[FF] VALUE

Title               : VALUE

Rate               : 15+

Genre             : lagi pingin bikin SLICE of LIFE dan WORK gitu dipadu dengan FRIENDSHIP

Cast               : yang disebutin nama lengkapnya dan jadi central hanya PARK CHORONG A-PINK dan LEE CHANGSUB BTOB. Sisanya bayangin sendiri deh. Bebaskan imajinasi kalian.

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH idea

INSPIRED        : baru nonton BEAUTIFUL GONGSHIM di tv. Pas liat episode 1, terinspirasilah.

Disclaimer   : Lagi suka banget BTOB dan ngebiasin parah Changsub *huhuhu aku tahu aku telat join jadi Stan BTOB*, jadi pengen bikin FF yang ada  dianya, cuman dianya bukan jadi tokoh utama disini wkwkwk. Nanti deh ku bikin lagi Changsub centernya hehehe. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D

“Hei, Park Chorong! Kamu masih mau bekerja tidak?!”

“Eh.. iya tentu saja.”

“Kalau begitu lakukanlah! Tak usah menolak! Kecuali kalau kamu mau kontrakmu diputus….. kau ini belum jadi pegawai tetap! Ingat itu!”

*****

Chorong menatap cermin di toilet dengan tatapan kosong. Ingatan kejadian 7 bulan lalu selalu menghantuinya setiap diberi tugas oleh kantornya. Ia berpikir, apakah yang Ia lakukan selama ini hal yang benar. Apakah sesulit ini untuk bertahan hidup. Sudah hampir 1 tahun Ia menjadi pegawai sebuah perusahaan kosmetik. Sayangnya, statusnya masih pegawai kontrak, dan kontrak hanya dalam kurun kurang dari sebulan ini akan habis. Nasibnya kini benar-benar fifty-fifty. Ia bisa saja diperpanjang kontraknya, bahkan diangkat menjadi pegawai tetap, tapi kemungkinan Ia untuk ditendang pun sama besarnya. Berbagai cara Ia usahakan agar Ia bisa bertahan dan dapat diangkat menjadi pegawai tetap. Seperti yang Ia lakukan saat ini.

Setiap ada acara seperti ini, selalu timbul keraguan dalam dirinya. Ia selalu meminta izin ke toilet untuk menenangkan diri sejenak. Walau sudah 7 bulan Ia berada dalam kegiatan seperti ini, tapi tak pernah sekalipun Ia jalani dengan senang hati. Malah Ia merasa direndahkan, tapi apa daya. Ia harus bertahan hidup. Ia butuh uang dan itu Ia dapatkan dari pekerjaannya kini. Ia ingin kehidupannya lebih baik dan nyaman.

Berada dibagian Marketing membuatnya harus bertemu dengan banyak klien. Satu hal yang Ia tak sukai dari budaya kerja diperusahaannya. Mereka harus selalu bisa menyenangkan klien, terutama pegawai wanita sepertinya. Chorong yang good looking, tentu saja menjadi andalan tim nya untuk acara makan malam seperti yang akan Ia lakukan kali ini. Ia harus tampil cantik dan menawan agar bisa menarik perhatian klien. Ia pun harus siap melayani mereka. Walau tak sampai harus tidur dengan kliennya, tapi tetap saja Chorong merasa jijik dengan hal yang Ia lakukan. Ia harus menuangkan minum, harus menemani mereka minum, makan, karaoke, bahkan terkadang Ia harus berdua saja dengan klien. Ia benci hal itu, tapi Ia harus melakukannya, karena selalu mendapat ancaman kontraknya bisa putus kapan saja.

Chorong mencuci mukanya agar terlihat segar. Setelah mengelapnya denagn tisu, Ia memoleskan bedak, menggambar eyeliner, dan juga mewarnai bibirnya dengan lipstik merah agar terlihat lebih menarik. Setelah selesai mempercantik diri, Chorong menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan. Ia berdoa sebentar memohon untuk dikuatkan.

