[FF] THE DRUNK STORY

Title               : THE DRUNK STORY

Rate               : 13+ aja kok, enggak usah lebih

Genre             : a ROMANCE and a little FRIENDSHIP dengan bumbu ANGST sediiiikit

main Cast     : SUNNY SNSD, YURI SNSD

OTHER CAST   : TAEYEON SNSD, BAEKHYUN EXO, MINHO SHINEE, ONEW (LEE JINKI) SHINEE

length           : One shot

Author          : si penulis amatir HANAN HANIFAH

INSPIRED        : salah satu kisah di FF ini terinspirasi dari curhatan salah satu sobatku, dan juga lagu Rio Febrian – Memang Harus Pisah

Disclaimer   : Aku sedang mencoba membuat dua cerita *masalah tepatnya* yang mirip dijadiin satu cerita, tapi kayaknya hasilnya bakalan berantakan -,-. Aku juga pengen mencoba membuat cerita yang agak dewasa. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

“Maafkan aku tapi aku harus melepasmu. Kita tak ditakdirkan bersama. Kita harus berpisah.” Ujar seorang pria pada kekasihnya. Mendengar hal itu kekasihnya hanya dapat menangis. Tangisannya makin keras saat pria pergi dari hadapannya.

“Kok lemah banget sih jadi laki-laki? Malah pergi begitu saja!” Seru Sunny yang baru saja masuk ke dalam kedai. Ternyata tadi merupakan adegan drama, dan Sunny mengomentari adegan tersebut.

“Hai, kau sudah datang?” Sapa Taeyeon, sang pemilik kedai.

“Bawakanku telur dadar, dan soju!” Pinta Sunny.

“Tunggu dulu, Gun! Kenapa kita harus berhenti! Kenapa enggak kita coba buat mempertahankan?” Ternyata adegan drama itu masih berlanjut, dan Sunny masih memperhatikan adegan drama itu.

Dalam drama tersebut pria itu hanya diam dan menggeleng. “Itu sulit, enggak akan bisa!”

Adegan drama itu benar-benar menyentuh perasaan Sunny yang sedang sensitif.

“Ya! Kenapa kamu menyerah? Masalahnya sebesar apa sih sampao.kamu nyerah?” Gerutu Sunny sebal.

“Mereka harus putus hanya karena sahabat si pria menyukai si wanita semenjak pria dan wanita itu belum bertemu.” Sahut wanita jangkung yang duduk sendiri disebrang meja Sunny.

“Apa? Hanya karena itu? payah banget sih! Enggak ada semangat juang!”

“Betul! Jadi lelaki itu jangan gampang menyerah! Baru juga masalah kayak gitu!” Wanita jangkung itu ikut menimpali.

“Belum berhadapan dengan keluarga kan? Belum enggak dapat restu kan?”

“Belum tiba-tiba disuruh putus kan, padahal pacaran sudah lama!”

“Wah-wah kalian tampaknya punya masalah yang sama.” Sahut Taeyeon sambil menyimpan pesanan Sunny.

“Dia siapa?” Tanya Sunny.

“Dia pelanggan tetapku. Seminggu sekali pasti kesini. Biasanya dia bersama kekasihnya.” Jawab Taeyeon. “Yuri, kenalkan dia sahabatku, Sunny.”

Yuri menganggukkan kepalanya. “Annyeong.”

“Lalu mana pacarmu? Tumben sendiri? Apa kalian ada masalah?”

Yuri hanya tersebyum tipis sambil menenggak sojunya.

Sunny menoyor kepala Taeyeon. “Hei, kau bodoh apa? Tadi kan kau sendiri yang bilang bahwa kami berdua tampaknya punya masalah yang sama setelah mendengar kami berbicara! Jadi, tentu saja jika dia disini tak bersama pacarnya karena sedang ada masalah.”

“Maaf.” Hidung Taeyeon kembang-kempis seperti sedang mencium sesuatu. Ia mendekatkan hidungnya pada mulut Sunny. Taeyeon pun sadar asal bau yang Ia cium. “Kau sudah minum sebelum kemari?”

Sunny mengangguk “Aku minum 2 kaleng bir. Aku kira itu akan cukup menenangkan hatiku, tapi ternyata tidak.”

“Kau sedang ada masalah dengan Minho?” Taeyeon kembali bertanya pada Yuri.

Begitulah.” Jawab Yuri sambil terus meminum Sojunya.

“Tampaknya kita mempunyai masalah yang serupa. Rasanya menyenangkan kan jika kau tak sendiri menghadapi masalah seperti ini? Yuri, kau duduk disini saja. Kita saling berbagi kesedihan!” ajak Sunny. Yuri awalnya tampak mempertimbangkannya, tapi tak lama kemudian Ia menyetujui Ide Sunny dan bergabung dengan Sunny dan Taeyeon.

“Wah tampaknya aku akan sangat sibuk melayani dua orang frustasi ini. Untung kedai sudah tak begitu ramai lagi.” Ujar Taeyeon.

“Ya tapi kau lebih baik izin dulu dengan suamimu, yang mengelola kedai hari ini kan cuman kalian berdua aku lihat.” Saran Yuri.

“Lah bukannya kau punya part time dua orang?” Seloroh Sunny

“Suga besok ujian jadi kusuruh libur, sedangkan Bomi dia sedang sakit.” Jawab Taeyeon.

