[REVIEW] DEFENDANT

Aku ingin mencoba mengembalikan gaya menulis review dramaku seperti sebelumnya. Ya bukan berupa poin lagi, tapi berupa uraian. Setelah aku pikir-pikir, reviewku kemaren yang berupa poin, ujung-ujungnya seperti paragraf biasa saja. selain itu, kayaknya orang-orang lebih menikmati berupa uraian daripada poin *sok tahu*. Hanya saja kali ini mungkin uraiannya lebih jelas, yaitu aku mengacu pada poin-poin, enggak melebar kemana saja, walau enggak janji sih kalau enggak melebar kemana saja hehehe.

Cerita mengenai dunia hukum dan pembisnis nampaknya enggak akan pernah mati di dunia perdramaan korea. Habis satu, muncul drama yang lainnya. Kali ini ada sebuah legal drama yang menarik perhatianku, let’s see about Defendant.

Drama yang memiliki 18 episode ini merupakan drama dengan genre legal, thriller, dan sedikit melo menurutku. Drama ini menceritakan tentang seorang jaksa pembunuhan Park Jungwoo yang memikili integritas tinggi. Ia sedang menyelidiki kasus pembunuhan yang melibatkan seorang wakil presiden Chamyung Grup yaitu Cha Minho. Sayangnya, seperti kebanyakan chaebol pada umumnya, Minho mengelak dari perbuatan jahatnya. Setelah melakukan penyelidikan, Jungwoo telah mendapatkan bukti tiba-tiba dikejutkan dengan berita kematian Minho yang bunuh diri. Ia merasa ada kejanggalan mengenai kematian Minho, ditambah munculnya saudara kembar Minho, Cha Seonho yang merupakan presdir Chamyung Grup. Melalui penyelidikan, Jungwoo mendapat fakta bahwa yang mati bukanlah Minho, melainkan Seonho. Seonho yang hidup kini adalah Minho yang menyamar. Terganggu mengenai hal itu, Seonho alias Minho mengusahakan segala cara agar Jungwoo tidak mengejarnya. Tiba-tiba ada sebuah kejadian, dan Jungwoo tiba-tiba terbangun di penjara dengan pakaian napi, dan yang Ia ingat hanyalah semalam adalah ulang tahun anaknya, Park Hayeon. Ulang tahun anaknya itu sebenarnya terjadi 4 bulan yang lalu dan Jungwoo sudah dipenjara selama 4 bulan dengan tuduhan membunuh istri dan anaknya. Sayangnya Jungwoo tidak ingat apa-apa, dan Ia tidak terima jika Ia dituduh sebagai pembunuh keluarganya.

Awalnya aku agak malas nonton ini, karena rasanya ingin drama yang ringan dan female leadnya Yuri, sedangkan lawan mainnya adalah aktor sekelas Jisung. Macam apa lah Jisung dipasangkan ama Yuri, setelah Hyeri dia dipasangkan dengan Yuri. Heol…. Dari segi karir idol Yuri memang lebih maju, tapi kalau akting Hyeri masih mending dibanding Yuri, walau Hyeri juga belum terlalu bagus sih. Cuman ini dramanya Jisung men! Aku tak ingin melewatkan dramanya dia, setelah tahun kemaren dia bermain di drama yang tak menarik hatiku sama sekali, kali ini dia kembali dengan drama yang genrenya menjadi salah satu favoritku, drama misteri, hukum. Lalu setelah membaca review beberapa episode, aku merasa sayang sekali melewatkan drama ini. Aku mencoba mengabaikan faktor Yuri.

Keputusan yang tepat untuk mengikuti drama satu ini. Gila, coy! Hm.. oke bosen ya pakai kata gila, kita pakai kata, incredible! Luar biasa drama satu ini tuh. Mengikuti drama ini selama on going rasanya bisa mati penasaran karena enggak sabar nunggu kelanjutannya. Kalian djamin sekalinya nonton episode ini, bakalan nagih, enggak bisa berhenti. Drama ini tuh penuh dengan kumpulan puzzle yang harus disatukan. Misteri-misteri yang terjadi selama 4 bulan, dan fakta apa yang dilupakan Jungwoo? Kenapa Jungwoo mau mengakui kejahatan yang tak Ia lakukan? Siapa pembunuh sebenarnya? Semua pertanyaan itu pasti muncul dan akan terus menghantui selama 8 episode pertama dari drama ini dan bikin gila rasanya kalau enggak tahu.