Malam Ini Ia bersama manajernya, salah satu direktur perusahaannya akan bertemu dengan salah satu dirjen perpajakan nasional di restoran makanan khas korea. Sebenarnya ini bukanlah pekerjaan tim nya, tapi entah mengapa Ia dipanggil untuk datang ke acara makan malam ini. Demi bisa menjadi pegawai tetap, Ia terima ajakan atasannya tersebut.

Di meja makan manajer dan direkturnya sudah siap menyambut tamu mereka. Tak lama kemudian, tamu yang akan mereka sambut datang. Dirjen itu didampingi dua pria muda. Chorong memperhatikan salah satu pemuda yang mendampingi dirjen tersebut. Ia tampak mengenal orang tersebut. Pria itu sedang posisi menyamping, mempersilahkan atasannya masuk duluan. Saat pria itu mukanya menghadap ke arah Chorong, Chorong langsung menyadari. Tak menyangka Ia bertemu dengan sahabatnya saat dalam bekerja seperti ini. Ia tahu, sahabatnya itu bekerja di perpajakkan, tapi Ia tak menyangka salah satu tamunya adalah sahabatnya sendiri, Lee Changsub.

Changsub juga langsung menyadari kehadiran Chorong. Ia langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangan. Chorong membalasnya dengan senyum dan lambaian kecil. Ia harus menjaga sikap dihadapan atasannya. Chorong memberi tatapan. Ia mencoba “telepati” kepada Changsub agar menjaga sikapnya juga. Sudah berteman dan saling mengenal satu sama lain dalam waktu yang lama, Changsub langsung menangkap sinyal Chorong dan bersikap tenang.

Para atasan saling menyapa dan menjabat tangan. Chorong pun menjabat tangan dengan utusan kementrian tersebut. Saat berjabat tangan dengan Changsub, mereka saling mengeraskan jabatan tangan untuk saling menyapa dan jelas mereka tertawa akan hal itu, namun dalam hati. Saat bersalamn dengan dirjen, Dirjen itu bersalaman dengan dua tangannya dan sedikit mengelus punggung tangan Chorong. Chorong yang tak nyaman hanya bisa sedikit mengerutkan dahi, dan agak menarik tangannya sambil mencoba terus tersenyum.

Seperti pada acara makan malam biasanya, mereka berbasa-basi terlebih dahulu. Disaat seperti ini, yang menjilat tugas dari direktur dan manajernya. Ia hanya ikut tersenyum dan tertawa. Begitu juga dengan dua orang yang mendampingi dirjen perpajakkan tersebut. Mereka hanya ikut tertawa-tawa saja. Sembari makan mereak terus mengobrol. Saat mereka mulai minum, negosiasi lah mulai dilakukan. Negosiasi biasanya memang tugas Chorong. Ia dikenal sebagai salah satu tim marketing yang jago negosiasi. Biasanya saat acara makan malam seperti ini, Chorong melakukan negosiasi sambil melayani klien, tapi untuk malam ini berbeda. Ia bertugas hanya untuk melayani saja. negosiasi masalah pajak sama sekali bukan urusannya.

Chorong mulai menuangkan arak ke gelas sang dirjen dan juga atasannya. Ia pun tak lupa menuangkan minuman tersebut kepada “pengiring” dirjen.  Saat suasana makin naik, mereka semua mulai bernyanyi-nyanyi, dan Chorong lah yang harus terus menyanyi dan menari. Selain itu juga Chorong harus mengeluarkan aegyo setiap atasannya mengajukan penawaran pada sang dirjen. Melihat hal itu Changsub merasa ada yang enggak beres dengan Chorong. Ia melayangkan pandanganya ke Chorong dan menatap Chorong dengan serius. Ia tahu, sahabatnya itu bukanlah tipe yang suka diperlakukan seperti itu. Changsub dengan jelas bisa menangkap rasa tidak nyaman dari Chorong, tapi yang jadi pertanyaannya, kenapa Chorong mau melakukan hal itu.

