[FF] VALUE

Title               : VALUE

Rate               : 15+

Genre             : lagi pingin bikin SLICE of LIFE dan WORK gitu dipadu dengan FRIENDSHIP

Cast               : yang disebutin nama lengkapnya dan jadi central hanya PARK CHORONG A-PINK dan LEE CHANGSUB BTOB. Sisanya bayangin sendiri deh. Bebaskan imajinasi kalian.

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH idea

INSPIRED        : baru nonton BEAUTIFUL GONGSHIM di tv. Pas liat episode 1, terinspirasilah.

Disclaimer   : Lagi suka banget BTOB dan ngebiasin parah Changsub *huhuhu aku tahu aku telat join jadi Stan BTOB*, jadi pengen bikin FF yang ada  dianya, cuman dianya bukan jadi tokoh utama disini wkwkwk. Nanti deh ku bikin lagi Changsub centernya hehehe. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D

“Hei, Park Chorong! Kamu masih mau bekerja tidak?!”

“Eh.. iya tentu saja.”

“Kalau begitu lakukanlah! Tak usah menolak! Kecuali kalau kamu mau kontrakmu diputus….. kau ini belum jadi pegawai tetap! Ingat itu!”

*****

Chorong menatap cermin di toilet dengan tatapan kosong. Ingatan kejadian 7 bulan lalu selalu menghantuinya setiap diberi tugas oleh kantornya. Ia berpikir, apakah yang Ia lakukan selama ini hal yang benar. Apakah sesulit ini untuk bertahan hidup. Sudah hampir 1 tahun Ia menjadi pegawai sebuah perusahaan kosmetik. Sayangnya, statusnya masih pegawai kontrak, dan kontrak hanya dalam kurun kurang dari sebulan ini akan habis. Nasibnya kini benar-benar fifty-fifty. Ia bisa saja diperpanjang kontraknya, bahkan diangkat menjadi pegawai tetap, tapi kemungkinan Ia untuk ditendang pun sama besarnya. Berbagai cara Ia usahakan agar Ia bisa bertahan dan dapat diangkat menjadi pegawai tetap. Seperti yang Ia lakukan saat ini.

Setiap ada acara seperti ini, selalu timbul keraguan dalam dirinya. Ia selalu meminta izin ke toilet untuk menenangkan diri sejenak. Walau sudah 7 bulan Ia berada dalam kegiatan seperti ini, tapi tak pernah sekalipun Ia jalani dengan senang hati. Malah Ia merasa direndahkan, tapi apa daya. Ia harus bertahan hidup. Ia butuh uang dan itu Ia dapatkan dari pekerjaannya kini. Ia ingin kehidupannya lebih baik dan nyaman.

Berada dibagian Marketing membuatnya harus bertemu dengan banyak klien. Satu hal yang Ia tak sukai dari budaya kerja diperusahaannya. Mereka harus selalu bisa menyenangkan klien, terutama pegawai wanita sepertinya. Chorong yang good looking, tentu saja menjadi andalan tim nya untuk acara makan malam seperti yang akan Ia lakukan kali ini. Ia harus tampil cantik dan menawan agar bisa menarik perhatian klien. Ia pun harus siap melayani mereka. Walau tak sampai harus tidur dengan kliennya, tapi tetap saja Chorong merasa jijik dengan hal yang Ia lakukan. Ia harus menuangkan minum, harus menemani mereka minum, makan, karaoke, bahkan terkadang Ia harus berdua saja dengan klien. Ia benci hal itu, tapi Ia harus melakukannya, karena selalu mendapat ancaman kontraknya bisa putus kapan saja.

Chorong mencuci mukanya agar terlihat segar. Setelah mengelapnya denagn tisu, Ia memoleskan bedak, menggambar eyeliner, dan juga mewarnai bibirnya dengan lipstik merah agar terlihat lebih menarik. Setelah selesai mempercantik diri, Chorong menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan. Ia berdoa sebentar memohon untuk dikuatkan.

Malam Ini Ia bersama manajernya, salah satu direktur perusahaannya akan bertemu dengan salah satu dirjen perpajakan nasional di restoran makanan khas korea. Sebenarnya ini bukanlah pekerjaan tim nya, tapi entah mengapa Ia dipanggil untuk datang ke acara makan malam ini. Demi bisa menjadi pegawai tetap, Ia terima ajakan atasannya tersebut.

