[FF] BE KIM JUNMYEON

Title               : BE KIM JUNMYEON

Rate               : 15+ mungkin

Genre             : SLICE OF LIFE dengan sedikit ROMANCE

Cast               : KIM JUNMYEON (SUHO EXO) , HAN HONGNAN (OC), dan sedikit cameo dari

KIM JONGDAE (CHEN EXO)

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH kembali!!!

Disclaimer   : Alhamdulillah kuberhasil nulis FF lagi, sekian setelah berabad-abad terjebak gua writer’s block *lebaaay*. BTW, maafkan ya kalau aku sok tahu yang masalah pendidikan psikologinya. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D

Ditengah restoran daging panggang yang sepi ini. Hanya ada sekitar 4 meja yang terisi dari puluhan meja yang tersedia. Tak sulit mencari teman masa SMAnya yang dari dulu menjadikan tempat ini sebagai tempat nongkrong saling berbagi cerita. Tempat favoritnya adalah di meja persegi panjang di belakang jauh dari pintu masuk. Apalagi saat ini, saat Ia sudah menjadi seorang selebriti yang memiliki jutaan fans, tempat ini semakin menjadi tempat favoritnya, karena Ia bisa menyendiri tanpa orang-orang mengetahui siapa dirinya. Seorang leader boyband terkenal, EXO. Orang itu sedang menunggu dirinya, Han Hongnan.

Annyeonghaseyo, Suho-ssi.” Sapa Hongnan sambil menggeser kursi tempat Ia duduk.

“Aku Kim Junmyeon saat bersamamu.” Balas Junmyeon sembari meneguk Sojunya.

Hongnan tertawa kecil “Hahaha arasseo. Tapi payah nih ah.. katanya tadi mau jemput aku di kantor, tapi malah aku jadi datang sendiri. Huh.”

“Maaf… maaf… aku tak ingin para fans atau wartawan mengetahui mengenai dirimu. Kau kan tak suka jadi pusat perhatian. Tadi ada sasaeng yang mengikuti terus, kamu tahu tadi ku sampai masuk kantor polisi dan meminta bantuan mereka untuk mengusir para bocah-bocah itu? Aku hari ini benar-benar tak mau diganggu. Nanti pulang kuantarkan pulang kok.”

“Iya aku mengerti… ada apa sih kamu sampai menerorku ditelepon mengajak bertemu?”

“Aku hanya ingin sekedar mengobrol dan lagipula butuh pendengar….”

“Kenapa enggak lewat telepon? Biasnaya juga kalau kita cerita-cerita lewat telepon.”

“Aku ingin bertemu langsung saja. kita kan sudah lama tidak bertemu. Terakhir sekitar 3 bulan lalu. Cuman kamu yang benar-benar mengenal diriku sebagai Kim Junmyeon, dan aku ingin mala mini sebagai Kim Junmyeon bukan Suho exo.”

“Baiklah… kau jadi membutuhkan ku sebagai seorang teman apa sebagai seorang teman lulusan psikologi? Kalau pilihan yang kedua tidak gratis tentunya Hahaha” Canda Hongnan sambil mencomot daging milik Junmyeon.

Junmyeon langsung memukul ringan tangan Hongnan “Hei! Kalau kau mau pesan saja! aku yang bayar.”

“Oh jadi pilihan yang kedua ya? Hahaha” Canda Hongnan “Ahjumma! Dagingnya 1 porsi lagi ya! Sojunya 2 eh 3 botol, beernya 1 botol saja dulu deh. Sama satu lagi telur gulung, terima kasih.”

“Kamu mau mabuk huh? Minum sebanyak itu?”

Hongnan mengangguk mantap “Iya, kalau sudah ditempat ini kan memang enak untuk minum, seperti masa kita baru lulus SMA, baru bisa mencicipi alkohol. Aku boleh mabuk, tapi kamu engga. Kan kamu mau mengantarkanku pulang.”

Junmyeon tersenyum kecil mendengar perkataan sahabatnya itu. “Enak saja! aku juga ingin minum sepuasnya.”

