[FF] It Has Been Finished

Title               : IT HAS BEEN FINISHED

Rate               : 13+ lah seperti biasa, enggak berani tinggi-tinggi aku…

Genre             : ideku keseringan mengenai ROMANCE, dan ada sedikit ANGST

main Cast     : PARK JIYEON T-ARA, KIM MYUNGSOO (L INFINITE)

OTHER CAST   : LUNA F(X)

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH kembali ^^

INSPIRED        : mimpiku di bulan agustus lalu yang sukses bikin aku uring-uringan berhari-hari -,- untung sekarang udah biasa lagi.

Disclaimer   : mau curcol dulu. haaah parah gila semester 5 hecticnya. Bagi yang sudah merasakan semester 5 pasti tau rasanya T_T. Sedih, November kemaren enggak kekejar deh satu bulan menghasilkan satu karya. November kemaren aku sibuk banget sama tugas dan lapak yang bejibun :((. Jadi aja FF ini baru jadi sekarang. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

Suara dering bel terdengar setiap kali pintu coffee shop terbuka. Sesosok gadis berambut coklat tampak berjalan memasuki coffee shop tersebut. Luna –gadis berambut coklat– datang ke tempat itu untuk memenuhi janji untuk bertemu sahabatnya Jiyeon. Pagi buta Jiyeon tiba-tiba meneleponnya. Suarnaya terdengar kacau, dan tampak sepert kehabisan nafas. Jiyeon merengek dan memaksanya untuk menemuinya siang ini.

Ditengah sepinya coffee shop, Jiyeon mengaduk-aduk minuman dalam cangkirnya menggunakan sendok. Wajahnya ditekuk dengan mata yang tampak menerawang. Badannya memang disini, tapi entah jiwanya pergi melayang kemana. Luna dapat merasakan hal tersebut. Terbukti saat Ia hadir dan duduk dihadapan Jiyeon, Jiyeon sama sekali tak sadar. ia terus mengaduk minumannya.

“Ya!” Luna menjentikan jarinya tepat di depan mata Jiyeon. Barulah Jiyeon tersadar.

“Luna….” Jiyeon tampak seperti merengek matanya berkaca-kaca. Jelas Luna kebingungan apa yang terjadi dengan sahabatnya ini.

“Kenapa sih?” Jiyeon seketika menelungkupkan wajahnya ke meja. Jiyeon beberapa kali menghela nafas. Auranya benar-benar suram.

“Aku bisa gila lun….” Jiyeon mulai mengungkapkan isi hatinya dengan muka tetap menempel pada meja.

“Duh.. kalau cerita itu mulut kamu jangan nempel sama meja. Enggak jelas tahu! mukanya diangkat dulu dong.” Protes Luna karena suara Jiyeon tak terdengar jelas.

Jiyeon pun mengangkat wajahnya, dan matanya kini makin memerah. Tampak jelas air mata bisa tumpah kapan saja. Sorot frustasi tampak jelas dari raut wajahnya. “Aku mimpi Lun… Ya bisa dikatakan mimpi buruk.”

“Mimpi apa sih?”

“Aku mimpi…” Jiyeon terhenti. Entah mengapa rasanya sulit sekali kata-kata itu meluncur dari lidahnya. Otaknya mengirimkan impuls agar lidah berucap, namun impuls itu terhenti karena perasaan hati. Jiyeon pun berusaha meyakinkan dirinya. “Aku mimpi Myungsoo nikah…. Tapi nikah sama Suzy”

Dahi Luna mengerut. “Ya bagus lah. Kenapa mimpi buruk? Apa jangan-jangan kamu………”

Jiyeon mengangguk lemah. “Ya kan kamu tahu sendiri…. Kalau aku… aku… aku masih berharap.”

Luna bergeleng-geleng heran. “Heol… Ji, it was 3 years!”

“Aku tahu ini semua sudah berakhir dari 3 tahun lalu tapi… tapi…” Jiyeon mengacak-acak rambutnya kesal. “Entah kenapa rasa kepadanya tak pernah pudar! Aku selalu stuck. Selama 3 tahun ini aku sudah pacaran dua kali sama orang lain, dan setiap hubunganku berakhir aku selalu saja kembali padanya. Selalu berharap walau tahu itu tak mungkin.”

Jiyeon menundukan kepalanya. Air matanya mulai mengalir. Dengan cepat Ia menghapusnya.

