Terindah

“Tok-tok-tok” terdengar suara ketukan pintu.. Aku hapal sekali irama ketukan yang terdengar. Pasti orang itu yang mengetuk. Dengan rasa malas aku terpaksa membukakan pintu untuknya.

Kubuka pintu ruang tamuku, dan benar. Itu adalah Dia.

“Permisi, Kinasihnya ada?” Sapanya dengan penuh sumringah.

“Kinasihnya lagi malas untuk ditemui!” Sahutku ketus.

“Jangan gitu dong Kin, pacarmu datang masa kau tak menyambutnya dengan baik.” Rajuknya dengan manja

“Masih inget punya pacar?”

“Masih dong, makanya aku mau minta kamu menemaniku untuk meliput.”

Aku yang sedang kesal dengannya, agak malas diajak pergi olehnya. “Aku lagi enggak enak badan!”

“Ayolah, kumohon… Kamu kan suka kesal karena aku terlalu sibuk, jadi sekarnag aku mau berkencan sambil bekerja.”

Aku menatapnya dengan tatapan kesal. Hari ini merupakan hari yang istimewa bagiku. Tepat di hari ini usiaku bertambah satu tahun. Teman dan keluargaku sudah memberiku kejutan, tapi apa yang dilakukan Lendra? Jangankan kejutan, ucapanpun tak keluar dari mulutnya. Kini Ia muncul dihadapanku hanya untuk menemaninya liputan. Saat sore hari pula. Sungguh sial aku memiliki kekasih yang cuek serta workaholic. Sudah dapat dipastikan Ia lupa, karena tahun lalu pun seperti ini.

“Sudah enggak usah banyak mikir. Ikut saja!” Serunya seraya menarik lenganku.

“Tunggu dulu. aku kunci dulu rumah.” Akhirnya dengan terpaksa aku mengiyakan ajakannya.

Sepanjang perjalanan, Ia terus saja mengoceh mengenai kegiatan magangnya disebuah Koran lokal di Bandung. Biasanya aku akan bersemangat menimpali ocehan-ocehannya, tapi kini aku hanya diam saja. Aku menutup telingaku dari omongannya. Aku bersuara hanya untuk menanyakan mengarah kemana motor yang Ia kendarai ini, dan Ia hanya menjawab lihat saja. Huh.. sungguh menyebalkan!

Ternyata motornya melaju ke daerah pinggiran cekungan Bandung. Awalnya kukira akan menuju Cartil karena melewati Cicadas, ternyata saat tiba di Cartil, Lendra tak menghentikan kendaraannya. Ia terus mengencangkan gas motornya. Saat itulah aku sadar, ternyata Ia akan membawaku ke Bukit Moko.

Perjalanan menuju Bukit Moko dapat membuat moodku membaik. Hamparan hijau kebun sayur disertai terpaan angin kencang dapat menenangkan hatiku, tapi tak cukup membuat kesalku mereda padanya. Hatiku yang sempat membaik kembali menjadi amarah karena mendekati wilayah Moko, jalanan yang terdiri hanya dari batuan dan tanah cukup membuatnya kelimpungan, sehingga aku harus turun dari motor dan membantunya untuk mendorong motornya.

Cukup melelahkan harus mendorong motornya dijalanan yang menanjak, namun kelelahan itu seketika terbayar dengan pemandangan yang disuguhkan. Seketika aku langsung lupa akan rasa kesalku. Betapa cantiknya pemandangan yang tersaji. Awan putih menaungi ribuan bangunan berdesakan mengisi cekungan Bandung. Deretan gunung yang mengelilingi Bandung menambah keindahan lukisan tuhan.

“Aku sengaja mengajakmu kesini. Selain agar bisa kita berkencan, agar ada orang yang bantuin aku untuk mendorong motor, hehehe.” Lendra duduk disebelahku sambil cengengesan.

