[FF] VALUE

Title               : VALUE

Rate               : 15+

Genre             : lagi pingin bikin SLICE of LIFE dan WORK gitu dipadu dengan FRIENDSHIP

Cast               : yang disebutin nama lengkapnya dan jadi central hanya PARK CHORONG A-PINK dan LEE CHANGSUB BTOB. Sisanya bayangin sendiri deh. Bebaskan imajinasi kalian.

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH idea

INSPIRED        : baru nonton BEAUTIFUL GONGSHIM di tv. Pas liat episode 1, terinspirasilah.

Disclaimer   : Lagi suka banget BTOB dan ngebiasin parah Changsub *huhuhu aku tahu aku telat join jadi Stan BTOB*, jadi pengen bikin FF yang ada  dianya, cuman dianya bukan jadi tokoh utama disini wkwkwk. Nanti deh ku bikin lagi Changsub centernya hehehe. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D

“Hei, Park Chorong! Kamu masih mau bekerja tidak?!”

“Eh.. iya tentu saja.”

“Kalau begitu lakukanlah! Tak usah menolak! Kecuali kalau kamu mau kontrakmu diputus….. kau ini belum jadi pegawai tetap! Ingat itu!”

*****

Chorong menatap cermin di toilet dengan tatapan kosong. Ingatan kejadian 7 bulan lalu selalu menghantuinya setiap diberi tugas oleh kantornya. Ia berpikir, apakah yang Ia lakukan selama ini hal yang benar. Apakah sesulit ini untuk bertahan hidup. Sudah hampir 1 tahun Ia menjadi pegawai sebuah perusahaan kosmetik. Sayangnya, statusnya masih pegawai kontrak, dan kontrak hanya dalam kurun kurang dari sebulan ini akan habis. Nasibnya kini benar-benar fifty-fifty. Ia bisa saja diperpanjang kontraknya, bahkan diangkat menjadi pegawai tetap, tapi kemungkinan Ia untuk ditendang pun sama besarnya. Berbagai cara Ia usahakan agar Ia bisa bertahan dan dapat diangkat menjadi pegawai tetap. Seperti yang Ia lakukan saat ini.

Setiap ada acara seperti ini, selalu timbul keraguan dalam dirinya. Ia selalu meminta izin ke toilet untuk menenangkan diri sejenak. Walau sudah 7 bulan Ia berada dalam kegiatan seperti ini, tapi tak pernah sekalipun Ia jalani dengan senang hati. Malah Ia merasa direndahkan, tapi apa daya. Ia harus bertahan hidup. Ia butuh uang dan itu Ia dapatkan dari pekerjaannya kini. Ia ingin kehidupannya lebih baik dan nyaman.

Berada dibagian Marketing membuatnya harus bertemu dengan banyak klien. Satu hal yang Ia tak sukai dari budaya kerja diperusahaannya. Mereka harus selalu bisa menyenangkan klien, terutama pegawai wanita sepertinya. Chorong yang good looking, tentu saja menjadi andalan tim nya untuk acara makan malam seperti yang akan Ia lakukan kali ini. Ia harus tampil cantik dan menawan agar bisa menarik perhatian klien. Ia pun harus siap melayani mereka. Walau tak sampai harus tidur dengan kliennya, tapi tetap saja Chorong merasa jijik dengan hal yang Ia lakukan. Ia harus menuangkan minum, harus menemani mereka minum, makan, karaoke, bahkan terkadang Ia harus berdua saja dengan klien. Ia benci hal itu, tapi Ia harus melakukannya, karena selalu mendapat ancaman kontraknya bisa putus kapan saja.

Chorong mencuci mukanya agar terlihat segar. Setelah mengelapnya denagn tisu, Ia memoleskan bedak, menggambar eyeliner, dan juga mewarnai bibirnya dengan lipstik merah agar terlihat lebih menarik. Setelah selesai mempercantik diri, Chorong menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan. Ia berdoa sebentar memohon untuk dikuatkan.

Malam Ini Ia bersama manajernya, salah satu direktur perusahaannya akan bertemu dengan salah satu dirjen perpajakan nasional di restoran makanan khas korea. Sebenarnya ini bukanlah pekerjaan tim nya, tapi entah mengapa Ia dipanggil untuk datang ke acara makan malam ini. Demi bisa menjadi pegawai tetap, Ia terima ajakan atasannya tersebut.

Di meja makan manajer dan direkturnya sudah siap menyambut tamu mereka. Tak lama kemudian, tamu yang akan mereka sambut datang. Dirjen itu didampingi dua pria muda. Chorong memperhatikan salah satu pemuda yang mendampingi dirjen tersebut. Ia tampak mengenal orang tersebut. Pria itu sedang posisi menyamping, mempersilahkan atasannya masuk duluan. Saat pria itu mukanya menghadap ke arah Chorong, Chorong langsung menyadari. Tak menyangka Ia bertemu dengan sahabatnya saat dalam bekerja seperti ini. Ia tahu, sahabatnya itu bekerja di perpajakkan, tapi Ia tak menyangka salah satu tamunya adalah sahabatnya sendiri, Lee Changsub.

Changsub juga langsung menyadari kehadiran Chorong. Ia langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangan. Chorong membalasnya dengan senyum dan lambaian kecil. Ia harus menjaga sikap dihadapan atasannya. Chorong memberi tatapan. Ia mencoba “telepati” kepada Changsub agar menjaga sikapnya juga. Sudah berteman dan saling mengenal satu sama lain dalam waktu yang lama, Changsub langsung menangkap sinyal Chorong dan bersikap tenang.

Para atasan saling menyapa dan menjabat tangan. Chorong pun menjabat tangan dengan utusan kementrian tersebut. Saat berjabat tangan dengan Changsub, mereka saling mengeraskan jabatan tangan untuk saling menyapa dan jelas mereka tertawa akan hal itu, namun dalam hati. Saat bersalamn dengan dirjen, Dirjen itu bersalaman dengan dua tangannya dan sedikit mengelus punggung tangan Chorong. Chorong yang tak nyaman hanya bisa sedikit mengerutkan dahi, dan agak menarik tangannya sambil mencoba terus tersenyum.

Seperti pada acara makan malam biasanya, mereka berbasa-basi terlebih dahulu. Disaat seperti ini, yang menjilat tugas dari direktur dan manajernya. Ia hanya ikut tersenyum dan tertawa. Begitu juga dengan dua orang yang mendampingi dirjen perpajakkan tersebut. Mereka hanya ikut tertawa-tawa saja. Sembari makan mereak terus mengobrol. Saat mereka mulai minum, negosiasi lah mulai dilakukan. Negosiasi biasanya memang tugas Chorong. Ia dikenal sebagai salah satu tim marketing yang jago negosiasi. Biasanya saat acara makan malam seperti ini, Chorong melakukan negosiasi sambil melayani klien, tapi untuk malam ini berbeda. Ia bertugas hanya untuk melayani saja. negosiasi masalah pajak sama sekali bukan urusannya.

