melirik jam ditangannya. Lima jam sudah Ia menunggu. Ia benar-benar merasa seperti orang bodoh berharap terus kepada sesuatu yang tak jelas. Menanti orang yang –tampaknya– takkan datang. Jongdae sudah benar-benar kedinginan berada diluar selama itu. Jongdae menatap layar ponselnya sekali lagi untuk pengharapan terakhir. Berharap ada balasan dari orang yang Ia tunggu, tapi ya itu hanyalah harapan kosongnya. Balasan pun tak kunjung datang. Jongdae pun menunduk lemas. Ia memejamkan matanya dan menghelas nafasnya dengan keras dan berat.

“Mungkin memang kamu terlalu sulit dijangkau. Aku tak bisa meraihmu.” Lirih Jongdae sambil berdiri dari bangku tempat Ia duduk dari tadi sore. Ya, akhirnya ia memutuskan untuk menyerah. Perjuangannya kini berakhir. Satu tahun Ia berjuang, dan lima jam penantian tak kunjung membuahkan hasil. Rasanya Ia masih ingin berharap dan menanti, tapi ini sudah terlalu malam. kemungkinannya sangat kecil Wendy akan datang.

Jongdae pun mulai melangkah meninggalkan tempat tersebut. Ia memasangkan earphone dikedua telinganya. Selain untuk menemani perjalanannya yang terasa lebih sepi saat Ia datang, music yang mengalun dari ponselnya dapat menghibur luka hatinya yang mulai terasa perih.

If there’s music in the night, if its really really right

It’s the only thing that I need

It intoxicates your mind, all your troubles left behind

So come on and take my lead

It’s not just me who feels it, music plays a mind trick

Watch me forget about missing you~

Lagu Jamie Cullum – Mind Trick mengalun dalam saluran telinganya terasa pas dengan suasana hatinya sekarang. Saat Ia sedang menikmati music yang terdengar, tiba-tiba samar-samar Ia mendengar sebuah suara memanggilnya.

Sunbae!

Jongdae terkesima. Ia mengenal suara itu. Suara lembut, namun tegas nan syahdu. Suara Wendy.

Sunbaenim! Ya! Sunbae! OPPA!!”

Suara panggilan terakhir membuatnya menghentikan langkahnya. Ia tersentak.

Oppa? Huh.. seberharap itukah aku hingga mengkhayal Wendy memanggilku Oppa. Khayal babu! Enggak mungkin!” Ujar Jongdae pada dirinya sendiri.

Jongdae Oppa! Ya, Kim Jongdae! Jamkkamnyo! Wait!” Panggilan itu terasa makin keras dan nyata. Jongdae pun membuka earphone sebelah kanan, dan ternyata panggilan itu nyata adanya.

Jongdae Oppa! Tunggu! Kau mau kemana?” Jongdae membalikan badannya. Terlihat lah sosok gadis bertubuh cukup kecil dengan jaket tebal dan topi rajut berlari-lari kecil mengejarnya. Ya sosok yang Ia harapkan, Wendy.

“Katanya mau nunggu aku sampai jam berapa pun!” Protes Wendy dengan nafas terengah-engah.

Jongdae masih belum bereaksi. Dia diam termangu. Masih terkejut dengan yang terjadi dihadapannya.

“Hei,Oppa! Jangan bengong!” Wendy menjentikan jarinya dihadapan mata Jongdae.

Jongdae tersadar dan akhirnya Ia tersenyum. “Enggak sia-sia juga aku berjuang satu tahun, nunggu lima jam, kau datang juga.”

“Maafkan aku, aku banyak tugas.” Ujar Wendy berbohong. Sebenarnya Ia tak sepenuhnya berbohong, karena sebenarnya Ia bisa mengerjakan tugas itu lain hari.

“Bohong!” Senyum Jongdae. “Desember bukanlah waktu untuk mengerjakan tugas hahaha.” Wendy yang ketahuan bohong pun hanya bisa diam dengan muka memerah.

“Tak apa kau sudah datang. Terima kasih.”

Mianhae,Oppa.”

“Hah? apa?”

Mianhae…

“Bukan kata itu, tapi kata sesudahnya.” Jongdae mulai menjahili Wendy.

Wendy pun sadar jika Jongdae mulai menjahilinya. Dia langsung memasang muka sebal. Dengan lirih Ia menjawab, “Oppa.”

