[REVIEW] DEFENDANT

Aku ingin mencoba mengembalikan gaya menulis review dramaku seperti sebelumnya. Ya bukan berupa poin lagi, tapi berupa uraian. Setelah aku pikir-pikir, reviewku kemaren yang berupa poin, ujung-ujungnya seperti paragraf biasa saja. selain itu, kayaknya orang-orang lebih menikmati berupa uraian daripada poin *sok tahu*. Hanya saja kali ini mungkin uraiannya lebih jelas, yaitu aku mengacu pada poin-poin, enggak melebar kemana saja, walau enggak janji sih kalau enggak melebar kemana saja hehehe.

Cerita mengenai dunia hukum dan pembisnis nampaknya enggak akan pernah mati di dunia perdramaan korea. Habis satu, muncul drama yang lainnya. Kali ini ada sebuah legal drama yang menarik perhatianku, let’s see about Defendant.

Drama yang memiliki 18 episode ini merupakan drama dengan genre legal, thriller, dan sedikit melo menurutku. Drama ini menceritakan tentang seorang jaksa pembunuhan Park Jungwoo yang memikili integritas tinggi. Ia sedang menyelidiki kasus pembunuhan yang melibatkan seorang wakil presiden Chamyung Grup yaitu Cha Minho. Sayangnya, seperti kebanyakan chaebol pada umumnya, Minho mengelak dari perbuatan jahatnya. Setelah melakukan penyelidikan, Jungwoo telah mendapatkan bukti tiba-tiba dikejutkan dengan berita kematian Minho yang bunuh diri. Ia merasa ada kejanggalan mengenai kematian Minho, ditambah munculnya saudara kembar Minho, Cha Seonho yang merupakan presdir Chamyung Grup. Melalui penyelidikan, Jungwoo mendapat fakta bahwa yang mati bukanlah Minho, melainkan Seonho. Seonho yang hidup kini adalah Minho yang menyamar. Terganggu mengenai hal itu, Seonho alias Minho mengusahakan segala cara agar Jungwoo tidak mengejarnya. Tiba-tiba ada sebuah kejadian, dan Jungwoo tiba-tiba terbangun di penjara dengan pakaian napi, dan yang Ia ingat hanyalah semalam adalah ulang tahun anaknya, Park Hayeon. Ulang tahun anaknya itu sebenarnya terjadi 4 bulan yang lalu dan Jungwoo sudah dipenjara selama 4 bulan dengan tuduhan membunuh istri dan anaknya. Sayangnya Jungwoo tidak ingat apa-apa, dan Ia tidak terima jika Ia dituduh sebagai pembunuh keluarganya.

Awalnya aku agak malas nonton ini, karena rasanya ingin drama yang ringan dan female leadnya Yuri, sedangkan lawan mainnya adalah aktor sekelas Jisung. Macam apa lah Jisung dipasangkan ama Yuri, setelah Hyeri dia dipasangkan dengan Yuri. Heol…. Dari segi karir idol Yuri memang lebih maju, tapi kalau akting Hyeri masih mending dibanding Yuri, walau Hyeri juga belum terlalu bagus sih. Cuman ini dramanya Jisung men! Aku tak ingin melewatkan dramanya dia, setelah tahun kemaren dia bermain di drama yang tak menarik hatiku sama sekali, kali ini dia kembali dengan drama yang genrenya menjadi salah satu favoritku, drama misteri, hukum. Lalu setelah membaca review beberapa episode, aku merasa sayang sekali melewatkan drama ini. Aku mencoba mengabaikan faktor Yuri.

Keputusan yang tepat untuk mengikuti drama satu ini. Gila, coy! Hm.. oke bosen ya pakai kata gila, kita pakai kata, incredible! Luar biasa drama satu ini tuh. Mengikuti drama ini selama on going rasanya bisa mati penasaran karena enggak sabar nunggu kelanjutannya. Kalian djamin sekalinya nonton episode ini, bakalan nagih, enggak bisa berhenti. Drama ini tuh penuh dengan kumpulan puzzle yang harus disatukan. Misteri-misteri yang terjadi selama 4 bulan, dan fakta apa yang dilupakan Jungwoo? Kenapa Jungwoo mau mengakui kejahatan yang tak Ia lakukan? Siapa pembunuh sebenarnya? Semua pertanyaan itu pasti muncul dan akan terus menghantui selama 8 episode pertama dari drama ini dan bikin gila rasanya kalau enggak tahu.

Pertanyaan-pertanyaan diatas sebenarnya akan menghasil satu jawaban yang kita semua pasti tahu jawabannya, yaitu Cha Minho, cuman gimana prosesnya? Apa andil Minho dalam kasus itu? Misteri-misteri yang muncul diawal episode cukup cepat dikupasnya. Delapan episode pertama kita suah tahu jawabannya, seperti apakah Hayeon masih hidup, ingatan Jungwoo yang terlupakan, dan pembunuh sebenarnya dari istri Jungwoo. Sisanya drama ini lebih berfokus kepada cara Jungwoo kabur dari penjara, menangkap Cha Minho untuk membuktikan ketidakbersalahannya dan juga menyelamatkan Hayeon. Rasa penasaran dan greget itu jadi berganti dengan rasa ingin cepat-cepat terselesaikan, karena ingin banget lihat Minho terpuruk dan Jungwoo bebas. Greget tetap ada, karena Minho ini memang pintar sih, dia punya seribu cara untuk menghalau Jungwoo.

