[FF] Smile Drunk

Title               : SMILE DRUNK

Rate               : PG 13+

Genre             : seperti biasa ROMANCE, FLUFF

main Cast     : GONGCHAN B1A4, EUNJI A-PINK

length           : One shoT

Author          : mumpung HANAN HANIFAH punya ide

Disclaimer   : Gongchan-Eunji tuh couple yang tak pernah ada moment, tapi aku entah mengapa ngeship mereka. Random aja gitu aku mlih mereka buat dishippin wkwkwk. Rencana awalnya ini harusnya terbit april, tapi karena april aku sibuk uts dan tugas, jadi baru selesai me sekarang. gagal deh target aprilku. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY.

Cahaya matahari pagi menelisik mataku dan hilir ringan angina segar yang menggelitik hidungku cukup membuatku tersadar dari alam mimpiku, namun tak cukup kuat untuk membuatku terbangun. Kelopak mataku rasanya seperti tergantung karung beras sehingga terasa berat untuk membukanya. Aku memegangi kepalaku yang terasa amat pusing. Kepeningan kepala ini membuatku ingin melanjutkan aktivitas tidurku ini. Kupeluk kembali guling yang berada disebelahku.

Tunggu… guling? Kenapa bisa ada guling? Aku tidur dimana? Seingatku semalam aku masih minum di kedai dekat kampus. Aku raba-raba tempat tidurku. Ini sebuah Kasur. Aku tidur di Kasur siapa? Hal ini langsung membuat mataku terbuka. Aku melihat sekelilingku. Kini aku berada disebuah kamar bergaya maskulin. Terdapat gantungan baju futsal dan beraneka topi berlatar belakang tembok berwarna hitam putih. Jelas ini bukan kamarku. Tidak ada poster doraemon dan juga lampu hias berbentuk bintang. Seketika aku langsung bangkit dari Kasur. Aku mengira-ngira, dimanakah aku berada? Di apartemen siapakah aku? Melihat style kamar seperti ini tampaknya aku sudah dapat mengira, tapi aku merasa tak mungkin aku bisa terdampar di apartemen orang ini.

Aku pun segera keluar kamar untuk memastikan aku berada dimana, begitu membuka pintu aku langsung disambut dengan sofa berwarna merah tua dan juga sebuah televisi, dan juga sebuh radio tua dipojok kanan. Aku mengenal sekali ruangan ini. Beberapa kali aku pernah menginjakkan kaki di kamar ini. Berarti sekarang aku berada di apartemen…..

“Eunji! Akhirnya bangun juga. Ayo sarapan, sudah kubuatkan sup penghilang mabuk untukmu.” Sapa sang empu apartemen dari dapur. Kenapa aku bisa di tempat ini? mengapa aku bisa tersasar di apartemen Gongchan??? Ini semua pasti karena aku terlalu banyak minum semalam!

Aku hanya bisa menatapnya dengan penuh tanda tanya. Ditatap seperti itu malah membuatnya menghampriku dan mendorongku ke meja makan. Ia membuka kan kursi untukku dan mendudukkanku,, dan aku hanya bisa melihatnya dengan tatapan bingung.

“Kok kamu seperti yang linglung?” Tanya Gongchan sambil mewadahi sup untukku.

“Kenapa aku bisa disini?” Tanyaku langsung tanpa basa-basi.

“Kau yang memintaku datang.”

“Aku?”

“Iya, kau meneleponku memintaku untuk datang.” Angguk Gongchan.

jinja? Lalu kenapa kau malah membawaku ke apartemenmu?”

“Aku sudah berniat untuk membawamu pulang ke apartemenmu, tapi aku tak tahu password apartemenmu, dan kau sudah terlalu mabuk untuk ditanyai. Jadi daripada kau kuterlantarkan mending ku bawa pulang.”

Aku langsung mengambil ponselku di saku celanaku. Kuperiksa catatan panggilan untuk memastikan dia tak berbohong, dan sial Ia berkata jujur. Disitu tercatat kalau aku meneleponnya sebanyak lima kali dengan panggilan terakhir jam 11 malam. Urat Maluku rasanya kini menebal dan memanas. Aku malu sekali, kenapa aku bisa melakukan hal sebodoh itu. kugigit bibirku untuk menutupi rasa malu dan gugupku.

“Maafkan aku karena membuatmu repot. Aku tak sadar saat meneleponmu. Maaf ya.”