Aku meliriknya dengan tajam. “Jadi kamu mengajakku untuk kesini hanya untuk mendorong motormu?”

Lendra menggeleng lalu tersenyum. Ia melirik jam tangannya. “Untung keburu. Enggak kok, sebenarnya ada alasan lain.” Tiba-tiba Ia berdiri dibelakangku, kemudian jemarinya yang besar menutupi mataku.

“Apaan sih? Enggak mau!” Seruku kesal

“Tutup matamu, percaya sama aku.” Dengan enggan aku menuruti perintahnya.

“Sabar ya, sebentar lagi.” Ucap Lendra dengan lembut. “Ah, saatnya. Satu…dua…tiga…”

Perlahan Ia melepaskan jemarinya. Kubuka kelopak mataku, dan mataku langsung melebar. Gradasi warna jingga menghiasi langit. Tampak dari kejauhan koin alam merah besar perlahan turun membawa sinar terangnya menjadi gelap.

“Selamat Ulang tahun, Kinasih Adiwangsa.” Lendra merangkulku. “Pasti kamu pikir aku lupa ulang tahunmu? Tahun ini aku ingat kok. Aku sengaja memberimu ini sebagai hadiah, aku ingat dulu kamu bilang ingin bisa melihat sunset di pantai bersama pacar. Aku tak bisa membawamu ke pantai, jadi aku membawamu ke moko untuk melihat sunset ini.”

Aku terkejut mendengarnya. Ia masih ingat ucapan selintasku tiga tahun lalu. Seketika hatiku langsung terenyuh. Marah menguap begitu saja, yang tersisa hanya rasa haru dan sayang.

“Lendra, makasih banget.” Ucapku dengan terbata-bata. Ia hanya terlihat cuek tapi dalamnya begitu perhatian. Bodoh, aku tak menyadari hal itu.  Maafkan aku Syailendra Bratakusuma

“Kamu suka?”

Aku mengangguk. “Kado yang indah. Terima kasih. love you, Len.”

—Tamat—

 

Cerita ini aku bikin selama 30menit *lebih sih ya sekitar 40-50 menit*. Ini dibuat pas lagi acara tantangan menulis bareng windry ramadhina yang diadain gagas media. Ini idenya dadakan banget. Maaf ya kalau aneh, soalnya ini pertama kalinya aku bikin flashfiction. Ini pasti ngaco banget. Pft… yasudahlah yang penting mencoba hehehe. MIANHAEYO klo jelek, karakterisasi kurang, klo banyak typo, dan eyd jelek. GOMAWO udah baca. don’t forget untuk meninggalkan jejak yaaa ;;). TOLONG juga jangan mengcopy atau memplagiat cerita ini. Kritik sarannya ditunggu loooh. sampai bertemu di cerita selanjutnya. Bubah~

 

Iklan

Lapar

Entah sudah berapa kotak dan tong yang penuh dengan sisa-sia makanan yang sudah kuacak-acak. Setiap tempat sampah yang kulalui kubongkar satu persatu untuk memenuhi kebutuhan energiku. Tubuhku sudah mulai melemah. Langkah kakiku mulai terseok-seok. Dipinggir jalan yang amat ramai dengan lalu lalang manusia dan hirup pikuk mesin, Aku mencoba lagi mengais dari tong sampah berwarna biru itu. Kuacak-acak seluruh isinya. Nihil. Tak ada yang bisa kumakan. Hm.. sebenarnya ada sih yang bisa kumakan, aku menemukan sisa tulang ayam, dan remeh ikan, hanya saja aku bosan memakan itu semua. Sudah hampir sebulan aku tak makan enak. Setiap hari aku memakan sisa-sisa itu semua. Makanya setiap aku menemukan sisa-sisa tulang di tempat sampah, aku menjadi tak bernafsu makan.

