[REVIEW] CHICAGO TYPEWRITER

Hobi nonton drama tuh, jadi bikin segala drama ditonton.berhubung segalanya ditonton, jadi sudah banyak ragam cerita, alur, dan genre yang kutonton. Hal ini membuatku jadi memiliki ekspetasi yang lebih tinggi setiap ada drama baru. Akibatnya, tingkat kepuasanku pada suatu drama jadi agak sulit. Menurut orang-orang rame banget, menurutku ya rame koook. Akhir-akhir ini aku jarang kena withdrawal syndrome drama. Banyak drama yang menarik, rame, tapi cuman sedikit yang bikin aku amat berkesan pada drama itu. akhirnya ada sebuah drama yang bikin aku masih selalu terbayang-bayang setiap adegannya. Melihat pemainnya sebagai karakter drama tersebut, dan kalau ingat adegannya masih merasa emosi yang menyayat. Aaah… Chicago Typewriter when it’s end, I feel so lost…

Drama berjumlah 16 episode ini mengusung genre fantasy romance yang cukup berbeda dari drama biasanya. Bukan hal yang baru sih.. tapi idenya cukup segar. Drama ini menceritakan seorang penulis bestseller Han Seju yang selain pandai dalam menulis, Ia juga memiliki wajah tampan layaknya selebritis sehingga membuatnya memiliki banyak fans. Salah satunya adalah Jeon Seol yang sudah menjadi fans Seju semenjak Seju belum jadi penulis ternama. Suatu hari Seju pergi ke sebuah kafe di Chicago untuk acara perilisan buku terbarunya. Di kafe tersebut terdapat sebuah mesin tik tua yang berasal dari korea yang menarik perhatiannya, namun sang pemilik kafe tidak mau menjualnya pada Seju. Malamnya, mesin tik tersebut memiliki kekuataan magis, dimana Ia engetik sendiri meminta untuk dikirimkan pada Seju. Mesin tik itu pun tiba di korea dan diantarkan oleh Seol kepada Seju. Disanalah Seol dan Seju saling mengenal. Semenjak kedatangan mesin tik tersebut, baik Seju maupun Seol memiliki mimpi aneh mengenai kehidupan saat jaman revolusi korea 1930. Seju pun memutuskan untuk membuat mimpinya menjadi cerita novel. Sayangnya karena banyaknya tekanan yang terjadi dan juga mimpi yang terasa nyata, membuatnya sulit menulis. Ia pun memutuskan untuk berhenti menulis, sampai tiba-tiba kantor penerbitnya menelepon jika naskah yang Seju buat sudah masuk. Seju yang merasa tidak membuat naskah itu pun bingung, sampai akhirnya dia menemukan ada orang lain yang menjadi ghostwriter dirinya, Yoo Jinoh. Jinoh, Seju, dan Seol pun ternyata memiliki hubungan di kehidupan sebelumnya.

Aku saat membaca plot awalnya langsung merasa tertarik. Aku penasaran dengan kehidupan penulis, aku ingin tahu seperti apa. Lalu ditambah erita tentang reinkarnasi dari tahun 1930. Aku belum pernah nonton drama yang berlatarkan cerita zaman revolusi dimana jepang sedang menduduki korea. Mana yang mainnya top semua Yoo Ah-in, Im Soojung, dan Go Kyungpyo kesayangan. Mereka semua dikenal dengan akting yang bagus-bagus. Jelas makin tertariklah aku menontonnya. Penulis drama ini juga, merupakan penulis drama Kill Me Heal Me yang menjadi salah stu drama kesukaanku. Kurang alasan apalagi coba buat nonton drama satu ini.

Aku enggak menyesal telah menginvestasikan 16 jam lebih waktu dalam hidupku untuk nonton drama ini. Drama yang indah, cerita yang menarik. Kisah cinta yang dibawakan secara unik. Setiap episode selalu menjadi lebih baik dan baik. Awal cerita yang enggak tertebak dan mengejutkan. Ya lumayan lah plot twistnya agak enggak tertebak. Aku pikir unsur fantasinya hanya ada pada kisah reinkarnasi saja, tapi ternyata pada karakternya juga. Agak horror sedikit sih, tapi tidak menakutkan kok.

