[REVIEW] PAGE TURNER ; LET’S FIGHT GHOST

Kali ini ku mau bahas dua drama yang pemeran utamanya sama-sama diperankan ama dedekku yang selalu bikin sirik Karena kecantikkannya dan bakatnya dalam akting, dan ya lebih bikin siriknya lagi Ia selalu main sama cogan-cogan. Yap, dedek Kim Sohyun!. Dia cukup produktif bermain drama dari tahun kemaren, entah itu webseries, full drama,ataupun mini drama. Sampai pertengahan tahun ini dia sudah bermain 3 drama, dimana yang webseries sudahku bahas, tinggal 2 drama lagi yang akan ku bahas. Mumpung masih segar. Ku baru menyelesaikan kedua drama itu kemaren-kemaren. Kaja!

 

PAGE TURNER

Genre : Musical, Teen, Drama

Why I Watched : Aku baca komen-komen di dramabeans banyak yang bilang bagus. Aku percaya dengan rekomendasi orang-orang di blog itu. Lalu yang main juga Kim Sohyun yang kini menjadi salah satu favoritku. Lalu setelah tahu yang menulis drama ini adalah Park Hyeryun yang juga menulis Dream High, I Hear Your Voice, dan juga Pinocchio. Aku suka semua drama yang Ia tulis. Jadilah makin tertarik untuk nonton.

Kesan : Yeoksi! Park Hyeryun SWnim memang tidak diragukan lagi masalah jalan cerita. Walau cuman 3 episode tapi drama ini tuh bagus banget. Kesan dan pesannya yang diambil dapat banget dan seperti drama-dramanya yang lain terutama Pinocchio, drama ini juga membekas. Serius enggak nyangka ternyata dengan episode yang singkat, mampu membungkus cerita yang menarik seapik ini.

The interest thing : SW ini entah mengapa selalu bisa membungkus suatu pesan yang menyentuh hati tanpa menggurui dan dibungkus dengan kekocakkan. Cerita mengenai mimpi 3 anak muda yang akhirnya dipertemukan melalui piano. Saat kita ragu dengan mimpi kita, ragu dengan bakat, usaha lah yang akan bekerja, seperti yang terjadi pada Chasik. Berbekal kepercayaan dirinya, Ia belajar piano dengan keras dan menjadi bisa. Itu pesan yang benar-benar tertangkap di drama ini. Asalkan kita yakin dengan mimpi kita dan berusaha terus dijalan tersebut kita dapat mencapai dalam kondisi apapun.  Banyak adegan lucu tapi juga mengharukan. Drama ini walau singkat tapi bisa menggambarkan dengan baik hubungan Yooseul dengan ibunya dimana Ia punya bakat tapi tertekan sehingga tak menikmati bakatnya, lalu hubungan Chasik ama ibunya yang selalu mendukung dan hubungan Jinmok dengan ayahnya yang meremehkannya. Suka banget sama degan di episode akhir dimana Jinmok berpura-pura menjadi Chasik untuk bermain piano dan Yooseul memujinya. Disitu Jinmok mendapatkan kekuatan untuk meneruskan mimpinya. Disitu Ia butuh pengakuan dari orang yang mengerti piano dan itu Yooseul yang merupakan rivalnya. Selain itu asyiknya sama seperti drama Tomorrow Cantabile, telingaku dimanjakan dengan alunan piano klasik yang enak didengar.

The Bad Thing : Sayangnya cuman 3 episode ini tuh. Padahal dari segi plot, karakter, konflik, dan juga ehem.. romance dapat dikembangkan menjadi 16 episode, ah atau enggak 12 episode laaah. Drama sebagus ini cuman 3 episode tuh rasanya benar-benar sayang karena bisa jadi drama panjang yang menarik. Tiga episode saja sudah menarik apalagi 16? Iya sih  mungkin saja kalau dipanjangin episodenya akan menjadi membosankan, tapi aku percaya ama SWnim satu ini. Dia pasti bisa membuat ceritanya menjadi menarik dan tak membosankan. Sejujurnya agak sulit mencari yang kurang dari drama ini. Kebayang enggak sih kalau dipanjangin pasti ada lovelinenya dan nanti seperti School 2015, muncul tim Chasik dan Tim Jinmok wkwkwk. Overall sudah bagus, mungkin karakter Jinmok kurang dieksplore. Memang fokusnya lebih ke Yooseul dan Chasik yang mimpi mereka terhenti karena kondisi fisik mereka, tapi karakter Jinmok pun perlu dieksplor kan diawalnya juga sudah fokus ceritanya 3 anak muda. Ceritakanlah bagaimana rasa tidak percaya diri Jinmok, dan usahanya selama ini menggapai mimpi. Selain itu agak kurang masuk akal, orang yang tak pernah bermain piano sama sekali macam Chasik, tapi dalam waktu singkat bisa menguasai permainan piano klasik. Iya sih digambarkan bagaimana usaha keras Chasik berlatih hingga berdarah-darah, tapi kalau sampai sejago itu sih… hm….. yasudahlah.