“Baekhyun-ah! Kami pinjam dia dulu ya? kami butuh dia.” Rajuk Sunny pada suami Taeyeon. Baekhyun mengacungkan jempolnya sebagai tanda Ia setuju.

Yeobo, kalau kau sudah kewalahan melayani pelanggan, panggil aku!” Teriak Taeyeon manja.

“Siap, sayang!” Sahut Baekhyun yang sedang asyik merebus ramen.

Taeyeon mengetuk-ngetukan sumpit ke piring kosong milik Yuri sebagai tanda sesi curhatnya dimulai. Sumpit tersebut Ia letakkan di hadapan mulutnya, seolah-olah itu adalah sebuah mic “Iya, kembali lagi dengan Mama Taeyeon, curhat yuk! Silahkan keluarkan keluh kesah kalian. Apa yang menganggu hati dan pikiran kalian? Mama Taeyeon siap mendengarkan.”

Yuri yang baru tahu jika tingkah laku Taeyeon yang ajaib –setidaknya menurut dia – cukup terhibur akan hal itu. Yuri tertawa kecil, sedangkan Sunny hanya diam sambil mengunyah telur dadarnya.

“Hari ini kita kehadiran nona Yuri dan nona Sunny. Yuri ini merupakan pelanggan tetapku dan Sunny merupakan sahabat lamaku. Kita mulai dari siapa ya? Mereka berdua sama-sama tampak frustasi. Aku harus memulai dari siapa ya?”

“Taeyeon, kau seperti penyiar radio asli. Seharusnya kau daripada bisnis kedai seperti ini, harusnya kau jadi penyiar saja.” Usul Yuri saat melihat kemampuan Taeyeon membawakan acara.

“Kau tidak tahu? sebelum menikah aku ini seorang penyiar! Sejak menikah aku berhenti karena ingin menjadi istri yang baik. Baru-baru ini aku ditawari lagi untuk membawakan acara di radio, dan sedang kupertimbangkan.”

“Terima saja tawaran itu!”

“Baek juga sudah mengizinkan sih sebenarnya. Ya kalau jadwalnya cocok dan tidak menganggu bisnisku ini, sepertinya akan kuterima.”

“Hei, kalian ini bicara kemana saja. Sudah aku saja yang bercerita duluan.” Sunny merebut sumpit yang ada di tangan Taeyeon. Ia pun mulai bercerita.

“Tadi siang Jinki memutuskanku.” Sunny mulai bercerita dengan wajah murung. “Dia bilangnya memang dari dulu ingin mengakhiri hubungan kami, tapi aku yakin dia pasti ingin mengakhirinya karena obrolan dengan ibuku kemarin malam!”

“Loh kenapa dia ingin mengakhiri hubungan kalian dari lama?” tanya Yuri

 “Jadi kemarin malam, seperti biasa setiap sabtu malam Jinki selalu ke rumahku. Saat dia tiba aku sedang mandi. Dikesempatan itulah ibuku berbicara empat mata saja.”

“Lalu, apa yang mereka bicarakan?” Taeyeon mulai penasaran.

“Ya mereka bicarakan masalah hubungan kami dan keadaan Jinki….”

*****

Malam itu, seperti biasa Jinki mendatangi rumah kekasihnya, dan seperti biasa Ibu Sunny selalu menyambut Jinki dengan hangat. Ibu Sunny tersenyum menyapa Jinki. Awalnya mereka hanya mengobrol hal-hal ringan, tapi Jinki bisa merasa jika Ibu Sunny sedang menyembunyikan sesuatu. Terlihat sekali dari raut wajahnya yang tampak cemas dan ingin menyampaikan sesuatu. Jinki tampak tak nyaman akan hal itu. Jinki mempunyai feeling hal yang ingin dibicarakan Ibu Sunny masalah hubungan mereka. Sebenarnya kalau boleh memilih Jinki lebih ingin tak membicarakan hal itu, tapi a tahu hal ini pasti akan tiba juga saatnya. Akhirnya Jinki pun bertanya pada Ibu Sunny.

“Ibu, aku lihat daritadi kayaknya ibu tak tenang. Ada hal yang mengganjalkah bu?” Tanya Jinki.

Ibu Sunny tersenyum. “Kamu jadi lelaki bagus ya, peka. Tak seperti ayahnya yang enggak punya kepekaan. Pantas saja Sunny betah banget sama kamu.”

Jinki tersenyum mendengar pujian tersebut. “Apa ada yang ibu ingin bicaakan denganku?”

Wajah Ibu Sunny yang daritadi tampak sumringah kini mulai berubah serius. “Jinki sebelumnya, ibu ingin tahu. Kamu dan Sunny sudah berpacaran berapa lama?”

“Sudah hampir enam tahun bu.”

“Sudah lama juga ternyata. Sekarang umur kalian berapa tahun? Kalian seusia kan?”

Jinki mengangguk. “Dua puluh tujuh tahun.” Sampai pertanyaan ini Jinki sudah merasa tak enak. Dua pertanyaan tadi, Ia tahu akan mengarah kemana.

“Dengan waktu pacaran selama itu, dan usia kalian yang sudah matang pasti kalian sudah mulai berpikir untuk melangkah ke depan. Sudah mempunyai pikiran untuk berhubungan yang serius dan komitmen yang lebih lagi kan?”

