[FF] BE KIM JUNMYEON

Title               : BE KIM JUNMYEON

Rate               : 15+ mungkin

Genre             : SLICE OF LIFE dengan sedikit ROMANCE

Cast               : KIM JUNMYEON (SUHO EXO) , HAN HONGNAN (OC), dan sedikit cameo dari

KIM JONGDAE (CHEN EXO)

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH kembali!!!

Disclaimer   : Alhamdulillah kuberhasil nulis FF lagi, sekian setelah berabad-abad terjebak gua writer’s block *lebaaay*. BTW, maafkan ya kalau aku sok tahu yang masalah pendidikan psikologinya. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D

Ditengah restoran daging panggang yang sepi ini. Hanya ada sekitar 4 meja yang terisi dari puluhan meja yang tersedia. Tak sulit mencari teman masa SMAnya yang dari dulu menjadikan tempat ini sebagai tempat nongkrong saling berbagi cerita. Tempat favoritnya adalah di meja persegi panjang di belakang jauh dari pintu masuk. Apalagi saat ini, saat Ia sudah menjadi seorang selebriti yang memiliki jutaan fans, tempat ini semakin menjadi tempat favoritnya, karena Ia bisa menyendiri tanpa orang-orang mengetahui siapa dirinya. Seorang leader boyband terkenal, EXO. Orang itu sedang menunggu dirinya, Han Hongnan.

Annyeonghaseyo, Suho-ssi.” Sapa Hongnan sambil menggeser kursi tempat Ia duduk.

“Aku Kim Junmyeon saat bersamamu.” Balas Junmyeon sembari meneguk Sojunya.

Hongnan tertawa kecil “Hahaha arasseo. Tapi payah nih ah.. katanya tadi mau jemput aku di kantor, tapi malah aku jadi datang sendiri. Huh.”

“Maaf… maaf… aku tak ingin para fans atau wartawan mengetahui mengenai dirimu. Kau kan tak suka jadi pusat perhatian. Tadi ada sasaeng yang mengikuti terus, kamu tahu tadi ku sampai masuk kantor polisi dan meminta bantuan mereka untuk mengusir para bocah-bocah itu? Aku hari ini benar-benar tak mau diganggu. Nanti pulang kuantarkan pulang kok.”

“Iya aku mengerti… ada apa sih kamu sampai menerorku ditelepon mengajak bertemu?”

“Aku hanya ingin sekedar mengobrol dan lagipula butuh pendengar….”

“Kenapa enggak lewat telepon? Biasnaya juga kalau kita cerita-cerita lewat telepon.”

“Aku ingin bertemu langsung saja. kita kan sudah lama tidak bertemu. Terakhir sekitar 3 bulan lalu. Cuman kamu yang benar-benar mengenal diriku sebagai Kim Junmyeon, dan aku ingin mala mini sebagai Kim Junmyeon bukan Suho exo.”

“Baiklah… kau jadi membutuhkan ku sebagai seorang teman apa sebagai seorang teman lulusan psikologi? Kalau pilihan yang kedua tidak gratis tentunya Hahaha” Canda Hongnan sambil mencomot daging milik Junmyeon.

Junmyeon langsung memukul ringan tangan Hongnan “Hei! Kalau kau mau pesan saja! aku yang bayar.”

“Oh jadi pilihan yang kedua ya? Hahaha” Canda Hongnan “Ahjumma! Dagingnya 1 porsi lagi ya! Sojunya 2 eh 3 botol, beernya 1 botol saja dulu deh. Sama satu lagi telur gulung, terima kasih.”

“Kamu mau mabuk huh? Minum sebanyak itu?”

Hongnan mengangguk mantap “Iya, kalau sudah ditempat ini kan memang enak untuk minum, seperti masa kita baru lulus SMA, baru bisa mencicipi alkohol. Aku boleh mabuk, tapi kamu engga. Kan kamu mau mengantarkanku pulang.”

Junmyeon tersenyum kecil mendengar perkataan sahabatnya itu. “Enak saja! aku juga ingin minum sepuasnya.”

Tak lama kemudian pesanan Hongnan tiba. Mereka berdua dengan khidmat menikmati makanan mereka sembari mengobrol hal-hal kecil. Suara tawa, muli dari tawa yang garing, hingga terbahak-bahak menggema di restoran yang semakin lama semakin sepi karena malam kian larut, dan kini tinggal menyisakan mereka berdua. Restoran yang sepi membuat suasana mereka menjadi serius, dan kembali kepada tujuan. Mendengar curahan hati seorang Junmyeon.

Sebelum bercerita, Junmyeon mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya, lalu mengambil satu batang untuk dihirupnya. Melihat itu, Hongnan langsung merampas rokok dan bungkusannya.

