[REVIEW] THE LIAR AND HIS LOVER

Musik bisa menggambarkan berbagai acam situasi. Selain itu musik juga bisa menghubungkan kita dengan berbagai macam orang. Melalui musik juga kita bisa membangun hubungan pertemanan, kekeluargaan, bahkan rasa cinta. Drama The Liar and His Lover ini setidaknya mencoba menggambarkan hal-hal tersebut.

Drama yang bergenre romance, musical ini menceritakan seorang pemuda jenius musik, Kang Hangyeol. Dia merupakan seorang produser musik untuk sebuah band terkenal, Crude Play. Dia membuat musik terinspirasi dari suara-suara yang Ia dengar. Suatu hari Ia bertemu dengan seorang siswi kelas 3 SMA, Yoon Sorim yang memiliki suara indah dan bermimpi berkarir di dunia musik bersama anggota bandnya yang lain yang juga temannya sedari kecil, Baek Jinwoo dan Lee Kyusun. Sorim jatuh cinta pada pandangan pertama pada Hangyeol. Berbeda dengan Hangyeol, mulanya Ia mendekati Sorim hanya untuk kepentingan tertentu, sampai akhirnya Ia mendengar suara nyanyian Sorim. Hangyeol akhirnya mulai jatuh cinta pada Sorim. Bagaikan takdir pula, mereka bekerja sebagai musisi di sebuah perusahaan yang sama. Konflik anak muda dimulai lah saat Sorim meniti karir bersama teman-temannya sebagai Mush&co, sedangkan Hangyeol dan rekanya di Crude Play Seo Chanyoung berebut untuk menjadi produser bagi Sorim.

Awalnya aku enggak begitu tertarik nonton drama 16 episode ini. Saat membaca plot awalnya, aku merasa ah biasa saja. Lalu aku merasa mulai lelah dengan drama-drama yang berat. Akhir-akhir ini sebagian besar drama korea, walau bilangnya romcom, tapi tetap ada unsur thriller atau misterinya. Aku capek nonton drama yang begituan. Aku ingin drama yang benar-benar ringan, yang enggak usah mikir sama sekali. Aku hanya ingin menonton drama manis dan penuh lovey dovey. Setelah membaca komenan para Beannies, aku memutuskan untuk mengambil drama ini sebagai tontonan.

Drama yang cukup menyenangkan bagiku. Ringan tanpa perlu mikir. Lagu-lagunya juga cukup memanjakan telinga, apalagi suara Joy sebagai Sorim. Drama ini tuh remaja banget sih. Konflik cintanya sederhana saja, enggak terlalu banyak gangguan orang ketiga. Ya hanya kesalahpahaman sederhana yang enggak penting lah. Agak greget melihat kisah percintaan Hangyeol dan Sorim karena Hangyeol yang terus menyakiti Sorim dengan kebohongannya. Drama anak muda lah pokoknya, bright, cheerful, lovely 3 hal yang pati dirasakan setelah menonton drama ini.

Drama ini kan diadaptasi dari manga jepang. Di Jepangnya sendiri cerita ini sudah diangkat ke film layar lebar. Kalau sudah adaptasi begini pasti banyak yang membandingkannya antara adaptasi dan original. Seperti biasa, versi original biasanya lebih disukai, baik dari jalan cerita dan juga akting. Aku sendiri belum nonton yang versi film Jepang, jadi enggak tahu lebih menarik yang mana. Cun buatku yang hanay nonton versi drama koreanya, aku sudah cukup menyukai drama ini. Enggak terlalu masalah dengan jalan ceritanya.