Tak lama kemudian pesanan Hongnan tiba. Mereka berdua dengan khidmat menikmati makanan mereka sembari mengobrol hal-hal kecil. Suara tawa, muli dari tawa yang garing, hingga terbahak-bahak menggema di restoran yang semakin lama semakin sepi karena malam kian larut, dan kini tinggal menyisakan mereka berdua. Restoran yang sepi membuat suasana mereka menjadi serius, dan kembali kepada tujuan. Mendengar curahan hati seorang Junmyeon.

Sebelum bercerita, Junmyeon mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya, lalu mengambil satu batang untuk dihirupnya. Melihat itu, Hongnan langsung merampas rokok dan bungkusannya.

“Hei, Ngakunya udah berhenti, tapi ini apa? kamu ini penyanyi! Jaga suara dan paru dong!”

“Han Hongnan! Biarkan aku menjadi Kim Junmyeon, bukan Suho. Malam ini saja, satu batang saja. lagipula ini rokokku setelah setahun aku tak menghisapnya sama sekali.” Junmyeon langsung merebut kembali rokoknya. Ia nyalakan korek gasnya dan kini racun nikmat itu telah terbakar, siap dinikmakti dengan cara dihisap. Suho menikmati asap yang timbul. Ia hirup perlahan-lahan hingga habis. Hongnan hanya menatapnya dengan tatapan hm.. entah sedih entah sebal atau entah sayang. Semuanya campur aduk. Rokok itu kini telah terbakar tak bersisa, Barulah Junmyeon mulai bercerita.

“Entah mengapa akhir-akhir ini aku sedang berpikir, apakah jalan yang kuambil sudah benar? Terkadang aku merasa, aku tak punya bakat sebaik member ku yang lain. Aku terkadang merasa ini semua berat banget, dan merasa sia-sia.”

 “Enggak ada yang sia-sia. Kemampuan kamu pasti berkembang kan? Enggak mungkin stagnan kan? Aku perhatikan kemampunmu berkembang dibanding jaman dulu.”

“Jaman dulu kapan? Saat aku belum trainee?”  Suho menuangkan soju kedalam gelas. “Jelaslah… aku trainee 10 tahun, masa tidak dapat apa-apa? Hanya saja aku merasa, perkembanganku sangat lambat. Dari hasil trainee 10 tahun, dan debutku 4 tahun, kemampuanku hanya stuck disitu-situ saja. aku ini seorang penyanyi, tapi tekhnikvokalku tak kunjung membagus, takusahlah sebaik Jongdae karena dia terlalu dewa, minimal seperti Kyungsoo saja aku masih kesulitan.” Suho meneguk habis gelasnya yang berisikan soju.

Hongnan tersenyum. Berusaha menghibur. “You have another talent, Kim Junmyeon.”

 Junmyeon menghela nafas dengan berat. Lagi, Ia menegak soju. “it’s hard you know. Aktingku terus dikritik, setiap aku mengikuti varshow aku selalu disebut no jam.”

“Karena kamu terlalu serius dan ambisius. Kau terlalu terlihat berusaha” Potong Hongnan.

“Aku hanya berusaha terbaik, Hongnan. Aku hanya ingin menunjukkan, inilah aku, aku mampu dan aku layak berada ditempat ini. Hanya saja lagi-lagi orang merasa garing dengan jokes ku. Aku tahu aku tak bisa melucu, tapi setidkanya orang-orang akan melihat usahaku dan menghargai itu, tapi lama-lama aku lelah itu hanya dijadikan lelucon oleh member-memberku.”

Hongnan menuangkan soju untuk Junmyeon dan dirinya. “because they love you. mereka ingin menyelamatkanmu agar tetap terlihat lucu.”

Mendengar jawaban Hongnan, Junmyeon melirik sebal. “Ya, Hongnan! Kenapa kamu terus menimpali semua omonganku? Aku hanya butuh didengar malam ini!”

“Ya! Aku menimpalimu, karena selama ini kalau kamu curhat ditelepon, aku hanya mendengarkan terlebih dahulu, kamu selalu menganggapku tak mendengarkanmu, tak memperhatikanmu, makanya aku jawab langsung.” Timpal Hongnan sebal sembari meminum sojunya.