Chorong mulai menuangkan arak ke gelas sang dirjen dan juga atasannya. Ia pun tak lupa menuangkan minuman tersebut kepada “pengiring” dirjen.  Saat suasana makin naik, mereka semua mulai bernyanyi-nyanyi, dan Chorong lah yang harus terus menyanyi dan menari. Selain itu juga Chorong harus mengeluarkan aegyo setiap atasannya mengajukan penawaran pada sang dirjen. Melihat hal itu Changsub merasa ada yang enggak beres dengan Chorong. Ia melayangkan pandanganya ke Chorong dan menatap Chorong dengan serius. Ia tahu, sahabatnya itu bukanlah tipe yang suka diperlakukan seperti itu. Changsub dengan jelas bisa menangkap rasa tidak nyaman dari Chorong, tapi yang jadi pertanyaannya, kenapa Chorong mau melakukan hal itu.

Changsub mencoba memberi sinyal pada Chorong. “Chorong ssi. Tak apa jika aku memintamu menuangkan lagi minuman ke gelasku?” Ya!! bodoh! Apa yang kamu lakukan?

Chorong menatap Changsub dengan senyum palsu. Ya! kenapa kamu menyuruhku?!

“Hahahahahaha, jangan sungkan Changsub ssi. Itulah tugasnya dia berada disini hahahaha.” Sahut manajernya Chorong.

Chorong  melirik sinis manajernya dalam 0,1 detik, namun hal itu langsung tertutupi dengan topeng senyumnya. “Iya tak masalah. Betul, itu memang tugasku.”

“Tak apa?” Tanya Changsub serius. Kamu enggak apa-apa berada dalam situasi macam ini?

Chorong menangkap sinyal yang dimaksud Changsub. Sambil menuangkan minuman, Chorong mengangguk. “it’s okay”. Aku tak apa. Aku bisa mengatasinya. Percayalah.

“Nona cantik, tolong tuangkan juga untukku, dan anak buahku yang satu lagi juga.” Pinta sang dirjen dengan centil. Chorong membalas lagi dengan topeng senyum dan menuangkan minuman ke gelas anak buah dirjen dan dirjen. Saat menuangkan minuman ke gelas dirjen, dirjen itu memegang tangan Chorong.

“Park Chorong ssi, wanita semuda dirimu, pastinya belum menikah kah?” Tanya Dirjen tersebut. Chorong berusaha melepaskan perlahan.

“Jangankan menikah pak, pacar saja dia tak punya. Betul kan, Chorong?” Jawab Manajernya dalam keadaan mulai tidak sadar. Chorong menjawabnya dengan senyuman.

Dirjen itu agak kegerahan. Ia membuka jasnya dan melonggarkan dasinya. “Ehem… begini Direktur Yeo, Manajer Jung. Masalah tunggakan pajak perusahaan kalian, jika kalian ingin mencicilnya, tentu harus membangun hubungan yang lebih baik dulu, bukan begitu?”

Direktur dan Manajer Chorong langsung terbahak basa-basi. “Hahahaha, betul. Kita harus membangun hubungan baik.”

“Aku tak suka cara melanggar hukum seperti menerima hadiah. Aku ini seorang pns yang menjunjung tinggi keadilan hahaha.” Dirjen itu menatap Chorong dengan nakal. “Aku lebih suka menjalin hubungan baik dengan ya ngobrol-ngobrol dan makan malam seperti ini. Agar hubungan lebih solid, tentunya, alangkah lebih baik memulai dari bawah, betul?”

Lagi, Direktur dan Manajer Chorong terbahak sambil mengangguk.

“Oleh karena itu, mungkin bisa dimulai dari Chorong ssi? Besok bisakah kita makan malam agar hubungan perpajakkan dengan Get Beauty Corp menjadi lebih erat.”

Changsub terkejut mendengar permintaan atasannya. Ia langsung melirik Chorong yang sama terkejutnya mendengar permintaan itu. Ini bukan pertma kalinya Chorong mendapat permintaan seperti itu, tapi tetap saja Ia merasa terkejut dan tidak nyaman. Guratan wajahnya bicara akan hal itu, dan Changsub tahu betul hal itu.

“Kamu pasti kosong kan besok? Kan tidak punya pacar. Manajer Jung besok jangan buat dia lembur.” Seru Direktur Yeo.

Chorong menarik nafas. Rasanya Ia ingin menolak, tapi Ia teringat akan kontraknya yang akan habis. “Saya kosong kok pak besok.”

Mendengar jawaban Chorong, Changsub terkejut tak bisa mengontrol dirinya. Mulutnya langsung menganga lebar dan pupil matanya pun ikut membesar menatap Chorong heran. Kenapa Chorong mau? Apakah Chorong sudah gila? Jelas-jelas Ia tak mau, dan Ia adalah tipe yang jika tak mau pasti akan menolak sekeras apapun, tapi kenapa Ia menerima ajakan gila tersebut. Changsub tak mengerti. Ia merasa ada yang salah dengan pekerjaan Chorong.

Ia mencoba mengingat curhatan Chorong beberapa waktu lalu. Dia memang pernah cerita mengenai budaya perusahaannya yang buruk, dan kontraknya yang hampir habis. Chorong harus bertahan karena memang butuh uang. Changsub langsung ngeh mengapa seorang Park Chorong mau melakukan hal itu. Chorong butuh bantuan.

Changsub meminum alkoholnya dalam satu teguk. “Hm.. Dirjen Kim. Bukankah sebagai PNS yang tak melanggar hukum, sebaiknya menghindari zina?”

Atasan Changsub menekuk wajahnya. “Maksudmu? Yang aku lakukan itu zina?”

“Tak baik seorang pria beristri mengajak seorang wanita lajang makan malam. Apalagi jika wanita itu sudah mau bertunangan.”

Sang Dirjen kebingungan. Begitu juga dengan Manajer dan Direktur Chorong. Manajernya pun langsung memastikan. “Chorong, kau btul tidak punya pacar kan?”

Chorong mengangguk. “Be..bet…” Belum juga selesai Chhorong menjawab. Changsub langsung berdiri dan membungkuk 45 derajat.

“Maaf sebelumnya, tapi perkenalkan saya Lee Changsub, kekasih dari Park Chorong.”

Chorong syok mendengar hal itu. Apa-apaan yang dilakukan Changsub? Chorong langsung menatap tajam Changsub. Changsub tak menghiraukan hal itu.

“Mungkin Chorong enggak pernah cerita ya? eu saya juga enggak pernah cerita sih ke rekan kerja saya, kalau saya punya pacar. Karena kesibukan masing-masing, kita memang jarang bertemu, dan saya memang baru beberapa kali saja menjemput Chorong dari tempat kerjanya. Kami sudah berkencan selama 10 tahun. Sebenarnya kami akan bertunangan bulan depan, dan berencana menikah akhir tahun ini.”