“Sudahlah. Tak usah dipikirkan. Makan saja dulu.” Sahut Gongchan sambil mengunyah.

Sendok stainless berisikan kuah sup dan nasi masuk bergiliran perlahan ke mulutku. Rasanya ingin mengetokkan kepalaku ke meja karena kebodohanku ini. kenapa bisa-bisanya saat mabuk aku malah menelepon dia? Aku harap hal bodoh yang kulakukan saat mabuk hanya sebatas itu. eh iya kan? hanya sebatas itu? aku tak melakukan hal bodoh lainnya kan? ah sungguh aku tak mengingatnya.

“Gongchan, saat aku mabuk aku tak melakukan hal bodoh lain kan?” Delikku penasaran.

“Hal bodoh? Seperti apa?” Dahi Gongchan berkerut.

“Ya hal bodoh, seperti aku meneleponmu saat mabuk.”

Mata Gongchan melirik ke atas tampak mengingat-ingat. “Hm… kurasa tidak. Saat kau mabuk kau hanya banyak bicara saja menceritakan masalahmu.”

“Masalah? Masalahku yang mana?” Panikku seketika.

“Kau yang punya masalah tentunya kau yang harusnya lebih ingat. Sudah akan saja dulu. berpikirnya nanti lagi.”

Dia bilang kalau aku membicarakan masalahku. Masalahku yang mana? Serius ini aku merasa panik. Wajar saja aku panik, karena aku terdampar di kedai minum karena dia. Jangan bilang jika aku malah menceritakan hal itu langsung pada orangnya. Mati aku! Aku otomatis langsung menepuk dahiku.

“Kenapa? Kau mengingatnya?” tanya Gongchan. Aku menggeleng.

Ia terkekeh melihatku seperti itu. “Hehehe, sudah makan saja dulu. jangan berusaha mengingat.”

Gongchan menyuruhku untuk tak berusaha untuk mengingat, tapi hal itu malah membuatku semakin ingin berusaha mengingat. Hal bodoh apa yang kuceritakan pada dia. Aku ingat sebelum aku mabuk, aku mendatangi kedai itu karena kekacauan hati yang kurasakan. Semua kekacauan itu disebabkan orang yang sudah membuat sup penghilang mabuk ini.

Hal ini bermula dari masalah hubungan kami. Hubunganku dengan Gongchan dapat dikatakan dekat, tapi untuk mengarah ke hal romantis, aku tak yakin. Hanya saja memang betul perasaaanku padanya lebih dari sekedar teman, tapi aku tak tahu dengannya. Dia sulit dbaca karena faktanya dia baik terhadap semua perempuan yang Ia kenal. Ia selalu tersenyum manis pada semua perempuan. Hal tersebut sulit bagiku untuk menebak siapa perempuan beruntung yang mendiami hatinya. Agar aku dapat mengetahui siapa perempuan beruntung itu, aku selalu memperhatikan perempuan yang dekat dengan dia selain aku. Pengamatanku itu menghasilkan beberapa nama, tapi pada akhirnya minggu lalu mengarah pada satu nama, Jiyeon, teman sekelas Aku dan Gongchan.

Minggu lalu aku sedang makan bersama dia dan satu teman kami, Jieun. Mereka berdua lalu pergi ke toilet, dan Jiyeon menitipkan ponselnya padaku. Diponselnya muncul sebuah pesan dari kakaotalk dan itu pesan dari Gongchan. Hal itu membuatku penasaran dengan isinya, saat Jiyeon telah kembali aku berusaha untuk mengintip isi pesan tersebut saat Jiyeon sedang membalasnya. Aku pun beberapa kali melihatnya saling berbalas pesan. Dari pesan itu dapat kusimpulkan jika mereka sangat akrab. Hal yang mereka bicarakan tak sekedar tugas, tapi hal tak penting lainnya. Disitulah aku menyadari tampaknya ada sesuatu diantara mereka, dan tentu saja itu membuatku merasa jatuh.

Kekecewaanku ternyata terus berlanjut dengan puncaknya sore kemaren. Aku sedang berjalan di parkiran menuju gerbang kampus untuk pulang. Aku tak sengaja melihat ke arah parkiran mobil, dan aku melihat pemandangan tak mengenakan –setidaknya untukku–. Aku melihat Gongchan dan Jiyeon berdiri disamping mobil Gongchan. Tampak terlihat dari raut wajah mereka yang mendalam, mereka sedang berbicara hal serius, dan hal yang membuatku hancur adalah Gongchan memeluk Jiyeon. Disitulah aku benar-benar tersadar jika aku dan Gngchan hanya sebatas teman. Hanya aku yang berharap lebih, dia tidak.

