[FF] Missing Tile Syndrome

Title               : MISSING TILE SYNDROME

Rate               : PG 13+

Genre             : apa ya aku bingung? Hmmm LIFE dengan sentuhan ROMANCE sedikit

main Cast     : IRENE (BAE JOOHYUN) RED VELVET, CHOI MINHO SHINEE

length           : One shoT

Author          : maafin HANAN HANIFAH baru ada ide setelah baca kaskus

INSPIRED        : Salah satu HT di kaskus judulnya “MISSING TILE SYNDROME”. Trit yg bagus gan, menginspirasi banget dalam kehidupan nyata dan perfanfic-an wkwkwk. Kalian bisa baca tritnya disini. *kalian harus baca trit itu, bagus*

Disclaimer   : Sebenarny,a ini sudah selesai dari bulan Juni, bisa dilihat dibawah tanggal dan waktu aku selesai menulis ff ini. Hanya saja aku saat itu belum punya kuota. Maklum, liburan pemasukan terpangkas 70% jadi baru aku posting sekarang. Ya walau enggak ada adegan so sweet so sweet yg berarti, tapi aku masangin Minho-Irene karena lucu aja lihat Minho godain Irene terus pas Minho jadi Mc peluncuran minialbum Red Velvet – Ice Cream Cake. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY.

“Gimana penampilan aku hari ini?” Tanya Irene sambil memutarkan badan.

Minho melihat pakaian yang dikenakan kekasihnya itu dari atas hingga bawah. Mini dress bermotif garis vertikal hitam putih tampak membuatnya anggun dan juga chic. Rambutnya Ia biarkan tergerai dengan pemanis jepit disudut kanan kepalanya. Ah Irene selalu tampak cantik dimatanya, hanya saja Ia merasa sedikit janggal saat tiba dibagian bawa. Sepatu.

“Itu heelsnya enggak ketinggian?” Minho melirik khawatir.

“Iya sih ini tinggi banget, 20cm. memang kenapa? Aneh?”

“Enggak sih, tapi kelihatannya kamu kurang nyaman.”

Irene melirik sepatunya dengn raut sedih “Memang sih, aku agak sedikit susah berjalan, tapi mau gimana lagi, biar aku terlihat tinggi di kamera.”

“Ya sudahlah, ayo!” Mereka berdua pun langsung meluncur ke tempat tujuan. Hari ini ada sebuah casting untuk presenter sebuah acara mengenai fashion di televisi kabel. Irene ingin mencoba casting tersebut karena salah satu mipinya adalah menjadi presenter sisebuah acara regular sebuah televisi. Ia ingin maju tak hanya berkarir menjadi penyiar radio atau mc acara off air saja, tapi juga ingin merambah dunia on air juga.

Setibanya di tempat casting, terlihat sudah banyak peserta yang mengantri. Sebagian besar peserta tampakny seorang model jika dilihat dari badan mereka. Badan langsing ditambah kaki jenjang yang membuat tubuh mereka menjulang tinggi. Hal ini membuat Irene menjadi minder.

“Minho, lihatlah, mereka tinggi-tinggi. Sangat jauh jika dibandingkan dengan aku.” Irene tertunduk sedih. Ia merasa saingannya sangat berat.

“Ya terus kenapa kalau mereka tinggi-tinggi?”

“Ya kesempatanku untuk lolos kecil. Ingat tidak casting untuk acara fashion di stasiun sebelah sebulan lalu? Orang yang lolos adalah seorang model dengan tinggi 170cm, sedangkan aku? 160cm pun tak sampai.” Keluh Irene sedih.

“Kamu ini mau audisi jadi presenter bukan model, jadi tinggi badan kan bukan faktor utama, tapi faktor pendukung.” Minho berusaha menenangkan Irene. Jika sudah merasa minder Irene benar-benar akan merasa rendah diri dan tak tenang sehingga Minho harus berusaha membuat Ia tenang.

Namun Irene malah semakin tak tenang. Ia malah makin berkeluh kesah. “Ya tapi kan faktor pendukung juga penting. Untuk sebuah acara mengenai fashion seperti ini, tak hanya kemampuan dan pengetahuanku saja yang penting, tapi penampilanku juga. Apakah aku cukup stylish, atau badanku cukup bagus tidak untuk dijadikan model fashion mereka. Oleh karena itu mereka cenderung menyukai yang memiliki badan tinggi layaknya model karena mereka akan bagus jika dipakaikan apapun pada badannya.”