Chorong bengong mendengar semua kebohongan yang dilontarkan Changsub. Berkencan selama 10 tahun? 10 tahun itu adalah waktu mereka bersahabat. Tunangan? Menikah? Hal gila macam apa itu. semua yang dilontarkan Changsub kebohongan. Kecuali bagian dia menjemput Chorong di kantor. Itu betul, Changsub hanya beberapa kali menjemputnya. Itu pun dia menjemput Chorong karena sepulang dari kantor mereka akan main. Chorong tak mengerti mengapa Changsub melontarkan hal gila itu semua.

“Oleh karena itu, maaf Dirjen Kim, tapi jika ingin mendekatkan diri, mungkin sebaiknya Chorong ditemani dari pihak perusahaannya, dan Dirjen Kim juga ditemani dari pihak kami.” Ujar Changsub dengan nada tegas namun mengancam.

“Ah… ternyata Agassi ini sudah memiliki kekasih, dan kekasihnya anak buahku….” Dirjen Kim menyeringai sebal. “Ya berhubung Penyidik Lee Changsub sebagai kekasihnya tak mengizinkan. Besok kita batalkan saja ya Chorong ssi?”

Chorong diam tak menjawab. Raut wajahnya kini menjadi takut bercampur khawatir. Manajer dan Direkturnya kini menatap tajam Chorong. Mata mereka seolah berkata, habis sudah nasibmu Chorong! Nasib pekerjaannya kini benar-benar diujung tanduk.

“Untuk masalah pengurangan pajak.. hm.. mungkin harus saya diskusikan dahulu dengan anggota dinas yang lain.” Sahut Dirjen Kim sinis. Ia memberi peringatan tanda, Ia takkan mentoleir pajak perusahaan.

Manajer Jung dan Direktur Yeo langsung panik. Direktur Yeo mencoba negosiasi. “Hm.. bagaimana kalau kita bicarakan lagi besok dengan anak buah saya yang lain?”

Dirjen Kim menggeleng. “Saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Saya pamit dulu. Terima kasih atas jamuannya. Ayo penyidik Seo kita pulang. Penyidik Lee, sebaiknya kamu mengantarkan pacarmu pulang. Jarang-jarang kan?” Sindir Dirjen Kim dengan lirikan sinis ke Changsub. Changsub menanggapinya dengan santai, karena Dirjen Kim tak punya kekuatan untuk mengancamnya.

Mereka semua berdiri dan saling memberi hormat. Chorong bersama atasannya mengantar perwakilan perpajakkan sampai depan restoran diiringi Changsub dari belakang. Sepeninggalan tim pajak. Manajer Jung dan Direktur Yeo pun pergi. Sebelum pulang, manajer Jung berbicara pada Chorong. Ia meminta Chorong esok untuk menghadapnya dan mengingatkan Chorong akan kontrak kerjanya yang akan berakhir.

Begitu atasannya pergi, Chorong langsung memaki Changsub. Selama persahabatan yng telah terjalin, saling memaki sudah biasa, namun kali ini dia benar-benar marah. Bukan sekedar kesal atau bercanda.

“Ya Changsub ah! Apa yang kau lakukan?!” Chorong menaikkan nada suaranya namun belum berteriak.

Changsub membalasnya dengan tenang. “Harusnya aku yang bertanya seperti itu! apa yang kamu lakukan tadi?”

“Kamu enak PNS ya! walau bertindak kurang ajar macam tadi ke atasanmu, kamu enggak akan dipecat. Lah aku?! Yang melakukan kesalahan bukan aku, tapi aku terancam! Ah bagaimana nasib kontrakku!” Chorong mulai meluapkan amarahnya. Entah amarah pada Changsub, pada atasannya, atau pada keadaannya. Yang jelas Ia ingin marah.

“Aku walau bukan PNS, tapi kalau atasanku memperlakukanmu seperti tadi, aku akan melakukan hal yang sama Chorong ah. Ah tidak, bahkan jika aku melihat orang lain yang tidak kukenal direndahkan seperti aku akan menolongnya. Apalagi kamu?!!! Sahabat aku! Orang terdekatku! Aku enggak bisa diam saja! Aku tuh mau menolong kamu!”

“Tolong buat apa? Aku bisa mengatasi itu sendiri! Kamu ngapain sih pakai acara ngaku jadi pacar aku? Kamu enggak melakukan pertunjukkan pengakuan cinta kan? Kamu gila?”

Changsub langsung mendengus kesal mendengar jawaban Chorong. Jika Ia memang ingin melakukan pertunjukan pengakuan cinta, Ia takkan sebodoh itu melakukannya didepan atasannya. “Kamu yang gila, bukan aku! Kamu tuh sudah tahu enggak nyaman, enggak benar, enggan melakukannya, tapi kenapa kamu tetap melakukannya?!!”

Changsub mulai mengeluarkan emosinya. “Kamu ngapain sih melayani orang-orang rendahan macam Dirjen Kim? Kamu sejak kapan kayak gini? Jad alasan ini alasan kamu berdandan on fire saat malam hari? Untuk menemui para pria rendahan?”

“Aku hanya melakukan tugasku! Aku tidak tidur dengan mereka kok!”

“Memangnya tugasmu melayani klien huh? Tugasmu kan negosiasi dan menawarkan produk! Bukan menawarkan diri! Sejak kapan kamu mau direndahkan? Park Chorong yang kukenal akan melawan disaat seperti ini. Tapi yang kamu lakukan hanyalah mengikuti arus dan patuh! Aku tahu kamu melakukan ini karena statusmu sebagai pegawai kontrak, tapi mesti kamu melakukan macam itu?”

Chorong mengeluarkan argument pertahanan dirinya. “Aku terpaksa melakukannya! Ini hanya sementara, sampai aku diangkat jadi pegawai tetap. Setelah itu, aku tidak akan diperlakukan seperti ini.”

Changsub memegang bahu Chorong. “Kamu yakin? Walau sudah jadi pegawai tetap tidak akan melakukan pekerjaan seperti itu? Dengan penampilan fisikmu ini, sudah dapat dipastikan kamu andalan perusahaan untuk melakukan pekerjaan seperti itu. selama kamu diperusahaan itu, kamu akan terus direndahkan!”

Chorong menepis tangan Changsub “Tapi gimana lagi? Aku butuh bertahan hidup! Aku butuh pekerjaan ini! Kamu tahu kan betapa susahnya aku mendapatkan pekerjaan?”

“Masalahnya apa harus segininya kamu untuk bertahan hidup? Masih banyak perusahaan yang akan mempekerjaankanmu karena kemampuanmu! Bukan karena penampilanmu!” Nada suara Changsub mulai meninggi.

Otot wajah Chorong menegang dan rahangnya mengeras. Ia benar-benar emosi. “Kamu karena PNS bisa dengan mudahnya bilang kayak gitu! Semudah itukah untuk mendapatkan pekerjaan? Huh?

Changsub menggelengkan kepalanya. Ia menghela nafas. Berusaha tenang untuk menyadarkan Chorong. “Sekarang aku Tanya. Kau enggak merasa direndahkan apa? Kamu enggak merasa muak apa?”