Pertanyaan-pertanyaan diatas sebenarnya akan menghasil satu jawaban yang kita semua pasti tahu jawabannya, yaitu Cha Minho, cuman gimana prosesnya? Apa andil Minho dalam kasus itu? Misteri-misteri yang muncul diawal episode cukup cepat dikupasnya. Delapan episode pertama kita suah tahu jawabannya, seperti apakah Hayeon masih hidup, ingatan Jungwoo yang terlupakan, dan pembunuh sebenarnya dari istri Jungwoo. Sisanya drama ini lebih berfokus kepada cara Jungwoo kabur dari penjara, menangkap Cha Minho untuk membuktikan ketidakbersalahannya dan juga menyelamatkan Hayeon. Rasa penasaran dan greget itu jadi berganti dengan rasa ingin cepat-cepat terselesaikan, karena ingin banget lihat Minho terpuruk dan Jungwoo bebas. Greget tetap ada, karena Minho ini memang pintar sih, dia punya seribu cara untuk menghalau Jungwoo.

Aku merasa agak muak dengan situasi yang ada di penjara. Betapa mudahnya sipir disuap dan memperlakukan seseorang dengan sangat tidak manusiawi. Sebenarnya aku percaya sih kalau hal gini kejadian di kehidupan nyata. Toh di berita juga diceritakan kalau yang membantu gembong narkoba berbisnis kan si sipir penjara. Di drama juga pasti terjadi seperti itu, dimana sipir akan tunduk pada seorang pembisnis yang akan memberi mereka “kehidupan”. Makanya melalui drama ini kehidupan mengenai penjara lebih banyak terkupas. Ya walau cuman mereka main di lapang, terus balik lagi ke sel. Kalau melakukan kesalahan mereka dikurung di sel khusus.

Eu.. bentar kayaknya agak melenceng. Kembali ke jalan yang benar. Menurutku drama ini fokusnya bagus. Jelas. Engga ada deh waktu buat menceritakan kehidupan lain, mereka hanya fokus ada Jungwoo dan Cha Minho. Ini terbukti, hampir 80% adegan drama ini diisi dengan Jisung. Kita benar-benar fokus dengan bagaimana pertarungan antara Jungwoo dan Minho. Alurnya cukup cepat seperti yang tadi kubilang, karena misteri-misterinya sebagian besar sudah terjawab 8 episode awal. Sisa misterinya hanyalah bagaimana cara Jungwoo membuktikan kebersalahan Minho dan bukti-buktinya terjawab di akhir. Lalu bagku yang orang awam, enggak mengerti hukum, aku merasa drama ini cukup detail, walau terkadang beberapa rencana mereka dipenjara terasa amat mulus, enggak masuk akal wkwkwk.

Baca lebih lanjut

[FF] Sorry

Title               : SORRY

Rate               : G

Genre             : FAMILY, SISTMANCE (?)

main Cast     : KRYSTAL JUNG F(X), JESSICA SNSD

OTHER CAST   : KANG MINHYUK CNBLUE

length           : One shot

Author          : alhamdulillah HANAN HANIFAH lagi

Disclaimer   : terinpirasi dari kejadian sehari hari lah pokoknya mah. Bakalan rada geje sih. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

 

Berulang kali Jessica melirik jam dinding di ruang tengahnya. Jamnya kini sudah berdentang sebanyak duabelas kali. Entah sudah berapa kali Ia menempelkan ponselnya ditelinganya, namun tak terdengar juga nada sambung. Ia cemas, sudah tengah malam adiknya,Krystal tak ada kabar berita. Membuatnya begitu cemas. Memang bisa saja Krystal sedang bermain bersama teman-temannya atau dengan pacarnya, tapi biasanya Ia selalu memberitahu Jessica jika pulang telat. Namun Krystal sama sekali tak memberitahunya. Ia jadi tak bisa tenang. Jika Ia pergi tidur begitu saja, Ia takut terjadi sesuatu dengan adik satu-satunya itu, sehingga Ia memaksakan diri untuk tetap terjaga walau rasanya tubuhnya daritadi sudah protes meminta untuk berbaring dikasur.

Terdengar suara orang sedang membuka kunci pintu. Jessica langsung berlari ke depan untuk memastikan yang membuka kunci adalah Krystal. Sesampainya di depan, tepat saat pintu baru saja terbuka. Sesuai harapannya orang yang membuka pintu adalah Krystal. Betapa leganya Jessica saat tahu kalau itu Krystal.

“Aku pulang!” Seru Krystal.

“Kirain enggak akan pulang.” Sambut Jessica seraya menyindir.

Disindir sepert itu Krystal hanya tersenyum. “Kok Eonni belum tidur? Masih ngerjain tugas kantor?”

“Tugas sudah beres dari jam 10.” Jawab Jessica dingin.

“Lah terus kenapa belum tidur?”

“Nunggu kamu! Darimana saja? Enggak ada kabarnya. Ponsel enggak bisa dihubungi.” Ketus Jessica. Nada bicaranya mulai tinggi.

“Biasa aku main sama Minhyuk Oppa. Kenapa nunggu aku? Aku bawa kunci kok.” Jawab Krystal.

