[FF] VALUE

Title               : VALUE

Rate               : 15+

Genre             : lagi pingin bikin SLICE of LIFE dan WORK gitu dipadu dengan FRIENDSHIP

Cast               : yang disebutin nama lengkapnya dan jadi central hanya PARK CHORONG A-PINK dan LEE CHANGSUB BTOB. Sisanya bayangin sendiri deh. Bebaskan imajinasi kalian.

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH idea

INSPIRED        : baru nonton BEAUTIFUL GONGSHIM di tv. Pas liat episode 1, terinspirasilah.

Disclaimer   : Lagi suka banget BTOB dan ngebiasin parah Changsub *huhuhu aku tahu aku telat join jadi Stan BTOB*, jadi pengen bikin FF yang ada  dianya, cuman dianya bukan jadi tokoh utama disini wkwkwk. Nanti deh ku bikin lagi Changsub centernya hehehe. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D

“Hei, Park Chorong! Kamu masih mau bekerja tidak?!”

“Eh.. iya tentu saja.”

“Kalau begitu lakukanlah! Tak usah menolak! Kecuali kalau kamu mau kontrakmu diputus….. kau ini belum jadi pegawai tetap! Ingat itu!”

*****

Chorong menatap cermin di toilet dengan tatapan kosong. Ingatan kejadian 7 bulan lalu selalu menghantuinya setiap diberi tugas oleh kantornya. Ia berpikir, apakah yang Ia lakukan selama ini hal yang benar. Apakah sesulit ini untuk bertahan hidup. Sudah hampir 1 tahun Ia menjadi pegawai sebuah perusahaan kosmetik. Sayangnya, statusnya masih pegawai kontrak, dan kontrak hanya dalam kurun kurang dari sebulan ini akan habis. Nasibnya kini benar-benar fifty-fifty. Ia bisa saja diperpanjang kontraknya, bahkan diangkat menjadi pegawai tetap, tapi kemungkinan Ia untuk ditendang pun sama besarnya. Berbagai cara Ia usahakan agar Ia bisa bertahan dan dapat diangkat menjadi pegawai tetap. Seperti yang Ia lakukan saat ini.

Setiap ada acara seperti ini, selalu timbul keraguan dalam dirinya. Ia selalu meminta izin ke toilet untuk menenangkan diri sejenak. Walau sudah 7 bulan Ia berada dalam kegiatan seperti ini, tapi tak pernah sekalipun Ia jalani dengan senang hati. Malah Ia merasa direndahkan, tapi apa daya. Ia harus bertahan hidup. Ia butuh uang dan itu Ia dapatkan dari pekerjaannya kini. Ia ingin kehidupannya lebih baik dan nyaman.

Berada dibagian Marketing membuatnya harus bertemu dengan banyak klien. Satu hal yang Ia tak sukai dari budaya kerja diperusahaannya. Mereka harus selalu bisa menyenangkan klien, terutama pegawai wanita sepertinya. Chorong yang good looking, tentu saja menjadi andalan tim nya untuk acara makan malam seperti yang akan Ia lakukan kali ini. Ia harus tampil cantik dan menawan agar bisa menarik perhatian klien. Ia pun harus siap melayani mereka. Walau tak sampai harus tidur dengan kliennya, tapi tetap saja Chorong merasa jijik dengan hal yang Ia lakukan. Ia harus menuangkan minum, harus menemani mereka minum, makan, karaoke, bahkan terkadang Ia harus berdua saja dengan klien. Ia benci hal itu, tapi Ia harus melakukannya, karena selalu mendapat ancaman kontraknya bisa putus kapan saja.

Chorong mencuci mukanya agar terlihat segar. Setelah mengelapnya denagn tisu, Ia memoleskan bedak, menggambar eyeliner, dan juga mewarnai bibirnya dengan lipstik merah agar terlihat lebih menarik. Setelah selesai mempercantik diri, Chorong menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan. Ia berdoa sebentar memohon untuk dikuatkan.

Malam Ini Ia bersama manajernya, salah satu direktur perusahaannya akan bertemu dengan salah satu dirjen perpajakan nasional di restoran makanan khas korea. Sebenarnya ini bukanlah pekerjaan tim nya, tapi entah mengapa Ia dipanggil untuk datang ke acara makan malam ini. Demi bisa menjadi pegawai tetap, Ia terima ajakan atasannya tersebut.

Di meja makan manajer dan direkturnya sudah siap menyambut tamu mereka. Tak lama kemudian, tamu yang akan mereka sambut datang. Dirjen itu didampingi dua pria muda. Chorong memperhatikan salah satu pemuda yang mendampingi dirjen tersebut. Ia tampak mengenal orang tersebut. Pria itu sedang posisi menyamping, mempersilahkan atasannya masuk duluan. Saat pria itu mukanya menghadap ke arah Chorong, Chorong langsung menyadari. Tak menyangka Ia bertemu dengan sahabatnya saat dalam bekerja seperti ini. Ia tahu, sahabatnya itu bekerja di perpajakkan, tapi Ia tak menyangka salah satu tamunya adalah sahabatnya sendiri, Lee Changsub.

