[FF] JEALOUSY

Title               : JEALOUSY

Rate               : 13+

Genre             : full of ROMANCE lovey dovey yang cheesy

Cast               : KIM JONGIN (KAI EXO), JUNG SOOJUNG (KRYSTAL FX) dan sedikit cameo dari KANG MINHYUK CNBLUE

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH punya ide :””

Disclaimer   : FF ini dibuat dalam rangka merayakan kaistal go public. #kaistalmenujuhalal #kaistalberjodoh. Pas tahu kaistal is real, aku senangnya luar biasa dong. Telah berada di perahu ini untuk bertahun-tahun dari 2013, akhirnya 3 tahun kemudian kapalnya beneran berlabuh. Aku mau merayakan hal itu dengan FF, tapi saat berita mereka lagi heboh, akunya lag sibuk, terus pas sudah nyante, enggak punya ide, baru ada ide sekarang hahaha. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D

“Ya.. I’ll be there in a minute. Ku sudah dekat kafe kok. Tuh papan kafenya pun sudah terlihat. Sudah ya.” Sudah mendapat omelan lewat telepon, sudah dipastikan orang yang menunggunya sudah merasa bosan menunggu Soojung. Soojung pun sedikit berlari. Ini memang salahnya terlambat karena keasyikan belanja. Lagipula Ia belanja juga untuk membeli kado untuk orang yang akan Ia temui di kafe tersebut.

Bunyi bel terdengar dari pintu kafe tersebut, menandakan ada orang masuk. Bunyinya terdengar lebih nyaring dari biasanya karena Soojung membukanya dengan tergesa-gesa, sehingga membuat orang-orang memperhatikannya. Soojung segera menurunkan topinya agar menutupi wajahnya dan menunduk meminta maaf. Ia tak ingin orang-orang tahu kalau itu adalah idol member f(x), Krystal.

“Krystal ssi?” Sapa seseorang yang mejanya tak jauh dari pintu.

Haish.. damn.. ada yang mengenaliku. Gerutu Soojung dalam hati. Terpaksa Ia menghadap orang itu dan menunduk menyapa sesaat, kemudian langsung beralih pandangannya ke tempat lain untuk mencari orang yang sudah menunggunya. Namun sesaat kemudian Ia tersadar, jika Ia mengenali orang yang menyapanya tadi. Seketika Ia langsung menghadap lagi orang tersebut,

“Minhyuk ssi?” Soojung terkejut. Minhyuk langsung tersenyum melambaikan tangan.

“Hai, Krystal! Kemari lah.” Sapa Minhyuk.

“Halo Minhyuk Oppa. Apa kabar?” Soojung menarik kursi dan duduk dihadapan Minhyuk.

“Baik tentu saja. kamu?”

“Ya begini lah… kau sendiri?”

Minhyuk mengangguk, “Iya aku sedang ingin me time saja.”

Soojung mengangguk mengerti. Dia mengamati penampilan Minhyuk yang santai tanpa masker dan topi. Ia terheran karena berbanding terbalik dengannya menggunakan topi dan masker. “Minhyuk kok bisa sih santai gitu tampilannya. Enggak pakai masker atau topi?”

“Ya santai saja sih.. enggak masalah kalau ada yang mengenaliku juga. Lagipula kafe ini kan terkenal tenang, jadi ku merasa aman. Kamu berlebihan tuh sampai pakai masker dan topi, kacamata lagi hahaha.” Jawab Minhyuk santai.

Soojung langsung melepaskan perlengkapannya itu “Ya… aku kan enggak suka saat orang-orang dijalan memperhatikanku hehehe.”

Minhyuk mengelus kepala Soojung. “Iya aku mengerti hahaha.”

“tapi, kau masih mengenaliku ya dengan penampilanku kayak gini.”

“Tentu saja. aku mengenali gayamu. I’m your fanboy hahaha”

“Hahahaha bisa saja.” Soojung tertawa sambil menutup mulutnya. Malu.

Minhyuk menyeruput kopinya. Mengulur mencari topik pembicaraan. “Oh ya.. Aku melihat cameomu di dramanya Minho hyung. Itu kamu benar-benar syuting di spanyol?”

Soojung menaik-turunkan kepaanya. “Iya aku ikut syuting disana. Kebetulan aku lagi disana juga.”

