[FF] Smile Drunk

Title               : SMILE DRUNK

Rate               : PG 13+

Genre             : seperti biasa ROMANCE, FLUFF

main Cast     : GONGCHAN B1A4, EUNJI A-PINK

length           : One shoT

Author          : mumpung HANAN HANIFAH punya ide

Disclaimer   : Gongchan-Eunji tuh couple yang tak pernah ada moment, tapi aku entah mengapa ngeship mereka. Random aja gitu aku mlih mereka buat dishippin wkwkwk. Rencana awalnya ini harusnya terbit april, tapi karena april aku sibuk uts dan tugas, jadi baru selesai me sekarang. gagal deh target aprilku. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY.

Cahaya matahari pagi menelisik mataku dan hilir ringan angina segar yang menggelitik hidungku cukup membuatku tersadar dari alam mimpiku, namun tak cukup kuat untuk membuatku terbangun. Kelopak mataku rasanya seperti tergantung karung beras sehingga terasa berat untuk membukanya. Aku memegangi kepalaku yang terasa amat pusing. Kepeningan kepala ini membuatku ingin melanjutkan aktivitas tidurku ini. Kupeluk kembali guling yang berada disebelahku.

Tunggu… guling? Kenapa bisa ada guling? Aku tidur dimana? Seingatku semalam aku masih minum di kedai dekat kampus. Aku raba-raba tempat tidurku. Ini sebuah Kasur. Aku tidur di Kasur siapa? Hal ini langsung membuat mataku terbuka. Aku melihat sekelilingku. Kini aku berada disebuah kamar bergaya maskulin. Terdapat gantungan baju futsal dan beraneka topi berlatar belakang tembok berwarna hitam putih. Jelas ini bukan kamarku. Tidak ada poster doraemon dan juga lampu hias berbentuk bintang. Seketika aku langsung bangkit dari Kasur. Aku mengira-ngira, dimanakah aku berada? Di apartemen siapakah aku? Melihat style kamar seperti ini tampaknya aku sudah dapat mengira, tapi aku merasa tak mungkin aku bisa terdampar di apartemen orang ini.

Aku pun segera keluar kamar untuk memastikan aku berada dimana, begitu membuka pintu aku langsung disambut dengan sofa berwarna merah tua dan juga sebuah televisi, dan juga sebuh radio tua dipojok kanan. Aku mengenal sekali ruangan ini. Beberapa kali aku pernah menginjakkan kaki di kamar ini. Berarti sekarang aku berada di apartemen…..

“Eunji! Akhirnya bangun juga. Ayo sarapan, sudah kubuatkan sup penghilang mabuk untukmu.” Sapa sang empu apartemen dari dapur. Kenapa aku bisa di tempat ini? mengapa aku bisa tersasar di apartemen Gongchan??? Ini semua pasti karena aku terlalu banyak minum semalam!

Aku hanya bisa menatapnya dengan penuh tanda tanya. Ditatap seperti itu malah membuatnya menghampriku dan mendorongku ke meja makan. Ia membuka kan kursi untukku dan mendudukkanku,, dan aku hanya bisa melihatnya dengan tatapan bingung.

“Kok kamu seperti yang linglung?” Tanya Gongchan sambil mewadahi sup untukku.

“Kenapa aku bisa disini?” Tanyaku langsung tanpa basa-basi.

“Kau yang memintaku datang.”

“Aku?”

“Iya, kau meneleponku memintaku untuk datang.” Angguk Gongchan.

jinja? Lalu kenapa kau malah membawaku ke apartemenmu?”

“Aku sudah berniat untuk membawamu pulang ke apartemenmu, tapi aku tak tahu password apartemenmu, dan kau sudah terlalu mabuk untuk ditanyai. Jadi daripada kau kuterlantarkan mending ku bawa pulang.”

Aku langsung mengambil ponselku di saku celanaku. Kuperiksa catatan panggilan untuk memastikan dia tak berbohong, dan sial Ia berkata jujur. Disitu tercatat kalau aku meneleponnya sebanyak lima kali dengan panggilan terakhir jam 11 malam. Urat Maluku rasanya kini menebal dan memanas. Aku malu sekali, kenapa aku bisa melakukan hal sebodoh itu. kugigit bibirku untuk menutupi rasa malu dan gugupku.