“Hei, Ngakunya udah berhenti, tapi ini apa? kamu ini penyanyi! Jaga suara dan paru dong!”

“Han Hongnan! Biarkan aku menjadi Kim Junmyeon, bukan Suho. Malam ini saja, satu batang saja. lagipula ini rokokku setelah setahun aku tak menghisapnya sama sekali.” Junmyeon langsung merebut kembali rokoknya. Ia nyalakan korek gasnya dan kini racun nikmat itu telah terbakar, siap dinikmakti dengan cara dihisap. Suho menikmati asap yang timbul. Ia hirup perlahan-lahan hingga habis. Hongnan hanya menatapnya dengan tatapan hm.. entah sedih entah sebal atau entah sayang. Semuanya campur aduk. Rokok itu kini telah terbakar tak bersisa, Barulah Junmyeon mulai bercerita.

“Entah mengapa akhir-akhir ini aku sedang berpikir, apakah jalan yang kuambil sudah benar? Terkadang aku merasa, aku tak punya bakat sebaik member ku yang lain. Aku terkadang merasa ini semua berat banget, dan merasa sia-sia.”

 “Enggak ada yang sia-sia. Kemampuan kamu pasti berkembang kan? Enggak mungkin stagnan kan? Aku perhatikan kemampunmu berkembang dibanding jaman dulu.”

“Jaman dulu kapan? Saat aku belum trainee?”  Suho menuangkan soju kedalam gelas. “Jelaslah… aku trainee 10 tahun, masa tidak dapat apa-apa? Hanya saja aku merasa, perkembanganku sangat lambat. Dari hasil trainee 10 tahun, dan debutku 4 tahun, kemampuanku hanya stuck disitu-situ saja. aku ini seorang penyanyi, tapi tekhnikvokalku tak kunjung membagus, takusahlah sebaik Jongdae karena dia terlalu dewa, minimal seperti Kyungsoo saja aku masih kesulitan.” Suho meneguk habis gelasnya yang berisikan soju.

Hongnan tersenyum. Berusaha menghibur. “You have another talent, Kim Junmyeon.”

 Junmyeon menghela nafas dengan berat. Lagi, Ia menegak soju. “it’s hard you know. Aktingku terus dikritik, setiap aku mengikuti varshow aku selalu disebut no jam.”

“Karena kamu terlalu serius dan ambisius. Kau terlalu terlihat berusaha” Potong Hongnan.

“Aku hanya berusaha terbaik, Hongnan. Aku hanya ingin menunjukkan, inilah aku, aku mampu dan aku layak berada ditempat ini. Hanya saja lagi-lagi orang merasa garing dengan jokes ku. Aku tahu aku tak bisa melucu, tapi setidkanya orang-orang akan melihat usahaku dan menghargai itu, tapi lama-lama aku lelah itu hanya dijadikan lelucon oleh member-memberku.”

Hongnan menuangkan soju untuk Junmyeon dan dirinya. “because they love you. mereka ingin menyelamatkanmu agar tetap terlihat lucu.”

Mendengar jawaban Hongnan, Junmyeon melirik sebal. “Ya, Hongnan! Kenapa kamu terus menimpali semua omonganku? Aku hanya butuh didengar malam ini!”

“Ya! Aku menimpalimu, karena selama ini kalau kamu curhat ditelepon, aku hanya mendengarkan terlebih dahulu, kamu selalu menganggapku tak mendengarkanmu, tak memperhatikanmu, makanya aku jawab langsung.” Timpal Hongnan sebal sembari meminum sojunya.

“Iya itu kan ditelepon… aku kan tak melhatmu. Jadi bisa saja kan, kamu meninggalkan ponselmu kemana, sementara aku lagi ngomong. Sekarang kan live curhatnya. Jadi dengarkan saja dahulu!” Protes Junmyeon.

“Kamu PMS ya? Heol… ya lanjutkan.” Hongnan geleng-geleng kepala melihat Junmyeon yang kekanakkannya keluar.

“Aku terkadang merasa gagal menjadi leader. Sulit ekali membuat mereka mendengarkanku, apalagi kalau aku sudah lelah aku merasa lebih sensitif, dan saat mereka susah diatur, aku jadi merasa mereka tak menghargaiku. Ditambah kejadian 2 tahun lalu, 3 member berturut-turut kabur begitu saja. disitulah titik terendahku sebagai leader. Kamu tahu kan betapa frustasinya aku saat itu?”

Baca lebih lanjut

[FF] RUDE AND HER TRAUMA (after Story NOT A BAD THING)

Title               : rude and her trauma (after story not a bad thing)

Rate               : 15+ mianhae

Genre             : a ROMANCE manis alay gitu

main Cast     : KIM JONGDAE (CHEN EXO), WENDY SON RED VELVET

other cast   : byun baekhyun exxo, kang seulgi red velvet

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH comeback!!!