“Iya itu kan ditelepon… aku kan tak melhatmu. Jadi bisa saja kan, kamu meninggalkan ponselmu kemana, sementara aku lagi ngomong. Sekarang kan live curhatnya. Jadi dengarkan saja dahulu!” Protes Junmyeon.

“Kamu PMS ya? Heol… ya lanjutkan.” Hongnan geleng-geleng kepala melihat Junmyeon yang kekanakkannya keluar.

“Aku terkadang merasa gagal menjadi leader. Sulit ekali membuat mereka mendengarkanku, apalagi kalau aku sudah lelah aku merasa lebih sensitif, dan saat mereka susah diatur, aku jadi merasa mereka tak menghargaiku. Ditambah kejadian 2 tahun lalu, 3 member berturut-turut kabur begitu saja. disitulah titik terendahku sebagai leader. Kamu tahu kan betapa frustasinya aku saat itu?”

Hongnan mengangguk. Ia ingat betul momen itu. Semalaman penuh Ia harus menemani Junmyeon melepas stress dan frustasinya dengan cara makan berporsi-porsi soondae soup, merokok hingga sebungkus habis dalam hitungan dua jam. ah tak lupa juga karaoke hingga 3 jam ditemani entah berapa botol beer dan soju. Tak terhitung. Disitu jugalah Ia benar-benar melihat sosok Suho dan Junmyeon bersatu yang memiliki kesamaan. Merasa tanggung jawab. Selama ini Hongnan setiap melihat Junmyeon ditelevisi, Ia merasa itu Junmyeon yang menjadi Suho, namun saat mereka bertemu, telepon, chatting, itu adalah Kim Junmyeon, sahabatnya dari SMA. Ia merasa walau Suho memang Junmyeon, tapi tetap saja ada sisi Junmyeon yang tak bisa diperlihatkan diumum. Saat melihat stresnya seperti itu, Ia benar-benar merasa simpati.

“Sejak itu, aku benar-benar berusaha lebih baik. Berusaha benar-benar merangkul dan berkomunikasi dengan baik, tapi tetap saja, aku akhir-akhir ini merasa dititik sia-sia akan semua yang kulakukan. Aku jadi berpikir kalau aku tak menjadi selebritis, mungkin aku bisa memiliki kehidupan prbadi dengan bebas. Tak perlu berurusan dengan sasaeng setiapku pergi yang mengikuti ku kemana saja. mungkin kini ku seperti kamu sudah selesai menyelesaikan S2 dengan beasiswa tapi kalau aku mungkin biaya sendiri, lalu aku mungkin juga seperti kamu bekerja diperusahaan besar dan menjadi calon manager.” Lagi, Junmyeon menegak alkohoL bening itu, entah gelas keberapa yang sudah Ia minum. Tak terhitung.

“Calon manajer? Huh…” Hongnan mendengus sebal. “Iya dan kamu akan seperti aku yang sudah setahun lebih digadang-gadang menjadi calon manajer, tapi terus saja menjadi calon, tak pernah naik-naik. Selalu orang lain yang kemampuannya dibawahku, tapi memiliki koneksi yang bagus sehingga Ia bisa naik jabatan. Orang sepertiku, butuh keajaiban untuk mendapatkan promosi yang sesungguhnya.”

“Kenapa kau tak keluar saja dari kantormu? Kau sudah mengabdi pada perusahaan itu sejak kamu belum menjadi sarjana. Dari jaman kamu magang sampai jadi pegawai tetap, apa yang kamu kerjakan tak sesuai dengan penghargaan yang kamu dapat. Aku sudah terlalu sering mendengar keluhanmu tentang kantormu. Dengan pendidikanmu itu kamu sudah bisa buka praktek sendiri, atau jika ingin bekerja diperusahaan lain, pasti lebih mudah dengan portofoliomu itu.” Tanya Junmyeon penasaran.

Hongnan mengambil bungkus rokok Junmyeon. Ia mengambil satu batang lalu menyalakannya dan dihisapnya rokok tersebut. Junmyeon baru melihat pemandangan itu selama 9 tahun mereka berteman. Sejak kapan seorang Han Hongnan yang selalu mencermahinya kalau merokok, jadi seorang perokok?