Changsub mencoba memberi sinyal pada Chorong. “Chorong ssi. Tak apa jika aku memintamu menuangkan lagi minuman ke gelasku?” Ya!! bodoh! Apa yang kamu lakukan?

Chorong menatap Changsub dengan senyum palsu. Ya! kenapa kamu menyuruhku?!

“Hahahahahaha, jangan sungkan Changsub ssi. Itulah tugasnya dia berada disini hahahaha.” Sahut manajernya Chorong.

Chorong  melirik sinis manajernya dalam 0,1 detik, namun hal itu langsung tertutupi dengan topeng senyumnya. “Iya tak masalah. Betul, itu memang tugasku.”

“Tak apa?” Tanya Changsub serius. Kamu enggak apa-apa berada dalam situasi macam ini?

Chorong menangkap sinyal yang dimaksud Changsub. Sambil menuangkan minuman, Chorong mengangguk. “it’s okay”. Aku tak apa. Aku bisa mengatasinya. Percayalah.

“Nona cantik, tolong tuangkan juga untukku, dan anak buahku yang satu lagi juga.” Pinta sang dirjen dengan centil. Chorong membalas lagi dengan topeng senyum dan menuangkan minuman ke gelas anak buah dirjen dan dirjen. Saat menuangkan minuman ke gelas dirjen, dirjen itu memegang tangan Chorong.

“Park Chorong ssi, wanita semuda dirimu, pastinya belum menikah kah?” Tanya Dirjen tersebut. Chorong berusaha melepaskan perlahan.

“Jangankan menikah pak, pacar saja dia tak punya. Betul kan, Chorong?” Jawab Manajernya dalam keadaan mulai tidak sadar. Chorong menjawabnya dengan senyuman.

Dirjen itu agak kegerahan. Ia membuka jasnya dan melonggarkan dasinya. “Ehem… begini Direktur Yeo, Manajer Jung. Masalah tunggakan pajak perusahaan kalian, jika kalian ingin mencicilnya, tentu harus membangun hubungan yang lebih baik dulu, bukan begitu?”

Direktur dan Manajer Chorong langsung terbahak basa-basi. “Hahahaha, betul. Kita harus membangun hubungan baik.”

“Aku tak suka cara melanggar hukum seperti menerima hadiah. Aku ini seorang pns yang menjunjung tinggi keadilan hahaha.” Dirjen itu menatap Chorong dengan nakal. “Aku lebih suka menjalin hubungan baik dengan ya ngobrol-ngobrol dan makan malam seperti ini. Agar hubungan lebih solid, tentunya, alangkah lebih baik memulai dari bawah, betul?”

Lagi, Direktur dan Manajer Chorong terbahak sambil mengangguk.

“Oleh karena itu, mungkin bisa dimulai dari Chorong ssi? Besok bisakah kita makan malam agar hubungan perpajakkan dengan Get Beauty Corp menjadi lebih erat.”

Changsub terkejut mendengar permintaan atasannya. Ia langsung melirik Chorong yang sama terkejutnya mendengar permintaan itu. Ini bukan pertma kalinya Chorong mendapat permintaan seperti itu, tapi tetap saja Ia merasa terkejut dan tidak nyaman. Guratan wajahnya bicara akan hal itu, dan Changsub tahu betul hal itu.

“Kamu pasti kosong kan besok? Kan tidak punya pacar. Manajer Jung besok jangan buat dia lembur.” Seru Direktur Yeo.

Chorong menarik nafas. Rasanya Ia ingin menolak, tapi Ia teringat akan kontraknya yang akan habis. “Saya kosong kok pak besok.”