Konfliknya enggak cuman masalah percintaan doang, tapi ada masalah pertemanan, hubungan rekan kerja, lalu konflik dengan industri musik itu sendiri. Kita jadi tahu dibalik layar produksi sebuah lagu dan sebuah grup itu kayak apa. Apa saja yang harus dikorbankan. Apa saja yang harus dilihat dan dpersiapkan. Disini juga kita bisa melihat konflik batin seorang Direktur musik, seperti CEO Sole Music Label, Choi Jinhyuk , Dia yang lulusan sekolah musik, tentu punya idealisme tersendiri akan musik. Cuman sebagai seorang CEO dia tentu perlu berpikir keuntungan, sehingga dia memakain jalan pintas kepada Mush&Co dan juga Crude Play untuk menggunakan pemain pengganti. Disini aku baru tahu ternyata alat musik juga bisa “lipsync”. Berbeda dengan CEO Who Entertaiment yang membawahi Sole Music Label, Yoo Hyunjung, Dia otaknya, sudah otak bisnis jadi yang dia pikir hanyalaah keuntungan. Mengambil orang paling berbakat sehingga tak perlu keluar uang banyak untuk melatihnya, dan bisa mendapatk keuntungan bear karena bakat orang tersebut. Berbeda dengan Direktur Choi yang masih mau mengambil orang yang perlu dilatih. Dia masih mau mengembangkan orang-orang tersebut karena melihat potensi. Terkadang keputusan dia memang tampak menyebalkan dan terlihat terburu-buru, bahkan merugikan anak asuhnya. Menurut CEO Yoo, saja Dia itu tidak konsisten. Cuman yang aku suka, karena dia tetap memiliki jiwa musisi, sehingga Ia bisa mengerti anak asuhnya, dan berusaha memperbaiki hal itu.

Lalu jangan lewatkan untuk menginvestasikan harapan kalian pada hubungan antara member Crude Play. Ini salah satu bagian favoritku. Kita bisa emlihat persahabatan yang benar-benar terjalin. Berhubung isinya pria-pria. Tentu wajar saja sering terjadi perselisihan. Saling ribut, maki, bahkan berkelahi. Hanya aja cowok mah enggak dibawa baper, enggak kayak cewek. Mereka besoknya baikkan lagi, seperti tak terjadi apa-apa pada hari kemarin. Sebesar apapun keributan antar member, terutama pada Hangyeol, tidak akan berpengaruh pada persahabatan yang telah mereka jalin bertahun-tahun. Seperti konflik antara Chanyoung dan Hangyeol. Selian konflik cinta, mereka juga terlibat konflik sebagai produser. Cuman sehebat apapun konflk mereka, hubungan pertemanan mereka enggak terganggu. Mereka juga tetap saling mengakui kehebatan masing-masing.  Aku pikir konflik yang terjadi pada mereka akan bikin mereka putus hubungan atau saling membenci seperti makjang-makjang pada drama korea umumnya. Ternyata enggak sama sekali. Mereka tetap berkomunikasi seperti teman biasa. Kalau konflik sedang emmanas, mereka hanya saling sindir, dan sedikit sikut-sikutan. Selebihnya biasa saja. thanks drama god! Mereka enggak usah musuhan hanya karena hal itu. that’s why I like this drama.