“Pantai disana tampak indah ya? Kalau aku lihat di drama.” Ah Minhyuk terlihat sekali mencari topik pembicaraan.

Soojung langsung dengan semangat menjelaskannya. “Iya betul. Pantai disana bagus-bagus. Oppa kau kalau ke eropa harus mampir kesana. Bersih, biru, tak kalah dengan pantai Maldives.”

“Penampilan singkatmu didrama itu cukup mengesankan. Ya kau tampak cantik dan elegan.” Puji Minhyuk sambil tersenyum menggoda.

“Hahahaha terima kasih. Kamu masih saja jago menggoda orang.” Soojung terkekeh. “Aku sempat melihat drama dengan Hyeri itu. Kau cukup baik disitu.”

Minhyuk mengernyitkan dahinya. “Cuman cukup saja nih?”

Baca lebih lanjut

Iklan

[FF] THE DRUNK STORY

Title               : THE DRUNK STORY

Rate               : 13+ aja kok, enggak usah lebih

Genre             : a ROMANCE and a little FRIENDSHIP dengan bumbu ANGST sediiiikit

main Cast     : SUNNY SNSD, YURI SNSD

OTHER CAST   : TAEYEON SNSD, BAEKHYUN EXO, MINHO SHINEE, ONEW (LEE JINKI) SHINEE

length           : One shot

Author          : si penulis amatir HANAN HANIFAH

INSPIRED        : salah satu kisah di FF ini terinspirasi dari curhatan salah satu sobatku, dan juga lagu Rio Febrian – Memang Harus Pisah

Disclaimer   : Aku sedang mencoba membuat dua cerita *masalah tepatnya* yang mirip dijadiin satu cerita, tapi kayaknya hasilnya bakalan berantakan -,-. Aku juga pengen mencoba membuat cerita yang agak dewasa. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

“Maafkan aku tapi aku harus melepasmu. Kita tak ditakdirkan bersama. Kita harus berpisah.” Ujar seorang pria pada kekasihnya. Mendengar hal itu kekasihnya hanya dapat menangis. Tangisannya makin keras saat pria pergi dari hadapannya.

“Kok lemah banget sih jadi laki-laki? Malah pergi begitu saja!” Seru Sunny yang baru saja masuk ke dalam kedai. Ternyata tadi merupakan adegan drama, dan Sunny mengomentari adegan tersebut.

“Hai, kau sudah datang?” Sapa Taeyeon, sang pemilik kedai.

“Bawakanku telur dadar, dan soju!” Pinta Sunny.

“Tunggu dulu, Gun! Kenapa kita harus berhenti! Kenapa enggak kita coba buat mempertahankan?” Ternyata adegan drama itu masih berlanjut, dan Sunny masih memperhatikan adegan drama itu.

Dalam drama tersebut pria itu hanya diam dan menggeleng. “Itu sulit, enggak akan bisa!”

Adegan drama itu benar-benar menyentuh perasaan Sunny yang sedang sensitif.

“Ya! Kenapa kamu menyerah? Masalahnya sebesar apa sih sampao.kamu nyerah?” Gerutu Sunny sebal.

“Mereka harus putus hanya karena sahabat si pria menyukai si wanita semenjak pria dan wanita itu belum bertemu.” Sahut wanita jangkung yang duduk sendiri disebrang meja Sunny.

“Apa? Hanya karena itu? payah banget sih! Enggak ada semangat juang!”

“Betul! Jadi lelaki itu jangan gampang menyerah! Baru juga masalah kayak gitu!” Wanita jangkung itu ikut menimpali.

“Belum berhadapan dengan keluarga kan? Belum enggak dapat restu kan?”

“Belum tiba-tiba disuruh putus kan, padahal pacaran sudah lama!”

“Wah-wah kalian tampaknya punya masalah yang sama.” Sahut Taeyeon sambil menyimpan pesanan Sunny.

“Dia siapa?” Tanya Sunny.

“Dia pelanggan tetapku. Seminggu sekali pasti kesini. Biasanya dia bersama kekasihnya.” Jawab Taeyeon. “Yuri, kenalkan dia sahabatku, Sunny.”

Yuri menganggukkan kepalanya. “Annyeong.”

“Lalu mana pacarmu? Tumben sendiri? Apa kalian ada masalah?”