Chemistry & Akting : Chemisty antar pemain bagus, enggak ada yang canggung, malah chemistry Shin Jaeha dan Kim Sohyun yang harusnya permusuhan tapi aku merasa seperti persahabatan bahkan condong ke romance. Enggak canggung sama sekali. Kalau Jisoo dan Kim Sohyun pun jelas… Jisoo kalau bermain orang yang sok akrab dia memang handalnya wkwkwk. Chemistry ibu dan anak antara Yooseul dan ibu serta Chasik dan ibu bagus, akrab banget. Masalah Akting semuanya juga bermain baik seperti biasa Kim Sohyun memukau lagi dengan perannya sebagai orang buta, matanya benar-benar diam seolah tak bisa melihat. Emosinya juga tersampaikan dengan baik. Jisoo menurutku aktor yang bagus loooh. Aku tak paham mengapa ada yang bilang dia biasa saja. Aku merasa dia bermain dengan baik,delivery karakternya tersampaikan. Hanya saja Jisoo perannya selalu menjadi tengil mulu dan selalu not get the girl. Aku ingin melihatnya menjadi karakter yang berbeda. Untuk Shin Jaeha dia memang belum banyak pengalaman tapi dia pun bermain bagus. Hanya saja mungkin butuh improve dengan pengalaman, tapi aku percaya dia bakalan jadi lead dan bermain dengan memukau. Ku jadi tertarik dengan doi kan wkwkwk.

Second lead syndrome : Ini bukan romance sih… Aku pun tak tahu mana yang sebenarnya akan dipilih Yooseul apakah Chasik atau Jinmok karena cuman 3 episodde seandaikan ada romancenya. Tapi kalau bisa diambil kesimpulan dari 3 episode yang singkat ini dan bila diandaikan kalau ada romance, dan anggap saja memang ada 3 episode saja, mungkin Yooseul akan memilih Chasik yang selalu bersama dia dan membuatnya tertawa dan juga telah berhasil membuatnya keputusan besar. Yooseul belum percaya dengan Jinmok yang notabene musuhnya dan masih menganggap Jinmok senang akan kondisi dia. Yooseul enggak tahu saja betapa Jinmok merasa bersalah karena Ia menganggap Ialah penyebab kondisi Yooseul menjadi buta akibat doanya. Jinmok mungkin tak menyagka doanya terkabul dengan cara seperti ini. Aku yakin doa Jinmok ini sebatas kalau Ia ingin Yooseul gagal dalam ujian, dan Yooseul menjadi peringkat 2. Makanya Ia merasa bersalah dan menjadi melindungi Yooseul. Aku suka cara Jinmok melindungi Yooseul diam-diam. I think its something sweet. That’s why I’m Jinmok team. Jadi kalau 3 episode saja dan ada romancenya, aku dijamin terkena second lead syndrome. Namun jika ini diperpanjang, dan Yooseul tahu ternyata yang menjadi teman duetnya adalah musuhnya, dan pasti pada awalnya dia tak terima dan marah. Namun lama-lama Ia menyadari kalau jinmok memang bermain dengan baik dan mungkin akan berkembang kisah mereka. Bisa-bisa Chasik lah yang jadi second lead. *poor Jisoo* kalau begitu aku tak terkena second lead syndrome wkwkwk *apa bgt ini jadi bahasan panjang*