Kejadian itu membuat pikiranku tak berada diragaku. Aku melangkah kaki ke sembarang tempat untuk menghilangkan kegundahan itu. Pelukan itu terus terputar diotakku. Aku merasa hatiku benar-benar hancur. Langkah kaki sembarang itu malah membuatku ke kedai minum dekat kampus. Sejujurnya kedai minum itu mempunyai kenangan tersendiri. Kami berdua pernah minum bersama dan mengobrol tak berarah hingga dini hari menjelang. Mengingat itu membuatku makin banyak menghabiskan botol soju. Aku mengingat hanya sampai situ saja. Setelah aku dalam pengaruh alkohol masih samar dalam ingatanku.

Setelah selesai makan, Gongchan menyodorkan bajunya untuk kupakai setelah mandi. Sebenarnya aku ingin bolos saja, tapi tak mungkin karena sjadwalku hari ini praktikum. Untuk pulang dulu pun takkan keburu karena sejam lagi akan dimulai. Perjalananku dari sini ke apartemen memakan waktu setengah jam, dari apartemen ke kampusku pun butuh setengah jam. Belum macet dan menunggu bis. bisa-bisa aku telat dan tak boleh masuk. Pilihan Gongchan meminjamkan baju adalah hal yang tepat.

Kubiarkan kucuran air mengalir deras di kepalaku. Aku berharap dengan begitu ingatanku akan kembali lancar. Dinginnya air tampaknya memang berhasil membuat kesadaranku benar-benar pulih dan perlahan ingatanku mulai kembali. Ya sekarang aku ingat kalau aku meneleponnya. Aku baru ingat kalau ini kebiasaanku, jika aku punya maslaah dnegan orang itu dan aku sampai mabuk biasanya aku akan meneleponnya, tapi biasanya aku tak menyuruh orang itu untuk menemuiku. Aku hanya mengumpatnya. Kenapa Dia bisa datang menghampiriku? Ku mencoba membuat reka adegan dalam otakku saat tadi malam.

*****

Baca lebih lanjut

Iklan

[FF] Between Now and Past

Title               : BETWEEN NOW AND PAST

Rate               : pg

Genre             : ROMANCE, FRIENDSHIP, a little DRAMA  

main Cast     : EUNJI A-PINK, SUHO EXO, GONGCHAN B1A4

OTHER CAST   : KYUNGSOO (D.O EXO), MINAH GIRLS DAY, BOMI A-PINK, SUNGJONG INFINITE

length           : One shot

Author          : buatannya HANAN HANIFAH

SUMMARY      : Hidup harus memilih, kita tak boleh egois.

Disclaimer   : sebelum masuk kuliah, Aku target aku harus posting ff, tapi berhubung lagi ga mood nulis, jadi mungkin agak aneh.  SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

“Nonton yuk!” Ajak Suho sambil merangkul Eunji. Mereka berdua berjalan bersama.

“Jangan sekarang, Aku enggak bisa.” Tolak Eunji dengan nada sedih.

Suho mengernyitkan dahinya, “Lah kenapa?”

“Biasa, Aku mau ngumpul sama anak-anak.”

“Lagi? Bukannya minggu kemarin sudah?”

“Mumpung liburan, jadi Kita mau main. Kan jarang-jarangnya Kita bisa main bareng. kita semua kan punya kesibukan yang berbeda. Kuliah lah, organisasi lah, dan lainnya.”

“Kita kan juga jarang kan. Ketemu paling seminggu sekali gara-gara Aku kerja.” Protes Suho.

“Ya tapi kan seminggu sekali pasti ketemu. Kalau sama mereka kan sebulan sekali saja belum tentu.” Debat Eunji.

“Buat Gongchan saja selalu ada, Buat Aku susah.” Sindir Suho dengan matanya melirik ke kiri atas.

“Kenapa sih harus Gongchan? Lagian Gongchannya juga enggak ikut! Kenapa enggak yang lain? Kayak Kyungsoo, Taemin, atau Sungjong!” Eunji kesal karena Suho membawa-bawa Gongchan.

“Ya wajar dong kalau ngebahas Gongchan. Diantara mereka berempat mantan Kamu kan Gongchan!”

“Ya Tuhan! Itu kan masa lalu. Sudah 3 tahun yang lalu!” Seru Eunji kesal karena Suho masih saja cemburu dengan Gongchan.

