[REVIEW] THE LIAR AND HIS LOVER

Musik bisa menggambarkan berbagai acam situasi. Selain itu musik juga bisa menghubungkan kita dengan berbagai macam orang. Melalui musik juga kita bisa membangun hubungan pertemanan, kekeluargaan, bahkan rasa cinta. Drama The Liar and His Lover ini setidaknya mencoba menggambarkan hal-hal tersebut.

Drama yang bergenre romance, musical ini menceritakan seorang pemuda jenius musik, Kang Hangyeol. Dia merupakan seorang produser musik untuk sebuah band terkenal, Crude Play. Dia membuat musik terinspirasi dari suara-suara yang Ia dengar. Suatu hari Ia bertemu dengan seorang siswi kelas 3 SMA, Yoon Sorim yang memiliki suara indah dan bermimpi berkarir di dunia musik bersama anggota bandnya yang lain yang juga temannya sedari kecil, Baek Jinwoo dan Lee Kyusun. Sorim jatuh cinta pada pandangan pertama pada Hangyeol. Berbeda dengan Hangyeol, mulanya Ia mendekati Sorim hanya untuk kepentingan tertentu, sampai akhirnya Ia mendengar suara nyanyian Sorim. Hangyeol akhirnya mulai jatuh cinta pada Sorim. Bagaikan takdir pula, mereka bekerja sebagai musisi di sebuah perusahaan yang sama. Konflik anak muda dimulai lah saat Sorim meniti karir bersama teman-temannya sebagai Mush&co, sedangkan Hangyeol dan rekanya di Crude Play Seo Chanyoung berebut untuk menjadi produser bagi Sorim.

Awalnya aku enggak begitu tertarik nonton drama 16 episode ini. Saat membaca plot awalnya, aku merasa ah biasa saja. Lalu aku merasa mulai lelah dengan drama-drama yang berat. Akhir-akhir ini sebagian besar drama korea, walau bilangnya romcom, tapi tetap ada unsur thriller atau misterinya. Aku capek nonton drama yang begituan. Aku ingin drama yang benar-benar ringan, yang enggak usah mikir sama sekali. Aku hanya ingin menonton drama manis dan penuh lovey dovey. Setelah membaca komenan para Beannies, aku memutuskan untuk mengambil drama ini sebagai tontonan.

Drama yang cukup menyenangkan bagiku. Ringan tanpa perlu mikir. Lagu-lagunya juga cukup memanjakan telinga, apalagi suara Joy sebagai Sorim. Drama ini tuh remaja banget sih. Konflik cintanya sederhana saja, enggak terlalu banyak gangguan orang ketiga. Ya hanya kesalahpahaman sederhana yang enggak penting lah. Agak greget melihat kisah percintaan Hangyeol dan Sorim karena Hangyeol yang terus menyakiti Sorim dengan kebohongannya. Drama anak muda lah pokoknya, bright, cheerful, lovely 3 hal yang pati dirasakan setelah menonton drama ini.

Drama ini kan diadaptasi dari manga jepang. Di Jepangnya sendiri cerita ini sudah diangkat ke film layar lebar. Kalau sudah adaptasi begini pasti banyak yang membandingkannya antara adaptasi dan original. Seperti biasa, versi original biasanya lebih disukai, baik dari jalan cerita dan juga akting. Aku sendiri belum nonton yang versi film Jepang, jadi enggak tahu lebih menarik yang mana. Cun buatku yang hanay nonton versi drama koreanya, aku sudah cukup menyukai drama ini. Enggak terlalu masalah dengan jalan ceritanya.

