[FF] RUDE AND HER TRAUMA (after Story NOT A BAD THING)

Title               : rude and her trauma (after story not a bad thing)

Rate               : 15+ mianhae

Genre             : a ROMANCE manis alay gitu

main Cast     : KIM JONGDAE (CHEN EXO), WENDY SON RED VELVET

other cast   : byun baekhyun exxo, kang seulgi red velvet

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH comeback!!!

Disclaimer   : ini after storynya FF ku yang NOT A BAD THING. Lagipula aku kangen banget bikin FF dengan cast Chendy. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D

Tuk..tuk.tuk… Tuk..tuk.tuk…

Baekhyun memperhatikan sahabatnya sekaligus rekan kerjanya, Jongdae. Jari Jongdae terus mengetukkan dirinya ke meja. Ia selalu melakukan hal itu jika otaknya sedang berpikir. Entah berpikir untuk mencari ide, berpikir mencari jawaban, ataupun berpikir karena khawatir, pasti yang Ia lakukan mengetukkan jarinya secara berirama. Baekhyun sudah mengenal Jongdae bertahun-tahun hapal betul kebiasaan Jongdae satu itu, bahkan Ia hapal betul apa yang sedang dipikirkan Jongdae melalu iramanya. Kini iramanya terdengar lambat dan panjang. Sudah dipastikan Jongdae sedang mengkhawatirkan sesuatu, bukannya memikirkan konsep acara radio mereka untuk minggu depan.

Ya! what’s going on? Wae?” Tanya Baekhyun. Jongdae diam saja tak menjawab.

Wah ini anak keasyikan mikir kayaknya.. “Ya!! Kim Jongdae!!!” Baekhyun mendaratkan kepalan tangannya di atas kepala Jongdae. Jongdae langsung mendongak kaget.

“Hah? Mwo?

“Ada apa? Kau sedang asyik tenggelam dalam pikiran apa? Gwaenchana?

Jongdae menganggukkan kepalanya “it’s okay! Aku lagi berpikir konsep untuk minggu depan kok.”

Baekhyun langsung mencibir begitu mendengar jawaba Jongdae. “Ya, Kim Jongdae! Kau pikir aku tak tahu dirimu apa? Kita sudah kenal bertahun-tahun, aku tahu kebiasaanmu mengetukkan jari ke meja dengan irama lambat dan panjang. Itu artinya kau sedang mengkhawatirkan sesuatu! Katakanlah… ada apa?”

Jongdae menghela nafasnya. “yeah you know me so well!” Jongdae tak langsung menjawab pertnyaan Baekhyun. Ia mengambil ponselnya yang terletak di meja, dan langung menelepon. Tak lupa juga Ia loudspeakerkan teleponnya agar Baekhyun dapat mendengarnya.”

The number you are calling is not active or out of scope area. Please try again later  in few minutes”

“Dengarkan? Kamu tahu apa yang ku khawatirkan?” Jawab Jongdae sambil menunjuk-nunjuk ponselnya.

“ah… Wendy? Lah tapi biasanya juga kalau dia enggak bisa dihubungin kamu enggak secemas ini. Paling hp dia habis baterai.”

“Masalahnya bukan itu! Aku yakin dia sengaja mematikan hp dia. Dia pasti lagi enggak mau berkomunikasi denganku.” Keluh Jongdae sedih.

What happened? Apa yang terjadi sampai pikiran kamu fokusnya cuman ke Wendy seorang?”

“Kemaren aku berantem sama dia… jadi….”

 

–Malam Sebelumnya–

“Hai, Seul… Wendy masih di lab?” Tanya Jongdae.

“Wah barusan banget dia pulang.” Jawab Seulgi.

“Pulang? Sama siapa?”

Seulgi menggelengkan kepalanya. “Entah, tapi sendiri kayaknya. Dia bilang mau naik bis kalau enggak salah.”

