[REVIEW] The Light In Your Eyes

Hasil gambar untuk light in your eyes

Semakin bertambahnya usia, sudah pasti kita semakin tua. Menjadi tua itu adalah sebuah kepastian selama kita hidup. Kan enggak mungkin semakin nambah tahun, tapi kita menjadi semakin muda. Walau kita bertambah tua, tapi enggak menjamin kita bisa mencapai usia kakek-nenek. Kalaupun mencapai usia lansia, kehidupan kita akan terbatas karena keadaan fisik yang tidak sebugar dulu. Oleh karena itu, masa muda harus benar-benar dinikmati. Masa muda harus kita manfaatkan. Namun belum juga puas memanfaatkan masa muda, apa jadinya kalau kamu bangun dalam keadaan menjadi seorang nenek-nenek, padahal sebelum tidur kamu masih berusia 25 tahun. Hal itu lah yang menjadi premis awal drama The Light In Your Eyes.

Drama ini memiliki episode yang tidak banyak, hanya 12. Jadi enak untuk diikuti. Drama ini menceritakan seorang gadis muda berusia 25 tahun, Kim Hyeja yang bercita-cita ingin menjadi pewarta berita. Namun usahanya untuk mewujudkan cita-citanya tersebut belum membuahkan hasil. Disuatu acara reuni dia bertemu dengan teman seniornya, Lee Joonha yang ingin menjadi reporter. Mereka memiliki kesan yang bagus satu sama lain. Hidup Joonha cukup menyedihkan. Keluarganya tidak seperti keluarga normal lainnya. Saat menceritakan rahasia Joonha tersebut, Hyeja pun menceritakan rahasaianya, yaitu Hyeja memiliki sebuah arloji ajaib yang dapat mengubah waktu. Dengan arloji tersebut dia dapat memundurkan waktu, namun ada konsekuensi yang harus dibayar, yaitu fisiknya menjadi bertambah tua. Hyeja yang dalam keadaan mabuk memberikan arloji untuk Joonha agar Joonha dapat memperbaiki hal yang Ia sesali. Pada Pagi harinya, ayah Hyeja yang seorang supir taksi, terlibat kecelakaan yang merenggut nyawanya. Hyeja yang panik meminta kembali arloji yang sudah Ia berikan pada Joonha. Hyeja menggunakan arloji tersebut untuk menyelamatkan ayahnya agar tidak mengalami kecelakaan. Hyeja mencoba hingga ratusan kali agar berhasil, dan akhirnya ayahnya selamat dari kecelakaan tersebut. Saat terbangun lagi di pagi hari Hyeja mendapati dirinya telah berubah menjadi seorang nenek berusia 75 tahun.

Awalnya aku tidak begitu tertarik saat baca plot awalnya. Aku agak ragu, hah? Seorang anak muda berubah jadi nenek-nenek dalam satu malam? Aku lagi enggak mood nonton drama dengan genre fantasi. Ditambah yang main adalah Nam Joohyuk. Bukannya gimana ya…. Tapi aku memang merasa Nam Joohyuk aktingnya kurang, apalagi sempat mengintip di The Bride of Water God bikinku menghela nafas. Aku sempat berpikir, kenapa enggak Son Hojun saja yang jadi male leadnya? Kenapa dia cuman jadi kakak Hyeja doang, Kim Youngsoo. Cuman begitu melihat di episode pertama, keherananku langsung runtuh seketika karena Son Hojun memang cocok banget jadi Oppanya Hyeja yang pemalasan dan tidak berguna wkwkwkwk. Tiap dia berantem sama Hyeja kocak banget. Bener-bener pas. Enggak apa-apa enggak jadi pemeran utama, tapi kalau perannya se-pas itu sama dia.