Chorong diam tak menjawab. Sorot matanya mulai agak berbah dari amarah menjadi kosong. Changsub kembali memegang bahu Chorong.  “Jawab jujur. Kamu enggak mau kan melakukan hal itu? kamu merasa direndahkan kan? Kamu ingin berhenti kan?”

Chorong masih diam. Wajahnya kini menunduk. Changsub mengangkat wajah Chorong dan menatapnya dalam untuk mencari jawaban sesungguhnya.

“Lihat aku! Aku tahu jawabannya, tapi aku ingin dengar dari mulutmu. I know you so well, Chorong ah!”

Chorong menutup wajahnya dan nafasnya mulai terdengar tidak teratur. Bahunya naik turun dengan cepat. Suara tangis pun mulai terdengar.

“Bukan direndahkan lagi! Aku merasa terhina! Jijik!” Chorong meluapkan isi hatinya. “Aku benci melakukan hal itu! aku sama sekali enggak mau. Harga diriku benar-benar jatuh dan terinjak. Aku benar-benar dihina secara harga diri. Aku benci menerima hal itu! tapi mau gimana lagi! Aku harus bisa bertahan di perusahaan! Kamu tahu kan betapa strugglenya aku mencari kerja! Akhirnya aku mendapatkan kerjaan, tentu aku harus bisa bertahan bagaimana pun caranya! Aku butuh uang! Aku butuh bertahan hidup! Ini lah cara dunia bekerja! Ini lah kehidupan yang sebenarnnya!  Kamu tahu? Aku pertama kali menghadapi itu, aku menolak, dan tahu hasilnya? Aku diancam akan putus kontrak saat itu juga! Aku butuh pekerjaan ini! Aku lakukan apapun agar aku bisa jadi karyawan tetap dan mendapatkan kesejahteraan yang layak! Bahkan hal menjijikkan seperti ini.”

Tangis Chorong mengeras. Orang-orang mulai memperhatikan mereka berdua dan menjadikan tontonan yang menghibur. Sebenarnya sejak tadi mereka ribut di depan restoran, beberapa orang sudah memperhatikan mereka, namun masih hanya sekedar selintas. Saat Chorong menangis, orang-orang berhenti untuk memperhatikan mereka, bahkan ada yang sudah siap dengan ponselnya. Melihat situasi yang tak kondusif dan akan menimbulkan kesalahpahaman, changsub bergerak cepat. Ia melepas jasnya untuk menutupi wajah Chorong, dan mencoba menggiring Chorong menuju tempat yang lebih sepi.

“Iya aku mengerti, tapi aku ingin kamu melawan.” Ujar Changsub sambil menarik tangan Chorong.

Chorong menepis tangan Changsub yang berusaha menggiringnya. “Kamu enggak akan ngerti karena kamu enggaka da diposisi aku! Tidak semudah itu melawan atasan! Aku bukan kamu!”

Changsub tak menanggapi omongan Chorong. Ia fokus untuk menghindari orang-orang yang mulai merekam mereka. Ia harus menuju basement parkiran mobil. Lebih baik mereka melanjutkan pembicaraan di mobil. Daripada didepan restoran yang banyak orang dan mereka akan menjadi salah paham. Salah paham mengira mereka berkencan dan salah paham Chorong menangis karena dirinya. Kalau dilanjutkan, bisa-bisa muncul video “Sepasang kekasih membuat drama didepan restoran x” dan menjadi viral. Kan enggak lucu.

Changsub merangkul Chorong agar Chorong dapat diarahkan. Ia berusaha berjalan cepat menghindari orang-orang yang penasaran akan kelanjutan drama mereka. Begitu tiba didepan mobil Changsub, Changsub melepaskan jas yang menutupi wajah Chorong. Muka Chorong terlihat membengkak dan memerah karena menangis.

“Iya baiklah aku memang enggak ngerti. Kamu bukan aku. Cuman, please ini jadi yang terkahir kali kamu kayak gini. Aku enggak mau kau direndahkan. Gimana kalau ada yang nekat? Kamu kena pelecehan? Orang tua kamu kalau tahu ini pun pasti akan melarang! Kamu begitu selesai kontrak. Keluarlah! Kamu enggak usah bertahan diperusahaan yang aturan pajak saja sulit menghargainya, apalagi ke karyawannya. Cari perusahaan yang lebih baik. Perusahaan yang mempekerjakanmu karena kemampuanmu. Kamu itu harus bekerja karena kemampuanmu, bukan karena fisikmu! Kamu itu terlalu berharga untuk diperlakukan serendah itu! tiap manusia punya value sendiri yang tak terhitung karena saking berharganya, dan bukan untuk direndahkan seperti itu!”

Tangis Chorong yang sudah agak reda kembali menjadi deras. Kata-kata Changsub mengenai hatinya. Memang seharusnya Ia mencari perusahaan yang memperlakukan layaknya karyawan. Mempekejarkannya karena kemampuannya. Namun Ia juga mengalami konflik batin, dimana realita tak semudah itu. jika Ia keluar, Ia akan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Apalagi jika perusahaan yang sekarang tak mau membuat rekomendasi. Jika Ia keluar, Ia tak punya penghasilan dan uang tabungannya hanya bisa untuk hidup beberapa bulan saja. Bagaimana jika Ia tak kunjung mendapatkan pekerjaan? Bagaimana selanjutnya Ia bertahan hidup? Disisi lain Ia juga lelah harus menurunkan harga dirinya dan harus menggunakan kecantikkannya buka kemampuannya untuk bernegosiasi. Memikirkan itu Chorong hanya bisa menangis.

Changsub memasangkan jasnya ke badan Chorong, lalu membukakan pintu mobilnya. “Hari ini kuperlakukanmu layaknya putri. Agar kamu sadar, kamu itu berharga. Enggak layak dijadikan komoditas. Aku harap kamu memikirkan untuk mengakhiri kontrakmu. Ayo naik.”

Chorong masuk ke mobil Changsub. Changsub menutup pintu kursi penumpang, lalu masuk mengalihkan kemudi. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Changsub membiarkan Chorong menangis dan berpikir. Ia berharap Chorong bisa tersadarkan.

                3 minggu setelah kejadian.

 

“Chorong jangan lupa malam ini kamu ikut saya. Kita akan bernegosiasi dengan investor dari Coral Sea Corp langsung dengan CEO nya. Nilai investasi kali ini bisa menutupi 70% dari biaya proyek kita. Kamu harus bisa mendapatkannya. Negosiasi kali ini akan amat berpengaruh dengan nasib kontrakmu.” Ujar Manajer Jung sambil menepuk-nepuk pundak Chorong dari luar kubikel.