Mendengar jawaban Chorong, Changsub terkejut tak bisa mengontrol dirinya. Mulutnya langsung menganga lebar dan pupil matanya pun ikut membesar menatap Chorong heran. Kenapa Chorong mau? Apakah Chorong sudah gila? Jelas-jelas Ia tak mau, dan Ia adalah tipe yang jika tak mau pasti akan menolak sekeras apapun, tapi kenapa Ia menerima ajakan gila tersebut. Changsub tak mengerti. Ia merasa ada yang salah dengan pekerjaan Chorong.

Ia mencoba mengingat curhatan Chorong beberapa waktu lalu. Dia memang pernah cerita mengenai budaya perusahaannya yang buruk, dan kontraknya yang hampir habis. Chorong harus bertahan karena memang butuh uang. Changsub langsung ngeh mengapa seorang Park Chorong mau melakukan hal itu. Chorong butuh bantuan.

Changsub meminum alkoholnya dalam satu teguk. “Hm.. Dirjen Kim. Bukankah sebagai PNS yang tak melanggar hukum, sebaiknya menghindari zina?”

Atasan Changsub menekuk wajahnya. “Maksudmu? Yang aku lakukan itu zina?”

“Tak baik seorang pria beristri mengajak seorang wanita lajang makan malam. Apalagi jika wanita itu sudah mau bertunangan.”

Sang Dirjen kebingungan. Begitu juga dengan Manajer dan Direktur Chorong. Manajernya pun langsung memastikan. “Chorong, kau btul tidak punya pacar kan?”

Chorong mengangguk. “Be..bet…” Belum juga selesai Chhorong menjawab. Changsub langsung berdiri dan membungkuk 45 derajat.

“Maaf sebelumnya, tapi perkenalkan saya Lee Changsub, kekasih dari Park Chorong.”

Baca lebih lanjut

Iklan

[FF] Mineral Water

Title               : MINERAL WATER

Rate               : 13+

Genre             : FLUFF, ROMANCE

main Cast     : PARK CHORONG A-PINK

OTHER CAST   : JINYOUNG B1A4, WOOHYUN INFINITE, SUHO EXO

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH yang bikin

INSPIRED        : dari ff ku yang BRACELET, heehe

Disclaimer   : gara-gara liat video ereka di youtube, aku jadi tertarik sama couple ini. lucu liat chorongnya =)) kesannya kok kayak dia yang suka banget =))), ya tapi video shipper shipper begituan sih buat lulucuan aja. jangan terlalu dipikirin, jangan dianggap serius apalagi dimasukin ke hati hehehe. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

 

Suasana lapang tampak ramai. Orang-orang tampak menyebar di bawah puluhan lampion yang tergantung diatas lapang. lampion warna-warni tersebut tampak indah menyembul dibawah gelapnya langit. Ada yang berkumpul di depan Panggung berukuran 4×4 m berdiri dengan kokohnya di ujung barat lapang, ada pula yang berkeliling mengunjungi stand-stand yang ada di pinggir lapang. Semua mahasiwa larut dalam acara tahunan fakultas mereka, yaitu festival seni. Setiap tahun, fakultas seni dan musik selalu mengadakan festival seni yang selalu mengadakan berbagai macam perlombaan kesenian.

Chorong pun tak mau melewatkan acara tahunan tersebut. Ia berada di kerumunan orang yang berkumpul lapangan gedung fakultasnya. Ia tak sendiri berada disana. Ia bersama seorang temannya, yaitu Jinyoung. Mereka berdua bergabung untuk menyaksikan perlombaan-perlombaan yang berlangsung.

Saat ini dipanggung sedang berlangsung kompetisi band. Jinyoung fokus menyaksikan aksi panggung, berbeda dengan Chorong. Chorong terlihat tak begitu fokus  menonton. Seringkali mmata dan kepalanya melihat ke seluruh penjuru arah, seolah sedang mencari sesuatu. Mulanya Jinyoung tak sadar akan kelakuan Chorong. Ia tersadar saat berdiskusi tentang band yang tampil.