Di meja makan manajer dan direkturnya sudah siap menyambut tamu mereka. Tak lama kemudian, tamu yang akan mereka sambut datang. Dirjen itu didampingi dua pria muda. Chorong memperhatikan salah satu pemuda yang mendampingi dirjen tersebut. Ia tampak mengenal orang tersebut. Pria itu sedang posisi menyamping, mempersilahkan atasannya masuk duluan. Saat pria itu mukanya menghadap ke arah Chorong, Chorong langsung menyadari. Tak menyangka Ia bertemu dengan sahabatnya saat dalam bekerja seperti ini. Ia tahu, sahabatnya itu bekerja di perpajakkan, tapi Ia tak menyangka salah satu tamunya adalah sahabatnya sendiri, Lee Changsub.

Changsub juga langsung menyadari kehadiran Chorong. Ia langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangan. Chorong membalasnya dengan senyum dan lambaian kecil. Ia harus menjaga sikap dihadapan atasannya. Chorong memberi tatapan. Ia mencoba “telepati” kepada Changsub agar menjaga sikapnya juga. Sudah berteman dan saling mengenal satu sama lain dalam waktu yang lama, Changsub langsung menangkap sinyal Chorong dan bersikap tenang.

Para atasan saling menyapa dan menjabat tangan. Chorong pun menjabat tangan dengan utusan kementrian tersebut. Saat berjabat tangan dengan Changsub, mereka saling mengeraskan jabatan tangan untuk saling menyapa dan jelas mereka tertawa akan hal itu, namun dalam hati. Saat bersalamn dengan dirjen, Dirjen itu bersalaman dengan dua tangannya dan sedikit mengelus punggung tangan Chorong. Chorong yang tak nyaman hanya bisa sedikit mengerutkan dahi, dan agak menarik tangannya sambil mencoba terus tersenyum.

Seperti pada acara makan malam biasanya, mereka berbasa-basi terlebih dahulu. Disaat seperti ini, yang menjilat tugas dari direktur dan manajernya. Ia hanya ikut tersenyum dan tertawa. Begitu juga dengan dua orang yang mendampingi dirjen perpajakkan tersebut. Mereka hanya ikut tertawa-tawa saja. Sembari makan mereak terus mengobrol. Saat mereka mulai minum, negosiasi lah mulai dilakukan. Negosiasi biasanya memang tugas Chorong. Ia dikenal sebagai salah satu tim marketing yang jago negosiasi. Biasanya saat acara makan malam seperti ini, Chorong melakukan negosiasi sambil melayani klien, tapi untuk malam ini berbeda. Ia bertugas hanya untuk melayani saja. negosiasi masalah pajak sama sekali bukan urusannya.

Chorong mulai menuangkan arak ke gelas sang dirjen dan juga atasannya. Ia pun tak lupa menuangkan minuman tersebut kepada “pengiring” dirjen.  Saat suasana makin naik, mereka semua mulai bernyanyi-nyanyi, dan Chorong lah yang harus terus menyanyi dan menari. Selain itu juga Chorong harus mengeluarkan aegyo setiap atasannya mengajukan penawaran pada sang dirjen. Melihat hal itu Changsub merasa ada yang enggak beres dengan Chorong. Ia melayangkan pandanganya ke Chorong dan menatap Chorong dengan serius. Ia tahu, sahabatnya itu bukanlah tipe yang suka diperlakukan seperti itu. Changsub dengan jelas bisa menangkap rasa tidak nyaman dari Chorong, tapi yang jadi pertanyaannya, kenapa Chorong mau melakukan hal itu.

Changsub mencoba memberi sinyal pada Chorong. “Chorong ssi. Tak apa jika aku memintamu menuangkan lagi minuman ke gelasku?” Ya!! bodoh! Apa yang kamu lakukan?

Chorong menatap Changsub dengan senyum palsu. Ya! kenapa kamu menyuruhku?!

“Hahahahahaha, jangan sungkan Changsub ssi. Itulah tugasnya dia berada disini hahahaha.” Sahut manajernya Chorong.