Duh.. perutku kembali berbunyi. Nampaknya cacing-cacing diperutku sudah berdemo meminta sari makanan. Dari matahari belum tinggi hingga matahari berada dipuncaknya, aku masih belum menemukan makanan yang ingin kumakan. Kebutuhan biologis ku memang penting, tapi hawa nafsuku pun sangat penting. Aku ingin memuaskan hasratku untuk menikmati daging yang benar-benar segar, atau setidaknya

Semilir angin menggelitik hidungku yang kecil. Angin itu membawa wangi yang begitu menggoda lidah. Perutku langsung bergejolak. Tampaknya cacing-cacingku tertarik dengan aroma tadi. Aroma itu berasal dari gedung yang ada dihadapan mataku. Ah tampaknya gedung ini sebuah tempat makan yang terkenal dan enak. Didepannya terdapat gambar seorang kakek tua gendut. Ah tampaknya si kakek tua ini pemilik restoran ini. Dia pasti kaya dan terkenal. Aku melihatnya dimana-mana, lagipula setiap aku lewat tempat ini selalu saja penuh. Dari luar aku bisa melihat mereka memakan ayam dengan lahapnya. Ah… aku makin saja tergiur. Nampaknya air liurku mulai menetes. Itu semua membuat pikiran gila melintas dihadapanku. AKU HARUS MENDAPATKAN AYAM ITU!

Memang saat kondisi lapar, apapun akan dilakukan demi kebutuhan perut, termasuk apa yang akan kulakukan kini. Seumur-umur aku baru kali ini memberanikan diri masuk ke tempat manusia makan dan berkumpul yang mereka sebut restoran. Selama ini jika mengais pada manusia, aku hanya mengais dari tempat makan pinggir jalan. Aku belum pernah mendengar dan melihat kaumku mengais makanan dengan masuk ke restoran. Nampaknya aku membuat sejarah baru. Aku memang nekat, tapi peduli iblis! Aku butuh makanan yang enak!

Percayalah, manusia itu mudah ditipu oleh makhluk sepertiku. Aku bertingkah sedikit menggemaskan saja, pasti mereka akan kasihan dan akhirnya memberiku makan, HAHAHAHA. Kita lihat saja, nanti pasti ada manusia yang memberiku makan.

Baca lebih lanjut

Come and Go (This Memories Will Always be There)

 

Pelayan meletakkan buku menu dihadapan Seruni. Seruni membuka lembaran daftar menu itu satu per satu, hingga lembar terakhir. Setelah mencapa lembar terakhir, Ia membuka beberapa lembaran sebelumnya. Di halaman itu lah Seruni memutuskan pesanannya.

“Mojito yang non alkoholnya satu.” Pesan Seruni.

“Makanannya?” Tanya sang Pelayan.

Seruni menggeleng pelan, “Nanti saja. Sekarang Saya pesan minum saja dahulu.”

“Baik.” Angguk Pelayan itu seraya pergi.

Sembari menunggu pesanannya datang, Seruni memperhatikan isi resto tersebut. Resto yang dikunjunginya kali ini bernuansa modern. Banyak furnitur dan ornamen-ornamen khas lifestyle masa kini. Musik yang mengalun menemani pengunjung makan merupakan musik yang sanggup menghentakkan tubuh dan kaki. Suasananya tak begitu ramai. Hanya ada segelintir orang saja di resto itu. Sekumpulan orang kantoran yang walau sedang hari libur tetap terpaksa bekerja berada di depannya. Disudut lain ada sepasang muda-mudi yang asyik bercengkrama. Sementara dibelakangnya ada beberapa wanita yang asyik bergosip, dan di arah jam dua ada seorang pria yang sedang sendiri sama seperti dirinya. Entah lah Dia sedang menunggu seseorang atau berniat datang sendirian.

Orang-orang berseliweran di Resto itu. Ada yang datang dan ada juga yang pergi. Seruni merasa keadaan resto tersebut layaknya hidup. Ada yang datang dan adapula yang pergi. Tak mungkin kita berada pada keadaan dan situasi yang sama untuk selamanya. Pasti aka nada yang berubah. Ada yang datang pada kehidupan kita, adapula yang pergi dari kehidupan kita.