“Gila itu drummernya keren banget!” Seru Jinyoung. “Itu juga yang main gitar siapa?oh si Chanyeol ya? heol, jago juga. Mereka aransemen lagunya bagus banget, mana vokalnya pakai Eunji pula! Wah, Ini band bisa menang nih!”

Chorong diam tak menjawab. Ia tak mendengarkan apa yang Jinyoung ucapkan. Ia masih asyik celingak sana celinguk sini sambil memakan eskrimnya. Jinyoung menunggu tanggapan dari Chorong, tapi tak terdengar suara Chorong. Disitulah Ia sadar.

“Park Chorong! Tadi kamu dengar enggak aku ngomong apa?” Protes Jinyoung sambil mencolek bahu Chorong. Setelah dicolek bahunya, Chorong barulah sadar.

“Hah? tadi kamu memang ngomong apa?” Tanya Chorong bingung.

Jinyoung mendesah sebal. Ia melihat Chorong dengan tajam. Ia pun melontarkan pertanyaan untuk menguji, apakah Chorong tadi fokus terhadap panggung atau tidak.

“Menurut kamu band yang barusan tampil gimana?”

Chorong terlihat sedikit gelagapan. “Eu… hm… biasa saja.”

“Kamu enggak memperhatikan ya?”

“Ah enggak kok!” Sangkal Chorong sambil pandangannya menatap arah lain, bukan menatap Jinyoung.

“Enggak usah bohong! Mata kamu tuh, keliaran kemana-mana. Cari apa sih?”

Chorong menggeleng. “Enggak cari apa-apa kok. Cuman mau liat keadaan sekitar saja. Ramai apa enggak.”

Jinyoung yang sudah mengenal Chorong sebagai sahabat selama 3 tahun kuliah dijurusan yang sama yaitu komposer, tentu saja Ia tak mudah dikelabui Chorong. Ia tak percaya begitu saja.

“Enggak usah bohong deh sama aku! I know you so well. Kau takkan bisa menipuku. Kau pasti sedang mencari seseorang kan?” Jinyoung berbicara dengan sedikit membungkukkan badannya.

Chorong yang ketahuan berbohong hanya bisa menggigit bibirnya sebal. Melihat itu Jinyoung tertawa keras.

“Hahaha sudah kuduga, pasti kamu sedang mencari…” Obrolan mereka terpotong oleh kedatangan teman mereka, sekaligus orang yang dicari Chorong semenjak tadi.

“Hei,bro!” Sapa Jinyoung kepada kedua temannya.

“Halo,bro!” Woohyun membalas sapaan Jinyoung. Mereka berdua melakukan high five.

“Kemana saja anak jurusan tetangga ini?” Tanya Jinyoung sambil menunjuk Suho

“Tak kemana-mana kok, hahaha.” Balas Suho sambil bersalaman dengan Jinyoung.

“Oh ada Chorong? Halo!” Sapa Woohyun sambil tersenyum.

“Hai, Chorong!” Senyum Suho sambil melambaikan tangan

Mendapat sapaan dari orang yang Ia harapkan membuat Chorong tersenyum dan mukanya terlihat jelas memerah. Ia pun membalas sapaan mereka berdua dengan senyuman manis.

“Kalian ikut lomba menyanyi kan?” Tanya Jinyoung.

Keduanya mengangguk.

Jinyoung mendorong bahu Woohyun pelan. “Ah kamu ngambil jatah anak jurusan Vokal! Anak Komposer sih harusnya ikut lomba aransemen, bukannya ikut lomba menyanyi! Hahaha.”

“Hahaha, iya nih, ambil jatah aku saja!” Suho ikut bercanda menyalahkan Woohyun.

“Lah kan enggak ada larangan selain anak jurusan vokal enggak boleh ikut menyanyi. Jadi kan hak aku dong buat ikutan. Hahaha.” Sahut Woohyun penuh tawa.

“Tampil ke berapa?”

