[REVIEW] SUSPICIOUS PARTNER

SUSPICIOUS PARTNER

Genre : Romance, Thriller, mystery, omedy

Episode : 40 x 30 menit (20 x 60 menit)

Sinopsis : Eun Bonghee seorang mahasiswi hukum yang sedang menjalani masa kerja praktek di kejaksaan dengan mentor seorang jaksa yang keukeuh, No Jiwook. Hubungan mereka diawali dengan sebuah kejadian buruk, ditambah Jiwook bukanlah mentor yang baik bagi Bonghee. Setelah menjalani 3 bulan kerja praktek dan Jiwook mulai mengakui Bonghee, Bonghee tiba-tiba tersandung kasus. Ia dituduh telah membunuh mantan kekasihnya di apartemen Bonghee. Bukti cukup memberatkan Bonghee, padahal Bonghee bukan pelakunya. Jaksa untuk kasus itu adalah Jiwook. Jiwook mulanya ikut menuduh Bonghee, namun ketika Ia menemukan kejanggalan terhadap barang bukti, Ia melepaskan Bonghee. Akibatnya Jiwook harus mundur dari kejaksaan dan berprofesi sebagai pengacara. Dua tahun kemudian Bonghee telah menjadi pengacara, namun karena kasus yang menimpa dirinya, dan juga pelaku sebenarnya belum ditemukan, namanya belum bersih, sehingga Ia kesulitan mendapatkan klien. Akhirnya Ia bekerja dibawah firma miik Jiwook. Mereka berdua bekerja sama untuk mencari peaku sebenarnya dibantu dengan orang-orang di tim Jiwook.

Why I Watched : my only reason is Ji Changwook. It will be his last drama before enlistment.

Kesan : Muahahahahahaha kocak aseliiiiiii.  Aku merasa amat terhibur dengan komedinya. Romansanya dapat, sukaaaa dan yaaa watchable laaaah….

The interest thing : komedinya juara sih. Humornya sesuai selera aku, dan yang aku suka adalah konsisten. Darri awal hingga akhir episode tidak lupa disisipkan humor. Walau lagi sedih-sedihnya tetap saja humornya enggak terlupakan. Lalu karakternya pada asyik semua menurutku. Enggak ada yang menyebalkan kecuali eu penjahatnya. Aku pikir second lead femalenya aka bitchy tapi nyatanya jauh dari kata itu. kocak sih sih karakter SLFnya, tampak chic,cool tapi ternyata dia tingkat kepedeannya tinggi. Hubungan kekeluargaan tim Jiwook juga amat terasa dan jelas jadi bumbu kelucuannya. Ditambah lagi aku suka dengan misterinya yang bikin penasaran. Aku penasaran banget dengan background dan motif si pembunuh berantai tersebut, dan sialnya kita baru tahu motifnya di akhir episode.

The Bad Thing : Fokus ceritanya euy…. Drama ini memiliki start yang bagus. Kita diawal diarahkan tentang kasus pembunuhan, membuktikkan ketidakbersalahan Bonghee. Begitu pelakunya ketemu, mereka berusaha mencari bukti, eh tapi kenapa tiba-tiba pelakunya amnesia? Selama amnesia ini fokusnya jadi agak bergeser ke masa lalu orang tua Jiwook dan Bonghee, terus malah putus lagi gara-gara masalah itu. aku pikir itu enggak penting deh. Agak klise, walau aku mengerti sih kenapa mereka putus, tapi aku merasa latar belakang orang tua mereka itu enggak ngaruh ke plot utama. Ya paling ke perkembangan hubungan Jiwook dan Bonghee, itu juga enggak begitu berkembang banyak. Aku frustasi sumpah pas lihat mereka putus. Haruskah gitu? Harusnya sih tanpa ada kisah tentang trauma dan orang tua mereka berdua, cerita ini akan tetap jalan dan menarik. Kisah itu hanya menambah list kecurangan kepala jaksa wilayah saja. Berasa banget filler biar jalan ceritanya sampai 40. Aku rasa drama ini harusnya cukup 32 (16) episode saja. Lalu aku merasa misterinya agak nanggung karena ingin fokus juga ke romance jadi berasa kurang greget dikit, apalagi kasus-kasus kecil yang ditangani mereka, enggak begitu ke eksplor. Ya paling ada yang ngaruh untuk ingatan Jiwook yang hilang. Kalau dari segi misteri kasusnya, aku masih menikmati I Remember You dibanding drama ini karena kedua drama ini berasal dari penulis yang sama. Kalau I Remember You drama misteri bumbu romance, kalau drama ini kebalikannya drama romansa berbumbukan misteri.