Yuri hanya tersebyum tipis sambil menenggak sojunya.

Sunny menoyor kepala Taeyeon. “Hei, kau bodoh apa? Tadi kan kau sendiri yang bilang bahwa kami berdua tampaknya punya masalah yang sama setelah mendengar kami berbicara! Jadi, tentu saja jika dia disini tak bersama pacarnya karena sedang ada masalah.”

“Maaf.” Hidung Taeyeon kembang-kempis seperti sedang mencium sesuatu. Ia mendekatkan hidungnya pada mulut Sunny. Taeyeon pun sadar asal bau yang Ia cium. “Kau sudah minum sebelum kemari?”

Sunny mengangguk “Aku minum 2 kaleng bir. Aku kira itu akan cukup menenangkan hatiku, tapi ternyata tidak.”

“Kau sedang ada masalah dengan Minho?” Taeyeon kembali bertanya pada Yuri.

Begitulah.” Jawab Yuri sambil terus meminum Sojunya.

“Tampaknya kita mempunyai masalah yang serupa. Rasanya menyenangkan kan jika kau tak sendiri menghadapi masalah seperti ini? Yuri, kau duduk disini saja. Kita saling berbagi kesedihan!” ajak Sunny. Yuri awalnya tampak mempertimbangkannya, tapi tak lama kemudian Ia menyetujui Ide Sunny dan bergabung dengan Sunny dan Taeyeon.

“Wah tampaknya aku akan sangat sibuk melayani dua orang frustasi ini. Untung kedai sudah tak begitu ramai lagi.” Ujar Taeyeon.

“Ya tapi kau lebih baik izin dulu dengan suamimu, yang mengelola kedai hari ini kan cuman kalian berdua aku lihat.” Saran Yuri.

“Lah bukannya kau punya part time dua orang?” Seloroh Sunny

“Suga besok ujian jadi kusuruh libur, sedangkan Bomi dia sedang sakit.” Jawab Taeyeon.

“Baekhyun-ah! Kami pinjam dia dulu ya? kami butuh dia.” Rajuk Sunny pada suami Taeyeon. Baekhyun mengacungkan jempolnya sebagai tanda Ia setuju.

Yeobo, kalau kau sudah kewalahan melayani pelanggan, panggil aku!” Teriak Taeyeon manja.

“Siap, sayang!” Sahut Baekhyun yang sedang asyik merebus ramen.

Taeyeon mengetuk-ngetukan sumpit ke piring kosong milik Yuri sebagai tanda sesi curhatnya dimulai. Sumpit tersebut Ia letakkan di hadapan mulutnya, seolah-olah itu adalah sebuah mic “Iya, kembali lagi dengan Mama Taeyeon, curhat yuk! Silahkan keluarkan keluh kesah kalian. Apa yang menganggu hati dan pikiran kalian? Mama Taeyeon siap mendengarkan.”

Yuri yang baru tahu jika tingkah laku Taeyeon yang ajaib –setidaknya menurut dia – cukup terhibur akan hal itu. Yuri tertawa kecil, sedangkan Sunny hanya diam sambil mengunyah telur dadarnya.

“Hari ini kita kehadiran nona Yuri dan nona Sunny. Yuri ini merupakan pelanggan tetapku dan Sunny merupakan sahabat lamaku. Kita mulai dari siapa ya? Mereka berdua sama-sama tampak frustasi. Aku harus memulai dari siapa ya?”

“Taeyeon, kau seperti penyiar radio asli. Seharusnya kau daripada bisnis kedai seperti ini, harusnya kau jadi penyiar saja.” Usul Yuri saat melihat kemampuan Taeyeon membawakan acara.

“Kau tidak tahu? sebelum menikah aku ini seorang penyiar! Sejak menikah aku berhenti karena ingin menjadi istri yang baik. Baru-baru ini aku ditawari lagi untuk membawakan acara di radio, dan sedang kupertimbangkan.”

“Terima saja tawaran itu!”

“Baek juga sudah mengizinkan sih sebenarnya. Ya kalau jadwalnya cocok dan tidak menganggu bisnisku ini, sepertinya akan kuterima.”

“Hei, kalian ini bicara kemana saja. Sudah aku saja yang bercerita duluan.” Sunny merebut sumpit yang ada di tangan Taeyeon. Ia pun mulai bercerita.