Ending : Endingnya cukup jelas dan puas aku sih. Drama ini berfokus pada mimpi dan mereka semua tetap berjalan dengan mimpi mereka. Yooseul menjadi menyadari bahwa Ia memang tak bisa lepas dari piano dan Ia bahagia akan itu tanpa terbebani. Chasik berubah haluan untuk menjadi pianis dari seorang atlet dan percaya dengan usaha kerasnya Ia bisa menjadi pianis hebat. Jinmok pun yakin dengan mimpinya terhadap piano walau Ia tak sejenius Yooseul. Masalah Yooseul milih siapa, biarlah itu urusan khayalan kita masing-masing. Yang jelas Jinmok masih menyimpan rol rambut Yooseul, menandakan kalau perasaan Ia berkembang.  Dan menurutku secara tidak langsung adegan saat di rumah Jinmok terpampang piala mereka memenangkan daesang piano concord ini bersama Yooseul secara tak langsung menggambarkan bahwa hubungan mereka sudah membaik. Untuk mendapatkan piala ini mereka harus menuju final dong tentunya, dan saat itu pasti Yooseul sudah tahu kalau yang bermain adalah Jinmok. Mereka bisa menjadi juara karena kerjasama dan kepercayaan pada partnernya masing-masing sehingga dapat menjadi juara. Secara enggak langsung hubungan mereka sudah membaik. Yooseul sudah tidak menganggap Jinmok rivalnya dan mengakui kehebatan Jinmok.

Rate : 4 bintang dari 5 bintang

Verdict : Walau mimpimu pupus, masih ada ribuan mimpi lain yang dapat kamu kejar!

 

LET’S FIGHT GHOST

Genre : Romance, Comedy, Fantasy, a little bit horror

Why I Watched : Mas Kwon Yul ku main di drama ini. Kyaaaaa I really like him since let’s eat 2. Penasaran sama akting dia karena dengar-dengar dia bakalan main antagonis. Selain itu ada dedek Kim Sohyun dan genrenya yang cukup berbeda. Jadi penasaran sama drama satu ini.

Kesan : Menarik tapi tak enggak terlalu memenuhi ekspetasi aku. Aku pikir ini bakalan lawak banget, tapi ternyata enggak selawak yang aku pikir. Overall, suka sih karena lumayan unik agak beda. Drama ini tuh mengingatkanku sama drama musim panas tvn tahun kemaren, Oh My Ghost. Sama-sama menceritakan orang yang bisa lihat hantu dan si villainnya sebenarnya korban juga dari roh jahat. Sayangnya drama ini tidak meninggalkan bekas terlalu dalam seperti drama Oh My Ghost.

The interest thing : Cerita yang diangkatnya mengenai orang yang bisa melihat hantu dan dapat mengusirnya dengan cara berkelahi. Cukup memanusiakan para hantu karena tak semuanya jahat dan mereka rata-rata hanya butuh pertolongan agar bisa mati dengan tenang, dan Bongpal belajar dari hal itu. Perkembangan para karakternya juga menarik dimana Bongpal yang membenci hantu dan antisosial jadi mulai membuka hatinya dan mulai berteman dengan para seniornya di klub Soondae sup. Btw kehadiran duo senior konyol ini Inrang dan Chunsang benar-benar bikin berwarna drama ini. Mereka lah bumbu komedi sesungguhnya. Drama ini juga cukup bikin penasaran setiap episodenya. Apalagi menjelang akhir lumayan dibikin deg-degan dengan “pertarungan” Prof. Joo dengan Hyunji dan Bongpal. Selain itu buat kalian yang menyukai horor, lumayan menantang nonton drama ini malem-malem. Ada beberapa adegan yang cukup mengejutkan. Episode terhoror sih yang episode 8 yang di RSJ. Itu lumayan bikin sport jantung. BTW, aku sempat menyangka kalau Prof. Joo bukan manusia. Aku kira dia siluman karena dia bisa tiba-tiba muncul dan punya kekuatan yang kuat untuk mematahkan leher manusia. Ternyata dia seorang manusia juga tapi kerasukan roh jahat. Aku kaget sih pas roh nya sudah keluar ternyata dia ingat itu semua. Jadi benar kata Biksu Moo kalau roh nya sudah bersatu dengan Prof. Joo. Jadi sebenarnya Prof. Joo ini orangnya punya dendam jadi roh itu terus bersemayam. Bedanya saat roh itu bersarang dia tidak punya rasa bersalah, sedangkan saat dia sudah keluar, Prof. Joo sadar kalau itu salah.