Hal menarik untuk dikupas antara hubungan member Crude Play adalah hubungan Chanyoung dan member Crude Play. Chanyoung awalnya ada pemain pengganti Bass untuk Hangyeol. Namun Hangyeol akhirnya memilih mundur dan menjadi produser untuk Crude Play, sehingga Chanyoung ditarik menjadi member Crude Play. Awalnya, member Crude Play yang lain tak menerimanya. Ya maklum saat itu mereka masih muda, tapi tak butuh waktu lama mereka menerima Chanyoung. Disitulah Chanyoung merasa tersisihkan. Ia merasa kalau dirinya hanyalah pengganti. Ia merasa bukan bagian Crude Play, karena member yang lain sudah berteman dari lama, seedangkan Ia hanyalah orang baru yang menggantikan Hangyeol. Ditambah saat masalah leaked video member Crude Play latihan, tapi memakai bass permainan Hangyeol. Disitu Chanyoung makin merasa tersisihkan dan dianggap. Padahal selama ini hanya kesalahpahaman dia. Member Crude Play yang lain termasuk Hangyeol tak merasa Chanyoung adalah pengganti. Mereka menganggap Chanyoung adalah sahabat mereka, bagian dari Crude Play. Bahkan masalah video latihan mereka tak menggunakan Bass Chanyoung, demi kebaikan Chanyoung dan Crude Play, bukan karena mereka ingin bermain dengan Hangyeol. Leader Crude play, Yoo Sihyun pun meminta maaf jika dulu sikap awal mereka tidak menerima Chanyoung. Tapi itu hanya diawal. Saat debut pun Sihyun sudah menerima Chanyoung sepenuh hati. Chanyoung sendirilah yang membangun benteng diantara mereka. Selama ini hal seperti itu hanya ada dipikirannya. Dia hanya merasa tidak percaya diri dan tak enak karena merasa sebagai orang luar tiba-tiba masuk. Dia hanya butuh pengakuan dan kepercayaan baik dari Direktur Choi tentang masalah produser untuk Mush&Co dan juga dari teman-teman Crude Playnya. Untunglah Chanyoung pada akhirnya mengerti dan mendapat kepercayaan itu.

Baca lebih lanjut

[FF] RUDE AND HER TRAUMA (after Story NOT A BAD THING)

Title               : rude and her trauma (after story not a bad thing)

Rate               : 15+ mianhae

Genre             : a ROMANCE manis alay gitu

main Cast     : KIM JONGDAE (CHEN EXO), WENDY SON RED VELVET

other cast   : byun baekhyun exxo, kang seulgi red velvet

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH comeback!!!

Disclaimer   : ini after storynya FF ku yang NOT A BAD THING. Lagipula aku kangen banget bikin FF dengan cast Chendy. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D

Tuk..tuk.tuk… Tuk..tuk.tuk…

Baekhyun memperhatikan sahabatnya sekaligus rekan kerjanya, Jongdae. Jari Jongdae terus mengetukkan dirinya ke meja. Ia selalu melakukan hal itu jika otaknya sedang berpikir. Entah berpikir untuk mencari ide, berpikir mencari jawaban, ataupun berpikir karena khawatir, pasti yang Ia lakukan mengetukkan jarinya secara berirama. Baekhyun sudah mengenal Jongdae bertahun-tahun hapal betul kebiasaan Jongdae satu itu, bahkan Ia hapal betul apa yang sedang dipikirkan Jongdae melalu iramanya. Kini iramanya terdengar lambat dan panjang. Sudah dipastikan Jongdae sedang mengkhawatirkan sesuatu, bukannya memikirkan konsep acara radio mereka untuk minggu depan.

Ya! what’s going on? Wae?” Tanya Baekhyun. Jongdae diam saja tak menjawab.

Wah ini anak keasyikan mikir kayaknya.. “Ya!! Kim Jongdae!!!” Baekhyun mendaratkan kepalan tangannya di atas kepala Jongdae. Jongdae langsung mendongak kaget.

“Hah? Mwo?

“Ada apa? Kau sedang asyik tenggelam dalam pikiran apa? Gwaenchana?

Jongdae menganggukkan kepalanya “it’s okay! Aku lagi berpikir konsep untuk minggu depan kok.”

Baekhyun langsung mencibir begitu mendengar jawaba Jongdae. “Ya, Kim Jongdae! Kau pikir aku tak tahu dirimu apa? Kita sudah kenal bertahun-tahun, aku tahu kebiasaanmu mengetukkan jari ke meja dengan irama lambat dan panjang. Itu artinya kau sedang mengkhawatirkan sesuatu! Katakanlah… ada apa?”

Jongdae menghela nafasnya. “yeah you know me so well!” Jongdae tak langsung menjawab pertnyaan Baekhyun. Ia mengambil ponselnya yang terletak di meja, dan langung menelepon. Tak lupa juga Ia loudspeakerkan teleponnya agar Baekhyun dapat mendengarnya.”