Chorong  melirik sinis manajernya dalam 0,1 detik, namun hal itu langsung tertutupi dengan topeng senyumnya. “Iya tak masalah. Betul, itu memang tugasku.”

“Tak apa?” Tanya Changsub serius. Kamu enggak apa-apa berada dalam situasi macam ini?

Chorong menangkap sinyal yang dimaksud Changsub. Sambil menuangkan minuman, Chorong mengangguk. “it’s okay”. Aku tak apa. Aku bisa mengatasinya. Percayalah.

“Nona cantik, tolong tuangkan juga untukku, dan anak buahku yang satu lagi juga.” Pinta sang dirjen dengan centil. Chorong membalas lagi dengan topeng senyum dan menuangkan minuman ke gelas anak buah dirjen dan dirjen. Saat menuangkan minuman ke gelas dirjen, dirjen itu memegang tangan Chorong.

“Park Chorong ssi, wanita semuda dirimu, pastinya belum menikah kah?” Tanya Dirjen tersebut. Chorong berusaha melepaskan perlahan.

“Jangankan menikah pak, pacar saja dia tak punya. Betul kan, Chorong?” Jawab Manajernya dalam keadaan mulai tidak sadar. Chorong menjawabnya dengan senyuman.

Dirjen itu agak kegerahan. Ia membuka jasnya dan melonggarkan dasinya. “Ehem… begini Direktur Yeo, Manajer Jung. Masalah tunggakan pajak perusahaan kalian, jika kalian ingin mencicilnya, tentu harus membangun hubungan yang lebih baik dulu, bukan begitu?”

Direktur dan Manajer Chorong langsung terbahak basa-basi. “Hahahaha, betul. Kita harus membangun hubungan baik.”

“Aku tak suka cara melanggar hukum seperti menerima hadiah. Aku ini seorang pns yang menjunjung tinggi keadilan hahaha.” Dirjen itu menatap Chorong dengan nakal. “Aku lebih suka menjalin hubungan baik dengan ya ngobrol-ngobrol dan makan malam seperti ini. Agar hubungan lebih solid, tentunya, alangkah lebih baik memulai dari bawah, betul?”

Lagi, Direktur dan Manajer Chorong terbahak sambil mengangguk.

“Oleh karena itu, mungkin bisa dimulai dari Chorong ssi? Besok bisakah kita makan malam agar hubungan perpajakkan dengan Get Beauty Corp menjadi lebih erat.”

Changsub terkejut mendengar permintaan atasannya. Ia langsung melirik Chorong yang sama terkejutnya mendengar permintaan itu. Ini bukan pertma kalinya Chorong mendapat permintaan seperti itu, tapi tetap saja Ia merasa terkejut dan tidak nyaman. Guratan wajahnya bicara akan hal itu, dan Changsub tahu betul hal itu.

“Kamu pasti kosong kan besok? Kan tidak punya pacar. Manajer Jung besok jangan buat dia lembur.” Seru Direktur Yeo.

Chorong menarik nafas. Rasanya Ia ingin menolak, tapi Ia teringat akan kontraknya yang akan habis. “Saya kosong kok pak besok.”

Mendengar jawaban Chorong, Changsub terkejut tak bisa mengontrol dirinya. Mulutnya langsung menganga lebar dan pupil matanya pun ikut membesar menatap Chorong heran. Kenapa Chorong mau? Apakah Chorong sudah gila? Jelas-jelas Ia tak mau, dan Ia adalah tipe yang jika tak mau pasti akan menolak sekeras apapun, tapi kenapa Ia menerima ajakan gila tersebut. Changsub tak mengerti. Ia merasa ada yang salah dengan pekerjaan Chorong.

Ia mencoba mengingat curhatan Chorong beberapa waktu lalu. Dia memang pernah cerita mengenai budaya perusahaannya yang buruk, dan kontraknya yang hampir habis. Chorong harus bertahan karena memang butuh uang. Changsub langsung ngeh mengapa seorang Park Chorong mau melakukan hal itu. Chorong butuh bantuan.

Changsub meminum alkoholnya dalam satu teguk. “Hm.. Dirjen Kim. Bukankah sebagai PNS yang tak melanggar hukum, sebaiknya menghindari zina?”