“Kita di awal berturut-turut nih. Aku ke tiga, Suho ke empat.” Jawab Woohyun.

Terdengar suara pengumuman jika lomba menyanyi lima menit lagi akan dimulai. Saatnya Woohyun dan Suho menuju backstage untuk bersiap. Mereka pun segera mengkhiri percakapan mereka.

“Wah kita sudah dipanggil nih! Yuk!” Ajak Suho pada Woohyun.

“Kita lomba dulu ya!” Pamit Woohyun.

“Oke bro, semangat! Sukses!”

Chorong yang daritadi diam saja karena malu dan takut salah tingkah akhirnya ikut bersuara. Sambil tersenyum dan mengepalkan tangannya, Chorong berkata “Fighting!” Ia mengatakan itu seolah untuk mereka berdua, padahal matanya hanya tertuju pada satu orang.

“Terima kasih Chorong!” Sahut mereka berdua.

Sepeninggalan mereka berdua, Jinyoung langsung menggoda Chorong.

“Cie.. begitu ada dia langsung diam seribu bahasa gitu. Biasa aja dong, enggak usah merah gitu mukanya. Hahahaha” Goda Jinyoung.

Chorong memukul lengan Jinyoung karena sebal digoda.

“Kenapa diam saja daritadi? Padahal kan kesempatan bagus buat ngobrol.”

“Malu.” Ujar Chorong sambil menunduk saking malunya padahal orang yang Ia suka sudah tak ada di hadapannya lagi.

“Ah payah! Gimana mau maju kalau kamu diam saja, cuman nunggu. Jangankan mengobrol, nyapa saja kamu enggak berani kan?”

Chorong mengangguk lemah.

“Kenapa enggak berani? Nyapa doang loh padahal! Walau beda jurusan, kamu sama dia kan kenal! Kalian kan sama-sama anak teater. Sapa saja padahal!” Seru Jinyoung berapi-api saking gregetnya dengan sikap Chorong yang pemalu.

“Habisnya aku malu, lagian aku juga takut dia enggak suka di sapa sama aku.” Ujar Chorong lemas seolah ia hilang harapan.

“Kenapa harus takut? Percaya deh, dia pasti senang juga kok di sapa kamu. kalau aku liat dari matanya dia ada ketertarikan sama kamu, cuman mungkin dia masih agak ragu makanya dia enggak bertindak. Nah makanya kamu harus tunjukkin kalau tertarik sama dia, jadi dia enggak ragu untuk mengambil tindakan!” Jinyoung berusaha memberi semangat pada Chorong.

Chorong tak percaya dengan perkataan Jinyoung. “Ah bohong!”

“Eh malah enggak percaya. Ya, Park Chorong! Aku ini pria, aku tahu arti tatapan setiap pria. Tatapan dia ke kamu itu terlihat sekali kalau dia memiliki ketertarikan dengan dirimu! Nah makanya sekarang tunjukkan aksimu!”

Chorong menatap mata Jinyoung. Terlihat dari sorot mata Jinyoung, kalau Ia sedang tidak berbohong. Chorong pun akhirnya percaya.

“Terus aku harus apa?”

“Mulai dari hal kecil. sekarang kasih dia semangat secara pribadi untuk lomba sekarang.” Sarran Jinyoung.

“Hah? gimana caranya? Masa aku tiba-tiba datang ke backstage, terus bilang sama dia, ‘hai, semangat ya!’ ya kali kayak gitu. Kan enggak lucu!”

Jinyoung menepuk dahinya. “Ya enggak gitu juga. Kamu datang sambil bawa minum, terus kasih ke dia, terus kasih semangat deh. Kan dia mau nyanyi, pasti butuh air mineral.”

“Benar juga.” Chorong mengangguk-angguk setuju. “Tapi…”

“Tapi kenapa lagi sih? Malu?”

Chorong mengangguk lemah.

Jinyoung menghela nafas dengan kesal. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya tuhan!”