“Kenapa enggak bilang kalau kamu pulang telat mau main dulu sama Minhyuk?”

“Ponselku habis baterai. Makanya Eonni tak bisa menghubungiku.”

“Kalau Ponsel kamu mati, kenapa enggak coba menghubungi lewat ponselnya Minhyuk.”

“Enggak apa-apa. Lagian Aku pikir Eonni pasti tahu kalau aku pulang telat gara-gara main.” Jawab Krystal dengan santai seolah tak terjadi apa-apa. Raut mukanya sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah.

“Bilang kalau kamu main! Jadinya kan aku enggak usah nunggu kamu. Aku kan bisa tidur daritadi. Capek tahu!” Jessica langsung mengeluarkan amarahnya.

“Ya kan aku juga enggak minta Eonni buat nunggu aku pulang.”

“Aku enggak akan menunggumu kalau kamu bilang kamu main!” Jessica mulai berteriak kesal.

“Ya gimana mau bilang? Ponselku lowbat!” Krystal pun pada akhirnya emosinya ikut tersulut.

“Ya kan kamu bisa kasih tahu aku lewat Minhyuk!” Bantah Jessica

“Tanpa aku kasih tahu juga, Eonni sudah mengertilah, kalau aku ini main!”

Suasana di ruang tengah menjadi memanas. Serasa ada api yang mengililingi ruangan itu. Urat dan syaraf kakak beradik itu sama-sama menjadi tegang dengan muka yang memerah. Jessica menatap adiknya dengan tajam. Krystal pun yang sudah kesal ikut memandangi kakaknya dengan tajam, namun Dia menatap seperti itu hanya sesaat. Krystal pun sadar. Ia memalingkan mukanya dari hadapan kakaknya. Agar suasana tak memanas, Krystal memutuskan untuk tak memperpanjangnya. Ia pamit menuju kamar.

“Ya sudahlah, enggak usah dibahas lagi. Aku mau ke kamar capek.” Pamit Krystal sambil berjalan melewati Jessica.

“Kamu tuh enggak ada rasa bersalahnya sama sekali ya? minimal minta maaf gara-gara enggak kasih tahu aku! Aku lebih capek! Kerja lebih capek! Kamu capek apa sih? Main?” Emosi Jessica benar-benar berada dipuncak. Ia langsung menumpahkan isi pikirannya.

Krystal langsung membalikkan badannya. Ia memprotes Jessica. “Apa sih Eonni? Enggak usah berlebihan deh! Enggak usah dibahas lagi kenapa sih?”

“Enggak bisa! Nanti bakalan jadi kebiasaan! Kalau mau pergi kasih tahu aku! Kamu enggak tahu apa aku begitu cemas? Aku ingin istirahat daritadi! Tapi gara-gara kamu belum pulang aku enggak bisa istirahat!”

“Aku bukan anak kecil lagi,Eon! Aku tahu salahku, nanti aku enggak akan gitu lagi kok!” Sahut Krystal sambil berjalan menaiki tangga.

Emosi Jessica semakin tersulut dengan jawaban Kystal. Ia berjalan mendekati Krystal. “Anak kecil saja bisa merasa bersalah? Kamu? mana ada rasa bersalahnya. Minta maaf bisa kan?”

Eonni, enggak usah dibesar-besarkan deh ini masalahnya! Masalah gini saja marah-marah. Pakai acara minta maaf pula!”

“Masalah gini saja? Ya Tuhan! Minta maaf saja susah ya kamu? Kamu gimana kalau kamu diculik, terus aku enggak peduli nyariin kamu? Kamu enggak akan ketemu! Enggak tahu diuntung ya kamu! Harusnya kamu beruntung punya kakak yang care sama kamu! Ya sudah, kalau kamu enggak mau dapat perhatian dari Aku lagi. Besok Aku enggak akan ngomong sama kamu! Aku enggak akan peduli lagi sama kamu!” Ujar Jessica penuh emosi. Dengan cepat Ia meninggalkan Krystal menaiki tangga, dan masuk kamar dengan pintu dibanting.

Melihat Kakaknya marah-marah, Krystal jadi ikut kesal. Ia pun berjalan masuk ke kamar dan ikut membanting pintu kamar. Dibalik pintu kamar, Krystal bersandar dan menengok ke tembok sebelah kirinya, dimana disebelah tembok itu adalah kamar kakaknya,

“Kenapa sih dia? Masalah macam gitu saja dilebih-lebihkan. Pakai acara ngamuk pula. Ah paling juga besok baik lagi.” Ujar Krystal berusaha cuek sambil berbaring di kasurnya.