The number you are calling is not active or out of scope area. Please try again later  in few minutes”

“Dengarkan? Kamu tahu apa yang ku khawatirkan?” Jawab Jongdae sambil menunjuk-nunjuk ponselnya.

“ah… Wendy? Lah tapi biasanya juga kalau dia enggak bisa dihubungin kamu enggak secemas ini. Paling hp dia habis baterai.”

“Masalahnya bukan itu! Aku yakin dia sengaja mematikan hp dia. Dia pasti lagi enggak mau berkomunikasi denganku.” Keluh Jongdae sedih.

What happened? Apa yang terjadi sampai pikiran kamu fokusnya cuman ke Wendy seorang?”

“Kemaren aku berantem sama dia… jadi….”

 

–Malam Sebelumnya–

“Hai, Seul… Wendy masih di lab?” Tanya Jongdae.

“Wah barusan banget dia pulang.” Jawab Seulgi.

“Pulang? Sama siapa?”

Seulgi menggelengkan kepalanya. “Entah, tapi sendiri kayaknya. Dia bilang mau naik bis kalau enggak salah.”

“Oke, makasih seul!” Jongdae pun langsung menuju mobil untuk pergi menuju halte bis dekat kampus Wendy –yang juga kampusnya dulu –. Ia berharap Wendy belum mendapatkan bis. Setibanya di halte orang yang Ia cari masih berada disana. Duduk diam termenung sendiri sambil ditemani alunan lagu yang mengalir melalui headset ke telinganya. Jongdae langsung keluar mobil menghampiri Wendy.

“Kenapa pulang sendiri? Enggak nunggu aku?” Tanya Jongdae cemberut.

“Kan kamu lagi siaran, terus ada rapat juga kan? Ya sudah aku enggak mau ganggu.” Jawab Wendy santai sambil terus mendengarkan lagu.

“Tapi ini sudah jam berapa? Hampir jam 10 malam, Wendy! Aku kan sudah bilang, kalau aku bisa kok jemput kamu bentar, habis itu aku balik ke kantor!”

Oppa, aku bisa pulang sendiri kok. Aku sudah biasa.” Wendy coba menenangkan Jongdae.

“Kamu tuh ya selalu gini. Apa-apa sendiri. Suka enggak cerita-cerita. Terkadang aku merasa enggak dianggap sebagai pacar.” Jongdae mulai sinis.

“Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?” Wendy langsung melepas headset ditelinganya.

Baca lebih lanjut

[FF] Missing Tile Syndrome

Title               : MISSING TILE SYNDROME

Rate               : PG 13+

Genre             : apa ya aku bingung? Hmmm LIFE dengan sentuhan ROMANCE sedikit

main Cast     : IRENE (BAE JOOHYUN) RED VELVET, CHOI MINHO SHINEE

length           : One shoT

Author          : maafin HANAN HANIFAH baru ada ide setelah baca kaskus

INSPIRED        : Salah satu HT di kaskus judulnya “MISSING TILE SYNDROME”. Trit yg bagus gan, menginspirasi banget dalam kehidupan nyata dan perfanfic-an wkwkwk. Kalian bisa baca tritnya disini. *kalian harus baca trit itu, bagus*

Disclaimer   : Sebenarny,a ini sudah selesai dari bulan Juni, bisa dilihat dibawah tanggal dan waktu aku selesai menulis ff ini. Hanya saja aku saat itu belum punya kuota. Maklum, liburan pemasukan terpangkas 70% jadi baru aku posting sekarang. Ya walau enggak ada adegan so sweet so sweet yg berarti, tapi aku masangin Minho-Irene karena lucu aja lihat Minho godain Irene terus pas Minho jadi Mc peluncuran minialbum Red Velvet – Ice Cream Cake. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY.

“Gimana penampilan aku hari ini?” Tanya Irene sambil memutarkan badan.

