[REVIEW] MOONLIGHT DRAWN BY CLOUDS

MOONLIGHT DRAWN BY CLOUDS

Genre : Drama, Romance, History, Comedy

Episode : 18

Why I Watched : Awalnya ku enggak tertarik nonton ini karena plotnya tidak begitu menarik dan juga aku enggak begitu suka drama saeguk, jadi agak males nontonnya. Hanya saja, seperti biasa, aku mudah terpengaruhi dengan komentar-komentar para netizen di Dramabeans, dan banyak yang bilang drama ini bagus dan indah. Ditambah yang mainnya Park Bogum, dan ada Jinyoung. Ku jadi memutuskan untuk menonton.

Kesan : aaaaah, indah banget drama ini. Menontonnya entah kenapa terasa menenangkan dan juga menarik untuk diikuti. Sekalinya menonton akan dibuat jatuh cinta dengan pesona drama ini, dan dijamin makin cinta dengan Park Bogum. Rasanya ingin lagi melihat Park Bogum di drama saeguk lagi. Oh iya drama ini diambil dari novel yang berjudul sama. Kalau ada terjemahan indonesianya aku ingin membacanya rasanya.

The interest thing : Semua sisi drama ini memiliki keindahan tersendiri, mulai dari ceritanya, aktingnya, latar musiknya, sinematografinya, pengarahannya. Pokoknya semua aspeknya indah banget, terutama sinematografinya. Suka bnget sama cara pengambilan gambarnya. Warna-warna yang ditampilinnya beragam tapi enggak bikin sakit mata. Rasanya setiap adegan bisa discreenshot untuk dijadikan wallpaper. OSTnya pun enak banget dan cocok dengan suasana saeguknya. Karakter-karakter utamanya juga yang muda-mudanya, enggak ada yang jahat. Macam Jo Haeyeon yang jatuh cinta pada pangeran mahkota, walau tahu pangeran mencintai wanita lain, tapi haeyon tetap baik dan sabar mendampingi calon suaminya itu sampai bahkan dia mengalah untuk mundur jadi putri mahkota dan mengerti cinta tak harus memiliki. Aku senang mereka tak terlalu diributkan karena masalah kerajaan. Biarlah para tetua saja yang memusingkan kerajaan, yang anak muda biarlah menikmati keindahan cinta dan idealism mereka wkwkwk. Selain itu bagi yang enggak begitu suka  drama saeguk, drama ini ringan untuk diikuti, enggak terlalu ribet konflik kerajaannya. Buat yang suka romance manis ala remaja, drama ini pasti cocok, karena memang manis banget dan perjuangan pasangan drama ini yang cukup berat.

The Bad Thing : Plot awalnya yang menyajikan mengenai crossdress sudah sangat umum di drama korea. Menurutku bukan hal aneh lagi, dan Hong Raon saat menjadi Hong Samnom, walau sikapnya sudah menunjukkan cukup laki, tapi penampilannya amat terlihat kalau dia itu adalah cewek. Harusnya orang-orang dengan mudahnya menyadari hal itu. Kelebihan drama ini cukup ringan untuk ukuran saeguk ini juga bisa jadi yang kurang dari drama ini. Rata-rata yang menyukai drama saeguk, sangat menantikan konflik kerajaan yang amatlah rumit dan menengangkan, sedangkan drama ini konflik kerajaannya enggak terlalu rumit, walau jelas konflik tersebut amatlah mempengaruhi hubungan Lee Young dan Hong Raon. Secara, Raon adalah putri dari pemberontak kerajaan, Hong Kyungrae. Makanya alurrnya agak lambat dan mungkin sedikit membosankan, walau ceritanya mengalir begitu saja, tapi tenang saja, semakin akhir cukup menegangkan dan enggak sabar untuk menamatkan drama ini. Kekurangan drama ini tak membuat keindahannya berkurang, malah jadi semakin terpancar.