Atasan Changsub menekuk wajahnya. “Maksudmu? Yang aku lakukan itu zina?”

“Tak baik seorang pria beristri mengajak seorang wanita lajang makan malam. Apalagi jika wanita itu sudah mau bertunangan.”

Sang Dirjen kebingungan. Begitu juga dengan Manajer dan Direktur Chorong. Manajernya pun langsung memastikan. “Chorong, kau btul tidak punya pacar kan?”

Chorong mengangguk. “Be..bet…” Belum juga selesai Chhorong menjawab. Changsub langsung berdiri dan membungkuk 45 derajat.

“Maaf sebelumnya, tapi perkenalkan saya Lee Changsub, kekasih dari Park Chorong.”

Baca lebih lanjut

[FF] Spiritless

Title               : SPIRITLESS

Rate               : lebih GENERAL temanya, jadi ya SU, G

Genre             : LIFE, CAMPUSLIFE

main Cast     : JIMIN AND JUNGKOOK BTS

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAHnya mau kejer setoran

INSPIRED        : MY LAZYNESS AND PASSION DISORDER *ngomong apa sih nan*

Disclaimer   : Biasa sebelum masuk kuliah aku selalu mentargetkan harus nulis satu cerita. Alhamdulillah kesampaian. Aku lagi kesengsem sama duo dedek gemes di BTS ini. aah mereka mengaggumkan sekali, sanggup membuat hati Noona meletup popcorn, jadi aku ngambil castnya mereka. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D AND HAPPY NEW YEAR 2015 ^^.

Sinar matahari tampak menerobos celah-celah awan memberikan kehangatan ditengah angin segar yang menggeltik setiap hidung yang menghirupnya. Tercium bau tanah yang tercampur bau embun sebagai mahakarya Tuhan semalam. Cuaca yang sangat enak untuk pagi ini. Cuaca yang sanggup membuat orang semangat begitu menghirup udara segar dan tersinari matahari hangat. Hanya saja itu tak berlaku bagi Jimin.

Jimin sedang berjalan menuju kampusnya. Suasana disepanjang perjalanan menujh kampusnya seperti biasa selalu ramai. Orang-orang berlalu lalang. Ada yang berjalan santai, adapula yang terburu-buru. Sejauh ini dia melihat sebagian besar orang-orang melangkah dengan mantap, namun ada juga yang beberapa tampak tidak bersemangat seperti dirinya. Kini Ia sedang dilanda fase kejenuhan.

Tinggal dua minggu lagi menuju ujian akhir. Seharusnya kini Ia sedang semangat-semangatnya mengejar materi. Harusnya hasrat belajarnya menggebu-gebu, tapi entah kenapa dia merasa benar-benar malas. Tak hany malas yang mendera, bahkan rasa jenuh pada kuliahnya mulai menggerogotinya. Entah mengapa Ia merasa menyesal kuliah di jurusan yang Ia pilih. Mungkin hal ini disebabkan dia merasa kesulitan dalam menghadapi beberapa matakuliah. Nilai dia ada yang kacau, dan dia sudah merasa frustasi menghadapi itu. Alhasil semangat kuliahnya menguap begitu saja.

Setibanya di depan kampus, langkah Jimin terhenti. Kakinya seharusnya berbelok ke arah kiri, namun entah mengapa rasanya berat untuk bermanuver ke kiri. Arah matanya malah melihat ke arah kanan. Kampusnya yang berada di sebelah kirinya bersebrangan dengan sebuah kafe. Kafe itu tampak menggoda Jimin untuk disinggahi. Kafe ini memang didirikan dengan mahasiswa sebagai sasaran pelanggannya, sehingga di pagi hari mereka sudah buka agar mahasiswa dapat sarapan. Tercium wangi roti yang baru saja dipanggang. Wangi itu membunyikan alarm keroncong pada perut Jimin. Jimin melirik jam tangannya. Masih ada 10 menit lagi sebelum waktu kuliah. Berhubung Ia sedang tak ada gairah untuk kuliah ditambah wangi roti yang menggiurkan, membuat Jimin berubah haluan ke kanan. Biasanya jika waktu kuliah akan dimulai, sebagaimanapun wangi roti bersemilir, Ia tak goyah, tapi kali ini tanpa wangi roti itu dia sudah goyah.