*****

Paginya, seperti biasa Krystal memasak untuk sarapan Ia dan Jessica. Dari Ia bangun sampai sekarang Ia memasak, Krystal belum bicara juga dengan Jessica. Bukan karena Jessica tak mengajaknya bicara, tapi karena Ia belum melihat Jessica. Saat Ia bangun Jessica belum bangun. Krystal langsung bergegas ke lantai bawah untuk memasak. Saat Ia memasak Ia mendengar suara kaki menuruni tangga lalu terdengar suara air dari kamar mandi. Tampaknya Jessica sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor.

Setelah selesai memasak, Ia sajikan makanannya diatas meja makan, dan mengajak Jessica untuk memakan sarapan yang telah Ia buatkan.

Eonni, sarapannya sudah siap!” Krystal teriak mengarah pada lantai atas. Tak terdengar jawaban dari Jessica. Krystal berlalu kembali ke dapur untuk membereskan peralatan yang tadi Ia pakai untuk memasak. Krystal tak mempermasalahkan jika Jessica tak menjawab, karena biasanya juga Jessca tak menjawab ajakan sarapannya itu.

Krystal pun mencuci semua peralatan masaknya. Saat Ia sedang mencuci, Jessica turun ke bawah dan menuju dapur untuk minum. Krystal pun langsung menyapa Jessica dan mengajaknya sarapan.

Eonni, ayo sarapan!” Ajak Krystal dengan tangan penuh busa.

“Aku telat.” Jawab Jessica dingin sambl berjalan pergi.

“Nanti pulang jam berapa? Nanti malam aku masakin, kebetulan Aku hari ini enggak ngampus, jadi santai.”

Jessica tak menanggapi pertanyaan Krystal. Ia terus saja berjalan pergi.

Eonni?” Krystal melirik Jessica, tapi sayangnya Jessica sudah menghilang dari hadapannya. Terdengar suara pintu dibuka. Ternyata Jessica sudah pergi, tanpa pamit pada dirinya.

Krystal memasang mimik heran sekaligus tak percaya. Tak seperti biasanya kakaknya dingin padanya, bahkan pergi tanpa pamit. Sesuatu yang jarang sekali terjadi, bahkan bisa dibilang inilah pertama kalinya Jessica bersikap seperti ini.

“Kenapa Eonni kayak gitu? Apa Dia benar-benar marah?” Krystal bertanya pada dirinya sendiri. Krystal menyadari jika kakaknya itu tampaknya memang benar marah. Seketika Krystal langsung panik.

Aigo, gimana ini? ah paling nanti baik  dengan sendirinya? Tapi kalau enggak? aduh gimana ya?” Panik Krystal. Batin Kystal bergulat antara harus memikirkan hal itu atau tidak. Pada akhirnya Krystal melanjutkan pekerjaannya tanpa mau memikirkan masalah itu, tapi tetap saja hal itu terus terlintas dibenaknya. Ia menjadi tak tenang. Pekerjaan rumahnya terselesaikan namun tak terselesakan dengan baik.

Saat Ia mencuci piring, Ia membilas sisa sabunnya secara asal sehingga asih ada sisa sabun yang tertinggal. Saat menyapu pun tak semua debu ikut tersapukan. Lebih parah lagi saat Ia mengepel karena lap yang Ia gunakan untuk mengepel terlalu basah sehingga lantai rumahnya agak becek dan lama keringnya. Marahnya Jessica benar-benar mengganggu pikirannya.

Siangnya, Minhyuk mengunjungi rumah Krystal. Minhyuk datang dengan senyum menghias wajahnya dan tangan kanannya membawa sebuah plastik kecil berwarna putih susu. Krystal menyambut kehadiran kekasihnya hanya dengan senyum tipis dan wajah yang terlihat gelap karena otot-ototnya lesu. Melihat raut Krystal yang tampak suram, Minhyuk mengerutkan dahinya. Baca lebih lanjut

[FF] It’s Over

Title               : IT’S OVER

Rate               : pg 13+

Genre             : ROMANE again, maapin. Abis genre yang paling sering terlintas ini *dasar anak muda ababil*

main Cast     : TIFANNY HWANG SNSD , NICHKHUN 2PM

OTHER CAST   : JESSICA JUNG SNSD, KIM TAEYEON SNSD

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH dongski

Disclaimer   : Niatnya mau ngerjain tugas statistic, tapi apa daya daku tak mengerti, jadi besok sajalah. Ayo KHUNFANNY shipper merapat eehehe.\

 SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

Tifanny menatap wajahnya di cermin dengan penuh senyuman. Ia baru saja selesai mandi. Tubuhnya yang masih mengenakan handuk berbentuk kimono, dan rambutnyapun masih terbalut oleh handuk kecil berputar-putar kecil dihadapan cermin. Bercermin sesaat membuatnya menghasilkan keputusan pakaian apa yang akan Ia kenakan malam ini. Tifanny membuka lemarinya dan mengambil mini dress dengan warna white broken.