“Baik, pak.” Chorong menjawab singkat diiringi anggukan, lalu kembali menatap layar komputer untuk menyelesaikan pekerjaannya. Obrolannya dnegan Changsub beberapa waktu lalu, selalu terngiang. Semenjak kejadian itu, Changsub selalu berusaha mengingatkan Chorong untuk mengakhirinya. Changsub tak mau lihat Chorong diperlakukan seperti itu. Semua yang melihatnya seperti itu, tahu betul Ia direndahkan, dan betul kata Changsub untuk apa Ia bekerja karena fisiknya namun direndahkan. Chorong sebenarnya malu. Ia tetap memiliki ego. Ia ingin kemampuannya diakui, bukan fisiknya. Sayangnya, realita tidak seindah idealismenya. Ia bertekad, malam ini malam terakhirnya dia melakukan tugas seperti ini. Setelah diangkat jadi pegawai tetap, Ia akan menolak tugas seperti ini. Jika memang ingin bernegosiasi, ya negosiasi secara nyata. Bukan memohon dan melayani.

Malam pun tiba. Chorong dan Manajer Jung tiba di tempat yang dijanjikan. Di sebuah klub malam. Dahi Chorong mengerut melihat tempat mereka akan bernegosiasi. Tak seperti biasanya. Selama ini mereka jika bertemu klien untuk makan malam ya di restoran. Paling melenceng pun hanya ke tempat karaoke biasa. Bukan klub malam seperti ini. Ia pun protes kepada manajernya.

“Loh Manajer Jung. Kenapa kita ketemu investor ditempat seperti ini?” Tanya Chorong dengan muka heran dan tak nyaman.

“Ah sudahlah! Ikuti saja maunya dia! Ingat. Lakukanlah apapun yang dia inginkan. Nilai kali ini cukup besar. Bahkan jauh lebih berharga dibanding dirimu. Nilaimu enggak ada apa-apanya. hahaha”

Chorong menatap sinis manajernya. Amarahnya agak tersulut mendengar hinaan Manajernya itu.

Sadar akan tatapan tidak suka dari Chorong. Manajer Jung menepuk pundak Chorong dan mengelus rambutnya. “Hahahaha, enggak usah baper. Aku bercanda,bodoh. Hahahahaha Itu hanya perumpamaan saja. ayo!”

Begitu tangan manajer Jung lepas dari rambut dan pundaknya, Chorong membersihkan bagian tersebut. Rasa jijik mulai muncul kembali. Obrolan dengan Changsub tiga minggu lalu, kembali mencuat dipikirannya.

Begitu masuk ke klub, mereka diantar pelayan menuju sebuah ruangan VIP yang terletak jauh dibelakang bagian klub. Begitu masuk ke ruangan, disana sudah ada seorang pria. Masih muda untuk ukuran CEO, kisaran 30 tahunan awal hingga pertengahan. Muda, kaya, dan memiliki wajah yang lumayan, membuatnya dikeliling wanita penghibur, dan dia tahu betul memanfaatkan itu. Sambil meneguk alkoholnya, dia terus menggoda satu-satu wanita penghibur itu. Pemandangan yang menjijikkan bagi Chorong. Melihat CEO itu dikelilingi wanita ditambah tempat pertemuannya yang private di klub, perasaan Chorong langsung tidak enak.

Begitu Chorong dan Manajer Jung masuk, CEO tersebut mengusir para wanita hiburan. Mereka pun saling memperkenalkan diri. Begitu melihat Chorong, investor itu mengamati Chorong dari atas sampai bawah, lalu tersenyum lebar. Investornya itu mengenalkan diri sebagai CEO Yoo. Mereka berbasa-basi dahulu. Sebenarnya lebih banyak CEO Yoo yang bercerita, lebih tepatnya menyombongkan diri. Bagaimana beruntungnya dia lahir dikeluarga konglomerat, dan berkat kepintaran berbisnisnya, perusahaan keluarganya langsung diwariskan kepadanya ini. Manajer Jung berusaha menjilat dengan terus menanggapinya dengan kata “Hebat”, “Luar biasa”. Chorong hanya tersenyum dan sedikit tepuk tangan.

Setelah 15 menit membicarakan hal tidak penting. Mereka mulai bernegosiasi. Chorong mulai menngeluarkan kemampuan komunikasinya. Pembahasan yang cukup alot dan saling tawar menawar. Chorong berusaha yang terbaik agar besok, saat waktunya perpanjang kontrak Ia bukan ditawarkan lagi kontrak kerja, tapi pemberitahuan resmi pengangkatan pegawai tetap. Melihat kemampuan Chorong, CEO Yoo terkesan dan banyak tersenyum manis kepada Chorong dan jelas pandangannya tidak pernah beralih dari Chorong.

“Park Chorong ssi, kamu terlihat berusaha keras sekali ya hahahaha, tapi saya suka!” Ucap CEO Yoo dengan tawa penuh arti.

“Terima kasih.” Balas Chorong tersenyum namun waspada.

CEO Yoo menuangkan minuman ke dua gelas. Ia memberikannya pada Manajer Jung dan Chorong. “Ayo silahkan diminum, terutama kamu karena sudah bekerja keras dalam negosiasi ini.” CEO Yoo menunjuk Chorong. Chorong pun membalasnya dengan menuangkan minuman ke gelas CEO Yoo.

“Ah kamu perhatian sekali.” CEO Yoo mengedipkan mata. Chorong termenung sejenak. Baru kali ini dia bertemu klien yang terang-terangan tertarik padanya. Tidak ada basa-basi.

“Sebenarnya sudah lama saya tertarik untuk investasi ke perusahaan Get Beauty ini. Produk-produk kalian walau bukan nomer 1 tapi selalu menarik perhatian konsumen dengan inovasi-inovasinya. Oleh karena itu saya tertarik dengan proyek ini. Ditambah perusahaan kalian terkenal dengan banyak karyawan cantik, seperti Nona Park ini.”  CEO Yoo terus melancarkan godaannya kepada Chorong. CEO Yoo yang terang-terangan ini tentu membuat Chorong tak nyaman.

“Hahahaha terima kasih CEO Yoo.” Sahut Manajer Jung senang karena Chorong sesuai dengan selera investornya itu.

“Sesuai dengan negosisi tadi, oke coba kalian tulis kontraknya, tapi ada syaratnya.”

“Apa?”

“Nona Park, bisa tolong mendekat?” CEO Yoo menepuk sofa disebelah kirinya. Chorong melirik Manajer Jung, dan Manajer Jung hanya melotot pada Chorong, menyuruhnya untuk menurut, bahkan Manajer Jung mendorong Chorong untuk mendekat. Chorong pun duduk disebelah CEO Yoo. CEO Yoo memegang wajah Chorong dan membolak-baliknya, memperhatikan detail wajahnya. Chorong makin merasa sebal, namun berusaha menguatkan dirinya. Mengingatnya kalau ini demi status pegawai tetap yang sudah didepan mata, dan juga komisi yang didapat jika kontrak ini benar-benar berhasil.

“Model produk ini nantinya dalah Park Chorong ssi. Dia punya kulit yang bagus.”

“Model?” Kaget Chorong. “Ah… anda berlebihan. Aku tidak punya wajah seorang model.”