Disclaimer   : ini after storynya FF ku yang NOT A BAD THING. Lagipula aku kangen banget bikin FF dengan cast Chendy. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D

Tuk..tuk.tuk… Tuk..tuk.tuk…

Baekhyun memperhatikan sahabatnya sekaligus rekan kerjanya, Jongdae. Jari Jongdae terus mengetukkan dirinya ke meja. Ia selalu melakukan hal itu jika otaknya sedang berpikir. Entah berpikir untuk mencari ide, berpikir mencari jawaban, ataupun berpikir karena khawatir, pasti yang Ia lakukan mengetukkan jarinya secara berirama. Baekhyun sudah mengenal Jongdae bertahun-tahun hapal betul kebiasaan Jongdae satu itu, bahkan Ia hapal betul apa yang sedang dipikirkan Jongdae melalu iramanya. Kini iramanya terdengar lambat dan panjang. Sudah dipastikan Jongdae sedang mengkhawatirkan sesuatu, bukannya memikirkan konsep acara radio mereka untuk minggu depan.

Ya! what’s going on? Wae?” Tanya Baekhyun. Jongdae diam saja tak menjawab.

Wah ini anak keasyikan mikir kayaknya.. “Ya!! Kim Jongdae!!!” Baekhyun mendaratkan kepalan tangannya di atas kepala Jongdae. Jongdae langsung mendongak kaget.

“Hah? Mwo?

“Ada apa? Kau sedang asyik tenggelam dalam pikiran apa? Gwaenchana?

Jongdae menganggukkan kepalanya “it’s okay! Aku lagi berpikir konsep untuk minggu depan kok.”

Baekhyun langsung mencibir begitu mendengar jawaba Jongdae. “Ya, Kim Jongdae! Kau pikir aku tak tahu dirimu apa? Kita sudah kenal bertahun-tahun, aku tahu kebiasaanmu mengetukkan jari ke meja dengan irama lambat dan panjang. Itu artinya kau sedang mengkhawatirkan sesuatu! Katakanlah… ada apa?”

Jongdae menghela nafasnya. “yeah you know me so well!” Jongdae tak langsung menjawab pertnyaan Baekhyun. Ia mengambil ponselnya yang terletak di meja, dan langung menelepon. Tak lupa juga Ia loudspeakerkan teleponnya agar Baekhyun dapat mendengarnya.”

The number you are calling is not active or out of scope area. Please try again later  in few minutes”

“Dengarkan? Kamu tahu apa yang ku khawatirkan?” Jawab Jongdae sambil menunjuk-nunjuk ponselnya.

“ah… Wendy? Lah tapi biasanya juga kalau dia enggak bisa dihubungin kamu enggak secemas ini. Paling hp dia habis baterai.”

“Masalahnya bukan itu! Aku yakin dia sengaja mematikan hp dia. Dia pasti lagi enggak mau berkomunikasi denganku.” Keluh Jongdae sedih.

What happened? Apa yang terjadi sampai pikiran kamu fokusnya cuman ke Wendy seorang?”

“Kemaren aku berantem sama dia… jadi….”

 

–Malam Sebelumnya–

“Hai, Seul… Wendy masih di lab?” Tanya Jongdae.

“Wah barusan banget dia pulang.” Jawab Seulgi.

“Pulang? Sama siapa?”

Seulgi menggelengkan kepalanya. “Entah, tapi sendiri kayaknya. Dia bilang mau naik bis kalau enggak salah.”

“Oke, makasih seul!” Jongdae pun langsung menuju mobil untuk pergi menuju halte bis dekat kampus Wendy –yang juga kampusnya dulu –. Ia berharap Wendy belum mendapatkan bis. Setibanya di halte orang yang Ia cari masih berada disana. Duduk diam termenung sendiri sambil ditemani alunan lagu yang mengalir melalui headset ke telinganya. Jongdae langsung keluar mobil menghampiri Wendy.

“Kenapa pulang sendiri? Enggak nunggu aku?” Tanya Jongdae cemberut.

“Kan kamu lagi siaran, terus ada rapat juga kan? Ya sudah aku enggak mau ganggu.” Jawab Wendy santai sambil terus mendengarkan lagu.

“Tapi ini sudah jam berapa? Hampir jam 10 malam, Wendy! Aku kan sudah bilang, kalau aku bisa kok jemput kamu bentar, habis itu aku balik ke kantor!”

Oppa, aku bisa pulang sendiri kok. Aku sudah biasa.” Wendy coba menenangkan Jongdae.

“Kamu tuh ya selalu gini. Apa-apa sendiri. Suka enggak cerita-cerita. Terkadang aku merasa enggak dianggap sebagai pacar.” Jongdae mulai sinis.

“Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?” Wendy langsung melepas headset ditelinganya.

Baca lebih lanjut

[FF] Missing Tile Syndrome

Title               : MISSING TILE SYNDROME

Rate               : PG 13+

Genre             : apa ya aku bingung? Hmmm LIFE dengan sentuhan ROMANCE sedikit

main Cast     : IRENE (BAE JOOHYUN) RED VELVET, CHOI MINHO SHINEE

length           : One shoT

Author          : maafin HANAN HANIFAH baru ada ide setelah baca kaskus

INSPIRED        : Salah satu HT di kaskus judulnya “MISSING TILE SYNDROME”. Trit yg bagus gan, menginspirasi banget dalam kehidupan nyata dan perfanfic-an wkwkwk. Kalian bisa baca tritnya disini. *kalian harus baca trit itu, bagus*

Disclaimer   : Sebenarny,a ini sudah selesai dari bulan Juni, bisa dilihat dibawah tanggal dan waktu aku selesai menulis ff ini. Hanya saja aku saat itu belum punya kuota. Maklum, liburan pemasukan terpangkas 70% jadi baru aku posting sekarang. Ya walau enggak ada adegan so sweet so sweet yg berarti, tapi aku masangin Minho-Irene karena lucu aja lihat Minho godain Irene terus pas Minho jadi Mc peluncuran minialbum Red Velvet – Ice Cream Cake. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY.

“Gimana penampilan aku hari ini?” Tanya Irene sambil memutarkan badan.

Minho melihat pakaian yang dikenakan kekasihnya itu dari atas hingga bawah. Mini dress bermotif garis vertikal hitam putih tampak membuatnya anggun dan juga chic. Rambutnya Ia biarkan tergerai dengan pemanis jepit disudut kanan kepalanya. Ah Irene selalu tampak cantik dimatanya, hanya saja Ia merasa sedikit janggal saat tiba dibagian bawa. Sepatu.

“Itu heelsnya enggak ketinggian?” Minho melirik khawatir.

“Iya sih ini tinggi banget, 20cm. memang kenapa? Aneh?”

“Enggak sih, tapi kelihatannya kamu kurang nyaman.”

Irene melirik sepatunya dengn raut sedih “Memang sih, aku agak sedikit susah berjalan, tapi mau gimana lagi, biar aku terlihat tinggi di kamera.”

“Ya sudahlah, ayo!” Mereka berdua pun langsung meluncur ke tempat tujuan. Hari ini ada sebuah casting untuk presenter sebuah acara mengenai fashion di televisi kabel. Irene ingin mencoba casting tersebut karena salah satu mipinya adalah menjadi presenter sisebuah acara regular sebuah televisi. Ia ingin maju tak hanya berkarir menjadi penyiar radio atau mc acara off air saja, tapi juga ingin merambah dunia on air juga.

Setibanya di tempat casting, terlihat sudah banyak peserta yang mengantri. Sebagian besar peserta tampakny seorang model jika dilihat dari badan mereka. Badan langsing ditambah kaki jenjang yang membuat tubuh mereka menjulang tinggi. Hal ini membuat Irene menjadi minder.

“Minho, lihatlah, mereka tinggi-tinggi. Sangat jauh jika dibandingkan dengan aku.” Irene tertunduk sedih. Ia merasa saingannya sangat berat.

“Ya terus kenapa kalau mereka tinggi-tinggi?”

“Ya kesempatanku untuk lolos kecil. Ingat tidak casting untuk acara fashion di stasiun sebelah sebulan lalu? Orang yang lolos adalah seorang model dengan tinggi 170cm, sedangkan aku? 160cm pun tak sampai.” Keluh Irene sedih.

“Kamu ini mau audisi jadi presenter bukan model, jadi tinggi badan kan bukan faktor utama, tapi faktor pendukung.” Minho berusaha menenangkan Irene. Jika sudah merasa minder Irene benar-benar akan merasa rendah diri dan tak tenang sehingga Minho harus berusaha membuat Ia tenang.

Namun Irene malah semakin tak tenang. Ia malah makin berkeluh kesah. “Ya tapi kan faktor pendukung juga penting. Untuk sebuah acara mengenai fashion seperti ini, tak hanya kemampuan dan pengetahuanku saja yang penting, tapi penampilanku juga. Apakah aku cukup stylish, atau badanku cukup bagus tidak untuk dijadikan model fashion mereka. Oleh karena itu mereka cenderung menyukai yang memiliki badan tinggi layaknya model karena mereka akan bagus jika dipakaikan apapun pada badannya.”

Irene menatap nanar pada peserta lainnya. “Lihat kulit mereka mulus-mulus, sedangkan wajahku sedang penuh hiasan.” Cemberut Irene yang wajahnya memang sedang ada jerawat beberapa biji.