“Apa? Kurang keras.”

“Haish… OPPA! OPPA! OPPA! PUAS?” Gerutu Wendy kesal sambil memukul lengan Jongdae.

“Hahahaha, akhirnya kau memanggilku Oppa. Ya Tuhan mala mini sungguh indah.” Jongdae tertawa lepas. Wajahnya kini terlihat amat bahagia. Melihat Jongdae yang bahagia membuat Wendy pun ikut tersenyum lepas.

“Mau kemana kita?” Tanya Wendy.

“Kita pasang gembok cinta!” Jongdae tersenyum jahil namun dibalik senyumnya itu penuh makna.

Wendy memukul lengan Jongdae lagi. “Hei! Kita belum resmi! Aku baru mencoba membuka hatiku untukmu. Ingat itu!”

“Hahaha tenang saja, aku yakin seminggu lagi kita pasti sudah memasang gembok itu.” Jongdae melipat tangannya untuk menunjukan sisi kepercayaan dirinya.

“Ya sudah jadi kemana?” Wendy mengalihkan pembicaraan.

“Sudah pasti makan. Aku kelaparan dan kedinginan selama menunggumu!”

“Ya sudah, ayo!”

“Eits, tunggu dulu.” Jongdae melepaskan syal yang Ia pake, kemudian mengalungkan dan mengikatkan selang tersebut pada leher Wendy yang tak terbalut Syal. “Aku kan tadi sudah bilang, pakai syal kalau keluar. It’s cold!

Wajah Wendy memanas dan juga memerah. Ia pun tersenyum. “Thankyou.”

Gomapta, jeongmal gomawo, Wendy Son. Sudah mau membuka hatimu. Trust me, I’ never ever make you hurts.” Ujar Jongdae.

Like you said before, it’s not a bad thing for try. I’ll try to trust you.” Balas Wendy dengan senyuman manis.

Jongdae mengulurkan tangannya pada Wendy. Wendy terlihat agak ragu, namun dengan segara Ia tepis keraguan itu dan disambut tangan Jongdae itu. Jongdae pun menggenggam erat tangan Wendy, dan memasukkannya kedalam saku Jongdae agar tangan mereka tetap hangat.

No, I won’t fill your mind with broken promises, and wasted time

And if you fall, you’ll always land, right in these arms

These arms of mine

So don’t act like it’s a bad thing to fall in love with me

Justin Timberlake – Not A Bad Thing

—The End—

Thursday, January 01, 2015

01:48 AM

Alhamdulillah, beres juga dalam beberapa jam saja. Aku menghabiskan tahun baruku dnegan menulis ini, mumpung ada ide dan enggak ada yang gangguin. 2014 telah berlalu, banyak karya yang sudah aku tulis *eu ga banyak sih, ya minimal 12 mah ada kok*. mungkin selama ini karyaku aneh, dan ada yang tak suka, jadi maafkan kalau kalian kurang puas. Maaf juga jarang update karena kesibukanku di real life ku. FF, kpop, drama itu semacam pelarianku dari kemumetan hidup *padahal baru juga jadi mahasiswa, apalagi klo udah kerja yang kehidupan sebenarnya hiks*. Selamat Tahun baru 2015 semuanya! Semoga kita semua bisa lebih baik, sehat selalu, dan semoga FF dan tulisanku lebih berkembang lagi, ya syukur-syukur bisa tertuang dalam bentuk cetakan XP *aamiin*.

Ah, let’s pray for air asia QZ8501 semoga semua penumpang dapat ditemukan dan diterima di sisi-Nya, dan juga semoga keluarga yang ditinggalkan dapat diberi ketabahan. aamiin

MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~ and once again HAPPY NEW YEAR 2015 \(^0^)/.

 

Iklan

5 thoughts on “[FF] Not A Bad Thing

  1. arggghhh ini keren >.< akhirnya setelah search di google sejak kemarin, ff ChenDy yang ketemu ini doang :3 T_T
    terima kasih. setidaknya ini membuka ide untuk membuat FF ChenDy, terima kasih :*

  2. akhirnya nemu ff cast chen-wendy 😀
    aku mendadak suka bgt pairing ini pas ga sengaja liat pict mereka yg lagi duet endless love trus aku search moment mereka di youtube >< cute bgt
    ijin baca ya sebelumnya
    dan salam kenal ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s