Setelah selesai mengenakan dressnya, Tifanny duduk di meja riasnya. Ia mengeluarkan peralatan make upnya dari laci meja rias tersebut. Dengan terampil Ia memoleskan foundation sebagai dasar, yang kemudian disusul dengan bedak. Tak lupa juga Ia memulaskan shadow, blush on dengan warna soft. Digoreskannya pula eyeliner dikelopak matanya. Bulu matanya makin cantik dengan tambahan mascara.

“Tok-tok” Terdengar ketukan di pintu kamar Tifanny.

“Ya masuk.” Sahut Tifanny sambil mengoleskan lipstik berwarna soft pink dibibirnya.

Jessica pun masuk kedalam kamar Tifanny. Jessica pun duduk diatas kasur Tifanny. Jessica memperhatikan Tifanny yang sedang bersolek dengan wajah khawatir.

“Kamu yakin mau datang?” Tanya Jessica.

Tifanny mengangguk, “Memangnya kenapa?”

“Kalau Kamu enggak mau enggak usah maksain buat datang. Biar Aku saja sendiri.”

“Aku enggak enak sama Taeyeon kalau enggak datang.” Balas Tifanny sambil memblow rambutnya.

“Taeyeon sudah bilang kalau Dia enggak apa-apa kalau Kamu enggak datang. Aku dan Dia malah khawatir kalau Kamu ikut.” Raut cemas benar tergurat jelas dimuka Jessica.

“Kenapa juga Kamu harus khawatir?” Tifanny masih menanggapinya dengan santai.

“Fan, Kamu tahu kan kalau Dia datang?”

Mendengar kata Dia, Tifanny menghentikan sesaat kegiatan blow rambutnya. Matanya mendadak kosong seperti sedang menerawang. namun itu tak berlangsung lama. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya, matanya kembali fokus. Dengan santai Tifanny menjawab bahwa Ia tahu Dia yang dimaksud Jessica akan datang, dan Ia tak masalah akan hal itu.

“Serius enggak masalah?” Jessica kembali meyakinkan Tifanny.

Tifanny mengangguk dengan mantap, “Aku sudah biasa saja kok dengannya. Jantungku tak dag dig dug lagi jika melihatnya.

“Bohong!” Cibir Jessica, “Orang beberapa bulan yang kamu LINE sama Dia kamu senyam-senyum sendiri. Kayak orang kegirangan. Lagian kan kalian dulu putus dua tahun lalu masih menyisakan tanda tanya. Kamu masih enggak bisa melupakannya kan?”

Tifanny hanya bisa menelan ludah mendengar cibiran Jessica. Ia memang tak bisa menyangkal fakta kalau Dia memang senang saat itu dan memang benar jika Tifanny beleum sepenuhnya melupakan mantan kekasihnya itu.

“Kalau kamu ketemu Dia, terus dengar kabar buruk –versi kamu – gimana? Apakah kamu siap dengan fakta itu?”

“Itu kan baru spekulasi kamu. belum tentu kalau aku ketemu dia dengar kabar itu.” Sahut Tifanny sambil menyisir rambut hitamnya yang panjang bergelombang yang sudah selesai diblow.

“Tapi kamu yakin bisa bertemu dengannya? Kamu yakin hati kamu siap? Enggak akan ngerasa sesak?”

Tifanny terdiam sesaat terlihat dari matanya ada sorot keraguan dan ketakutan. Sebenarnya Tifanny takut kalau hatinya kembali meletup-letup saat bertemu Nichkhun, mantan pacarnya yang telah berpacaran dengannya selama tiga tahun namun Ia harus menghadapi itu semua. Ia tak bisa terus bersembunyi dibalik ketakutannya itu.

“Ya Aku yakin.” Jawab Tifanny sambil memasangkan jepit warna silver berukiran daun di sebelah atas kepalanya.

Tifanny melirik jam dinding dikamarnya. Jarum jam menunjukkan angka 7:13. “Ayo kita pergi, kita terlambat nih. Acara 17 menit lagi dimulai.” Ajak Tifanny sambil mengambil clutch bagnya.

Jessica menahan lengan Tifanny, “Are you sure to come to Taeyeon’s party?

Tifanny Diam tak menjawab. Jessica bisa melihat ada keraguan dalam diri Tifanny. Tapi Tifanny berusaha menyembunyikannya. Sebagai gantinya Ia menjawab pertanyaan Jessica dengan senyum yang lebar dan lembut.

“Apakah Kau cukup kuat untuk bertemu dengannya?”

Tifanny mengangguk, “Yeah I’m strong enough.

Dengan mobil Jessica, mereka berangkat menuju pesta pertunangan sahabat mereka, Taeyeon. Waktu yang mereka tempuh untuk mencapai tujuan mencapai satu jam. Mereka terlambat datang, acara pertunangan resminya sudah selesai. Saat mereka tiba acara sudah mencapai sesi makan dan bebas.