Awal-awal drama ini komedinya juara, apalagi kalau sudah adegan Youngsoo. Diawal-awal sudah ada emosi yang dalam, yaitu tentang Hyeja yang mulai menyerah dengan mimpinya sebagai pembawa berita. Cuman itu belum seberapa. Saat Hyeja tiba-tiba berubah menjadi nenek-nenek dalam semalam. Wah…..aku bisa merasakan frustasinya Hyeja karena berubah menjadi tua dalam semalam, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Menonton ini akan membuat kita teringat pada orang tua kita yang sudah tua, sepuh. Selama ini, kita seringnya dalam drama melihat dari sudut pandang anak muda, atau yang dewasa usia 30an. Menonton drama ini kita mendapat sudut pandang orang tua yang sudah sepuh. Bagaimana sih rasanya menjadi tua. Saat tubuh sudah tidak sesuai dengan pikiran kita. Jika saat muda, kita bisa begadang hingga tengah malam, namun saat tua, jam delapan pun kita sudah ingin tidur. Biasanya jam 3 pagi kita masih terlelap, namun diusia tua, kita akan terbangun dan tidak bisa tidur kembali. Mendengar bagaimana Hyeja merasakan hidup ditubuh yang renta membuatku teringat pada orang tuaku. Orang tuaku sudah masuk usia lansia. Aku sering mendengar juga hal yang dikeluhkan Hyeja, dikeluhkan juga oleh ibuku. Alhasil sepanjang menonton drama ini, aku banyak menangis dan merasa simpati.

Drama ini amatlah menyentuh hati dan membuat kita healing tersendiri. Banyak orang yang mengganggap drama ini sangatlah membosankan. Hyejanya tua terus, dan terlalu sering menampilkan keluhan Hyeja yang menjadi tua. Cuman ini masalah selera kali ya. Berhubung saya hatinya mudah tersentuh dan faktor U ya… jadi cerita-cerita keseharian kayak gini tuh sangat menyentuh hatiku. Memahami pemikiran orang yang telah tua, benar-benar membuatku jadi lebih merenung. Kita semua pasti akan bertambah tua. Seiringnya bertambah usia, apalagi menjadi lansia, akan lebih kecenderungan untuk mengalami kesepian, mudah tersinggung, dan merasa tidak mampu karena keterbatasan fisik yang tidak sekuat saat muda dulu. Hal itu tentu menambah stres para orang tua. Aku menonton ini jadi kembali memikirkan orang tuaku. Aku jadi berpikir apakah orang tuaku juga merasakan hal yang sama? Apa mereka juga stress karena keterbatasan ruang gerak mereka yang tidak seluas dulu. Hal itu sangat terlihat dari ibuku yang memang karena sakitnya ruang geraknya jadi terbatas. Ibuku menjadi sangat gregetan atau emosinya tidak terlalu stabil karena dia tidak bisa bergerak semaunya seperti dulu.

Sungguh menonton ini membuatku jadi lebih menghargai orangtuaku. Kalau kita kadang suka kesal orangtua kita menyuruh apa-apa, mengingatkan a,b,c,d berulang kali, apa-apa harus kita bantu, itu adalah salah 1 bentuk ketidakberdayaan mereka. Saat kita kecil dulu, orang tua kita yang membantu kita untuk menjalani kehidupan, saat mereka sepuh, giliran kita yang membantu mereka menjalani kehidupan, karena nanti kita pun akan berada diposisi mereka. Itupula yang dirasakan Hyeja. Setelah Hyeja tahu rasanya menjadi tua, dia benar-benar merasa bersalah dengan Ibunya yang telah bekerja keras, sedangkan dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia juga merasakan bagaimana lelahnya badan Ibunya setelah bekerja seharian dan sudah tidak se-fit jaman dahulu.