“Hongnan! Sejak kapan? Aigooo, kalau kau sama saja sepertiku. Kenapa tadi pakai acara melarang?” Protes Junmyeon.

“Memang cuman kamu doing yang boleh merokok? Ini rokok kedua dalam hidupku. Aku bukan pecandu seperti kamu.” Cibir Hongnan sambil menghembus asap dari paru-parunya.

“Rokok kedua? Rokok pertamanya?”

“Sekitar 3 tahun lalu, saat aku baru masuk S2. Tugas-tugas S2 lebih hell dibanding S1, belum ditamah tugas kantor yang enggak mau toleran, ditambah aku baru putus dari bajingan Hwang Junggi. Disitu aku merasa stress, dan temanku menawarkan sebatang rook untuk melepas stress. Ku terima deh.”

“Dasar bodoh!”

“Bodo amat!” Hongnan memeletkan lidahny sambil terus menghisap rokoknya. Berhubung dia bukan perokok, Hongnan butuh lebih banyak waktu untuk menghisapnya dibanding Junmyeon.

“Aku bukan psikolog klinis yang bisa buka praktek semauku. Kenapa aku enggak keluar juga padahal aku sudah muak dengan kantorku? Aku butuh bertahan hidup. Gajiku terhitung besar. Dengan uang itu aku masih bisa membiayai kuliah adikku. Hutang saat ayah sakit dulu sebelum meninggal. Aku pun masih punya sisa sedikit untuk ditabung. Perusahaan yang penuh nepotisme itu, gitu-gitu juga sudah memberiku kehidupan. Lagipula aku cukp menyukai pekerjaanku sebagai HRD jadi aku masih bertahan selama 5 tahun.”

Kini giliran Junmyeon yang memberi tatapa yang sulit dimengerti. Entah sedih, entah kasihan, atau entah sayang. Itu semua bercampur menyatu disorot mata dan guratan wajahnya.

“Han Hongnan…” Panggil Junmyeon

“Uh?”

“Keinginanmu untuk menjadi profiler masihkah?” Tanya Junmyeon sambil mengisi gelas soju Hongnan

Hongnan tersenyum kecut. Ia mematikan rokoknya, lalu meminum sojunya. “Kamu tahu impianku itu sekuat rasa impianmu menjadi penyanyi.”

“Lalu?”

Hongnan terdiam merenung. Dia menghela nafasnya dengan panjang. “Aku belum cerita ya? Tapi aku baru mendapatkan kabar ini kemaren sih. Aku yang sudah muak dengan perusahaanku, ku jadi terpikir untuk mengejar impianku. Aku pun beberapa bulan kemaren apply beasiswa ke Amerika untuk mengambil S3 psikologi forensik. Setelah menjalanai berbagai tes, kemaren ku diberitahu aku lolos. Itu sebuah kabar gembira bukan? Aku langsung memberitahu ibuku, dan tahu apa  yang ibuku bilang? Aku tak usahlah sekolah tinggi-tinggi menjadi seorang profiler. Terlalu bahaya. Kalau ingin keluar, jadilah dosen, padahal aku tak suka mengajar, dan yang paling buruknya lagi. Ibuku menyuruhku menikah dengan pria pilihannya.”

Junmyeon membelalakkan matanya. “Menikah? Kamu?”

Hongnan mengangguk lemah, “Ya aku pernah disuruh kencan buta oleh ibuku. Dia seorang dokter bedah plastik yang mapan. Usianya baru 31 tahun, tapi sudah memiliki klinik sendiri. Dia cukup tampan, baik, ya mungkin tipeku, tapi entah kenapa  kalau menikah dengannya enggak mau.”

Wae?” Junmyeon mengernyitkan dahinya.

“Ada pria lain yang ingin kunikahi.”

Mendengar itu detak jantung Junmyeon langsung berdetak dua kali lebih cepat. “Nugu?”