Aku merasa agak muak dengan situasi yang ada di penjara. Betapa mudahnya sipir disuap dan memperlakukan seseorang dengan sangat tidak manusiawi. Sebenarnya aku percaya sih kalau hal gini kejadian di kehidupan nyata. Toh di berita juga diceritakan kalau yang membantu gembong narkoba berbisnis kan si sipir penjara. Di drama juga pasti terjadi seperti itu, dimana sipir akan tunduk pada seorang pembisnis yang akan memberi mereka “kehidupan”. Makanya melalui drama ini kehidupan mengenai penjara lebih banyak terkupas. Ya walau cuman mereka main di lapang, terus balik lagi ke sel. Kalau melakukan kesalahan mereka dikurung di sel khusus.

Eu.. bentar kayaknya agak melenceng. Kembali ke jalan yang benar. Menurutku drama ini fokusnya bagus. Jelas. Engga ada deh waktu buat menceritakan kehidupan lain, mereka hanya fokus ada Jungwoo dan Cha Minho. Ini terbukti, hampir 80% adegan drama ini diisi dengan Jisung. Kita benar-benar fokus dengan bagaimana pertarungan antara Jungwoo dan Minho. Alurnya cukup cepat seperti yang tadi kubilang, karena misteri-misterinya sebagian besar sudah terjawab 8 episode awal. Sisa misterinya hanyalah bagaimana cara Jungwoo membuktikan kebersalahan Minho dan bukti-buktinya terjawab di akhir. Lalu bagku yang orang awam, enggak mengerti hukum, aku merasa drama ini cukup detail, walau terkadang beberapa rencana mereka dipenjara terasa amat mulus, enggak masuk akal wkwkwk.

Baca lebih lanjut

Iklan

[REVIEW] 38 TASK FORCE ; MISSING NOIR M

Kali ini daku akan kembali membahas 2 drama sekaligus. Kedua drama ini memiliki tema yang serupa atau sama kurang lebih dan berasal dari salah satu TV kabel yang memang sudah dikenal akan tema seperti ini, yaitu OCN. Berhubung aku nontonnya sudah beberapa waktu yang lalu jadi aku cuman bisa bahas sedikit saja mengenai tanggapanku mengenai kedua drama ini. Worth to watch kok keduanya. Enjoy this review….

38 TASK FORCE

Genre : crime, drama, revenge *kata Wikipedia*

Episode : 16

Why I Watched : Para Beannies bilang kalau drama ini bagus, lagipula ini dari OCN yang biasa membuat drama kriminal yang menarik hatiku sebagai fans dari cerita kriminal, jadi kuputuskan untuk menonton saat salah satu temanku ada yang punya drama ini.

Kesan : Sukaaaa. Seru untukku, dan nagih. Penasaran akan selanjutnya gimana. Banyak kejutannya yang bikin greget.

The interest thing : cerita tentang dunia pajak sendiri cukup baru diangkat dalam kdrama. Ini konsepnya sama kayak drama Bad Guys sih, dimana melawan yang jahat dengan yang jahat juga. Disini menggunakan penipuan untuk menangkap para penunggak pajak yang enggak mau bayar. Cara penipuan yang detail dan kerjasamanya bikin penasaran akan renaca selanjutnya. Plot twistnya cukup mengejutkan sih buatku, tak terduga, bahkan setelah twistnya ada lagi twist. Setiap twist yang terduga sebenarnya ada kejutan lain yang menanti. Untukku sih cukup tak tertebak rencana-rencana penipuan mereka. Walau itu sesuatu yang buruk, tapi digunakan untuk kebaikkan. Aku kira penjahat alias penunggak pajaknya hanya ada 1 si Ma Jinsuk. Makanya aku sempat kaget saat di episode 6, hutang pajak Jinsuk sudah terbayar. Betapa mudahnya dia tertipu, ternyata masih ada penunggak pajak yang lebih besar menanti.

The Bad Thing : karena twist yang ditampilakn cukup banyak, jadi agak bertanya-tanya ini plot twist bukan sih? Saat aku menyangka itu plot twist ternyata bukan, jadi agak sedikit memusingkan. Lalu cara alurnya yang agak maju mundur bikin agak bingung, misalnya pasa lagi ngejelasin rencana mereka, tapi langsung ada visualisasinya alias langsung loncat ke waktu saat mereka beraksi, tapi setelah itu balik lagi ke adegan saat mereka diskusi, dan perpindahannya kurang rapi menurutku. Jadi aku sendiri agak pusing dan sedikit mengernyitkan dahi. Ya sebenarnya drama kayak gini wajar saja sih agak memusingkan, namanya juga genre criminal, pasti banyak cerita yang mengejutkan dan bikin pusing hahhaha. Sama kenapa sih lagi-lagi petinggi pemerintah kotor semua? Pffft…. Iya sih di realitasnya banyak yang gitu, tapi sesekali sosok petinggi jadi heroine kek hahaha, ya tapi enggak masalah sih. Walikota Chun yang kotor menambah cerita sendiri, bahkan dia pun jadi tertangkap.