Minho melihat pakaian yang dikenakan kekasihnya itu dari atas hingga bawah. Mini dress bermotif garis vertikal hitam putih tampak membuatnya anggun dan juga chic. Rambutnya Ia biarkan tergerai dengan pemanis jepit disudut kanan kepalanya. Ah Irene selalu tampak cantik dimatanya, hanya saja Ia merasa sedikit janggal saat tiba dibagian bawa. Sepatu.

“Itu heelsnya enggak ketinggian?” Minho melirik khawatir.

“Iya sih ini tinggi banget, 20cm. memang kenapa? Aneh?”

“Enggak sih, tapi kelihatannya kamu kurang nyaman.”

Irene melirik sepatunya dengn raut sedih “Memang sih, aku agak sedikit susah berjalan, tapi mau gimana lagi, biar aku terlihat tinggi di kamera.”

“Ya sudahlah, ayo!” Mereka berdua pun langsung meluncur ke tempat tujuan. Hari ini ada sebuah casting untuk presenter sebuah acara mengenai fashion di televisi kabel. Irene ingin mencoba casting tersebut karena salah satu mipinya adalah menjadi presenter sisebuah acara regular sebuah televisi. Ia ingin maju tak hanya berkarir menjadi penyiar radio atau mc acara off air saja, tapi juga ingin merambah dunia on air juga.

Setibanya di tempat casting, terlihat sudah banyak peserta yang mengantri. Sebagian besar peserta tampakny seorang model jika dilihat dari badan mereka. Badan langsing ditambah kaki jenjang yang membuat tubuh mereka menjulang tinggi. Hal ini membuat Irene menjadi minder.

“Minho, lihatlah, mereka tinggi-tinggi. Sangat jauh jika dibandingkan dengan aku.” Irene tertunduk sedih. Ia merasa saingannya sangat berat.

“Ya terus kenapa kalau mereka tinggi-tinggi?”

“Ya kesempatanku untuk lolos kecil. Ingat tidak casting untuk acara fashion di stasiun sebelah sebulan lalu? Orang yang lolos adalah seorang model dengan tinggi 170cm, sedangkan aku? 160cm pun tak sampai.” Keluh Irene sedih.

“Kamu ini mau audisi jadi presenter bukan model, jadi tinggi badan kan bukan faktor utama, tapi faktor pendukung.” Minho berusaha menenangkan Irene. Jika sudah merasa minder Irene benar-benar akan merasa rendah diri dan tak tenang sehingga Minho harus berusaha membuat Ia tenang.

Namun Irene malah semakin tak tenang. Ia malah makin berkeluh kesah. “Ya tapi kan faktor pendukung juga penting. Untuk sebuah acara mengenai fashion seperti ini, tak hanya kemampuan dan pengetahuanku saja yang penting, tapi penampilanku juga. Apakah aku cukup stylish, atau badanku cukup bagus tidak untuk dijadikan model fashion mereka. Oleh karena itu mereka cenderung menyukai yang memiliki badan tinggi layaknya model karena mereka akan bagus jika dipakaikan apapun pada badannya.”

Irene menatap nanar pada peserta lainnya. “Lihat kulit mereka mulus-mulus, sedangkan wajahku sedang penuh hiasan.” Cemberut Irene yang wajahnya memang sedang ada jerawat beberapa biji.

“Ya tapi jerawat kamu kan pengaruh hormon, kalau periodemu sudah beres, jerawat itu kan hilang sendirinya kan?” Minho mengelus muka Irene untuk membuktikan bahwa jerawatnya bukan masalah.

“Tapi tetap saja di kamera akan terlihat jelek. Ah eotteokhae? Haruskah aku gagal karena hal semacam ini?”

“Ya enggak lah. Masa mereka mengeliminasi kami kaena tinggi badan dan jerawat saja?”