Suasana kafe tak begitu ramai, hanya beberapa meja yang terisi. Disudut kanan kafe tampak ada sepasang kekasih, di dekat pintu masuk ada sekawanan mahasiswi yang sibuk bergosip padahal masih pagi, dan tak jauh dari gerombolan mahasiswi ada seorang wanita yang menikmati sarapannya sendirian. Jimin langsung menuju kasir untuk memesan. Berhubung Jimin merupakan pelanggan tetap, Ia sudag mengenal para pelayannya, termasuk pelayan muda satu ini.

“Hai Jungkook, shift pagi lagi?” Sapa Jimin.

Jungkook mengangguk. “Iya, Hyung. Sekolah lagi liburan soalnya. Mau apa, Hyung? Mau coba paket sarapan?”

“Paket sarapan itu yang milih mau yang toastbox atau sandwich ya?”

“Tepat sekali. Toastbox lagi hits loh!” Saran Jungkook.

“Boleh. Toastbox with nutella and marshmallow.”

“Pilihan minumnya mau yang mana? Espresso, milk tea, jasmine tea, latte, atau fresh milk?”

“Jasmine tea saja biar ga eneg.”

“Jadi 36000 won. Ditunggu ya Hyung pesanannya.” Jungkook memberikan struk dan Jimin memberikan uang sebagai tanda pembayaran.

Jimin pun menuju tempat duduknya, karena Ia sendiri, Ia memilih meja panjang yang menempel pada dinding di sebelah kasir. Di meja itu terdapat  lima kursi. Meja itu memang diperuntukkan untuk yang datang sendiri, agar tidak mubazir tempat. Sembari menunggu, Ia mengambil tablet hitamnya, dan menghubungkan jaringan tabletnya dengan jaringan wifi kafe tersebut, lalu asyik menjelajahi dunia maya. Tak lama kemudian pesanannya pun datang.

Jimin melirik jam tangannya. Waktunya tak lama hanya lima menit. Walau begitu, Ia tetap menyantap pesanannya dengan santai bahkan mata dan jari kirinya tetap fokus pada tablet. Ia tak tahu harus masuk kelas apa membolos lagi. Dia benar-benar tak ada semangat, ditambah pula Ia kini berdiam diri di tempat penuh makanan dan koneksi internet yang kencang, membuat setan dalam dirinya makin kencang menghasut Jimin.

“Hyung fokus banget cari bahan tugasnya.” Celetuk Jungkook dari kasir melihat Jimin makan sambil mengoprasikan tabletnya.

“Ah aku lagi enggak cari tugas.” Jawab Jimin.

“Kirain. Hyung masuk siang ya?”

“Kenapa memangnya?” Jimin mengerutkan dahi.

“Habisnya Hyung makannya santai banget. Bentar lagi masukkan? Lihat deh dua orang yang tadi baru pesan, mereka terlihat terburu-buru makannya.”

Jimin hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Jungkook.

“Hyung ini sudah hari ketiga setiap pagi Hyung disini sampai siang. Hyung enggak kuliah?” Jungkook terus bertanya. Hal itu membuat Jimin agak sebal karena Jungkook terkesan ingin tahu urusan orang.

Jimin sedikit mendelik sinis, tapi mengingat Jungkook pelayan paling dekat dan baik, ia pun mencoba menjawab dengan santai “Enggak, malas.”

“Kenapa malas? Ada ya alasan malas kuliah?” Tanya Jungkook polos.

Jimi heran dengan pertanyaan Jungkook. “Ya ada lah, ya sama saja dengan alasan kamu malas masuk sekolah.”

“Sekolah kan jadwalnya gitu saja. Semua hal dipelajari. Membosankan. Kalau aku lihat kuliah itu seru, bisa fokus ke bidang masing-masing. Bebas. Aku malah pengen banget bisa kuliah.” Mata Jungkook terlihat sangat semangat saat menceritakan hal tersebut.

