[FF] Smile Drunk

Title               : SMILE DRUNK

Rate               : PG 13+

Genre             : seperti biasa ROMANCE, FLUFF

main Cast     : GONGCHAN B1A4, EUNJI A-PINK

length           : One shoT

Author          : mumpung HANAN HANIFAH punya ide

Disclaimer   : Gongchan-Eunji tuh couple yang tak pernah ada moment, tapi aku entah mengapa ngeship mereka. Random aja gitu aku mlih mereka buat dishippin wkwkwk. Rencana awalnya ini harusnya terbit april, tapi karena april aku sibuk uts dan tugas, jadi baru selesai me sekarang. gagal deh target aprilku. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY.

Cahaya matahari pagi menelisik mataku dan hilir ringan angina segar yang menggelitik hidungku cukup membuatku tersadar dari alam mimpiku, namun tak cukup kuat untuk membuatku terbangun. Kelopak mataku rasanya seperti tergantung karung beras sehingga terasa berat untuk membukanya. Aku memegangi kepalaku yang terasa amat pusing. Kepeningan kepala ini membuatku ingin melanjutkan aktivitas tidurku ini. Kupeluk kembali guling yang berada disebelahku.

Tunggu… guling? Kenapa bisa ada guling? Aku tidur dimana? Seingatku semalam aku masih minum di kedai dekat kampus. Aku raba-raba tempat tidurku. Ini sebuah Kasur. Aku tidur di Kasur siapa? Hal ini langsung membuat mataku terbuka. Aku melihat sekelilingku. Kini aku berada disebuah kamar bergaya maskulin. Terdapat gantungan baju futsal dan beraneka topi berlatar belakang tembok berwarna hitam putih. Jelas ini bukan kamarku. Tidak ada poster doraemon dan juga lampu hias berbentuk bintang. Seketika aku langsung bangkit dari Kasur. Aku mengira-ngira, dimanakah aku berada? Di apartemen siapakah aku? Melihat style kamar seperti ini tampaknya aku sudah dapat mengira, tapi aku merasa tak mungkin aku bisa terdampar di apartemen orang ini.

Aku pun segera keluar kamar untuk memastikan aku berada dimana, begitu membuka pintu aku langsung disambut dengan sofa berwarna merah tua dan juga sebuah televisi, dan juga sebuh radio tua dipojok kanan. Aku mengenal sekali ruangan ini. Beberapa kali aku pernah menginjakkan kaki di kamar ini. Berarti sekarang aku berada di apartemen…..

“Eunji! Akhirnya bangun juga. Ayo sarapan, sudah kubuatkan sup penghilang mabuk untukmu.” Sapa sang empu apartemen dari dapur. Kenapa aku bisa di tempat ini? mengapa aku bisa tersasar di apartemen Gongchan??? Ini semua pasti karena aku terlalu banyak minum semalam!

Aku hanya bisa menatapnya dengan penuh tanda tanya. Ditatap seperti itu malah membuatnya menghampriku dan mendorongku ke meja makan. Ia membuka kan kursi untukku dan mendudukkanku,, dan aku hanya bisa melihatnya dengan tatapan bingung.

“Kok kamu seperti yang linglung?” Tanya Gongchan sambil mewadahi sup untukku.

“Kenapa aku bisa disini?” Tanyaku langsung tanpa basa-basi.

“Kau yang memintaku datang.”

“Aku?”

“Iya, kau meneleponku memintaku untuk datang.” Angguk Gongchan.

jinja? Lalu kenapa kau malah membawaku ke apartemenmu?”

“Aku sudah berniat untuk membawamu pulang ke apartemenmu, tapi aku tak tahu password apartemenmu, dan kau sudah terlalu mabuk untuk ditanyai. Jadi daripada kau kuterlantarkan mending ku bawa pulang.”