Changsub juga langsung menyadari kehadiran Chorong. Ia langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangan. Chorong membalasnya dengan senyum dan lambaian kecil. Ia harus menjaga sikap dihadapan atasannya. Chorong memberi tatapan. Ia mencoba “telepati” kepada Changsub agar menjaga sikapnya juga. Sudah berteman dan saling mengenal satu sama lain dalam waktu yang lama, Changsub langsung menangkap sinyal Chorong dan bersikap tenang.

Para atasan saling menyapa dan menjabat tangan. Chorong pun menjabat tangan dengan utusan kementrian tersebut. Saat berjabat tangan dengan Changsub, mereka saling mengeraskan jabatan tangan untuk saling menyapa dan jelas mereka tertawa akan hal itu, namun dalam hati. Saat bersalamn dengan dirjen, Dirjen itu bersalaman dengan dua tangannya dan sedikit mengelus punggung tangan Chorong. Chorong yang tak nyaman hanya bisa sedikit mengerutkan dahi, dan agak menarik tangannya sambil mencoba terus tersenyum.

Seperti pada acara makan malam biasanya, mereka berbasa-basi terlebih dahulu. Disaat seperti ini, yang menjilat tugas dari direktur dan manajernya. Ia hanya ikut tersenyum dan tertawa. Begitu juga dengan dua orang yang mendampingi dirjen perpajakkan tersebut. Mereka hanya ikut tertawa-tawa saja. Sembari makan mereak terus mengobrol. Saat mereka mulai minum, negosiasi lah mulai dilakukan. Negosiasi biasanya memang tugas Chorong. Ia dikenal sebagai salah satu tim marketing yang jago negosiasi. Biasanya saat acara makan malam seperti ini, Chorong melakukan negosiasi sambil melayani klien, tapi untuk malam ini berbeda. Ia bertugas hanya untuk melayani saja. negosiasi masalah pajak sama sekali bukan urusannya.

Chorong mulai menuangkan arak ke gelas sang dirjen dan juga atasannya. Ia pun tak lupa menuangkan minuman tersebut kepada “pengiring” dirjen.  Saat suasana makin naik, mereka semua mulai bernyanyi-nyanyi, dan Chorong lah yang harus terus menyanyi dan menari. Selain itu juga Chorong harus mengeluarkan aegyo setiap atasannya mengajukan penawaran pada sang dirjen. Melihat hal itu Changsub merasa ada yang enggak beres dengan Chorong. Ia melayangkan pandanganya ke Chorong dan menatap Chorong dengan serius. Ia tahu, sahabatnya itu bukanlah tipe yang suka diperlakukan seperti itu. Changsub dengan jelas bisa menangkap rasa tidak nyaman dari Chorong, tapi yang jadi pertanyaannya, kenapa Chorong mau melakukan hal itu.

Changsub mencoba memberi sinyal pada Chorong. “Chorong ssi. Tak apa jika aku memintamu menuangkan lagi minuman ke gelasku?” Ya!! bodoh! Apa yang kamu lakukan?

Chorong menatap Changsub dengan senyum palsu. Ya! kenapa kamu menyuruhku?!

“Hahahahahaha, jangan sungkan Changsub ssi. Itulah tugasnya dia berada disini hahahaha.” Sahut manajernya Chorong.

Chorong  melirik sinis manajernya dalam 0,1 detik, namun hal itu langsung tertutupi dengan topeng senyumnya. “Iya tak masalah. Betul, itu memang tugasku.”

“Tak apa?” Tanya Changsub serius. Kamu enggak apa-apa berada dalam situasi macam ini?

Chorong menangkap sinyal yang dimaksud Changsub. Sambil menuangkan minuman, Chorong mengangguk. “it’s okay”. Aku tak apa. Aku bisa mengatasinya. Percayalah.

“Nona cantik, tolong tuangkan juga untukku, dan anak buahku yang satu lagi juga.” Pinta sang dirjen dengan centil. Chorong membalas lagi dengan topeng senyum dan menuangkan minuman ke gelas anak buah dirjen dan dirjen. Saat menuangkan minuman ke gelas dirjen, dirjen itu memegang tangan Chorong.

“Park Chorong ssi, wanita semuda dirimu, pastinya belum menikah kah?” Tanya Dirjen tersebut. Chorong berusaha melepaskan perlahan.

“Jangankan menikah pak, pacar saja dia tak punya. Betul kan, Chorong?” Jawab Manajernya dalam keadaan mulai tidak sadar. Chorong menjawabnya dengan senyuman.