“Maafkan aku karena membuatmu repot. Aku tak sadar saat meneleponmu. Maaf ya.”

“Sudahlah. Tak usah dipikirkan. Makan saja dulu.” Sahut Gongchan sambil mengunyah.

Sendok stainless berisikan kuah sup dan nasi masuk bergiliran perlahan ke mulutku. Rasanya ingin mengetokkan kepalaku ke meja karena kebodohanku ini. kenapa bisa-bisanya saat mabuk aku malah menelepon dia? Aku harap hal bodoh yang kulakukan saat mabuk hanya sebatas itu. eh iya kan? hanya sebatas itu? aku tak melakukan hal bodoh lainnya kan? ah sungguh aku tak mengingatnya.

“Gongchan, saat aku mabuk aku tak melakukan hal bodoh lain kan?” Delikku penasaran.

“Hal bodoh? Seperti apa?” Dahi Gongchan berkerut.

“Ya hal bodoh, seperti aku meneleponmu saat mabuk.”

Mata Gongchan melirik ke atas tampak mengingat-ingat. “Hm… kurasa tidak. Saat kau mabuk kau hanya banyak bicara saja menceritakan masalahmu.”

“Masalah? Masalahku yang mana?” Panikku seketika.

“Kau yang punya masalah tentunya kau yang harusnya lebih ingat. Sudah akan saja dulu. berpikirnya nanti lagi.”

Dia bilang kalau aku membicarakan masalahku. Masalahku yang mana? Serius ini aku merasa panik. Wajar saja aku panik, karena aku terdampar di kedai minum karena dia. Jangan bilang jika aku malah menceritakan hal itu langsung pada orangnya. Mati aku! Aku otomatis langsung menepuk dahiku.

“Kenapa? Kau mengingatnya?” tanya Gongchan. Aku menggeleng.

Ia terkekeh melihatku seperti itu. “Hehehe, sudah makan saja dulu. jangan berusaha mengingat.”

Gongchan menyuruhku untuk tak berusaha untuk mengingat, tapi hal itu malah membuatku semakin ingin berusaha mengingat. Hal bodoh apa yang kuceritakan pada dia. Aku ingat sebelum aku mabuk, aku mendatangi kedai itu karena kekacauan hati yang kurasakan. Semua kekacauan itu disebabkan orang yang sudah membuat sup penghilang mabuk ini.

Hal ini bermula dari masalah hubungan kami. Hubunganku dengan Gongchan dapat dikatakan dekat, tapi untuk mengarah ke hal romantis, aku tak yakin. Hanya saja memang betul perasaaanku padanya lebih dari sekedar teman, tapi aku tak tahu dengannya. Dia sulit dbaca karena faktanya dia baik terhadap semua perempuan yang Ia kenal. Ia selalu tersenyum manis pada semua perempuan. Hal tersebut sulit bagiku untuk menebak siapa perempuan beruntung yang mendiami hatinya. Agar aku dapat mengetahui siapa perempuan beruntung itu, aku selalu memperhatikan perempuan yang dekat dengan dia selain aku. Pengamatanku itu menghasilkan beberapa nama, tapi pada akhirnya minggu lalu mengarah pada satu nama, Jiyeon, teman sekelas Aku dan Gongchan.

Minggu lalu aku sedang makan bersama dia dan satu teman kami, Jieun. Mereka berdua lalu pergi ke toilet, dan Jiyeon menitipkan ponselnya padaku. Diponselnya muncul sebuah pesan dari kakaotalk dan itu pesan dari Gongchan. Hal itu membuatku penasaran dengan isinya, saat Jiyeon telah kembali aku berusaha untuk mengintip isi pesan tersebut saat Jiyeon sedang membalasnya. Aku pun beberapa kali melihatnya saling berbalas pesan. Dari pesan itu dapat kusimpulkan jika mereka sangat akrab. Hal yang mereka bicarakan tak sekedar tugas, tapi hal tak penting lainnya. Disitulah aku menyadari tampaknya ada sesuatu diantara mereka, dan tentu saja itu membuatku merasa jatuh.