Jinki diam saja. Ia tak menjawab pertanyaan Ibu Sunny. Sebenarnya Ia ingin menjawabnya, tapi Ia tahu Ia tak layak untuk menjawab pertanyaan tersebut.

“Diusia Sunny ini, Ibu berharap dia sudah punya pendamping hidup. Inginnya sih, tahun depan dia paling telat sudah menikah. Sebagai seorang ibu, pastinya Ibu berharap Ia mendapatkan yang terbaik. Seseorang yang bisa menjaganya, menyayanginya, mencukupi kehidupannya, yang benar-benar memperlakukannya dengan baik dan dapat membimbingnya.”

Jinki mulai menundukkan kepalanya. Ia tahu pasti Ibu Sunny akan membicarakan mengenai kondisinya kini.

“Ibu tahu sebenarnya Sunny sudah memilih orang yang tepat dari enam tahun lalu. Ibu percaya kamu memang mencintai Sunny dengan tulus dan apa-adanya. Selama ini kamu sudah mengarahkan Sunny ke arah yang jauh lebih baik. Hanya saja ada satu hal yang ibu khawatirkan. Untuk masalah materi, sesungguhnya kamu amat menjanjikan. Pekerjaanmu sebagai direktur dan tak lama lagi pasti kau akan menggantikan ayahmu menjadi CEO, tapi ada satu hal yang mengganjal. Kamu tahu maksud ibu?”

Jinki mengangguk lemah. “Pasti mengenai kursi roda ini kan bu?” Jinki menunjuk kursi roda yang Ia duduki.

Mata Ibu Sunny langsung berubah sendu. “Bukannya ibu meragukan. Mungkin kamu dapat menjaga Sunny, tapi dengan keadaan kau yang tak bisa berjalan, Ibu khawatir kamu tak dapat menjaganya dengan maksimal. Ibu khawatir yang ada malah dia yang harus menjagamu dengan ekstra. Tak masalah jika dia harus melayanimu, karena itulah tugas seorang istri, tapi dengan kondisimu itu pasti membuatnya melayanimu lebih ekstra, bahkan mungkin harus bisa menjagamu juga. Lagipula…”

“Lagipula apa bu?”

“Ibu dengar kau merokok dan kesehatan parumu mulai memburuk ya? maafkan ibu sebelumnya. Mungkin ibu lancang ibu berbicara seperti ini, tetapi maksud ibu berbicara seperti ini karena jujur ibu khawatir sekali dengan anak Ibu satu-satunya. Ibu khawatir keadaanmu makin memburuk dan ibu takut…..” Ibu Sunny matanya berkaca-kaca dan nafasnya mulai cepat. “Ibu enggak mau Sunny mengalami apa yang ibu alami. Harus kehilangan suami lebih dulu disaat Sunny masih membutuhkan sosok ayah.” Air mata mengalir di pipi Ibu Sunny. Dengan cepat ibu Sunny langsung menghapusnya. Melihat itu Jinki jadi merasakan kepedihan yang sama. Rasa bersalah jadi menyelimuti dirinya.

Algeuseumnida, eomoni, tapi maaf masalah rokok….” Jinki ingin menjelaskan sesuatu tapi Ibu Sunny memotong ucapannya.

“Ya rokok mungkin itu pilihan hidup kamu. Itu terserah kamu, tapi berdasarkan obrolan tadi, ibu harap kamu dapat memikirkan lagi kelanjutan dari hubungan kalian. Ibu harap Jinki dapat mengerti maksud ibu.”

Dapat mengerti maksud ibu. Kata-kata itu langsung menusuk hati Jinki, dan Ia paham betul apa maksud dari Ibu Sunny ini. Ia pun hanya bisa tertunduk pasrah sambil tersenyum tipis.

*****

“Kamu tahu isi percakapan tadi itu darimana?” Tanya Taeyeon bingung.

“Aku mencuri dengar. Saat aku mau bergabung dengan mereka setelah beres mandi, ternyata mereka sedang berbicara serius, jadi aku memutuskan untuk menguping, dan ternyata pembicaraannya amat tak mengenakan.” Lirih Sunny sedih.

“Sunny, kalau boleh tahu apa dari awal kalian berpacaran, Jinki sudah memakai kursi roda?” tanya Yuri.

Sunny menggeleng. “Tidak. Dia memakai itu sejak Ia mengalami kecelakaan satu setengah tahun yang lalu. Makanya dari awal dulu Ibu sangat setuju, tapi setelah kecelakaan itu dan Jinki harus menggunakan kursi roda, Ibu memang masih bersikap sama, tapi aku dapat merasakan kalau ibu sebenarnya keberatan.”

“Lalu masalah penyakit parunya?”

“Ibuku itu salahnya tak bertanya dulu. Memang setengah tahun yang lalu Ia terkena TB paru. semenjak itu Ia berhenti merokok, dan lagipula pengobatan dia sudah hampir selesai. Dia sudah dinyatakan sembuh, tapi ibuku tak tahu hal itu, dan menganggapnya kalau Jinki akan….” Suara Sunny mulai tercekat. Ia sudah hampir menangis jika membayangkannya saja. “pergi lebih dahulu.”