Hongnan menatap Junmyeon dengan dalam. Junmyeon juga membalas tatapan itu. Mereka tampaknya sedang menyelami pemikiran mmasing-masing. Walau mereka sudah mengenal lama, tapi tetap saja ada sinyal yang tak bisa mereka baca. Lebih tepatnya, tak mau membacanya. Sinyal yang hadir entah sejak kapan, tapi semakin tahun semakin terasa. Hanya saja 4 tahun ini semenjak Junmyeon debut, sinyal itu samar-samar.

Junmyeon lama-lama jadi salah tingkah dan menutupinya dengan langsung meminum alkohol khas korea itu dari botolnya.

Hongnan tertawa kecil. “Ya ada pokoknya. Seseorang yang sudah kukenal, tap tak pernah bisa kubaca. Kita memiliki kesamaan, tapi dunia kita kini sudah terlalu berbeda. Aku tak nyaman berada didunianya, dan ku yakin saat ini Ia tak bisa melindungiku dari dunianya. Jadi aku tak banyak berharap.”

Junmyeon kini mulai kehilangan kesadarannya. Ia mulai berbicara tak jelas. “Hm… kenapa hhmmm kamu bisa hmmmm berharap hmmm menikahinya hmmmm…”

Hongnan mengangkat bahunya. “Entah. Karena terbiasa dan nyaman kali. Ah sudahlah saat ini kan waktunya untuk membahas kamu. bukan aku.”

“Oh iya hehehhe” Cengir Junmyeon dengan mata tertutup.

“Kamu mulai mabuk ya?” Selidiki Hongnan.

Junmyeon mengelaknya. Ia langsung berdiri tegak, dan menuangkan soju kegelasnya. “Aniya! Ini aku masih sanggup minum kok.”

Stop it, Kim Junmyeon!” Gelas Junmyeon Ia rebut lalu Ia minum. “Mumpung kamu masih agak sadar. Dengarkan kata-kataku yaaa.”

mwo?” Junmyeon walau sudah tak sadar sepenuhnya, Ia masih saja meminum Soju dari botolnya.

“Kim Junmyeon… ah bukan, Suho-ssi. Lihat aku.” Junmyeon melaksanakan kata-kata Hongnan. Hongnan kemudian menggenggam tangan Junmyeon.

“Suho-ssi, apakah kau akhir-akhir ini merasa apa  yang kamu lakukan sia-sia. Kamu merasa ini seperti bukan jalanmu, karena seberapa besar kamu berusaha, hasilnya tak maksimal.”

Junmyeon mengangguk lemah. “Betul, Psikolog Hong.”

Hongnan tersenyum lembut. “Mungkin kamu lagi lelah menjadi seorang selebritis, menjadi leader EXO, atau lebih tepatnya kamu lagi lelah menjadi seorang Suho.”

Junmyeon termenung. Ia tampaknya setuju dengan itu. Ia merasa seperti ini mungkin karena Ia lelah menjadi Suho. Ia ingin menjadi dirinya sendiri, Kim Junmyeon, yang bisa tenang dengan kehidupan pribadinya dan jauh dari pekerjaan, walau hanya semalam, seperti malam ini.

“Karena kamu lelah sebagai Suho, jadi kembali lagi sebagai Junmyeon ya. Kim Junmyeon sekarang dengarkan aku. Apa yang kukatakan ini adalah aku sebagai Han Hongnan, temanmu, sahabatmu 9 tahun ini. Bukan Psikolog Hong si budak swasta.”

Hongnan membelai rambut Junmyeon lembut, pelan dengan senyuman hangat. “Pasti kamu merasa berat dengan semua yang kamu alami. Tekanan yang bertubi-tubi berkunjung datang silih berganti. Lama-lama kamu mungkin muak, dan rasanya ingin menjadi Kim Junmyeon selamanya, dan melupakan Suho. Kamu rasanya ingin menyerah, dan membayangkan pekerjaan lain. Bukan penyanyi. Hanya saja ingat lagi saat kamu jadi awal-awal trainee. Apa sih impianmu? Semua orang yang mengenal Junmyeon pasti tahu jawabannya. Kim Junmyeon ingin menjadi seorang penyanyi. Melaui Suho lah impianmu terwujud. Padatnya kerjaanmu, membuat harus menjadi Suho terus. Sisi Junmyeonmu jarang keluar, hingga lama-lama kamu merasa frustasi dan jadi ingin menyerah.