Dirjen itu agak kegerahan. Ia membuka jasnya dan melonggarkan dasinya. “Ehem… begini Direktur Yeo, Manajer Jung. Masalah tunggakan pajak perusahaan kalian, jika kalian ingin mencicilnya, tentu harus membangun hubungan yang lebih baik dulu, bukan begitu?”

Direktur dan Manajer Chorong langsung terbahak basa-basi. “Hahahaha, betul. Kita harus membangun hubungan baik.”

“Aku tak suka cara melanggar hukum seperti menerima hadiah. Aku ini seorang pns yang menjunjung tinggi keadilan hahaha.” Dirjen itu menatap Chorong dengan nakal. “Aku lebih suka menjalin hubungan baik dengan ya ngobrol-ngobrol dan makan malam seperti ini. Agar hubungan lebih solid, tentunya, alangkah lebih baik memulai dari bawah, betul?”

Lagi, Direktur dan Manajer Chorong terbahak sambil mengangguk.

“Oleh karena itu, mungkin bisa dimulai dari Chorong ssi? Besok bisakah kita makan malam agar hubungan perpajakkan dengan Get Beauty Corp menjadi lebih erat.”

Changsub terkejut mendengar permintaan atasannya. Ia langsung melirik Chorong yang sama terkejutnya mendengar permintaan itu. Ini bukan pertma kalinya Chorong mendapat permintaan seperti itu, tapi tetap saja Ia merasa terkejut dan tidak nyaman. Guratan wajahnya bicara akan hal itu, dan Changsub tahu betul hal itu.

“Kamu pasti kosong kan besok? Kan tidak punya pacar. Manajer Jung besok jangan buat dia lembur.” Seru Direktur Yeo.

Chorong menarik nafas. Rasanya Ia ingin menolak, tapi Ia teringat akan kontraknya yang akan habis. “Saya kosong kok pak besok.”

Mendengar jawaban Chorong, Changsub terkejut tak bisa mengontrol dirinya. Mulutnya langsung menganga lebar dan pupil matanya pun ikut membesar menatap Chorong heran. Kenapa Chorong mau? Apakah Chorong sudah gila? Jelas-jelas Ia tak mau, dan Ia adalah tipe yang jika tak mau pasti akan menolak sekeras apapun, tapi kenapa Ia menerima ajakan gila tersebut. Changsub tak mengerti. Ia merasa ada yang salah dengan pekerjaan Chorong.

Ia mencoba mengingat curhatan Chorong beberapa waktu lalu. Dia memang pernah cerita mengenai budaya perusahaannya yang buruk, dan kontraknya yang hampir habis. Chorong harus bertahan karena memang butuh uang. Changsub langsung ngeh mengapa seorang Park Chorong mau melakukan hal itu. Chorong butuh bantuan.

Changsub meminum alkoholnya dalam satu teguk. “Hm.. Dirjen Kim. Bukankah sebagai PNS yang tak melanggar hukum, sebaiknya menghindari zina?”

Atasan Changsub menekuk wajahnya. “Maksudmu? Yang aku lakukan itu zina?”

“Tak baik seorang pria beristri mengajak seorang wanita lajang makan malam. Apalagi jika wanita itu sudah mau bertunangan.”

Sang Dirjen kebingungan. Begitu juga dengan Manajer dan Direktur Chorong. Manajernya pun langsung memastikan. “Chorong, kau btul tidak punya pacar kan?”

Chorong mengangguk. “Be..bet…” Belum juga selesai Chhorong menjawab. Changsub langsung berdiri dan membungkuk 45 derajat.

“Maaf sebelumnya, tapi perkenalkan saya Lee Changsub, kekasih dari Park Chorong.”

Baca lebih lanjut

Iklan

[FF] JEALOUSY

Title               : JEALOUSY

Rate               : 13+

Genre             : full of ROMANCE lovey dovey yang cheesy

Cast               : KIM JONGIN (KAI EXO), JUNG SOOJUNG (KRYSTAL FX) dan sedikit cameo dari KANG MINHYUK CNBLUE

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH punya ide :””

Disclaimer   : FF ini dibuat dalam rangka merayakan kaistal go public. #kaistalmenujuhalal #kaistalberjodoh. Pas tahu kaistal is real, aku senangnya luar biasa dong. Telah berada di perahu ini untuk bertahun-tahun dari 2013, akhirnya 3 tahun kemudian kapalnya beneran berlabuh. Aku mau merayakan hal itu dengan FF, tapi saat berita mereka lagi heboh, akunya lag sibuk, terus pas sudah nyante, enggak punya ide, baru ada ide sekarang hahaha. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D

“Ya.. I’ll be there in a minute. Ku sudah dekat kafe kok. Tuh papan kafenya pun sudah terlihat. Sudah ya.” Sudah mendapat omelan lewat telepon, sudah dipastikan orang yang menunggunya sudah merasa bosan menunggu Soojung. Soojung pun sedikit berlari. Ini memang salahnya terlambat karena keasyikan belanja. Lagipula Ia belanja juga untuk membeli kado untuk orang yang akan Ia temui di kafe tersebut.