Taeyeon mengelus-elus pundak Sunny. “Masalah umur kan siapa yang tahu. sudah.. jangan bersedih untuk sesuatu yang tak terjadi.”

“Makanya! Ibu ku itu ya…” Sunny menghembuskan nafas dengan kencang. Ia menghapus air mata yang sudah dipelupuknya. “Lalu saat tadi pagi, kami bertemu dan dia ingin hubungan ini berakhir. Aku benar-benar ingat setiap kata-kata yang diucapkannya. Ia bilang…”

“Sebenarnya aku sudah dari dulu menginginkan hal ini. Dulu setelah kecelakaan, aku memintamu untuk menjauh, tapi kau tak mau. Dulu aku tak memaksamu, karena sejujurnya aku pun tak ingin berpisah denganmu. Saat itu aku masih egois, namun kini aku akan memaksamu. Kita sudahi hubungan kita selama ini. Pasti kau akan memohon dan tak mau, tapi tak seperti 1,5 tahun lalu, tapi kali ini aku akan memaksamu. Sungguh niatku ini agar kau bisa mendapat kebahagian yang lebih. Kau harus mendapatkan seseorang yang lebih baik dan layak untukmu. Jika aku terys bersamamu, mungkin kau akan sulit berkembang dan repot karena harus merawatku yang cacat ini. Tak seharusnya kau bersama pria berkursi roda ini. Mari kita akhiri semuanya.”

“Setelah mengatakan itu dia pergi begitu saja tanpa mendengarkan kata-kataku. Sudah beratus panggilan tak Ia jawab, ribuan pesan tak juga Ia balas. Saat dulu kecelakaan, aku mati-matian untuk mempertahankan hubungan. Dia dulu minta aku tinggalin, enggak aku kabulkan permintaannya. Aku tetap mau disamping dia apapun keadaannya, aku tak peduli jika harus merawat dan menjaganya karena diatas kursi roda. Aku benar-benar mencintainya, makanya aku dulu benar-benar memperjuangkan dia, tapi lihat, apa yang dia lakukan?” Air mata Sunny kini benar-benar mengalir. Ia terhenti sesaat. Isakan mulai terdengar jelas. Tampak sekali bahwa hatinya benar-benar sesak karena hal ini.

Setelah mendengar cerita Sunny dan melihat Sunny yang sesegukan membuatnya tanpa sadar ikut larut dalam kesedihan. Ia juga ikut menitikkan air mata. Taeyeon pun ikut sedih. Ia hanya bisa mengelus-elus pundak Sunny.

“Begitu ibuku memintanya untuk memutuskanku, dia malah benar-benar mengabulkannya! Kenapa dia tak memperjuangkan dulu? kenapa dia enggak usaha dulu? Selama 6 tahun apa enggak ada artinya untuknya? Apa dia kira mudah memutuskan hubungan yang sudah terjalin selama ini?!” Sunny langsung meminum Soju dari botolnya.

“Pasti itu sangat sulit untukmu. Aku mengerti sekali. Rasanya dipaksa putus padahal hubungan yang terjalin sudah lama itu…. bukan sulit lagi, tapi seperti mustahil.” Ujar Yuri dengan tatapan sendu.

“Ya betul banget! Itu bukan sulit lagi tapi mustahil! Memangnya gampang apa harus putus setelah bertahun-tahun pacaran?”

Heol~ memangnya dapat semudah itu meninggalkan orang yang kita sayang? Itu tuh berat banget!!!” Seru Yuri sambil menegak soju dalam sekali tegukan.

“Yuri tampaknya sudah benar-benar berapi-api. Oke Sunny sudah mencurahkan isi hatinya, sekarang giliran anda Yuri-sii.” Taeyeon menyodorkan sumpit ke mulut Yuri.

“Pacarku, Choi Minho lebih muda dariku 2 tahun. Kami sudah berpacaran dari zaman SMA. Sudah sewajarnya dengan waktu pacaran selama itu, kami seharusnya sudah menginjak pelaminan, tapi hal itu tampaknya masih jauh dari pandangan kami, karena ya menikah itu pasti membicarakan finansial juga, dan Minho baru bekerja selama setahun, sedangkan aku sudah empat tahun lamanya. Tentu saja secara penghasilan aku sudah lebih maju.”

“Lalu masalahnya terletak pada keuangan itu?”

Yuri mengangguk “Kurang lebih. Lalu dua hari yang lalu. Saat itu aku sedang asyik bersantai setelah semalaman mengerjakan sebuah lagu. Disaat-saat aku sedang enak-enaknya mendengarkan sebuah lagu sambil membaca di kebun belakang rumahku, tiba-tiba saja ketenanganku diusik oleh ibuku. Entah ada angin apa, tiba-tiba saja dia berbicara serius dan ya itu mengenai hubunganku dengan Minho.”

*****

“Usia kamu berapa sekarang?” Tanya Ibu Yuri sambil mengelus-elus rambut Yuri.

“Dua puluh tujuh.” Jawab Yuri cuek.

“Di usia segitu, kalau Mama sih sudah punya kakak kamu.”

“Ya terus?” Yuri bertanya balik masih sambil membaca majalah. Yuri sebenarnya mulai tak nyaman dengan ucapan yang dilontarkan Ibunya, tapi Ia masih berusaha tetap santai.