Setiap kita pindah pada suatu fase kehidupan yang baru akan muncul orang-orang baru dan orang-orang lama perlahan-lahan akan pergi. Tentu saja hal itu sebenarnya tak ingin terjadi, tapi karena kita adalah manusia yang hidup pasti akan mengalami terus roda perputaran. Tak mungkin kita akan terus bersama orang tersebut untuk selamanya. Bersama keluarga pun takkan kekal. Ada yang dipisah karena perceraian, berpindah alam atau ketika beranjak dewasa perlahan-lahan anak-anak akan meninggalkan rang tua karena ikatan janji suci berupa pernikahan. Kelurga pun seperti apalagi teman yang pastinya akan mencapai masa dimana tidak bisa bertemu setiap hari, setiap bulan, bahkan mungkin setiap tahun.

Seruni sangat merasakan hal itu. Ia menyadari itu semua. Hal tersebut mengingatkannya pada sahabat-sahabat masa SMAnya. Kenangan tentang mereka kembali terputar di otaknya. Seruni membuka galeri foto di tabletnya. Ia membuka folder-folder lamanya. Ia melihat lagi satu per satu foto-fotonya bersama sahabat-sahabatnya itu. Ah sungguh hatinya kembali merindu. Rasanya Ia sangat ingin kembali ke masa-masa itu, dimana tiada hari tanpa bersama mereka.

Delapan tahun sudah Ia melepas seragam putih abunya. Sudah selama itu pula Seruni dan kawan-kawannya tak bertemu untuk setiap hari. Mulanya mereka masih bisa saling bertemu setiap minggu, lama kelamaan karena ada yang datang pada kehidupan masing-masing sehingga intensitasnya makin berkurang. Sampai akhirnya mereka hanya bisa saling bertemu minimal setahun sekali. Terkadang lebih dari sekali, tapi itu pun harus curi-curi waktu di sela kesibukan. Sekalinya pun kumpul belum tentu lengkap. Seringkali kekurangan personil karena Dia sangat sibuk dengan kehidupan yang tak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Seiring keidupan yang terus bergulir pun, komunikasi pun bisa terbilang jarang. Hanya sesekali saling mengomentari, atau sekedar chatting. Itu pun jika ada topik. Tak seperti dulu yang chatting untuk membicarakan hal-hal yang sangat tak penting tapi sangat menyenangkan untuk diobrolkan.

Lamunan Seruni terbuyar dengan kehadiran pelayan yang memberikan pesanannya. Seruni langsung menyambut mojitonya itu. Rasa segar mint bercampur sedikit asam dan sedikit sengatan kecil dari soda membuat pikiran dan hatinya tenang. Setidaknya Ia tak begitu tenggelam dengan rasa rindunya.

Hanya saja itu tak berlangsung lama. Seruni kembali menatapi foto-foto itu. Seolah seperti rol film, otaknya kini memutar setiap momen yang pernah terjadi diantara mereka semua. Momen saat mereka SMA dimana mereka saling menjahili satu sama lain, belajar bersama, mengacak-acak rumah salah satu dari mereka, makan bersama. Beranjak lulus mulai sering keluar bermain mengunjungi satu tempat, berwisata kuliner, bertukar cerita mengenai kampus masing-masing. Beranjak dewasa mulai saling bertukar pikiran mengenai kehidupan nyata macam masalah politik, sosial. Mengunjungi pernikahan teman bersama-sama. Sudah bertahun-tahun Seruni mengenal dan bersama mereka. Ada satu yang tak pernah hilang walau mereka beranjak dewasa, yaitu canda dan humor mereka tak pernah berubah. Rasa canda dan humor itu malah semakin berkembang sesuai usia mereka.

