[FF] Spiritless

Title               : SPIRITLESS

Rate               : lebih GENERAL temanya, jadi ya SU, G

Genre             : LIFE, CAMPUSLIFE

main Cast     : JIMIN AND JUNGKOOK BTS

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAHnya mau kejer setoran

INSPIRED        : MY LAZYNESS AND PASSION DISORDER *ngomong apa sih nan*

Disclaimer   : Biasa sebelum masuk kuliah aku selalu mentargetkan harus nulis satu cerita. Alhamdulillah kesampaian. Aku lagi kesengsem sama duo dedek gemes di BTS ini. aah mereka mengaggumkan sekali, sanggup membuat hati Noona meletup popcorn, jadi aku ngambil castnya mereka. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D AND HAPPY NEW YEAR 2015 ^^.

Sinar matahari tampak menerobos celah-celah awan memberikan kehangatan ditengah angin segar yang menggeltik setiap hidung yang menghirupnya. Tercium bau tanah yang tercampur bau embun sebagai mahakarya Tuhan semalam. Cuaca yang sangat enak untuk pagi ini. Cuaca yang sanggup membuat orang semangat begitu menghirup udara segar dan tersinari matahari hangat. Hanya saja itu tak berlaku bagi Jimin.

Jimin sedang berjalan menuju kampusnya. Suasana disepanjang perjalanan menujh kampusnya seperti biasa selalu ramai. Orang-orang berlalu lalang. Ada yang berjalan santai, adapula yang terburu-buru. Sejauh ini dia melihat sebagian besar orang-orang melangkah dengan mantap, namun ada juga yang beberapa tampak tidak bersemangat seperti dirinya. Kini Ia sedang dilanda fase kejenuhan.

Tinggal dua minggu lagi menuju ujian akhir. Seharusnya kini Ia sedang semangat-semangatnya mengejar materi. Harusnya hasrat belajarnya menggebu-gebu, tapi entah kenapa dia merasa benar-benar malas. Tak hany malas yang mendera, bahkan rasa jenuh pada kuliahnya mulai menggerogotinya. Entah mengapa Ia merasa menyesal kuliah di jurusan yang Ia pilih. Mungkin hal ini disebabkan dia merasa kesulitan dalam menghadapi beberapa matakuliah. Nilai dia ada yang kacau, dan dia sudah merasa frustasi menghadapi itu. Alhasil semangat kuliahnya menguap begitu saja.

Setibanya di depan kampus, langkah Jimin terhenti. Kakinya seharusnya berbelok ke arah kiri, namun entah mengapa rasanya berat untuk bermanuver ke kiri. Arah matanya malah melihat ke arah kanan. Kampusnya yang berada di sebelah kirinya bersebrangan dengan sebuah kafe. Kafe itu tampak menggoda Jimin untuk disinggahi. Kafe ini memang didirikan dengan mahasiswa sebagai sasaran pelanggannya, sehingga di pagi hari mereka sudah buka agar mahasiswa dapat sarapan. Tercium wangi roti yang baru saja dipanggang. Wangi itu membunyikan alarm keroncong pada perut Jimin. Jimin melirik jam tangannya. Masih ada 10 menit lagi sebelum waktu kuliah. Berhubung Ia sedang tak ada gairah untuk kuliah ditambah wangi roti yang menggiurkan, membuat Jimin berubah haluan ke kanan. Biasanya jika waktu kuliah akan dimulai, sebagaimanapun wangi roti bersemilir, Ia tak goyah, tapi kali ini tanpa wangi roti itu dia sudah goyah.

Suasana kafe tak begitu ramai, hanya beberapa meja yang terisi. Disudut kanan kafe tampak ada sepasang kekasih, di dekat pintu masuk ada sekawanan mahasiswi yang sibuk bergosip padahal masih pagi, dan tak jauh dari gerombolan mahasiswi ada seorang wanita yang menikmati sarapannya sendirian. Jimin langsung menuju kasir untuk memesan. Berhubung Jimin merupakan pelanggan tetap, Ia sudag mengenal para pelayannya, termasuk pelayan muda satu ini.

“Hai Jungkook, shift pagi lagi?” Sapa Jimin.