“Ya teman seangkatan kamu sudah berapa orang yang nikah dan punya anak?” Ibunya mulai melancarkan serangan.

Yuri terdiam sejenak. Ia mulai bisa membaca arah pembicaraan ibunya. “Enggak tahu. Enggak hitung.”

“Tapi ada beberapakan?.” Yuri menjawab pertanyaan ibunya itu dengan anggukan.

“Yuri, teman-teman kamu saja sudah ada yang nikah. Itu artinya kamu harusnya sadar kalau usia kamu memang sudah memasuki usia yang matang.”

“Iya aku sadar kok.”

“Kalau kamu sadar kenapa kamu masih berhubungan sama Minho?” Ibu Yuri langsung memberikan serangan kejutan.

Yuri langsung menutup majalahnya dan menatap Ibunya dengan kaget. “Maksud Mama?”

“Kamu serius sama dia?”

“Ya menurut Mama selama ini untuk apa aku bertahan 8 tahun kalau enggak serius?”

Ibu Yuri membelai rambut Yuri. Ibu Yuri memberi senyuman keibuan untuk Yuri. “Sayang, sekarang tolong dengarkan mama ya. Mama kali ini mau ngomong serius. Iya mama tahu kamu sudah berpacaran dengan Minho 8 tahun, tapi mama ingin kamu pikirkan lagi hubungan kalian. Kalau kamu dan dia memang serius, harusnya di tahu ini sudah saatnya kamu menikah, dan sudah seharusnya hubungan kalian mengarah kesana.”

“Tapi ma, Minho baru juga kerja setahun. Dia masih harus membiayai kuliah adiknya. Tabungannya belum cukup.” Yuri membela Minho.

“Itulah masalahnya, sayang. Ia masih harus membiayai adiknya. Kira-kira adiknya lulus kapan?”

“Hm… sekitar 2 tahun lagi.”

“Itu 2 tahun Minho baru bisa berhenti membiayai kuliahnya. Lalu dari situlah dia mulai menabung untuk masa depannya. Minimal setahun, tapi kalau benar-benar ingin mapan butuh sekitar 3 tahun. Jadi kamu harus menunggu dia minimal 3 tahun, bahkan bisa sampai 5 tahun. Kamu itu lebih tua darinya, dan wanita itu enggak baik menikah telat. Tiga tahun lagi saja kamu sudah menginjak kepala 3. Lima tahun lagi kamu itu harusnya sudah punya dua anak, bukannya baru menikah!”

“Yang mama khawatirkan itu aku menikah telat atau masalah finansial Minho sih?”

“Sejujurnya keduanya. Mama inginnya kamu menikah paling telat tahun depan, tapi kalau kamu menikah sama Minho sekarang-sekarang mama khawatir keuangan kalian akan kacau karena Minho masih punya tanggung jawab untuk membiayai adiknya.”

“Kalau begitu tunggu saja tiga tahun lagi. Adiknya sudah lulus dan keuangan Minho pasti sudah jauh lebih baik dari sekarang. Dia seorang pekerja keras, pasti takkan sulit untuknya mendapat kenaikan gaji.” Yuri tetap teguh pada pendiriannya untuk menikahi Minho.

“Tapi sayang kalau 3 tahun lagi ketuaan. Kamu bakalan buang-buang waktu. Lebih baik kamu pikirkan kembali hubungan kalian, apakah dapat dilanjut apa tidak.” Ujar Ibu Yuri dengan lembut tapi tajam.

“Kalau Minho berani untuk menikahiku dalam waktu dekat ini bagaimana?”

Ibu Yuri tampak berpikir. “Hm… jika dia bisa mengatasi masalah keuangannya dengan baik sih oke saja.”

“Ya sudah, pasti Minho mau menikahi dalam waktu dekat ini.”

Ibu Yuri memegang bahu Yuri. “Kamu yakin? Kan kamu sendiri yang bilang kalau dia masih harus membiayai adiknya. Pasti itu membuatnya belum berpikir untuk menikah. Yuri, dengarkan mama. Mama tahu mama terdengar egois, tapi mama melakukan ini karena mama sayang sama kamu. Mama ingin yang terbaik untuk kamu, dan mama tak ingin kamu membuang waktu hanya untuk menunggunya mengumpulkan uang. Masih banyak pria lain yang mau sama kamu dan keuangannya sudah stabil. Jadi mama mohon kamu benar-benar memikirkannya dengan baik.”

Setelah pembicaraan serius itu, Yuri pun membawa hal serius itu pada Minho. Ia ceritakan semua pembicaraannya dengan Ibunya. Mendengar cerita Yuri, Minho langsung tertunduk lemas. Raut kecemasan tergambar jelas di wajah Minho.

“Sejujurnya aku ingin menikahimu, dan aku sadar memang sudah waktunya kau menikah. Secara mental aku siap saja, tapi kamu tahu kan aku masih harus membiayai Sulli.” Ujar Minho cemas.

Yuri mengangguk mengerti. “Aku tahu, tapi mamaku memintaku untuk menikah dalam waktu dekat, kalau enggak yasudah kita putus. Kamu enggak mau kan? Delapan tahun loh kita bersama masa harus berakhir begitu saja?”

Ara… ara…” Kepala Minho bergerak keatas-kebawah. “tapi kan masalahnya, mamamu juga mempermasalahkan keuanganku yang belum stabil.”

