[REVIEW] My Mister

Saat kita masih remaja, seringkali kita ingin cepat-cepat dewasa karena kita berpikir ingin cepat-cepat menjadi dewasa karena kita berpikir menjadi orang dewasa itu bebas. Mau ngapa-ngapain enggak perlu lagi pengawasan orang tua. Tidak banyak tugas sekolah, punya uang sendiri, bisa bebas kemana saja sendirian. Fantasi menjadi orang dewasa begitu menyenangkan layaknya sebuah drama. Namun kenyataannya menjadi orang dewasa itu tidak mudah. Walau punya jabatan, punya uang, akan selalu ada masalah berat yang menghampiri. Kehidupan di dunia ini tidak pernah mudah. Begitulah yang coba digambarkan dalam drama My Mister.

My Mister merupakan sebuah drama bergenre melodrama, slice of life berjumlah sebanyak 16 episode. Drama ini menceritakan seorang gadis berusia 20-an, Lee Jian. Hidup Jian sangatlah sulit, terlibat hutang besar akibat Ibunya yang tidak bertanggungjawab. Selain itu dia juga harus merawat neneknya yang sakit dan tunarungu. Dia menjalankan berbagai pekerjaan part time disamping kerja utamanya di perusahaan konstruksi sebagai operasional atau pembantu umum. Kesulitan hidupnya membuatnya melakukan segala hal untuk mendapatkan uang agar hutang beserta bunganya terlunasi. Suatu ketika dia mendapatkan celah untuk mendapatkan uang banyak dan menawarkan “proyek” tersebut pada direktur utama perusahaan tersebut. Hal ini membuatnya akan terlibat dengan manajernya, yaitu Park Donghoon seorang pria berusia 40-an yang hidupnya kosong dan sepi. Dia memiliki kakak dan adik yang pengangguran, serta seorang Ibu yang harus mengurus kedua anaknya yang tidak bekerja. Lalu Istrinya yang seorang pengacara selalu sibuk. Nantinya mereka berdua akan saling menyembuhkan luka yang ada pada dalam diri mereka masing-masing.

Pas tahu ada drama ini dan baca plot awalnya yang sangat singkat yaitu kisah mengenai gadis 20an dan pria usia 40an, serta mengingat judulnya yaitu my ahjussi, reaksiku langsung “eeeey??”. Duh gimana ya, aku tidak menyukai cerita cinta yang age gap nya jauh. Cuman pas tahu kalau PD nya adalah PD dari drama Misaeng dan Signal, lalu penulisnya adalah penulis dari Another Miss Oh. Waah ketiganya dari drama favoritku. Lalu dikonfirmasi juga kalau drama ini bukanlah drama romansa, melainkan drama mengenai kehidupan. Aku pun kemudian berpikir, kalau begitu haruskah ku coba? Aku sudah mempunyai perasaan kalau drama ini akan bagus, dan langkahku untuk mencoba tidak salah.

Aku menonton drama ini tidak saat on going. Aku baru menonton drama ini Desember 2018 kemaren saat libur akhir tahun, 7 bulan setelah drama tersebut selesai tayang. Ternyata keputusanku untuk menonton tersebut bukan saat on going, karena kamu akan merasa nanggung setiap episode berakhir. Nagih luar biasa, dan bawaannya ingin terus melanjutkan. Aku menyelesaikan drama ini hanya dalam 2 hari saja. Selain itu, kalau aku nonton ini pas masih on going, dan saat drama ini tayang, waktu itu lagi salah satu waktu tersulitku. Drama ini memiliki tone yang dark,gloomy, lonely. Kalau kamu sedang dalam keadaan mental tidak baik, aku sarankan tidak menonton dulu drama ini, karena perasaan para tokoh yang gloomy akan ikut menghantuimu, dan perasaanmu pasti akan makin kacau. Aku yang menonton ini dalam keadaan santai karena liburan pun jadi ikut terhanyut dan ikutan pilu melihat hidupnya Jian.

Diawal-awal aku sempat harus memberhentikan sejenak, lalu menarik napas agar lebih tenang. Perasaan gloomy Jian benar-benar menyerang hatiku.Lalu rasa kesepiannya Donghoon dan beratnya tekanan yang dia alami di kantor membuatku ikut berempati. Emosi drama ini tuh benar-benar tersalurkan dengan baik kepada para penonton. Enggak hanya kedua tokoh utama saja, emosi para pemain pendukung pun ikut tersampaikan. Aku suka kesal lihat istrinya Donghoon, Kang Yoonhee ketika selingkuh dengan Do Joonyoung. Cuman saat kita diperlihatkan sudut pandangnya aku mengerti kenapa dia selingkuh, walau ya aku enggak membenarkan juga perilakunya. Lalu aku pun ikut frustasi dengan sodara-sodaranya Donghoon, sang kakak Park Sanghoon dan sang adik Park Kihoon. Kalau Sanghoon masih mending sih, karena emosi dia masih terkontrol walau greget kalau dia sudah bermalas-malasan dan hanya mengenang masa lalu. Sebal tuh pas lihat Kihoon yang selalu emosi menguasai dirinya, tapi enggak ada solusi. Ya walau begitu aku tahu dia seperti itu karena sayang dengan keluarganya ataupun dengan orang-orang terdekatnya.