Baca lebih lanjut

[REVIEW] CIRCLE

Genre science fiction bukanlah genre yang masuk dalam daftar genre favoritku, tapi bukan berarti aku enggak suka. Genre ini tuh termasuk hit or miss buat aku. Kalau cerita tersaji dengan apik, menarik, dan tentunya bagus, aku akan menyukai cerita dari genre tersebut. Namun kalau cerita science fictionnya tidak tersaji dengan baik, not well done, aku biasanya akan menghindari dulu film-film science fiction. Macam film Interstellar, bagus sih, tapi aku enggak ngerti, bahkan aku lupa ceritanya saking pusingnya. Jadi aku menghindari film-film science fiction untuk beberapa saat. Terakhir film Dr. Strange cukup menyita perhatianku akan genre sci-fi. Cuman ya gitu, aku enggak terlalu menggilai cerita itu. so far belum ada cerita sci-fi yang nempel  sampai berbekas di hati dan di ingatan, sampai pada akhirnya aku menonton  drama Circle yang bikin aku terbayang-bayang dan merasa kehilangan setelah menyelesaikan drama tersebut.

Circle merupakan drama bergenre science fiction, thriller, mystery. Drama yang berjumlah 12 episode ini memiliki 2 bagian cerita, yaitu part 1 mengenai beta proyek di tahun 2017. Sepasang kembar, Kim Woojin dan Kim Bumgyun di tahun 2007 mengalami suatu peristiwa yang mereka percayai melibatkan alien. Disitu mereka bertemu dengan seorang wanita cantik yang mereka percayai adalah seorang alien. Kemudian wanita itu dirawat bersama mereka dan ayahnya diberi nama Byul. Sampai suatu harri Byul dan ayah si kembar menghilang. Semenjak itu Bumgyun terobsesi dengan hal-hal berbau alien, sehingga menyebabkan dia di penjara. Woojin mencoba lebih realistis. Sampai tiba di tahun 2017, Woojin menjadi seorang mahasiswa yang cerdas. Di kampusnya sedang ada aksi perlawanan terhadap pihak rektorat karena biaya kuliah. Para aktivis tersebut tiba-tiba meninggal karena bunuh diri. Namun pihak kepolisian merasa ada yang janggal. Bumgyum yang sudah keluar penjara pun merasa itu semua perbuatan alien. Woojin sendiri mencurigai kakaknya, karena kakaknya terus menyelidiki alien. Bumgyum pun berusaha membuktikan bahwa alien itu ada dengan menunjukkan sosok seorang wanita yang mirip Byul. Wanita tersebut adalah Han Jungyeon. Namun Woojin tak percaya karena Jungyeon adalah teman kuliahnya. Walau begitu Woojin curiga akan sosok Jungyeon karena mirip sekali dengan Byul dan ada keanehan pada dirinya. Setelah diselidiki Jungyeon dan Bumgyun punya tujuan yang sama untuk mencari tahu kasus bunuh diri para aktivis. Sayangnya Bumgyun yang sedang menyelidiki tiba-tiba menghilang. Woojin pun panik dan berusaha mencari kembarannya itu dengan bantuan Jungyeon. Selama mencari Bumgyun, Woojin dan Jungyeon pun menemukan fakta mengejutkan.

Part 2 dari drama ini menceritakan Seoul ditahun 2037 Brave new world dimana Seoul dibagi menjadi dua bagian yaitu normal earth yang kondisi lingkungan yang buruk dan smart earth dimana kondisi lingkungannya amat terjaga dan semenjak 15 tahun berdirinya smart earth tidak terjadi kejahatan karena adanya stable care system. Warganya dipasang chip sehingga emosi dan ingatan mereka dapat terjaga, sehingga tidak akan terjadi kejahatan. Sayangnya 5000 hari tanpa kejadian itu harus ternodai dengan sebuah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang wanita. Pelaku pembunuhan tersebut merupakan korban kasus penculikan saat 20 tahun lalu. Pelaku tersebut menelepon kepolisian yang ada di normal earth karena di smart earth tidak memiliki polisi. Kim Joonhyuk adalah detektif yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus tersebut. Joonhyuk sendiri selain menyelidiki kasus pembunuhan tersebut, Ia juga menyelidiki mengenai smart earth dan stable care system yang diduga berkaitan dengan hilangnya orang terdekatnya. Apa yang terjadi di tahun 2037 ini merupakan hasil dari apa yang terjadi di 2017. Kedua timeline ini memiliki masalah masing-masing yang akan terjawab pada timeline yang berbeda dan masalah dan jawabannya akan saling terhubung.

Awalnya aku enggak minat nonton drama ini, karena seperti yang dibilang di awal genre ini tuh hit or miss banget buat aku. Apalagi korea dari segi film pun jarang membuat genre yang seperti ini. Jadi aku enggak begitu yakin. Cuman saat tahu drama ini hanya 12 episode dan komentar orang-orang yang mulai menonton drama ini pada bilang seru, jadi aku putuskan untuk menonton.

Wah finally I found my crack drama in 2017. I feel withdrawal syndrome after this drama ended. Cuman satu kata buat menggambarkan drama ini, “awesome!”. Drama ini seru banget. Begitu mulai nonton drama ini, 15 menit pertama saja sudah penasaran dan jatuh cinta. Selesai 1 episode, tanpa sadar pasti ingin lanjut-lanjut terus sampai selesai. Begitu selesai berasa hampa dan masih terbayang-bayang dengan kisah drama ini. Aku sampai kebawa mimpi adegan-adegan drama ini  hahahaha. Susah move on.