Baca lebih lanjut

Iklan

[REVIEW] FALLING FOR INNOCENCE ; WARM AND COZY

Ah setelah sebulan lebih menghilang akhirnya….. sejujurnya drama yang akan aku review ini sudah aku selesaikan dari awal-awal aku liburan yaitu sekitar akhir juni-awal juli. Niatnya sebelum aku KKN aku mau selesaikan review drama-drama ini, tapi ternyata ada beberapa kendala sehingga aku tak sempat menyelesaikannya. Saat KKN aku tak membawa lappy jadi ya sudahlah tertunda dan itu membuat moodku jadi menguap tak bersisa. Awalnya niatku adalah membahas per karakter yang ada di drama-drama ini seperti aku membahas di review sebelumnya, tapi apa daya saking kelamaannya jadi lupa lagi. Aku sudah keburu lupa lagi dramanya seperti apa. Sumpah aku malas banget untuk menulis, tapi aku merasa berhutang karena tak menyelesaikan apa yang sudah kumulai. Jadi kalau reviewnya sedikit dan kacau maafkan karena moodku benar-benar menghilang terbawa arus kenyamananku hahahaha.

Ya sudah yuk langsung. Drama pertama check this out!

 

Falling For Innocence.

Setiap orang pastinya berhak mendapatkan kesempatan kedua, tapi tak semuanya beruntung bisa merasakan kesempatan kedua. Jika kamu mengalami penyakit mematikan yang membuat sisa hidupmu hanya dalam hitungan bulan, dan ternyata kamu mendapatkan keajaiban. Kamu mendpatkan kesempatan kedua. Dalam menjalani kehidupan selanjutnya apakah kamu harus lebih baik atau teap stagnan dengan kehidupan lalu yang buruk? Setidaknya hal ini menggambarkan kehidupan Kang Minho dalam drama Falling For Innocence.

Drama bergenre comedy, romance, dengan sedikit sentuhan mellow, menceritakan mengenai Kang Minho seorang direktur dari perusahaan investasi yang ingin sekali membangkrutkan perusahaan Hermia yang telah dibangun ayahnya. Tujuannya untuk membangkrutkan Hermia adalah untuk balas dendam pada CEO perusahaan tersebut yang tak lain adalah pamannya sendiri karena dulu pamannya merebut posisi ayahnya. Sayangnya Minho menuruni penyakit ayahnya, yaitu Jantung sehingga waktunya untuk hidup tak lama lagi. Dalam tiga bulan Ia harus membuat Hermia bangkrut dalam rencananya itu ia bertemu dengan sekretaris dari pamannya, Kim Soonjung. Pada suatu hari tiba-tiba kesehatannya menurun dan pingsan, saat itu juga Ia akhirnya mendapat keajaiban. Ia mendapatkan donor jantung yang cocok dengan dirinya. Semenjak itu Ia mengalami beberapa perubahan terutama akan cara pandangnya terhadap Soonjung yang awalnya Ia benci karena ayah Soonjung berkhianat pada ayah Minho.

Drama dengan tema transplatasi organ tubuh lalu memiliki beberapa perubahan sebenarnya bukan cerita baru. Sudah lumayan sering diangkat menjadi cerita walau tak sesering kisah cinta “Cinderella”. Apalagi sebelumnya, pacarnya Jung Kyungho yang berepan sebagai Kang Minho, Sooyoung SNSD, bermain drama dengan tema serupa dan sama-sama menjadi orang yang ditransplatasi di drama, My Springs Day. Awalnya aku tak begitu tertarik, tetapi setelah membaca 2 episode, kok bikin penasaran ya? Pada akhirnya aku memutuskan untuk menonton drama satu ini.

Aku suka drama yang memiliki judul lain Fallin in Love With Soonjung, ini karena mengalir banget. Cara storytellingnya enak banget, enggak bikin bosan. Ditambah setiap akhir episode selalu sukses bikin kita penasaran setengah mati. Nagih banget drama satu ini. Kalau sudah nonton satu episode dijamin susah berhenti. Kamu bakalan terus menerus memutar episode demi episode sampai tamat. Aku merasa jalan ceritanya rapih banget. Setiap kepingan adegan itu berhubungan.

Misteri dalam drama ini awalnya adalah siapa pembunuh Ma Dongwook, kekasih Kim Soonjung. Sebenarnya pembunuhnya agak tersembunyi saat diawal, tapi sebenarnya kita sudah dapat menduga sih itu adalah Joonhee. Ya misteri pembunuhan ini bukan dijadikan sebagai kasus utama atau cerita utama drama ini, makanya langsung ketahuan siapa yang membunuh. Kasus ini hanyalah sebagai latar belakang dan pendukung untuk jalan kisah romantis antara Minho dan Soonjung, dan juga usaha Minho untuk mempertahankan perusahaan dari serangan gold partners dan juga Joonhee.