Aku jujur cukup kaget dengan kenyataan Jinoh sebagai ghostwriter adalah ghostwriter secara harfiah, bukan konotasi. Soalnya benar-benar enggak terbaca kalau Jinoh itu hantu. Awalnya kita mengira Jinoh adalah kiriman dari Gal Jisuk, tapi ternyata bukan, disitu aku mulai bertanya-tanya. Aku agak curiga saat Seju bilang style Jinoh terlalu tua dan saat Jinoh bilang dia jatuh cinta pad apandangan pertama dengan Seol saat di bandara setelah kedatangannya dari Amerika. Cuman aku mengabaikan fakta itu. mungkin yang lebih ngeh pasti sudah curiga kalau Jinoh itu hantu.

Kisah cinta yang unik karena dbalut dengan cerita kehidupan mereka sebelumnya di tahun 1930an. Kita jadi penasaran dengan apa yang terjadi pada tahun 1930an itu. Apa yang takdir buruk yang terjadi pada mereka. Lalu juga kenapa bisa Jinoh terjebak di mesin tik selama 80 tahun lebih. Cerita pada masa lalu itu benar-benar bikin penasaran, dan yang bikin bumbu cerita makin menarik. Aku benar-benar menikmati setiap menit yang ada di drama ini. Konflik yang rollercoaster antara tahun 30an dan masa kini benar-benar menjadi kekuatan drama ini. Cerita tahun 30an nya menjadi sayuran segar dan tidak membuat cerita monoton.

Kenapa aku bilang kisah cinta yang unik. Soalnya sebenarnya ini drama romance, tapi kita dibawa dengan kisah masa lalu, dimana di masa lalu mereka tidak dapat bersatu. Kisah tahun 1930an nya benar-benar menyayat hati. Makanya di masa kini mereka membayar itu semua. Seju yang kebingungan perasaan berdebar yang muncul apakah karena Seol atau karena Ryu Suhyeon. Seol yang ngefans parah tapi berubah menjadi sebal akrena sikap Seju yang plin plan. Aku benar-benar menikmati proses jatuh cinta mereka. Dimana Seju yang sudah tertarik tapi merasa tak yakin dan gengsi. Pada akhirnya saat Ia harus menjaga Seol akibat persyaratannya dengan Jinoh, dia benar-benar menikmati waktunya bersama Seol dan sadar akan rasa cintanya pada Seol. Seol yang memang memimpikan menjadi istri seorang penulis pun jelas enggak bisa menolak perhatian Seju. Walau disatu sisi ada yang merasa patah hati, Jinoh. Lucu sih melihat Seju yang enggak pernah berkencan, dia berapa kali bikin kesalahan, tapi selalu berhasil menutupinya dengan baik. Seju yang benar-benar tidak menutupi rasa cintanya. Seperti kata Sekretaris Kang, Seju benar-benar seperti anjing Pavlov jika sedang jatuh cinta.

Persahabatan antara Seju jinoh dan juga Seol baik di masa kini atau masa lalu sebagai Seo Hwiyoung, Shin Yool, dan Ryu Suhyeon bikin drama ini makin sedap. Kalau di masa sekarang Seju awalnya menolak kehadiran Jinoh sebagai ghostwriternya lama-lama jika Jinoh tak ada Ia merasa khawatir. Persahabatan juga terjalin pada akhirnya. Aku senang Seol akhirnya bisa melihat Jinoh sehingga mereka bertiga bisa hangout bareng tanpa masalah. Kisah persahabatan di tahun 30an juga benar-benar teruji dengan baik. Mereka saling solid dan percaya satu sama lain. Walau terdapat kisah cinta segitiga, tapi mereka, terutama Hwiyoung berusaha memendamnya demi kemerdekaan Joseon. Indah banget lihat kisah persahabatan mereka. Walau padda akhirnya Yool “mengkhianati” karena rasa cintanya pada Suhyeon, tapi Hwiyoung tidak mempermasalahkannya. Ia mengerti mengapa Yool melakukan hal itu. Ia malah tidak merasa dikhianati. Begitu juga dengan Yool yang merasa bersalah, dia pun rela dibunuh Suhyeon untuk menebus “dosa”. Suhyeon memang marah pada Yool, tapi dia juga merasa bersalah dan mengerti. Ia tetap harus membunuh Yool karrena mengkhianati aliansi pemuda Joseon. Makanya saat mau membunuh dia tak yakin. Pas bagian ini benar-benar emosional banget. Hati benar-benar teriris. Tragis tapi entah kenapa aku merasa ini indah juga.