Konfliknya enggak cuman masalah percintaan doang, tapi ada masalah pertemanan, hubungan rekan kerja, lalu konflik dengan industri musik itu sendiri. Kita jadi tahu dibalik layar produksi sebuah lagu dan sebuah grup itu kayak apa. Apa saja yang harus dikorbankan. Apa saja yang harus dilihat dan dpersiapkan. Disini juga kita bisa melihat konflik batin seorang Direktur musik, seperti CEO Sole Music Label, Choi Jinhyuk , Dia yang lulusan sekolah musik, tentu punya idealisme tersendiri akan musik. Cuman sebagai seorang CEO dia tentu perlu berpikir keuntungan, sehingga dia memakain jalan pintas kepada Mush&Co dan juga Crude Play untuk menggunakan pemain pengganti. Disini aku baru tahu ternyata alat musik juga bisa “lipsync”. Berbeda dengan CEO Who Entertaiment yang membawahi Sole Music Label, Yoo Hyunjung, Dia otaknya, sudah otak bisnis jadi yang dia pikir hanyalaah keuntungan. Mengambil orang paling berbakat sehingga tak perlu keluar uang banyak untuk melatihnya, dan bisa mendapatk keuntungan bear karena bakat orang tersebut. Berbeda dengan Direktur Choi yang masih mau mengambil orang yang perlu dilatih. Dia masih mau mengembangkan orang-orang tersebut karena melihat potensi. Terkadang keputusan dia memang tampak menyebalkan dan terlihat terburu-buru, bahkan merugikan anak asuhnya. Menurut CEO Yoo, saja Dia itu tidak konsisten. Cuman yang aku suka, karena dia tetap memiliki jiwa musisi, sehingga Ia bisa mengerti anak asuhnya, dan berusaha memperbaiki hal itu.

Lalu jangan lewatkan untuk menginvestasikan harapan kalian pada hubungan antara member Crude Play. Ini salah satu bagian favoritku. Kita bisa emlihat persahabatan yang benar-benar terjalin. Berhubung isinya pria-pria. Tentu wajar saja sering terjadi perselisihan. Saling ribut, maki, bahkan berkelahi. Hanya aja cowok mah enggak dibawa baper, enggak kayak cewek. Mereka besoknya baikkan lagi, seperti tak terjadi apa-apa pada hari kemarin. Sebesar apapun keributan antar member, terutama pada Hangyeol, tidak akan berpengaruh pada persahabatan yang telah mereka jalin bertahun-tahun. Seperti konflik antara Chanyoung dan Hangyeol. Selian konflik cinta, mereka juga terlibat konflik sebagai produser. Cuman sehebat apapun konflk mereka, hubungan pertemanan mereka enggak terganggu. Mereka juga tetap saling mengakui kehebatan masing-masing.  Aku pikir konflik yang terjadi pada mereka akan bikin mereka putus hubungan atau saling membenci seperti makjang-makjang pada drama korea umumnya. Ternyata enggak sama sekali. Mereka tetap berkomunikasi seperti teman biasa. Kalau konflik sedang emmanas, mereka hanya saling sindir, dan sedikit sikut-sikutan. Selebihnya biasa saja. thanks drama god! Mereka enggak usah musuhan hanya karena hal itu. that’s why I like this drama.

Hal menarik untuk dikupas antara hubungan member Crude Play adalah hubungan Chanyoung dan member Crude Play. Chanyoung awalnya ada pemain pengganti Bass untuk Hangyeol. Namun Hangyeol akhirnya memilih mundur dan menjadi produser untuk Crude Play, sehingga Chanyoung ditarik menjadi member Crude Play. Awalnya, member Crude Play yang lain tak menerimanya. Ya maklum saat itu mereka masih muda, tapi tak butuh waktu lama mereka menerima Chanyoung. Disitulah Chanyoung merasa tersisihkan. Ia merasa kalau dirinya hanyalah pengganti. Ia merasa bukan bagian Crude Play, karena member yang lain sudah berteman dari lama, seedangkan Ia hanyalah orang baru yang menggantikan Hangyeol. Ditambah saat masalah leaked video member Crude Play latihan, tapi memakai bass permainan Hangyeol. Disitu Chanyoung makin merasa tersisihkan dan dianggap. Padahal selama ini hanya kesalahpahaman dia. Member Crude Play yang lain termasuk Hangyeol tak merasa Chanyoung adalah pengganti. Mereka menganggap Chanyoung adalah sahabat mereka, bagian dari Crude Play. Bahkan masalah video latihan mereka tak menggunakan Bass Chanyoung, demi kebaikan Chanyoung dan Crude Play, bukan karena mereka ingin bermain dengan Hangyeol. Leader Crude play, Yoo Sihyun pun meminta maaf jika dulu sikap awal mereka tidak menerima Chanyoung. Tapi itu hanya diawal. Saat debut pun Sihyun sudah menerima Chanyoung sepenuh hati. Chanyoung sendirilah yang membangun benteng diantara mereka. Selama ini hal seperti itu hanya ada dipikirannya. Dia hanya merasa tidak percaya diri dan tak enak karena merasa sebagai orang luar tiba-tiba masuk. Dia hanya butuh pengakuan dan kepercayaan baik dari Direktur Choi tentang masalah produser untuk Mush&Co dan juga dari teman-teman Crude Playnya. Untunglah Chanyoung pada akhirnya mengerti dan mendapat kepercayaan itu.