Bunyi bel terdengar dari pintu kafe tersebut, menandakan ada orang masuk. Bunyinya terdengar lebih nyaring dari biasanya karena Soojung membukanya dengan tergesa-gesa, sehingga membuat orang-orang memperhatikannya. Soojung segera menurunkan topinya agar menutupi wajahnya dan menunduk meminta maaf. Ia tak ingin orang-orang tahu kalau itu adalah idol member f(x), Krystal.

“Krystal ssi?” Sapa seseorang yang mejanya tak jauh dari pintu.

Haish.. damn.. ada yang mengenaliku. Gerutu Soojung dalam hati. Terpaksa Ia menghadap orang itu dan menunduk menyapa sesaat, kemudian langsung beralih pandangannya ke tempat lain untuk mencari orang yang sudah menunggunya. Namun sesaat kemudian Ia tersadar, jika Ia mengenali orang yang menyapanya tadi. Seketika Ia langsung menghadap lagi orang tersebut,

“Minhyuk ssi?” Soojung terkejut. Minhyuk langsung tersenyum melambaikan tangan.

“Hai, Krystal! Kemari lah.” Sapa Minhyuk.

“Halo Minhyuk Oppa. Apa kabar?” Soojung menarik kursi dan duduk dihadapan Minhyuk.

“Baik tentu saja. kamu?”

“Ya begini lah… kau sendiri?”

Minhyuk mengangguk, “Iya aku sedang ingin me time saja.”

Soojung mengangguk mengerti. Dia mengamati penampilan Minhyuk yang santai tanpa masker dan topi. Ia terheran karena berbanding terbalik dengannya menggunakan topi dan masker. “Minhyuk kok bisa sih santai gitu tampilannya. Enggak pakai masker atau topi?”

“Ya santai saja sih.. enggak masalah kalau ada yang mengenaliku juga. Lagipula kafe ini kan terkenal tenang, jadi ku merasa aman. Kamu berlebihan tuh sampai pakai masker dan topi, kacamata lagi hahaha.” Jawab Minhyuk santai.

Soojung langsung melepaskan perlengkapannya itu “Ya… aku kan enggak suka saat orang-orang dijalan memperhatikanku hehehe.”

Minhyuk mengelus kepala Soojung. “Iya aku mengerti hahaha.”

“tapi, kau masih mengenaliku ya dengan penampilanku kayak gini.”

“Tentu saja. aku mengenali gayamu. I’m your fanboy hahaha”

“Hahahaha bisa saja.” Soojung tertawa sambil menutup mulutnya. Malu.

Minhyuk menyeruput kopinya. Mengulur mencari topik pembicaraan. “Oh ya.. Aku melihat cameomu di dramanya Minho hyung. Itu kamu benar-benar syuting di spanyol?”

Soojung menaik-turunkan kepaanya. “Iya aku ikut syuting disana. Kebetulan aku lagi disana juga.”

“Pantai disana tampak indah ya? Kalau aku lihat di drama.” Ah Minhyuk terlihat sekali mencari topik pembicaraan.

Soojung langsung dengan semangat menjelaskannya. “Iya betul. Pantai disana bagus-bagus. Oppa kau kalau ke eropa harus mampir kesana. Bersih, biru, tak kalah dengan pantai Maldives.”

“Penampilan singkatmu didrama itu cukup mengesankan. Ya kau tampak cantik dan elegan.” Puji Minhyuk sambil tersenyum menggoda.

“Hahahaha terima kasih. Kamu masih saja jago menggoda orang.” Soojung terkekeh. “Aku sempat melihat drama dengan Hyeri itu. Kau cukup baik disitu.”

Minhyuk mengernyitkan dahinya. “Cuman cukup saja nih?”

Baca lebih lanjut

[FF] BE KIM JUNMYEON

Title               : BE KIM JUNMYEON

Rate               : 15+ mungkin

Genre             : SLICE OF LIFE dengan sedikit ROMANCE

Cast               : KIM JUNMYEON (SUHO EXO) , HAN HONGNAN (OC), dan sedikit cameo dari

KIM JONGDAE (CHEN EXO)

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH kembali!!!

Disclaimer   : Alhamdulillah kuberhasil nulis FF lagi, sekian setelah berabad-abad terjebak gua writer’s block *lebaaay*. BTW, maafkan ya kalau aku sok tahu yang masalah pendidikan psikologinya. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D

Ditengah restoran daging panggang yang sepi ini. Hanya ada sekitar 4 meja yang terisi dari puluhan meja yang tersedia. Tak sulit mencari teman masa SMAnya yang dari dulu menjadikan tempat ini sebagai tempat nongkrong saling berbagi cerita. Tempat favoritnya adalah di meja persegi panjang di belakang jauh dari pintu masuk. Apalagi saat ini, saat Ia sudah menjadi seorang selebriti yang memiliki jutaan fans, tempat ini semakin menjadi tempat favoritnya, karena Ia bisa menyendiri tanpa orang-orang mengetahui siapa dirinya. Seorang leader boyband terkenal, EXO. Orang itu sedang menunggu dirinya, Han Hongnan.