Hongnan berhenti sejenak. Mengambil nafasnya karena dia tadi terlalu menggebu-gebu. “Sekarang gini, kamu harus selalu ingat rasanya menggebu impianmu itu. Bayangkan kalau kamu pada akhirnya menyerah, dan bekerja menjadi pegawai kantoran seperti ku misalnya, atau menjadi seorang professor sepeti ayahmu. Apakah kau dapat menikmatinya? Apakah kau sebahagian sekarang? Enggak kan? Karena tetap impianmu, passionmu dibidang ini. Don’t you dare to quit from this career! Don’t you dare dreaming about other jobs except in this field! It’s your choice, and although you feel tired, but honestly you really really really enjoy it, right? Semua rasa yang kamu rasakan sekarnag, akibat semua akumulasi side residu from your job selama ini yang tak bisa keluar dengan baik, sehingga kamu lelah menjadi Suho.”

“Setiap kamu mengalami hal ini, ada aku, ada member kamu. tunjukkanlah ke-Junmyeon-an kamu dalam sehari saja, atau semalam saja. Sembunyikan dulu ke-Suho-anmu. Dengan begitu kamu pasti akan merasa fresh lagi dan siap menjadi Suho lagi. Member kamu juga pasti merasa begitu, dan dapat menerima hal itu. Arasseo? Don’t give up, allright, cause all you need is sometimes you need just be yourself, be Kim Junmyeon in front of your member or me or whoever, cause you need it and deserve it.”

Junmyeon mengangguk sambil menunduk. Lalu sedetik kemudian malah terdengar suara “Ngrook.” Junmyeon benar-benar kehilangan kesadarannya. Hongnan yang bijak layaknya raja hutan, singa di kartun-kartun, kini menjadi singa liar yang hidup bebas di alam sesungguhnya.

“Euuuh!!!” Hongnan melempar tisu ke kepala Junmyeon. “Orang udha panjang lebar ngomong, dianya malah tidur! Dasar keparat bocah!” Umpat Hongnan kesal. Junmyeon yang sudah mabuk, dan Hongnan yang masih memiliki kesadaran yang cukup baik untuk menyetir, terpaksa membawa mobil dan mengantarkan Junmyeon ke dormnya.

Setibanya di parkiran dorm, Ia berusaha membangunkan Junmyeon, tapi Junmyeon terus saja menutup matanya sambil tersenyum.

“Euh, janjinya mau mengantarku pulang, malah jadi aku yang mengantarmu pulang. Haish” Hongnan menoyor kepala Junmyeon karena sebal. Hongnan mengambil tasnya untuk mengeluarkan botol minumnya. Ia lalu mencipratkan air tersebut ke muka Junmyeon. Setidaknya untuk membuat dia sedikit sadar, dan bisa berjalan –dengan bantuan Hongnan tentunya- sendiri menuju kamar dormnya.

“Uh…” Junmyeon melenguh. Hongnan langsung keluar dari kemudi, lalu beralih ke pintu penumpang untuk memapah Junmyeon berjalan. Sambil berjalan Hongnan terus menggerutu karena harus mengangkut seorang pria yang walau kurus, tapi untuk badannya yang ceking ini terasa amat berat.

“Ugh… nice ya… sesudah jadi konsultanmu, kini aku merangkap juga jadi sopir dan tukang angkut! Biasanya kamu enggak pernah semabuk ini!!! Kurasa kamu benar-benar lelah. Baru kali ini aku mengantarrkan cowok mabuk sendirian. Ugh” Orang yang digerutui hanya cengengesan enggak jelas sambil berusaha jalan lurus.

“Aku bawa mobilmu ya untuk pulang? Ini sudah terlalu larut. Bus sudah tidak ada, dan aku trauma untuk naik taxi seorang diri malam hari. Jadi kubawa dulu ya mobilmu? Besok pagi sebelum ke kantor aku kembalikan lagi kesini.”

“Hm… bawalah.” Junmyeon mengangguk setengah sadar.