Irene menatap nanar pada peserta lainnya. “Lihat kulit mereka mulus-mulus, sedangkan wajahku sedang penuh hiasan.” Cemberut Irene yang wajahnya memang sedang ada jerawat beberapa biji.

“Ya tapi jerawat kamu kan pengaruh hormon, kalau periodemu sudah beres, jerawat itu kan hilang sendirinya kan?” Minho mengelus muka Irene untuk membuktikan bahwa jerawatnya bukan masalah.

“Tapi tetap saja di kamera akan terlihat jelek. Ah eotteokhae? Haruskah aku gagal karena hal semacam ini?”

“Ya enggak lah. Masa mereka mengeliminasi kami kaena tinggi badan dan jerawat saja?”

“Kata siapa enggak?!” Seru Irene Kesal. “Casting kemaren aku gagal Karena itu. Peserta yang lolos memiiki kemampuan yang sama denganku, tapi karena badan dia lebih tinggi daripada aku, jadi dia yang dipilih! Makanya sekarang pun pasti begitu, ah.. apa yang harus ku lakukan?” Irene malah jadi panik sendiri, padahal yang ada dipikiran dia belum tentu terjadi.

“Aku harus menambah aksesoris apa lagi agar terlihat tinggi? Ah aku juga harus menambahkan bedak agar jerawatku tak terlihat.” Irene sibuk mengeluarkan bedaknya dan kembali merias diri. Minho yang melihat Irene seperti itu jadi geleng—geleng sendiri.

“Joohyunni, kamu itu kena missing tile syndrome!” Celetuk Minho.

Irene langsung menoleh bingung pada Minho. “missing tile syndrome?”

“Iya, kamu itu terlalu fokus pada petak yang hilang. Kamu terlalu berpikir keras bagaimana menutupi petak yang hilang itu agar tak terlihat, padahal kamu masih punya banyak petak yang masih ada yang harus kamu urus dan fokus pada hal itu.”

“Tapi apa salahnya kalau kita coba menutupi petakyang hilang itu agar sempurna. Kan seharusnya kita terus memperbaiki diri.” Irene menyanggah pendapat Minho.

“Benar, kita harus terus memperbaiki diri, mencoba menutupi kekurangan, tapi kalau kamu terlalu fokus untuk menutupi petak yang hilang,petak yang kamu punya akan terlupakan begitu saja dan oang-orang takkan tahu kalau kamu masih memiliki banyak petak.”

Irene tercengang mendengar penjelasan Minho. Pengandaian yang Minho buat tepat sasaran. Hati Irene setidak cukup tergugah. Ia mulai merasa jika Ia terkena syndrome yang entah Minho tahu darimana atau Ia buat sendiri istilah itu untuk menyadarkannya. Akan tetapi yang jelas Irene mulai sadar kalau Ia terlalu fokus terhadap kekurangannya selama ini.

“Lalu apa yang harus kulakukan?” Lirih Irene pasrah.

“Ya kamu harus maksimalkan petak yang masih ada, sehingga orang takkan sadar jika sebenarnya ada petak yang hilang, dengan begitu kekurangan kamu takkan orang pedulikan. Sekarang lihatlah peserta yang itu.” Minho menunjuk seorang peserta diujung sebrang yang tampak sedang berlatih. “Lihatlah badan dia. Dia memang tinggi, tapi apakah badannya proporsional? Dia lebbih berisi dibanding yang lain, apalagi kamu, tapi lihat diia fokus sama kemampuan dia. Dia percaya diri dengan kemampuan dia, dia masa bodoh dengan kekurangannya itu. Lah kamu? Bukannya berlatih, malah sibuk melihat kelebihan orang yang tak kamu punya. Sibuk nutupi itu semua!”

Irene menunduk malu. Ah Minho ini selalu bisa membuat dia sadar akan kesalahan yang Ia perbuat.