Aku langsung mengambil ponselku di saku celanaku. Kuperiksa catatan panggilan untuk memastikan dia tak berbohong, dan sial Ia berkata jujur. Disitu tercatat kalau aku meneleponnya sebanyak lima kali dengan panggilan terakhir jam 11 malam. Urat Maluku rasanya kini menebal dan memanas. Aku malu sekali, kenapa aku bisa melakukan hal sebodoh itu. kugigit bibirku untuk menutupi rasa malu dan gugupku.

“Maafkan aku karena membuatmu repot. Aku tak sadar saat meneleponmu. Maaf ya.”

“Sudahlah. Tak usah dipikirkan. Makan saja dulu.” Sahut Gongchan sambil mengunyah.

Sendok stainless berisikan kuah sup dan nasi masuk bergiliran perlahan ke mulutku. Rasanya ingin mengetokkan kepalaku ke meja karena kebodohanku ini. kenapa bisa-bisanya saat mabuk aku malah menelepon dia? Aku harap hal bodoh yang kulakukan saat mabuk hanya sebatas itu. eh iya kan? hanya sebatas itu? aku tak melakukan hal bodoh lainnya kan? ah sungguh aku tak mengingatnya.

“Gongchan, saat aku mabuk aku tak melakukan hal bodoh lain kan?” Delikku penasaran.

“Hal bodoh? Seperti apa?” Dahi Gongchan berkerut.

“Ya hal bodoh, seperti aku meneleponmu saat mabuk.”

Mata Gongchan melirik ke atas tampak mengingat-ingat. “Hm… kurasa tidak. Saat kau mabuk kau hanya banyak bicara saja menceritakan masalahmu.”

“Masalah? Masalahku yang mana?” Panikku seketika.

“Kau yang punya masalah tentunya kau yang harusnya lebih ingat. Sudah akan saja dulu. berpikirnya nanti lagi.”

Dia bilang kalau aku membicarakan masalahku. Masalahku yang mana? Serius ini aku merasa panik. Wajar saja aku panik, karena aku terdampar di kedai minum karena dia. Jangan bilang jika aku malah menceritakan hal itu langsung pada orangnya. Mati aku! Aku otomatis langsung menepuk dahiku.

“Kenapa? Kau mengingatnya?” tanya Gongchan. Aku menggeleng.

Ia terkekeh melihatku seperti itu. “Hehehe, sudah makan saja dulu. jangan berusaha mengingat.”

Gongchan menyuruhku untuk tak berusaha untuk mengingat, tapi hal itu malah membuatku semakin ingin berusaha mengingat. Hal bodoh apa yang kuceritakan pada dia. Aku ingat sebelum aku mabuk, aku mendatangi kedai itu karena kekacauan hati yang kurasakan. Semua kekacauan itu disebabkan orang yang sudah membuat sup penghilang mabuk ini.

Hal ini bermula dari masalah hubungan kami. Hubunganku dengan Gongchan dapat dikatakan dekat, tapi untuk mengarah ke hal romantis, aku tak yakin. Hanya saja memang betul perasaaanku padanya lebih dari sekedar teman, tapi aku tak tahu dengannya. Dia sulit dbaca karena faktanya dia baik terhadap semua perempuan yang Ia kenal. Ia selalu tersenyum manis pada semua perempuan. Hal tersebut sulit bagiku untuk menebak siapa perempuan beruntung yang mendiami hatinya. Agar aku dapat mengetahui siapa perempuan beruntung itu, aku selalu memperhatikan perempuan yang dekat dengan dia selain aku. Pengamatanku itu menghasilkan beberapa nama, tapi pada akhirnya minggu lalu mengarah pada satu nama, Jiyeon, teman sekelas Aku dan Gongchan.

Minggu lalu aku sedang makan bersama dia dan satu teman kami, Jieun. Mereka berdua lalu pergi ke toilet, dan Jiyeon menitipkan ponselnya padaku. Diponselnya muncul sebuah pesan dari kakaotalk dan itu pesan dari Gongchan. Hal itu membuatku penasaran dengan isinya, saat Jiyeon telah kembali aku berusaha untuk mengintip isi pesan tersebut saat Jiyeon sedang membalasnya. Aku pun beberapa kali melihatnya saling berbalas pesan. Dari pesan itu dapat kusimpulkan jika mereka sangat akrab. Hal yang mereka bicarakan tak sekedar tugas, tapi hal tak penting lainnya. Disitulah aku menyadari tampaknya ada sesuatu diantara mereka, dan tentu saja itu membuatku merasa jatuh.