Tempat pesta sudah ramai. Ratusan manusia berbaur didalam gedung yang bernuansa klasik itu. Nada-nada romantis mengalun ditelinga para tamu undangan. Diantara pilar-pilar yang menjulang tinggi, Pelayan sibuk kesana kemari menyajikan makanan dan minuman. Beberapa tamu undangan tampak menikmati hidangan yang tersaji. Ada juga yang asyik mengobrol, adapula yang badannya mengikuti alunan music bersama pasangannya terjun ke lantai dansa.

Acara pertunangan seperti ini menjadi acara reuni kecil. Tak sedikit diantara para tamu saling menyapa, mengobrol sebentar untuk menanyakan kabar, kemudian berlalu lagi. Banyak juga teman lama yang bertemu saling bertukar gosip. Begitu juga dengan Tifanny dan Jessica, mereka sibuk menyapa teman-teman lama mereka. Sesekali mereka berhenti dikerumunan untuk sekedar bertukar gosip. Setelah itu mereka kembali memisahkan diri untuk makan.

Tifanny dan Jessica mengambil wine yang ditawarkan seorang pelayan wanita. Tiba-tiba Taeyeon datang menyapa mereka.

“AAAH~” Mereka bertiga bersorak senang karena akhirnya mereka bertemu.

“Selamat ya!” Tifanny dan Taeyeon saling mencium pipi kiri dan pipi kanan mereka.

“Mana calonmu?” Tanya Jessica.

“Dia sedang menemui teman-temannya.” Jawab Taeyeon, “aku kira kamu enggak akan datang loh,fan.”

Tifanny tersenyum,”ya masa sahabatku tunangan Aku tak datang.”

“Padahal kalau kamu enggak mau, enggak apa-apa kok. Aku mengerti.” Simpati Taeyeon.

“Aku sudah bilang enggak usah, tapi Dia tetap maksa pengen ikut.” Sahut Jessica.

“Enggak apa-apa kok. Tenang saja, aku baik-baik saja. Aku cukup kuat kok untuk bertemu dengannya.” Jawab Tifanny dengan senyum yang terlihat agak getir.

Jessica mengarahkan matanya ke seluruh penjuru gedung. “Tapi Aku enggak lihat Nichkhun kok. Mungkin Dia enggak jadi Datang.”

“Ada kok.” Timpal Taeyeon.

“Mana?” Tanya Tifanny dan Jessica berbarengan.

Baca lebih lanjut

[FF] Flirting To Sunbaenim

Title               : FLIRTING TO SUNBAENIM

Rate               : pg +13

Genre             : ROMANCE sih tapi enggak banget dan ditambah bumbu HUMOUR, COMEDY, tapi kayaknya gagal T____T

main Cast     : LEE SUNGYEOL INFINITE

OTHER CAST   : NAM WOOHYUN INFINITE, KIM TAEYEON SNSD, OK TAECYEON 2PM

length           : One shot, FICLET, SONGFIC

Author          : khayalan selintas HANAN HANIFAH

inspired        : lagu Barry Likumahuwa – Mati Saja. Recommended nih buat di dengerin/

Disclaimer   : Enggak sengaja pas dengerin lagu itu, terlintas buat bikin FF, dan aku pas dengerin lagu itu lagi baca artikel tentang Sungyeol, jadi aja ehehe.  SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING.GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Please ENJOY =D.

 

Alunan music menghentak, membuat orang-orang yang berada ditempat itu ingin turun ke lantai dansa. Orang-orang begitu menikmati permainan music yang dimainkan DJ. Sebagian laginya terlhat sedang menikmati makanan yang tersaji. Sesungguhnya pesta ulang tahun yang menyenangkan, tapi Sungyeol dan Woohyun hanya duduk-duduk saja.

“Ini adalah pesta ulang tahun Seungri Hyung. Seungri Hyung terkenal dengan the best party maker in our campus after GD Hyung. Tentunya kita takkan menyiakan momen ini kan?” Tanya Woohyun.

“Tentu saja.” Jawab Sungyeol sambil melihat ke arah sekelilingnya.

“Lalu kenapa kita berdiam diri saja disini. Ayolah kita turun. Ajojing coy!” Woohyun sedikit menari mengikuti irama musik.

“Ya kali kita ngedance berdua. Mana asik! Harus ada wanitanya dong!”

“Ini partynya Seungri Hyung. sudah pasti banyak wanita yang bisa menemani kita malam ini, Kau tinggal memilih!”

“Memang banyak wanita cantik, tapi tak ada yang menarik.” Sahut Sungyeol yang masih melihat ke segala arah. Seperti yang sedang mencari sesuatu.