Akhirnya setelah sekian lama korea bertumpu dengan drama genre romcom, thriller, drama, mystery, mereka mencoba sebuah genre baru yaitu science fiction. Drama korea masih amat jarang mengangkat genre sci-fi. Walau drama ini memang tetap terdapat sentuhan mystery, thrillernya, tapi fiksi saisnya amat berasa. Dari awal kita sudah dibawa dengan alien dan pengetahuannya. Ditambah dengan kemajuan tekhnologi di tahun 2037, dimana kita bisa melihat rekaman dari memori seseorang. Lalu ada telepon virtual juga. Benar-benar sudah maju tekhnologinya. Kalau dari segi cerita fiksi saisnya difokuskan dengan stable care system yang ternyata sebenarnya bermasalah. Stable care system ini dapat disalahgunakan untuk merekayasa ingatan demi kepentingan pribadi, terutama perusahaan yang memproduksinya, Human B.

Misteri-misteri yang muncul bikin kita penasaran abis dan nagih. Kita jadi menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Kenapa di tahun 2037 bisa terjadi kayak gini? Apa yang terjadi sebenarnya di 2017? Drama ini tuh keren plot twistnya. Kalau enggak terlalu memperhatikan detail pasti enggak akan bisa nebak. Aku berapa kali terkejut dengan jawaban dari misteri yang ada. Beberapa kali kita dibawa ke kemungkinan-kemungkinan, ternyata jawabannya jauh dari kemungkinan. Seperti aku mengira awalnya Joonhyuk itu Woojin yang sedang mencari Bumgyun, karena vibe mereka sama banget. Ternyata dugaanku salah. Aku menyadari dia bukan Woojin saat melihat Joonhyuk membuat roti. Yang bisa membuat pastry adalah Bumgyun. Disitu aku terkejut akan fakta Woojin yang hilang. Lah? Kan di 2017 yang hilang Bumgyun, kenapa sekarang malah Woojin? Apa yang terjadi? Pokoknya saat kalian mengetahui sebuah jawaban, pasti akan muncul pertanyaan lain. Jawabannya itu bisa saja di timeline 2017 bisa juga di timeline 2037. Kita benar-benar harus memperhatikan kedua timeline dengan baik.

Kalau aku sih karena kadang suka melewatkan detail, jadi banyak yang jawabannya enggak aku duga. Lagpula karena aku baru kali ini aku menonton drama korea dengan genre sci-fi jadi aku belum bsa membaca polanya. Aku bisa menduga jawaban dari sebuah misteri itu adalah di detik-detik misteri itu akan terungkap. Seperti siapa sebenarnya ketua Human B. aku memiliki beberapa suspect tapi dari suspect itu tidak terbukti. Aku baru bisa menduga disaat ketua Human B tersebut mengkonfrotasi (?) walikota smart earth. Saat disitu aku langsung merasa curiga dan ternyata 1 menit keudian tebukti dugaanku. Aku cukup terkejut akan fakta itu, karena saat di tahun 2017, dia tidak begitu terlihat mencurigakan. Begitu juga saat tahun 2037, kupikir dia orang baik. Ternyata dia adalah dalang dibalik kekacauan yang terjadi di smart earth.

Cerita di 2017 sendiri juga penuh kejutan. Aku sudah pikir kemana, tahunya jawabannya berbeda sekali engan dugaanku atau kalau tidak dugaanku yang asalnya benar tapi sempat tergeser karena plot twist yang ditampilkan dlam cerita. Seperti dugaanku kalau Jungyeon memang Byul, awalnya aku sudah curiga dia memang Byul, tapi karena twist yang ada aku kira bukan, tahunya memang benar dia. Kalau kalian suka cerita yang tidak terduga, kalian benar-benar akan dimanjakan drama ini. Kejutannya benar-benar bikin kita berkata “Wah gila sih ini! Huh, daebak!”. Sudah tak terhitung kayaknya aku ngomong daebak selama nonton drama ini. Minimal disetiap episode saja ada daebak, apalagi menjelang akhir-akhir. Mantap jiwa pokoknya.

Aku senangnya drama ini juga karena enggak ada basa-basi. Langsung ke inti. Cerita rumit ini saja bisa selesai hanya dalam 12 episode saja. alurnya cepat tapi rapi. Enggak ada tuh yang namanya adegan enggak penting. Cerita seperti ini sebenarnya bisa saja dipanjangkan sedikit. Aku enggak keberatan kalau drama ini menjadi drama 16 episode, tapi ya 12 episode ini sudah komposisi yang pas. Awalnya drama ini rencananya hanya 10 episode saja, tapi mungkin kalau 10 episode masih ada yang kurang keeksplor. Alur yang cepat ini bikin nagih, dan stidaknya rasa penasaran kita enggak akan lama. Rasa penaaran kita akan terjawab ya maksimal di episode selanjutnya lah. Atau kalau bisa juga terjawab di bagian kedua dari drama ini pun terjawab. Detail drama ini juga bagus. Aku bisa merasakan perbedaan yang amat jelas antara 2017 dan 2037. Detail-detai tersebut juga ternyata bisa menjadi “sennjata” cerita yang tak terduga. Detail yang kita abaikan ternyata memegang peranan penting pada drama.