Chemistry & Akting : bromance Seo Inguk dan Ma Dongsuk seru parah! Sempat kaget sih twist dipertengahan episode pas kasus Bang Pilgyu yang ternyata terbentuknya tim ini tuh hasil dari perencanaan matang Yang Jungdo dan sempat merasa kecewa, tapi aku merasa chemistry dan hubungan Baek Sungil dan Yang Jungdo untuk saling berkhianat terlalu sulit, dan benar akhirnya mereka baikkan lagi dan Jungdo merasa bersalah. Tim penipu juga rasa kekeluargaannya kuat. Rasa saling percaya dan khawatir tumbuh dengan sendiri dan itu membangun sekali chemistry diantara mereka. Untuk bagian romansanya ada kisah masa lalu Chun Sunghee dan Jungdo yang pahit, tapi ternyata Jungdo menyukai Sunghee sesungguhnya, bukan untuk penipuan. Romansa mereka sedikit terasa canggung karena wajar mereka putus enggak baik-baik, jadi chemistrynya kalau sebagai sesama mantan yang canggung dapat banget sih. Kalau cerita mereka dilanjutkan tampaknya akan menarik, karena terlihat Jungdo masih berharap dan ada rasa, lalu Sunghee tinggal disenggol dikit pasti balik lagi hahaha. Akting semuanya goodjob. Ma Dongseok sendiri dia sudah senior dan teruji lah untuk di drama-drama begini. Jadi orang jahat, orang baik, kasar, sampai disini yang agak diam dan pengeut awalnya terpotret dengan baik. Seo Inguk juga image dia sebagai actor semakin kuat disini daripada seorang penyanyi. Mereka berdua sih berakting dengan baik dan mengagumkan kalau buat aku. Pemain lainnya juga overall bagus, okeee. Untuk Sooyoung aku pertama kali lihat dia berakting dan I think she’s good. The best from SNSD. Kalau aku nonton ini lebih dulu, aku akan lebih memasukkan dia daripada Yoona *maaf yaaa yoona fans* di Jepretpress Drama Awards 2016 di kategori Acting-dol. Dia punya potensi sih walau masih agak kurang diekspresi sedih dan penyampaian emosinya, tapi sejauh ini enggak mengecewakan. Aku termasuk yang fine-fine saja dengan akting seseorang, yang aktingnya jelek kata orang-orang, aku suka masih merasa dia cukup baik tapi enggak wah, ya dapat dikatakan lumayan lah. Kalau aku bilang dia buruk, berarti memang cringeworthy setidaknya menurut orang banyak *ehem… JSY kalau artisnya, kalau idol ehem temennya Sooyoung*.

Second lead syndrome : ini mengenai kriminal pajak bukan kriminal cinta. Asoooy.

Ending : Akhirnya jelas sih enggak gantung segini mah untuk drama-drama OCN atau drama genre kayak gini yang biasanya akhirnya suka gantung. Di episode akhir banyak twist dan banyak kekhawatiran, akankah mereka berhasil mengambil pajak 100juta dolar milik Choi Chulwoo. Senang sih Jang Hakjoo yang sempat berkhianat tetap balik lagi ke timnya. Twist yang disajkian di episode 16 juga menarik, walau terduga sih twistnya tidak akan berbuah pengkhianatan, tapi tetap tak menduga cara mereka mendapatkan 100juta dolar dan cara oang-orang kotor itu tertangkap. Sedih sih Jungdo pada akhirnya tertangkap, tapi ya memang gitu seharusnya karena dia telah melakukan penipuan.Ya aku puas sih dengan endingnya. Terjawab semua pertanyaan dan enggak gantung. Ya kalau ada season 2 boleh… kalau enggak pun enggak masalah sih.

Rate : 3,85 poin dari 5 poin.

Verdict : Penipuan itu tak selamanya buruk. Ini sih penipuan cerdas hahaha

 

MISSING NOIR M

Genre : crime, drama, mysteri

Episode : 10

Baca lebih lanjut

[REVIEW] THE K2

THE K2

Genre : Drama, Action, Romance, Melo, dan sentuhan Political

Episode : 16

Why I Watched : Ji Changwook seorang lah yang mampu membuatku ingin menonton drama ini. Ini bakalan drama dia terakhir sebelum dia wamil, jadi harus nonton doooong. Lagipula ini drama dari penulis Yongpal, dan aku cukup menyukai drama Yongpal. Jadi cukup ku antisipasi.

Kesan : Vibenya vibe Yongpal banget. Tegang, politiknya sama-sama dark, tapi kesannya hanya saat drama itu berjalan. Saat drama itu selesai. Ah ya sudah tamat begitu saja. Tak ada keinginan untuk kepo lebih lanjut.