Drama ini bikin aku berpikir dan merasa bersyukur juga. Bersyukur karena aku hidup di zaman sudah kemerdekaan. Berpikir karena ya setidaknya da sedikti kesamaan sejarah antara Korea dan Indonesia. Kita sama sama pernah dijajah jepang, dan zaman penjajahan Indonesia jauh lebih panjang, yaitu 350 thun oleh Belanda. Aku jadi berpikir juga, berapa banyak nyawa yang berkorban demi kemerdekaan. Berapa banyak keluarga yang harus saling berkhianat demi kemerdekaan. Pasti banyak juga anak muda yang berkorban baik jiwa raga perasaan demi kemerdekaan. Macam wakil presiden pertama kita, Moh Hatta yang tidak akan menikah jika Indonesia belum merdeka. Macam Hwiyoung yang tak mau menggubris rasa cinta Suhyeon demi kemerdekaan. Hwiyoung tak mau orang yang dicintainya menjadi kelemahannya di mata musuh, sehingga Ia memilih untuk tidak menunjukkan rasa cintanya, tidak sepeti Yool. Di negara kita ini juga mungkin ada juga yang seperti Hwiyoung yang mengrbankan perasaannya demi kebebasan dari penjajah. Indonesia juga dapat mencapai kemerdekaan karena perjuangan pemuda, seperti aliansi pemuda Joseon. Indonesia juga banyak organisasi pemuda yang berjuang untuk kemerdekaan. Kita benar-benar harus berterima kasih kepada mereka para pejuang kemerdekaan yang sudah membuat tanah yang bebas, yang nyaman ditinggali tanpa tekanan penjajah.

Aku sebenarnya enggak keberatan loh kalau drama ini memiliki durasi lebih panjang menjadi 20 episode misalnya, asalkan banyak mengupas pada masa 30annya. Cerita tahun 30an nya benar-benar menarik, dan aku ingin mengupas itu lebih dalam. Banyak hal yang bikin penasaran, kayak kenapa bisa Hwiyoung yang jadi ketua aliansi. Bagaimana pertemuan Yool dan Hwiyoung. Kenapa bisa Hwiyoung menyelamatkan Suhyeon remaja? Gimana sih sisi sejarahnya juga saat jepang menduduki korea. Aku belum pernah nonton drama dengan latar tahun 30an ini makanya jadi cukup penasaran. Lagipula keindahan kisahnya lebih berasa di cerita 30an. Enggak cuman latarnya saja yang indah, tapi persahabatan, perjuangan mereka diceritakan dengan indah. Kalau nonton tuh benar-benar bisa merasakan keindahan itu. ya setidaknya di episode rasa itu terobati karena di episode itu sebagian besar menjelaskan apa yang terjadi di tahun 30an. Cuman alangkah lebih menarik kalau dikupas cerita thaun 30annya. Atau mungkin bsa dibuat prekuelnya? Ah tapi kalau ada prekuelnya kebayang bakalan tragis sih. Ketragisannya itu baru bisa dibayar di masa kini huhuhuhu.