“Tadi siang Jinki memutuskanku.” Sunny mulai bercerita dengan wajah murung. “Dia bilangnya memang dari dulu ingin mengakhiri hubungan kami, tapi aku yakin dia pasti ingin mengakhirinya karena obrolan dengan ibuku kemarin malam!”

“Loh kenapa dia ingin mengakhiri hubungan kalian dari lama?” tanya Yuri

 “Jadi kemarin malam, seperti biasa setiap sabtu malam Jinki selalu ke rumahku. Saat dia tiba aku sedang mandi. Dikesempatan itulah ibuku berbicara empat mata saja.”

“Lalu, apa yang mereka bicarakan?” Taeyeon mulai penasaran.

“Ya mereka bicarakan masalah hubungan kami dan keadaan Jinki….”

*****

Malam itu, seperti biasa Jinki mendatangi rumah kekasihnya, dan seperti biasa Ibu Sunny selalu menyambut Jinki dengan hangat. Ibu Sunny tersenyum menyapa Jinki. Awalnya mereka hanya mengobrol hal-hal ringan, tapi Jinki bisa merasa jika Ibu Sunny sedang menyembunyikan sesuatu. Terlihat sekali dari raut wajahnya yang tampak cemas dan ingin menyampaikan sesuatu. Jinki tampak tak nyaman akan hal itu. Jinki mempunyai feeling hal yang ingin dibicarakan Ibu Sunny masalah hubungan mereka. Sebenarnya kalau boleh memilih Jinki lebih ingin tak membicarakan hal itu, tapi a tahu hal ini pasti akan tiba juga saatnya. Akhirnya Jinki pun bertanya pada Ibu Sunny.

“Ibu, aku lihat daritadi kayaknya ibu tak tenang. Ada hal yang mengganjalkah bu?” Tanya Jinki.

Ibu Sunny tersenyum. “Kamu jadi lelaki bagus ya, peka. Tak seperti ayahnya yang enggak punya kepekaan. Pantas saja Sunny betah banget sama kamu.”

Jinki tersenyum mendengar pujian tersebut. “Apa ada yang ibu ingin bicaakan denganku?”

Wajah Ibu Sunny yang daritadi tampak sumringah kini mulai berubah serius. “Jinki sebelumnya, ibu ingin tahu. Kamu dan Sunny sudah berpacaran berapa lama?”

“Sudah hampir enam tahun bu.”

“Sudah lama juga ternyata. Sekarang umur kalian berapa tahun? Kalian seusia kan?”

Jinki mengangguk. “Dua puluh tujuh tahun.” Sampai pertanyaan ini Jinki sudah merasa tak enak. Dua pertanyaan tadi, Ia tahu akan mengarah kemana.

“Dengan waktu pacaran selama itu, dan usia kalian yang sudah matang pasti kalian sudah mulai berpikir untuk melangkah ke depan. Sudah mempunyai pikiran untuk berhubungan yang serius dan komitmen yang lebih lagi kan?”

Jinki diam saja. Ia tak menjawab pertanyaan Ibu Sunny. Sebenarnya Ia ingin menjawabnya, tapi Ia tahu Ia tak layak untuk menjawab pertanyaan tersebut.

“Diusia Sunny ini, Ibu berharap dia sudah punya pendamping hidup. Inginnya sih, tahun depan dia paling telat sudah menikah. Sebagai seorang ibu, pastinya Ibu berharap Ia mendapatkan yang terbaik. Seseorang yang bisa menjaganya, menyayanginya, mencukupi kehidupannya, yang benar-benar memperlakukannya dengan baik dan dapat membimbingnya.”

Jinki mulai menundukkan kepalanya. Ia tahu pasti Ibu Sunny akan membicarakan mengenai kondisinya kini.

“Ibu tahu sebenarnya Sunny sudah memilih orang yang tepat dari enam tahun lalu. Ibu percaya kamu memang mencintai Sunny dengan tulus dan apa-adanya. Selama ini kamu sudah mengarahkan Sunny ke arah yang jauh lebih baik. Hanya saja ada satu hal yang ibu khawatirkan. Untuk masalah materi, sesungguhnya kamu amat menjanjikan. Pekerjaanmu sebagai direktur dan tak lama lagi pasti kau akan menggantikan ayahmu menjadi CEO, tapi ada satu hal yang mengganjal. Kamu tahu maksud ibu?”