Kekecewaanku ternyata terus berlanjut dengan puncaknya sore kemaren. Aku sedang berjalan di parkiran menuju gerbang kampus untuk pulang. Aku tak sengaja melihat ke arah parkiran mobil, dan aku melihat pemandangan tak mengenakan –setidaknya untukku–. Aku melihat Gongchan dan Jiyeon berdiri disamping mobil Gongchan. Tampak terlihat dari raut wajah mereka yang mendalam, mereka sedang berbicara hal serius, dan hal yang membuatku hancur adalah Gongchan memeluk Jiyeon. Disitulah aku benar-benar tersadar jika aku dan Gngchan hanya sebatas teman. Hanya aku yang berharap lebih, dia tidak.

Kejadian itu membuat pikiranku tak berada diragaku. Aku melangkah kaki ke sembarang tempat untuk menghilangkan kegundahan itu. Pelukan itu terus terputar diotakku. Aku merasa hatiku benar-benar hancur. Langkah kaki sembarang itu malah membuatku ke kedai minum dekat kampus. Sejujurnya kedai minum itu mempunyai kenangan tersendiri. Kami berdua pernah minum bersama dan mengobrol tak berarah hingga dini hari menjelang. Mengingat itu membuatku makin banyak menghabiskan botol soju. Aku mengingat hanya sampai situ saja. Setelah aku dalam pengaruh alkohol masih samar dalam ingatanku.

Setelah selesai makan, Gongchan menyodorkan bajunya untuk kupakai setelah mandi. Sebenarnya aku ingin bolos saja, tapi tak mungkin karena sjadwalku hari ini praktikum. Untuk pulang dulu pun takkan keburu karena sejam lagi akan dimulai. Perjalananku dari sini ke apartemen memakan waktu setengah jam, dari apartemen ke kampusku pun butuh setengah jam. Belum macet dan menunggu bis. bisa-bisa aku telat dan tak boleh masuk. Pilihan Gongchan meminjamkan baju adalah hal yang tepat.

Kubiarkan kucuran air mengalir deras di kepalaku. Aku berharap dengan begitu ingatanku akan kembali lancar. Dinginnya air tampaknya memang berhasil membuat kesadaranku benar-benar pulih dan perlahan ingatanku mulai kembali. Ya sekarang aku ingat kalau aku meneleponnya. Aku baru ingat kalau ini kebiasaanku, jika aku punya maslaah dnegan orang itu dan aku sampai mabuk biasanya aku akan meneleponnya, tapi biasanya aku tak menyuruh orang itu untuk menemuiku. Aku hanya mengumpatnya. Kenapa Dia bisa datang menghampiriku? Ku mencoba membuat reka adegan dalam otakku saat tadi malam.

*****

Entah sudah berapa botol ku habiskan yang jelas kini kesadaranku sudah diluar kendali. Aku melihat layar ponsel dan aku marah-marah pada layarku. Di layar tersebut tertera kontak dari Gongchan.

“Ya!!! Kau merasa tampan huh? Bertindak baik dengan semua perempuan? Menebar senyum dengan mudah! Dasar murahan! Kalau kau punya pacar tak seharusnya memberi perhatian pada semua perempuan!” Saking kesalnya aku pun memutuskan untuk mengumpatnya padanya langsung melalui telepon. Langsung kutekan nomornya. Beberapa kali ku meneleponnya tak dia angkat. Dasar serigala! Akhirnya panggilan kelima dia menjawabnya.

“Ya!!! dasar bangsat serigala! Mengapa lama sekali angkat telepon dariku?!!” Emosiku tanpa memberinya kesempatan untuk mengatakan halo.