“Ya tapi jerawat kamu kan pengaruh hormon, kalau periodemu sudah beres, jerawat itu kan hilang sendirinya kan?” Minho mengelus muka Irene untuk membuktikan bahwa jerawatnya bukan masalah.

“Tapi tetap saja di kamera akan terlihat jelek. Ah eotteokhae? Haruskah aku gagal karena hal semacam ini?”

“Ya enggak lah. Masa mereka mengeliminasi kami kaena tinggi badan dan jerawat saja?”

“Kata siapa enggak?!” Seru Irene Kesal. “Casting kemaren aku gagal Karena itu. Peserta yang lolos memiiki kemampuan yang sama denganku, tapi karena badan dia lebih tinggi daripada aku, jadi dia yang dipilih! Makanya sekarang pun pasti begitu, ah.. apa yang harus ku lakukan?” Irene malah jadi panik sendiri, padahal yang ada dipikiran dia belum tentu terjadi.

“Aku harus menambah aksesoris apa lagi agar terlihat tinggi? Ah aku juga harus menambahkan bedak agar jerawatku tak terlihat.” Irene sibuk mengeluarkan bedaknya dan kembali merias diri. Minho yang melihat Irene seperti itu jadi geleng—geleng sendiri.

“Joohyunni, kamu itu kena missing tile syndrome!” Celetuk Minho.

Baca lebih lanjut

[FF] Smile Drunk

Title               : SMILE DRUNK

Rate               : PG 13+

Genre             : seperti biasa ROMANCE, FLUFF

main Cast     : GONGCHAN B1A4, EUNJI A-PINK

length           : One shoT

Author          : mumpung HANAN HANIFAH punya ide

Disclaimer   : Gongchan-Eunji tuh couple yang tak pernah ada moment, tapi aku entah mengapa ngeship mereka. Random aja gitu aku mlih mereka buat dishippin wkwkwk. Rencana awalnya ini harusnya terbit april, tapi karena april aku sibuk uts dan tugas, jadi baru selesai me sekarang. gagal deh target aprilku. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY.

Cahaya matahari pagi menelisik mataku dan hilir ringan angina segar yang menggelitik hidungku cukup membuatku tersadar dari alam mimpiku, namun tak cukup kuat untuk membuatku terbangun. Kelopak mataku rasanya seperti tergantung karung beras sehingga terasa berat untuk membukanya. Aku memegangi kepalaku yang terasa amat pusing. Kepeningan kepala ini membuatku ingin melanjutkan aktivitas tidurku ini. Kupeluk kembali guling yang berada disebelahku.

Tunggu… guling? Kenapa bisa ada guling? Aku tidur dimana? Seingatku semalam aku masih minum di kedai dekat kampus. Aku raba-raba tempat tidurku. Ini sebuah Kasur. Aku tidur di Kasur siapa? Hal ini langsung membuat mataku terbuka. Aku melihat sekelilingku. Kini aku berada disebuah kamar bergaya maskulin. Terdapat gantungan baju futsal dan beraneka topi berlatar belakang tembok berwarna hitam putih. Jelas ini bukan kamarku. Tidak ada poster doraemon dan juga lampu hias berbentuk bintang. Seketika aku langsung bangkit dari Kasur. Aku mengira-ngira, dimanakah aku berada? Di apartemen siapakah aku? Melihat style kamar seperti ini tampaknya aku sudah dapat mengira, tapi aku merasa tak mungkin aku bisa terdampar di apartemen orang ini.

Aku pun segera keluar kamar untuk memastikan aku berada dimana, begitu membuka pintu aku langsung disambut dengan sofa berwarna merah tua dan juga sebuah televisi, dan juga sebuh radio tua dipojok kanan. Aku mengenal sekali ruangan ini. Beberapa kali aku pernah menginjakkan kaki di kamar ini. Berarti sekarang aku berada di apartemen…..

“Eunji! Akhirnya bangun juga. Ayo sarapan, sudah kubuatkan sup penghilang mabuk untukmu.” Sapa sang empu apartemen dari dapur. Kenapa aku bisa di tempat ini? mengapa aku bisa tersasar di apartemen Gongchan??? Ini semua pasti karena aku terlalu banyak minum semalam!

Aku hanya bisa menatapnya dengan penuh tanda tanya. Ditatap seperti itu malah membuatnya menghampriku dan mendorongku ke meja makan. Ia membuka kan kursi untukku dan mendudukkanku,, dan aku hanya bisa melihatnya dengan tatapan bingung.

“Kok kamu seperti yang linglung?” Tanya Gongchan sambil mewadahi sup untukku.

“Kenapa aku bisa disini?” Tanyaku langsung tanpa basa-basi.

“Kau yang memintaku datang.”

“Aku?”