Kekecewaanku ternyata terus berlanjut dengan puncaknya sore kemaren. Aku sedang berjalan di parkiran menuju gerbang kampus untuk pulang. Aku tak sengaja melihat ke arah parkiran mobil, dan aku melihat pemandangan tak mengenakan –setidaknya untukku–. Aku melihat Gongchan dan Jiyeon berdiri disamping mobil Gongchan. Tampak terlihat dari raut wajah mereka yang mendalam, mereka sedang berbicara hal serius, dan hal yang membuatku hancur adalah Gongchan memeluk Jiyeon. Disitulah aku benar-benar tersadar jika aku dan Gngchan hanya sebatas teman. Hanya aku yang berharap lebih, dia tidak.

Kejadian itu membuat pikiranku tak berada diragaku. Aku melangkah kaki ke sembarang tempat untuk menghilangkan kegundahan itu. Pelukan itu terus terputar diotakku. Aku merasa hatiku benar-benar hancur. Langkah kaki sembarang itu malah membuatku ke kedai minum dekat kampus. Sejujurnya kedai minum itu mempunyai kenangan tersendiri. Kami berdua pernah minum bersama dan mengobrol tak berarah hingga dini hari menjelang. Mengingat itu membuatku makin banyak menghabiskan botol soju. Aku mengingat hanya sampai situ saja. Setelah aku dalam pengaruh alkohol masih samar dalam ingatanku.

Setelah selesai makan, Gongchan menyodorkan bajunya untuk kupakai setelah mandi. Sebenarnya aku ingin bolos saja, tapi tak mungkin karena sjadwalku hari ini praktikum. Untuk pulang dulu pun takkan keburu karena sejam lagi akan dimulai. Perjalananku dari sini ke apartemen memakan waktu setengah jam, dari apartemen ke kampusku pun butuh setengah jam. Belum macet dan menunggu bis. bisa-bisa aku telat dan tak boleh masuk. Pilihan Gongchan meminjamkan baju adalah hal yang tepat.

Kubiarkan kucuran air mengalir deras di kepalaku. Aku berharap dengan begitu ingatanku akan kembali lancar. Dinginnya air tampaknya memang berhasil membuat kesadaranku benar-benar pulih dan perlahan ingatanku mulai kembali. Ya sekarang aku ingat kalau aku meneleponnya. Aku baru ingat kalau ini kebiasaanku, jika aku punya maslaah dnegan orang itu dan aku sampai mabuk biasanya aku akan meneleponnya, tapi biasanya aku tak menyuruh orang itu untuk menemuiku. Aku hanya mengumpatnya. Kenapa Dia bisa datang menghampiriku? Ku mencoba membuat reka adegan dalam otakku saat tadi malam.

*****

Baca lebih lanjut

Iklan

[FF] Between Now and Past

Title               : BETWEEN NOW AND PAST

Rate               : pg

Genre             : ROMANCE, FRIENDSHIP, a little DRAMA  

main Cast     : EUNJI A-PINK, SUHO EXO, GONGCHAN B1A4

OTHER CAST   : KYUNGSOO (D.O EXO), MINAH GIRLS DAY, BOMI A-PINK, SUNGJONG INFINITE

length           : One shot

Author          : buatannya HANAN HANIFAH

SUMMARY      : Hidup harus memilih, kita tak boleh egois.

Disclaimer   : sebelum masuk kuliah, Aku target aku harus posting ff, tapi berhubung lagi ga mood nulis, jadi mungkin agak aneh.  SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

“Nonton yuk!” Ajak Suho sambil merangkul Eunji. Mereka berdua berjalan bersama.

“Jangan sekarang, Aku enggak bisa.” Tolak Eunji dengan nada sedih.

Suho mengernyitkan dahinya, “Lah kenapa?”

“Biasa, Aku mau ngumpul sama anak-anak.”

“Lagi? Bukannya minggu kemarin sudah?”

“Mumpung liburan, jadi Kita mau main. Kan jarang-jarangnya Kita bisa main bareng. kita semua kan punya kesibukan yang berbeda. Kuliah lah, organisasi lah, dan lainnya.”