“Maaf Eunji, aku sedang di….” Belum selesai dia membela diri, aku memotongnya dengan serangan pertanyaanku.

“Hei kau bajingan! Kenapa kau tak cerita-cerita jika kau punya pacar? Kenapa kau sembunyikan hal itu?”

“Pacar?” Nada bicaranya terdengar kebingungan.

“Enggak usah sok polos! Aku tadi melihatmu memeluk Jiyeon! Kalau kalian tak berpacaran untuk apa kau memeluk dia? Harusnya kau tak menyembunyikan fakta itu? kenapa kau menyembunyikan hal itu? kau tak mau kehilangan fans huh? Dasar Gigolo!” Umpatku dengan amat kasar. Ya dalam mabuk aku sering mengumpat hal yang bahkan aku pun kaget aku bisa mengumpat sekasar itu.

“Kau melihat itu? Itu….”

“Ah sudahlah tak usah jelaskan padaku! Aku bukan siapa-siapa mu. Ya Gongchan kau benar-benar bajingan!!!”

“Eunji, kamu mabuk ya?”

“Menurutmu??” Teriakku pada speaker ponselku dengan keras. Saking kerasnya orang-orang kedai langsung melihatku. Sudah pasti disebrang sana Gongchan menjauhkan ponselnya dari telinga.

“Kamu dimana sekarang?”

“Kau dapat menebakku lagi mabuk, harusnya kau tahu aku sedang berada dimana,bodoh! Katanya mahasiswa gemilang, buktikan kalau kau pintar kau dapat menebak aku berada dimana!”

“Tunggu, aku akan kesana.”

Tak butuh waktu lama karena jarak kedai ini dengan apartemennya memang dekat. Begitu tiba, wajahnya langsung menunjukkan rasa kaget dan heran saat melihat botol-botol berserakkan di mejaku.

“Pantas saja, kau mabuk sekali. Sebanyak ini kau minum.” Gelengnya sambil duduk dihadapanku.

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. “Ya ya ya, terbukti kau memang mahasiswa gemilang. Cepat juga hahahaha.”

“Ada apa denganmu? Kau begini karena kejadian tadi sore?” Tanya Gongchan sambil meneguk soju segelas.

“Aku ini bingung denganmu. Kau ini bodoh apa pintar sebenarnya. Masalah seperti ini saja kau tak dapat menyadarinya. Apa memang dasarnya pria itu tidak peka?”

“Eunji, maaf, aku dan Jiyeon…”

Telunjuk kananku otomatis menutup bibirnya agar Ia tak melanjutkan kata-katanya. Rasanya tak sanggup mendengar hal itu langsung dari bibirnya.

“Suut… tak usah dilanjutkan. Aku tahu! Kau memang bisa memainkan hati seorang gadis. Harusnya saat kau punya kekasih, kau jangan baik pada semua orang, jangan beri perhatian, dan yang terpenting jangan tersenyum ramah! Itu semua bisa membuat kami para perempuan salah paham, termasuk aku!”

Aku menenggak soju dari botolnya. Dalam beberapa teguk saja, setengah botol habis. Setelah itu aku kembali meluapkan perasaanku. “Ya, aku mabuk karenamu, dan harusnya kau sadar, aku begini karena aku menyukaimu. Amat menyukaimu. Aku benar-benar merasa nyaman denganmu. Kebaikanmu membuatku terlena, tapi ternyata aku salah mengartikan kebaikan dan perhatianmu. Kamu memang seperti itu dengan semua orang. Kau tahu cara memperlakukan wanita. Kau mengagumkan. Dasar brengsek!” Tak terasa air mataku menetes bagaikan hujan badai. Mengalir dengan deras. Langsung kutundukkan wajahku.

Gongchan perlahan meraih wajahku. “Maaf….”