Minho memegang pundak Irene untuk memberi kekuataan. “Sekarang kamu fokus, dan percaya kalau kamu punya kemampuan. Kemampuan mu itu akan mengalahkan kekuranganmu dan orang lain! Jangan lupa berdoa!”

Irene tersenyum mendapat semangat dari kekasihnya itu. Iya mengangguk semangat “ne algeuseumnida!

good! Ah itu kamu sudah dipanggil. Ingat percaya diri lah, Bae Joohyun ku sayang! Fighting! Good luck!

Irene pun masuk ruang audisi. Tahap pertama adalah wawancara mengenai pengetahuannya mengenai dunia fashion. Setelah itu saatnya Ia tes kamera untuk menunjukkan kemampuan public speaking yang telah Ia tempa lima tahun terakhir.

“Bae Joohyun alias Irene Bae. Kamu lebih suka dipanggil Joohyun atau Irene?” Tanya sang juri yang sekaligus PD acara tersebut.

“Keduanya aku suka, tapi nama Irene itu seperti nama panggung. Aku memakai nama Irene ketika aku siaran dan mc.” Jawab Irene penuh senyum.

“Kalau kau terpilih kamu mau memakai nama yang mana?”

“Hm… sepertinya Irene karena kalau sudah berhubungan dengan kegiatan seperti ini macam public speaking, orang akan mengenalku dengan nama Irene.”

“Hm… oke, begini Irene Bae, tampaknya kamu kurang percaya diri. Saya suka dengan style kamu, kamu juga memiliki pengetahuan yang luas mengenai fashion, tapi tampaknya kamu kurang maksimal menunjukkan kemampuanmu itu.” Komentar seorang wanita yang merupakan seorang PD  dari acara tersebut sekaligus juri audisi presenter acara tersebut.

“Benar kata PD Hwang, kamu kok kelihatannya kurang maksimal. Saya tahu kemampuan mc-ing kamu. Saya pendengar setia kamu di radio loh. Saya juga sudah beberapa kali melihat kamu menjadi mc di acara-acara off air. Saya senang saat melihat namamu di daftar peserta, tapi kok agak mengecewakan ya?” Sahut pria yang merupakan seorang desainer dan juga PD utama acara tersebut.

“Kalau yang aku lihat kamu itu terlalu fokus sama kekurangan kamu. Hal ini terlihat dari heels yang kamu gunakan. Untuk menutupi kekuranganmu itu kamu pakai heels itu, tapi kamu melupakan salah satu faktor. Dalam fashion kenyamanan hal yang penting kan?” Ujar PD Hwang.

“Benar.” Angguk Irene. Irene tertunduk lesu mendengar penjelasan PD. Di menjadi pesimis untuk lolos.

“Nah makanya kamu kurang maksimal, kamu terlalu sibuk sama kekuranganmu itu. Jadi gimana nih PD Hwang haruskah kita kasih kesempatan kedua?”

“Terserah kau, PD Baek. Kau kan yang lebih tahu tentang kemampuan public speakingnya, tap kaau aku pribadi sih scocok dengan pengetahuannya yang luas.” Jawab PD Hwang.

“Baiklah, karena saya tahu kemampuan yang kamu tampilkan tadi itu bukanlah yang sebenarnya, dan saya tahu kalau kamu ini memang bagus dan sayang kalau tidak ditunjukkan, kamu saya kasih kesempatan kedua. Kamu tes kamera sekarang sekali lagi. Tolong maksimalkan hal itu. Saya kasih waktu lima menit untuk berlatih, setelah itu langsung tes kamera.” Sahut PD Baek

Irene langsung sumringah karena mendapatkan kesempatan kedua. Ia langsung kembali bersemangat. “kamsahamnida. Terima kasih atas kesempatan ini.” Irene membungkuk berkali-kali.

“Jarang-jarang loh ada yang dapat kesempatan kedua. Hanya beberapa saja, biasanya PD Baek tak sebaik itu. Jangan sia-sia kan!” Seru PD Hwang memperingatkan.

“Tapi saya enggak janji kamu bakal lolos karena kesempatan kedua ini. Kalau ada yang sebagus atau bahkan lebih bagus dari kamu dan itu diambil dalam satu kali take, pasti saya akan mengambil orang itu. Kamu mengerti?”