“Kamu lagi nyari apa sih?” Woohyun mengikuti arah mata Sungyeol. “Wanita? Mau yang mana? Itu tuh cantik.”

no thanks. Kalau Kau mau, Kau saja yang berdansa dengannya. Dia bukan tipe idealku.”

“Lalu yang seperti apa?”

“Ah, Aku menemukannya!” Sorak Sungyeol girang. “Yang seperti itu.” Sungyeol menunjuk seorang wanita yang sedang duduk sendirian sambil meminum cola. Woohyun mengikuti arah yang ditunjuk Sungyeol dan betapa terkejutnya melihat orang yang ditunjuk Sungyeol.

Mworago? Taeyeon Sunbae?” Kaget Woohyun, “Kau gila apa? Dia senior kita! Dia sudah mau lulus!”

“Ya terus kenapa? Dia tipe idealku. Sangat cute dan orangnya easygoing, benarkan?”

“Iya sih. Oke, Aku tahu Kamu memang sudah mengaguminya dari awal masuk sampai sekarang, tapi Aku tak menyangka kalau Kau akan mengajaknya ngedance di pesta ini. Kau benar-benar akan mendekatinya?”

Well, See.” Jawab Sungyeol dengan senyum penuh arti. Sungyeol terus memperhatikan Taeyeon dari jauh. Ia ingin membuat Taeyeon sadar jika Ia memperhatikan Taeyeon terus menerus, lalu kemudian membuat Taeyeon salah tingkah.

Sungyeol terus memperhatikan Taeyeon, tapi nampaknya Taeyeon tak sadar jua. Hal itu tentu membuat Sungyeol sedikit sebal.

“Kok enggak sadar-sadar juga ya? Padahal biasanya para wanita jika Aku beri tatapan maut tadi, mereka akan langsung terpesona, tapi Sunbae seperti tak tertarik.” Gumam Sungyeol

“Enggak usah sok kegantengan. Di pesta ini masih banyak pria yang lebih tampan daripadamu, termasuk aku.” Cibir Woohyun sambil menenggak jus.

“Kalau kamu lebih ganteng daripada aku, harusnya Kamu sudah mendapatkan wanita untuk diajak kencan semalam.” Sungyeol balik mengejek Woohyun.

“Mungkin, Dia sudah punya pacar.”

“Siapa? Sok tahu! Jelas-jelas di kampus Dia enggak pernah memperlihatkan kalau dia Taken.” Sungyeol tetap percaya diri.

Baca lebih lanjut

[FF] Bunuh Diri

Title               : bunuh diri

Rate               : pg 13+

Genre             : horror, supernatural, life, and a little bit ROMANCE

Cast               : kim taeyeon snsd, kim heechul super junior, im yoona snsd

length           : One shot

Author          : siapa lagi kalau bukan HANAN HANIFAH

Inspired        : Novel danur by risa saraswati chapter danur kasih

Disclaimer   : nampaknya bulan ini merupaka bulan penuh ide. Saat uas di depan mata, dan lapak menanti, sempet-sempetnya nulis FF. aku milih tokoh utamanya Taeyeon, karena pengen aja, enggak ada alasan lain SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING.GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Please ENJOY =D.

 

“argh” Kepalaku terasa pusing. Begitu berat untuk membuka kelopak mataku. Kupaksakan untuk membuka mata. Perlahan-lahan aku membuka mata, walau semakin lebar aku membuka mata, kepalaku semakin pusing. Begitu membuka mata terlihat dengan samar cahaya putih. Ah… apakah aku sudah berada di dunia lain? Akhirnya, aku berhasil pergi dari dunia fana yang penuh kebullshitan. Sayangnya, ternyata aku belum pergi menuju akhirat. Ketika mataku sudah terbuka secara sempurna, aku baru sadar bahwa aku masih hidup. Ternyata cahaya putih itu berasal dari lampu neon. Jika aku belum mati berarti kini aku berada di….. segera kulirik tangan kananku. Tepat dugaanku, aku berada di rumah sakit. Kini di tangan kananku tertusuk jarum infus. Argh sial! Kenapa aku masih hidup juga?! Aigo, kepalaku pusing sekali. Aku pun memejamkan mataku kembali

Terdengar bunyi pintu dibuka. Seseorang masuk ke dalam kamar rawatku.

“Taeyeon-ah! Apakah kau sudah sadar?” dari suara dan gaya bicaranya aku tahu siapa yang datang. Tetanggaku yang sangat berisik.

“hm..” jawabku sekenaku

“ah syukurlah. Sebenarnya apa yang kau lakukan? Saat aku masuk rumah aku shock menemukanmu dalam keadaan mulut berbusa dan disamping mu itu ada sebotol obat racun serangga yang sudah kosong. Ada apa denganmu? Selelah itu kah kau menjalani hidupmu ini?”

Aku hanya diam tak menjawab.