Jungkook mengangguk. “Iya, Hyung. Sekolah lagi liburan soalnya. Mau apa, Hyung? Mau coba paket sarapan?”

“Paket sarapan itu yang milih mau yang toastbox atau sandwich ya?”

“Tepat sekali. Toastbox lagi hits loh!” Saran Jungkook.

“Boleh. Toastbox with nutella and marshmallow.”

“Pilihan minumnya mau yang mana? Espresso, milk tea, jasmine tea, latte, atau fresh milk?”

“Jasmine tea saja biar ga eneg.”

“Jadi 36000 won. Ditunggu ya Hyung pesanannya.” Jungkook memberikan struk dan Jimin memberikan uang sebagai tanda pembayaran.

Jimin pun menuju tempat duduknya, karena Ia sendiri, Ia memilih meja panjang yang menempel pada dinding di sebelah kasir. Di meja itu terdapat  lima kursi. Meja itu memang diperuntukkan untuk yang datang sendiri, agar tidak mubazir tempat. Sembari menunggu, Ia mengambil tablet hitamnya, dan menghubungkan jaringan tabletnya dengan jaringan wifi kafe tersebut, lalu asyik menjelajahi dunia maya. Tak lama kemudian pesanannya pun datang.

Jimin melirik jam tangannya. Waktunya tak lama hanya lima menit. Walau begitu, Ia tetap menyantap pesanannya dengan santai bahkan mata dan jari kirinya tetap fokus pada tablet. Ia tak tahu harus masuk kelas apa membolos lagi. Dia benar-benar tak ada semangat, ditambah pula Ia kini berdiam diri di tempat penuh makanan dan koneksi internet yang kencang, membuat setan dalam dirinya makin kencang menghasut Jimin.

“Hyung fokus banget cari bahan tugasnya.” Celetuk Jungkook dari kasir melihat Jimin makan sambil mengoprasikan tabletnya.

“Ah aku lagi enggak cari tugas.” Jawab Jimin.

“Kirain. Hyung masuk siang ya?”

“Kenapa memangnya?” Jimin mengerutkan dahi.

“Habisnya Hyung makannya santai banget. Bentar lagi masukkan? Lihat deh dua orang yang tadi baru pesan, mereka terlihat terburu-buru makannya.”

Jimin hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Jungkook.

“Hyung ini sudah hari ketiga setiap pagi Hyung disini sampai siang. Hyung enggak kuliah?” Jungkook terus bertanya. Hal itu membuat Jimin agak sebal karena Jungkook terkesan ingin tahu urusan orang.

Jimin sedikit mendelik sinis, tapi mengingat Jungkook pelayan paling dekat dan baik, ia pun mencoba menjawab dengan santai “Enggak, malas.”

“Kenapa malas? Ada ya alasan malas kuliah?” Tanya Jungkook polos.

Jimi heran dengan pertanyaan Jungkook. “Ya ada lah, ya sama saja dengan alasan kamu malas masuk sekolah.”

“Sekolah kan jadwalnya gitu saja. Semua hal dipelajari. Membosankan. Kalau aku lihat kuliah itu seru, bisa fokus ke bidang masing-masing. Bebas. Aku malah pengen banget bisa kuliah.” Mata Jungkook terlihat sangat semangat saat menceritakan hal tersebut.

“Dulu saat aku masih sekolah kayak kamu, aku juga excited untuk kuliah, tapi ternyata setelah masuk kuliah tak seindah yang aku bayangkan. Tugas datang bertubi-tubi dan tak mau tahu harus selesai, orang-orang yang menyebalkan, individualis tinggi. Lama-lama jenuh kerja kita hanya tugas-tugas. Kehidupan mahasiswa itu tidak manusiawi. Jadwal tidur dan makan tak teratur. Seperti Zombie. Rasanya ingin cepat-cepat lulus. Muak aku rasanya sama kuliah” Jimin berapi-api mengeluarkan pengalamannya sebagai mahasiswa. Ia benar-benar mengeluarkan uneg-unegnya yang ada di hatinya kini.

“Wah iya? Tak seindah di drama-drama ya?”