“Mantan tuh cuman status saja. Kelihatannya kok kalian masih berhubungan dekat?” Ujar Suho dengan wajah malas.

“Ya masalahnya Kita teman satu permainan. Kan enggak mungkin kalau Aku ngejauhin Dia!.”

“Tapi bisa kan enggak usah dekat banget?”

Eunji menghela nafas kesal. Ia menepis lengan Suho dari bahunya. “Sudahlah,Oppa. Aku malas ribut. Lagian aku sudah ditungguin sama mereka.”

“Oke, Ya sudah Aku antar. Kumpul dimana?” Suho mengalah untuk tidak memperpanjang keributan.

“Di rumah Minah. Tahu kan?”

“Oh yang rumahnya dekat dengan Minho?”

“Iya. Yuk ah cepat!” Eunji menarik lengan Suho agar berjalan lebih cepat.

*****

Uno!” Eunji mengeluarkan kartu Uno yang bisa membuat si pemilik kartu merubah warna. Eunji mengeluarkan kartu sambil tersenyum penuh arti. “Aku mau warna biru!”

Lawan main Eunji tinggal Gongchan seorang. Dua orang lainnya, yaitu Minah dan Kyungsoo berhasil menghabiskan kartu terlebih dahulu. Gongchan tampak percaya diri. Kartu ditangannya tinggal berjumlah dua. Kyungsoo yang disamping Gongchan ikut tersenyum melihat kartu yang dimiliki Gongchan.

“Jangan Kamu pikir Kamu bisa menang,” Gongchan mengeluarkan kartu bergambar 4+ sambil tersenyum meremehkan, “Uno.”

Muka Eunji langsung seketika pucat. Melihat muka Eunji pucat, Gongchan tersenyum penuh kemenangan. Hanya saja sedetik kemudian, raut wajah Eunji langsung berubah menjadi ceria.

“Kamu kira Aku enggak bisa balas?” Eunji mengeluarkan kartu yang sama dengan Gongchan sambil berkata, “Uno games.”

Damn!” Gongchan melemparkan kartu yang tersisa ditangannya dengan kesal. Ketiga temannya melihat itu tertawa puas.

“Hahaha. Sudah senang-senang, tahunya Eunji punya kartu yang sama juga. Hahahaha.” Minah tertawa puas.

“Anda kurang beruntung,bro!” Kyungsoo menepuk bahu Gongchan. Eunji tertawa sampai keluar mata saking puasnya. Melihat teman-temannya mentertawakannya dengan puas, Gongchan mendelik dengan kesal.

Suara tawa mereka tiba-tiba terhenti dengan suara telepon.

Handphone siapa itu yang bunyi?” Tanya Minah.

It’s mine.” Jawab Eunji sambil mengeluarkan handphonenya dari saku celana jeansnya. “Yeobeoseyo. Ada apa Oppa? Eu… sekarang…sekarang Aku lagi dijalan pulang ke rumah kok. Tenang saja Aku diantar oleh Kyungsoo kok, Dia mau mengantarku pulang tenang saja. Sudah ya. Dadah.”

Kyungsoo melongo mendengar jawaban Eunji ditelepon, “Kau berbohong pada Suho?”

Baca lebih lanjut

[REVIEW] Kdrama Nice Guy, That Winter The Wind Blows, Reply 1994

Liburan ini semesteran yang lumayan panjang, ya sekitra sebulan lebih, membuatku bisa menonton beberapa drama dan membaca sinopsis drama. Aku telah menonton nice guy, that winter the wind blows, dan reply 1994. Sinopsis yang aku baca adalah the man from the stars, prime minister and I, dan good doctor.

Aku akan membahas drama yang sudah aku tonton tadi itu dalam satu tulisan ini, mungkin pembahasannya yang akan panjang adalah reply 1994,, karena baru saja kemaren aku menyelesaikannya. So check it out!

NICE GUY :

Nice Guy merupakan drama tahun 2012 agak akhir. Drama bergenre melodrama ini menceritakan tentang kang maru, seorang calon dokter berprestasi, tapi masa depan Dia hancur karena menutupi kesalahan kekasihnya Han Jaehee yang tak sengaja membunuh orang. Maru pun dipenjara. 6 tahun berlalu, ternyata Jaehee tak menungguny, Jaehee malah menikah dengan seorang pengusaha kaya yang sudah tua, dan memiliki anak yang beda usia dengannya 5 tahun, Seo Eungi. Merasa dikhianati, Maru pun berniat membalas dendam dengan cara berpacaran dengan Seo Eungi.