“Kata siapa enggak?!” Seru Irene Kesal. “Casting kemaren aku gagal Karena itu. Peserta yang lolos memiiki kemampuan yang sama denganku, tapi karena badan dia lebih tinggi daripada aku, jadi dia yang dipilih! Makanya sekarang pun pasti begitu, ah.. apa yang harus ku lakukan?” Irene malah jadi panik sendiri, padahal yang ada dipikiran dia belum tentu terjadi.

“Aku harus menambah aksesoris apa lagi agar terlihat tinggi? Ah aku juga harus menambahkan bedak agar jerawatku tak terlihat.” Irene sibuk mengeluarkan bedaknya dan kembali merias diri. Minho yang melihat Irene seperti itu jadi geleng—geleng sendiri.

“Joohyunni, kamu itu kena missing tile syndrome!” Celetuk Minho.

Baca lebih lanjut

[FF] Not A Bad Thing

Title               : not a bad thing

Rate               : 13+ pastinya

Genre             : a ROMANCE lovey dovey nan alay

main Cast     : KIM JONGDAE (CHEN EXO), WENDY SON RED VELVET

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAHnya lagi punya ide dan mood buat ngerjain, Alhamdulillah.

INSPIRED        : FROM TWO OF MY FAVORITE SONGS, AT GWANGHWAMUN BY KYUHYUN AND NOT A BAD THING BY JUSTIN TIMBERLAKE

Disclaimer   : Fyi, aku ngeshippin bgt mereka. Semenjak sebelum Wendy debut, aku udah ngeship Chendy. Aku mikir-mikir kira-kira siapa yang cocok buat Chen, dan yang terpikir adalah Wendy, dan aku merasa mereka cocok, jadi aja suka sama couple ini XP. Dua-duanya bias aku nih ahahaha. FF ini untuk kalian chendy hehehe. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D AND HAPPY NEW YEAR 2015 ^^.

 

 

Angin berhembus cukup kencang. Salju menyelimuti tipis permukaan jalan. Udara dingin yang menusuk tulang seperti ini membuat orang bermalas-malasan dalam rumah dengan penghangat, namun tak sedikit juga yang masih banyak berkeliaran di jalanan, dan Jongdae termasuk orang yang mau memakai jaket tebal agar menjaga suhu tubuh tetap hangat saat diluar. Suhu udara malam ini sanggup membuat air raksa menyentuh nyaris angka 0 pada termometer. Suhu yang sanggup membekukan cairan dengan rumus kimia H2O, tapi menurut Jongdae tak hanya air saja yang dapat membeku, harapannya pun kini nyaris membeku.

Sejak pukul lima sore hingga kini jarum jam mencapai angka delapan Ia duduk dibangku dingin ini. dittengah hirup pikuk namsan. Tak habis pikir mengapa Ia bisa menanti selama ini ditengah cuaca yang membuat nafasnya menjadi pendek. Semua ini berawal dari obrolan kemarin sore. Kalau saja sore itu Ia tak membicarakan hal serius, Ia takkan berada di tempat ini.

Sore itu, Jongdae baru saja selesai berlatih drama musikal di kampusnya. Ia melihat “gadisnya” yang juga baru selesai latihan yang sama dengannya, sedang duduk di bawah pohon dengan kaki terlentang dan bahu tersandar. Ia tampak kelelahan dan meminum air mineral dari tempat minum yang selalu Ia bawa. Padahal udara cukup dingin untuk berdiam diri di taman, namun Wendy tampak menikmati itu. Tentu saja, melihatnya sendiri membuat Jongdae menghampiri gadis itu.

“Wendy!” Sapa Jongdae sembari duduk disampingnya.

Ne, Sunbae?”

“Haish… aku bosan mengingatkanmu berkali-kali! Jangan panggil aku Sunbae, tapi panggil aku Oppa!”

Ucapan jongdae itu hanya ditanggapi Wendy dengan delikan dan senyum masam. Mulanya mereka hanya mengobrol ngalor-ngidul, sampai akhirnya entah bagaimana mereka dapat mencapai suatu obrolan yang serius –Setidaknya bagi Jongdae–.