Baca lebih lanjut

[REVIEW] CHICAGO TYPEWRITER

Hobi nonton drama tuh, jadi bikin segala drama ditonton.berhubung segalanya ditonton, jadi sudah banyak ragam cerita, alur, dan genre yang kutonton. Hal ini membuatku jadi memiliki ekspetasi yang lebih tinggi setiap ada drama baru. Akibatnya, tingkat kepuasanku pada suatu drama jadi agak sulit. Menurut orang-orang rame banget, menurutku ya rame koook. Akhir-akhir ini aku jarang kena withdrawal syndrome drama. Banyak drama yang menarik, rame, tapi cuman sedikit yang bikin aku amat berkesan pada drama itu. akhirnya ada sebuah drama yang bikin aku masih selalu terbayang-bayang setiap adegannya. Melihat pemainnya sebagai karakter drama tersebut, dan kalau ingat adegannya masih merasa emosi yang menyayat. Aaah… Chicago Typewriter when it’s end, I feel so lost…

Drama berjumlah 16 episode ini mengusung genre fantasy romance yang cukup berbeda dari drama biasanya. Bukan hal yang baru sih.. tapi idenya cukup segar. Drama ini menceritakan seorang penulis bestseller Han Seju yang selain pandai dalam menulis, Ia juga memiliki wajah tampan layaknya selebritis sehingga membuatnya memiliki banyak fans. Salah satunya adalah Jeon Seol yang sudah menjadi fans Seju semenjak Seju belum jadi penulis ternama. Suatu hari Seju pergi ke sebuah kafe di Chicago untuk acara perilisan buku terbarunya. Di kafe tersebut terdapat sebuah mesin tik tua yang berasal dari korea yang menarik perhatiannya, namun sang pemilik kafe tidak mau menjualnya pada Seju. Malamnya, mesin tik tersebut memiliki kekuataan magis, dimana Ia engetik sendiri meminta untuk dikirimkan pada Seju. Mesin tik itu pun tiba di korea dan diantarkan oleh Seol kepada Seju. Disanalah Seol dan Seju saling mengenal. Semenjak kedatangan mesin tik tersebut, baik Seju maupun Seol memiliki mimpi aneh mengenai kehidupan saat jaman revolusi korea 1930. Seju pun memutuskan untuk membuat mimpinya menjadi cerita novel. Sayangnya karena banyaknya tekanan yang terjadi dan juga mimpi yang terasa nyata, membuatnya sulit menulis. Ia pun memutuskan untuk berhenti menulis, sampai tiba-tiba kantor penerbitnya menelepon jika naskah yang Seju buat sudah masuk. Seju yang merasa tidak membuat naskah itu pun bingung, sampai akhirnya dia menemukan ada orang lain yang menjadi ghostwriter dirinya, Yoo Jinoh. Jinoh, Seju, dan Seol pun ternyata memiliki hubungan di kehidupan sebelumnya.

Aku saat membaca plot awalnya langsung merasa tertarik. Aku penasaran dengan kehidupan penulis, aku ingin tahu seperti apa. Lalu ditambah erita tentang reinkarnasi dari tahun 1930. Aku belum pernah nonton drama yang berlatarkan cerita zaman revolusi dimana jepang sedang menduduki korea. Mana yang mainnya top semua Yoo Ah-in, Im Soojung, dan Go Kyungpyo kesayangan. Mereka semua dikenal dengan akting yang bagus-bagus. Jelas makin tertariklah aku menontonnya. Penulis drama ini juga, merupakan penulis drama Kill Me Heal Me yang menjadi salah stu drama kesukaanku. Kurang alasan apalagi coba buat nonton drama satu ini.

Aku enggak menyesal telah menginvestasikan 16 jam lebih waktu dalam hidupku untuk nonton drama ini. Drama yang indah, cerita yang menarik. Kisah cinta yang dibawakan secara unik. Setiap episode selalu menjadi lebih baik dan baik. Awal cerita yang enggak tertebak dan mengejutkan. Ya lumayan lah plot twistnya agak enggak tertebak. Aku pikir unsur fantasinya hanya ada pada kisah reinkarnasi saja, tapi ternyata pada karakternya juga. Agak horror sedikit sih, tapi tidak menakutkan kok.