Mengingat itu semua benar-benar membuat Seruni ingin mengulang masa-masa itu. bisa bersama mereka setiap harinya. Hanya sekedar bertemu mengobrol dan bercanda itu merupakan suatu keindahan dan kenikmatan bagi dirinya. Namun inilah kehidupan, ada yang datang dan ada yang pergi. Saat ada yang datang pasti aka nada yang pergi. Begitupula dengan Seruni dan kawan-kawannya. Perlahan-lahan orang datang dan mereka dengan sendirinya harus meninggalkan kehidupan lama.

Kini yang bisa Ia lakukan adalah biarkan itu semua menjadi kenangan. Dengan kenanganlah persahabatan mereka tetap  hidup dalam sanubari mereka masing-masing. Dengan kenanganlah mereka dapat ingat bahwa mereka pernah ada pada masa yang sama. Melalui kenangan tersebut akan tetap hadir rasa rindu dan rasa saling memiliki. Akibat kenangan itulah Seruni berada disini.

Baca lebih lanjut

Triple Balad : We So Sorry, Saras

Pay, Saras, dan Rasha sedang berada di gor kampus. Mereka sedang asyik menyaksikan pertandingan basket antar fakultas. Sebenarnya yang benar-benar fokus pada permainan hanyalah Rasha. Pay asyik cuci mata melihat para pemain, sedangkan Saras asyik berkutat dengan laptopnya Saras sedang memanfaatkan wifi kampus. Wifi di daerah gor lancar jaya. Alhasil itu Ia manfaatkan untuk mendownload video.

“ya ampun ganteng banget!” heboh Saras saat melihat video EXO

“iya ganteng banget, keren, tinggi” angguk Pay sambil matanya terfokus pada satu pemain

“itu banget. Udah keren, tinggi, cute, rapp nya juga keren lagi. Ah Chanyeol!!”

“Chanyeol?” bingung Pay “jadi yang kamu maksud itu Chanyeol, bukan cowok yang nomor punggung 11?”

“ya bukanlah. Lagian aku daritadi enggak merhatiin.”

“suuut…. Berisik!” lerai Rasha “kalian tuh ya kagak fokus ama permainan. Maneh lagi, Pay. Udah punya cowok, masih aja jelalatan”

“cuman cuci mata doang kok. hati mah tetep pada mas ku, Syailendra Dwi Brotokusomo” Pay membela diri

“cuih!” jijik Rasha mendengar ucapan Pay yang genit “abis ini ke mana? Makan yuk. Lapar nih”

“ayo, ayo. Mau makan dimana?” Tanya Saras sambil memegangi perutnya

“sekitaran kampus ajalah. Sejam lagi aku masih ada kelas” ujar Pay

“eh iya besok kan weekend. Ke punclut yuk, kita makan-makan.” Ajak Saras

“ah besok ya?” Pay dan Rasha saling melirik

“eu.. aduh sorry besok aku udah janji mau jalan ama Lendra. Dia udah ngambek, abis tiap weekend aku habiskan bersama kalian kalau ga dihabiskan demi himpunan ama tugas kuliah.” Sahut Pay dengan nada memelas

“aduh urang juga ga bisa. Besok mau ngerjain tugas kelompok”

“yaaaaah” Saras cemberut

“gausah cemberut kali…. Kan kita sering makan bareng jalan bareng” hibur Pay

“iya sih, tapi kan besok hari…..”

“hari sabtu kan? Iya terus kenapa?” potong Rasha

Saras menggeleng “gapapa”

“aaah pertandingannya udahan. Udah yuk capcus makan” ajak Rasha

“nyoook”

*****

Semenjak pagi hingga Siang ini Saras berdiam diri dalam kamar. Ia terus berkutat diri dengan handphone dan laptop. Daritadi Ia terus tersenyum bahagia sambil membalas pesan yang masuk baik melalui sms, mention, ataupun chat.

Tiba-tiba handphonenya berdering

Baca lebih lanjut