Luna sedih melihat temannya yang masih terjebak masa lalu. “Sudah ah enggak usah sedih. Mimpi itu pertanda kamu harus benar-benar menghapus semua harapan kamu itu.”

“Aku tahu itu, tapi masalahnya… serius susah!gara-gara mimpi itu dari semalam hingg detik ini aku merasa resah. Frustasi. Aku bingung kenapa sulit sekali lepas dari bayang-bayangnya?”

“Mungkin kamu masih merasa penasaran.” Sahut Luna sambil meminum Hazelnut Coffee milik Jiyeon. “Kalian tak berhasil mencapai hubungan resmi karena kurangnya komunikasi dan pastinya itu membuat kamu memiliki berjuta pertanyaan yang ingin kau tanyakan padanya. Kau tak bisa lepas karena rasa penasaran kamu belum terjawab.”

Jiyeon mengangguk pelan. Ia setuju dengan pendapat Luna. “You right. You know me so well. Ya memang benar aku punya banyak pertanyaan, tapi ya Luna, satu hal dari mimpi itu yang bikin aku merasa sesak banget.”

“Apa?”

Air mata Jiyeon kembali mengalir. Kini diiringi dengan isakan. Sepertinya hal tersebut benar-benar menyesakkan dadanya. “Aku kangen dia. Aku ingin bertemu dan ngobrol saja sebentar. Aku benar-benar kangen. Saat pagi aku jogging, rasanya aku seperti melihatnya dari jauh. Lalu terdengar suara-suara dia memanggilku. Aku berhalusinasi saking rindu padanya.” Kepala Jiyeon besandar pada kedua tangannya.

“Jiyeon-ah.” Lagi. Kali ini Jiyeon seperti mendengar suara Myungsoo. Ia berhalusinasi lagi.

“Tuh… Aku mendengar suaranya lagi. Aku mulai gila!”

“Eu.. Jiyeon lihat ke kanan kamu deh.”

Jiyeon mengarahkan kepalanya ke arah kanan. Di depannya ada sesosok pria jangkung putih sambil membawa segelas americano. Ia sangat mengenal sosok itu. Itu adalah Myungsoo.

“Tuh kan, aku mulai gila. Jangan-jangan aku skrizofernia. Luna kamu tahu enggak masa aku melihat Myungsoo ada dihadapan aku sekarang. Aku memang gila.” Jiyeon tertawa, namun tertawa sedih.

“Eu… Jiyeon kau tidak gila. Aku memang ada disini.” Ujar Myungsoo dengan wajah kebingungan melihat keadaan Jiyeon yang kacau.

Jiyeon terkejut setengah mati. Ia langsung duduk tegak dan menghapus air matanya. Ia langsung protes pada Luna tanpa suara. Hanya menggerakkan bibirnya.

“Ya! kenapa kau tak memberitahuku ada dia?!”

“Aku sudah kasih tahu, tapi kamunya saja enggak sadar.”

“Oh Hai Myungsoo. Kapan pulang dari Tokyo? Disana kuliah sudah libur?” Jiyeon mencoba berbasa-basi

“Semalam. Sebenarnya belum sih, tapi kan aku hanya tinggal menyusun skripsi dan tak harus berada dikampus tiap hari. Aku rindu ibuku dan teman-temanku. Jadi aku memutuskan pulang dan menyusun sedikit draft disini.” Jawab Myungsoo sambil menarik kursi di hadapan Jiyeon.

“Hm… eh aku duluan ya? Aku ada janji lagi soalnya. Bye.” Tiba-tiba saja Luna pamit pergi. Tentu saja Jiyeon seketika panik. Ia langsung melotot pada Luna. Luna pun memberikan tanda agar Jiyeon mengecek ponselnya. Ternyata Luna mengiriminya pesan.

 

Aku pergi ya. biar kalian berdua bisa ngobrol bebas. Bicarakan dan tanyakan semua rasa penasaranmu itu. ini saatnya. Jangan ragu! Semangat! ^^

 

Sial! Umpat Jiyeon dalam hati. Jiyeon mengetuk-ngetuk layar ponselnya. Jantungnya berdegup tak jelas. Ia amat gugup.

“Basa-basi enggak apa-apa lah ya. apa kabar?”

“Begitulah, tapi overall cukup baik.” Jiyeon menggigit bibirnya. “Sudah lama jug ya kita tak bertemu, terakhir sekitar setahun yang lalu, iya enggak sih?”

“Iya. Waktu itu kan kita main bareng sama anak-anak kelas.”