“Kita kan juga jarang kan. Ketemu paling seminggu sekali gara-gara Aku kerja.” Protes Suho.

“Ya tapi kan seminggu sekali pasti ketemu. Kalau sama mereka kan sebulan sekali saja belum tentu.” Debat Eunji.

“Buat Gongchan saja selalu ada, Buat Aku susah.” Sindir Suho dengan matanya melirik ke kiri atas.

“Kenapa sih harus Gongchan? Lagian Gongchannya juga enggak ikut! Kenapa enggak yang lain? Kayak Kyungsoo, Taemin, atau Sungjong!” Eunji kesal karena Suho membawa-bawa Gongchan.

“Ya wajar dong kalau ngebahas Gongchan. Diantara mereka berempat mantan Kamu kan Gongchan!”

“Ya Tuhan! Itu kan masa lalu. Sudah 3 tahun yang lalu!” Seru Eunji kesal karena Suho masih saja cemburu dengan Gongchan.

“Mantan tuh cuman status saja. Kelihatannya kok kalian masih berhubungan dekat?” Ujar Suho dengan wajah malas.

“Ya masalahnya Kita teman satu permainan. Kan enggak mungkin kalau Aku ngejauhin Dia!.”

“Tapi bisa kan enggak usah dekat banget?”

Eunji menghela nafas kesal. Ia menepis lengan Suho dari bahunya. “Sudahlah,Oppa. Aku malas ribut. Lagian aku sudah ditungguin sama mereka.”

“Oke, Ya sudah Aku antar. Kumpul dimana?” Suho mengalah untuk tidak memperpanjang keributan.

“Di rumah Minah. Tahu kan?”

“Oh yang rumahnya dekat dengan Minho?”

“Iya. Yuk ah cepat!” Eunji menarik lengan Suho agar berjalan lebih cepat.

*****

Uno!” Eunji mengeluarkan kartu Uno yang bisa membuat si pemilik kartu merubah warna. Eunji mengeluarkan kartu sambil tersenyum penuh arti. “Aku mau warna biru!”

Lawan main Eunji tinggal Gongchan seorang. Dua orang lainnya, yaitu Minah dan Kyungsoo berhasil menghabiskan kartu terlebih dahulu. Gongchan tampak percaya diri. Kartu ditangannya tinggal berjumlah dua. Kyungsoo yang disamping Gongchan ikut tersenyum melihat kartu yang dimiliki Gongchan.

“Jangan Kamu pikir Kamu bisa menang,” Gongchan mengeluarkan kartu bergambar 4+ sambil tersenyum meremehkan, “Uno.”

Muka Eunji langsung seketika pucat. Melihat muka Eunji pucat, Gongchan tersenyum penuh kemenangan. Hanya saja sedetik kemudian, raut wajah Eunji langsung berubah menjadi ceria.

“Kamu kira Aku enggak bisa balas?” Eunji mengeluarkan kartu yang sama dengan Gongchan sambil berkata, “Uno games.”

Damn!” Gongchan melemparkan kartu yang tersisa ditangannya dengan kesal. Ketiga temannya melihat itu tertawa puas.

“Hahaha. Sudah senang-senang, tahunya Eunji punya kartu yang sama juga. Hahahaha.” Minah tertawa puas.

“Anda kurang beruntung,bro!” Kyungsoo menepuk bahu Gongchan. Eunji tertawa sampai keluar mata saking puasnya. Melihat teman-temannya mentertawakannya dengan puas, Gongchan mendelik dengan kesal.

Suara tawa mereka tiba-tiba terhenti dengan suara telepon.

Handphone siapa itu yang bunyi?” Tanya Minah.

It’s mine.” Jawab Eunji sambil mengeluarkan handphonenya dari saku celana jeansnya. “Yeobeoseyo. Ada apa Oppa? Eu… sekarang…sekarang Aku lagi dijalan pulang ke rumah kok. Tenang saja Aku diantar oleh Kyungsoo kok, Dia mau mengantarku pulang tenang saja. Sudah ya. Dadah.”

Kyungsoo melongo mendengar jawaban Eunji ditelepon, “Kau berbohong pada Suho?”