Terdengar suara MC berkumandang. MC mengumumkan jika peserta pertama akan tampil. Jinyoung berdecak kesal.

“Ayo, Chorong! Lakukan! Bentar lagi Dia tampil!”

Baca lebih lanjut

[FF] End of One Side Love

Title               : end of one side love

Rate               : pg 13+

Genre             : ROMANCE

main Cast     : Jinyoung b1a4 & chorong a pink

length           : One shot

Author          : biasa si  HANAN HANIFAH

Inspired        : the heirs episode 18, adegan Youngdo ama Eunsang pas lagi makan mie. Disitu aku sedih banget ngelihat Youngdo yang menyerah 😥

Disclaimer   : akhir-akhir ini ide lagi semulus jalan tol, padahal lagi banyak lapak, tapi aku tak bisa menahan hasrat untuk menulis, alhasil lapak aku abaikan dan malah menulis FF ini. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING.GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Please ENJOY =D.

 

Coffee shop tak terlalu ramai, walaupun diluar banyak orang berlalu lalang, tapi yang yang memasuki coffee shop itu hanya beberapa orang saja. Setiap ada yang membuka pintu coffee shop, wajah Jinyoung tampak sumringah, namun sedetik kemudian langsung kembali kecewa karena orang yang datang bukanlah yang Ia tunggu. Kurang lebih sudah 10 orang yang masuk, namun tak kunjung datang juga.

Jinyoung terus melirik handphonenya. Ia sudah berulang kali mengirim pesan, tapi tak dibalas juga. Rasa cemas mulai menghantuinya. Ia cemas jika sejam penantiannya ini sia-sia. Untungnya rasa cemas itu tak terwujud, karena akhirnya orang ke 15 yang masuk coffee shop tersebut adalah orang yang Ia tunggu.

“aku kira kamu takkan datang. Disms enggak dibales. Kamu ini benar-benar PHP sejati” cibir Jinyoung

“hehehe maaf, tapi kan yang penting aku datang” balas Chorong sambil duduk

Jinyoung tersenyum mendengar jawaban Chorong. “iya yang penting kamu datang. Kamu mau pesan enggak?”

“iya mau lah. Masa sudah datang kesini enggak menikmati apa-apa. Tunggu ya aku order dulu”

“eh aku mau nitip dong. Aku nitip tiramisu ya”

“baiklah”

Chorong menuju kasir untuk memesan espresso,cheese cake untuk dirinya dan tiramisu untuk Jinyoung.

“this is your order. Hope you enjoy it” Chorong meletakkan tiramisu dihadapan Jinyoung

“Thank you”

Mereka pun menikmati pesanan masing-masing dalam diam. Tak keluar sepatah katapun. Mereka hanya fokus pada makanan masing-masing. Saat piring sudah kosong, dan cangkir setengah kosong, barulah terdengar percakapan.

“tumben kamu mau aku ajak jalan” cibir Jinyoung

“ini bukan jalan kok. kita cuman sekedar makan santai” jawab Chorong

“ya apapun lah. Intinya tumben kamu menerima ajakanku. Biasanya kau kan menolak. Bahkan untuk mengajakmu pulang bersamamu pun kau tolak”

“hehehe” Chorong hanya cengegesan

“kenapa?”

“enggak apa-apa. Sesekali lah aku menerima ajakanmu. Kebetulan pas semalam kamu ngajak aku, aku lagi ingin pergi keluar, jadi aku terima saja ajakanmu.” jawab Chorong

“sungguh itu alasanmu?” selidik Jinyoung

Chorong tampak berpikir “hmm…..enggak sih. aku….aku….. hanya… merasa tak enak padamu. Aku sering menolak ajakanmu. Menerima ajakanmu termasuk hal yang langka. Kejadian itu pasti bisa dihitung jari Lagian kamu Nampak memohon dengan sangat, aku kan jadi kasihan”

“lalu?”

Baca lebih lanjut