“Lama juga kita tak saling berkomunikasi.” Lirih Jiyeon dengan suara pelan. Ia tak ingin Myungsoo mendengar itu.

“Eh iya. Jiyeon, tadi pagi aku melihatmu di taman sedang berolahraga. Aku memanggilmu dari jauh tapi kau tak menengok ke arahku.” Ujar Myungsoo dengan nada sedikit kecewa.

Thanks god, I’m still normal! “Oh jadi itu memang kamu? hahaha aku kira aku berhalusinasi.”

“Halusinasi?” Myungsoo menatap Jiyeon dengan tatapan bingung. “Tadi saat aku tiba kau juga mengatai dirimu gila. Kenapa?”

Jiyeon terdiam. Ia tak berani mengutarakan yang sebenarnya. Ia tak ingin menjawab pertanyaan Myungsoo. Ia hanya tersenyum menanggapi itu. Senyum getir.

“Biar kutebak. Apa ada kaitannya denganku? Hahaha” Tanya Myungsoo dengan maksud bercanda.

“Iya… itu karena kau.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Jiyeon. Jiyeon sendiri pun terkejut dengan apa yang Ia katakan. Ia bermaksud melontarkan kalimat tadi dalam hatinya, tapi ternyata hatinya malah membocorkannya.

Myungsoo pun ikut terkejut. Ia pun berusaha membuat suasana tetap enak. “Waduh, candaan kamu lebih lucu ternyata. Hahaha aku menyerah.” Myungsoo mencoba tertawa walau terasa begitu crunchy.

Jiyeon menggeleng. “Itu bukan sekedar candaan, tapi memang benar adanya.”

Myungsoo lebih kaget lagi dengan rangkaian kata dari mulut Jiyeon. Maksud hati berkelakar, tapi malah candaannya itu bukanlah sebuah candaan bagi Jiyeon. Myungsoo langsung menatap Jiyeon dengan rasa sedih.

“Ada apa? Mengapa karena aku?” Myungsoo pun mulai menanggapi dengan serius.

“Aku… Aku…” Jiyeon masih tak punya keberanian untuk mengungkapkan itu. Kalimat itu tak sanggup ia selesaikan. Myungsoo mlihatny dengan rasa penasaran dan terlihat amat menanti kelanjutannya.

Jiyeon pun memejamkan matanya. Ia menguatkan dirinya. “Aku… Aku merindukanmu. Aku tahu aku tak punya hak untuk itu, tapi aku merindukanmu.”

“Benar kau memang tak punya hak. Begitu juga denganku.” Myungsoo mengangguk setuju.

“Maafkan aku… tak seha..” Myungsoo seketika langsung memotong pembicaraan.

“Aku pun merindukanmu.” Mata Jiyeon terbelalak. Kepalanya yang mulanya tertunduk kini mengangkat keatas. Menatap Myungsoo dengan penuh ketidakpercayaan.

Baca lebih lanjut

[FF] Mineral Water

Title               : MINERAL WATER

Rate               : 13+

Genre             : FLUFF, ROMANCE

main Cast     : PARK CHORONG A-PINK

OTHER CAST   : JINYOUNG B1A4, WOOHYUN INFINITE, SUHO EXO

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH yang bikin

INSPIRED        : dari ff ku yang BRACELET, heehe

Disclaimer   : gara-gara liat video ereka di youtube, aku jadi tertarik sama couple ini. lucu liat chorongnya =)) kesannya kok kayak dia yang suka banget =))), ya tapi video shipper shipper begituan sih buat lulucuan aja. jangan terlalu dipikirin, jangan dianggap serius apalagi dimasukin ke hati hehehe. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

 

Suasana lapang tampak ramai. Orang-orang tampak menyebar di bawah puluhan lampion yang tergantung diatas lapang. lampion warna-warni tersebut tampak indah menyembul dibawah gelapnya langit. Ada yang berkumpul di depan Panggung berukuran 4×4 m berdiri dengan kokohnya di ujung barat lapang, ada pula yang berkeliling mengunjungi stand-stand yang ada di pinggir lapang. Semua mahasiwa larut dalam acara tahunan fakultas mereka, yaitu festival seni. Setiap tahun, fakultas seni dan musik selalu mengadakan festival seni yang selalu mengadakan berbagai macam perlombaan kesenian.

Chorong pun tak mau melewatkan acara tahunan tersebut. Ia berada di kerumunan orang yang berkumpul lapangan gedung fakultasnya. Ia tak sendiri berada disana. Ia bersama seorang temannya, yaitu Jinyoung. Mereka berdua bergabung untuk menyaksikan perlombaan-perlombaan yang berlangsung.