Annyeonghaseyo, Suho-ssi.” Sapa Hongnan sambil menggeser kursi tempat Ia duduk.

“Aku Kim Junmyeon saat bersamamu.” Balas Junmyeon sembari meneguk Sojunya.

Hongnan tertawa kecil “Hahaha arasseo. Tapi payah nih ah.. katanya tadi mau jemput aku di kantor, tapi malah aku jadi datang sendiri. Huh.”

“Maaf… maaf… aku tak ingin para fans atau wartawan mengetahui mengenai dirimu. Kau kan tak suka jadi pusat perhatian. Tadi ada sasaeng yang mengikuti terus, kamu tahu tadi ku sampai masuk kantor polisi dan meminta bantuan mereka untuk mengusir para bocah-bocah itu? Aku hari ini benar-benar tak mau diganggu. Nanti pulang kuantarkan pulang kok.”

“Iya aku mengerti… ada apa sih kamu sampai menerorku ditelepon mengajak bertemu?”

“Aku hanya ingin sekedar mengobrol dan lagipula butuh pendengar….”

“Kenapa enggak lewat telepon? Biasnaya juga kalau kita cerita-cerita lewat telepon.”

“Aku ingin bertemu langsung saja. kita kan sudah lama tidak bertemu. Terakhir sekitar 3 bulan lalu. Cuman kamu yang benar-benar mengenal diriku sebagai Kim Junmyeon, dan aku ingin mala mini sebagai Kim Junmyeon bukan Suho exo.”

“Baiklah… kau jadi membutuhkan ku sebagai seorang teman apa sebagai seorang teman lulusan psikologi? Kalau pilihan yang kedua tidak gratis tentunya Hahaha” Canda Hongnan sambil mencomot daging milik Junmyeon.

Junmyeon langsung memukul ringan tangan Hongnan “Hei! Kalau kau mau pesan saja! aku yang bayar.”

“Oh jadi pilihan yang kedua ya? Hahaha” Canda Hongnan “Ahjumma! Dagingnya 1 porsi lagi ya! Sojunya 2 eh 3 botol, beernya 1 botol saja dulu deh. Sama satu lagi telur gulung, terima kasih.”

“Kamu mau mabuk huh? Minum sebanyak itu?”

Hongnan mengangguk mantap “Iya, kalau sudah ditempat ini kan memang enak untuk minum, seperti masa kita baru lulus SMA, baru bisa mencicipi alkohol. Aku boleh mabuk, tapi kamu engga. Kan kamu mau mengantarkanku pulang.”

Junmyeon tersenyum kecil mendengar perkataan sahabatnya itu. “Enak saja! aku juga ingin minum sepuasnya.”

Tak lama kemudian pesanan Hongnan tiba. Mereka berdua dengan khidmat menikmati makanan mereka sembari mengobrol hal-hal kecil. Suara tawa, muli dari tawa yang garing, hingga terbahak-bahak menggema di restoran yang semakin lama semakin sepi karena malam kian larut, dan kini tinggal menyisakan mereka berdua. Restoran yang sepi membuat suasana mereka menjadi serius, dan kembali kepada tujuan. Mendengar curahan hati seorang Junmyeon.

Sebelum bercerita, Junmyeon mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya, lalu mengambil satu batang untuk dihirupnya. Melihat itu, Hongnan langsung merampas rokok dan bungkusannya.

“Hei, Ngakunya udah berhenti, tapi ini apa? kamu ini penyanyi! Jaga suara dan paru dong!”

“Han Hongnan! Biarkan aku menjadi Kim Junmyeon, bukan Suho. Malam ini saja, satu batang saja. lagipula ini rokokku setelah setahun aku tak menghisapnya sama sekali.” Junmyeon langsung merebut kembali rokoknya. Ia nyalakan korek gasnya dan kini racun nikmat itu telah terbakar, siap dinikmakti dengan cara dihisap. Suho menikmati asap yang timbul. Ia hirup perlahan-lahan hingga habis. Hongnan hanya menatapnya dengan tatapan hm.. entah sedih entah sebal atau entah sayang. Semuanya campur aduk. Rokok itu kini telah terbakar tak bersisa, Barulah Junmyeon mulai bercerita.

“Entah mengapa akhir-akhir ini aku sedang berpikir, apakah jalan yang kuambil sudah benar? Terkadang aku merasa, aku tak punya bakat sebaik member ku yang lain. Aku terkadang merasa ini semua berat banget, dan merasa sia-sia.”