“Dulu saat aku masih sekolah kayak kamu, aku juga excited untuk kuliah, tapi ternyata setelah masuk kuliah tak seindah yang aku bayangkan. Tugas datang bertubi-tubi dan tak mau tahu harus selesai, orang-orang yang menyebalkan, individualis tinggi. Lama-lama jenuh kerja kita hanya tugas-tugas. Kehidupan mahasiswa itu tidak manusiawi. Jadwal tidur dan makan tak teratur. Seperti Zombie. Rasanya ingin cepat-cepat lulus. Muak aku rasanya sama kuliah” Jimin berapi-api mengeluarkan pengalamannya sebagai mahasiswa. Ia benar-benar mengeluarkan uneg-unegnya yang ada di hatinya kini.

“Wah iya? Tak seindah di drama-drama ya?”

Jimin tertawa mendengar ocehan Jungkook. “Hahaha, yang di film-film, drama-drama itu terlalu berlebihan. Kuliah itu tak seindah itu. Lagipula…”

“Lagipula kenapa?”

“Lagipula entah mengapa aku merasa kehilangan passion dijurusanku sekarang. entah mengapa aku merasa menyesal telah memilih jurusan ini. Hal itulah yang membuatku makin malas dan tak bersemangat kuliah.”

“Memang hyung jurusan apa?”

Baca lebih lanjut

[FF] Bunuh Diri

Title               : bunuh diri

Rate               : pg 13+

Genre             : horror, supernatural, life, and a little bit ROMANCE

Cast               : kim taeyeon snsd, kim heechul super junior, im yoona snsd

length           : One shot

Author          : siapa lagi kalau bukan HANAN HANIFAH

Inspired        : Novel danur by risa saraswati chapter danur kasih

Disclaimer   : nampaknya bulan ini merupaka bulan penuh ide. Saat uas di depan mata, dan lapak menanti, sempet-sempetnya nulis FF. aku milih tokoh utamanya Taeyeon, karena pengen aja, enggak ada alasan lain SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING.GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Please ENJOY =D.

 

“argh” Kepalaku terasa pusing. Begitu berat untuk membuka kelopak mataku. Kupaksakan untuk membuka mata. Perlahan-lahan aku membuka mata, walau semakin lebar aku membuka mata, kepalaku semakin pusing. Begitu membuka mata terlihat dengan samar cahaya putih. Ah… apakah aku sudah berada di dunia lain? Akhirnya, aku berhasil pergi dari dunia fana yang penuh kebullshitan. Sayangnya, ternyata aku belum pergi menuju akhirat. Ketika mataku sudah terbuka secara sempurna, aku baru sadar bahwa aku masih hidup. Ternyata cahaya putih itu berasal dari lampu neon. Jika aku belum mati berarti kini aku berada di….. segera kulirik tangan kananku. Tepat dugaanku, aku berada di rumah sakit. Kini di tangan kananku tertusuk jarum infus. Argh sial! Kenapa aku masih hidup juga?! Aigo, kepalaku pusing sekali. Aku pun memejamkan mataku kembali

Terdengar bunyi pintu dibuka. Seseorang masuk ke dalam kamar rawatku.

“Taeyeon-ah! Apakah kau sudah sadar?” dari suara dan gaya bicaranya aku tahu siapa yang datang. Tetanggaku yang sangat berisik.

“hm..” jawabku sekenaku

“ah syukurlah. Sebenarnya apa yang kau lakukan? Saat aku masuk rumah aku shock menemukanmu dalam keadaan mulut berbusa dan disamping mu itu ada sebotol obat racun serangga yang sudah kosong. Ada apa denganmu? Selelah itu kah kau menjalani hidupmu ini?”

Aku hanya diam tak menjawab.

“Ya! waeyo? Jangan diam saja!” hardik Heechul

“bukan urusanmu,Oppa!”

“ya! tentu saja ini urusanku! Kau ini tetangga terdekatku, sebelum ayahmu meninggal, beliau menitipkanmu padaku! Jadi aku harus tahu apa yang terjadi pada dirimu sebenarnya? Sebenarnya aku benci untuk mengatakan ini, karena ini membuatku terlihat tua, tapi melihat keadaanmu yang seperti ini akan ku katakan, anggaplah aku ini walimu! Aku akan bertanggung jawab apa yang terjadi pada dirimu!” lama-lama Oppa tampak kesal karena sikapku yang acuh akan perhatiannya

“kalau begitu, kalau aku anggap kau waliku yang bertanggung jawab atas diriku, apakah kau bisa menyelesaikan masalahku? Bisa kah kau melepaskan ku dari jeratan mereka?”