Sebenarnya mungkin awalnya kita akan sedikit bingung, saat jantung hasil transplantasi Minho merasa berdegup kencang saat melihat Soonjung, apakah Minho itu benar-benar jatuh cinta, atau hanya sebagai memori jantung Dongwook yang ditransplatasikan kepada Minho. Keraguan itu juga muncul pada Soonjung saat tahu jantung Dongwook menjadi milik Minho, ditambah lagi ada beberapa kebiasaan Dongwook jadi kebiasaan Minho seperti Minho jadi senang mengemut lolipop. Sikap Minho ada yang berubah, Ia menjadi bisa lebih diajak bercanda dan tak begitu kejam. Minho memang sedikit berubah menjadi lebih baik, tapi percayalah itu bukan karena jantungnya, tapi karena Ia sadar sendirinya. Ia sadar saat melihat pamannya sakit, apa yang Ia lakukan kini tak jauh berbeda dengan yang pamannya lakukan kepada ayahnya. Ya walaupun kejam, tapi sebenarnya Minho ini baik hati, Ia hanya anak yang terluka karena kematian orang tuanya yang secara tak langsung disebabkan pamannya sendiri. Ia masih punya hati nurani oleh karena itu Ia tak jadi balas dendam. Walaupun begitu Ia masih tetap Minho yang dulu, yang galak dan kejam, hanya saja Ia menjadi lebih baik. Hal itu menandakan kalau Minho berjantungkan Dongwook tetap Minho yang dulu, bukan Minho yang berkepribadian Dongwook.

Oleh karena itu perasaannya pada Soonjung pun murni karena perasaannya sendiri. Jantungnya berdegup kencang mungkin sebagai “memori” jantung Dongwook, tetapi itu hanya sebagai pembuka, karena jika Ia tak benar jatuh hati pada Soonjung, jantungnya takkan berdegup kencang terus menerus. Jantung itu kini miliknya, Ia bisa mengontrol hal itu. Ia hanya terbutakan rasa kesal karena ayahnya Soonjung berkhianat pada ayahnya, tapi begitu mengenal Soonjung ditambah jantung barunya, akhirnya Ia sadar jika Soonjung ini sangat loveable. Dia itu murah senyum, baik banget, keibuan, lembut, anggun, dan juga innocence. Dibalik kelembutannya itu dia bisa bersikap professional dan tegas. Jelaslah gimana Minho tak terpesona? Alhasil perasaan itu memang murni dari Minho bukan dari jantung Dongwook. Bukan jiwa Dongwook yang berpindah kepada tubuh Minho, tapi ya Jiwa Minho dalam raga Minho yang mencintai Soonjung seperti Dongwook mencintai Soonjung. Baca lebih lanjut

[FF] Smile Drunk

Title               : SMILE DRUNK

Rate               : PG 13+

Genre             : seperti biasa ROMANCE, FLUFF

main Cast     : GONGCHAN B1A4, EUNJI A-PINK

length           : One shoT

Author          : mumpung HANAN HANIFAH punya ide

Disclaimer   : Gongchan-Eunji tuh couple yang tak pernah ada moment, tapi aku entah mengapa ngeship mereka. Random aja gitu aku mlih mereka buat dishippin wkwkwk. Rencana awalnya ini harusnya terbit april, tapi karena april aku sibuk uts dan tugas, jadi baru selesai me sekarang. gagal deh target aprilku. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY.

Cahaya matahari pagi menelisik mataku dan hilir ringan angina segar yang menggelitik hidungku cukup membuatku tersadar dari alam mimpiku, namun tak cukup kuat untuk membuatku terbangun. Kelopak mataku rasanya seperti tergantung karung beras sehingga terasa berat untuk membukanya. Aku memegangi kepalaku yang terasa amat pusing. Kepeningan kepala ini membuatku ingin melanjutkan aktivitas tidurku ini. Kupeluk kembali guling yang berada disebelahku.

Tunggu… guling? Kenapa bisa ada guling? Aku tidur dimana? Seingatku semalam aku masih minum di kedai dekat kampus. Aku raba-raba tempat tidurku. Ini sebuah Kasur. Aku tidur di Kasur siapa? Hal ini langsung membuat mataku terbuka. Aku melihat sekelilingku. Kini aku berada disebuah kamar bergaya maskulin. Terdapat gantungan baju futsal dan beraneka topi berlatar belakang tembok berwarna hitam putih. Jelas ini bukan kamarku. Tidak ada poster doraemon dan juga lampu hias berbentuk bintang. Seketika aku langsung bangkit dari Kasur. Aku mengira-ngira, dimanakah aku berada? Di apartemen siapakah aku? Melihat style kamar seperti ini tampaknya aku sudah dapat mengira, tapi aku merasa tak mungkin aku bisa terdampar di apartemen orang ini.