 “Enggak ada yang sia-sia. Kemampuan kamu pasti berkembang kan? Enggak mungkin stagnan kan? Aku perhatikan kemampunmu berkembang dibanding jaman dulu.”

“Jaman dulu kapan? Saat aku belum trainee?”  Suho menuangkan soju kedalam gelas. “Jelaslah… aku trainee 10 tahun, masa tidak dapat apa-apa? Hanya saja aku merasa, perkembanganku sangat lambat. Dari hasil trainee 10 tahun, dan debutku 4 tahun, kemampuanku hanya stuck disitu-situ saja. aku ini seorang penyanyi, tapi tekhnikvokalku tak kunjung membagus, takusahlah sebaik Jongdae karena dia terlalu dewa, minimal seperti Kyungsoo saja aku masih kesulitan.” Suho meneguk habis gelasnya yang berisikan soju.

Hongnan tersenyum. Berusaha menghibur. “You have another talent, Kim Junmyeon.”

 Junmyeon menghela nafas dengan berat. Lagi, Ia menegak soju. “it’s hard you know. Aktingku terus dikritik, setiap aku mengikuti varshow aku selalu disebut no jam.”

“Karena kamu terlalu serius dan ambisius. Kau terlalu terlihat berusaha” Potong Hongnan.

“Aku hanya berusaha terbaik, Hongnan. Aku hanya ingin menunjukkan, inilah aku, aku mampu dan aku layak berada ditempat ini. Hanya saja lagi-lagi orang merasa garing dengan jokes ku. Aku tahu aku tak bisa melucu, tapi setidkanya orang-orang akan melihat usahaku dan menghargai itu, tapi lama-lama aku lelah itu hanya dijadikan lelucon oleh member-memberku.”

Hongnan menuangkan soju untuk Junmyeon dan dirinya. “because they love you. mereka ingin menyelamatkanmu agar tetap terlihat lucu.”

Mendengar jawaban Hongnan, Junmyeon melirik sebal. “Ya, Hongnan! Kenapa kamu terus menimpali semua omonganku? Aku hanya butuh didengar malam ini!”

“Ya! Aku menimpalimu, karena selama ini kalau kamu curhat ditelepon, aku hanya mendengarkan terlebih dahulu, kamu selalu menganggapku tak mendengarkanmu, tak memperhatikanmu, makanya aku jawab langsung.” Timpal Hongnan sebal sembari meminum sojunya.

“Iya itu kan ditelepon… aku kan tak melhatmu. Jadi bisa saja kan, kamu meninggalkan ponselmu kemana, sementara aku lagi ngomong. Sekarang kan live curhatnya. Jadi dengarkan saja dahulu!” Protes Junmyeon.

“Kamu PMS ya? Heol… ya lanjutkan.” Hongnan geleng-geleng kepala melihat Junmyeon yang kekanakkannya keluar.

“Aku terkadang merasa gagal menjadi leader. Sulit ekali membuat mereka mendengarkanku, apalagi kalau aku sudah lelah aku merasa lebih sensitif, dan saat mereka susah diatur, aku jadi merasa mereka tak menghargaiku. Ditambah kejadian 2 tahun lalu, 3 member berturut-turut kabur begitu saja. disitulah titik terendahku sebagai leader. Kamu tahu kan betapa frustasinya aku saat itu?”

Baca lebih lanjut

[FF] RUDE AND HER TRAUMA (after Story NOT A BAD THING)

Title               : rude and her trauma (after story not a bad thing)

Rate               : 15+ mianhae

Genre             : a ROMANCE manis alay gitu

main Cast     : KIM JONGDAE (CHEN EXO), WENDY SON RED VELVET

other cast   : byun baekhyun exxo, kang seulgi red velvet

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH comeback!!!

Disclaimer   : ini after storynya FF ku yang NOT A BAD THING. Lagipula aku kangen banget bikin FF dengan cast Chendy. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D

Tuk..tuk.tuk… Tuk..tuk.tuk…

Baekhyun memperhatikan sahabatnya sekaligus rekan kerjanya, Jongdae. Jari Jongdae terus mengetukkan dirinya ke meja. Ia selalu melakukan hal itu jika otaknya sedang berpikir. Entah berpikir untuk mencari ide, berpikir mencari jawaban, ataupun berpikir karena khawatir, pasti yang Ia lakukan mengetukkan jarinya secara berirama. Baekhyun sudah mengenal Jongdae bertahun-tahun hapal betul kebiasaan Jongdae satu itu, bahkan Ia hapal betul apa yang sedang dipikirkan Jongdae melalu iramanya. Kini iramanya terdengar lambat dan panjang. Sudah dipastikan Jongdae sedang mengkhawatirkan sesuatu, bukannya memikirkan konsep acara radio mereka untuk minggu depan.

Ya! what’s going on? Wae?” Tanya Baekhyun. Jongdae diam saja tak menjawab.