Jimin tertawa mendengar ocehan Jungkook. “Hahaha, yang di film-film, drama-drama itu terlalu berlebihan. Kuliah itu tak seindah itu. Lagipula…”

“Lagipula kenapa?”

“Lagipula entah mengapa aku merasa kehilangan passion dijurusanku sekarang. entah mengapa aku merasa menyesal telah memilih jurusan ini. Hal itulah yang membuatku makin malas dan tak bersemangat kuliah.”

“Memang hyung jurusan apa?”

“Arsitektur.” Jimin menyuapkan marshmallow ke mulutnya.

“Wah, Jimin hyung arsitektur? Wah daebak! Aku mau banget jadi arsitek!” Seru Jungkook dengan mata berbinar-binar. Ia tampak kagum dengan jurusan yang diambil Jimin.

“Dulu juga aku begitu. Setiap dengar kata arsitektur pasti berbinar-binar. Semangat. Aku pikir dulu itu adalah passionku, tapi ternyata…” Jimin menghela nafas sesaat, “Arsitektur tidak semenyenangkan yang aku kira. Ternyata bakatku tidak begitu mendukung. Aku sedikit mengalami kesulitan, walau pada akhirnya aku bisa sih. Sekarang aku malah tertarik dengan musik. Rasanya aku ingin melepas dua tahun masa kuliahku untuk terjun ke musik.”

Andwae,hyung!” Teriak Jungkook hingga membuat pengunjung kafe mengarahkan pandangan mereka kepadanya. Jungkook langsung malu dan menundukkan kepala meminta maaf. “Sayang kalau hyung membuang kuliah hyung. Banyak orang yang ingin masuk arsitektur di kampusmu, tapi mereka gagal tes.”

Jimin mengangguk setuju, “Benar, kalau aku keluar, pasti orang-orang akan mengatakan ku tak tahu diri, karena aku dengan bodohnya melepas jurusan ini, padahal untuk masuknya susahnya setengah mati.”

“Lagipula, kasihan orang tua hyung, sudah membiayai kuliah, tapi enggak selesai.”

“Ya karena itulah, aku memutuskan untuk tetap bertahan kuliah. Aku memutuskan untuk mengejar mimpi bermusikku setelah aku lulus. Sekarang aku sedang membangun sedikit-sedikit kemampuan bermusikku. Ya walau begitu tetap saja alasan untuk membahagiakan orangtua tak cukup untuk membuat semangat kuliahku kembali. Musik terus menggentayangiku.” Jimin memutar-mutarkan tangannya dikepalanya seolah-olah keinginan bermusiknya terus berputar diotaknya. “Sedangkan arsitek malah terus tenggelam. Alhasil aku jadi malas kuliah.” Jimin menghela nafas kebingungan.

Jungkook melihat Jimin dengan sedih karena pelanggannya itu benar-benar sedang kehilangan semangat kuliah, tapi tak ada yang bisa Ia lakukan. Ia hanya bisa memberi semangat “Hyung, semangat! Pasti hyung bisa melalui fase kejenuhan ini. Semangatmu nanti pasti bisa kembali dan pasti passion bermusikmu dapat tercapai! Semangat!”

Jimin tersenyum mendapat semangat dari Jungkook. “Terima kasih. Ah Jungkook aku punya saran. Sebentar lagi kamu akan masuk kuliah kan? sebaiknya kamu pikirkan baik-baik apakah benar arsitektur itu passionmu? Jangan sampai menyesal seperti aku yang terlambat menyadari hasrat menggebu yang sebenarnya.”

Jungkook mengangguk. “Iya aku mengerti, tapi aku yakin kok kalau arsitek merupakan pekerjaan impianku.”

Jimin heran melihat semangat Jungkook yang meletup-letup akan jurusan yang Ia ambil kini. Ia pun ingin semangat itu ada pada dirinya. Ia pun mencoba menggali semangat itu dari Jungkook. “Kenapa sih kamu ingin sekali menjdi arsitek?”

“Kakekku dulu seorang arsitek. Rumah yang kutinggali sekarang merupakan karyanya. Waktu kecil melihatnya bekerja membuat jantungku berdegup kencang. Entah mengapa aku merasa terpanggil. Lagipula aku ingin membangun rumah impianku sendiri.” Jawab Jungkook dengan sorot mata yang membara.