Jinki mengangguk lemah. “Pasti mengenai kursi roda ini kan bu?” Jinki menunjuk kursi roda yang Ia duduki. Baca lebih lanjut

[FF] Not A Bad Thing

Title               : not a bad thing

Rate               : 13+ pastinya

Genre             : a ROMANCE lovey dovey nan alay

main Cast     : KIM JONGDAE (CHEN EXO), WENDY SON RED VELVET

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAHnya lagi punya ide dan mood buat ngerjain, Alhamdulillah.

INSPIRED        : FROM TWO OF MY FAVORITE SONGS, AT GWANGHWAMUN BY KYUHYUN AND NOT A BAD THING BY JUSTIN TIMBERLAKE

Disclaimer   : Fyi, aku ngeshippin bgt mereka. Semenjak sebelum Wendy debut, aku udah ngeship Chendy. Aku mikir-mikir kira-kira siapa yang cocok buat Chen, dan yang terpikir adalah Wendy, dan aku merasa mereka cocok, jadi aja suka sama couple ini XP. Dua-duanya bias aku nih ahahaha. FF ini untuk kalian chendy hehehe. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D AND HAPPY NEW YEAR 2015 ^^.

 

 

Angin berhembus cukup kencang. Salju menyelimuti tipis permukaan jalan. Udara dingin yang menusuk tulang seperti ini membuat orang bermalas-malasan dalam rumah dengan penghangat, namun tak sedikit juga yang masih banyak berkeliaran di jalanan, dan Jongdae termasuk orang yang mau memakai jaket tebal agar menjaga suhu tubuh tetap hangat saat diluar. Suhu udara malam ini sanggup membuat air raksa menyentuh nyaris angka 0 pada termometer. Suhu yang sanggup membekukan cairan dengan rumus kimia H2O, tapi menurut Jongdae tak hanya air saja yang dapat membeku, harapannya pun kini nyaris membeku.

Sejak pukul lima sore hingga kini jarum jam mencapai angka delapan Ia duduk dibangku dingin ini. dittengah hirup pikuk namsan. Tak habis pikir mengapa Ia bisa menanti selama ini ditengah cuaca yang membuat nafasnya menjadi pendek. Semua ini berawal dari obrolan kemarin sore. Kalau saja sore itu Ia tak membicarakan hal serius, Ia takkan berada di tempat ini.

Sore itu, Jongdae baru saja selesai berlatih drama musikal di kampusnya. Ia melihat “gadisnya” yang juga baru selesai latihan yang sama dengannya, sedang duduk di bawah pohon dengan kaki terlentang dan bahu tersandar. Ia tampak kelelahan dan meminum air mineral dari tempat minum yang selalu Ia bawa. Padahal udara cukup dingin untuk berdiam diri di taman, namun Wendy tampak menikmati itu. Tentu saja, melihatnya sendiri membuat Jongdae menghampiri gadis itu.

“Wendy!” Sapa Jongdae sembari duduk disampingnya.

Ne, Sunbae?”

“Haish… aku bosan mengingatkanmu berkali-kali! Jangan panggil aku Sunbae, tapi panggil aku Oppa!”

Ucapan jongdae itu hanya ditanggapi Wendy dengan delikan dan senyum masam. Mulanya mereka hanya mengobrol ngalor-ngidul, sampai akhirnya entah bagaimana mereka dapat mencapai suatu obrolan yang serius –Setidaknya bagi Jongdae–.

“Wendy, selama setahun ini aku mengejarmu, ada beberapa orang juga yang berusaha mendapatkanmu, tapi kenapa hanya aku saja yang tetap bisa berada didekatmu?” Tanya Jongdae penasaran.

Wendy melongo mendapat pertanyaan aneh dari seniornya itu. “Ya itu semua karena kau tak gentar, padahal entah sudah berapa kali aku menolakmu.”

“Bukan itu maksudku! Ya dari semua lelaki yang pernah mendekatimu, kenapa kau membiarkanku tetap berada didekatmu, terus mencoba, sedangkan lelaki lain yang sudah kau tolak, benar-benar kau tolak. Kau mencoba menjauhi mereka, kenapa tidak denganku?”