The interest thing : buat yang suka politik dengan romanceless, drama satu ini memang cocok abis. Aku menyukai suasana tegang dan dark dari drama ini. Seperti Yongpal, drama ini juga disuguhi oleh sebagian besar orang-orang brengsek, yang enggak brengsek cuman Kim Jeha dan Go Anna, dan beberapa orang setia mereka. Sisanya? Enggak ada yang bener. Seolah baik padahal enggak. Konflik politik antar lead amat menarik dan menegangkan. Cukup diperlihatkan bagaimana busuknya dunia politik, kawan bisa jadi musuh, musuh jadi kwan. Jang Sejoon dan Choi Yoojin yang sukses membangun image sebagai orang baik dan keluarga harmnis, padahal nyatanya. Cuuuiih. Karakter Choi Yoojin adalah juara dari drama ini. Pesona dia jauh lebih wah dibanding Kim Jeha sendiri. Dia itu jahat tapi aku seperti mengerti kenapa dia seperti itu. Dia melakukan itu karena mencintai Jang Sejoon, tapi Sejoon hanya membodohinya saja. Lalu dia pun terdesak dengan keadaan keluarganya. Cara dia salah sih, karena Anna jadi korban, padahal kalau dia bisa melupakan itu semua, dan bersikap baik pada Anna saat Um Hyerin, Ibu Anna meninggal, mereka bisa jadi ibu dan anak yang akur. Selain itu kalau suka action, adegan actionnya oke punya ih menurutku dari koreografi maupun tekhnik gambarnya. Buat kita para cewek yang jelas bakalan dag dig dug ser, melihat Ji Changwook beraksi dengan otot-ototnya yang menggoda. Nyemil roti sobek kita wkwkwk

The Bad Thing : Hm… karakternya kurang kuat kalau menurutku. Hanya Yoojin saja yang terlihat bersinar di drama ini. Semua karakternya terasa stagnan, kurang perkembangan. Terkadang drama ini memang terlalu membuang waktu dengan adegan actionnya, jadi perkembangan karakternya enggak begitu terlihat, terutama Anna dan Jang Sejoon. Pasangan ayah dan anak ini tidak begiu banyak perkembanga. Anna lumayan sih dia mulai mengatasi Gangguan paniknya, walau kesini-sini aku melihatnya kok kayak yang malah enggak pernah punya gangguan panik. Agak kehilangan fokus nih SWnya. Lalu Sejoon sampai akhir pun dia tidak berani terang-terangan melawan Yoojin. Dia memang mau mengakhiri itu semua, dengan memegang kartu memori Han Sukhan, tapi dia tetap terobsesi dengan politiknya, dan tak ada niatan untuk meperbaiki nama Um Hyerin yang telah Ia rusak. Padahal kalau di Yogpal, setiap orang memiliki motivasi masing-masing untuk tujuan mereka mengabdi pada siapa, dan mereka bisa berbalik 180 derajat saat itu juga demi bertahan hidup, sedangkan disini keinginan itu kurang kuat.

Baca lebih lanjut

[FF] THE DRUNK STORY

Title               : THE DRUNK STORY

Rate               : 13+ aja kok, enggak usah lebih

Genre             : a ROMANCE and a little FRIENDSHIP dengan bumbu ANGST sediiiikit

main Cast     : SUNNY SNSD, YURI SNSD

OTHER CAST   : TAEYEON SNSD, BAEKHYUN EXO, MINHO SHINEE, ONEW (LEE JINKI) SHINEE

length           : One shot

Author          : si penulis amatir HANAN HANIFAH

INSPIRED        : salah satu kisah di FF ini terinspirasi dari curhatan salah satu sobatku, dan juga lagu Rio Febrian – Memang Harus Pisah

Disclaimer   : Aku sedang mencoba membuat dua cerita *masalah tepatnya* yang mirip dijadiin satu cerita, tapi kayaknya hasilnya bakalan berantakan -,-. Aku juga pengen mencoba membuat cerita yang agak dewasa. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

“Maafkan aku tapi aku harus melepasmu. Kita tak ditakdirkan bersama. Kita harus berpisah.” Ujar seorang pria pada kekasihnya. Mendengar hal itu kekasihnya hanya dapat menangis. Tangisannya makin keras saat pria pergi dari hadapannya.

“Kok lemah banget sih jadi laki-laki? Malah pergi begitu saja!” Seru Sunny yang baru saja masuk ke dalam kedai. Ternyata tadi merupakan adegan drama, dan Sunny mengomentari adegan tersebut.

“Hai, kau sudah datang?” Sapa Taeyeon, sang pemilik kedai.

“Bawakanku telur dadar, dan soju!” Pinta Sunny.

“Tunggu dulu, Gun! Kenapa kita harus berhenti! Kenapa enggak kita coba buat mempertahankan?” Ternyata adegan drama itu masih berlanjut, dan Sunny masih memperhatikan adegan drama itu.

Dalam drama tersebut pria itu hanya diam dan menggeleng. “Itu sulit, enggak akan bisa!”

Adegan drama itu benar-benar menyentuh perasaan Sunny yang sedang sensitif.

“Ya! Kenapa kamu menyerah? Masalahnya sebesar apa sih sampao.kamu nyerah?” Gerutu Sunny sebal.

“Mereka harus putus hanya karena sahabat si pria menyukai si wanita semenjak pria dan wanita itu belum bertemu.” Sahut wanita jangkung yang duduk sendiri disebrang meja Sunny.