“Apa kau yakin kalau punya bakat seperti kakekmu? Biasanya kan bakat kakek tak selalu menurun pada cucunya.” Sahut Jimin.

Jungkook menggeleng. “Bakatku tak sehebat kakekku. Aku cukup payah dalam hitungan dan gambarku pun tak sebagus kakekku, tapi aku yakin walau bakatku tak begitu mendukung, jika aku kerja keras dan terus berjuang dibidang itu, pasti nanti aku akan berhasil. Itulah yang dikatakan kakekku.”

Jimin terdiam mendapat jawaban Jungkook. Ia punya masalah yang sama, ya Ia merasa bakatnya tidak mendukung untuk kuliahnya sekarang, dan itu merupakan salah satu faktor yang membuatnya malas kuliah. Ia merasa mendapat sedikit pencerahan mengenai masalah bakatnya itu. Selama ini memang Dia kurang bekerja keras bahkan cenderung untuk menyerah. Jadi hal yang wajar jika Ia terus mengalami kesulitan, karena Ia tak mau berjuang.

Obrolan mereka pun terhenti karena Jungkook harus melayani pelanggan. Jimin pun kembali menikmati sarapannya sesuap demi sesuap. Jasmine tea Ia cium wanginya dalam-dalam. Wangi teh melati itu sanggup membuat pikirannya yang kalut menjadi lebih tenang.

“Hm.. Jimin hyung.” Panggil Jungkook dengan nada keraguan.

“Ya?”

“Nanti sore hyung ada kelas?”

“Ada.” Angguk Jimin.

“Mau masuk enggak?”

Mata jimin menerawang ke atas, lalu Ia mengangkat bahunya. “Entahlah. Kenapa memangnya?”

“Eu… aku… aku punya permintaan.”

“Ya mau apa?” Jimin melihat Jungkook dengan penasaran

Jungkook terdiam. Ia tampak ragu untuk mengutarakan keinginannya. Ia merasa tak enak untuk meminta hal ini. “Hm… enggak jadi deh hehehe.”

“Kenapa enggak jadi?”

“Enggak enak. Rasanya lancang.” Sahut Jungkook.

“Enggak apa-apa kok, bilang saja, ada apa?” Jimin memaksa Jungkook karena melihat wajah Jungkook yang jelas sekali ingin mengatakan sesuatu.

“Hm… sebelumnya maaf. Aku tahu ini pasti kurang ajar, dan enggak tahu diri, tapi kalau hyung enggak mau masuk kelas, boleh enggak aku yang menggantikan hyung masuk kelas?”

Jimin yang sedang minum langusng tersedak mendengar permintaan Jimin. Ia terkejut mendnegar permintaan Jungkook yang tak biasa, bahkan aneh menurutnya.

Jungkook langsung tak enak hati melihat Jimin tersedak. “Aduh, kurang ajar ya aku? Maaf aku minta yang aneh-aneh. Kalau enggak boleh juga enggak apa-apa kok, aku enggak akan kecewa.”

“Tunggu dulu.” Jimin menarik nafas “Sebelum aku menjawab permintaan kamu, aku mau bertanya dulu. Kenapa kamu ingin masuk kelas aku?”

“Aku ingin merasakan yang namanya kuliah. Ingin merasakan mempelajari suatu hal yang menarik bagiku.”

“Kan setengah tahun lagi kamu akan merasakannya? Untuk apa mencoba belajar di kelasku?” Heran Jimin.

“Karena…” Jungkook menundukkan kepalanya. “Aku takkan bisa kuliah. Ibuku tak punya uang untuk biaya kuliahku. Setelah lulus SMA nanti aku mau cari kerja tetap untuk membiayai adikku. Aku tak seberuntung hyung dan orang lain yang bisa duduk dibangku kuliah, dijurusan yang disukai. Oleh karena itu aku ingin sekali saja mencoba merasakan kuliah. pasti itu akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagiku.”