Semua karakternya itu sangat manusiawi dan aku enggak bisa sebal sama mereka walau apa yang sudah mereka perbuat, bahkan sama sing rentenir kece, Lee Gwangil yang kasar banget sama Jian saja, aku enggak sebel. Aku cuman paling enggak suka dnegan Do Joonyoung yang memang murni menyebalkan. Penjilat, tukang rebut istri orang, licik pula.  Ya karakter dirut-dirut di kdrama pada umumnya lah. Karakter di drama ini tuh banyak, tapi aku merasa sayang dengan mereka semua. Mereka punya kesulitan hidupnya masing-masing. Ada yang enggak bisa move on, ada yang berjuang meraih mimpinya padahal bakat dia enggak bagus. Setiap mereka semua mengalami kesulitan aku rasanya ingin memeluk semuanya.

Ketika kita merasa hidup kita berat banget, ternyata diluar sana masih banyak yang lebih berat, dan itu semua juga tergantung dari sudut pandang. Ketika kita melihat dari luar merasa hidup Jian itu sudah amat menyedihkan, sangat berat. Donghoon pun ikut berempati dan khawatir dengan dia karena masih muda sudah mengalami banyak hal berat. Namun dari sudut pandang Jian, dia kasihan dengan hidupnya Donghoon. Dia merasa hidup Donghoon begitu berat. Mereka bersama-sama saling menyembuhkan luka. Jian membela hidup Donghoon lebih baik dengan “menyerang” istrinya dan Do Joonyoung. Begitu juga dengan Donghoon yang berusaha membuat Jian tidak dipecat dan agar Jian bisa hidup lebih baik.

Hubungan Donghoon dan Jian ini sangat indah, seperti yang dikatakan nenek Jian. Jika ada beberapa yang menganggap hubungan mereka adalah hubungan romansa, menurutku itu salah besar. Hubungan mereka memang saling mengasihi, ada rasa, tapi bukan seperti pria-wanita pada umumnya. Hubungan mereka itu lebih ke cinta platonis. Cinta sebagai sesama manusia. Tanpa nafsu, atau untuk saling memiliki. Rasa suka Jian pada Donghoon, lebih ke rasa kagum dan berterima kasih, karena akhirnya ada orang yang memperlakukan dia dengan baik sebanyak lebih dari 4 kali setelah tahu masa lalu kelamnya. Dia merasa menjadi manusia dengan perlakuan Donghoon karena Donghoon orang baik, sehingga Jian tidak bisa berbuat jahat pada Donghoon. Perasaan Donghoon pada Jian pun berawal dari iba dan kasihan melihat kehidupan Jian. Lalu berkembang menjadi peduli dan mengasihi. Secara diam-diam Jian lah yang telah mendukung Donghoon saat masa sulitnya, terutama saat dia menyiapkan diri menjadi direktur. Jadi jangan berharap lebih ya. Aku sangat puas sekali dengan bentuk hubungan mereka yang seperti itu, karena jujur itu sangat heartwarming. Cinta platonis itu bisa menjadi lebih indah daripada cinta nafsu, layaknya cinta ibu kepada anak juga, itu sebuah cinta yang platonis, dan itu sangat indahkan?

Menjelang-jelang puncak dari konflik, menurutku itu emosi terberat dari drama ini. Berapa kali aku ikut menangis bersama para tokoh. Ada beberapa adegan yang memorable buatku sehingga aku ikut menangis, terutama saat episode 16. Aku menangis terus menerus. Aku pernah menyebutkan ini ditwitterku sih. Cuman aku jabarkan lagi disini.