Baca lebih lanjut

[FF] 5 Menit

TITLE : 5 MENIT RATE : G GENRE : CAMPUSLIFE, GENERAL MAIN CAST : DO KYUNGSOO (D.O EXO) & GONGCHAN B1A4 LENGTH : ONE SHOT AUTHOR : curahaannya HANAN HANIFAH DISCLAIMER : ya sedikit curhatannya aku. Mungkin beberapa mahasiswa pernah mengalami ini. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING.GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Please ENJOY =D. Sudah sejam lebih, Kyungsoo hanya berdiam diri di depan laptop. microsoft word yang dari tadi Ia buka masih kosong melompong. Daritadi Ia bolak-balik membaca jurnal praktikumnya dan mencari referensi di Internet, tapi tetap saja Microsoft word itu tak tertuliskan satu huruf pun. Hari makin malam. Waktu menunjukkan pukul 22.59. Itu artinya Kyungsoo hanya mempunyai waktu 11 jam 1 menit untuk mengerjakan deadline laporan praktikumnya. Tepat jam 10 pagi esok hari, ia harus mengumpulkan laporan praktikumnya, tetapi jam 7 paginya Ia ada kelas. Itu artinya Kyungsoo hanya mempunyai waktu 8 jam 1 menit untuk mengerjakan laporannya itu. Berdasarkan data yang ada dan pembahasan yang harus ia bahas, dibutuhkan waktu paling cepat sekitar 5 jam untuk menyelesaikan itu semua. Seharusnya Kyungsoo cepat-cepat mengerjakan laporan praktikumnya itu, namun yang Ia lakukan sedari tadi hanya berdiam diri. Akhir-akhir ini Kyungsoo sedang banyak tugas, sehingga Ia sedang mengalami fase kejenuhan terhadap kuliah. Akibat kejenuhannya itu membuat daya pikirnya melemah. Ia terlalu malas untuk berpikir. Muak rasanya akan tugas dan laporan yang datang terus menerus. Rasa muak, jenuh, dan malasnya itu menggumpal sehingga berakibat akan tugas laporan praktikumnya. Memang kali ini materi praktikumnya agak rumit. Kyungsoo bingung sendiri. Ia tak tahu apa yang harus Ia tulis dalam laporannya. Ia tak tahu apa yang harus Ia bahas, bahkan Ia bingung data apa yang harus Ia olah. “Ya Tuhan! Lapak1 sekarang kok rumit ya? serius, aku enggak ngerti sama lapak yang sekarang. Sebenarnya data apa yang harus aku cari? Apa yang harus aku bahas? Kok gelap banget ya sama materi yang sekarang? bahkan buat bikin pendahuluan sama tinjauan pustaka aja bingung sendiri. Aigo!” Kyungsoo frustasi sendiri. Kyungsoo yang sadar akan waktu yang telah Ia buang serta sisa waktu yang ada, akhirnya Ia pun mencari pencerahan dengan membuka LINE miliknya. Kyungsoo mencoba bertanya pada temannya mengenai laporan praktikumnya ini. Kyungsoo : Bray, lapak biokimia udah belum? Gongchan : belum,bray. Baru abstrak, pendahuluan, tipus2 , sama metodologi doang. Lu udah? Kyungsoo : boro-boro. Sudah sejam Gue berkutat di depan word, word Gue tetep kosong Gongchan : ah seriusan? Pendahuluan, tipus Lu belum? Kyungsoo : belum, Gue bingung. Lapak sekarang itu terasa gelap banget buat Gue. Sebenarnya apa sih yang harus Gue cari? Gongchan : Gue juga bingung sih. Kalau enggak salah Lu harus cari kurva standar glukosa, terus bikin grafik konsentrasinya terhadap nilai absorbansi Kyungsoo : Hah? Nilai konsentrasinya kan enggak diketahui? Gongchan : Ya Lu harus cari Kyungsoo : Gimana caranya? Gongchan :.Pas kemarin responsi Gue enggak terlalu merhatiin, kalau enggak salah nilai konsentrasinya dicari pakai rumus yang didapat dari perhitungan