Aku pun segera keluar kamar untuk memastikan aku berada dimana, begitu membuka pintu aku langsung disambut dengan sofa berwarna merah tua dan juga sebuah televisi, dan juga sebuh radio tua dipojok kanan. Aku mengenal sekali ruangan ini. Beberapa kali aku pernah menginjakkan kaki di kamar ini. Berarti sekarang aku berada di apartemen…..

“Eunji! Akhirnya bangun juga. Ayo sarapan, sudah kubuatkan sup penghilang mabuk untukmu.” Sapa sang empu apartemen dari dapur. Kenapa aku bisa di tempat ini? mengapa aku bisa tersasar di apartemen Gongchan??? Ini semua pasti karena aku terlalu banyak minum semalam!

Aku hanya bisa menatapnya dengan penuh tanda tanya. Ditatap seperti itu malah membuatnya menghampriku dan mendorongku ke meja makan. Ia membuka kan kursi untukku dan mendudukkanku,, dan aku hanya bisa melihatnya dengan tatapan bingung.

“Kok kamu seperti yang linglung?” Tanya Gongchan sambil mewadahi sup untukku.

“Kenapa aku bisa disini?” Tanyaku langsung tanpa basa-basi.

“Kau yang memintaku datang.”

“Aku?”

“Iya, kau meneleponku memintaku untuk datang.” Angguk Gongchan.

jinja? Lalu kenapa kau malah membawaku ke apartemenmu?”

“Aku sudah berniat untuk membawamu pulang ke apartemenmu, tapi aku tak tahu password apartemenmu, dan kau sudah terlalu mabuk untuk ditanyai. Jadi daripada kau kuterlantarkan mending ku bawa pulang.”

Aku langsung mengambil ponselku di saku celanaku. Kuperiksa catatan panggilan untuk memastikan dia tak berbohong, dan sial Ia berkata jujur. Disitu tercatat kalau aku meneleponnya sebanyak lima kali dengan panggilan terakhir jam 11 malam. Urat Maluku rasanya kini menebal dan memanas. Aku malu sekali, kenapa aku bisa melakukan hal sebodoh itu. kugigit bibirku untuk menutupi rasa malu dan gugupku.

“Maafkan aku karena membuatmu repot. Aku tak sadar saat meneleponmu. Maaf ya.”

“Sudahlah. Tak usah dipikirkan. Makan saja dulu.” Sahut Gongchan sambil mengunyah.

Sendok stainless berisikan kuah sup dan nasi masuk bergiliran perlahan ke mulutku. Rasanya ingin mengetokkan kepalaku ke meja karena kebodohanku ini. kenapa bisa-bisanya saat mabuk aku malah menelepon dia? Aku harap hal bodoh yang kulakukan saat mabuk hanya sebatas itu. eh iya kan? hanya sebatas itu? aku tak melakukan hal bodoh lainnya kan? ah sungguh aku tak mengingatnya.

“Gongchan, saat aku mabuk aku tak melakukan hal bodoh lain kan?” Delikku penasaran.

“Hal bodoh? Seperti apa?” Dahi Gongchan berkerut.

“Ya hal bodoh, seperti aku meneleponmu saat mabuk.”

Mata Gongchan melirik ke atas tampak mengingat-ingat. “Hm… kurasa tidak. Saat kau mabuk kau hanya banyak bicara saja menceritakan masalahmu.”

“Masalah? Masalahku yang mana?” Panikku seketika.

“Kau yang punya masalah tentunya kau yang harusnya lebih ingat. Sudah akan saja dulu. berpikirnya nanti lagi.”

Dia bilang kalau aku membicarakan masalahku. Masalahku yang mana? Serius ini aku merasa panik. Wajar saja aku panik, karena aku terdampar di kedai minum karena dia. Jangan bilang jika aku malah menceritakan hal itu langsung pada orangnya. Mati aku! Aku otomatis langsung menepuk dahiku.

“Kenapa? Kau mengingatnya?” tanya Gongchan. Aku menggeleng.

Ia terkekeh melihatku seperti itu. “Hehehe, sudah makan saja dulu. jangan berusaha mengingat.”