“Oke, makasih seul!” Jongdae pun langsung menuju mobil untuk pergi menuju halte bis dekat kampus Wendy –yang juga kampusnya dulu –. Ia berharap Wendy belum mendapatkan bis. Setibanya di halte orang yang Ia cari masih berada disana. Duduk diam termenung sendiri sambil ditemani alunan lagu yang mengalir melalui headset ke telinganya. Jongdae langsung keluar mobil menghampiri Wendy.

“Kenapa pulang sendiri? Enggak nunggu aku?” Tanya Jongdae cemberut.

“Kan kamu lagi siaran, terus ada rapat juga kan? Ya sudah aku enggak mau ganggu.” Jawab Wendy santai sambil terus mendengarkan lagu.

“Tapi ini sudah jam berapa? Hampir jam 10 malam, Wendy! Aku kan sudah bilang, kalau aku bisa kok jemput kamu bentar, habis itu aku balik ke kantor!”

Oppa, aku bisa pulang sendiri kok. Aku sudah biasa.” Wendy coba menenangkan Jongdae.

“Kamu tuh ya selalu gini. Apa-apa sendiri. Suka enggak cerita-cerita. Terkadang aku merasa enggak dianggap sebagai pacar.” Jongdae mulai sinis.

“Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?” Wendy langsung melepas headset ditelinganya.

“Kamu tuh sudah berapa kali kayak gini. Enggak bilang mau pulang sendiri malam-malam, terus ada masalah jarang sekali kamu cerita padaku. Tahu-tahu kamu cerita sudah beres masalah itu. Kalau ada apa-apa sama kamu, misalnya sakit, aku tahunya dari orang lain bukan kamu! Kenapa kamu kayak gitu? Kamu enggak percaya sama aku?” Nada sura Jongdae mulai meninggi.

“Apaan sih? Marah-marah enggak jelas! Kayak cewek lagi PMS saja!” Gerutu Wendy tak suka.

“Masalahnya bukan itu! Aku tuh takut kalau ada apa-apa sama kamu! Aku tuh pacar kamu! Kita sudah setahun, tapi aku merasa kok kayak aku yang pacaran sendirian. Aku kalau ada apa-apa cerita sama kamu! Sedangkan kamu? Awalnya aku coba mengerti, mungkin kamu butuh waktu untuk benar-benar sembuh dari rasa trauma kamu sama si monyet itu! Tapi lama-lama… kamu segalanya sendiri! Enggak ngasih tahu aku! Terkadang aku sebagai pacar merasa tak dihargai. Kayak sekarang! Pulang malam gini saja kamu masih nekat sendiri! Padahal kamu tahu, aku masih bisa jemput kamu! Ada aku! ADA AKU!!!” Jongdae mulai membentak Wendy. Begitu dibentak raut wajah Wendy langsung berubah. Kaget bercampur sedikit rasa takut.

Wendy coba menarik nafas. Mencoba mengendalikan suasana. “Oppa… kau lelah ya? Kembali lah ke kantor, selesaikan rapat, lalu pulang dan istirahat. Kalau kau harus mengantarku dulu, tubuhmu akan makin lelah.”

“Aku memang capek, tapi aku masih bisa mengantar kamu pulang! Wendy, ini sudah malam! Bus terakhir belum tentu ada! Kamu pulang mau pakai apa? Lihat mukamu, pucat! Kalau ada apa-apa gimana?”

“Enggak usah. Masih ada taxi kan? Aku bisa pulang sendiri.” Tolak Wendy tapi masih dengan gurat ketakutan yang samar-samar. Jongdae menyadari hal itu. Jongdae jadi kesal karena Wendy mulai ketakutan dan menganggapnya sama seperti mantan kekasih Wendy sebelumnya.

“Wendy! Kau terkejut lihat aku marah? Wendy! Please jangan samakan aku dengan si monyet Kevin Cho! Walau aku marah, tapi aku takkan pernah menyakitimu sedikit pun!”