kurva standar. Cari kurva standarnya pakai rumus mekucil3, terus Lu cari nilai X nya, nilai Y nya itu absorbansi Kyungsoo : ah membingungkan. Terus pendahuluan ama tipus Lu nulis apa saja? Abstrak gimana? Gongchan : Ya tentang karbohidrat,polisakarida, tipusnya tentang pati, hidrolisis, ama enzim amilase. Kalau abstrak sih ya Gambaran praktikum kemarin, ya semacam rangkumanlah Kyungsoo : otak Gue mandet nih Gongchan : kalau otak Lu mandet, ya udah bikin aja dulu metodologinya. Orang tinggal copas ini, yang berupa point ubah jadi paragraf terus prosedurnya tinggal Lu bikin bagan alir. Kyungsoo : tapi Gue malas nih Gongchan : ya sudah sih. Lagian slow saja lah. Masih ada beberapa jam lagi. Percaya deh, tugas pasti berlalu. Lapak pasti beres pada waktunya Kyungsoo : beuh… masalahnya pengolahan datanya kan banyak,bray. Kan Woohyun-sunbaenim minta data sekelas Gongchan : Iya Gue tahu, tapi daripada pusing sendiri karena enggak ngerti mending nanti saja nunggu yang sudah. Kyungsoo : eh benar juga. Ya sudah Gue juga nunggu yang lain ah Gongchan : sudah slow aja lah. Gue juga mau main game dulu bentar, habis itu ngerjain lagi. Lumayan buat ngerefresh otak Kyungsoo : iya ya, kayaknya otak Gue mandet gara-gara enggak di refresh dulu ini otak Gongchan : ya makanya jangan terlalu dibawa stres. Main dulu lah barang 5 menit. Walau cuman sebentar tapi bisa membuat otak lancar Kyungsoo : baiklah. Gue mau ngerjain dulu ya. kalau Lu udah kirim via e-mail, Gue mau lihat Gongchan : oke,bray. Lu juga ya Kyungsoo : sip Setelah mendapat pencerahan dari Gongchan, Kyungsoo pun mencoba untuk mengerjakan laporan praktikumnya. Kyungsoo pun mulai mengetik judul praktikum, serta nama dan npm4 nya. Kemudia Ia mengikuti saran Gongchan untuk membuat metodologi terlebih dahulu. Ternyata tak butuh waktu lama untuk membuat metodologi, setengah jam rampung. Dalam metodologi yang sedikit ribet adalah membuat prosedur, karena Ia harus membuat kotak-kotak agar menjadi bagan alir. Setelah selesai membuat meotodologi, Kyungsoo mencoba membuat abstrak karena itu merupakan bagian termudah setelah metodologi. Ia pun mulai mencoba mentransfer kata-kata yanga da diotaknya ke dalam Microsoft word. Abstrak pun selesai dalam waktu singkat. Kemudian Ia melanjutkannya dengan pendahuluan. Pada mulanya lancar, tapi beberapa menit kemudian otaknya menjadi tersendat. Ia menjadi bingung. Ia tak tahu apa lagi yang harus Ia tulis. “Damn! Ini pendahuluan apa lagi ya? kok jadi bingung lagi ya? otak kembali mandet nih. Ah refresh dulu otak deh, 5 menit saja, seperti yang dikatakan Gongchan biar otaknya lancar lagi” Kyungsoo memutuskan untuk bermain game selama 5 menit agar otaknya segar kembali. Sebelum bermain game Ia memasang alarm sebagai pengingat. Kyungsoo pun bermain. Saat bermain wajahnya tampak sumringah. Nampaknya Kyungsoo berhasil menyegarkan kembali otaknya. Tak terasa 5 menit telah berlalu. Alarmnya pun berbunyi “eh engga kerasa lah udah 5 menit lagi. Padahal belum beres ini misinya, 5 menit lagi saja gitu?” Saat melakukan hal yang menyenangkan, 5 menit tak terasa apa-apa. Alhasil saat alarmnya berbunyi, Kyungsoo bukannya memilih “turn off alarm”, Ia malah memilih untuk tombol “Sneeze”. Kyungsoo pun kembali