Wendy menghela nafas. Ia menegak air kembali. “Entahlah. Mungkin karena aku tak mau kehilanganmu sebagai teman. Setiap mengobrol denganmu, aku selalu merasa senang dan nyaman. Aku tak mau kehilangan hal itu.”

“Berarti itu menunjukkan kau punya rasa padaku kan? kalau begitu untuk apa kita hanya jadi sekedar teman?” Protes Jongdae.

“Aku pun tak tahu perasaan apa yang ku punya terhadapmu.” Wendy menggeleng lemah. “Apa benar-benar hanya sebagai skedar teman berbagi cerita atau memang aku punya perasaan padamu. Aku ragu akan hal itu.”

“Apa sih yang buat kamu ragu denganku?”

Sunbae, kau tahu kan aku punya sedikit trauma…”

Mendapat jawaban seperti itu, Jongdae berdecak kesal. “Ya,Wendy! Kau sudah mengenalku setahun kebelakang ini. aku benar-benar sudah menunjukan aku apa adanya. Kau tahu kan aku takkan menyakitimu baik fisik maupun hati seperti mantanmu dulu!”

“Aku tahu… tapi tetap saja aku masih punya ketakutan akan hal itu.”

“Wendy, tolonglah, coba buka hatimu. Biarkan lah kau merasa jatuh cinta, jangan merasa takut. It’s not a bad thing for try and fall in love!

Jongdae menyandarkan bahunya ke batang pohon. Ia memejamkan matanya dan mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. “Sejujurnya, aku sudah mulai lelah, dan aku sudah mulai merasa aku tak mau memperjuangkan sesuatu yang sia-sia. Jadi tolong pastikanlah perasaanmu padaku! Jika tidak ada, maka aku akan mulai menjauh darimu.”

Wendy terkejut mendengar hal itu. “Sunbae! Tak bisakah walau aku tak menerima perasaanmu, tapi kita tetap berteman seperti ini. ya bisa mengobrol banyak hal, saling berbagi cerita, ya layaknya seorang teman dan sahabat.”

Jongdae mendengus sebal. “Heol… Enak banget ya jadi perempuan, bisa minta seperti itu! Wendy, maafkan aku. Aku melihatmu selama ini sebagai perempuan, dan akan sangat sulit untuk menjadi teman selama aku melihatmu sebagai perempuan.”

“Aku memang egois. Maafkan aku, Jongdae Sunbae.” Wendy tertunduk sedih.

Jongdae tak tega melihat perempuan yang sudah mengisi hatinya itu bersedih, tapi bagaimana lagi Ia butuh ketegasan. Mau tak mau, Ia harus membicarakan hal ini.

“Tolong pastikanlah hatimu. Besok kutunggu kau di Namsan Tower jam 5 sore. Jika kau mau membuka hatimu padaku, datanglah. Akan kutunggu kau sampai jam berapapun. Ini merupakan perjuangan terakhirku untuk mendapatkanmu. Jika kau tak datang, aku akan menyerah. Aku takkan mencoba lagi untuk menaklukan kamu.”

Baca lebih lanjut

[FF] Kesalahan

Title               : KESALAHAN

Rate               : 13+ AJA KOK

Genre             : ROMANCE, FLUFF lah apa lagi klo tentang kaistal

main Cast     : KIM JONGIN (KAI EXO) , JUNG SOOJUNG (KRYSTAL F(X))

OTHER CAST   : KANG SEULGI RED VELVET

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH hadir lagi

INSPIRED        : dulurku terkasih,ANATOMI

Disclaimer   : Ini idenya terlintas begitu saja. Awalnya aku sedang berusaha membereskan ceita chendy tapi stuck, dan ada satu ff lain tapi sama belum bere juga, eh tba-tiba malah kepikiran ini. ya udah mumpung ada ide langsung aku tulis. Biar kekejar juga targetku. Sebenarnya aku lagi banyak tugas, tapi saking banyaknya aku gatau tugasnya apa saja, jadi daripada nganggur, aku tulislah cerita ini. NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

 

“Soojung!” Jongin merentangkan tangannya untuk mencegat langkah Soojung. Soojung melirik Jongin ketus.

“Kamu masih marah? Sms, kakaotalk enggak dibalas. Telepon pun tak kau angkat.” Tanya Jongin dan telrihat jelas raut wajahnya panik karena hal ini.