Begitu nama Kevin Cho disebut, Wajah Wendy semakin ketakutan. Dia benar-benar trauma akan masa-masa saat Ia bersama Kevin Cho, ditambah sekarang kekasihnya Jongdae marah. Ingatan itu semakin kuat terputar dipikirannya. Wendy perlahan bergeser menjauh dari Jongdae. Melihat itu Jongdae semakin sebal.

“Ya Tuhan!” Jongdae langsung menepuk dahinya. “Wendy Son, kekasihkuuu… aku takkan menyakitimu! Aku enggak akan ngapa-ngapain kamu! Aku hanya ingin membawa pulang dengan selamat! Itu saja! ARRASSEO?!”

Wendy malah menjadi terpaku terdiam. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Melihat itu Jongdae langsung memutuskan untuk langsung menarik lengan Wendy dengan keras, dan menariknya masuk ke dalam mobil.

“Duh enggak usah banyak mikir. Ayo pulang!” Jongdae meeenarik keras Wendy. Wendy benar-benar terkejut akan tindakan Jongdae. Sentuhan yang cukup kasar menurutnya. Wendy langsung otomatis menarik tangannya untuk lepas dari cengkraman Jongdae. Wendy langsung menatap Jongdae penuh ketakutan. Wendy hanya terdiam engan tangannya yang bergetar. Melihat itu Jongdae pun langsung terdiam sesaat. Dia langsung menyadari kesalahannya. Jangan pernah membentak ataupun berlaku kasar sedikitpun pada Wendy, walau untuk kebaikkan!. Ia langsung menyadari hal itu dan merasa bersalah telah membangkitkan memori buruk Wendy.

“Wendy… a..a…aku tak bermaksud begitu… mianhae… aku hanya….” Belum juga Jongdae menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba bis yang Wendy tunggu tiba.

Oppa… bisku sudah datang. Aku.. aku pulang dulu.” Pamit Wendy yang langsung berlari masuk ke dalam bis, dan Jongdae hanya bisa menatap nanar pada bis itu.

*****

“Bahkan saat pamit dia tak mengucapkan selamat malam padaku. Biasanya saat kami berpisah dia akan mengucapkan selamat malam padaku! Disini aku memang salah sih marah-mrah sama dia sampai narik kasar. Sekarang dia pasti menganggapku memiliki monster yang sama seperti si monyet itu!” Jongdae mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Setrauma itu si Wendy sama si Kevin- Kevin itu?” Selidik Baekhyun.

“Gimana enggak trauma? 6 bulan pacaran hampir tiap minggu Ia mendapatkan tampran keras, sampai puncaknya Ia dipukuli habis-habisan dan masuk rumah sakit. Wendy sampai ke psikolog untuk menghilangkan rasa trauma itu. Monyet itu memang kurang ajar bikin Wendy setrauma ini, dan berimbasnya jadi kehubungan aku dan dia! Dasar monyet sialan!” Jongdae menendang meja saking kesalnya dengan Kevin Cho,

“Itu bukan monyet, tapi babi campuran anjing! Cowok macam apa yang berani main fisik segitunya ke cewek! Lagipula, tahu si Wendy punya trauma hebat, keapa kamu malah marrah-marah kayak cewek lagi PMS?” Baekhyun jadi menyalahkan Jongdae.

“Yee.. tahu sendiri kan si bos kemaren menekan kita kayak gimana? Kamu sendiri juga pasti stres kan? Ditambah kemaren pas siaran, ada pendengar yang curhat merasa tak dianggap, dan aku merasakan hal itu juga. Jadilah aku meledak. Tapi sebenarnya aku khawatir sama dia! Bukan karena kesal atau gimana, aku itu khawatir dan sedikit kecewa saja karena perlakuan dia selama ini. Selama ini tuh aku selalu berusaha untuk enggak marah sama dia. Ya paling cuman kesal sedikit. Aku selalu nahan karena aku takut dia ingat traumanya itu!”