bermain game. Mencoba menyelesaikan misi pada gamenya tersebut. Lagi. 5 menit tak terasa apa-apa. “nanggung ah. 5 menit lagi deh” ucap Kyungsoo sambil menekan tombol sneeze. Hal itu terus terulang hingga 5kali. Kyungsoo menghentikan hal itu saat melihat jam. Ia tersadar. “Astaga! Sudah jam segini? Ya ampun! Ayo Do Kyungsoo,fokus! Semangat!” seru Kyungsoo. Kyungsoo pun kembali fokus pada laporan praktikumnya. Disaat fokus seperti itu, ada lagi godaan yang menganggu Kyungsoo. Sekarang sudah tengah malam. Dinginnya angin malam mulai menusuk tubuh. Dingin itu merangsang Kyungsoo untuk menguap. Alhasil Kyungsoo mulai mengantuk. “hoaam” Kyungsoo menguap “aduh ngantuk nih. Pengen tidur nih. Enggak! enggak boleh! Lapak menanti! Pendahuluan belum beres, belum ngerjain tipus, pengolahan data, pembahasan, lampiran, kesimpulan. Ayo semangat!” Sayangnya, tak berapa lama setelah mengatakan itu, Kyungsoo tersendat kembali, saat memasuki tinjauan pustaka. Kepala Kyungso sudah beberapa kali terantuk-antuk. Ia benar-benar mengantuk, dan hal itu tentu saja membuatnya tak bisa berpikir. “aduh, enggak bisa mikir. Ngantuk banget. Apa ditidurin dulu saja gitu ya? biar bisa mikir. Iya ah tidurin saja dulu 5 menit. Lumayan bisa bikin badan segar, terus mikir jadi lancar deh” Kyungsoo pun merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu yang Ia duduki sedari tadi. Kyungsoo tak mempunyai meja belajar, sehingga Ia mengerjakan tugasnya di meja yang ada di ruang tamu. Kyungsoo tak lupa untuk menyalakan alarm. Setelah menyetel alarm, Kyungsoo pun tidur. Baru saja terlelap, alarmnya sudah berbunyi. “ih baru banget tidur. 5 menit lagi ah” Kyungsoo kembali menekan tombol sneeze. Kyungso pun kembali tidur 5 menit berlalu begitu cepat. Sangat tak terasa bagi Kyungsoo. kantuk dan lelahnya belum hilang, Ia harus sudah terbangun lagi. Badannya menolak untuk bangun, sehingga Kyungsoo memutuskan untuk kembali tidur selama 5 menit lagi. “iya-iya. 5 menit lagi ah. Masih capek nih!” gerutu Kyungsoo sambil melanjutkan tidurnya yang terasa sangat enak baginya, karena Ia sudah lelah. Terdengar alunan lagu Exo – Let Out The Beast. Itu adalah bunyi alarm Kyungsoo. itu berarti Kyungsoo sudah harus bangun dari tidur 5 menitnya itu. Kyungsoo pun terbangun. “Ah enak banget. Walau cuman tidur 5 menit, eh enggak deng, tadi aku sneeze 3 kali, jadi 15 menit. Oke sekarang aku siap mengerjakan lapak” ucap Kyungsoo penuh semangat sambil meregangkan tubuhnya. Kyungsoo mematikan alarm pada handphonenya. Saat mematikan alarm, Ia melihat jam di layar handphonenya. Betapa terkejutnya Kyungsoo saat melihat jam. Ternyata Ia tidur bukan selama 15 menit, melainkan selama 4 jam 40 menit! Kini jam menunjukkan angka tepat angka 5.00 pagi. Jadi alarm yang berbunyi adalah alarm yang memang setiap hari Kyungsoo pasang. Ternyata tadi malam Kyungsoo lupa menekan tombol sneeze. Kyungsoo langsung panik. Ia langsung melihat laptopnya. Sial, masih sama dengan yang apa Ia lihat tadi malam. Baru sampai pendahuluan. Masih banyak yang belum Ia kerjakan. Dengan kecepatan tinggi, Ia pun langsung mengerjakan laporan praktikumnya. Dalam keadaan terdesak dan mendekati deadline, Kyungsoo tak mengalami kendala. Mungkin ini lah yang