Konflik di masa kininya kurang begitu menarik. Cerita tentang stalker Seju juga berasa enggak begitu berpengaruh. Aku berharap kalau adik kaka itu ada di masa lalu, biar jadi ada hubungannya, tahunya enggak ada sama sekali. Huh. Cuman dari kisah stalker itu menariknya, terkadang kita harus hati-hati dengan tulisan yang kita buat. Untuk orang yang memiliki kesehatan mental tidak baik, bisa-bisa terpengaruh macam Jo Sangchul. Lalu Aku merasa mengenai hubungan Seju dan keluarga guruya Baek Doha enggak begitu kuat dan enggak terlalu berpengaruh. Kehadiran ibunya Baek Taemin yang juga saingan Seju, berasa enggak ngaruh. Aku malas kalau sudah ada adegan dia. Pada keluarga itu aku hanya tertarik dengan Baek Taeminnya saja. saat Taemin muncul dan pada akhirrya tahu sikp dia yang sebenarnya, aku langsung berpikir jangan-jangan dia ada di masa lalu. Ternyata memang benar, dan Ia tak berbeda jauh karakternya dengan kehidupan sebelumnya, Heo Youngmin. Drama ini menganut apa yang terjadi di masa lalu, terjadi juga di masa kini.   Youngmin yang seorang penjahat bermuka dua, di masa kini Taemin pun seperti itu. aku awalnya ngira dia orang baik, suka kucing, tapi pas lihat dia nyiksa kucingnya, aku merasa ada yang enggak beres dengan dia. Ternyata terjawab juga, dia memang berdarah villain. Padahal kenapa enggak dibikin takdir yanga gak beda. Seperti kata Jinoh, orang jahat tidak selalu bereinkarnasi menjadi orang jahat lagi juga. Padahal Taemin jadi orang baik saja, tapi dia tetap melakukan kesalahan dengan menjiplak karya Seju. Macam Ibu Seol kan dia bereinkarnasi menjadi orang baik, walau ironi sih. Di masa lalu dia berkhianat karena anaknya, di mas akini dia malah meninggalkan anaknya dengan alasan tidak mau mengulang takdir buruk. Taemin juga kan bisa menjadi sosok yang lebih baik, tapi kalau dia enggak jadi villain, nanti enggak aka nada konflik ama Seju nya sih.

Aku agak heran kenapa drama sebagus ini tapi popularitas di koreanya kurang. Menurutku sih selain fakotr marketing yang kurang, episode awal-awalnya agak lambat dan kurang menarik perhatian. Aku baru merasa ini drama wow setelah episode 5. Coba saja kalau Jinoh dan tahun 30an dimunculkan dari awal mungkin rasa ketertarikkan lebih besar. Awal-awalya terlalu fokus dengan hubungan Seju dan Seol. Mereka kurang mengenalkan konfliknya. Paddahal konfliknya dimunculkan dari awal kan orang-orang bakalan penasaran. Ya walau gitu, tapi drama ini tetap mendapat respons positif di koreanya juga. Kalau secara internasional sih jangan Tanya, banyak yang menyukai drama ini.

Satu lagi sih drama ini kurang detail. Macem Hwiyoung yang bunuh diri dengan menembakkan diri di kepala. Biasanya kan kalau di drama-drama itu langsung mati. Aku enggak tahu sih ya secara medis, tapi katanya sih kemungkinannya memang langsung mati. Tapi disitu hwiyoung punya waktu untuk meraih foto di sakunya dan menatapnya serta berdoa. How can gitu, tapi ya enggak apa-apa lah namanya juga drama. Adegan itu enggak mengurangi keindahan dan ketragisan drama. Lalu aku enggak tahu sih ini kekurrangan ama kelebihan. Saat Suhyeon dipohon sendirian setelah menembak Yool, disitu kan kita asumsikan dia meninggal. Aku agak bingung dia meninggal karena apa. Kenapa ujug-ujugmeninggal gitu. Nampaknya kita harus meintreprestasikan sendiri. Kalau aku sih asumsinya, mungkin karena dia kelelahan secara fisik setelah disiksa parah, lalu balas dendam, dan dikejar-kejar, ditambah kelelahan mental dimana Kameradnya meninggal, harus menembak mati sahabatnya Yool, dan juga kematian Hwiyoung, mungkin jantung *sok tahu*. Cuman adegan ini favoritku juga sih, soalnya sebelum Suhyeon meninggal Ia melihat Hwiyoung dan akhirnya mereka bisa mengungkapkan perasaan mereka walau dalam khayal. Itu adegan yang lagi-lagi memilukan hati tapi enggak tahu kenapa indah huhuhuhu.