“Jangan merendah begitu.” CEO Yoo merangkul Chorong, Reflek Chorong berusaha menjauh, namun ditahan. “Kamu itu cantik loooh. Sayang banget kalau cuman jadi karyawan biasa.”

“Eu… ya bisa diaturlah hahaaha.” Manajer Jung Nampak masa bodoh. Diotaknya yang penting kontraknya ini harus berhasil, walau harus mengorbankan anak buahnya.

CEO Yoo melepaskan rangkulannya. “Nona Park, bisa tolong tuangkan lagi minuman untukku?”

Begitu terlepas dari predator wanita, Chorong menggeser badannya mencoba menjaga jarak. Iya menuangkan minuman dengan cepat, dan memberikannya pada investornya. Namun baru juga lepas, CEO Yoo kembali merangkul Chorong. Chorong ingin lepas, namun masih Ia tahan. Ia mencoba bersabar.

Obrolan terus berlanjut. CEO Yoo tampak keasyikan dengan Chorong dirangkulannya, sesekali mengelus rambut Chorong. Kini jiwa Chorong sudah tidak berada di tempat. Dia sudah tidak fokus dengan obrolan investor dan atasannya itu. Ia mulai merasa marah. Benar-benar kesal dan tak menyukai hal ini. Ia sungguh tidak nyaman diperlakukan seperti ini. Demi mendapatkan nilai investasi yang besar, Ia harus melakukan hal yang enggak beda jauh dengan wanita penghibur yang tadi menemani CEO Yoo. Ia membiarkan badannya dipegang-pegang. Dalam dirinya terasa memberontak dan terjadi konflik batin. Sebagian dirinya mengatakan untuk bertahan, demi kesejahteraan hidupnya kelak, namun sebagiannya yang lain memintanya untuk keluar dan melawan.

CEO Yoo makin berani. Selain merangkul, Kini tangan kanannya, mulai menyentuh paha kanan Chorong yang sedikit terlihat karena rok pendeknya. Chorong menggunakan tangan kanannya, mencoba untuk menggeser tangan CEO Yoo dari pahanya, namun tenaga CEO Yoo lebih besar, sehingga tangan CEO itu tetap berada dipahanya. Chorong makin tak nyaman dan panik. Ia meremas roknya. Ia teringat akan Changsub, jika melihat hal ini, pasti Ia akan langsung bertindak. Kali ini dia harus bisa mengatasinya sendiri. Ia berpikir bagaimana cara amannya, dia tetap selamat dari predator, namun nasib pekerjaannya juga tetap aman.

Dipikir berkali-kali pun tak ada win win solution. Dia kalau menyelamatkan diri dan harga dirinya pekerjaannya terancam. Namun jika ingin pekerjaannya selamat, Ia harus merelakan dirinya. Chorong tak rela harus mengorbankan dirinya sampai segitunya. Kini Ia benar-benar merasa amat terhina. Ia benar-benar benci diperlakukan seperti ini. Amat tidak nyaman badannya terus disentuh pria kotor itu. Obrolan dengan Changsub semakin terbayang dibenaknya. Permintaan Changsub untuk berhenti melakukan pekerjaan sia-sia ini. Ucapan Changsub kalau dirinya terlalu berharga untuk melakukan ini. Kalau dia punya kemampuan yang layak terus terngiang dalam pikirannya. Ia benar-benar galau dan bingung.

“Hm.. Nona Park besok malam kau kosongkan?” Pertanyaan CEO Yoo membuyarkan lamunan Chorong.

“Eu iya… kenapa?”

“Manajer Jung coba besok buatkan kontrak yang tadi telah kita sepakati. Besok Nona Park temui aku di Hotel King untuk tanda tangan.” Perintah CEO Yoo dengan senyum menggoda dan senang. Tampak otaknya mulai berkhayal jauh.

“Ho…hotel? Aku dengan manajer Jung kan?” Tanya Chorong memastikan. Hotel? Dengan pria haus belaian untuk Tanda tangan kontrak?

“Ah tanda tangan kontrak, cukup kamu saja yang datang. Tak apa kan Manajer Jung?”

“Hahahaha tak masalah.”

CEO Yoo memegang wajah Chorong, “Yang cantik ya besok.”

Seperti mendengar petir di siang hari yang cerah. Bagai saljut yang turun di musim panas. Chorong benar-benar syok. Sungguh jika ada kata yang lebih hebat dari syok, Ia akan gunakan kata itu. Emosinya kini mencapai tepi batas. Konflik batin pun akhirnya berakhir. Hati dan otaknya kini benar-benar selaras. Ia sudah muak dengan semua ini. Ia sudah eneg dengan perendahan harga dirinya. Chorong sudah tak tahan dengan budaya kerja perusahaannya yang mengorbankan wanita demi kelancaran bisnis. Hal gila macam apa, Ia harus benar-benar “melayani” predator wanita demi nilai investasi.

Chorong seketika melepaskan dirinya dari CEO Yoo dan berdiri. Ia menghadapkan badannya ke Manajer Jung. “Cukup! Maafkan Manajer Jung, tolong hentikan. Saya sudah tidak bisa menahan lagi!”

Manajer Jung menanggapinya dengan santai ddan tertawa kecil. “Hahaha apa maksudmu? Enggak usah melawak gitu dong.”

“Saya sudah lelah direndahkan seperti ini. Saya muak. Saya tidak mau lagi bekerja karena penampilanku. Saya ingin bekerja karena memang mampu. Saya seorang staf marketing, bukan pelacur.” Ucap Chorong tegas. Rasa muaknya selama berbulan-bulan membuatnya menjadi tegas dan berani menghadapi atasannya itu.

“Kamu gila? Kamu mau kontrakmu besok tidak diperpanjang?”

“Sebelum kontrakku diputus. Saya besok akan mengirim surat pengunduran diri.”

 Manajer Jung tertawa lagi. Kini lebih keras. “Hahahahaha. Mengundurkan diri? Hahaha memang kamu sanggup membayar pinalti?”

“Maaf Manajer Jung anda salah. Saya tidak melanggar kontrak, karena saya mengundurkan diri dihari kontrak saya habis. Saya telah melaksanakan kontrak, jika saya mau mengundurkan diri tak masalah, karena kontrak saya sudah habis. Saya sudah tidak mau bekerja diperusahaan yang tidak bisa menghargai karyawan wanitanya. Saya akan mencari perusahaan yang mempekerjakanku karena kemampuanku. Bukan fisikku seperti disini.”

“Bekerja diperusahaan lain? Kamu bercanda hahahaha. Kamu butuh rekomendasiku. Kalau kau keluar begitu saja, aku takkan menulis rekomendasi untukmu hahaha.”

DEG! Ancaman Manajernya memang selalu ampuh untuk menakuti dirinya. Bisa gawat jika dia tak dapat rekomendasi dari Maajernya. Jika Ia melamar ke perusahaan lain, bisa-bisa Ia takkan dapat diterima terus-menerus karena tak punya rekomendasi ditempat kerjanya sebelumnya. Keraguan muncul namun rasa itu tertutupi kembali oleh amarah dan rasa muaknya. Ia takkan gentar.