Kutepis tangan Gongchan. “Tidak ini bukan salahmu. Ini salahku. Tak seharusnya aku terlena akan kebaikanmu, tak seharusnya aku terbawa perasaan atas perhatianmu. Harusnya aku berpikir kau melakukan itu hanya demi kesopanan, bukan karena kau punya perasaan padaku. Tak seharusnya aku terpesona akan senyumanmu itu. Kamu tahu hal yang paling kusukai sekaligus kubenci? Senyummu! Ya senyumanmu yang penuh ketulusan. Di satu sisi senyummu itu yang membuatku jatuh hati, namun disatu sisi senyummu itu perangkap bagiku hingga ku tak bisa keluar dari labirin yang sebenarnya indah jika aku bisa menemukan pusatnya, tapi yang ada aku malah semakin tersesat. Setiap aku berusaha menyerah, aku luluh lagi melihatmu tersenyum. Tolong jangan pernah tersenyum padaku, kalau kau tersenyum aku akan terus terperangkap. Gongchan… ini benar-benar sakit. Aku benar-benar jatuh hati padamu. Apa yang harus kulakukan?.” Kini tangisku benar-benar pecah. Perasaan menyesakkan di dada itu tumpah begitu saja. Dituangkan pada target yang tepat.

Tangan Gongchan kembali mendekati wajahku. Dengan seenaknya tangannya menyentuh pipiku dan menghapus air mataku, dan berkata “uljima…”. Hal itu malah membuat makin sesegukan.

“Kamu memang kurang ajar, beraninya kamu memberiku perhatian. Ini malah membuatku berharap, padahal itu tidak boleh. Kamu jahat! Eotteokhae???”

*****

Sekujur tubuhku mendadak lemas. Ya kini aku ingat keseluruhan kejadian semalam. Ternyata aku malah mencurahkan semua perasaanku padanya. Aku menggetok-getokkan kepalaku ke dinding atas kebodohanku. Hal ini jauh lebih parah dibanding meneleponnya saat mabuk. Pasti Dia memandangku sebagai gadis tak tahu diri dan tak tahu malu. Jatuh sudah harga diriku. Ah tidak bukan jatuh lagi, tapi terperosok, terjerembap. Bagaimana aku harus berhadapan dengan dia??? Aku tak punya muka untuk bertemu dengannya, tapi untuk kabur pun tak mungkin.

Setelah selesai mandi, mau tak mau aku menemuinya. Kurasa mukaku kini sudah merah sekali. Gongchan tampak sudah siap. Sebenarnya aku enggan mengungkit kejadian tadi malam. Aku ingin semua seolah tak terjadi apa-apa, tapi jika aku diam saja, aku merasa tak tenang. Ku kumpulkan keberanianku. Nafasku atur agar aku dapat tenang.

Gongchan yang baru keluar kamarnya aku cegat. “Gongchan, maaf untuk kejadian semalam. Aku janji kejadian itu takkan terulang lagi. Itu pertama dan terakhir kalinya.”

Gongchan membalasnya dengan senyuman, “Tak apa. Kamu enggak usah merasa bersalah.”

“Dan untuk semua omonganku semalam….” mengingat apa yang aku racaukan semalam membuat nyaliku benar-benar mengempis. “Lupakan saja, anggap kau tak pernah dengar itu.”

Gongchan sedikit terbelalak, “Kamu sudah ingat apa yang kamu bicarakan semalam?”

Aku mengangguk lemah sembari menunduk. Aku tak berani menatap matanya. “Sudahlah, tak perlu dibahas lagi. Yuk ah, ke kampus.” Aku membalikkan badanku lalu berjalan menuju pintu keluar, tapi tiba-tiba saja Ia menahan tanganku.

“Tunggu dulu! Kamu memang enggak mua bahas hal ini, tapi menurutku ini harus dibahas. Ini bukan hanya masalah perasaanmu saja, tapi perasaanku.” Gongchan menahan tanganku. Aku tak membalikkan badanku. Aku memilih untuk diam saja. Kenapa dia jadi bawa-bawa perasaannya? Jelas-jelas ini masalah perasaanku.