Pemain top yang main bikin drama ini benar-benar berkelas dalam segi akting. Tiga pemain utama, Yoo h-in, Im Soojung, Go Kyungpyo, ditambah villain kita Kwak Siyang. Mereka semua bermain benar-benar rapi. Ekspresi, emosi, deliverynya benar-benar bagus. Mereka benar-benar masuk ke karakternya dan bikin kita atuh cinta sama karakternya. Eu kecuali sang villain dia terlalu jahat untuk menjadi karakter yang loveable. Serius akting mereka bagus-bagus, apalagi Go Kyungpyo di episode 15. Saat akhirnya dia bilang Hwiyoung pemimpin Aliansi Pemuda Joseon. Rasa frustasi, sedih, marahnya campur banget. Ditambah tubuhnya juga mengeluarkan reaksi yang sama. Kita bisa melihat cairan tubuh keluar dari mulut, hidung, dan juga matanya. Dapat banget emosinya. Yoo Ah-in juga saat menjadi Hwiyoung. He’s so freaking hot with that hairstyle. Aku terkahirn nonton dia di drama Sungkyunkwan Scandal dan itu sudah lama banget. Drama ini berhasil aku bikin aku jatuh cinta sama dia. Suka banget sama akting dia pas alagi seyum-senyum sendiri karena Seol. Aku bisa merasakan hati berbunga-bunganya dia. Dia master melelehkan hati wanita. “Kamu masih cantik walau tanpa make up” aw :3. Kita bisa lihat juga karakter yang berbeda antara Seju dan Hwiyoung. Hwiyoung jauh lebih kalem logis dibanding Seju. Dia bisa memisahkan kedua karakter itu dengan baik. Begitu juga dengan Im Soojung. She’s awesome. Aku beru pertama kali lihat akting dia disini. Aku bukan penggemar film, jadi aku belum pernah nonton film-filmnya dia. Tapi memang beda sih, yang biasanya main film, terus main drama, aktingnya suka juara. Dia juga bisa memisahkan karakter Suhyeon dan Seol dengan baik. Aku enggak percaya dia berumur 37 tahun. Dia masih pantas memerankan karakter yang 10 tahun lebih muda dari dia. Disini kan Seol ceritanya 27 tahun. Daebak sih.

Aku juga suka banget sama chemistry Yoo Ah-In dan Im soojung. Dari episode pertama saja aku sudah menyukai chemistry mereka. Dapat banget sumpah. Aku benar-benar bisa merasaka musim semi dari mereka di masa kini, dan merasa ikut berdebar saat adegan manis di tahun 30an. Perbedaan usia mereka slinya kan lumayan 6 tahun, dimana Im Soojung lebih tua, tapi hal itu sama sekali enggak bikin mereka canggung. Setiap adegan romantis, bikin hatiku berbunga-bunga, senyum-senyum sendiri, dan juga berdesir. Aaah indah banget. Apalagi pas adegan Suhyeon dipenjara, dan Hwiyoung yang meninggal, arwahnya datang ke Suhyeon untuk mengucap kata-kata manis yang enggak pernah dismapaikan Hwiyoung. Chemistry bromance Yoo Ah-In dan Go Kyungpyo juga bagus. Lucu banget. Bromance mereka malah jdi komedi tersendiri. Persahabatan mereka semua itu dapat banget. Juara deh serius. Mereka berdua memang jago bangun bromance sih. Di drama-drama sebelumnya juga mereka berhasil menampilkan chemistry bromance yang bagus, apalagi Yoo Ah-In sampai menang best couple sama Song Joongki. Totalitas akting mereka memang luar biasa.

Alhamdulilah aku enggak mengalami second lead syndrome. Sedih sih lihat Jinoh dan Yool cintanya tak terbalas. Apalagi kalau melihat cara Jinoh menatap Seol. Ya ampun sedih, sakit campur jadi satu.  Aku bisa merasa kesakitannya, cuman gimana yaaa, kan dia hantu. Jadi enggak mungkin dong. Lagipula aku sudah kepalang jatuh hati dengan chemistry Seol dan Seju. Jadi enggak ada alasan aku untuk merasakan SLS. Setidaknya rasanya itu bisa agak terwujud dengan bisa menampakkan wujudnya kepada Seol dan juga berfoto bersama. Kalau pada Yool aku juga merasa sedih, cuman rasa cintanya itu malah jadi kelemahannya. Makanya agak kurang sreg, walau aku ngerti sih. Dia enggak salah kok. Pokoknya diantara mereka bertiga enggak ada yang salah kok huhuhuhu.