“Saya masih bisa mendapat rekomendasi dari pihak HRD. Anda tak usah menakuti saya. Cukup sudah harga diri saya ditindas.”

Manajer Jung berdiri berjalan mendekati Chorong. “Harga diri? Sadarlah! Kalau kau ingin bertahan hdup, buang harga dirimu itu!” kepala Chorong ditoyor. “kau harusnya berterima kasih ku ajak selalu. Padahal selangkah lagi kamu akan menjadi pegawai tetap, tapi kau buang begitu saja. Harga diri takkan bisa menyelamatkanmu!”

“Saya tidak ingin menjadi manusia rendahan. Harga diri setidaknya membuat saya menjadi lebih manusiawi dan layak.” Chorong menelan ludah. Ia tak yakin dengan ucapannya, namun ia harus mempertahankan argumennya. Ia harus tidak terlihat tak mau lagi direndahkan.

Manajer Jung mendekatkan mukanya ke muka Chorong. Ia berbisik “Kamu harus tahu, apa yang dikatakan tadi, harga dirimu tidak ada apa-apaya dibanding nilai investasi, itu bukan bercanda.”

Rasa tak yakin Chorong kini kembali memadam. Giliran emosi dan harga dirinya yang muncul. Perkataan Changsub langsung terlintas dan menguatkannya untuk melawan, “Anda salah, Manajer Jung. Saya ini jauh lebih berharga dibanding investasi. Saya ini manusia bukan komoditas!”

Chorong lalu pamit membungkuk pada Manajer Jung. “Terima kasih atas bimbingannya selama saya bekerja. Walau anda memperlakukan saya rendahan, tapi saya mendapat ilmu-ilmu nyang bermanfaat. Terima kasih.”

Chorong pun tak lupa pamit kepada CEO Yoo. “Maaf CEO Yoo, tapi saya tidak ingin menjadi korban predator seperti anda. Terima kasih atas pujiannya.”

CEO Yoo hanya diam tak berkedip menanggapi ucapan Chorong. Dari tadi pun dia hanya diam melihat perseteruan Chorong dan Manajer Jung. Manajer Jung pun hanya bisa memukul meja melihat Chorong pergi. CEO Yoo berdecak menggeleng-gelengkan kepala, lalu pergi meninggalkan Manajer Jung. Manajer Jung pun berusaha mengejar CEO Yoo, berharap negosiasi tadi masih berlaku.

Chorong berjalan cepat keluar dari klub. Dia berusaha berjalan tegak dan penuh percaya diri, namun begitu tiba di luar klub, kakinya langsung melemas, dan jatuh tersungkur ke tanah. Orang-orang yang lewat langsung melihat dirinya, dan beberapa ada yang menghampiri berusaha menolong. Khawatir Ia tak baik-baik saja, namun Chorong dengan cepat berdiri dan mengatakan Ia baik-baik saja. Disebelah klub alam ada sebuah minimarket. Chorong berjalan ke minimarket dan duduk di depan bangku minimarket tersebut. Badannya benar-benar terasa lemas dan bergetar. Ia mengobrak-abrik tasnya mencari ponselnya. Ia langsung menekan angka 5 dan membuat panggilan.

“Changsub ah, eoddiga?” Tanya Chorong dengan nada bergetar.

“Di jalan. Eh di rumah enggak? Aku mau kesana.” Jawab Changsub.

eoddiga?” Suara Chorong makin bergetar. Nada panik terdengar begitu jelas. Changsub akhirnya menyadari ada yang tidak beres.

neo, wae geurae? Eoddiga?  Na Samseongdong.” Sahut Changsub khawatir.

“Cepatlah ke minimarket sebelah klub party Cheondamdong. Palli wa!” Histeris Chorong.

Mendengar Chorong histeris, Changsub tahu ada hal serius yang terjadi. Ia langsung menancapkan gas mobilnya. Tak butuh waktu lama, jarak yang tidak begitu jauh, 15 menit pun Changsub tiba ditempat Chorong berada. Begitu selesai memarkirkan mobilnya. Changsub berlari menghampiri Chorong. Tampak Chorong sedang menunduk dengan meremas-remas botol mineral yang sudah kosong. Chorong memiliki kebiasaan, jika merasa begitu panik dan ketakukan akan langsung menghabiskan sebotol air mineral. Oleh karena itu, melihat botol itu kosong, Changsub yakin betul ada yang tidak beres.

Changsub menarik kursi dihadapan Chorong dan mendudukinya. “Ya, Chorong ah, wae?”

Wajah Chorong terangkat. Mukanya benar-benar berantakan. Kacau. Matanya sudah berkaca-kaca. Tersenggol sedikit, air mata itu pasti langsung mengalir deras.

“Changsub ah… katakan padaku semuanya baik-baik saja. huhuhuhu” Benar saja begitu Changsub ada, Chorong langsung menangis. Ia benar menangis sesegukan dan nafas tidak teratur. Changsub menggeserkan kursinya menjadi disebelah Chorong.  Ia merangkul Chorong untuk menenangkan Chorong. Changsub penasaran dan khawatir dengan apa yang terjadi, namun Dia menahan diri untuk bertanya. Ia biarkan Chorong meluapkan emosinya kedalam tangisan. Chorong butuhkan adalah teman dan tempat untuk bersandar.

Setelah lima menit, tangis Chorong agak reda. “Changsub ah, apa yang kulakukan sudah benar kan? Iya kan?”

Changsub bingung dengan ucapan Chorong. “Hah? Kamu memangnya melakukan apa?”

Chorong pun menceritakan kejadian tadi. Mulai dari ucapan Manajer Jung merendahkannya, lalu pelecehan yang dilakukan CEO Yoo, dan pada akhirnya Chorong meledak karena sudah tak sanggup mendapatkan perlakuan seperti itu. Changsub merasa marah mendengar cerita Chorong, terutama bagian dia dilecehkan. Dia paling benci melihat wanita dilecehkan, apalagi kini sahabatnya sendiiri menjadi korban. Seandainya dia berada disana, pasti sudah dihajar orang itu.

“Tolong katakan semuanya baik-baik saja. apa yang kulakukan sudah benar!” Chorong kembali terisak.

Changsub mengelus pundak Chorong. Berusaha menguatkan. “Gwaenchana, jaldoel goeyo. Semuanya enggak akan apa-apa. Kamu sudah lakukan hal benar. Kamu harus melawan itu. jangan mau direndahkan demi pekerjaan. Nasib dan rezeki sudah ada bagiannya masing-masing. Enggak apa-apa. Kamu sudah benar!”

“Aku muak! Kenapa wanita diperlakukan seperti komoditas! Aku ini manusia! Aku ini berharga! Jauh lebih bernilai dari benda apapun, dari proyek manapun! Aku kesal kenapa aku mau direndahkan seperti ini berbulan-bulan?! Aku ingin diakui kalau aku layak menjadi karyawan mereka. Aku ingin dihargai kemampuanku, bukan fisikku! Aku ingin dihargai layaknya manusia. Layaknya karyawan!” Chorong masih terus terisak ditengah curhatannya.