Wah ini anak keasyikan mikir kayaknya.. “Ya!! Kim Jongdae!!!” Baekhyun mendaratkan kepalan tangannya di atas kepala Jongdae. Jongdae langsung mendongak kaget.

“Hah? Mwo?

“Ada apa? Kau sedang asyik tenggelam dalam pikiran apa? Gwaenchana?

Jongdae menganggukkan kepalanya “it’s okay! Aku lagi berpikir konsep untuk minggu depan kok.”

Baekhyun langsung mencibir begitu mendengar jawaba Jongdae. “Ya, Kim Jongdae! Kau pikir aku tak tahu dirimu apa? Kita sudah kenal bertahun-tahun, aku tahu kebiasaanmu mengetukkan jari ke meja dengan irama lambat dan panjang. Itu artinya kau sedang mengkhawatirkan sesuatu! Katakanlah… ada apa?”

Jongdae menghela nafasnya. “yeah you know me so well!” Jongdae tak langsung menjawab pertnyaan Baekhyun. Ia mengambil ponselnya yang terletak di meja, dan langung menelepon. Tak lupa juga Ia loudspeakerkan teleponnya agar Baekhyun dapat mendengarnya.”

The number you are calling is not active or out of scope area. Please try again later  in few minutes”

“Dengarkan? Kamu tahu apa yang ku khawatirkan?” Jawab Jongdae sambil menunjuk-nunjuk ponselnya.

“ah… Wendy? Lah tapi biasanya juga kalau dia enggak bisa dihubungin kamu enggak secemas ini. Paling hp dia habis baterai.”

“Masalahnya bukan itu! Aku yakin dia sengaja mematikan hp dia. Dia pasti lagi enggak mau berkomunikasi denganku.” Keluh Jongdae sedih.

What happened? Apa yang terjadi sampai pikiran kamu fokusnya cuman ke Wendy seorang?”

“Kemaren aku berantem sama dia… jadi….”

 

–Malam Sebelumnya–

“Hai, Seul… Wendy masih di lab?” Tanya Jongdae.

“Wah barusan banget dia pulang.” Jawab Seulgi.

“Pulang? Sama siapa?”

Seulgi menggelengkan kepalanya. “Entah, tapi sendiri kayaknya. Dia bilang mau naik bis kalau enggak salah.”

“Oke, makasih seul!” Jongdae pun langsung menuju mobil untuk pergi menuju halte bis dekat kampus Wendy –yang juga kampusnya dulu –. Ia berharap Wendy belum mendapatkan bis. Setibanya di halte orang yang Ia cari masih berada disana. Duduk diam termenung sendiri sambil ditemani alunan lagu yang mengalir melalui headset ke telinganya. Jongdae langsung keluar mobil menghampiri Wendy.

“Kenapa pulang sendiri? Enggak nunggu aku?” Tanya Jongdae cemberut.

“Kan kamu lagi siaran, terus ada rapat juga kan? Ya sudah aku enggak mau ganggu.” Jawab Wendy santai sambil terus mendengarkan lagu.

“Tapi ini sudah jam berapa? Hampir jam 10 malam, Wendy! Aku kan sudah bilang, kalau aku bisa kok jemput kamu bentar, habis itu aku balik ke kantor!”

Oppa, aku bisa pulang sendiri kok. Aku sudah biasa.” Wendy coba menenangkan Jongdae.

“Kamu tuh ya selalu gini. Apa-apa sendiri. Suka enggak cerita-cerita. Terkadang aku merasa enggak dianggap sebagai pacar.” Jongdae mulai sinis.

“Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?” Wendy langsung melepas headset ditelinganya.

Baca lebih lanjut

[FF] Missing Tile Syndrome

Title               : MISSING TILE SYNDROME

Rate               : PG 13+

Genre             : apa ya aku bingung? Hmmm LIFE dengan sentuhan ROMANCE sedikit

main Cast     : IRENE (BAE JOOHYUN) RED VELVET, CHOI MINHO SHINEE

length           : One shoT

Author          : maafin HANAN HANIFAH baru ada ide setelah baca kaskus

INSPIRED        : Salah satu HT di kaskus judulnya “MISSING TILE SYNDROME”. Trit yg bagus gan, menginspirasi banget dalam kehidupan nyata dan perfanfic-an wkwkwk. Kalian bisa baca tritnya disini. *kalian harus baca trit itu, bagus*

Disclaimer   : Sebenarny,a ini sudah selesai dari bulan Juni, bisa dilihat dibawah tanggal dan waktu aku selesai menulis ff ini. Hanya saja aku saat itu belum punya kuota. Maklum, liburan pemasukan terpangkas 70% jadi baru aku posting sekarang. Ya walau enggak ada adegan so sweet so sweet yg berarti, tapi aku masangin Minho-Irene karena lucu aja lihat Minho godain Irene terus pas Minho jadi Mc peluncuran minialbum Red Velvet – Ice Cream Cake. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY.