Aku mau menonton drama ini Karena Song Joongki yang main. Aku beberapa kali histeris sendiri menonton ini karena melihat kegantengan Joongki. Ah jadi kangen, aku berharap selepas Dia dari wamil, Dia cepat melakukan comeback. Song Joongki disini jangan diragukan aktingnya, benar-benar daebak!

Melihat genre drama ini Aku pikir drama ini akan sangat mellow, lambat, dan penuh kesedihan, tapi ternyata tidak. Memang serius, tapi tak semellow itu. alur ceritanya pun tergolong cepat menurutku. Setiap adegan disini terasa begitu penting, terutama empat episode terakhir. Benar-benar setiap adegan itu penting. Akting pemainnya pun begitu bagus. Tak terbaca emosi apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan, karena dalam drama ini kita menebak-nebak emosi yang sebenarnya. Terlihat begitu jelas jika Apa yang ditampilkan diluar oleh si karakter, belum tentu dalamnya seperti itu.

Drama ini memang klise ceritanya, balas dendam, lalu menyesal karena melibatkan orang tak bersalah, yaitu Seo Eungi, karena pada akhirnya Maru benar jatuh cinta dengan Eungi, walau klise tapi ini tak lebay. Inilah mengapa aku menyukai drama korea. Walau ceritanya ya begitu, tapi akting para pemainnya juara. Tak main-main. Kita pun bisa merasakan emosi sang karakter, dan tak berlebihan emosi mereka itu. tak seperti ftv kita, yang pemain pendukungnya lebay gimana gitu. Akting marah mereka itu…. ah sudahlah.

Dalam drama ini Aku juga seringkali ngomel sendiri karena adegan-adegannya. Ngomel karena tindakan bodoh Maru yang mau saja bertanggung jawab, padahal itu bukan salahnya. Menggerutu karena Jaehee bertindak jahat, bahkan aku histeris sendiri berharap semoga Eungi ingatannya tak kembali agar Maru dan eungi bisa so sweet dengan ketulusan. Hal ini membuktikan bahwa drama ini dapat membuat penonton larut akan drama ini, dan ya drama ini sukses membayang-bayangi diriku. Beberapa adegannya begitu meninggalkan kesan mendalam pada diriku. Drama ini pun membuat kita penasaran dengan episode selanjutnya. Pemotongan akhir episode yang pas membuat kita penasaran.

Akting para pemain benar-benar jempolan. Park Siyeon yang menjadi Jaehee sangat keren memerankan Jaehee. Dia bisa menampilkan emosi terkejut,marah,sedih,bingung,senang dalam sekali tampilan sekaligus. Song Joongki jangan ditanya, Dia pun memerankan Maru dengan baik. sorot matanya itu begitu nyata. Aku tak melihat Joongki disitu, Aku melihatnya sebagai Maru. Moon Chaewon pun seperti itu, aku bisa merasakan kesedihan Eungi saat Eungi sedih. Akting para pemain pendukung pun tak kalah hebat. Lee Kwangsoo lagi-lagi menadaptkan peran sebagai pria konyol yang tak jauh beda dengan image Dia di Running Man, tapi akting Dia nangis itu bagus kok, Aku juga ikut terharu.

Karakter pendukung di drama ini begitu penting. Enggak ada satu pun karakter yang tidak berpengaruh. Karakter Park Jaegil dan Kang Choco benar-benar menyuarakan hati para penonton yang mendukung Eungi-Maru. Mereka berdualah yang mendorong Maru untuk move on. lalu pengacara Park yang diam-diam menyukai Eungi lebih dari sekedar adik yang selalu melindungi Eungi dan perusahaan, dan si tokoh jahat pengacara Ahn yang menjerumuskan Jaehee semakin jahat.

Ya di drama ini diperlihatkan juga pengorbanan mereka untuk orang-orang yang mereka cintai, bahkan sampai ada yang dengan segala cara seperti pengacara Ahn, Pengacara Ahn melakukan segalanya demi bersama Jaehee, tapi Jaeehee bodohnya malah tetap berharap dengan Maru. Hal itu membuat pengacara Ahn melakukan segala cara untuk mendapatkan Jaehee. Begitupun dengan Maru rela melakukan penawaran seperti gigolo agar Eungi terlindungi.

Baca lebih lanjut