Aku jujur cukup kaget dengan kenyataan Jinoh sebagai ghostwriter adalah ghostwriter secara harfiah, bukan konotasi. Soalnya benar-benar enggak terbaca kalau Jinoh itu hantu. Awalnya kita mengira Jinoh adalah kiriman dari Gal Jisuk, tapi ternyata bukan, disitu aku mulai bertanya-tanya. Aku agak curiga saat Seju bilang style Jinoh terlalu tua dan saat Jinoh bilang dia jatuh cinta pad apandangan pertama dengan Seol saat di bandara setelah kedatangannya dari Amerika. Cuman aku mengabaikan fakta itu. mungkin yang lebih ngeh pasti sudah curiga kalau Jinoh itu hantu.

Kisah cinta yang unik karena dbalut dengan cerita kehidupan mereka sebelumnya di tahun 1930an. Kita jadi penasaran dengan apa yang terjadi pada tahun 1930an itu. Apa yang takdir buruk yang terjadi pada mereka. Lalu juga kenapa bisa Jinoh terjebak di mesin tik selama 80 tahun lebih. Cerita pada masa lalu itu benar-benar bikin penasaran, dan yang bikin bumbu cerita makin menarik. Aku benar-benar menikmati setiap menit yang ada di drama ini. Konflik yang rollercoaster antara tahun 30an dan masa kini benar-benar menjadi kekuatan drama ini. Cerita tahun 30an nya menjadi sayuran segar dan tidak membuat cerita monoton.

Kenapa aku bilang kisah cinta yang unik. Soalnya sebenarnya ini drama romance, tapi kita dibawa dengan kisah masa lalu, dimana di masa lalu mereka tidak dapat bersatu. Kisah tahun 1930an nya benar-benar menyayat hati. Makanya di masa kini mereka membayar itu semua. Seju yang kebingungan perasaan berdebar yang muncul apakah karena Seol atau karena Ryu Suhyeon. Seol yang ngefans parah tapi berubah menjadi sebal akrena sikap Seju yang plin plan. Aku benar-benar menikmati proses jatuh cinta mereka. Dimana Seju yang sudah tertarik tapi merasa tak yakin dan gengsi. Pada akhirnya saat Ia harus menjaga Seol akibat persyaratannya dengan Jinoh, dia benar-benar menikmati waktunya bersama Seol dan sadar akan rasa cintanya pada Seol. Seol yang memang memimpikan menjadi istri seorang penulis pun jelas enggak bisa menolak perhatian Seju. Walau disatu sisi ada yang merasa patah hati, Jinoh. Lucu sih melihat Seju yang enggak pernah berkencan, dia berapa kali bikin kesalahan, tapi selalu berhasil menutupinya dengan baik. Seju yang benar-benar tidak menutupi rasa cintanya. Seperti kata Sekretaris Kang, Seju benar-benar seperti anjing Pavlov jika sedang jatuh cinta.

Persahabatan antara Seju jinoh dan juga Seol baik di masa kini atau masa lalu sebagai Seo Hwiyoung, Shin Yool, dan Ryu Suhyeon bikin drama ini makin sedap. Kalau di masa sekarang Seju awalnya menolak kehadiran Jinoh sebagai ghostwriternya lama-lama jika Jinoh tak ada Ia merasa khawatir. Persahabatan juga terjalin pada akhirnya. Aku senang Seol akhirnya bisa melihat Jinoh sehingga mereka bertiga bisa hangout bareng tanpa masalah. Kisah persahabatan di tahun 30an juga benar-benar teruji dengan baik. Mereka saling solid dan percaya satu sama lain. Walau terdapat kisah cinta segitiga, tapi mereka, terutama Hwiyoung berusaha memendamnya demi kemerdekaan Joseon. Indah banget lihat kisah persahabatan mereka. Walau padda akhirnya Yool “mengkhianati” karena rasa cintanya pada Suhyeon, tapi Hwiyoung tidak mempermasalahkannya. Ia mengerti mengapa Yool melakukan hal itu. Ia malah tidak merasa dikhianati. Begitu juga dengan Yool yang merasa bersalah, dia pun rela dibunuh Suhyeon untuk menebus “dosa”. Suhyeon memang marah pada Yool, tapi dia juga merasa bersalah dan mengerti. Ia tetap harus membunuh Yool karrena mengkhianati aliansi pemuda Joseon. Makanya saat mau membunuh dia tak yakin. Pas bagian ini benar-benar emosional banget. Hati benar-benar teriris. Tragis tapi entah kenapa aku merasa ini indah juga.

Baca lebih lanjut

[REVIEW] INDIVIDUALIST MS. JIYOUNG

INDIVIDUALIST MISS JIYOUNG

Berhubung ini mini drama jadi ku buat review singkat saja yaaa karena bingung sih mau bahas mendalam, enggak banyak yang bisa dibahas secara mendalam, tapi kalau enggak direview rasanya greget karena ini merupakan salah satu mini drama layak tonton. Berhubung aku sudah nontonnya berminggu-minggu lalu, jadi mungkin ada beberapa bagian yang enggak ke recall. Jadi harap maklum. Hope you enjoy it.

Genre : Romance, Drama

Episode : 2

Why I Watched : My puppy Gongmyung!! Plot awalnya juga terlihat menarik sih tentang orang yang individualis dan orang yang dependant banget sama orang lain.