“Gimana penampilan aku hari ini?” Tanya Irene sambil memutarkan badan.

Minho melihat pakaian yang dikenakan kekasihnya itu dari atas hingga bawah. Mini dress bermotif garis vertikal hitam putih tampak membuatnya anggun dan juga chic. Rambutnya Ia biarkan tergerai dengan pemanis jepit disudut kanan kepalanya. Ah Irene selalu tampak cantik dimatanya, hanya saja Ia merasa sedikit janggal saat tiba dibagian bawa. Sepatu.

“Itu heelsnya enggak ketinggian?” Minho melirik khawatir.

“Iya sih ini tinggi banget, 20cm. memang kenapa? Aneh?”

“Enggak sih, tapi kelihatannya kamu kurang nyaman.”

Irene melirik sepatunya dengn raut sedih “Memang sih, aku agak sedikit susah berjalan, tapi mau gimana lagi, biar aku terlihat tinggi di kamera.”

“Ya sudahlah, ayo!” Mereka berdua pun langsung meluncur ke tempat tujuan. Hari ini ada sebuah casting untuk presenter sebuah acara mengenai fashion di televisi kabel. Irene ingin mencoba casting tersebut karena salah satu mipinya adalah menjadi presenter sisebuah acara regular sebuah televisi. Ia ingin maju tak hanya berkarir menjadi penyiar radio atau mc acara off air saja, tapi juga ingin merambah dunia on air juga.

Setibanya di tempat casting, terlihat sudah banyak peserta yang mengantri. Sebagian besar peserta tampakny seorang model jika dilihat dari badan mereka. Badan langsing ditambah kaki jenjang yang membuat tubuh mereka menjulang tinggi. Hal ini membuat Irene menjadi minder.

“Minho, lihatlah, mereka tinggi-tinggi. Sangat jauh jika dibandingkan dengan aku.” Irene tertunduk sedih. Ia merasa saingannya sangat berat.

“Ya terus kenapa kalau mereka tinggi-tinggi?”

“Ya kesempatanku untuk lolos kecil. Ingat tidak casting untuk acara fashion di stasiun sebelah sebulan lalu? Orang yang lolos adalah seorang model dengan tinggi 170cm, sedangkan aku? 160cm pun tak sampai.” Keluh Irene sedih.

“Kamu ini mau audisi jadi presenter bukan model, jadi tinggi badan kan bukan faktor utama, tapi faktor pendukung.” Minho berusaha menenangkan Irene. Jika sudah merasa minder Irene benar-benar akan merasa rendah diri dan tak tenang sehingga Minho harus berusaha membuat Ia tenang.

Namun Irene malah semakin tak tenang. Ia malah makin berkeluh kesah. “Ya tapi kan faktor pendukung juga penting. Untuk sebuah acara mengenai fashion seperti ini, tak hanya kemampuan dan pengetahuanku saja yang penting, tapi penampilanku juga. Apakah aku cukup stylish, atau badanku cukup bagus tidak untuk dijadikan model fashion mereka. Oleh karena itu mereka cenderung menyukai yang memiliki badan tinggi layaknya model karena mereka akan bagus jika dipakaikan apapun pada badannya.”

Irene menatap nanar pada peserta lainnya. “Lihat kulit mereka mulus-mulus, sedangkan wajahku sedang penuh hiasan.” Cemberut Irene yang wajahnya memang sedang ada jerawat beberapa biji.

“Ya tapi jerawat kamu kan pengaruh hormon, kalau periodemu sudah beres, jerawat itu kan hilang sendirinya kan?” Minho mengelus muka Irene untuk membuktikan bahwa jerawatnya bukan masalah.

“Tapi tetap saja di kamera akan terlihat jelek. Ah eotteokhae? Haruskah aku gagal karena hal semacam ini?”

“Ya enggak lah. Masa mereka mengeliminasi kami kaena tinggi badan dan jerawat saja?”

“Kata siapa enggak?!” Seru Irene Kesal. “Casting kemaren aku gagal Karena itu. Peserta yang lolos memiiki kemampuan yang sama denganku, tapi karena badan dia lebih tinggi daripada aku, jadi dia yang dipilih! Makanya sekarang pun pasti begitu, ah.. apa yang harus ku lakukan?” Irene malah jadi panik sendiri, padahal yang ada dipikiran dia belum tentu terjadi.

“Aku harus menambah aksesoris apa lagi agar terlihat tinggi? Ah aku juga harus menambahkan bedak agar jerawatku tak terlihat.” Irene sibuk mengeluarkan bedaknya dan kembali merias diri. Minho yang melihat Irene seperti itu jadi geleng—geleng sendiri.

“Joohyunni, kamu itu kena missing tile syndrome!” Celetuk Minho.

Baca lebih lanjut