“Wendy, selama setahun ini aku mengejarmu, ada beberapa orang juga yang berusaha mendapatkanmu, tapi kenapa hanya aku saja yang tetap bisa berada didekatmu?” Tanya Jongdae penasaran.

Wendy melongo mendapat pertanyaan aneh dari seniornya itu. “Ya itu semua karena kau tak gentar, padahal entah sudah berapa kali aku menolakmu.”

“Bukan itu maksudku! Ya dari semua lelaki yang pernah mendekatimu, kenapa kau membiarkanku tetap berada didekatmu, terus mencoba, sedangkan lelaki lain yang sudah kau tolak, benar-benar kau tolak. Kau mencoba menjauhi mereka, kenapa tidak denganku?”

Wendy menghela nafas. Ia menegak air kembali. “Entahlah. Mungkin karena aku tak mau kehilanganmu sebagai teman. Setiap mengobrol denganmu, aku selalu merasa senang dan nyaman. Aku tak mau kehilangan hal itu.”

“Berarti itu menunjukkan kau punya rasa padaku kan? kalau begitu untuk apa kita hanya jadi sekedar teman?” Protes Jongdae.

“Aku pun tak tahu perasaan apa yang ku punya terhadapmu.” Wendy menggeleng lemah. “Apa benar-benar hanya sebagai skedar teman berbagi cerita atau memang aku punya perasaan padamu. Aku ragu akan hal itu.”

“Apa sih yang buat kamu ragu denganku?”

Sunbae, kau tahu kan aku punya sedikit trauma…”

Mendapat jawaban seperti itu, Jongdae berdecak kesal. “Ya,Wendy! Kau sudah mengenalku setahun kebelakang ini. aku benar-benar sudah menunjukan aku apa adanya. Kau tahu kan aku takkan menyakitimu baik fisik maupun hati seperti mantanmu dulu!”

“Aku tahu… tapi tetap saja aku masih punya ketakutan akan hal itu.”

“Wendy, tolonglah, coba buka hatimu. Biarkan lah kau merasa jatuh cinta, jangan merasa takut. It’s not a bad thing for try and fall in love!

Jongdae menyandarkan bahunya ke batang pohon. Ia memejamkan matanya dan mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. “Sejujurnya, aku sudah mulai lelah, dan aku sudah mulai merasa aku tak mau memperjuangkan sesuatu yang sia-sia. Jadi tolong pastikanlah perasaanmu padaku! Jika tidak ada, maka aku akan mulai menjauh darimu.”

Wendy terkejut mendengar hal itu. “Sunbae! Tak bisakah walau aku tak menerima perasaanmu, tapi kita tetap berteman seperti ini. ya bisa mengobrol banyak hal, saling berbagi cerita, ya layaknya seorang teman dan sahabat.”

Jongdae mendengus sebal. “Heol… Enak banget ya jadi perempuan, bisa minta seperti itu! Wendy, maafkan aku. Aku melihatmu selama ini sebagai perempuan, dan akan sangat sulit untuk menjadi teman selama aku melihatmu sebagai perempuan.”

“Aku memang egois. Maafkan aku, Jongdae Sunbae.” Wendy tertunduk sedih.

Jongdae tak tega melihat perempuan yang sudah mengisi hatinya itu bersedih, tapi bagaimana lagi Ia butuh ketegasan. Mau tak mau, Ia harus membicarakan hal ini.

“Tolong pastikanlah hatimu. Besok kutunggu kau di Namsan Tower jam 5 sore. Jika kau mau membuka hatimu padaku, datanglah. Akan kutunggu kau sampai jam berapapun. Ini merupakan perjuangan terakhirku untuk mendapatkanmu. Jika kau tak datang, aku akan menyerah. Aku takkan mencoba lagi untuk menaklukan kamu.”

Baca lebih lanjut