Yuri memegang tangan Minho. “Nah itu dia tugas kita sekarang. kita yakinkan Mama kalau kamu itu bisa menstabilkan keuangan kamu. Jadi mama enggak akan khawatir kalau kita menikah dalam waktu dekat. Lagipula kamu baru dapat promosikan? Pasti bisa mengatur antara keuangan untuk Sulli dan rumah tangga kita nanti.”

“Iya sih tapi…” Minho tak melanjutkan kalimatnya. Ia benar-benar bingung. Di satu sisi tak bisa dipungkiri masalah keuangannya merupakan beban, tapi di satu sisi juga Ia tak mau melepas Yuri karena masalah ini. Ditatapnya mata kekasihnya itu. mata yang penuh keteduhan tempat Ia selama ini selalu bernaung, dan sungguh Ia tak ingin kehilangan orang itu.. Sorot mata Yuri membuatnya ingin mencoba.

“Baiklah, ayo kita coba untuk meyakinkan mamamu agar kita bisa menikah dalam waktu dekat.” Minho menyanggupi permintaan Yuri, walaupun… gurat keraguan masih terlihat jelas secara samar.

*****

Selama bercerita Yuri tak berkaca-kaca layaknya Sunny. Ia terlihat tampak lebih tegar. Yuri mengekspresikan rasa sedihnya dengan cara terus menerus menuangkan Soju ke gelasnya lalu meminumnya, dan itu membuatnya justru terlihat lebih frustasi.

“Dia memang menyanggupinya, tapi aku tahu dia sebenarnya terlihat ragu. Keraguannya itu yang aku takutkan. Aku benar-benar khawatir keraguannya itu membuatnya tak mampu untuk memperjuangkan hubungan kami selama ini.” Yuri benar-benar terlihat khawatir dan rasa khawatirnya itu membuatnya ingin meneguk soju lagi. Taeyeon berusaha menghentikannya karena Yuri sudah banyak minum, tapi Sunny mencegah Taeyeon.

“Sudah biar saja. Dia terlihat butuh pelarian.” Sunny menuangkan Soju ke gelas Yuri dan gelasnya. “Kenapa Minho benar-benar berjuang keras untuk keuangannya? Apa dia berasal dari keluarga tak mampu sehingga Ia harus membantu orangtuanya untuk membiayai adiknya?”

“Saat dia baru saja kuliah, orangtuanya mengalami kecelakaan dan meninggal. Orangtuanya hanyalah karyawan kantoran biasa, jadi tak banyak yang mereka tinggalkan. Semenjak itu ia kuliah sambil kerja serabutan untuk membiayai hidupnya dan adiknya. Kalau saja dia tak dapat beasiswa, sudah dipastikan takkan menyelesaikan kuliahnya.” Jawab Yuri lemah.

“Jadi masalahmu itu masalah meyakinkan dia untuk benarr-benar menikahimu?” Tanya Baekhyun yang ikut bergabung saat Yuri mulai bererita.

“Ya pokoknya aku harus menikah dalam waktu dekat ini, tapi kalau aku menikah dengan Minho ibuku takkan setuju. Aku enggak mau putus begitu saja dengan dia, makanya aku mencoba untuk meyakinkan Minho untuk menikahiku.” Yuri menguraikan permasalahnnya secara singkat.

“Hubungan kami juga dulu tak disetujui, ya karena alasan yang kurang lebih sama seperti mu. Baek lebih muda dariku, sehingga ya bekalnya masih tidak mumpuni.” Ujar Taeyeon mengingat masa lalunya.

“Apa yang bikin kau yakin untuk menikah dengan Taeyeon? Dan bagaimana cara meyakinkan orangtuanya?”

Baekhyun memandang ke atas, mencoba mengingatnya. “Karena aku merasa dia adalah yang tepat untukku, aku tak mau berlama-lama, takut direbut. Begitu lulus, kulamar dia setengah tahun lalu, tapi kamu baru bisa menikah Bulan kemarin karena kami harus berjuang untuk mendapatkan izin. Orangtua Taeyeon meragukanku karena aku masih muda, dan ya itu mereka mengkhawatirkan keuanganku yang belum stabil, tapi aku membuktikannya dengan kedai ini. Aku sudah mengelola kedai ini dari zaman aku kuliah. Aku terus berusaha untuk membuat kedai ini ramai dan menghasilkan omset yang besar. Melihat perjuanganku yang sungguh, akhirnya orangtua Taeyeon merelakan anaknya hidup bersamaku.”

“Masalahnya ibuku mau sabar tidak untuk menunggu Minho untuk membuktikan?” Yuri menempelkan kepalanya ke meja.

Taeyeon mengelus-elus kepala Yuri “Tapi Yuri, Eu.. Baekhyun itu tak ada tanggungan.”

Yuri langsung mengangkat kepalanya. Mukanya langsung cemberut. “Tuh kan! Makanya lebih gampang, lah aku?” Yuri Menghela nafasnya. “Aku enggak yakin deh Minho mau menikahiku dalam waktu dekat ini huhuhu.”

“Yuri-ssi, sebagai sesama pria aku mengerti apa yang dia khawatirkan, uang. Namun, dia harusnya jangan begitu khawatir, karena rezeki itu pasti ngalir kok. kerasa sama aku sekarang. Semenjak menikah kedaiku ini makin ramai.” Ujar Baekhyun sambil meminum segelas Soju.