“Iya, kau meneleponku memintaku untuk datang.” Angguk Gongchan.

jinja? Lalu kenapa kau malah membawaku ke apartemenmu?”

“Aku sudah berniat untuk membawamu pulang ke apartemenmu, tapi aku tak tahu password apartemenmu, dan kau sudah terlalu mabuk untuk ditanyai. Jadi daripada kau kuterlantarkan mending ku bawa pulang.”

Aku langsung mengambil ponselku di saku celanaku. Kuperiksa catatan panggilan untuk memastikan dia tak berbohong, dan sial Ia berkata jujur. Disitu tercatat kalau aku meneleponnya sebanyak lima kali dengan panggilan terakhir jam 11 malam. Urat Maluku rasanya kini menebal dan memanas. Aku malu sekali, kenapa aku bisa melakukan hal sebodoh itu. kugigit bibirku untuk menutupi rasa malu dan gugupku.

“Maafkan aku karena membuatmu repot. Aku tak sadar saat meneleponmu. Maaf ya.”

“Sudahlah. Tak usah dipikirkan. Makan saja dulu.” Sahut Gongchan sambil mengunyah.

Sendok stainless berisikan kuah sup dan nasi masuk bergiliran perlahan ke mulutku. Rasanya ingin mengetokkan kepalaku ke meja karena kebodohanku ini. kenapa bisa-bisanya saat mabuk aku malah menelepon dia? Aku harap hal bodoh yang kulakukan saat mabuk hanya sebatas itu. eh iya kan? hanya sebatas itu? aku tak melakukan hal bodoh lainnya kan? ah sungguh aku tak mengingatnya.

“Gongchan, saat aku mabuk aku tak melakukan hal bodoh lain kan?” Delikku penasaran.

“Hal bodoh? Seperti apa?” Dahi Gongchan berkerut.

“Ya hal bodoh, seperti aku meneleponmu saat mabuk.”

Mata Gongchan melirik ke atas tampak mengingat-ingat. “Hm… kurasa tidak. Saat kau mabuk kau hanya banyak bicara saja menceritakan masalahmu.”

“Masalah? Masalahku yang mana?” Panikku seketika.

“Kau yang punya masalah tentunya kau yang harusnya lebih ingat. Sudah akan saja dulu. berpikirnya nanti lagi.”

Dia bilang kalau aku membicarakan masalahku. Masalahku yang mana? Serius ini aku merasa panik. Wajar saja aku panik, karena aku terdampar di kedai minum karena dia. Jangan bilang jika aku malah menceritakan hal itu langsung pada orangnya. Mati aku! Aku otomatis langsung menepuk dahiku.

“Kenapa? Kau mengingatnya?” tanya Gongchan. Aku menggeleng.

Ia terkekeh melihatku seperti itu. “Hehehe, sudah makan saja dulu. jangan berusaha mengingat.”

Gongchan menyuruhku untuk tak berusaha untuk mengingat, tapi hal itu malah membuatku semakin ingin berusaha mengingat. Hal bodoh apa yang kuceritakan pada dia. Aku ingat sebelum aku mabuk, aku mendatangi kedai itu karena kekacauan hati yang kurasakan. Semua kekacauan itu disebabkan orang yang sudah membuat sup penghilang mabuk ini.

Hal ini bermula dari masalah hubungan kami. Hubunganku dengan Gongchan dapat dikatakan dekat, tapi untuk mengarah ke hal romantis, aku tak yakin. Hanya saja memang betul perasaaanku padanya lebih dari sekedar teman, tapi aku tak tahu dengannya. Dia sulit dbaca karena faktanya dia baik terhadap semua perempuan yang Ia kenal. Ia selalu tersenyum manis pada semua perempuan. Hal tersebut sulit bagiku untuk menebak siapa perempuan beruntung yang mendiami hatinya. Agar aku dapat mengetahui siapa perempuan beruntung itu, aku selalu memperhatikan perempuan yang dekat dengan dia selain aku. Pengamatanku itu menghasilkan beberapa nama, tapi pada akhirnya minggu lalu mengarah pada satu nama, Jiyeon, teman sekelas Aku dan Gongchan.

Minggu lalu aku sedang makan bersama dia dan satu teman kami, Jieun. Mereka berdua lalu pergi ke toilet, dan Jiyeon menitipkan ponselnya padaku. Diponselnya muncul sebuah pesan dari kakaotalk dan itu pesan dari Gongchan. Hal itu membuatku penasaran dengan isinya, saat Jiyeon telah kembali aku berusaha untuk mengintip isi pesan tersebut saat Jiyeon sedang membalasnya. Aku pun beberapa kali melihatnya saling berbalas pesan. Dari pesan itu dapat kusimpulkan jika mereka sangat akrab. Hal yang mereka bicarakan tak sekedar tugas, tapi hal tak penting lainnya. Disitulah aku menyadari tampaknya ada sesuatu diantara mereka, dan tentu saja itu membuatku merasa jatuh.