“Ya! waeyo? Jangan diam saja!” hardik Heechul

“bukan urusanmu,Oppa!”

“ya! tentu saja ini urusanku! Kau ini tetangga terdekatku, sebelum ayahmu meninggal, beliau menitipkanmu padaku! Jadi aku harus tahu apa yang terjadi pada dirimu sebenarnya? Sebenarnya aku benci untuk mengatakan ini, karena ini membuatku terlihat tua, tapi melihat keadaanmu yang seperti ini akan ku katakan, anggaplah aku ini walimu! Aku akan bertanggung jawab apa yang terjadi pada dirimu!” lama-lama Oppa tampak kesal karena sikapku yang acuh akan perhatiannya

“kalau begitu, kalau aku anggap kau waliku yang bertanggung jawab atas diriku, apakah kau bisa menyelesaikan masalahku? Bisa kah kau melepaskan ku dari jeratan mereka?”

Oppa terdiam mendengar pertanyaanku. Cih, sudah kuduga pasti dia takkan mau dan takkan bisa.

“kau pasti tak mau kan membayarkan semua hutang yang ditinggalkan ayahku yang jumlah hingga 500 juta?” cibirku

“aigo, Bukan begitu Taeyeon-ah, tapi…..”

“tapi apa? Sudah kalau kesini hanya untuk merecok, pergi dari sini” usirku dengan kasar

“Hei! Bagaimana bisa kau mengusir dewa penolongmu? Harusnya kau berterima kasih padaku! Jika Aku tak berniat meminjam panci dari apartemenmu, kau pasti sudah pergi dari dunia ini! aku lah yang membawamu ke rumah sakit! Aku sudah melakukan kebenaran, kau malah mengusirku” omel Heechul

“kenapa kau membawaku ke rumah sakit? Kenapa kau tak membiarkan ku mati? Dengan membawaku ke rumah sakit, itu membuat pengeluaranku bertambah! Kau tahu kan aku tdak punya uang?! Jangankan untuk membayar biaya rumah sakit, biaya makanku pun tak ada!” hatiku mulai sakit mengingat betapa miskinnya aku.

“janganlah kau khawatirkan biaya rumah sakit, itu masalah gampang”

“YA!!!!” teriakku dengan histeris “oppa bilang ini masalah gampang? Siapa yang akan membayar semua ini?! memangnya kau punya uang untuk membayar semua ini? seharusnya kau tak menolongku! Kalau aku mati kau tak usah susah-susah mengeluarkan uang tabunganmu untuk membayar biaya rumah sakitku. Seharusnya kau membiarkanku mati, Oppa”

“kenapa kamu begitu ingin mati?, hah?” seru Heechul dengan penuh emosi

“aku ingin mati… aku ingin mati…” air mataku mulai menetes hatiku begitu sesak. Aku benar-benar tak kuasa menanggung beban hidupku ini “aku tak mau hidupku menjadi kotor, seberusaha apapun aku mencari uang, tapi tetap saja 500 juta takkan terkumpul hanya dalam waktu 2 bulan. Aku tak ingin hidupku dihabiskan di klub malam untuk memenuhi hasrat pria jalang”

Melihat air mataku yang mengalir deras, Oppa duduk ditempat tidurku, lalu dia menghapus air mataku dengan tangannya. Dengan nada yang lebih lembut dia berkata “aku tahu kau tak mau hidupmu seperti itu, dan aku pun tak ikhlas jika kehidupanmu akan seperti itu, tapi pasti ada jalan lain kan selain bunuh diri?”

“jalan lain apa? Aku tak punya pilihan lain. Aku tak mau hidupku menjadi pelacur, lebih baik aku mati saja!”

“tapi bunuh diri takkan menyelesaikan masalah!”

“tapi selain cara itu, aku tak tahu lagi jalan yang lain. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Nan eotte? Eotteokhae? Eottekhae?” tangisku makin terisak-isak. Betapa sakitnya hati ini jika mengingat kepedihan hidupku.  Aku pun terus menangis. Oppa hanya melihat ku dengan tatapan sedih.

Kini aku ingin sendiri dulu. Aku butuh waktu untuk merenungkan ini semua. Aku tak ingin diajak bicara dengan siapapun, karena itu aku pun mengusir Oppa “leave me alone,Oppa

ani, kau tak boleh ditinggal sendiri, bisa-bisa kau kabur dari sini” tolak Heechul

Ide bagus. Seharusnya aku mencoba hal itu

“tinggalkan aku sendiri,Oppa. Aku butuh waktu berpikir. Jebal”

“baiklah kalau itu maumu,tapi kau jangan kabur, apalagi mencoba bunuh diri kembali. hidupmu terlalu berharga untuk kau akhiri dengan cara kotor seperti ini” Pesan Heechul

Baca lebih lanjut