disebut dengan “the power of kepepet”. Saat mendekati deadline, Kyungsoo pun baru mengerti dengan pengolahan data yang kemarin Gongchan jelaskan. Tak terasa hampir 2 jam Ia mengerjakan laporan praktikum. Walau sudah dengan kecepatan tinggi Ia mengerjakannya, tapi tetap saja belum selesai. Padahal berapa menit lagi Ia ada kelas. Dengan terpaksa Kyungsoo harus melewatkan kelas itu. Kyungsoo pun menelepon Gongchan untuk menitipkan absen, sekaligus mengomel karena gara-gara mengikuti saran Gongchan untuk rehat selama 5 menit, laporannya tak beres. “Halo. Kampret Lu,Chan!” umpat Kyungsoo “Apaan sih Lu? Nelepon itu bukannya ngucapin salam, malah marah-marah” heran Gongchan “Heh, gara-gara saran Lu yang rehat 5 menit itu, lapak Gue sampai sekarang belum beres. Tanggung jawab Lu ah. Lu harus TA5 in Gue” “ya maaf-maaf kalau saran Gue sesat, Gue juga kejebak ama saran Gue sendiri ehehehe Gue juga kebablasan main game, habis itu ketiduran. Alhasil Gue juga belum beres nih. Gue juga mau skip Navigasi ehehe” jawab Gongchan dengan cengengesan “Santai amat Lu ngejawabnya. Enggak ada rasa bersalah. Payah Lu” kesal Gongchan “ya maaf, kalau Gue nyesatin Lu” sesal Gongchan “ah ya sudah. Gue mau telepon Minah dulu, mau minta TA ke dia” “Navigasi mana bisa TA, kan ada kuis” Gongchan mengingatkan “oh iya!” Kyungsoo menepuk jidatnya “ah mati Gue! Dapet nilai dari mana nih Gue? Mana ini mata kuliah enggak ada UAS,UTS. Nilai cuman dari kuis sama presentasi. Kalau kelewatan satu kuis, nilai Gue bisa jatuh dong?” “ya sama nilai Gue juga jatuh. Ya mau gimana lagi? Daripada lapak enggak beres. Lebih berabe lagi” “ah ya sudah. Gue mau nerusin lapak” Kesal Kyungsoo sambil menutup teleponnya. Kyungsoo mengerjakan laporan praktikumnya sambil mengomel. Ia terus menggerutu. Menyesali perbuatannya yang menunda-nunda sesuatu. “Rugi banget aku hari ini. ini semua gara-gara konsep 5 menit Gongchan. Seharusnya aku fokus ngerjain. Jangan berpaling walau cuman 5 menit saja. Niatnya sih cuman 5 menit, eh tahunya malah kebablasan. Enggak lagi-lagi deh. Rugi banget. Sudah enggak dapat nilai gara-gara kuis, lapak jam segini belum beres jadi saja ngerjainnya asal-asalan. Ah pasti ini dapat nilainya kacau. Ah kampret!!!” Kyungsoo pun bertekad kedepannya Ia takkan menunda-nunda lagi. Ia akan fokus, takkan berpaling walau 5 menit saja, karena pada akhirnya akan menjadi keterusan, dan pada akhirnya akan rugi sendiri. —The End— Friday, November 29, 2013 10:14 PM Geje ya? hehehe maaf ya. ditengah menumpuknya lapak, masih sempat bikin FF. FF ini terinspirasi dari keadaanku saat ini yang lagi jenuh ama kuliah gara-gara ngelapak mulu, bikin makalah mulu, otak akunya jadi malas untuk berpikir hahahaha. Pasti ada beberapa mahasiswa yang mengalami hal ini. nunda-nunda ngerjain tugas. Niatnya sih cuman bentar eh taunya bablas. Alhasil karena mendekati deadline, harus nyekip kelas. Kerasnya mahasiswa hahaha. Padahal ini baru bikin lapak aja, gimana kalo nanti skripsi? Oh noooo! Ah yang semangat aja ya nan! MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). sampai bertemu di FF selanjutnya. Annyeong~ Eh iya glossarium : 1. Laporan Akhir 2. Tinjauan Pustaka 3. Metode kuadrat terkecil 4. Nomor Pokok Mahasiswa