“Apa? Hanya karena itu? payah banget sih! Enggak ada semangat juang!”

“Betul! Jadi lelaki itu jangan gampang menyerah! Baru juga masalah kayak gitu!” Wanita jangkung itu ikut menimpali.

“Belum berhadapan dengan keluarga kan? Belum enggak dapat restu kan?”

“Belum tiba-tiba disuruh putus kan, padahal pacaran sudah lama!”

“Wah-wah kalian tampaknya punya masalah yang sama.” Sahut Taeyeon sambil menyimpan pesanan Sunny.

“Dia siapa?” Tanya Sunny.

“Dia pelanggan tetapku. Seminggu sekali pasti kesini. Biasanya dia bersama kekasihnya.” Jawab Taeyeon. “Yuri, kenalkan dia sahabatku, Sunny.”

Yuri menganggukkan kepalanya. “Annyeong.”

“Lalu mana pacarmu? Tumben sendiri? Apa kalian ada masalah?”

Yuri hanya tersebyum tipis sambil menenggak sojunya.

Sunny menoyor kepala Taeyeon. “Hei, kau bodoh apa? Tadi kan kau sendiri yang bilang bahwa kami berdua tampaknya punya masalah yang sama setelah mendengar kami berbicara! Jadi, tentu saja jika dia disini tak bersama pacarnya karena sedang ada masalah.”

“Maaf.” Hidung Taeyeon kembang-kempis seperti sedang mencium sesuatu. Ia mendekatkan hidungnya pada mulut Sunny. Taeyeon pun sadar asal bau yang Ia cium. “Kau sudah minum sebelum kemari?”

Sunny mengangguk “Aku minum 2 kaleng bir. Aku kira itu akan cukup menenangkan hatiku, tapi ternyata tidak.”

“Kau sedang ada masalah dengan Minho?” Taeyeon kembali bertanya pada Yuri.

Begitulah.” Jawab Yuri sambil terus meminum Sojunya.

“Tampaknya kita mempunyai masalah yang serupa. Rasanya menyenangkan kan jika kau tak sendiri menghadapi masalah seperti ini? Yuri, kau duduk disini saja. Kita saling berbagi kesedihan!” ajak Sunny. Yuri awalnya tampak mempertimbangkannya, tapi tak lama kemudian Ia menyetujui Ide Sunny dan bergabung dengan Sunny dan Taeyeon.

“Wah tampaknya aku akan sangat sibuk melayani dua orang frustasi ini. Untung kedai sudah tak begitu ramai lagi.” Ujar Taeyeon.

“Ya tapi kau lebih baik izin dulu dengan suamimu, yang mengelola kedai hari ini kan cuman kalian berdua aku lihat.” Saran Yuri.

“Lah bukannya kau punya part time dua orang?” Seloroh Sunny

“Suga besok ujian jadi kusuruh libur, sedangkan Bomi dia sedang sakit.” Jawab Taeyeon.

“Baekhyun-ah! Kami pinjam dia dulu ya? kami butuh dia.” Rajuk Sunny pada suami Taeyeon. Baekhyun mengacungkan jempolnya sebagai tanda Ia setuju.

Yeobo, kalau kau sudah kewalahan melayani pelanggan, panggil aku!” Teriak Taeyeon manja.

“Siap, sayang!” Sahut Baekhyun yang sedang asyik merebus ramen.

Taeyeon mengetuk-ngetukan sumpit ke piring kosong milik Yuri sebagai tanda sesi curhatnya dimulai. Sumpit tersebut Ia letakkan di hadapan mulutnya, seolah-olah itu adalah sebuah mic “Iya, kembali lagi dengan Mama Taeyeon, curhat yuk! Silahkan keluarkan keluh kesah kalian. Apa yang menganggu hati dan pikiran kalian? Mama Taeyeon siap mendengarkan.”

Yuri yang baru tahu jika tingkah laku Taeyeon yang ajaib –setidaknya menurut dia – cukup terhibur akan hal itu. Yuri tertawa kecil, sedangkan Sunny hanya diam sambil mengunyah telur dadarnya.

“Hari ini kita kehadiran nona Yuri dan nona Sunny. Yuri ini merupakan pelanggan tetapku dan Sunny merupakan sahabat lamaku. Kita mulai dari siapa ya? Mereka berdua sama-sama tampak frustasi. Aku harus memulai dari siapa ya?”

“Taeyeon, kau seperti penyiar radio asli. Seharusnya kau daripada bisnis kedai seperti ini, harusnya kau jadi penyiar saja.” Usul Yuri saat melihat kemampuan Taeyeon membawakan acara.

“Kau tidak tahu? sebelum menikah aku ini seorang penyiar! Sejak menikah aku berhenti karena ingin menjadi istri yang baik. Baru-baru ini aku ditawari lagi untuk membawakan acara di radio, dan sedang kupertimbangkan.”

“Terima saja tawaran itu!”

“Baek juga sudah mengizinkan sih sebenarnya. Ya kalau jadwalnya cocok dan tidak menganggu bisnisku ini, sepertinya akan kuterima.”

“Hei, kalian ini bicara kemana saja. Sudah aku saja yang bercerita duluan.” Sunny merebut sumpit yang ada di tangan Taeyeon. Ia pun mulai bercerita.