“Sekarang kamu bicara dari hati ke hati. Yakinkan dirinya, dan yakinkan Minho kalau kamu memang wanita yang tepat untuk dia. Hubungan kalian masih bisa banget diselamatkan.” Saran Taeyeon.

“Beruntungnya kau Yuri, hubunganmu masih bisa diselamatkan, hubunganku? Benar-benar hancur. Kemungkinanku bisa bersamanya paling besar hanya 5%.” Sunny akan menuangkan soju ke dalam kerongkongannya, tapi lagi Taeyeon mencegah.

“Kamu sudah banyak minum. Setiap kau mabuk, kau pasti mengacau.” Cibir Taeyeon sambil meminum Soju milik Sunny.

“Hubunganku juga sudah diujung tanduk. Bisa jatuh bisa selamat.” Yuri mengacak-acak ramen dengan pesimis.

“Sunny, walau 5% itu tetaplah sebuah harapan yang mungkin bisa terwujud.” Taeyeon memberi semangat.

“Tapi lebih besar kesempatan gagalnya, 95%!!!” Sunny mengacak-acak rambut dengan frustasi.

“Baek, itu ada pelanggan baru. Kamu layani dulu ya!” Taeyeon menunjuk dua orang pria yang baru masuk kedalam kedai mereka.

“Siap nyonya Byun!” Baekhyun bergegas meninggalkan mereka untuk melayani pelanggan.

“Kenapa ya hidup kita begitu rumit?” Keluh Yuri dengan mata berkaca.

“Benar.” Angguk Sunny yang matanya jauh lebih basah daripada Yuri. “Apakah kita dapat menikah dengan pacar kita masing-masing, huhuhuhu.”

*****

One years later

Taeyeon dan Sunny tampak sedang berbincang akrab di kedai. Seperti biasa obrolan mereka ditemani oleh dua botol Soju dan sepiring telur dadar. Mereka tampak senang, tertawa bersama. Tiba-tiba obrolan mereka terhenti karena ada sebuah kejutan yang hadir.

“Hai, Taeyeon, Sunny!”

“Yuri?!” Girang mereka berdua.

“Hei, apa kabar?” Sapa Sunny.

“Kemana saja kau? Sudah lama sekali tak mampir ke kedai!” Seru Taeyeon senang.

“Maaf aku tak mampir-mampir kesini lagi.” Jawab Yuri penuh senyum. Yuri pun ikut bergabung dengan mereka dan Ia memesan tteoppeoki dengan soju.

“Ada apa nih kesini?” Tanya Taeyeon.

“Aku ini pelanggan tetapmu kan? masa kau bertanya untuk apa aku kesini.” Jawab Yuri sambil memasukkan tteoppeoki kedalam mulutnya.

“Benar? Pasti ada sesuatu kan selain kau rindu nongkrong disini.”

Yuri tertawa kecil. “Ah kau tahu saja. Aku ingin memberikan ini pada kalian.” Yuri mengeluarkan dua buah kartu berukuran notes dari dalam tasnya. Diberikan kartu itu kepada Taeyeon dan Sunny.

“Kau akan menikah?” Sunny kaget saat melihat kartu undangan itu.

Yuri tersenyum mengangguk.

Chukhae!” Seru Taeyeon.

“Ah mumpung kamu disini, aku juga ingin memberikan ini.” Sunny memberikan sebuah kartu undangan pada Yuri.

“Wah jarak kalian menikah hanya seminggu. Yuri dahulu, baru Sunny. Kalian menguras kantongku!” Gerutu Taeyeon sambil melihat undangan Yuri.

“Kau juga akan menikah? Dengan siapa?” Yuri ikut excited.

“Tentu saja dengan Lee Jinki ku. Kamu juga menikah dengan Minho kan?”

Yuri terdiam tak menjawab. Wajahnya seketika murung. Taeyeon menyikut lengan Sunny, dan menunjukkan kartu undangan Yuri. Dalam undangan Yuri itu tertera nama pengantin pria adalah Siwon, bukan Minho. Seketika Sunny langsung merasa bersalah karena menyinggung hal yang sudah pasti membuat Yuri bersedih.

Mianhaeyo. Aku tak tahu.. tap…tapi… dia siapa?”

“Dia Atasanku di perusahaan hiburan tempatku bekerja. Sebenarnya dari dulu kami sudah dekat, karena dia dulunya merupakan seniorku di kampus, tapi ya kami selama ini dekat hanya sebagai teman main saja.” Lalu Yuri mencoba mengalihkan pembicaraan. “Kau berhasil membujuk ibumu untuk menikah dengan Jinki?”

Sunny mengangguk senang. “Iya. Setelah kita mabuk bersama saat itu, paginya aku menghubunginya kembali, dan berusaha mempertahankan yang aku bisa. Aku benar-benar meyakinkan dia dan menyemangatinya. Akhirnya dia sadar kalau hubungan enam tahun kami tak dapat berkahir sia-sia. Untuk membuktikan pada Ibu kalau dia dapat menjagaku, Dia mengoperasi kakinya. Dulu dia tak mau di operasi karena kemungkinannya kecil dan juga Ia takut setengah mati. Demi aku dia melawan ketakutannya itu. Ternyata Tuhan berbaik hati pada kami dan memang Tuhan mau menjodohkan kami. Operasinya berhasil dan dia menjalani Fisioterapi. Melihat kesungguhan Jinki sampai dia rela operasi, membuat hati Ibuku luluh dan mengizinkan kami.”