“Eunji, aku ingin minta maaf, aku…”

Permintaan maaf Gongchan langsung kupotong. “Kau tak perlu meminta maaf. Kejadian kemarin sore itu bukan suatu kesalahan. Aku tak punya hak untuk marah, jadi kau tak perlu minta maaf. Sudahlah.”

“Tapi ada yang ingin kujelaskan. Dengarlah,tolong. Aku sudah mendnegar semua perasaanmu, semalam, kini giliranmu yang mendengarkan curahan hatiku.” Gongchan meminta dnegan nada memohon dan tegas. Nada suaranya yang seperti itulah yang selalu sukses membuatku terpengaruh dan mau mendengarkannya. Lagipula dia benar, semalam dia sudah mendengar keluh kesahku yang tak terencana, kini giliranku mendengarkannya.

“Baiklah.” Anggukku.

“Eunji, ini harus kuluruskan. Aku dan Jiyeon tak memiliki hubungan apapun, aku dan Ia hanya teman. Kami memang cukup dekat karena kami sudah saling mengenal dari SMA. Kemaren aku memeluknya sebagai ucapan selamat karena dia baru saja mendapatkan beasiswa untuk penelitian nanti. Kenapa di parkiran? Karena aku dan dia akan pergi menemui teman sekolah kami.” Jelas Gongchan panjang lebar.

Damn, jadi kemaren itu hanya sebuah kesalah pahaman? Haish… hal ini justru lebih memalukan. Aku bersedih dan frustasi untuk hal yang tak berguna, untuk sesuatu hal yang sia-sia. Ini justru lebih memalukan dibandingkan jika mereka memang benar berpacaran. Pasti saat Ia melihatku mabuk, Ia mentertawai musabab aku mabuk. Aku yang tadinya sudah mau membalikkan baan menghadapnya, kini jadi tak jadi karena aku malah jadi tak punya muka. Malu banget!

“Kenapa kau diam saja? Tak ada reaksi apa gitu? Senang gitu?” Heran Gongchan.

“Aku harus memberi rekasi apa? Oke, sejujurnya aku lega, tapi aku malu karena aku bersedih akan sesuatu yang sia-sia. Hanya sebuah salah paham. Sungguh aku malu.” Ujarku sambil menggigit bibir dengan kepala tertunduk.

“Maafkan aku Eunji.” Tiba-tiba saja Ia aku merasa punggungku terasa hangat. Sebuah dagu menempel pada bahuku. Kecepatan detak jantungku mendadak mengalami kenaikan yang drastis dengan ritme yang tak beraturan. Sepasang tangan mendekapku. Apa ini mimpi? Pasti ini hanya khayal babuku saja. Tak mungkin Gongchan memelukku dari belakang, tapi sentuhan ini terasa nyata. Aku mencubit pahaku, dan yap, itu sakit. INI NYA-TA.

“Kamu bersedih ini karena aku. Seharusnya dari dulu aku lebih menunjukkan apa perasaanku yang sebenarnya. Tak seharusnya aku memperlakukan semua wanita dengan baik. ah, tidak tapi itu sudah sifatku. Harusnya aku memperlakukanmu dengan beda. Jauh lebih istimewa. Harusnya aku lebih menunjukkan perasaanku padamu.”

Kupingku baik-baik saja kan? Aku tak salah dengarkan? Apa itu sebuah pengakuan atau sebuah permintaan maaf yang pennuh kesopan santuan? Aku sulit mengatur nafasku. Rasanya jantungku mau melompat. Belum selesai aku mencerna maksud dari semua kalimat yang Ia lontarkan, Gongchan sudah membalikkan badanku menghadapnya. Ia memegang bahuku dengan erat. Kini jarak kami hanya berkisar sekitar dua jengkal. Dia menatapku. Ya Tuhan, tatapannya begitu lembut dan dalam, ditambah senyumnya yang selalu membuat niatku berpaling gagal. Aku benar-benar jatuh pada dirinya.