Selain tersentuh dengan adegan hubungan orang tua dan anak, aku juga tersentuh dengan kehidupan yang dialami oleh Lee Joonha. Joonha yang masih muda, tapi menjalani kehidupan yang amat berat. Dia punya masa depan yang cerah, tapi dia rusak karena ingin melindungi seseorang. Saat menonton kehidupan Joonha aku merasa, hidup ini benar-benar enggak adil. Hidupnya amat berat, hingga membuat
Hyeja tua merasa bersalah. Mungkin jika Hyeja masih muda dia dapat membantu Joonha terhindar dari kemalangan. Joonha terus diliputi kesedihan. Jarang banget mlihat dia tersenyum tulus. Dia tersenyum hanya untuk bisnisnya semata. Kehadiran Hyeja tua tidak banyak membantu bagi Joonha. Hyeja tua yang sering mengungkit Hyeja muda, membuat Joonha tertekan. Dari sudut pandang Hyeja tua, hal itu sangat menyedihkan, karena Hyeja tidak ingin Joonha melupakannya begitu saja. Namun hidup Joonha yang sudah sulit tidak akan memikirkan hal seperti itu lagi fokusnya. Hidupnya jatuh lalu wanita yang Ia sukai juga pergi ke luar neger begitu saja.

Hubungan Hyeja dan Joonha ini sangat menyakitkan untuk dilihat dan frustasi. Hyeja tua tidak bisa jujur kalau dirinya adalah Hyeja muda yang berubah menjadi tua dalam semalam. Joonha pun enggak sadar-sadar kalau Hyeja tua ini adalah Hyeja muda yang Ia sayangi. Padahal mereka kan baru jalan berapa kali, tapi entah mengapa chemistry mereka sudah benar-benar bagus. Hal-hal manis itu tiba-tiba hancur begitu saja, dan kisah mereka berdua dirundung kesedihan. Biasanya saat lagi down-downnya, kan pasangan saling menguatkan, tapi disini hanya Hyeja yang bisa mendukung Joonha dengan sungguh-sungguh, karena Hyeja tahu apa masalah Joonha sebenarnya, tapi Hyeja tidak mendapatkan dukungan sama sekali dari Joonha, karena Joonha tidak tahu apa-apa terkait Hyeja. Makanya agak frustasi aku melihat hubungan mereka.

Saat belum tahu plot twist dari drama ini, aku merasa bingung, hah drama ini akan diarahkan kemana? Akhir ceritanya akan seperti apa, karena sampai episode 8 saja Hyejanya masih dalam fisik yang tua dan tidak ada tanda-tanda dia akan kembali muda, karena Hyeja sudah pasrah dengan kondisi dia yang menjadi tua. Joonha pun masih enggak sadar-sadar kalau Hyeja tua ini adalah Hyeja muda. Makanya aku penasaran banget sama endingnya bakalan kayak gimana. Romance antara joonha dan Hyeja sudah dibangun di awal, jadi aku merasa endingnya enggak mungkin membiarkan Joonha dan Hyeja berpisah begitu saja. Serius sampai episode 8 masih belum terbaca akhir ceritanya seperti apa. Sampailah di ending episode 10. BAAM!! What a plot twist, and it’s a good twist, and I don’t even know it would be turned like that.

Sepanjang bertahun-tahun aku menonton drama, dan puluhan drama sudah ku tonton, sesungguh ini adalah plot twist terbesar, terparah yang pernah aku temui di drama korea. Langsung berubah genre, ya awalnya fantasi, menjadi melodrama. Semua yang dibangun dari episode 1 sampai episode 10 langsung runtuh. Namun bukan runtuh yang buruk yang hancur semua, melainkan runtuh namun langsung dapat tersusun kembali. Seperti berasa menemukan kepingan puzzle yang hilang. Semua adegan episode 1 sampai 10 setelah adanya plot twist ini menjadi make sense.