“Tadi siang Jinki memutuskanku.” Sunny mulai bercerita dengan wajah murung. “Dia bilangnya memang dari dulu ingin mengakhiri hubungan kami, tapi aku yakin dia pasti ingin mengakhirinya karena obrolan dengan ibuku kemarin malam!”

“Loh kenapa dia ingin mengakhiri hubungan kalian dari lama?” tanya Yuri

 “Jadi kemarin malam, seperti biasa setiap sabtu malam Jinki selalu ke rumahku. Saat dia tiba aku sedang mandi. Dikesempatan itulah ibuku berbicara empat mata saja.”

“Lalu, apa yang mereka bicarakan?” Taeyeon mulai penasaran.

“Ya mereka bicarakan masalah hubungan kami dan keadaan Jinki….”

*****

Malam itu, seperti biasa Jinki mendatangi rumah kekasihnya, dan seperti biasa Ibu Sunny selalu menyambut Jinki dengan hangat. Ibu Sunny tersenyum menyapa Jinki. Awalnya mereka hanya mengobrol hal-hal ringan, tapi Jinki bisa merasa jika Ibu Sunny sedang menyembunyikan sesuatu. Terlihat sekali dari raut wajahnya yang tampak cemas dan ingin menyampaikan sesuatu. Jinki tampak tak nyaman akan hal itu. Jinki mempunyai feeling hal yang ingin dibicarakan Ibu Sunny masalah hubungan mereka. Sebenarnya kalau boleh memilih Jinki lebih ingin tak membicarakan hal itu, tapi a tahu hal ini pasti akan tiba juga saatnya. Akhirnya Jinki pun bertanya pada Ibu Sunny.

“Ibu, aku lihat daritadi kayaknya ibu tak tenang. Ada hal yang mengganjalkah bu?” Tanya Jinki.

Ibu Sunny tersenyum. “Kamu jadi lelaki bagus ya, peka. Tak seperti ayahnya yang enggak punya kepekaan. Pantas saja Sunny betah banget sama kamu.”

Jinki tersenyum mendengar pujian tersebut. “Apa ada yang ibu ingin bicaakan denganku?”

Wajah Ibu Sunny yang daritadi tampak sumringah kini mulai berubah serius. “Jinki sebelumnya, ibu ingin tahu. Kamu dan Sunny sudah berpacaran berapa lama?”

“Sudah hampir enam tahun bu.”

“Sudah lama juga ternyata. Sekarang umur kalian berapa tahun? Kalian seusia kan?”

Jinki mengangguk. “Dua puluh tujuh tahun.” Sampai pertanyaan ini Jinki sudah merasa tak enak. Dua pertanyaan tadi, Ia tahu akan mengarah kemana.

“Dengan waktu pacaran selama itu, dan usia kalian yang sudah matang pasti kalian sudah mulai berpikir untuk melangkah ke depan. Sudah mempunyai pikiran untuk berhubungan yang serius dan komitmen yang lebih lagi kan?”

Jinki diam saja. Ia tak menjawab pertanyaan Ibu Sunny. Sebenarnya Ia ingin menjawabnya, tapi Ia tahu Ia tak layak untuk menjawab pertanyaan tersebut.

“Diusia Sunny ini, Ibu berharap dia sudah punya pendamping hidup. Inginnya sih, tahun depan dia paling telat sudah menikah. Sebagai seorang ibu, pastinya Ibu berharap Ia mendapatkan yang terbaik. Seseorang yang bisa menjaganya, menyayanginya, mencukupi kehidupannya, yang benar-benar memperlakukannya dengan baik dan dapat membimbingnya.”

Jinki mulai menundukkan kepalanya. Ia tahu pasti Ibu Sunny akan membicarakan mengenai kondisinya kini.

“Ibu tahu sebenarnya Sunny sudah memilih orang yang tepat dari enam tahun lalu. Ibu percaya kamu memang mencintai Sunny dengan tulus dan apa-adanya. Selama ini kamu sudah mengarahkan Sunny ke arah yang jauh lebih baik. Hanya saja ada satu hal yang ibu khawatirkan. Untuk masalah materi, sesungguhnya kamu amat menjanjikan. Pekerjaanmu sebagai direktur dan tak lama lagi pasti kau akan menggantikan ayahmu menjadi CEO, tapi ada satu hal yang mengganjal. Kamu tahu maksud ibu?”