The Bad Thing : Alurnya cukup mudah tertebak, seperti alasan kenapa Hyunji tak ingat masa lalunya dan penampilannya berbeda dari hantu lain. Aku langsung dapat menebak bahawa sebenarnya Hyunji ini masih hidup, dia hanya dalam keadaan koma. Lalu ada sedikit plothole yang agak mengganggu seperti apakah Hyunji mengingat masa-masa dia menjadi hantu? Kenapa berasa tidak ada bekasnya. Iya dia mungkin langsung ingin menempel dengan Bongpal, tapi apakah dia mengingat momen dia menjadi hantu? Tapi kayaknya sih enggak soalnya saat dia bertemu dengan temannya yang wajahnya mirip hantu, Hyunji tak mengingatnya. Lalu tak diceritakan juga kenapa hubungan Bongpal dan ayahnya tidak terlalu baik. Lalu sejak kapan Prof. Joo  mengikuti Bongpal? Kapan pertama kali dia bertemu dengan Bongpal? Lalu ep 16 menurutku isinya kurnag menarik, hanya menceritakan afterlifenya mereka saja. Harusnya sih adegan tarung dengan Prof. Joo di episode 16 awal, lalu pertengahan menceritakan afterlifenya tersebut.

Chemistry & Akting : Chemistry Kim Sohyun sama Taecyeon cukup bagus, malah banyak yang berharap mereka beneran pacaran walau usianya beda jauh, tapi kalau aku pribadi sih melihatnya chemistry mereka lebih seperti adik-kakak dibandingkan kekasih. Taecyeon bagaikan kakak yang siap membantu dan melindungi Kim Sohyun kapanpun. Lagipula walau ceritanya Hyunji lebih tua 1 tahun dari Bongpal, tapiHyunji masih kekanakkan dan didukung yang mainnya Kim Sohyun yang masih remaja, jadi berasa adik-kakak liatnya. Awalnya banyak kontroversi karena Taecyeon dirasa kurang cocok, dia dirasa ketuaan untuk bermain sebagai Bongpal dan jarak usia dengan Sohyun adalah 11 tahun. Penampilan Taec yang dewasa dirasa kurang pas, tapi untungnya ternyata style Taec di drama ini dibikin terlihat lebih muda, jadi enggak berasa jauh beda usianya. Lalu aku merasa nampaknya Taecyeon enggak bisa menahan dari godaan keimutan Kim Sohyun wkwkwk. Senyumnya melihat keimutan Hyunji itu terlihat tulus banget dari dalam hatinya hahahaha. Akting sih Kim Sohyun enggak usah ditanya sih yaaaaa dia selalu bermain bagus. Kwon Yul juga bermain bagus, transformasinya dari professor ganteng ramah senyum menjadi seorang roh jahat yang menyeramkan bagus, cepet banget perubahan ekspresinya. Aura creepynya dapat banget, tapi enggak se creepy Shin Sungrok sih. Sumpah terpesona banget pas lihat dia senyum, lupa kalau dia jahat. Cuman aku kurang suka saat akting roh jahatnya keluar dari tubuh dia. Berasa kurang menjiwai, rohnya kayak yang gampang keluar. Taecyeon juga yang diragukan menurtku lumayan kok. Akting taecyeon enggak jelek kok, tapi dia kurang dapat menyalurkan emosi karakternya. Perubahan ekspresi dia sudah bagus padahal, tapi emosinya masih belum dapaet. Jika dibandingkan dengan Sohyun cukup berbeda. Diawal-awal episode Taec bagus padahal, tapi entah kenapa menjelang akhor-akhir dia tampak kehilangan fokus jadi kurang nyaman lihat aktingnya.

Second lead syndrome : Enggak ada second lead kan dalam drama ini. Soyeon senior yang disukai Bongpal? Rasanya tidak karena dia menyukai prof. Joo. Inrang? Sama sekali tidka mengancam hubungan Bongpal-Hyunji? Inrang malah bikin ngakak. Jadi kurasa ku tak terkena sindrom ini.

Ending : Endingnya jelas sih… Roh jahat yang selama ini bersemayam di tubuh Prof. Joo enyah, lalu Prof. Joo pun mempertanggung jawabkan kejahatannya dan hubungan dengan ibunya membaik. Hyunji berusaha untuk dapat masuk kuliah dan masuk ke universitas Myungsung dan hubungannya dengan Bongpal terus berjalan lancar, sedangkan Bongpal pun sudah terbuka hatinya untuk tak membenci hantu dan membantu orang mengusir hantu bukan karena lagi uang. Endingnya bagus sih, jelas, enggak mengecewakan. Cukup sih kalau buatku. Suka banget sama caemo episode 16, ada Doojoon sebagai Goo Daeyoung. Disitu benar-benar karakter Daeyoung di Let’s Eat banget. Sumpah itu ngakak banget. Nice cameo!

Rate : 3,75 bintang dari 5 bintang

Verdict : rasa takut, lucu, dan senang disatukan? Kenapa tidak? *hati-hati kepincut professor jahat nan ganteng*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s