Changsub mengeluarkan botol minumnya, agar Chorong lebih tenang dalam bercerita. Dia yang hanya mendengar nafas Chorong yang tak beraturan karena menangis sambil bercerita saja merasa lelah, apalagi Chorong. Chorong menerima minuman itu, dan meneguknya dengan lahap. Chorong lanjut mengungkapkan isi hatinya “Aku merasa lega aku bisa melepaskan diri, tapi Changsub… aku takut… aku takut enggak bisa mendapatkan pekerjaan lagi…si manajer keparat itu tak mau memberiku rekomendasi huhuhu”

“Tenang. Kamu bisa mendapatkannya kok. Tuntut saja!” Usul Changsub.

Chorong menggeleng. “Tak semudah itu! butuh waktu! Rumit! Aku belum tentu menang.”

“Enggak usah tuntut ke hukum. Tuntut lewat gertakan saja. Atasanmu itu tipe yang mudah digertak. Ancam saja kau akan mengangkat masalah ini ke media, pasti dia takut.”

“Sesulit itukah untuk bertahan hidup?” Chorong membenamkan wajahnya ke bahu Changsub. Ia melanjutkan kembali tangisannya. Changsub pun memeluk Chorong. Chorong yang merasa kalut, lega, ketakutan, marah, itu semua akan mereda dengan pelukannya. Setidaknya memberi rasa aman dan nyaman, dan masih ada orang yang mendukung keputusannya.

“Enggak apa-apa. Kamu berani keluar dari itu semua. Enggak usah takut tidak akan dapat kerjaan. Kamu pasti bisa. Kamu punya kemampuan, ditambah punya pengalaman. Kamu sudah punya bagian kamu sendiri kok masalah rezeki dan nasib. Hari baik pasti akan datang. Kamu enggak mungkin sial terus. Kamu akan mendapat yang lebih baik, dan menghargaimu karena kemampuanmu, bukan fisikmu. Sudah enggak usah takut, sedih. Kamu sudah melakukan dengan baik. Kamu itu manusia. Bukan komoditas. Jangan mau diperlakuan seperti itu. direndahkan. Terhina. Kamu terlalu berharga untuk itu semua.” Masih dalam pelukan Changsub, kepala dan pundak Chorong terus dielus agar terus merasa nyaman dan tenang. Hati Chorong terasa membaik setelah meencurahkan semuanya kepada sahabat terbaiknya itu.

Chorong menghentikan tangisannya. “Gomawo, Changsub ah. Kau sekarang harus kembali sering-sering mentraktirku.”

Call!” Angguk Changsub. “Ah iya… aku tadi kan mau ke rumah kamu, mau ngasih tahu. Teman SDku ternyata ada yang baru start up perusahaan gitu, tapi dia sudah lumayan stabil kok. Dia lagi butuh public relation. Kan sesuai tuh sama jurusan kamu. coba saja dulu kalau mau. Lumayan untuk menghidupi kesahrian sambil nunggu yang lebih baik lagi.”

Chorong langsung melepaskan pelukan Changsub. “jinja? Really?”

Reallllllllly…..” angguk Changsub semangat. “Belum tentu diterima sih kamunya, tapi ya dicoba dulu saja.”

“Kamu memang terbaik Lee Changsub!” Chorong kembali memeluk Changsub karena berterimakasih.

“Lee Changsub!” Changsub memukul dadanya karena bangga dengan keras. Saking kerasnya hingga menyakiti diri sendiri, dan membuat ekspresi wajahnya tidak terkendali. Chorong tertawa melihati itu.

“Duh…. Sakit.” Changsub mengelus dadanya. “Secangkir kopi ya kalau kamu keterima.”

“Baiklah! hahahaha” Chorong kini mulai membaik. Ia sudah bisa berseri kembali.

“Nah gitu dong ketawa! Enggak usah sedih. Ingat pokoknya kamu harus bekerja di tempat yang menghargaimu. Yang menerimamu karena kemampuanmu, bukan karena fisikmu. Niscaya hal itu takkan terulang lagi. Jangan sampai!”

Chorong memberi hormat pada Changsub. “Siap komandan!”

“Ingat, kamu terlalu apa?”

“Terlalu berharga hahahaha.”

good girl!” Changsub mengelus kepala Chorong.

Setiap manusia dinilai bukan karena fisiknya, tapi karena dirinya dan kemampuannya. Semuanya punya value sendiri, dan tak ternilai dengan harga, karena saking berharganya. Harga diri membuat manusia jadi lebih manusiawi, dan tidak ada yang siapapun patut direndahkan. Chorong mempelajari hal itu walau mungkin Ia harus melewati fase sedikit penurunan dan keterpurukkan lagi, namun Ia –akibat dorongan Changsub–  percaya hari baik pasti akan datang. Roda itu berputar.

—The End—

Friday, March 10, 2017

12:16 AM

Finally, setelah berakhir-akhir ku struggle menyelesaikan ini. Giiils udah lama banget aku enggak bikin FF sepanjang ini. Niatnya mau singkat, tapi ternyata enggak bisa. Maaf ya buat changrong shipper, aku disini bikin Chorong dan Changsubnya murni temenan hahaha. Aku enggak mau menodai slice of life ini dengan romance. Aku ngeshipp mereka baik sebagai sahabat maupun lovers wkwkwk soalnya ada bibit-bibit friendzone *sok tahu*. Baper sendiri kalau ihat momen mereka, apalagi yang call prank di Yang and Nam Show :””. Ya kalau jodoh ya syukur, kalau enggak yaudah enggak apa-apa, yang penting tetep deket, sobatan. Ada rencana sih mau bikin FF romance mereka, tapi aku masih ada bahan lain dengan tokoh lain yang harus kukerjakan wkwkwk. Maafin ya kalau agak bingung ama ceritanya dan agak enggak nyambung. Pokoknya mah jangan mau direndahin deh sekeras apapun hidup kita. Uang belum tentu bisa beli kebahagian *masih naif anaknya, polos ceritanya*. Udah ah kebanyakkan pesan enggak penting. Kembali ke template. MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~

 

 

Iklan

2 thoughts on “[FF] VALUE

  1. Hai salam kenal 🙂 Aku menikmati ff ini karena mampu terhindar dari romance dengan sangat baik wkwkwkw. BTW aku juga lagi cinta-cintanya sama Changsub dan kalo boleh jujur sepertinya gak banyak yang bikin ff tentang dia, jauh beda sama Kyuhyun, hahaha. Slice of Life nya enak dibaca. Saran dari aku sih, author lebih perhatiin eyd sama penggunaan bahasanya, biar full baku atau gak baku, soalnya disini masih setengah-setengah. Tapi aku menikmati kok. Terus berkarya! Hwaiting!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s