Hubungan yang terjadi di Crude Play ini tampaknya memang menggambarkan kehidupa di industri kpop. Ada member yang cuman trainee bentar terus langsung join grup. Otomatis hubungan ddia tidak sedekat member yang lainnya, dan merasa canggung. Kita jadi tahu ternyata dibalik hubungan mereka yang tampak manis di depan kamera, mereka banyak struggle juga untuk maintain hubungan mereka agar tetap terjaga. Itu seru banget untuk sebagai cerita tersendiri.

Di drama ini juga seperti manga-manga di Jepang pada umumnya sih. Enggak ada karakter yang benar-benar antagonis. Setiap karakter punya sisi loveable dan sisi menyebalkannya. Karakter yang mungkin enggak banyak disukai adalah Chae Yoona, Direktur Choi, dan CEO Yoo. Mereka cukup banyak menonjolkan sisi menyebalkannya, tapi aku enggak bisa membenci mereka. Aku pikir Yoona akan menjadi bitchy second lead. Ternyata enggak sama sekali. Memang sih berakhir hubungan Yoona dan Hangyeol tidak baik-baik saja, dan Yoona tampak belum bisa lepas dari Hangyeol sehingga Dia tidak menyukai Sorim. Cuman dia masih bersikap baik terhadap Sorim. Dia mengatasinya dengan dewasa. Lalu Direktur Choi pun dibalik sikap terburu-burunya, tapi dia masih ingin mempertahankan anak asuhnya agar tidak direbut orang. Dia berusaha untuk tidak melukai mereka semua. CEO Yoo juga walau bisnis banget, tapi aku tuh kayak ngerti kenapa dia bersikap begitu. Lalu kalau dia sudah dihadapan Ayah Hangyeol, Kang Inwoo. CEO Yoo berubah menjadi orang yang manis dan kita memiliki rasa simpati padanya. Karakter drama ini tuh manusiawi semua.

Perkembangan karakternya juga berasa pada setiap karakter, terutama Hangyeol. Dia dulu karena terlalu fokus dengan musik, dia terlalu memikirkan dirinya sendiri, sehingga tanpa sadar menyakiti banyak orang. Mulai dari Crude Play, Yoona, hingga Sorim. Setelah menjaln hubungan dengan sorim, Ia belajar untuk tidak terlalu berfokus pada dirinya dan musik. Ia mencoba mengerti orang lain dan membuat musik yang cocok untuk mereka. Bukan cuman membuat musik yang ingin Ia dengar. Lalu Sorim juga belajar menjadi lebih dewasa dan mencoba untuk lebih mengerti. Jika dulu Ia marah dan cemburu melihat Hangyeol dan Yoona, kini Ia mencoba lebih tenang. Lalu mulai terbiasa menjalani kehidupan sebagai artis, tidak bisa kencan dengan bebas. Awalnya aku kurang sreg dengan karakter Sorim. Dia begitu kekanakkan. Dikit-dikit sedih, fantasi tinggi, berapa  kali enggak bersikap professional. Cuman aku ingat, dia baru berumur 19 tahun (umur Korea). Dia masih remaja yang penuh kelabilan, jadi wajar beberap sikapnya tidak dewasa. Seiring berkembangnya drama, kedewasaannya cukup bertambah, walau tetap masih ada sifat anak-anaknya. Lagipula enggak masalah, dia masih muda.

Berhubung ini drama musikal, kamu enggak bisa mengabaikan msuik yang mengiringi drama ini. Musik-musiknya enak-enak apalagi OST yang dinyanyiin Joy. Enak semua huhuhu. Suara Joy pas banget, renyah banget. SM beri dia line lebih banyak juseyoooo. Musiknya tuh menenangkan tapi terasa lovely. Pokoknya drama ini memang enggak akan lengkap dengan OSTnya. Wajib dengar semua OSTnya. Dijamin bakalan ketagihan hehehehe.