Gongchan menyuruhku untuk tak berusaha untuk mengingat, tapi hal itu malah membuatku semakin ingin berusaha mengingat. Hal bodoh apa yang kuceritakan pada dia. Aku ingat sebelum aku mabuk, aku mendatangi kedai itu karena kekacauan hati yang kurasakan. Semua kekacauan itu disebabkan orang yang sudah membuat sup penghilang mabuk ini.

Hal ini bermula dari masalah hubungan kami. Hubunganku dengan Gongchan dapat dikatakan dekat, tapi untuk mengarah ke hal romantis, aku tak yakin. Hanya saja memang betul perasaaanku padanya lebih dari sekedar teman, tapi aku tak tahu dengannya. Dia sulit dbaca karena faktanya dia baik terhadap semua perempuan yang Ia kenal. Ia selalu tersenyum manis pada semua perempuan. Hal tersebut sulit bagiku untuk menebak siapa perempuan beruntung yang mendiami hatinya. Agar aku dapat mengetahui siapa perempuan beruntung itu, aku selalu memperhatikan perempuan yang dekat dengan dia selain aku. Pengamatanku itu menghasilkan beberapa nama, tapi pada akhirnya minggu lalu mengarah pada satu nama, Jiyeon, teman sekelas Aku dan Gongchan.

Minggu lalu aku sedang makan bersama dia dan satu teman kami, Jieun. Mereka berdua lalu pergi ke toilet, dan Jiyeon menitipkan ponselnya padaku. Diponselnya muncul sebuah pesan dari kakaotalk dan itu pesan dari Gongchan. Hal itu membuatku penasaran dengan isinya, saat Jiyeon telah kembali aku berusaha untuk mengintip isi pesan tersebut saat Jiyeon sedang membalasnya. Aku pun beberapa kali melihatnya saling berbalas pesan. Dari pesan itu dapat kusimpulkan jika mereka sangat akrab. Hal yang mereka bicarakan tak sekedar tugas, tapi hal tak penting lainnya. Disitulah aku menyadari tampaknya ada sesuatu diantara mereka, dan tentu saja itu membuatku merasa jatuh.

Kekecewaanku ternyata terus berlanjut dengan puncaknya sore kemaren. Aku sedang berjalan di parkiran menuju gerbang kampus untuk pulang. Aku tak sengaja melihat ke arah parkiran mobil, dan aku melihat pemandangan tak mengenakan –setidaknya untukku–. Aku melihat Gongchan dan Jiyeon berdiri disamping mobil Gongchan. Tampak terlihat dari raut wajah mereka yang mendalam, mereka sedang berbicara hal serius, dan hal yang membuatku hancur adalah Gongchan memeluk Jiyeon. Disitulah aku benar-benar tersadar jika aku dan Gngchan hanya sebatas teman. Hanya aku yang berharap lebih, dia tidak.

Kejadian itu membuat pikiranku tak berada diragaku. Aku melangkah kaki ke sembarang tempat untuk menghilangkan kegundahan itu. Pelukan itu terus terputar diotakku. Aku merasa hatiku benar-benar hancur. Langkah kaki sembarang itu malah membuatku ke kedai minum dekat kampus. Sejujurnya kedai minum itu mempunyai kenangan tersendiri. Kami berdua pernah minum bersama dan mengobrol tak berarah hingga dini hari menjelang. Mengingat itu membuatku makin banyak menghabiskan botol soju. Aku mengingat hanya sampai situ saja. Setelah aku dalam pengaruh alkohol masih samar dalam ingatanku.

Setelah selesai makan, Gongchan menyodorkan bajunya untuk kupakai setelah mandi. Sebenarnya aku ingin bolos saja, tapi tak mungkin karena sjadwalku hari ini praktikum. Untuk pulang dulu pun takkan keburu karena sejam lagi akan dimulai. Perjalananku dari sini ke apartemen memakan waktu setengah jam, dari apartemen ke kampusku pun butuh setengah jam. Belum macet dan menunggu bis. bisa-bisa aku telat dan tak boleh masuk. Pilihan Gongchan meminjamkan baju adalah hal yang tepat.

Kubiarkan kucuran air mengalir deras di kepalaku. Aku berharap dengan begitu ingatanku akan kembali lancar. Dinginnya air tampaknya memang berhasil membuat kesadaranku benar-benar pulih dan perlahan ingatanku mulai kembali. Ya sekarang aku ingat kalau aku meneleponnya. Aku baru ingat kalau ini kebiasaanku, jika aku punya maslaah dnegan orang itu dan aku sampai mabuk biasanya aku akan meneleponnya, tapi biasanya aku tak menyuruh orang itu untuk menemuiku. Aku hanya mengumpatnya. Kenapa Dia bisa datang menghampiriku? Ku mencoba membuat reka adegan dalam otakku saat tadi malam.