Jinki mengangguk lemah. “Pasti mengenai kursi roda ini kan bu?” Jinki menunjuk kursi roda yang Ia duduki. Baca lebih lanjut

[FF] Sorry

Title               : SORRY

Rate               : G

Genre             : FAMILY, SISTMANCE (?)

main Cast     : KRYSTAL JUNG F(X), JESSICA SNSD

OTHER CAST   : KANG MINHYUK CNBLUE

length           : One shot

Author          : alhamdulillah HANAN HANIFAH lagi

Disclaimer   : terinpirasi dari kejadian sehari hari lah pokoknya mah. Bakalan rada geje sih. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

 

Berulang kali Jessica melirik jam dinding di ruang tengahnya. Jamnya kini sudah berdentang sebanyak duabelas kali. Entah sudah berapa kali Ia menempelkan ponselnya ditelinganya, namun tak terdengar juga nada sambung. Ia cemas, sudah tengah malam adiknya,Krystal tak ada kabar berita. Membuatnya begitu cemas. Memang bisa saja Krystal sedang bermain bersama teman-temannya atau dengan pacarnya, tapi biasanya Ia selalu memberitahu Jessica jika pulang telat. Namun Krystal sama sekali tak memberitahunya. Ia jadi tak bisa tenang. Jika Ia pergi tidur begitu saja, Ia takut terjadi sesuatu dengan adik satu-satunya itu, sehingga Ia memaksakan diri untuk tetap terjaga walau rasanya tubuhnya daritadi sudah protes meminta untuk berbaring dikasur.

Terdengar suara orang sedang membuka kunci pintu. Jessica langsung berlari ke depan untuk memastikan yang membuka kunci adalah Krystal. Sesampainya di depan, tepat saat pintu baru saja terbuka. Sesuai harapannya orang yang membuka pintu adalah Krystal. Betapa leganya Jessica saat tahu kalau itu Krystal.

“Aku pulang!” Seru Krystal.

“Kirain enggak akan pulang.” Sambut Jessica seraya menyindir.

Disindir sepert itu Krystal hanya tersenyum. “Kok Eonni belum tidur? Masih ngerjain tugas kantor?”

“Tugas sudah beres dari jam 10.” Jawab Jessica dingin.

“Lah terus kenapa belum tidur?”

“Nunggu kamu! Darimana saja? Enggak ada kabarnya. Ponsel enggak bisa dihubungi.” Ketus Jessica. Nada bicaranya mulai tinggi.

“Biasa aku main sama Minhyuk Oppa. Kenapa nunggu aku? Aku bawa kunci kok.” Jawab Krystal.

“Kenapa enggak bilang kalau kamu pulang telat mau main dulu sama Minhyuk?”

“Ponselku habis baterai. Makanya Eonni tak bisa menghubungiku.”

“Kalau Ponsel kamu mati, kenapa enggak coba menghubungi lewat ponselnya Minhyuk.”

“Enggak apa-apa. Lagian Aku pikir Eonni pasti tahu kalau aku pulang telat gara-gara main.” Jawab Krystal dengan santai seolah tak terjadi apa-apa. Raut mukanya sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah.

“Bilang kalau kamu main! Jadinya kan aku enggak usah nunggu kamu. Aku kan bisa tidur daritadi. Capek tahu!” Jessica langsung mengeluarkan amarahnya.

“Ya kan aku juga enggak minta Eonni buat nunggu aku pulang.”

“Aku enggak akan menunggumu kalau kamu bilang kamu main!” Jessica mulai berteriak kesal.

“Ya gimana mau bilang? Ponselku lowbat!” Krystal pun pada akhirnya emosinya ikut tersulut.

“Ya kan kamu bisa kasih tahu aku lewat Minhyuk!” Bantah Jessica

“Tanpa aku kasih tahu juga, Eonni sudah mengertilah, kalau aku ini main!”

Suasana di ruang tengah menjadi memanas. Serasa ada api yang mengililingi ruangan itu. Urat dan syaraf kakak beradik itu sama-sama menjadi tegang dengan muka yang memerah. Jessica menatap adiknya dengan tajam. Krystal pun yang sudah kesal ikut memandangi kakaknya dengan tajam, namun Dia menatap seperti itu hanya sesaat. Krystal pun sadar. Ia memalingkan mukanya dari hadapan kakaknya. Agar suasana tak memanas, Krystal memutuskan untuk tak memperpanjangnya. Ia pamit menuju kamar.

“Ya sudahlah, enggak usah dibahas lagi. Aku mau ke kamar capek.” Pamit Krystal sambil berjalan melewati Jessica.

“Kamu tuh enggak ada rasa bersalahnya sama sekali ya? minimal minta maaf gara-gara enggak kasih tahu aku! Aku lebih capek! Kerja lebih capek! Kamu capek apa sih? Main?” Emosi Jessica benar-benar berada dipuncak. Ia langsung menumpahkan isi pikirannya.

Krystal langsung membalikkan badannya. Ia memprotes Jessica. “Apa sih Eonni? Enggak usah berlebihan deh! Enggak usah dibahas lagi kenapa sih?”

“Enggak bisa! Nanti bakalan jadi kebiasaan! Kalau mau pergi kasih tahu aku! Kamu enggak tahu apa aku begitu cemas? Aku ingin istirahat daritadi! Tapi gara-gara kamu belum pulang aku enggak bisa istirahat!”

“Aku bukan anak kecil lagi,Eon! Aku tahu salahku, nanti aku enggak akan gitu lagi kok!” Sahut Krystal sambil berjalan menaiki tangga.

Emosi Jessica semakin tersulut dengan jawaban Kystal. Ia berjalan mendekati Krystal. “Anak kecil saja bisa merasa bersalah? Kamu? mana ada rasa bersalahnya. Minta maaf bisa kan?”

Eonni, enggak usah dibesar-besarkan deh ini masalahnya! Masalah gini saja marah-marah. Pakai acara minta maaf pula!”