“Ya sudah, nanti saja kamu ke rumahnya. Cek keadaan dia. Kamu harus minta maaf banget itu!” Baekhyun menepuk-nepuk pundak Jongdae untuk menenangkannya. “Eh jam berapa sekarang?”

Jongdae melihat jam di tangan kanannya. “Jam 12 lebih 15! Mampus! 15 menit lagi kita harus ketemu klien! Matilah kita kita! Mana keburu ini?”

“Kamu sih, malah curhat segala jadinya kita bakalan telat” Baekhyun menoyor kepala Jongdae.

“Yeh! Yang maksa buat cerita siapa! Kalau kamu enggak maksa kan aku enggak cerita.” Jongdae balas menoyor kepala Baekhyun.

“Ya sudah, yuk pergi!”

*****

Wendy terbangun dari tidur panjangnya. Tubuhnya sudah memberi peringatan untuk istirahat setelah berminggu-minggu sibuk dengan tugas akhirnya. Semalam Ia sudah terkena demam tinggi dan jug karena kejadian semalam pula Ia tertidur lama. Hatinya merasa pedih akan kejadian semalam. Secara tak langsung hal yang dilakukan Jongdae membangkitkan mimpi buruknya.

Wendy menyalakan ponselnya. Begitu ponselnya hidup, langsung muncul notifikasi telepon tak terjawab dari Jongdae sebanyak 73 kali, dan juga pesan sejumlah 20 pesan. Wendy hanya diam membaca semua pesan-pesan itu. Ia selama ini tak bermaksud mengacuhkan Jongdae. Bukannya Ia tak menganggap Jongdae sebagai kekasihnya. Hanya saja memang Ia menjaga jarak. Oke mungkin itu salah, tapi Ia hanya tak mau bergantung pada Jongdae, karena jika Ia terbiasa bergantung pada Jongdae, Ia takut… Ia takut jika Ia disakiti Jongdae Ia takkan bisa lepas, sama seperti saat Ia dan Kevin masih bersama.

Ia membaca pesa dari Jongae satu per satu. Ternyata Jongdae mengiriminya pesan suara.

Wendy-ah. Wendy Son sayangku, maafin aku ya? Aku ga bermaksud buat nyakitin kamu. Sumpah! Maafin aku malah kasar ke kamu sampai kamu jadi ingat trauma kamu sama Kevin. Aku kemaren kayak gitu karena khawatir. aku khawatir karena kemaren sudah terlalu malam, dan muka mu pucat. Aku tahu kamu kelelahan. Makanya aku maksa banget buat nganterin kamu pulang aku takut ada apa-apa  sama kamu. kamu tahu kan se sayang apa aku sama kamu? please maafkan aku ya? Maaf aku cuman bisa lewat voice note. Ditelepon kamu enggak angkat. Aku takut enggak ada kesempatan lagi untuk minta maaf sama kamu. jeongmal mianhae wendy-ah…” Suara Jongdae tak begitu jelas karena terhalang suara-suara kendaraan. Sepertinya Jongdae mengucapkan itu saat di perjalanan. Walau begitu, Wendy tahu betul apa yang diucapkan Jongdae. Ia mendengar sebuah ketulusan pada suara Jongdae hanya saja……

Lamunan Wendy terhenti karena ponselnya bordering. “Yeobeoseyo. Seulgi! Ada apa?”

“Wendy! Cepat lihat TV! Channel 2!” Seru Seulgi panik.

Wendy langsung menuju ruang tengah untuk menyalakan televisinya dan menyetelnya di Channel 2. Channel 2 sedang menayangkan update sebuah berita kecelakaan beruntung antara 3 mobil pribadi dan sebuah truk pengangkut bata.

“Ada apa dengan berita ini? Kenalanmu terlibat?” Tanya Wendy.

“Lihat mobil yang jadi korban. Mobil putih itu! Itu mobil Jongdae Sunbae kan?”

Wendy memperhatikan berita tersebut. Saat menyorot mobil korban, ada mobil berwarna putih. Mitshubishi Pajero Sport putih. Ya itu memang seperti mobil Jongdae. Wendy mulai diliput kecemasan.