Kesan : another heartwarming story. Wonderful Jadi berusaha (lagi) untuk memahami orang yang meemiliki trauma atau mental disorder

The interest thing : cerita yang female centrist ditambah karakternya enggak umum. Jiyoung punya rasa trauma yang bikin dia menjadi orang yang individualis. Awalnya kita pasti bakalan sebal dengan Jiyoung yang benar-benar enggak mau sama sekali berhubungan dengan manusia. Namun setelah kita tahu rasa sakitnya, kita benar-benar bersimpati, dan bisa merasakan emosi yang Ia rasakan. Begitu juga dengan karakter Byuksoo yang berbanding terbailk dengan Jiyoung. Byuksoo yang selalu ketergantungan dengan orang lain terlihat menyebalkan, tapi saat kita tahu juga rasa sakit yang harus Ia alami, lagi-lagi bikin kita simpati. Tokoh dan emosinya itu loh terasa nyata. Mereka saling melengkapi, memahami dan mengajari satu sama lain. Drama yang benar-benar bikin kita enggak mencap orang sembarangan. Orang seperti Jiyoung memang butuh bantuan orang lain, bukan untuk dijauhi. Byuksoo berani mencoba mendekatkan diri pada Jiyoung. Hubungan yang mereka jalin lama-lama dapat merubah diri mereka. Cara storytellingnya benar-benar bikin kita larut dalam emosi yang ingin disampaikan.

The Bad Thing : Apa yaaa. Aku rasa sudah cukup sih, ya paling masalah chemistry agak kurang dan cepatnya proses perubahan Jiyoung saat berkencan dengan Byuksoo. Tapi itu hal yang ku tolerir mengingat durasi hanya 2 jam saja.  sayang sih cuman mini drama saja, tapi kalau dipanjangin lagi episodenya, kayaknya bakalan enggak banget hehehe. Cerita mace mini memang cocok 2 episode saja.

Chemistry & Akting : chemistrynya kurang berasa sih tapi aku masih bisa merasakan musim semi saat melihat mereka bermesraan. Untuk akting Min Hyorin enggak wow sih, tapi disini iya bisa memerankan Jiyoung dan menyalurkan emosinya dengan baik. Begitu juga dengan Gongmyung yang memperlihatkan lagi potensinya sebagai aktor. Untuk ukuran mini drama, akting mereka sebagai lead cukup sih.

Second lead syndrome : mini drama macam ini takkan ada waktu untuk SLS. Second leadnya mantan masing-masing sih, enggak deh. They’re worst, mainly jiyoung’s ex.

Ending : puas sih, walau agak open ending tapi menuju arah happy ending sih. sStelah jujur dan berdamai dengan diri sendiri Jiyoung terlepas dari insomnianya dan juga mulai membuka diri. Sesi konselingnya pun dapat berakhir dengan baik. Perpisahannya dnegan Byuksoo, mebuat Jiyoung belajar banyak dan dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Aku senang Byuksoo benar-benar memberi waktu pada Jiyoung agar bisa berubah dan memahami diri sendiri. Mereka berpisah untuk menjadi pribadi lebih baik dan saat mereka bersatu, hubungan mereka akan semakin berkualitas. Suka banget sama cara Byuksoo tetap mengawasi Jiyoung dengan caranya sendiri. Pertemuan kembali mereka juga sederhana tapi indah.

Rate : 3,85 dari 5 poin. Amazing drama

Verdict : understanding each other isn’t a bad thing

[REVIEW] WHISPER

Sebelum aku mulai reviewnya, aku mau sedikit curhat dulu. Oke sekarang aku mau jujur. Aku akhir-akhir ini, eu lebih tepatnya setahun lebih kebelakang sedang mengalami semacam writer’s block. Hal ini sudah beberapa kali aku ungkit sih, cuman kalau kemaren-kemaren aku berusaha mengabaikan. Berasa gengsi saja, lebih tepatnya malu sih. Penulis amatiran ngak-ngaku writer’s block, tapi ya nyatanya aku jadi agak kesulitan menulis dan merangkai kata-kata. Sebenarnya ide yang mau aku tulis itu bejibun banget. Serius deh, tapi entah kenapa susah banget direalisasi dalam bentuk tulisan. Ketika sudah buka word, aku sering bengong untuk memulai. Kalau udah bingung trus ujung-ujungnya malas. Makanya aku enggak mau mengakui writer’s block, karena lebih tepatnya mungkin kemalasan memamng sudah terlalu menjangkitku dan pada akhirnya bikin sulit nulis.