*****

Baca lebih lanjut

[FF] Mineral Water

Title               : MINERAL WATER

Rate               : 13+

Genre             : FLUFF, ROMANCE

main Cast     : PARK CHORONG A-PINK

OTHER CAST   : JINYOUNG B1A4, WOOHYUN INFINITE, SUHO EXO

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH yang bikin

INSPIRED        : dari ff ku yang BRACELET, heehe

Disclaimer   : gara-gara liat video ereka di youtube, aku jadi tertarik sama couple ini. lucu liat chorongnya =)) kesannya kok kayak dia yang suka banget =))), ya tapi video shipper shipper begituan sih buat lulucuan aja. jangan terlalu dipikirin, jangan dianggap serius apalagi dimasukin ke hati hehehe. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

 

Suasana lapang tampak ramai. Orang-orang tampak menyebar di bawah puluhan lampion yang tergantung diatas lapang. lampion warna-warni tersebut tampak indah menyembul dibawah gelapnya langit. Ada yang berkumpul di depan Panggung berukuran 4×4 m berdiri dengan kokohnya di ujung barat lapang, ada pula yang berkeliling mengunjungi stand-stand yang ada di pinggir lapang. Semua mahasiwa larut dalam acara tahunan fakultas mereka, yaitu festival seni. Setiap tahun, fakultas seni dan musik selalu mengadakan festival seni yang selalu mengadakan berbagai macam perlombaan kesenian.

Chorong pun tak mau melewatkan acara tahunan tersebut. Ia berada di kerumunan orang yang berkumpul lapangan gedung fakultasnya. Ia tak sendiri berada disana. Ia bersama seorang temannya, yaitu Jinyoung. Mereka berdua bergabung untuk menyaksikan perlombaan-perlombaan yang berlangsung.

Saat ini dipanggung sedang berlangsung kompetisi band. Jinyoung fokus menyaksikan aksi panggung, berbeda dengan Chorong. Chorong terlihat tak begitu fokus  menonton. Seringkali mmata dan kepalanya melihat ke seluruh penjuru arah, seolah sedang mencari sesuatu. Mulanya Jinyoung tak sadar akan kelakuan Chorong. Ia tersadar saat berdiskusi tentang band yang tampil.

“Gila itu drummernya keren banget!” Seru Jinyoung. “Itu juga yang main gitar siapa?oh si Chanyeol ya? heol, jago juga. Mereka aransemen lagunya bagus banget, mana vokalnya pakai Eunji pula! Wah, Ini band bisa menang nih!”

Chorong diam tak menjawab. Ia tak mendengarkan apa yang Jinyoung ucapkan. Ia masih asyik celingak sana celinguk sini sambil memakan eskrimnya. Jinyoung menunggu tanggapan dari Chorong, tapi tak terdengar suara Chorong. Disitulah Ia sadar.

“Park Chorong! Tadi kamu dengar enggak aku ngomong apa?” Protes Jinyoung sambil mencolek bahu Chorong. Setelah dicolek bahunya, Chorong barulah sadar.

“Hah? tadi kamu memang ngomong apa?” Tanya Chorong bingung.

Jinyoung mendesah sebal. Ia melihat Chorong dengan tajam. Ia pun melontarkan pertanyaan untuk menguji, apakah Chorong tadi fokus terhadap panggung atau tidak.

“Menurut kamu band yang barusan tampil gimana?”

Chorong terlihat sedikit gelagapan. “Eu… hm… biasa saja.”

“Kamu enggak memperhatikan ya?”

“Ah enggak kok!” Sangkal Chorong sambil pandangannya menatap arah lain, bukan menatap Jinyoung.

“Enggak usah bohong! Mata kamu tuh, keliaran kemana-mana. Cari apa sih?”

Chorong menggeleng. “Enggak cari apa-apa kok. Cuman mau liat keadaan sekitar saja. Ramai apa enggak.”

Jinyoung yang sudah mengenal Chorong sebagai sahabat selama 3 tahun kuliah dijurusan yang sama yaitu komposer, tentu saja Ia tak mudah dikelabui Chorong. Ia tak percaya begitu saja.