Pertama adalah episode 11, dimana akhirnya Yoonhee mengaku dan minta maaf karena selingkuh. Disitu akhirnya Donghoon meluapkan amarah dan rasa frustasinya. Disitu aku bisa merasakan betapa hancurnya hati kedua pasangan tersebut. Yoonhee yang merasa bersalah dan malu, juga donghoon yang merasa dikhianati apalagi selingkuhnya sama bos dia sendiri. Yoonhee yang memaparkan alasan selingkuhnya. Aku mngerti sih betapa kesepiannya Yoonhee juga karena Donghoon selalu lebih mementingkan keluarganya. Sebenarnya di Indonesia itu jadi sesuatu yang wajar juga, cuman ketika kamu sudah menikah, prioritas utama kamu adalah keluarga yang kamu nikahi. Kalau seorang suami terus mendahulukan keluarganya, bahkan tidak membela istrinya dihadapan ibunya, pasti itu melukai istrinya. Ditambah Donghoon yang tertutup, membuat Yonnhee merasa setiap bersama Donghoon, Ia merasa Donghoon menghilang. Walau begitu, tindakan selingkuh Yoonhee tidak bisa dibenarkan. Donghoon pun merasa sedih dan frustasi dengan perselingkuhan Yoonhee. Dia pun merasa bersalah karena sikap dia juga jadi penyebab selingkuh. Serius adegan ini tuh benar-benar menguras emosiku. Campuran rasa bersalah Yoonhee dan amarah Donghoon benar-benar tercampur dengan baik.

Lalu adegan di episode 16 ketika nenek Jian meninggal. Damn, why it so suddenly?? Perasaan katanya kesehatannya meningkat. Kenapa tiba-tiba meninggal? Uhuhuhuhu. Aku ikut menangis bersama Jian., tapi setidaknya neneknya meninggal saat keadaan Jian sudah dikelilingi orang-orang baik. Aku menangis lagi ketika Sanghoon mengeluarkan uang tabungannya untuk biaya pemakaman nenek Jian agar tidak sepi banget. Terharu aku lihat Sanghoon bisa mengorbankan uang yang sudah Ia kumpulkan dalam waktu lama yang awalnya untuk liburan bersama para adiknya, malah dia keluarkan untuk Jian seseorang yang baru saja Ia kenal. Kemudian aku menangis lagi ketika Donghoon sendirian dan dia menangis tersedu-sedu. Aku benar-benar bisa merasakan apa yang dirasa Donghoon. Ketika kamu merasa berat, enggak apa-apa untuk menangis, karena selama ini Donghoon selalu menahan semuanya demi kebaikan orang disekitarnya. Dia tidak mau orang-orang disekitarnya khawatir. Terakhir saat melihat Jian sudah bisa tertawa, tersenyum, dan mengobrol, memiliki teman. Sumpah, aku disitu terharu banget, rasanya bangga. Akhirnya setelah semua kesulitan yang Jian hadapi, dia mendapat sebuah mentari. Dia bisa memulai lembaran baru dalam hidupnya. Ini adegan yang membahagiakan sebenarnya, tapi aku menangis saking terharunya melihat Jian bisa hidup dengan baik. I’m like a proud mom.

And afterall, after I finished this drama, I cried like what donghoon did. I cried till I can’t breath. Aku merasa semua hal yang sudah kualami di tahun 2018 serasa terputar kembali, dan aku menangis. Aku merasa menumpahkan semua kesedihan yang sudah kualami setelah menonton drama ini. Setelah menangis sampai puas, aku merasa lebih baik. Hati terasa lebih lega. Plong. Ya pada akhirnya drama yang gloomy ini tidak hanya dijadikan proses healing untuk para karakternya, tapi proses healing pada penontonnya. Menonton perjalanan Jian dan Donghoon berasa menonton refleksi dari diri kita sendiri. Ketika semuanya terasa sulit, tidak apa untuk mengeluarkan kesedihanmu. Jangan takut semuanya tidak akan membaik. Pasti masih ada orang yang menemani, beriringan melawan kesedihan dan kesulitan tersebut. Perasaan heartwarming itu akan muncul setelah kita menonton drama ini. Sungguh kesan yang luar biasa.

Bicara soal akting, awalnya aku pun khawatir dengan IU karena dia dipasangkan dengan para aktor dan aktris yang sudah banyak pengalaman. Apalagi Lee Sunkyun kan memang top banget aktingnya. Aku khawatir banget, akting IU akan sangat kebanting. Syukurlah, ternyata penulisnya membuat karakter Jian memang sudah membayangkan IU yang main, ditambah IU nya juga pasti kerja keras untuk aktingnya dan arahan yang baik dari PD nya, akting IU bagus banget disini. Serius. Beda banget sama pas dia di Moon Lovers. Dia bisa delivery emosi Jian dengan baik. Ekspresinya juga bagus, dan cara dia bicara benar-beanr Jian banget. Semoga kedepannya juga aktingnya IU terus berkembang. Untuk Lee sunkyun jangan ditanya. He’s so amazing. Sedih aku tuh lihat dia dua kali main drama berturut-turut diselingkuhi istrinya terus. Pengen lihat dia main romcom lagi macam Pasta. Lalu untuk Lee Jiah, aku kan lebih dulu nonton The Ghost Detective dibanding drama ini. Jadi pas lihat dia keluar di episode awal-awal, aku malah serem sendiri karena masih kebayang sosok si hantu berbaju merah Sunwoo Hye. Cuman memang beda karakter juga, jadi kalau di drama ini dia lebih soft. Lalu hey I have a soft spot for Jang Kiyoung. Aktingnya sebagai renternir kasar beda banget sama pas dia jadi sunbae di Go Back Couple. Aku menantikan akting dia di drama lain. Haruskah ku nonton come and hug me? Tapi kapan lagi waktunya wkwkwkwk