Saat ini dipanggung sedang berlangsung kompetisi band. Jinyoung fokus menyaksikan aksi panggung, berbeda dengan Chorong. Chorong terlihat tak begitu fokus  menonton. Seringkali mmata dan kepalanya melihat ke seluruh penjuru arah, seolah sedang mencari sesuatu. Mulanya Jinyoung tak sadar akan kelakuan Chorong. Ia tersadar saat berdiskusi tentang band yang tampil.

“Gila itu drummernya keren banget!” Seru Jinyoung. “Itu juga yang main gitar siapa?oh si Chanyeol ya? heol, jago juga. Mereka aransemen lagunya bagus banget, mana vokalnya pakai Eunji pula! Wah, Ini band bisa menang nih!”

Chorong diam tak menjawab. Ia tak mendengarkan apa yang Jinyoung ucapkan. Ia masih asyik celingak sana celinguk sini sambil memakan eskrimnya. Jinyoung menunggu tanggapan dari Chorong, tapi tak terdengar suara Chorong. Disitulah Ia sadar.

“Park Chorong! Tadi kamu dengar enggak aku ngomong apa?” Protes Jinyoung sambil mencolek bahu Chorong. Setelah dicolek bahunya, Chorong barulah sadar.

“Hah? tadi kamu memang ngomong apa?” Tanya Chorong bingung.

Jinyoung mendesah sebal. Ia melihat Chorong dengan tajam. Ia pun melontarkan pertanyaan untuk menguji, apakah Chorong tadi fokus terhadap panggung atau tidak.

“Menurut kamu band yang barusan tampil gimana?”

Chorong terlihat sedikit gelagapan. “Eu… hm… biasa saja.”

“Kamu enggak memperhatikan ya?”

“Ah enggak kok!” Sangkal Chorong sambil pandangannya menatap arah lain, bukan menatap Jinyoung.

“Enggak usah bohong! Mata kamu tuh, keliaran kemana-mana. Cari apa sih?”

Chorong menggeleng. “Enggak cari apa-apa kok. Cuman mau liat keadaan sekitar saja. Ramai apa enggak.”

Jinyoung yang sudah mengenal Chorong sebagai sahabat selama 3 tahun kuliah dijurusan yang sama yaitu komposer, tentu saja Ia tak mudah dikelabui Chorong. Ia tak percaya begitu saja.

“Enggak usah bohong deh sama aku! I know you so well. Kau takkan bisa menipuku. Kau pasti sedang mencari seseorang kan?” Jinyoung berbicara dengan sedikit membungkukkan badannya.

Chorong yang ketahuan berbohong hanya bisa menggigit bibirnya sebal. Melihat itu Jinyoung tertawa keras.

“Hahaha sudah kuduga, pasti kamu sedang mencari…” Obrolan mereka terpotong oleh kedatangan teman mereka, sekaligus orang yang dicari Chorong semenjak tadi.

“Hei,bro!” Sapa Jinyoung kepada kedua temannya.

“Halo,bro!” Woohyun membalas sapaan Jinyoung. Mereka berdua melakukan high five.

“Kemana saja anak jurusan tetangga ini?” Tanya Jinyoung sambil menunjuk Suho

“Tak kemana-mana kok, hahaha.” Balas Suho sambil bersalaman dengan Jinyoung.

“Oh ada Chorong? Halo!” Sapa Woohyun sambil tersenyum.

“Hai, Chorong!” Senyum Suho sambil melambaikan tangan

Mendapat sapaan dari orang yang Ia harapkan membuat Chorong tersenyum dan mukanya terlihat jelas memerah. Ia pun membalas sapaan mereka berdua dengan senyuman manis.

“Kalian ikut lomba menyanyi kan?” Tanya Jinyoung.

Keduanya mengangguk.

Jinyoung mendorong bahu Woohyun pelan. “Ah kamu ngambil jatah anak jurusan Vokal! Anak Komposer sih harusnya ikut lomba aransemen, bukannya ikut lomba menyanyi! Hahaha.”

“Hahaha, iya nih, ambil jatah aku saja!” Suho ikut bercanda menyalahkan Woohyun.

“Lah kan enggak ada larangan selain anak jurusan vokal enggak boleh ikut menyanyi. Jadi kan hak aku dong buat ikutan. Hahaha.” Sahut Woohyun penuh tawa.