“Eunji, terima kasih kau sudah meneleponku saat mabuk. Terima kasih kau telah mencurahkan perasaanmu padaku. Kini aku tahu dan yakin akan perasaanku.” Kepalanya perlahan-lahan bergerak maju. Apa yang harus kulakukan? Rasanya aku bisa mati karena serangan jantung yang mendadak seperti ini. Suhu tubuhku meningkat. Pipiku terasa panas, dan aku yakin pasti merah, tapi apa yang Ia katakana benar-benar dari dalam hatinya atau hanya rasa kasihan saja?

“Kau mengatakan itu semua apa memang berasal dari hatimu atau karena kau kasihan padaku yang benar-benar kacau saat semalam?” Tanyaku dengan jarak kepala kami hanya sejengkal kurang!

Dia tersenyum, lalu menjawab, “Percayalah Eunji, Aku sudah menyukaimu dari setahun yang lalu. Makanya aku selalu berusaha untuk bisa mengobrol denganmu. Aku benar-benar menyukai saat itu karena itu amat nyaman, dan asal kau tahu hanya kamulah gadis yang bisa membuat detak jantungku berdebar dalam tiga tahun terakhir.”

Kejadian ini terasa berlangsung dengan cepat. Bibirnya sudah tertaut dibibirku. Tak sampai sedetik, tak perlu pikir panjang, kubalas kecupannya itu. Dalam pejam mataku, ini semua terasa mimpi. Aku berasa berada diatas awan yang empuk dan juga terasa berada di padang bunga berwarna-warni. Benar-benar indah, dan yang jauh lebih menyenangkan ini bukanlah sebuah kebahagian semu, ini hal yang nyata.

Aku tak bisa berhenti tersenyum. Begitupula dengannya. Senyum lebarnya, dan ah… itu amat menyejukkan. Ritme jantungku yang belum teratur makin kacau dengan senyumannya itu. Semalam aku mabuk alcohol, kini aku malah mabuk senyumnya.

“Kau percaya itu?” Tanyanya.

Dengan malu-malu aku mengangguk. “Aku percaya kalau kau memperlakukan berbeda dari wanita lain, dan kau tak memperlakukan mereka dengan amat baik hingga membuat mereka slaah paham.”

“Oke, I promise treat you special, tapi kalau untuk tidak memperlakukan wanita lain dengan amat baik aku tak janji.“

Wae? Mana bisa aku percaya.” Rajukku.

“Itu kan sudah sifatku. Kau pun tahu itu.” Sahutnya dengan kekehan kecil.

“Gongchan, jangan tersenyum terus!”Pintaku. Jika dia tak berhenti tersneyum bisa-bisa jantungku melemah karena berdebar terus-menerus.

“Kenapa?”

“Jantungku tak bisa berhenti untuk berdebar kencang!”

Ia langsung tertawa dengan semu merah di pipinya. “Hahaha, kan biar kau selalu terperangkap denganku. Kau kan yang bilang paling suka dengan senyumku.”

Kini giliran pipiku yang makin memerah. “Ah sudahlah! Tak usah dibahas! Hampir telat nih, bisa-bisa enggak boleh masuk. Ayo!”

Gongchan langsung merangkulku. Sungguh aku tak dapat berhenti tersenyum. Gongchan pun rona wajahnya tampak cerah dengan senyumannya itu. Gongchan aku percaya kok. kau sudah membuktikannya barusan. Ya walau kejadian mabuk itu memalukan, tapi membuahkan hasil setidaknya. We know each other, our true feelings and it’s unbelievable.

—The End—

Sunday, May 10, 2015

03:49 PM

Ini sudah aku buat dari akhir april, tapi ketunda sekitar dua minggu karena tugas, kegiatan, atau lappynya dipake, jadi baru bisa diterusin pas mei sekarang. Enggak cuman Eunji yang mabuk senyum gongchan, aku juga wkwkwkwk XP. Maafin ya kalau ceritanya terasa kaku, dan bahasanya terlalu sederhana dan enggak deskriptif. MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s