Satu lagi keunggulan drama ini, berhubung ini berassal dari sutradara TvN yang memang terkenal karena sinematografinya yang indah, begitu juga dengan drama ini. Sinematografinya bagus banget. Mana syutingnya mereka lagi cherry blossom. Bagus-bagus pemandangannya. Tone dramanya juga enak banget dilihat. Terasa menenangkan. Mata terasa dimanjakan pokoknya mah.

Drama ini enggak luput dari kekurangan. Pertama aku merasa masalah trauma Srim itu enggak penting. Soalnya enggak diceritakan detailnya. Tibat-tiba dia bisa mengatasi hall itu weh. Trauma dia itu berasa cuman jadi alasan dia kenapa enggak bisa tampil baik di depan panggung. Kalau mau kayak gitu harusnya lebih detail lagi, terus diperlihatkan strugglenya Sorim dalam mengatasi traumanya itu. Apa penyebab dia sembuh. Aku sempat ngira gara-gara Hangyeol, tapi enggak juga tuh. Kan selama ini dia bisa tampil dengan tenang karena boneka bikinan ibunya, tapi saat dia sudah menjadi artis, boneka itu kenapa enggak diperlihatkan lagi huhuhuhu.

Hubungan antar member Mush&Co nya juga kurang digali nih. Aku ingin mereka persahabatan mereka dgali juga macam Crude Play. Kita cuman tahu mereka teman dari kecil. Sama-sama memiliki passion di musik, dan Jinwoo menyukai Sorim. Kenapa enggak digali lebih lanjut lagi tentang kehidupan Jinwoo dan Kyusun. Screen time mereka sedikit banget. Kyusun cuman diceritakan punya pacar Sejung yang memanfaatkannya agar bisa dekat dengan Chanyoung. Padahal sedikit ceritakan tentang keluarga atau apalah tentang mereka sedikit mah. Dengan durasi 16 episode, aku rasa pasti cukup.

Hal yang cukup menganggu adalah chemistry dan akting sih. Drama ini diisi dengan banyak pemain baru, jadi aku memang not expect too much. Aku enggak begitu kecewa sih sama akting para pemainnya. Mereka enggak wow sih, tapi bermain cukup baik. Ya at least emosi dan perannya tersampaikaan dengan baik. Lee Hyunwoo juga aku merasa dia enggak terlalu wow. Aku terakhir nonton dia di To The Beautiful You, dan itu sudah lama banget haahaha. Seinget aku sih dia fine sih. Disini juga baik-baik saja sih, tapi aku merasa ada yang kurang enggak tahu apa tapi. Selain itu karena mukanya dia baby face jadi agak aneh dia meranin tokoh yang dewasa, karena biasanya dia meranin anak SMA. Padahal perannya kali ini sesuai ama usianya 25 tahun hahahaha. Ya tapi aku berharap setelah ini dia bermain peran yang dewasa lagi, bukan anak sekolahan.

Akting sih memang Joy yang agak mengkhawatirkan. Pas pengumuman castnya, saat tahu Joy jadi first lead untuk akting pertamanya, aku langsung khawatir. Ingin berkata “andwaeeee”. Sebagai Reveluv aku khawatir karena Joy itu orang baik, menyenangkan. Aku enggak mau dia dibash gara-gara aktingnya. Jujur aku enggak yakin akting dia bagus. Mengingat hanya segelintir idol dari SM yang aktingnya benar-benar bagus. Hanya sedikit idol actor yang langsung jadi pemeran utama di akting pertamanya, dan aktingnya bagus. Aku mencoba positif, siapa tahu dia bisa kayak Eunji di Reply 1997 yang banyak diragukan, tapi ternyata bermain dengan bagus.