Untungnya, jarak dari parkiran ke kamar tak begitu jauh. Tak terasa mereka sudah sampai didepan kamar dorm EXO. Saat Hongnan mau memencet bel. Junmyeon mencegahnya. Junmyeon pun berusaha berdiri tegak menghadap Hongnan. Ia memegang bahu Hongnan dan berusaha membuka amtanya dengan lebar, lalu menatap Hongnan.

Junmyeon tersenyum lebar. “Terima kasih untuk malam ini. Aku merasa lega, dan tenang kok aku mendengar semua wejangan kamu tadi. Kata-katamu hm… walau menggebu mmm anehnya aku emrasa adem hehehe mmmm makanya aku tertidur hihihihi. Han Hongnanku memang yang terbaik.”

Han Hongnanku…. Seketika pipinya terasa panas mendengar hal itu. Ah ini pasti karena alkohol.

Ditengah mabuknya, Junmyeon pun berusaha memberi petuah juga. “Rrrr. Hm… ambillah beasiswa itu. Kejar cita-citamu jadi, eh apa namanya… duuh lupa. Eu….jelaskan pada Ibumu. Aaah… aku mengerti ibumu itu mungkin mengkhawwatirkan biaya kehidupan kalau kau kuliah di Amerika, karena eu… kau kan harus resign. Bilang lah pada ibumu… sebentar lagi juga adikmu, euu… siapa? Ah Seolhae akan lulus. Dia bisa bantu kehidupan keluargamu. Eummm… Ayahku sedang cari asisten. Ku akan rekomendasikan adikmu itu. Adikmu walau masih menyusun, dia sudah bisa bekerja dengan ayahku kok. Masalah gaji hmmmm tenanglah… cukup untuk hidup kok hihihi. Saat kau pulang kuliah, kau akan dapat pekerjaan jauh lebih layak dibanding”

Hongnan senang mendengar kabar itu. Langsung memeluk Junmyeon. “Gomawo, sudah mau membantu kelaurgaku lagi. Kamu juga yang terbaik.”

Masih dalam pelukan, Junmyeon meneruskan perkataannya, “Dan… rrr.. jangan menikahi dokter itu! Menikahlah dengan prria yang ingin kau nikahi.”

“Sulit itu….” Hongnan tersenyum miris.

Junmyeon melepaskan pelukannya. Dengan kilat tiba-tiba bibir Junmyeon sudah menempel dengan bibir Hongnan. Seketika Hongnan langsung membeku.

“Maaf, untuk saat ini, hanya itu yang bisa kuberi. Jangan terlalu berharap padaku, tapi sesungguhnya aku ingin mewujudkan keinginanmu menikahi pria yang kau inginkan hiiik.”

Hongnan terkejut. “Kau menyadarinya?”

Junmyeon membelai rambut Hongnan. “Tentu saja bodoh! Hmm… hiiik euuu… kusudah sadar dari dulu. Hanya seperti katamu, dunia kita berbeda. Aku tak ingin membuatmu kesulitan. Tapi jika kita memang ditakdirkan bersama, sekembalinya kau dari Amerika, saat aku sudah stabil, dan kau sudah stabil, kita jalani selanjutnya ya? Karena cuman kamulah yang bisa membuatku menjadi Junmyeon sesungguhnya.”

Hongnan terdiam. Sebuah tawaran dan janji yang manis jika memang terlaksana. Manusia boleh berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Masa depan selalu tak terduga, dan janji macam itu biasanya hanya tinggal janji pada masanya. Hongnan menggeleng. “Kau kan bilang jangan terlalu berharap denganmu. Jalani saja yang ada. Dengan situasi saat ini, menjadi sahabatmu, tempat pembuangan ceritamu saja aku sudah cukup merasa bahagia dan nyaman. Untuk selanjutnya kita lihat saja kedepan, dan jalani yang ada. Tak usah kau berbuat janji. Aku sadar akan posisiku dan kamu yang berbeda. Aku tak sanggup menghadapi fansmu hahaha.”

“Iya betul…. Tapi aku kan berharap bisa mewujudkan harapanmu, walau kau jangan terlalu berharap padaku, karena kondisiku sebagai public figure. Jadi jangan terlalu berharap, tapi kamu tetap boleh berharap, dan aku pun mengharapkan hal itu. Hmmm harapan yang semu tapi nyata, aku harap….”