“Enggak usah bohong deh sama aku! I know you so well. Kau takkan bisa menipuku. Kau pasti sedang mencari seseorang kan?” Jinyoung berbicara dengan sedikit membungkukkan badannya.

Chorong yang ketahuan berbohong hanya bisa menggigit bibirnya sebal. Melihat itu Jinyoung tertawa keras.

“Hahaha sudah kuduga, pasti kamu sedang mencari…” Obrolan mereka terpotong oleh kedatangan teman mereka, sekaligus orang yang dicari Chorong semenjak tadi.

“Hei,bro!” Sapa Jinyoung kepada kedua temannya.

“Halo,bro!” Woohyun membalas sapaan Jinyoung. Mereka berdua melakukan high five.

“Kemana saja anak jurusan tetangga ini?” Tanya Jinyoung sambil menunjuk Suho

“Tak kemana-mana kok, hahaha.” Balas Suho sambil bersalaman dengan Jinyoung.

“Oh ada Chorong? Halo!” Sapa Woohyun sambil tersenyum.

“Hai, Chorong!” Senyum Suho sambil melambaikan tangan

Mendapat sapaan dari orang yang Ia harapkan membuat Chorong tersenyum dan mukanya terlihat jelas memerah. Ia pun membalas sapaan mereka berdua dengan senyuman manis.

“Kalian ikut lomba menyanyi kan?” Tanya Jinyoung.

Keduanya mengangguk.

Jinyoung mendorong bahu Woohyun pelan. “Ah kamu ngambil jatah anak jurusan Vokal! Anak Komposer sih harusnya ikut lomba aransemen, bukannya ikut lomba menyanyi! Hahaha.”

“Hahaha, iya nih, ambil jatah aku saja!” Suho ikut bercanda menyalahkan Woohyun.

“Lah kan enggak ada larangan selain anak jurusan vokal enggak boleh ikut menyanyi. Jadi kan hak aku dong buat ikutan. Hahaha.” Sahut Woohyun penuh tawa.

“Tampil ke berapa?”

“Kita di awal berturut-turut nih. Aku ke tiga, Suho ke empat.” Jawab Woohyun.

Terdengar suara pengumuman jika lomba menyanyi lima menit lagi akan dimulai. Saatnya Woohyun dan Suho menuju backstage untuk bersiap. Mereka pun segera mengkhiri percakapan mereka.

“Wah kita sudah dipanggil nih! Yuk!” Ajak Suho pada Woohyun.

“Kita lomba dulu ya!” Pamit Woohyun.

“Oke bro, semangat! Sukses!”

Chorong yang daritadi diam saja karena malu dan takut salah tingkah akhirnya ikut bersuara. Sambil tersenyum dan mengepalkan tangannya, Chorong berkata “Fighting!” Ia mengatakan itu seolah untuk mereka berdua, padahal matanya hanya tertuju pada satu orang.

“Terima kasih Chorong!” Sahut mereka berdua.

Sepeninggalan mereka berdua, Jinyoung langsung menggoda Chorong.

“Cie.. begitu ada dia langsung diam seribu bahasa gitu. Biasa aja dong, enggak usah merah gitu mukanya. Hahahaha” Goda Jinyoung.

Chorong memukul lengan Jinyoung karena sebal digoda.

“Kenapa diam saja daritadi? Padahal kan kesempatan bagus buat ngobrol.”

“Malu.” Ujar Chorong sambil menunduk saking malunya padahal orang yang Ia suka sudah tak ada di hadapannya lagi.

“Ah payah! Gimana mau maju kalau kamu diam saja, cuman nunggu. Jangankan mengobrol, nyapa saja kamu enggak berani kan?”

Chorong mengangguk lemah.

“Kenapa enggak berani? Nyapa doang loh padahal! Walau beda jurusan, kamu sama dia kan kenal! Kalian kan sama-sama anak teater. Sapa saja padahal!” Seru Jinyoung berapi-api saking gregetnya dengan sikap Chorong yang pemalu.

“Habisnya aku malu, lagian aku juga takut dia enggak suka di sapa sama aku.” Ujar Chorong lemas seolah ia hilang harapan.

“Kenapa harus takut? Percaya deh, dia pasti senang juga kok di sapa kamu. kalau aku liat dari matanya dia ada ketertarikan sama kamu, cuman mungkin dia masih agak ragu makanya dia enggak bertindak. Nah makanya kamu harus tunjukkin kalau tertarik sama dia, jadi dia enggak ragu untuk mengambil tindakan!” Jinyoung berusaha memberi semangat pada Chorong.