Irene mengangguk gembira, walau belum tentu Ia lolos, tapi setidaknya Ia masih punya kesempatan. “Baik PD-nim sayang mengerti.” Irene mengingat pesan Minho untuk tidak fokus terhadap kekurangannya, tapi fokus pada kelebihannya. Ya pasti kali ini Irene bisa melakukannya dengan baik.

—Sebulan kemudian—

“Sudah ada pengumuman belum?” Tanya Minho sembari menyetir. Irene menggelengkan kepalanya.

“Kamu yakin lolos enggak?”

“Enggak sih kayaknya, mereka bilang aku terlalu fokus sama kekuranganku, jadi enggak maksimal. Aku sebenarnya sudah bersyukur mereka masih mau memberiku kesempatan kedua. Kalau aku berharap lolos itu rasanya terlalu tinggi. Terlalu tak tahu diri.”Jawab Irene dengan posisi dagu terpangku oleh tangannya dan eskpresi wajah yang pasrah.

“Ya sudah tak apa, yang penting kamu sudah berusaha.” Minho mengelus rambut Irene. “Setidaknya itu bisa jadi pelajaran buat kamu.”

Irene tersenyum mengangguk. Tiba-tiba dering telepon terdengar dari ponsel Irene. Layarr ponselnya menunjukan sang penelpon tak terdaftar nomernya di ponsel Irene. Irene awalnya ragu untuk mengangkatnya.

“Angkat saja, siapa tahu dari pihak stasiun.” Saran Minho.

Irene pun mengangkat telepon tersebut. “Ya saya Bae Joohyun alias Irene Bae. Ada apa?”

Hanya butuh lima belas detik untuk merubah ekspresi seseorang. Awalnya ekspreinya hanya sebuah ekspresi kosong tak terdefinisikan, kini setelah orang disberang telepon bicara selama 15 detik, ekspresi Irene angsung berubah total. Matanya melebar dan otot wajahnya merenggang santai. Senyum kini amat lebar.

“Ini benar? Bukan tipuan? Ah syukurlah. Ya ya saya mengerti. Ya besok pagi saya akan kesana. Terima kasih banyak!”

“Dari stasiun?” Tanya Minho. Irene menjawab dnegan anggukan girang.

“Lolos?”

“Kamu enggak bisa lihat ekspresi wajahku?” Balas Irene sambil tersenyum lebar.

Chukhae, Joohyunni! Ah aku tahu kamu pasti bisa! Selamat!” Minho langsung mengacak-acak rambut Irene dengan semangat.

Gomawo,Minho.” Irene benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. “Benar, harusnya aku jangan fokus sama petak yang hilang tapi fokus sama petak yang masih ada. Aaah ini semua karena kamu juga. Coba kamu enggak bilang tentang missing tile syndrome, psti saat aku dikasih kesempatan kedua, aku malah makin down.”

“Ya sudah ayo kita rayakan. Mau makan apa? Aku traktir”

“Daging, gwaenchana?”

“Daging? Hm…” Minho tampak berpikir, mentraktir daging harganya cukup lumayan mahal. “call! Oke! Sesekali aku traktir kamu daging!”

“Tenang saja, begitu siaran pertamaku mengudara akan aku traktir kamu.” Sahut Irene.

“Siap!” Minho pun langsung menginjak pedal gas lebih kencang menuju rumah makan untuk merayakan keberhasilan Irene.

—-The End—-

Monday, June 29, 2015

02:26 PM

Target bulan juni ku tercapai yey! satu ff telah tertulis. Endingnya agak kurang gimana gitu ya? Habis aku bingung mau seperti apa, maafin yaaa. Agak menggurui juga enggak? Kalau iya maafin juga. Aduh maaf ya tulisanku akhir-akhir ini kayaknya agak turun deh. Sudah beberapa bulan terakhir ini aku agak kehilangan semangat dan kebingungan dalam menulis. Mungkin karena aku sudah lama tak membaca novel. Selama ini aku selalu membaca, tapi membaca rekapan drama, jadi tentu saja berbeda dengan gaya menulis sebuah cerita dalam novel. Doakan semoga aku bisa menulis lebih baik lagi. Duh jadi curcol maafin. MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s