“Iya bukan? Aku ingat soalnya semalam dia menjemputmu pakai mobil itu kan? Itu Mobil Jongdae Sunbae bukan? Kalau iya berarti gawat! Kamu har….”

Celotehan Seulgi langsung dipotong Wendy. “nan molla… itu memang seperti mobil oppa. No polisi mobil itu berapa ya?” Baru saja Wendy bertanya, pertanyaan sudah terjawab. Berita tersebut menayangkan nomor polisi dari Pajero putih tersebut. Wendy tersentak begitu melihat nomor polisi mobil tersebut.

“Seulgi…. It’s oppa’s car! That pajero is oppa’s car! Oh my god! Eotteokhae?” Wendy panic seketika. Hatinya benar-benar cemas. Ia takut Oppanya terluka parah.

“Cepatlah kau ke rumah sakit Hansan! Korban dilarikan kesana. Ku dengar luka para korban cukup parah!”

“Terima kasih Seulgi.” Wendy berusaha tetap tenang. Ia mengatur nafasnya. Ia mencoba menghubungi Jongdae. Siapa tahu bukan Jngdae yang menggunakan mobil itu. Siapa tahu temannya yang sedang pinjam mobil Jongdae. Ia berharap Bukan Jongdae yang ada dalam mobil itu.

The number you are calling is not active or out of scope area. Please try again later  in few minutes”

Ponsel Jongade tak bisa dihubungi. Wendy benar-benar panic. Tanpa pikir panjang, Wendy langsung mengambil kunci mobil ibunya untuk pergi ke rumah sakit. Dengan kecepatan penuh Ia mengendarai mobil ibunya agar lekas sampai di rumah sakit. Pikirannya benar-benar kalut. Ia teringat pesan suara yang ditinggalkan Jongdae.

“…Aku takut enggak ada kesempatan lagi untuk minta maaf sama kamu. jeongmal mianhae wendy-ah…”

Oppa, apa maksudmu meninggalkan kata-kata itu? Apa maksudmu? Kau mau pergi?” Wendy benar-benar cemas. Ditambah pesaan sura tadi terdengar suara kendaraan. Wendy berasumsi jika Jongdae meningglakan pesan itu saat terjadi kecelakaaan. Apakah Jongdae ingin “berpamitan” pada Wendy?

aniya… aniya… Oppa kajima!” Air mata Wendy sudah di pelupuk mata. Sepanjang perjalanan Ia memikirkan hubungannya dengan Jongdae. Akhirnya Ia sadar selama ini Jongdae benar-benar memperlakukan dengan baik. Tak pernah sekalipun Jongdae marah padanya. Ia sadar jika selama ini Jongdae selalu mencoba menahan rasa amarahnya agar Ia ttak merasa ketakutan. Hanya tadi malam saja Jongdae meluapkan kemarahannya. Jongdae benar-benar menyayanginya bukan hanya di mulut saja seperti yang selalu Jongdae umbar selama ini, tapi sikapnya juga menunjukkan hal yang sama. Wendy pun baru sadar jika selama ini dia perlahan-lahan mulai melupakan trauma Kevin karena jongdae, dan perlahan-lahan dia sudah terjerat dengan perasaan Jongdae. Wendy tak mau kehilangan Jongdae.

Begitu tiba di rumah sakit Ia langsung berlari mencari korban kecelakaan. Ia menemukan banyak korban luka parah. Ad ayang terkena pecahan kaca, ada yang tulang kakinya patah, bahkan banyak yang tak sadarkan diri. Hal itu membuatnya makin khawatir dengan kondisi Jongdae. Ia membuka satu persatu tirai di UGD. Ia bukannya menemukan Jongdae, Ia malah menemukan Baekhyun.