Hal paling aku bikin sulit nulis adalah menentukan awal. Aku sudah tahu apa saja isi yang mau aku tulis, tapi aku enggak tahu harus mulai dari mana. Sebuah tulisan tentunya biasanya butuh kalimat pengantar alias pembuka, dan itu yang sering bikin aku bingung. Aku ingin mencoba ssesuatu yang beda, tapi pasti gitu-gitu lagi pembukanya. Monoton enggak sih rasanya? Setiap mau nulis review terutama, aku bingung mau bikin paragraf pengantar dari mana. Kalau kalian sudah pernah baca semua review aku, kalian pasti merasa kalau pembuka aku gitu-gitu saja, karena jujur aku bingung. Nampaknya aku masih butuh latihan, dan masih pada tahap coba-coba, seperti tulisan review kali ini.

Tulisan review kali ini aku buka dulu dengan curhatan yang sebenarnya enggak ada nyambungnya sama isi review. Cuman mungkin ke depannya aku bakalan bikin pembuka dari curhatan, kalau enggak ya balik lagi seperti biasa hahahaha. Maafkan ketidak konsistenan hamba. Kita lihat nanti ya apakah pembukaku masih gitu-gitu saja atau ada perubahan. Kali ini mood aku cukup bagus untuk nulis. Beberapa hari kemaren aku baru menyelesaikan sebuah drama yang baru beres tayang sekitar 2 minggu lalu. Langsung aku babat habis dalam 2 hari. Aku ingin berbagi perasaan aku mengenai drama Whisper ini dengan kalian.

Drama Whisper merupakan drama bergenre legal thriller, politic, drama minim romance yang berjumlah 17 episode. Drama ini menceritakan tentang Lee Dongjun seorang hakim yang sudah 10 tahun berkarir dan dikenal tentang keadilannya. Disuatu persidangan, Ia menjatuhkan hukuman yang cukup berat pada anak seorang ketua mahkamah agung atas tindak penggelapan dana. Tak berselang lama dari persidangan tersebut, diadakan peninjauan kembali apakah hakim-hakim yang bertugas layak diangkat kembali atau tidak. Sidak itu diketuai oleh ketua MA dengan juri-jurinya. Akibat dendam pribadi ketua MA dan juga juri-juri yang kerabatnya pernah dihukum oleh Dongjun, karir kehakiman Dongjun terancam. Disaat yang sama Ia diminta oleh ayahnya yang seorang presdir RS Hangang, dr Lee Hobeom utuk menikahi anak dari CEO firma hukum terbesar Taebaek, Choi Ilhwan. Hobeom membutuhkan Ilhwan untuk menutupi kejadian malpraktek dan juga urusan hukum mengenai bisnis rumah sakitnya. Ilhwan membutuhkan Dongjun karena kecermatan dan kesamaan nasib.Ia berharap Dongjun memiliki ambisi yang sama dengannya sehingga dapat meneruskan Taebaek dengan baik. Namun Dongjun menolak permintaan untuk menikahi anak Ilhwan, Choi Suyeon. Akibat tekanan pengangkatan kembali hakim, Dongjun terpaksa menyetujui pernikahan tersebut. Selain menyetujui pernikahan, Dongjun juga diminta untuk membacakan putusan sidang yang telah dibuat Choi Ilhwan. Sidang tersebut merupakan kasus pembunuhan seorang reporter Kim Sungsik dengan terdakwa Shin Changho yang juga rekan kerjanya. Tentu saja pembunuh sebenarnya bukan Shin Changho. Kasus ini sebenarnya melibatkan sebuah kasus yang lebih besar lagi dimana orang-orang Taebaek terlibat. Putri Shin Changho yang merupakan polisi, Shin Youngju berusaha membuktikan ketidakbersalahan ayahnya. Ia mencoba menyerahkan bukti yang didapat pada Dongjun, karena Ia percaya pada Dongjun yang takkan mengabaikan bukti konkret. Sayangnya akibat tekanan, Dongjun berkhianat dan menyatakan Changho bersalah sesuai perintah CEO Choi. Youngju yang marah pun berusaha menjebak Dongjun agar Dongjun mau bekerja sama dengannya untuk menangkap pelaku sebenarnya dan meruntuhkan Taebaek yang busuk didalamnya.

Wah gila nulis plot awalnya saja sudah ribet banget. Seperti yang terlihat yang diplot awalnya drama ini memang ribet, padahal sebelumnya aku udah bilang kalau aku enggak mau nonton drama yang berat. Cuman, hei di drama ini ada Lee Sangyoon, Lee Boyoung, dan ahjussi rasa oppa ku, Kwon Yool!. Pas tahu Lee Boyoung comeback setelah 3 tahun vakum, terus ditambah reuniannya sama Lee Sangyoon setelah My Daughter Seoyung, plus ada Kwon Yool. Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan!!! Wkwkwk. Aku suka Lee Sangyoon semenjak Liar Game, tapi masalahnya drama dia setelah itu enggak ada yang menarik perhatianku. Pas baca plot awalnya aku agak males karena pasti bakalan penuh intrik antara orang berkuasa dan orang berduit. Cuman legal drama tuh salah satu genre favoritku. Lalu ditambah pemain yang bagus-bagus, jadi kenapa enggak dicoba?