Soojung melipatkan tangannya di dadanya “Kamu sudah sadar belum apa kesalahan kamu?”

“Ya ampun kamu marah dari kemarin sampai sekarang hanya gara-gara aku enggak mendengarkan ceritamu?”

Soojung menghela nafas kesal. “Heol! Kamu belum sadar juga ternyata. Sampai kamu belum sadar apa kesalahan kamu, jangan hubungi aku!” Ultimatum Soojung tak main-main. Iya mengatakannya dengan penuh kemantapan dan kilatan kesal di mata.

“Lah? Memangnya salahku apa lagi sih? Soojung masa kayak gitu saja kamu marah? Soojung! Soojung!” Soojung mengacuhkan panggilan Jongin. Ia terus melengos pergi tak mempedulikan teriakan Jongin. Jongin yang kesal menendang udara kosong sert mengacak-acak rambutnya sebagai tanda frustasi.

Jongin pun pergi ke kantin untuk memesan minuman sekaligus untuk berpikir. Sungguh, ia tak tahu apa salahnya? Ia hanya tahu saat kemarin Soojung sedang bercerita, tiba-tiba saja Soojung marah. Wajar sebenarnya Soojung marah, karena saat Soojung bercerita, Jongin sedang bermain games sehingga Ia tak fokus, tapi jika hanya karena itu tak seharusnya kan Soojung marah hingga seharian? Hah, wanita memang sulit dimengerti!

“Hei! Kok muram amat sih?” Sapa Seulgi yang tiba-tiba kini sudah duduk dihadapan Jongin.

“Kelihatan ya mukaku muram?” Tanya Jongin.

Seulgi tertawa mendengar pertanyaan Jongin. “Hahaha iyalah. Muka ditekuk terus tatapanmu tampak kusut sambil terus menerus mengaduk-aduk jusmu tak jelas. Kenapa sih?”

Jongin menghela nafas. “Soojung marah, tapi aku engga ngerti kenapa dia marah sampai segitunya.”

“Ya tanya dong ke dia, kenapa Soojung marah ke kamu.” Sahut Seulgi sembari menyeruput cappucinonya.

“Masalahnya dia menyuruhku untuk mencari tahu sendiri kesalahanku dimana. Kan aku bingung! Coba, masa hanya karena aku enggak mendengarkan ceritanya, dia marah seharian?!”

Seulgi mengerutkan keningnya. “Enggak mungkin ah! Soojung bukan tipe orang kayak gitu.”

“Nah maka dari itu,Seulgi! Aku tak mengerti!” Jongin menyedot jusnya dengan penuh emosi.

“Pasti bukan hanya karena itu. Rinci ceritanya dong apa yang sebenarnya terjadi.”

“Jadi Begini….”

Baca lebih lanjut

[FF] GEN

Title               : GEN

Rate               : 15+

Genre             : ROMANCE, DRAMA

main Cast     : VICTORIA F(X), ZHOUMI SJ-M

OTHER CAST   : KANGTA, KEVIN (OC)

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH

Disclaimer   : niatnya mau agak dewasa, tapi gagal. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

 

Seorang pria tinggi kurus berjalan diantara kerumunan orang yang berdesakan di gedung pusat perbelanjaan yang tingginya mencakar langit. Saat kakinya melangkah melewati orang-orang tersebut hampir semua mata tertuju padanya, terutama para wanita yang haus akan pria tampan. Siapa yang tak tahu pria itu? Dia anak pemilik gedung ini. Walaupun statusnya sebagai warga negara asing, tapi gedung yang kini dikelolanya berkembang dengan pesat. Dengan wajah tampan dan juga statusnya sebagai pebisnis perusahaan multinasional membuat para wanita ingin menjadi pendampingnya. Wanita di negeri asalnya dan wanita di negeri kini Ia tinggal siapa tak mengenal dirinya, Zhoumi.

Saat ini Ia sedang melakukan kegiatan hariannya berjalan-jalan dalam mall untuk memantau bisnisnya itu. Ditemani sekretaris pribadinya Ia memasuki toko satu persatu mengecek penjualan toko tersebut. Setelah menjelajahi toko disetiap lantainya, Ia memasuki toko terakhir yang merupakan sebuah coffee shop. Selain memantau jalannya toko tersebut,  Ia pun sengaja memilih tempat itu sebagai kunjungan terakhir agar bisa sekalian untuk istirahat.