Ternyata Hyeja yang mendadak berubah menjadi tua semalam bukan karena hal fantasi, tapi karena dia mengalami alzhaimer. Orang yang mengalami alzhaimer ketika kondisinya sedang buruk tidak akan menyadari situasinya yang kini telah menjadi tua sehingga dia merasa bertambah tua dalam semalam. Lalu terjawab juga mengapa ayahnya Hyeja yang mulanya kakinya normal menjadi pincang dan mengapa ayah Hyeja selalu sedih ketika Hyeja memanggilnya ayah dan kenapa Ibunya Hyeja tidak mau kalau Hyeja membantunya di salon. Hal itu karena ternyata yang Hyeja panggil ayah adalah anaknya, dan yang dipanggil Ibu oleh Hyeja adalah menantunya. Pantesan…. Aku kira ayahnya menjadi pincang karena efek Hyeja menyelamatkan ayahnya ratusan kali, sehingga ada timeline yang berubah dan tidak disadari Hyeja. Namun ternyata…. Ayahnya itu anaknya sendiri yang pincang karena kecelakaan. Adegan Hyeja yang menyelamatkan “ayahnya” itu adalah sebagai wujud rasa bersalah Hyeja yang tidak bisa menyelamatkan anaknya. Saat Hyeja mengelus kaki “ayahnya”, “ayah” langsung merasa sedih dan bersalah. Heol… bagi keluarga pasien, memiliki keluarga yang sakit alzhaimer. Selama Hyeja dapat tersenyum senang dapat membantu “kedua orangtuanya”, namun bagi anak dan menantu Hyeja itu sesuatu yang menyakitkan. Ceritanya menjadi sangat deep.

Di episode 11 -12 sudah lah banjir air mata aku. Di episode-episode sebelumnya juga aku menangis, apalagi melihat hidup Joonha yang menyedihkan, tapi di episode 11-12 kita dibawa untuk melihat dari sudut pandang penderita alzhaimer. Mereka hanya ingin kembali mengenang masa-masa muda mereka yang penuh dengan beragam memori. Semua kejadian yang terjadi di ep 1 – 10 adalah bentuk dari representasi masa muda mereka dan juga khayalan dari mereka. Mereka ingin membuat memori menjadi lebih indah dan mencoba memperbaiki memori buruk mereka dengan khayalan mereka tersebut.

Untuk bagian di balai kota yang bersama orang-orang jompo itu memang hanya khayalan Hyeja. Sebenarnya mereka adalah orang-orang di rumah sakit tempat Hyeja dirawat.  Bagian ini agak kocak sih, karena ternyata orang-orang yang jahatnya tuh kayak bosnya Joonha mereka itu cuman perawat sama pegawai admin rumah sakit yang sebenarnya mereka orang baik. Bukan criminal, atau penipu, atau memperlakukan para pasien dengan buruk. Namun yang lebih terkocak sih, si kakek yang suka sama Hyeja. Ternyata dia aslinya adalah mahasiswa tingkat pertama. MUAHAHAHAHAHA aku ngakak banget dibagian itu. Aku juga enggak paham kenapa bisa Hyeja membayangkan si kakek yang ternyata adalah mahasiswa, bisa mengejar-ngejar Hyeja.

Untuk semua adegan dia dengan Joonha, seperti yang kita ketahui, sudah tersurat dengan jelas melalui adegan-adegan yang ditayangkan, kalau semua itu adalah kenangan indahnya dengan Joonha semasa hidup. Di timeline sebenarnya Joonha meninggal karena pekerjaannya sebagai reporter yang sedang mengulik sebuah kasus. Dalam khayalan Hyeja, dia mungkin berharap kalau saja Joonha tidak menjadi reporter, mungkin Joonha masih hidup. Namun dalam khayalan tersebut, Hyeja sadar kalau Joonha tidak menjadi reporter, hidupnya akan lebih terpuruk. Kehidupan Joonha dalam khayalan Hyeja itu adalah perasaan bersalah Hyeja karena tidak melindungi Joonha. Semua adegan Joonha dan Hyeja itu benar-benar menyayat hati.