Chorong tak percaya dengan perkataan Jinyoung. “Ah bohong!”

“Eh malah enggak percaya. Ya, Park Chorong! Aku ini pria, aku tahu arti tatapan setiap pria. Tatapan dia ke kamu itu terlihat sekali kalau dia memiliki ketertarikan dengan dirimu! Nah makanya sekarang tunjukkan aksimu!”

Chorong menatap mata Jinyoung. Terlihat dari sorot mata Jinyoung, kalau Ia sedang tidak berbohong. Chorong pun akhirnya percaya.

“Terus aku harus apa?”

“Mulai dari hal kecil. sekarang kasih dia semangat secara pribadi untuk lomba sekarang.” Sarran Jinyoung.

“Hah? gimana caranya? Masa aku tiba-tiba datang ke backstage, terus bilang sama dia, ‘hai, semangat ya!’ ya kali kayak gitu. Kan enggak lucu!”

Jinyoung menepuk dahinya. “Ya enggak gitu juga. Kamu datang sambil bawa minum, terus kasih ke dia, terus kasih semangat deh. Kan dia mau nyanyi, pasti butuh air mineral.”

“Benar juga.” Chorong mengangguk-angguk setuju. “Tapi…”

“Tapi kenapa lagi sih? Malu?”

Chorong mengangguk lemah.

Jinyoung menghela nafas dengan kesal. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya tuhan!”

Terdengar suara MC berkumandang. MC mengumumkan jika peserta pertama akan tampil. Jinyoung berdecak kesal.

“Ayo, Chorong! Lakukan! Bentar lagi Dia tampil!”

Baca lebih lanjut

[REVIEW] Movie : Miss Granny

Jumat minggu lalu Aku berkesempatan untuk menonton fil Miss Granny di blitzmegapleex PVJ secara free. Kebetulan hari minggu sebelumnya aku memenangkan tiket dari kuis yang diadakan Ozrientalnya Oz Radio Bandung. Pememnang ada empat dan salah satunya Aku, sehingga aku berkesempatan menonton.

Sebelum mereview izinkan Aku curhat dulu ya. kalau enggak mau baca bisa diskip paragrafi ini. Demi mengambil tiket gratis seharga Rp 45.000,00, aku rela langsung dari kampus ke setrasari yang jaraknya jika dihitung dalam jam, Aku sudah bisa sampai Jakarta. Aku dari Jatinangor  sekitar jam 11.30. Aku mengejar jam tayang yang jam 3. Berhubung tempatnya sangat jauh, aku buru-buru. Perjuangan untuk mengambil tiket cukup melelahkan. Aku belumm ernah ke setrasari, aku hanya tahu jika setra sari berada disekitar jalan sutami. Berhubung aku sangat jarang sekali ke daerah sutami, aku tak tahu persisnya setra sari dimana. Aku pun mencari info ke internet dan teman-temanku. Akhirnya aku mendapat petunjuk, tapi tetap saja Aku masih agak sedikit tersesat. Seharusnya Aku sampai di Setrasari itu sekitar setengah dua siang, tapi karena dibawa petunjuk sesat mamang angkot sehingga Aku harus berjalan memutar Sukajadi, lalu ditambah nagkot setrasari lurusnya ngetemnya naudzubillah, dan juga Aku sempat salah jalan sehingga berputar gara-gara mengikuti google map yang ternyata sesat, alhasil Aku baru sampai Oz radio Bandung sekitar jam 2 siang. Aku pun harus berjalan cukup jauh hari itu karena Oz radio berada di daerah perumahan cukup elit yang sulit akses kendaraan umum. Untung PVJ tak jauh dari sutami, sehingga aku keburu untuk nonton yang jam 3. Saat kembali ke PVJ pun aku harus berjalan kaki karena macet. Sungguh melelahkan.

Miss Granny merupakan film dari negeri ginseng yang bergenre komedi, family, dan ada sedikit romance. Film ini menceritakan seorang nenek berusia 70 tahun, Oh Malsoon. Dia merupakan seorang yang ceria, mempunyai seorang anak lelaki yang sudah sukses menjadi seorang professor. Oh Malsoon pun memiliki dua orang cucu, tapi Dia mempunyai sedikit masalah dalam hubungannya dengan menantu yang memiliki penyakit jantung dan stres. Baca lebih lanjut