Hongnan langsung memotong omongan Junmyeon. “Kamu tuh ngomong apa? Enggak jelas. Banyak banget kata harapnya hahahah. Kamu sudah benar-benar mabuk. Sudah ah masuk sana.”

Hongnan memencet bel kamar, karena kalau sudah mabuk, Junmyeon akan lupa password dormnya. Bisa-bisa bikin keributan karena dulu dia pernah berusaha mendobrak kamarnya sendiri.

“Dan lupakan semua yang telah kita obrolkan disini ya? Kecuali bagian ayahmu akan mempekerjakan adikku.” Pinta Hongnan.

“Baiklah… lagipula masalah adikmu itu aku ingat dari kemaren, tapi baru kusampaikan sekarang. Hanya saja selain itu, aku tak mau melupakan ini.” Lagi, kecupan kilat Junmyeon ke bibir Hongnan. Dan lagi, Hongnan hanya bisa membeku.

Pintu dorm terbuka. Keluar member EXO yang lain. Sang vokalis utama, Chen.

Annyeong Haseyo. Oh Hongnan-ssi. Junmyeon hyung pasti mabuk berat sampai kau mengantarnya kesini.” Sapa Kim Jongdae.

Annyeong Haseyo, Jongdae-ssi. Iya ni tolong dibawa kedalam ya leader kamu, berat juga bawa dia kesini.”

“Duuh.. maaf ya kau jadi repot. Pulanngnya gimana? Sudah malem banget ini. Mau kuantar?”

“Enggak usah. Aku bawa mobil Junmyeon saja. bilang ya kalau nanti dia sudah sadar, aku pinjam dulu mobilnya. Besok pagi sebelum ngantor ku kembalikan kesini. Tadi aku sudah bilang, tapi tampaknya saat dia sadar, dia takkan ingat.”

“Ah baiklah… hati-hati dijalan ya Hongnan.”  Salam Jongdae dengan penuh senyuman.

“Iya terima kasih. Aku pergi dulu ya Jongdae. Jangan bikin dia terlalu stres! Hahaha” Pamit Hongnan.

“Siap!”

Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Hongnan memikirkan kejadian yang terjadi barusan. Dia sedikit merasa unbelieveable ternyata Ia dan Junmyeon menangkap sinyal yang sama. Hanya keadaannya saja yang tak mendukung. Lagipula mengingat kebiasaan Junmyeon melupakan yang terjadi saat mabuk, benar-benar tak bisa diharapkan.

“Sudahlah… memang dari awal juga kan aku tak berharap. Jangan karena kejadian ini menggoyahkanku dan jadi berharap padanya.”

Pipi kirinya terasa basah. Entah ia mengeluarkan air mata sedih atau senang. Yang jelas Ia hanya berharap Kim Junmyeon tetap bisa menjadi Kim Junmyeon ditengah Ke-Suho-annya. Ia akan tetap menjadi Kim Junmyeon apapun situasi dan hubungan mereka.

—The End—

Wednesday, December 21, 2016

10:54 PM

 

Ah gila, aku hampir setahun enggak nulis FF. Tahun ini kuhabiskan untuk menulis karya tulis lainnya a.k.a skripsi, jadi ya punya ide setumpuk juga enggak kesalurin. Alhasil karena sudah lama enggak nulis, jadi begitu beres skripsi, pengen nulis FF lagi, aku kebingungan. Susah banget untuk memulainya, an aku jadi kehilangan semangatku, jadi maafkan kalau ceritanya agak ngaco, enggak nyambung, dan enggak enak dibaca. Aku bikin FF ini terinspirasi saat lihat Suho di Happy Together. Aku jadi mikir, selama ini apa dia enggak stress jadi suho? Dia tampak menikmati itu, tapi terlihat ada beban yang Ia pikul, secara dia leader. Lalu dulu aku pernah lihat foto dia megang rokok, lagi kongkow ama gengnya. Ku jadi terpikir saat melihat foto itu, kalau saat itu dia sedang menjadi Kim Junmyeon, bukan suho. Jadi terpikirlah buat FF ini. MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s