Kekecewaanku ternyata terus berlanjut dengan puncaknya sore kemaren. Aku sedang berjalan di parkiran menuju gerbang kampus untuk pulang. Aku tak sengaja melihat ke arah parkiran mobil, dan aku melihat pemandangan tak mengenakan –setidaknya untukku–. Aku melihat Gongchan dan Jiyeon berdiri disamping mobil Gongchan. Tampak terlihat dari raut wajah mereka yang mendalam, mereka sedang berbicara hal serius, dan hal yang membuatku hancur adalah Gongchan memeluk Jiyeon. Disitulah aku benar-benar tersadar jika aku dan Gngchan hanya sebatas teman. Hanya aku yang berharap lebih, dia tidak.

Kejadian itu membuat pikiranku tak berada diragaku. Aku melangkah kaki ke sembarang tempat untuk menghilangkan kegundahan itu. Pelukan itu terus terputar diotakku. Aku merasa hatiku benar-benar hancur. Langkah kaki sembarang itu malah membuatku ke kedai minum dekat kampus. Sejujurnya kedai minum itu mempunyai kenangan tersendiri. Kami berdua pernah minum bersama dan mengobrol tak berarah hingga dini hari menjelang. Mengingat itu membuatku makin banyak menghabiskan botol soju. Aku mengingat hanya sampai situ saja. Setelah aku dalam pengaruh alkohol masih samar dalam ingatanku.

Setelah selesai makan, Gongchan menyodorkan bajunya untuk kupakai setelah mandi. Sebenarnya aku ingin bolos saja, tapi tak mungkin karena sjadwalku hari ini praktikum. Untuk pulang dulu pun takkan keburu karena sejam lagi akan dimulai. Perjalananku dari sini ke apartemen memakan waktu setengah jam, dari apartemen ke kampusku pun butuh setengah jam. Belum macet dan menunggu bis. bisa-bisa aku telat dan tak boleh masuk. Pilihan Gongchan meminjamkan baju adalah hal yang tepat.

Kubiarkan kucuran air mengalir deras di kepalaku. Aku berharap dengan begitu ingatanku akan kembali lancar. Dinginnya air tampaknya memang berhasil membuat kesadaranku benar-benar pulih dan perlahan ingatanku mulai kembali. Ya sekarang aku ingat kalau aku meneleponnya. Aku baru ingat kalau ini kebiasaanku, jika aku punya maslaah dnegan orang itu dan aku sampai mabuk biasanya aku akan meneleponnya, tapi biasanya aku tak menyuruh orang itu untuk menemuiku. Aku hanya mengumpatnya. Kenapa Dia bisa datang menghampiriku? Ku mencoba membuat reka adegan dalam otakku saat tadi malam.

*****

Baca lebih lanjut

[FF] Bantuan

Title               : BANTUAN

Rate               : PG 13+

Genre             : Kembali ke genre pasaran tapi penuh minat ROMANCE, FLUFF

main Cast     : uri KAISTAL – KAI EXO AND KRYSTAL F(X)

length           : One shoT, VIGNETTE, FICLET

Author          : mumpung HANAN HANIFAH punya ide

INSPIRED        : Shinichi Kudo yang membantu Ran Mouri diam-diam.

Disclaimer   : Idenya terlintas begitu saja, makanya nampaknya akan kurang matang. Lagi kangen couple satu ini, jadi aku bikin FF mereka. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY.

 

Kai terkejut begitu memasuki apartemen Krystal. Tak biasanya apartemen Krystal dibiarrkan dalam keadaan seperti kali ini. Jarum-jarum tertusuk begitu saja di atas bantal. Kain-kain perca betebaran disemua sudut. Benang-benang terbelit acak, melihatnya saja rasanya sulit untuk mengurainya, apalagi melakukannya. Kostum kelinci dan gajah dibiarkan begitu saja terlipat kusut di atas sofa. Krystal terlihat sednag asyik memotong pola sambil bersenandung. Kai teringat jika kekasihnya itu sedang membuat kostum untuk pertunjukan amal ke panti asuhan. Melihat Krystal sibuk, Ia teringat ajakan Krystal tadi siang. Kai menjadi ragu ajakan Krystal akan terlaksana.

“Kita jadi enggak nih mau nonton? Kau tampak sibuk.” Tanya Kai sembari terkantuk-kantuk.

“Jadi dong!” Seru Krystal dengan semangat.

“Tapi Krystal, Kasur lebih menggoda daripada bioskop.” Kai melirik Sofa –jika dibuka lipatannya dapat menjadi Kasur– yang terletak di tengah ruang tengah apartemen Krystal dengan senyum jahil.