“Mukjizat itu ada ya ternyata. Sekarang Ia bisa berjalan?”

“Bisa, tapi harus ditopang dengan tongkat, dan Ia tak bisa berjalan jauh, tapi setidaknya Ia berdiri. Kini Ia dapat menghampiriku dengan kakinya sendiri, Kini dia dapat merangkulku dan menjagaku.” Jelas Sunny dengan wajah senang bercampur haru.

“Bahagianya kau…” Ujar Yuri yang tampaknya Ia sirik.

“Kamu enggak bahagia bersama calonmu itu?” Tanya Taeyeon.

“Kenapa bisa kamu menikah dengannya?” Sunny ikut penasaran.

“Minho pada akhirnya menyerah. Dia merasa tak yakin. Dia masih harus bertanggung jawab atas adiknya. Aku sudah bilang kalau aku mau ikut berjuang bersama, tapi dia enggak mau aku terbebani. Jika aku menikah dia juga harus membiayai aku, tapi tabungan dia belum cukup. Dia khawatir tabungannya akan habis ditengah kehidupan pernikahan kami, sedangkan adiknya masih harus kuliah. Jadi dia memutuskan untuk mengakhiri saja. Sebulan setelah aku putus, Oppa datang padaku dan memintaku menjalin hubungan. Akhirnya aku terima agar aku bisa cepat melupakan Minho dan agar Mama senang.” Cerita Yuri dengan tatapan sendu.

Kening Taeyeon mengerut “Dia tahu kalau dia hanya dijadikan pelarian?”

“Tahu. Dia ingin membantuku untuk melupakan Minho. Dia mau menungguku untuk benar-benar mencintainya dan dia sedang berusaha keras agar aku bisa mencintainya.”

“Tapi kenapa kalian menikah? Bagaimana perasaanmu?” Sunny terlihat kurang setuju akan pernikahan ini karena Ia yakin Yuri benar-benar merasa sedih harus pisah setelah 8 tahun bersama.

“Aku sudah mulai menyukainya. Dia benar-benar dapat membuatku nyaman, tapi untuk masalah cinta, sejujurnya cinta ini memang masih untuknya. Tak mudah menghapus rasa yang sudah tertanam selama delapan tahun. Oppa belum bisa mencabut akar cintaku pada Minho, tapi dia sudah mulai bisa menebang batang-batangnya.”

“Ya tapi kalau begitu kenapa kalian harus menikah sekarang?”

“Karena Mamaku meminta.” Jawab Yuri singkat.

“Kenapa kau tak mengkompromikannnya?”

“Karena Mamaku terkena Stroke.” Lirih Yuri sedih. Sunny dan Taeyeon terkejut untuk kedua kalinya. Ternyata Yuri mendapat cobaan bertubi. “Kondisinya sekarang sudah cukup parah, dan Dia bilang ingin melihatku menikah.”

“Yuri..” Sunny dan Taeyeon langsung memeluk Yuri. Sunny yang sentimental bahkan langsung menitikkan air mata. Yuri sedih, tapi Ia tetap tegar dan tersenyum. Ia membalas pelukan keduanya.

“Sudah aku tak apa-apa kok. Aku tak merasa terpaksa atau tertekan.” Yuri menenangkan mereka berdua. Meyakinkan mereka kalau Dia baik-baik saja. “Oppa orang yang baik. Aku yakin aku takkan menyesal menikah dengan dia.”

“Serius? Kau tak apa?” Cemas Taeyeon. Yuri membalas dengan anggukan.

“Tapi apa kau bahagia dengan keadaan ini?” Tanya Sunny hati-hati takut melukai perasaan Yuri.

Yuri terdiam sejenak seolah berpikir, tapi sedetik kemudian Ia menjawab dengan senyuman damai dan tatapan penuh kemantapan.

“Aku bahagia kok, serius. Aku akan mendapatkan suami yang sesuai harapan Mama, seseorang yang mapan, tapi baik hati dan bertanggung jawab. Siwon Oppa itu tipe suami idaman sekali jika kalian mengenalnya. Aku bersyukur dapat mendapatkannya, lagipula jika Mama bahagia, maka aku akan ikut bahagia, karena kebahagianku pasti kebahagian buat mamaku, maka dari itu sudah seharusnyakan kebahagian mama, kebahagianku juga?”

—The End—

Saturday, January 31, 2015

10:46 PM

Aaaah ceritanya kurang ngenanya? Berantakan ya? maafin. aku agak kesulitan untuk menyatukan dua buah cerita dalam satu cerita, jadi ya agak berantakan dan jadinya mungkin cerita masing-masingnya jadi enggak maksimal. Ya enggak apa-apa lah, namanya juga belajar dan mencoba. Niatnya sih pengen bikin yang agak dewasa, tapi kayaknya tetep aja enggak ya? tetap ada sisi kekanak-kanakkannya ya? maklum daku kan masih bocah wkwkwk. Eh iya kayaknya judul sama isi kurang nyambung ya? hahahaha maafin, biarin lah ya? MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s