Jimin langsung terkelu mendengar alasan Jungkook. Jawaban Jungkook itu mengusik batin dan akalnya. Ini kedua kalinya jawaban Jungkook –setelah berbicara bakat–  membuat batinnya menyadari sesuatu. Kata beruntung sukses membuat hatinya bagaikan tertusuk sebuah pedang panjang. Rasa sakit akibat tusukan itu membuatnya menyadari jika selama ini Ia kurang bersyukur. Banyak orang yang tak seberuntung diriya yang dapat mengecap bangku kuliah. Banyak orang yang tak mempunyai biayai yang harus membuang impiannya, padahal mimpi mereka pasti dapat menciptakan inovasi yang dapat membuat dunia jauh lebih berkembang. Banyak yang memiliki bakat tapi bakatnya tak tersalurkan.

Jimin sadar tak seharusnya Ia menyia-nyiakan kenikmataan ini. Ia beruntung dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Tak seharrusnya Ia membuang impian lamanya. Menjadi seorang arsitek memang impiannya, tapi begitu mengalami kesulitan Ia malah menyerah. Disaat menyerah itu Ia mendapatkan bakat lainnya, yaitu musik. Demi bakat barunya itu Dia sempat berpikir untuk membuang kesempatan menjadi arsitek yang tak gampang Ia capai. Banyak orang yang menginginkan hal itu, tapi Ia buang begitu saja. Lagipula, bukankah dia bisa mencapai keduanya karena banyak juga yang mempunyai dua pekerjaan. Arsitek menjadi pekerjaan tetapnya, sedangkan musisi bisa Ia jadikan hobi yang menghasilkan uang. Ia dapat meraih kedua hal tersebut mengingat orangtuanya mampu membiayainya.

Jimin langsung merasa bersyukur kepada Tuhan karena masih bisa kuliah dan hobinya tetap jalan. Semangat kuliahnya tiba-tiba telah terisi ulang dengan penuh. Ia melirik jam tangannya. Ia telah terlambat 10 menit, tapi untungnya dosennya biasnaya memberi toleransi keterlambatan 15 menit. Tanpa ragu jimin langsung mengambil tasnya dan berlari keluar kafe.

Hyung, mau kemana?” Tanya Jungkook bingung melihat Jimin yang tiba-tiba terlihat bersemangat.

“Kuliah!” Seru Jimin sambil berlari, tapi kemudian Ia berbalik lagi kepada Jungkook. “Jungkook, nanti sore aku akan masuk kelas, kamu boleh ikut aku menyusup. Dosennya cuek jadi Ia takkan tahu kalau kau bukan muridnya.”

Mata Jungkook langsung bersinar mendengar jawaban Jimin. “Serius? Boleh?”

Jimin mengangguk. “Iya. Nanti jam tiga aku jemput kamu disini ya. Aku duluan ya!”

Jeongmal gomawo hyung!” Seru Jungkook kegirangan. Saking kegirangannya Ia menari-nari merayakan hal tersebut.

Jimin dalam larinya menggeleng. Tidak, harusnya aku yang berterima kasih, Jungkook. Batin Jimin. Iya, Jiminlah yang harusnya berterima kasih. Obrolan pagi hari ini membuatnya menyadari bahwa selama ini Ia kurang berjuang dan kurang bersyukur. Hal itulah yang membuat semangat kuliahnya hilang sehingga malas menderanya. Jungkook membuatnya sadar jika Ia harus selalu bersyukur akan kenikmatan yang Ia dapat, termasuk kenikmatan dapat merasakan pendidikan karena tak semuanya dapat merasakan hal ini. Benar kata Jungkook, tak semuanya dapat seberuntung dirinya.

—The End—

Wednesday, February 11, 2015

9:03 PM

Haaaaa agak menggurui ya? hahahaha maafkan kalau kacrut dan sedikit tidak terarah, tapi ya aku berharap ini membuat kita bersyukur dengan apa yang kita punya. Terkadang kita malas dan kehilangan semangat untuk melakukan sesuatu karena itu bukanlah hal yang kita sukai, tapi ingat tak semua orang dapat merasakan hal itu, ya jadi syukuri saja, karena pasti ada hal positif yang bisa didapat. MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s