“Masalah gini saja? Ya Tuhan! Minta maaf saja susah ya kamu? Kamu gimana kalau kamu diculik, terus aku enggak peduli nyariin kamu? Kamu enggak akan ketemu! Enggak tahu diuntung ya kamu! Harusnya kamu beruntung punya kakak yang care sama kamu! Ya sudah, kalau kamu enggak mau dapat perhatian dari Aku lagi. Besok Aku enggak akan ngomong sama kamu! Aku enggak akan peduli lagi sama kamu!” Ujar Jessica penuh emosi. Dengan cepat Ia meninggalkan Krystal menaiki tangga, dan masuk kamar dengan pintu dibanting.

Melihat Kakaknya marah-marah, Krystal jadi ikut kesal. Ia pun berjalan masuk ke kamar dan ikut membanting pintu kamar. Dibalik pintu kamar, Krystal bersandar dan menengok ke tembok sebelah kirinya, dimana disebelah tembok itu adalah kamar kakaknya,

“Kenapa sih dia? Masalah macam gitu saja dilebih-lebihkan. Pakai acara ngamuk pula. Ah paling juga besok baik lagi.” Ujar Krystal berusaha cuek sambil berbaring di kasurnya.

*****

Paginya, seperti biasa Krystal memasak untuk sarapan Ia dan Jessica. Dari Ia bangun sampai sekarang Ia memasak, Krystal belum bicara juga dengan Jessica. Bukan karena Jessica tak mengajaknya bicara, tapi karena Ia belum melihat Jessica. Saat Ia bangun Jessica belum bangun. Krystal langsung bergegas ke lantai bawah untuk memasak. Saat Ia memasak Ia mendengar suara kaki menuruni tangga lalu terdengar suara air dari kamar mandi. Tampaknya Jessica sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor.

Setelah selesai memasak, Ia sajikan makanannya diatas meja makan, dan mengajak Jessica untuk memakan sarapan yang telah Ia buatkan.

Eonni, sarapannya sudah siap!” Krystal teriak mengarah pada lantai atas. Tak terdengar jawaban dari Jessica. Krystal berlalu kembali ke dapur untuk membereskan peralatan yang tadi Ia pakai untuk memasak. Krystal tak mempermasalahkan jika Jessica tak menjawab, karena biasanya juga Jessca tak menjawab ajakan sarapannya itu.

Krystal pun mencuci semua peralatan masaknya. Saat Ia sedang mencuci, Jessica turun ke bawah dan menuju dapur untuk minum. Krystal pun langsung menyapa Jessica dan mengajaknya sarapan.

Eonni, ayo sarapan!” Ajak Krystal dengan tangan penuh busa.

“Aku telat.” Jawab Jessica dingin sambl berjalan pergi.

“Nanti pulang jam berapa? Nanti malam aku masakin, kebetulan Aku hari ini enggak ngampus, jadi santai.”

Jessica tak menanggapi pertanyaan Krystal. Ia terus saja berjalan pergi.

Eonni?” Krystal melirik Jessica, tapi sayangnya Jessica sudah menghilang dari hadapannya. Terdengar suara pintu dibuka. Ternyata Jessica sudah pergi, tanpa pamit pada dirinya.

Krystal memasang mimik heran sekaligus tak percaya. Tak seperti biasanya kakaknya dingin padanya, bahkan pergi tanpa pamit. Sesuatu yang jarang sekali terjadi, bahkan bisa dibilang inilah pertama kalinya Jessica bersikap seperti ini.

“Kenapa Eonni kayak gitu? Apa Dia benar-benar marah?” Krystal bertanya pada dirinya sendiri. Krystal menyadari jika kakaknya itu tampaknya memang benar marah. Seketika Krystal langsung panik.

Aigo, gimana ini? ah paling nanti baik  dengan sendirinya? Tapi kalau enggak? aduh gimana ya?” Panik Krystal. Batin Kystal bergulat antara harus memikirkan hal itu atau tidak. Pada akhirnya Krystal melanjutkan pekerjaannya tanpa mau memikirkan masalah itu, tapi tetap saja hal itu terus terlintas dibenaknya. Ia menjadi tak tenang. Pekerjaan rumahnya terselesaikan namun tak terselesakan dengan baik.

Saat Ia mencuci piring, Ia membilas sisa sabunnya secara asal sehingga asih ada sisa sabun yang tertinggal. Saat menyapu pun tak semua debu ikut tersapukan. Lebih parah lagi saat Ia mengepel karena lap yang Ia gunakan untuk mengepel terlalu basah sehingga lantai rumahnya agak becek dan lama keringnya. Marahnya Jessica benar-benar mengganggu pikirannya.

Siangnya, Minhyuk mengunjungi rumah Krystal. Minhyuk datang dengan senyum menghias wajahnya dan tangan kanannya membawa sebuah plastik kecil berwarna putih susu. Krystal menyambut kehadiran kekasihnya hanya dengan senyum tipis dan wajah yang terlihat gelap karena otot-ototnya lesu. Melihat raut Krystal yang tampak suram, Minhyuk mengerutkan dahinya. Baca lebih lanjut