Sunbae!” eru Wendy panic. Baekhyun tampak tak sdarkan diri dengan tangan kiri dan dahi kanan perban diperban. Tangan kanannya diinfus. Melihat kondisi Baekhyun tak sadarkan diri membuat rasa panik, khawatir, dan takut benar-benar tercampur dengan baik.

“Ya Tuhan… Baekhyun Sunbae sampai seperti ini, bagaimana dengan oppa?” Wendy menutup tirai bilik Baekhyun. Ia kembali mencari Jongdae tapi tak ditemukan juga. Lalu saat melewati para perawat, tak sengaja Ia mendengar percakapan mereka. Ada satu korban yang dibawa ke ruang jenazah. Mendengar hal itu Wendy badannya langsung lemas. Pikirannya benar-benar negatif saat ini.

andwae…. Andwae… jebal… it’s not oppa. Please…. Oh god!” Wendy seketika terjatuh lemas. Dia mencoba bangkit, namun badannya tak sanggup. Ia takut akan segala kemungkinan buruk itu menjadi kenyataan. Disaat air matanya benar-benar akan meleleh. Tiba-tiba ada yang membantunya berdiri.

“Kamu enggak apa-apa?” Wendy mendongakkan kepalanya untuk melihat sumber suara. Matanya membelalak kaget saat melihat sosok yang membantunya berdiri. Kim Jongdae

Oppa!” Tangis Wendy langsung pecah begitu melihat Jongdae dalam keadaan selamat, malah dapat berjalan dengan baik. Jongdae langsung membawa Wendy ke bilik UGD yang Ia tempati sebelumnya.  Jongdae hanya terluka dibagian kepala sehingga perlu sedikit CT Scan untuk memastikan tak terjadi apa-apa.

Oppa! Kau membuatku cemas! Aku kira kau.. kau…” Wendy tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia hanya bisa menangis lega melihat Jongdae kepalanya diperban.

“Aku baik-baik saja kok… tenang saja. Setelah hasil observasi dokter keluar pun aku bisa pulang.” Jongdae mengelus rambut Wendy.

“Setelah melihat Baek sunbae enggak sadar aku benar-benar panik.”

“Baek enggak sadar?” Jongdae mengernyitkan dahinya. “Ah dia bukan tidak sadar, dia tidur. Dia kan semalam begadang, jadi dia memanfaatkan untuk tidur. Dia diinfus pun hanya untuk penambah tenaga saja. Tapi bagaimana kau tahu kalau aku kecelakaan?”

“Aku melihatnya diberita. Mobilmu cukup parah penyoknya! Syukur kalian tak apa.” Wendy mulai menghentikan tangisannya.

“Mobilku terkena lemparan bata dari truk, sehingga lumayan penyok dan kacanya pecah. Baekhyun tangannya terkena pecahan kaca tersebut. Mobilku berada paling akhir, sehingga luka kami tak begitu parah. Sudah tenang saja.”

“kalau Oppa baik-baik saja, kenapa ponselmu mati? Kenapa juga oppa bilang di pesan suara takut enggak ada kesempatan lagi buat minta maaf sama aku? Aku kan jadi parno!” Protes Wendy.

“Ah itu karena baterai ponselku habis, makanya aku bilang gitu. Aku hari ini bakalan sibuk sama tugas di radio, makanya aku bilang gitu, karena pasti enggak akan sempat.” Jawab Jongdae santai.

Oppa memang menyebalkan! Bikin orang khawatir banget!”

Jongdae tersenyum melihat Wendy panik. Ia tahu kini jika Wendy sebnearnya memang menyayanginya. Ia menggenggam tangan Wendy, dan mengelus muka Wendy. “Wendy, maafkan aku ya? Semalam aku enggak bermaksud menyakitimu. Semua tindakanku itu murni karena aku menyayangimu dan khawatir sama kamu. maafkan aku ya?”