“Tampil ke berapa?”

“Kita di awal berturut-turut nih. Aku ke tiga, Suho ke empat.” Jawab Woohyun.

Terdengar suara pengumuman jika lomba menyanyi lima menit lagi akan dimulai. Saatnya Woohyun dan Suho menuju backstage untuk bersiap. Mereka pun segera mengkhiri percakapan mereka.

“Wah kita sudah dipanggil nih! Yuk!” Ajak Suho pada Woohyun.

“Kita lomba dulu ya!” Pamit Woohyun.

“Oke bro, semangat! Sukses!”

Chorong yang daritadi diam saja karena malu dan takut salah tingkah akhirnya ikut bersuara. Sambil tersenyum dan mengepalkan tangannya, Chorong berkata “Fighting!” Ia mengatakan itu seolah untuk mereka berdua, padahal matanya hanya tertuju pada satu orang.

“Terima kasih Chorong!” Sahut mereka berdua.

Sepeninggalan mereka berdua, Jinyoung langsung menggoda Chorong.

“Cie.. begitu ada dia langsung diam seribu bahasa gitu. Biasa aja dong, enggak usah merah gitu mukanya. Hahahaha” Goda Jinyoung.

Chorong memukul lengan Jinyoung karena sebal digoda.

“Kenapa diam saja daritadi? Padahal kan kesempatan bagus buat ngobrol.”

“Malu.” Ujar Chorong sambil menunduk saking malunya padahal orang yang Ia suka sudah tak ada di hadapannya lagi.

“Ah payah! Gimana mau maju kalau kamu diam saja, cuman nunggu. Jangankan mengobrol, nyapa saja kamu enggak berani kan?”

Chorong mengangguk lemah.

“Kenapa enggak berani? Nyapa doang loh padahal! Walau beda jurusan, kamu sama dia kan kenal! Kalian kan sama-sama anak teater. Sapa saja padahal!” Seru Jinyoung berapi-api saking gregetnya dengan sikap Chorong yang pemalu.

“Habisnya aku malu, lagian aku juga takut dia enggak suka di sapa sama aku.” Ujar Chorong lemas seolah ia hilang harapan.

“Kenapa harus takut? Percaya deh, dia pasti senang juga kok di sapa kamu. kalau aku liat dari matanya dia ada ketertarikan sama kamu, cuman mungkin dia masih agak ragu makanya dia enggak bertindak. Nah makanya kamu harus tunjukkin kalau tertarik sama dia, jadi dia enggak ragu untuk mengambil tindakan!” Jinyoung berusaha memberi semangat pada Chorong.

Chorong tak percaya dengan perkataan Jinyoung. “Ah bohong!”

“Eh malah enggak percaya. Ya, Park Chorong! Aku ini pria, aku tahu arti tatapan setiap pria. Tatapan dia ke kamu itu terlihat sekali kalau dia memiliki ketertarikan dengan dirimu! Nah makanya sekarang tunjukkan aksimu!”

Chorong menatap mata Jinyoung. Terlihat dari sorot mata Jinyoung, kalau Ia sedang tidak berbohong. Chorong pun akhirnya percaya.

“Terus aku harus apa?”

“Mulai dari hal kecil. sekarang kasih dia semangat secara pribadi untuk lomba sekarang.” Sarran Jinyoung.

“Hah? gimana caranya? Masa aku tiba-tiba datang ke backstage, terus bilang sama dia, ‘hai, semangat ya!’ ya kali kayak gitu. Kan enggak lucu!”

Jinyoung menepuk dahinya. “Ya enggak gitu juga. Kamu datang sambil bawa minum, terus kasih ke dia, terus kasih semangat deh. Kan dia mau nyanyi, pasti butuh air mineral.”

“Benar juga.” Chorong mengangguk-angguk setuju. “Tapi…”

“Tapi kenapa lagi sih? Malu?”

Chorong mengangguk lemah.

Jinyoung menghela nafas dengan kesal. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya tuhan!”

Terdengar suara MC berkumandang. MC mengumumkan jika peserta pertama akan tampil. Jinyoung berdecak kesal.

“Ayo, Chorong! Lakukan! Bentar lagi Dia tampil!”