Akhir drama ini ya cukup happy ending. Walau akhir persahabatan mereka bertiga di tahun 30an berkahir tragis, tapi akhirnya bisa terbayarkan di masa kini. Seol dan Seju ditakdirkan bertemu memang untuk menebus masa lalu dimana mereka tidak bisa saling, melindungi, tapi kini mereka bisa saling melindungi. Terjawab juga pertanyaan kenapa Jinoh bisa terjebak di mesin tik selama  80 tahun lebih lamanya. Selain dia mati di hadapan mesin tik tersebut, Ia juga sudah berjanji dengan Hwiyoung untuk menyelesaikan novel tersebut dan juga membuat hidup Hwiyoung dan Suhyeon lebih bahagia. Kalau dia bereinkarnasi nanti terulang lagi bisa-bisa tragedy cinta segititganya, nanti tragis lagi. Jinoh sudaha merasa tenang setidaknya Ia tahu Ia bisa tahu alasannya kenapa Ia bisa mati. Seju juga sudah menegaskan kalau hwiyoung sudah memaafkan Yool, jadi Jinoh tidak usah merasa bersalah, dan juga Seju menegaskan kalau dia hidup di masa kini jadi Ia tak perlu memaafkan Yool ataupun Jinoh. Aku suka karena akhirnya penulisnya memang menegaskan kalau Seju ya Seju, Hwiyoung ya Hwiyoung. Mereka hidup pada masanya. Jangan takut, karena mereka hidup di masa kini. Jalani saja kehidupan sekarang, jangan terlalu berpaku pada takdir masa lalu. Taemin sampai akhirnnya seperti Youngmin juga tidak mau mengakui kesalahan. Ia membayar perbuatannya. Seju dan Seol sih ya hidup bahagia. Novel Chicago Typewriternya laris manis dan Seju persembahkan untuk Jinoh. Aku berharap sih Seju tetap melanjutkan menulis novel tentangnya dan juga Jinoh. Sedih sih Jinoh enggak bisa bereinkarnasi lagi. Padahal aku berharap dia akan bereinkarnasi sebagai anaknya Seol dan Seju. Setidaknya walau dia menghilang dia tetap hidup di dalam novel yang ditulis Seju. Ya akhir yang baik kok, da kita bisa mengharapkan apa ending yang bagus untuk orrang yang sudah tiada. Setidaknya lagi nih, Jinoh sebagai Yool bisa kembali berkumpul dengan kedua kawannya yang lain di dalam novel. Nampaknya sih akhir dari novel yang ditulis Seju adalah adegan terakhir di drama ini, dimana Hwiyoung berhasil menamatkan novel buatannya. Akhir tragis mungkin akan jadi ingatan mereka saja.

Terima kasih banyak AWnim dan PDnim serta tim produksi telah membuat drama yang indah ini. Aku sih enggak ragu buat ngasih 4 poin dari 5 poin buat drama ini. Semoga kalian juga sama yaaa. Drama ini harus coba kalian tonton. Aku ingin kalian merasakan keindahan, ketragisan, dan juga kemanisan drama ini.

Jangan lupa bersyukur dan berterima kasih atas kemerdekaan yang kita nikmati!

 Hm… readers *kalau ada* sekrang kn lgi banyak bnget drama on going yang menarik. Aku sendri mengikuti sekitar 4-5 drama. Setelah rama-drama itu selesai keinginan aku sih untuk menulis review, cuman setelah lebaran, kayaknyaa aku bakalan ada kegiatan baru, jadi aku enggak tahu bisa nulis semuanya, apa cuman 1-2 drama yang berkesan saja. pokoknya mah lihat nanti. Semoga saja aku masih bisa nulis semua reviewnya. Kalau aku lama enggak nulis berarti aku lagi riweuh. Tapi aku tetap usahain ada tulisan di blog, dan moga tetap bisa bikin Jepretpress Drama Awards 2017 hihihii. Aamiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s