Wendy menggeleng. “Aku lah yang harusnya minta maaf. Sudah setahun bersamamu, tapi sikapku pada Oppa begitu-begitu saja. Maafkan aku selama ini jika kamu merasa tak dianggap. Bukannya begitu, aku hanya tak ingin bergantung padamu. Aku takut kalau aku bergantung padamu, jika kau menyakitiku suatu hari nanti, aku tak bisa melepaskanmu, seperti saat dulu aku dengan kevin…. Oke aku mau minta maaf juga aku sempat takut dan menyamakanmu denga Kevin. Kau tak sama dengan Kevin! Absolutely not! You are different from him!

Jongdae menganggukkan kepalanya. “I know that, and of course I’m different from that monkey atau kata Baekhyun si itu Siluman babi anjing hahahah.”

“Siluman babi anjing? Hahaha” Wendy tertawa lepas. Jongdae senang melihat Wendy tertawa lepas begitu. Ia menatap lebut Wendy dan mengelus wajahnya. Hanya hitungan perdetik, Jongdae mendaratkan bibirnya diatas bibir Wendy. Wendy membalasnya dengan lembut. Keduanya tenggelam dalam perasaan yang membuncah dalam diri mereka.

“Wendy-ah… you really know that… I really love you. Bodoh amat mau dibilang gombal, tapi itu memang adanya!” Jongdae membelai rambut Wendy.

Wendy mengangguk “Aku tahu pasti dan aku sadar itu, dan Oppa juga harus tahu kalau aku juga selama ini benar-benar sudah masuk perangkap hatimu. Aku pun menyayangimu! Jangan bikin khawatir atau tiba-tiba pergi meninggalkan aku. Sekalinya kamu meninggalkanku, efeknya akan lebih buruk daripada traumaku pada Kevin!”

“Iya, aku enggak bikin kamu ketakutan kayak semalam. Kemaren malam itu adalah yang terakhir, dan aku selalu memenuhi janjiku dulu untuk membuat lukamu pada Kevin sembuh.”

Wendy tersenyum manis, “Oppa sudah memenuhi janji tersebut kok.”

“Kalau begitu, kamu jangan sungkan-sungkan untuk bergantung padaku! Sebagi pacar aku pun ingin pacarku bergantung padaku, bukannya mengatasi segalanya sendiri.”

ne arasseo. Maaf…”

Jongdae mengacak-acak rambut Wendy dengan gemas. “Kamu sakit?” Jongdae menempelkan tangannya ke dahi Wendy. Dahinya terasa agak hangat.

“Kelelahan akibat tugas akhir. Ini sudah agak enak sih karena aku tidur panjang.”

“Pantas semalam kamu pucat… sini aku peluk” Jongdae langsung memeluk Wendy.

“Duh… diabetes banget sih! So sweet!” Ledek Baekhyun yang tiba-tiba membukai tirai bilik Jongdae.

Wendy langsung malu begitu melihat ada Baekhyun. Wendy langsung mencoba melepaskan pelukan Jongdae, tapi Jongdae malah memeluk Wendy lebih erat. “Kalau sirik bilang saja!”

“Sial!” Gerutu Baekhyun sambil kembali ke tempatnya.

Jongdae meregangkan pelukannya. “I’m really really happy today!

Me too!” Jawab Wendy girang sambil “menyerang” Jongdae dengan bibirnya secara kilat. Jongdae pun akhirnya malah membalasnya dengan lembut.

Ah… they understand each other now… trust and attitude is important for their relationship.

—The End—

 

Sunday, January 17, 2016

9:35 PM

 

duh ga nyambung ya ama judul? abis aku bingung mau kasih judul apa. Aah ku merasa karena sudah berbulan-bulan tak menulis, tulisanku menjadi amat kaku. Sejujurnya aku kurang puas sama tulisan yang ini. Aku ingin melakukan comeback setelah sekian lama enggak nulis, tapi kayaknya malah mengecewakan ya? Maafkan… tapi aku senang bisa bikin cerita manis nan giung chendy couple! Uuh my favorit ship! MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~ and once again HAPPY NEW YEAR 2016 \(^0^)/ *telat woooy nan, udah basi*.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s