Baca lebih lanjut

[FF] Flirting To Sunbaenim

Title               : FLIRTING TO SUNBAENIM

Rate               : pg +13

Genre             : ROMANCE sih tapi enggak banget dan ditambah bumbu HUMOUR, COMEDY, tapi kayaknya gagal T____T

main Cast     : LEE SUNGYEOL INFINITE

OTHER CAST   : NAM WOOHYUN INFINITE, KIM TAEYEON SNSD, OK TAECYEON 2PM

length           : One shot, FICLET, SONGFIC

Author          : khayalan selintas HANAN HANIFAH

inspired        : lagu Barry Likumahuwa – Mati Saja. Recommended nih buat di dengerin/

Disclaimer   : Enggak sengaja pas dengerin lagu itu, terlintas buat bikin FF, dan aku pas dengerin lagu itu lagi baca artikel tentang Sungyeol, jadi aja ehehe.  SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING.GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Please ENJOY =D.

 

Alunan music menghentak, membuat orang-orang yang berada ditempat itu ingin turun ke lantai dansa. Orang-orang begitu menikmati permainan music yang dimainkan DJ. Sebagian laginya terlhat sedang menikmati makanan yang tersaji. Sesungguhnya pesta ulang tahun yang menyenangkan, tapi Sungyeol dan Woohyun hanya duduk-duduk saja.

“Ini adalah pesta ulang tahun Seungri Hyung. Seungri Hyung terkenal dengan the best party maker in our campus after GD Hyung. Tentunya kita takkan menyiakan momen ini kan?” Tanya Woohyun.

“Tentu saja.” Jawab Sungyeol sambil melihat ke arah sekelilingnya.

“Lalu kenapa kita berdiam diri saja disini. Ayolah kita turun. Ajojing coy!” Woohyun sedikit menari mengikuti irama musik.

“Ya kali kita ngedance berdua. Mana asik! Harus ada wanitanya dong!”

“Ini partynya Seungri Hyung. sudah pasti banyak wanita yang bisa menemani kita malam ini, Kau tinggal memilih!”

“Memang banyak wanita cantik, tapi tak ada yang menarik.” Sahut Sungyeol yang masih melihat ke segala arah. Seperti yang sedang mencari sesuatu.

“Kamu lagi nyari apa sih?” Woohyun mengikuti arah mata Sungyeol. “Wanita? Mau yang mana? Itu tuh cantik.”

no thanks. Kalau Kau mau, Kau saja yang berdansa dengannya. Dia bukan tipe idealku.”

“Lalu yang seperti apa?”

“Ah, Aku menemukannya!” Sorak Sungyeol girang. “Yang seperti itu.” Sungyeol menunjuk seorang wanita yang sedang duduk sendirian sambil meminum cola. Woohyun mengikuti arah yang ditunjuk Sungyeol dan betapa terkejutnya melihat orang yang ditunjuk Sungyeol.

Mworago? Taeyeon Sunbae?” Kaget Woohyun, “Kau gila apa? Dia senior kita! Dia sudah mau lulus!”

“Ya terus kenapa? Dia tipe idealku. Sangat cute dan orangnya easygoing, benarkan?”

“Iya sih. Oke, Aku tahu Kamu memang sudah mengaguminya dari awal masuk sampai sekarang, tapi Aku tak menyangka kalau Kau akan mengajaknya ngedance di pesta ini. Kau benar-benar akan mendekatinya?”

Well, See.” Jawab Sungyeol dengan senyum penuh arti. Sungyeol terus memperhatikan Taeyeon dari jauh. Ia ingin membuat Taeyeon sadar jika Ia memperhatikan Taeyeon terus menerus, lalu kemudian membuat Taeyeon salah tingkah.

Sungyeol terus memperhatikan Taeyeon, tapi nampaknya Taeyeon tak sadar jua. Hal itu tentu membuat Sungyeol sedikit sebal.

“Kok enggak sadar-sadar juga ya? Padahal biasanya para wanita jika Aku beri tatapan maut tadi, mereka akan langsung terpesona, tapi Sunbae seperti tak tertarik.” Gumam Sungyeol

“Enggak usah sok kegantengan. Di pesta ini masih banyak pria yang lebih tampan daripadamu, termasuk aku.” Cibir Woohyun sambil menenggak jus.

“Kalau kamu lebih ganteng daripada aku, harusnya Kamu sudah mendapatkan wanita untuk diajak kencan semalam.” Sungyeol balik mengejek Woohyun.

“Mungkin, Dia sudah punya pacar.”

“Siapa? Sok tahu! Jelas-jelas di kampus Dia enggak pernah memperlihatkan kalau dia Taken.” Sungyeol tetap percaya diri.

Baca lebih lanjut