Terkait akting dalam drama ini, wah pada juara sih. Terutama pemeran Hyeja tua, Kim Hyeja. Dia benar-benar bagus memerankan seorang gadis berusia 25 tahun yang terjebak di dalam tubuh nenek-nenek. Aku tidak melihat sosok nenek-nenek dalam diri Hyeja tua, tapi ya memang Hyeja 25 tahun. Lalu Han Jimin yang walau hanya muncul sedikit, tapi tetap membekas dan chemistry dia dengan Nam Joohyuk juga bagus banget, padahal mereka cuman nongol dikit. Lalu aku terkejut sama aktingnya Nam Joohyuk sih. Dia berkembang banget. Dia pas banget jadi karakter Lee Joonha. Aku meleleh tiap melihat sorot matanya. Emosinya bagus, seriusan. Aku setiap melihat Joonha tuh merasa sedih. Hidupnya kok berat banget sih. Jarang banget melihat dia senyum tulus bahagia gitu. Aku benar-benar simpati banget dengan akting Nam Joohyuk disitu. Berkat Lee Joonha lah aku jadi suka dengan Nam Joohyuk sekarang hahahaha.

Ending dari drama ini dieskekusi dengan baik. Kita jadi lebih memahami Hyeja dan sudut pandang orang yang terkena Alzheimer, termasuk keluarganya terutama anaknya Hyeja. Hyeja dan anaknya komunikasinya tidak begitu bagus, karena Hyeja sebagai single parent berusaha menjadikan anaknya mandiri walau fisiknya tidak sempurna. Maksud Hyeja itu baik, tapi hal ini melukai hati anaknya. Dia tumbuh tanpa sosk ayah, membuat hubungannya dengan anaknya kini alias cucunya Hyeja yang sosoknya tak lain adalah sosok dari Kim Youngsoo saat muda, menjadi buruk. Setelah dia memahami Ibunya, dia berusaha memperbaiki hubungannya dengan cucu Hyeja. Akhir dari drama ini tidak berlebihan, namun tidak kekurangan. Semua jawaban terjawab dan ya kita juga jadi lebih memahami Hyeja, dan senangnya lagi, adegan terakhirnya ditutup dengan senyuman bahagia Hyeja di hari tuanya. Bukan ditutup dengan adegan sedih seperti Hyeja meninggal atau tidak ingat apa-apa lagi. Mengenai ingatannya jelas sudah sangat menurun dan kondisinya juga tidak bagus,kita tahu waktu Hyeja tidak lama, tapi aku senang PD dan SW nya tidak mengambil jalur sedih, tapi jalur yang indah dan menghangatkan.

Pokoknya, aku totally recommended this one. Walau kata orang agak boring karena Hyeja nya tua terus, justru setelah menonton sampai beres, aku berterima kasih banyak sama tim drama ini karena telah membuat drama dengan sudut pandang baru. Kalian yang berhenti ditengah jalan, aku harap kalian meneruskan sampai akhir karena kalian akan mendapatkan sesuatu makna yang sayang banget kalau kalian lewatkan. Aku kasih 4 poin dari 5 poin untuk drama ini. It’s really good.

Memories is precious treasure in our life

P.S : maaf ya kalau reviewnya berantakan banget. Aku butuh waktu 3-4 bulan untuk menyelesaikan ini. Biasanya aku kalau sudah lama enggak kesentuh, enggak aku lanjut, tapi akhirnya aku lanjut, karena aku sedih banyak yang bilang drama ini membosankan. Aku ingin yang belum nonton jangan ragu untuk menonton ini hanya karena pada bilang “ngebosenin Hyejanya tua terus”, karena dibalik Hyeja tua itu ada makna dan menjadi healing bagi penontonya. Jadi coba ya ditonton hehehehe

P.S. lagi : kalau kalian masih enggak suka juga, ya sudah enggak apa-apa karena masalah selera, seperti aku yang terhenti di episode 1 Dear My Friends karena kok sedih banget yaaa T_T

Okay well, see you in next review!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s