Krystal langsung melotot tajam. “Maksud kamu?”

Kai tertawa kecil, “hahaha, kamu mikirnya kemana?” Kai mencubit pipi Krystal gemas. “Maksud aku tuh, tubuhku lelah. Tidur tampak lebih enak dibanding nonton.”

“Ah… jangan! Terserah kamu deh di bioskop mau nonton apa tidur, yang penting kamu harus menemaniku! Semua teman-temanku sudah menonton film itu, hanya aku yang belum.” Rajuk Krystal.

“Ya terus kalau teman-temanmu sudah kenapa sih?”

“Film itu lagi jadi trending topic obrolan. Aku bingung sendiri, tak tahu apa yang mereka bicarakan.”

Aigo…” Kai geleng-geleng kepala. “Dasar wanita! Ya sudah, aku temani, tapi memangnya keburu? Sekrang sudah jam Sembilan malam.”

“Kostumnya harus jadinya besok malam. Masih ada waktu kok, aku cuman tinggal menjahit lima kostum binatang lagi. Midnight nanti kita nonton, setelah itu tidur sampai pagi, terus jahit sisanya. Deadline terpenuhi kan?”

Tiba-tiba terdengar dering ponsel dari ponsel Krystal. Krystal dengan cepat eraih ponsel yang tergeletak begitu saja diatas karpet. Ia membaca pesan yang sampai. Wajahnya yang mulanya terlihat ceria, setelah membaca pesan itu raut wajahnya langsung menjadi panik sekaligus kecewa.

Aigo! Gawat! Luna baru saja memberitahuku kalau kostum harus jadi besok siang, karena pertunjukannya dimajukan menjadi besok sore! Kostum yang belum kujahit ada lima, bisa-bisa aku tak tidur untuk menyelesaikan ini! ah… bagaimana ini?” Otot muka Krystal langsung menunjukkan rasa cemasnya. Ia sudah selesai membuat pola, hanya tinggal menjahitnya, tapi kostum yang harus Ia buat  cukup banyak. Sebenarnya dalam waktu semalam, kostumnya bisa jadi, tapi itu artinya Ia tak tidur, sedangkan Ia harus tampil prima dalam pertunjukan amal itu.

“Baguslah, jadi kita enggak usah nonton. Aku bisa istirahat.” Sahut Kai sambil membongkar sofa menjadi Kasur, kemudian Ia langsung merebahkan dirinya.

Krystal menghela nafas. Wajahnya langsung murung, “Yah… kita enggak jadi nonton ya? ah… sedih… katanya hari ini terakhir tayang, huhuhu.”

“Ya sudah enggak apa-apa ketinggalan satu film hits. Nanti juga bisa tonton di internet.” Celetuk Kai dengan mata terpejam.

“Hei, Kai! Jangan tidur dulu! Bantu aku menjahit dulu! polanya sudah kupotong, kau tinggal jahit saja.” Pinta Krystal sambil melemparkan pola yang akan dijahit pada Kai.

Sireo! Aku lelah, pertunjukan tadi menguras habis tenagaku. Lagipula, dulu aku pernah membantumu menjahit, kau mengomel karena jahitanku tak rapi.” Tolak Kai sambil melemparkan kembali pola yang harus dijahit.

“Ini keadaannya urgent, jadi enggak apa-apa jahitannya enggak rapi, yang penting jadi dan aku bisa istirahat supaya aku besok tampil fresh.” Krystal benar-benar memohon bantuan Kai, tapi orang yang diminta bantuannya malah menggelengkan kepala dengan cepat menolak permohonan orang yang butuh pertolongannya.

“Hais… kalau kau tak mau bantu, untuk apa kau disini? sudah sana pulang saja!” Usir Krystal kesal karena tak mau membantunya.

“Krystal… aku benar-benar mengantuk. Aku tak dapat menyupir dengan baik jika aku mengantuk. Jadi biarkan aku tidur.” Pinta Kai sambil membalikkan badannya dan matanya tentu saja sudah menutup dengan baik. Tampaknya Kai benar-benar sudah mulai memasuki fase tidur, dan mengingat kebiasaan Kai yang suka tidur, tentu saja sulit mengganggunya untuk meminta bantuan. Krystal pun akhirnya hanya bisa membiarkan Kai tidur.

“Haish… punya pacar kok enggak guna, susah diminta bantuannya. Dasar tukang tidur!” Gerutu Krystal kesal. Mau tak mau Krystal pun harus melanjutkan pekerjaannya seorang diri. Ia pun mulai mengambil benang jahit berwarna putih, lalu memasukkan benang tersebut kedalam lubang jarum. Jarinya kini dengan gesit menyatukan satu pola dengan pola lainnya dengan benang. Baca lebih lanjut