Aku enggak nyesel sih ngikutin drama ini. Waah gilaaa memang legal drama memang selera aku. Ditambah disuguhkan dengan konflik yang solid. Konflikny itu loooh mantap jiwa. Sekalinya nonton drama ini, enggak bisa berhenti. Nagih abis. Selesai satu episode, rasanya enggak sabar buat lanjut ke episode selanjutnya. Cuman butuh 2 hari untuk menyelesaikan drama ini. Kalau aku enggak inget buat tidur kayanya bakal aku lahap sehari saja.

Konflik yang intense antar tokoh yang bikin ketagihan. Kita bakalan penasaran dengan apa yang selanjutnya terjadi. Setiap tokoh punya strategi dan rencana masing-masing yang sama-sama kuat. Disaat kita mengira  rencana protagonis akan berhasil ternyata rencana antagonis jauh lebih matang. Menariknya lagi pertarungan pun tidak hanya terjadi antara pihak protagonis versus antagonis, tapi juga perseteruan antara masing pihak juga ada konflik tersendiri. Apaagi diawal-awal konflik antara Dongjun dan Youngju cukup kuat ya. Mereka merasa bahwa mereka dan rencana yang dijalankan merupakan jalan terbaik. Youngju seringkali menentang rencana Dongjun karena Dongjun lambat dan lebih menguntungkan dirinya dan Taebaek, sedangkan Youngju ingin Taebaek runtuh.

Drama ini memang bergenre legal drama, tapi menurutku legalnya enggak terlalu berasa. Dunia hukum hanya menjadi latar belakang, karena konfliknya sendiri lebih ke pertarungan sesama tokoh seperti yang aku bilang sebelumnya, dibandingkan pertarungan di dunia hukumnya, walau tetap ada kok kasus hukum yang diangkatnya. Cuman pembuktian kasus itunya lebih disajikan dnegan konflik antara orang berkuasa, orang beruang, dan orang yang tidak punya keduanya. Kalau kalian nonton kalian akan benar-benar merasakan konflik yang solid. Kalian yang suka sama drama yang konfliknya berat, kuat, dan greget dijamin bakalan menikmati drama ini.

Konflik yang intense juga bikin banyak plot twisted di dalamnya. Aku berapa kali terkejut dengan rencana tidak terduga yang hadir di alur cerita. Serius aku baru sekarang lagi nonton drama yang penuh dengan plot twisted. Hampir di setiap episode ada. Mengingat alur drama ini memang cepat, jadi disetiap episode memang ada rahasia tersembunyi yang terkuak, sehingga jadi yaw ajar sih jadi banyak plot twisted. Anehnya banyaknya plot twisted ini enggak bikin aku capek sama drama ini. Yang ada malah makin nagih dan enggak sabar buat ngeberesin drama ini. Whisper ini kan penulisnya sama kayak drama Punch. Buat yang sudah nonton Punch, bakalan terbiasa sama plot twisted drama ini. Polanya katanya sih masih sama kayak di Punch. Berhubung aku belum nonton Punch, aku jadi belum bisa berkomentar mengenai hal itu. cuman ya berdasarkan opini yang sudah nonton keduanya, mereka sudah enggak aneh lagi dengan plot twisted yang ada. Buat yang belum nonton Punch, hal itu akan menjadi akan jadi kejutan yang bikin jantung excited, seperrti yang ku rasakan saat nonton ini. Oh iya ngomongin Punch, Whisper dan Punch ini ternyata 1 universe, karena nanti di episode terakhir aka nada cameo dari pemain Punch.

Lagi-lagi kalau drama yang menceritakan mengenai lapisan masyarakat kalangan penguasa, aku merasakan realita. Disini juga diperlihatkan hukum yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Banyak rekayasa kasus yang terjadi, dan aku juga jadi teringat akan beberapa kasus besar di Indonesia. Di Taebaek sendiri kan terjadi kasus mega korupsi yang melibatkan banyak pihak, nah hal ini mengingatkan ku pada kasus e-ktp yang sedang bergulir. Kasus ini juga sama melibatkan banyak pihak dan banyak juga yang belum terungkap. Realita yang dirasakan makin berasa dengan karakter para tokohnya. Aku merasa semua tokohnya itu abu-abu. Enggak ada yang tegas putih ataupun hitam. Seperti dikehidupan nyata. Banyak orang baik tapi karena keadaan terdesak mereka bisa merusak prinsip mereka dan berubah berbuat kejahatan. Begitu juga dengan orang jahat, biasanya karrena keadaan dan mereka masih memiliki sisi manusiawinya. Paling terasa keabuan karakternya jelas sih pada Dongjun. Dia hakim yang tidak akan mengabaikan bukti nyata, tapi karena posisinya terancam Ia pun jadi mengabaikan fakta tersebut. Kalau dari sisi antagonis ada Suyeon yang berusaha mengendalikan Jungil, tapi pada akhirnya menyerahkan bukti karena demi kesehatan mental ibunya. Setiap orang pasti memiliki sisi terang dan gelapnya, dan di drama ini digambarkan dengan baik karakter tersebut.

Baca lebih lanjut