Oppa terdiam mendengar pertanyaanku. Cih, sudah kuduga pasti dia takkan mau dan takkan bisa.

“kau pasti tak mau kan membayarkan semua hutang yang ditinggalkan ayahku yang jumlah hingga 500 juta?” cibirku

“aigo, Bukan begitu Taeyeon-ah, tapi…..”

“tapi apa? Sudah kalau kesini hanya untuk merecok, pergi dari sini” usirku dengan kasar

“Hei! Bagaimana bisa kau mengusir dewa penolongmu? Harusnya kau berterima kasih padaku! Jika Aku tak berniat meminjam panci dari apartemenmu, kau pasti sudah pergi dari dunia ini! aku lah yang membawamu ke rumah sakit! Aku sudah melakukan kebenaran, kau malah mengusirku” omel Heechul

“kenapa kau membawaku ke rumah sakit? Kenapa kau tak membiarkan ku mati? Dengan membawaku ke rumah sakit, itu membuat pengeluaranku bertambah! Kau tahu kan aku tdak punya uang?! Jangankan untuk membayar biaya rumah sakit, biaya makanku pun tak ada!” hatiku mulai sakit mengingat betapa miskinnya aku.

“janganlah kau khawatirkan biaya rumah sakit, itu masalah gampang”

“YA!!!!” teriakku dengan histeris “oppa bilang ini masalah gampang? Siapa yang akan membayar semua ini?! memangnya kau punya uang untuk membayar semua ini? seharusnya kau tak menolongku! Kalau aku mati kau tak usah susah-susah mengeluarkan uang tabunganmu untuk membayar biaya rumah sakitku. Seharusnya kau membiarkanku mati, Oppa”

“kenapa kamu begitu ingin mati?, hah?” seru Heechul dengan penuh emosi

“aku ingin mati… aku ingin mati…” air mataku mulai menetes hatiku begitu sesak. Aku benar-benar tak kuasa menanggung beban hidupku ini “aku tak mau hidupku menjadi kotor, seberusaha apapun aku mencari uang, tapi tetap saja 500 juta takkan terkumpul hanya dalam waktu 2 bulan. Aku tak ingin hidupku dihabiskan di klub malam untuk memenuhi hasrat pria jalang”

Melihat air mataku yang mengalir deras, Oppa duduk ditempat tidurku, lalu dia menghapus air mataku dengan tangannya. Dengan nada yang lebih lembut dia berkata “aku tahu kau tak mau hidupmu seperti itu, dan aku pun tak ikhlas jika kehidupanmu akan seperti itu, tapi pasti ada jalan lain kan selain bunuh diri?”

“jalan lain apa? Aku tak punya pilihan lain. Aku tak mau hidupku menjadi pelacur, lebih baik aku mati saja!”

“tapi bunuh diri takkan menyelesaikan masalah!”

“tapi selain cara itu, aku tak tahu lagi jalan yang lain. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Nan eotte? Eotteokhae? Eottekhae?” tangisku makin terisak-isak. Betapa sakitnya hati ini jika mengingat kepedihan hidupku.  Aku pun terus menangis. Oppa hanya melihat ku dengan tatapan sedih.

Kini aku ingin sendiri dulu. Aku butuh waktu untuk merenungkan ini semua. Aku tak ingin diajak bicara dengan siapapun, karena itu aku pun mengusir Oppa “leave me alone,Oppa

ani, kau tak boleh ditinggal sendiri, bisa-bisa kau kabur dari sini” tolak Heechul

Ide bagus. Seharusnya aku mencoba hal itu

“tinggalkan aku sendiri,Oppa. Aku butuh waktu berpikir. Jebal”

“baiklah kalau itu maumu,tapi kau jangan kabur, apalagi mencoba bunuh diri kembali. hidupmu terlalu berharga untuk kau akhiri dengan cara kotor seperti ini” Pesan Heechul

Baca lebih lanjut