Masalah akhir cerita, untuk Jian jelas ya, dia menjalani hidup yang lebih baik dan lebih bahagia. Lalu Donghoon jelas, dia keluar dari perusahaan, dan memulai perusahaan sendiri dan juga membawa anak buahnya ke perusahaan barunya *yap, misaeng vibe*. Lalu untuk urusan hubungan Donghoon dan Yoonhee ada yang berspekulasi mereka cerai karena Donghoon menyebut Yoonhee bukan “Istriku” lagi, melainkan “Ibunya anakku”. Cuman aku rasa, mereka tidak cerai. Hal ini bisa dilihat dari, Donghoon di meja kerjanya naruh foto istri dan anaknya. Iya betul memang tidak ada lagi foto keluarga mereka, atau foto Donghoon bersama Yoonhee, tapi pria gila mana yang majang foto mantan istrinya di meja. Kalau majang foto itu karena anaknya, kalau mereka sudah bercerai, seharusnya Donghoon memajang foto anaknya saja bukan Yoonhee. Lagipula Donghoon juga tidak bilang pada Ibunya tentang kasus Yoonhee. Donghoon hanya bilang Yoonhee akan menemani anaknya yang sekolah di Amerika sambal dia juga sekolah lagi. Hal ini menjadi solusi yang baik sih, mengingat pasti mereka akan sulit untuk tinggal berdua bersama. Untuk berpisah rasanya juga sulit karena nanti anak mereka gimana? Anak mereka juga tidak tahu apa yang terjadi pada ibunya. Yoonhee pergi keluar negeri menemani anak mereka pilihan terbaik. Mereka tidak perlu bercerai, tapi tidak perlu juga untuk hidup bersama. Kini hubungan mereka lebih ke sebagai orangtua anak mereka, bukan suami-istri lagi. Makanya tidak ada lagi foto mereka bertiga, melainkan hanya foto ibu dan anaknya. Usaha Sanghoon dan Kihoon tetap berjalan baik, dan Kihoon mau mulai lagi menulis skenario. Secara keseluruhan happy ending dengan sentuhan bittersweet sih. Setidaknya pada akhirnya Jian kembali bertemu lagi dengan Donghoon dan berjanji untuk menraktir Donghoon. Aku berharap hubungan baik mereka akan terus berlangsung.

Overall, drama ini layak sekali untuk masuk daftar drama yang perlu kamu tonton dalam hidupmu. Drama yang benar-benar bagus, tanpa basa-basi, tanpa adegan yang tidak penting. Tidak perlu kisah cinta romansa tapi bisa menyentuh kita. Tanpa ragu akan kuberi nilai 4,25 dari 5 poin untuk drama ini. Kalian kalau baca ini dan belum menonton, wajib tonton yaaa hehehehe.

You don’t need a reason to cry. if you want to cry coz it’s hard, just cry. you’ll get better.

P.S : aku ada niatan untuk membereskan review My ID Is Gangnam Beauty, tapi aku enggak tahu akan bisa terselesaikan atau tidak, karena minggu depan kerjaanku mulai hectic lagi. Ini aku bisa menulis 3 tulisan dalam seminggu, sebuah pencapaian yang sangat luar biasa sekali.  Jarang-jarang loh wkwkwkw. Hal ini soalnya baru masuk semester baru jadi masih tenang hehehe. Tapi doakan ya semoga aku bisa menulis review untuk drama tersebut.

Iklan

One comment

  1. Aku setuju dengan review mu. Benar2 memberikan perasaan hanyut.
    Spekulasi akhir pada hubungan PDH dan Istrinya bisa jadi adalah masih Suami Istri, cuma mereka kayak pisah ranjang gitu demi kebahagiaan anaknya.
    Tapi aku sebagai penonton, berharap bisa ada kelanjutannya, misalnya season 2 atau versi filmnya.
    Mengingat ending cerita yang masih menggantung pada hubungan PDH dan Ji-An. Disini aku berspekulasi bahwa PDH akan menjalin hubungan serius dengan Ji-An tapi dalam batas wajar. hingga anak PDH beranjak dewasa dan mengerti dengan keadaan orangtua sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s