Tanggapan knetz pada akting Joy beragam sih. Ada yang bilang bagus, ada yang bilang enggak banget. Kalau menurutku, Joy memang ada potensi, tapi dia belum first lead material. Di beberapa adegan dia memang bagus. Seperti adegan marah, senang, manja, atau jatuh cinta kepada Hangyeol, Cumana da beberapa yang awkward apalagi adegan sedih dan nangis. Emosinya enggak ada. Air matanya sih sudah bagus, tapi ekspresinya awkward dan emosinya kurang dapet. Dia untuk ukuran support cast would be fine, but for female lead, I don’t think she’s ready enough. Awalnya sebelum nonton drama ini aku bertanya-tanya kenapa mereka ngecast Joy. Memang enggak ada apa rookie actress yang bisa nyanyi dan akting? Atau Eunji kek. Dia akting bagus, suara apalagi. Namun setelah menonton drama ini aku mengerti kenapa mereka ngecast Joy. Mereka butuh yang masih muda dan bisa bernyanyi dengan timbre yang unik dan segar. Joy itu tipe suaranya unik dan memang menyegarkan. Di drama ini kan dgambarkan Sorim memiliki suara yang indah dan unik, dan Joy memang pas. Mereka ingin menunjukkan sisi musikalnya. Mungkin susah kali ya nyari aktris yang bisa akting, bersuara bagus dnegan timbre yang unik. Eunji mungkin selain terlalu tua mengingat dia seusia dengan Lee Hyunwoo, tipe sura dia powerfull penuh tekhnik. Kalau Joy lebih ke manis. Ya enggak apa-apa lah ya Joy.

Chemistry antara Hyunwoo sama Joy kurang berasa. Temanku ada yang bilang chemistry mereka bagus, tapi buatku kurang. Aku merasa mereka hanya seperti “ya kita akting sebagai sepasang kekasih”, bukan “ya kita ini sepasang kekasih.” Jadi agak terasa canggung. Bahkan chemistry Joy lebih bagus pas dia WGM an sama Sungjae. Mencapai level so so pun enggak. Enggak bikin baper gitu. Jadi setelah drama ini selesai aku tidak merasa kehilangan.

Virus SLS kembali menjangkitku di drama ini. Awalnya aku kena SLS sama Jinwoo. Lucu saja melihat dia prrotektif ke Sorim, saat sorim baru mengenal Hangyeol. Cuman karena karaternya enggak begitu dibahas jadi enggak begitu lagi. Makanya pas dia patah hati, aku ikut sedih, tapi jadi kurang nendang karena kenapa tiba-tiba satu episode ngedektin terus patah hati. Kan kurang berkembang. Saat tokoh Chanyoung muncul, barulah SLS makin berasa, karena Chanyoung baik banget. Dia memperhatikan Crude Play dan berusaha enggak menyakiti Sorim. Walau dia agak egois, tapi dia itu orang baik. Dia butuh tingkat kepercayaan diri aja. Sedih sih lihat Chanyoung enggak sempat mengungkapkan perasaannya, tapi itu memang keputusan yang baik, biar hubungan dia ama Sorim enggak canggung. Aku sedikit kecewa pas Chanyoung lagi ngedown, Sorim ngajak dia ke rumah Nenek Sorim. Memang sih niatnya untuk enghibur, tapi tujuan utamanya adalah biar Chanyoung enggak ngomong suka ke Sorim. Sorim, Chanyoung itu butuh dihibur, jadi hibur dia dengan baik. Aku pikir dia akan berbagi cerita dengan Nenek, tahunya cuman makan. Ah kecewa.

Akhir drama ini, seperti drama remaja biasanya, happily ever after. Setelah skandal besar Crude Play mereka tetap dikontrak Who Entertaiment dengan syarat yang diberikan oleh Crude Play. Direktur Choi memulai agensi baru dengan Mush&Co sebagai anak didiknya. Chanyoung tetap bisa menjadi produser bagi Mush&Co. Mush&Co juga mulai dikenal orang-orang, dan jelas Hangyeol dan Sorim tetap bisa berpacaran dengan bahagia di tempat yang tenang. Ya standar drama romance. Membahagiakan dan menenangkan. Puas sih. Cukup lah….

Keindahan drama ini akan kuberikan poin 3,5 dari 5 poin. Kalau suka drama remaja, drama ringan, apalagi suka dengan drama musikal, drama ini akan cocok sekali denganmu.

Musik memang media komunikasi yang indah~

Iklan

2 thoughts on “[REVIEW] THE LIAR AND HIS LOVER

  1. Patut dicoba nih drama!
    Thanks han riviuwnya…kalo ada bagian cerita yg bolong2 kamu tambal dg bikin fanficnya aja! Hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s