Sekretarisnya membukakan pintu untuknya. Zhoumi melangkahkan kakinya memasuki coffee shop tersebut, namun mendadak langkahnya terhenti saat Ia matanya mengarah lurus 90 derajat. Seketika semuanya terasa membeku baginya. Ia langsung terpaku dengan Jantungnya berdegup kencang dan aliran darah yang mendadak cepat. Sorot matanya berubah menjadi sendu merindu.

Hampir lima tahun sudah Ia menginjakkan kaki di negeri ginseng ini untuk mengelola bisnis orang tuanya yang membuka cabang di negeri ini. Selama di negeri ini Ia sudah banyak menjalin hubungan dengan para wanita,namun sudah setahun belakang ini Ia sendiri. Mengingat usianya yang nyaris kepala tiga bukan waktunya lagi Ia main-main. Selama setahun ini Ia terus berharap bertemu lagi dengan seorang wanita yang tiba-tiba menghilang sekitar empat tahun kurang yang lalu. Akhirnya kini wanita yang Ia cari ada berada tak jauh dari posisinya kini. Mereka hanya terpisah jarak 3 meter. Wajahnya kini terpancar rasa kebahagian bercampur rindu. Tanpa ragu Ia segera mendatangi wanita tersebut. Ia menyuruh sekretarisnya untuk duduk disudut lain menunggu dirinya.

Wanita yang dirindukannya itu terlihat sedang memusatkan perhatiannya pada tablet berwarna putih yang diletakkannya di meja kayu bundar. Sesekali Ia mengesap cangkir minumannya. Zhoumi berdiri dihadapan wanita itu sambil tersenyum. Tampaknya wanita tersebut tak menyadari akan kehadiran Zhoumi. Jarinya terus mengusap tabletnya tersebut. Zhoumi pun inisiatif untuk menarik kursi dihadapan wanita itu dan lalu Ia duduk diatas kursi rotan tersebut. Mendengar suara gesekan, wanita itu langsung mengangkat kepalanya dari tabletnya. Saat melihat orang yang menarik kursi untuk duduk dihadapannya, matanya langsung melebar dan urat wajahnya tampak menegang. Terlihat jelas betapa terkejutnya dirinya dengan kehadiran Zhoumi.

“Zhoumi?”

Zhoumi membalasnya dengan senyuman. “Lama tak jumpa, Victoria.”

Victoria benar-benar terlihat kaget. Matanya masih terus melebar. Ia menggenggam cangkirnya dengan kencang, kemudian menegak lattenya dengan cepat. Sekilas tersirat raut cemas dan panik.

“Ah iya lama tak jumpa.” Balas Victoria masih dengan ekspresi tak percaya.

Victoria menarik nafasnya kemudian menghembuskannya. Ia tampak mengatur nafasnya agar dirinya terlihat lebih tenang. Ia kembali meminum lattenya. Setelah itu wajahnya kini terlihat lebih relaks.

“Apa kabarmu?” Zhoumi memulai pembicaraan.

So far so good.” Jawab Victoria tenang namun terasa dingin.

“Kemana saja? Kok baru kelihatan? hehehe.”

Belum mendengar jawaban dari Victoria, perhatian Zhoumi teralihkan oleh sebuah suara ringan nan nyaring. Suara itu berasal dari seorang lelaki kecil yang masih balita berlari-lari keil dan menghampiri Victoria.

Eomma!”

Kata itu sungguh mengejutkannya, dan yang lebih membuat jantungnya tertohok anak itu datang bersama pria yang merupakan tetangga apartemen Victoria dulu, Kangta.

Anak itu langsung memeluk Victoria, dan Victoria langsung membalas pelukan anak itu dengan sayang.

“Enggak kemana-mana. Aku di Seoul terus kok.” Jawab Victoria sambil menggendong lelaki kecil itu.

Saat melihat Zhoumi dihadapan Victoria, Kangta menunjukan ekspresi yang hampir sama dengan Victoria. Kaget. Hanya saja Kangta dapat lebi mengendalikannya sehingga Ia jauh lebih tenang. Baca lebih lanjut