[FF] VALUE

Title               : VALUE

Rate               : 15+

Genre             : lagi pingin bikin SLICE of LIFE dan WORK gitu dipadu dengan FRIENDSHIP

Cast               : yang disebutin nama lengkapnya dan jadi central hanya PARK CHORONG A-PINK dan LEE CHANGSUB BTOB. Sisanya bayangin sendiri deh. Bebaskan imajinasi kalian.

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH idea

INSPIRED        : baru nonton BEAUTIFUL GONGSHIM di tv. Pas liat episode 1, terinspirasilah.

Disclaimer   : Lagi suka banget BTOB dan ngebiasin parah Changsub *huhuhu aku tahu aku telat join jadi Stan BTOB*, jadi pengen bikin FF yang ada  dianya, cuman dianya bukan jadi tokoh utama disini wkwkwk. Nanti deh ku bikin lagi Changsub centernya hehehe. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D

“Hei, Park Chorong! Kamu masih mau bekerja tidak?!”

“Eh.. iya tentu saja.”

“Kalau begitu lakukanlah! Tak usah menolak! Kecuali kalau kamu mau kontrakmu diputus….. kau ini belum jadi pegawai tetap! Ingat itu!”

*****

Chorong menatap cermin di toilet dengan tatapan kosong. Ingatan kejadian 7 bulan lalu selalu menghantuinya setiap diberi tugas oleh kantornya. Ia berpikir, apakah yang Ia lakukan selama ini hal yang benar. Apakah sesulit ini untuk bertahan hidup. Sudah hampir 1 tahun Ia menjadi pegawai sebuah perusahaan kosmetik. Sayangnya, statusnya masih pegawai kontrak, dan kontrak hanya dalam kurun kurang dari sebulan ini akan habis. Nasibnya kini benar-benar fifty-fifty. Ia bisa saja diperpanjang kontraknya, bahkan diangkat menjadi pegawai tetap, tapi kemungkinan Ia untuk ditendang pun sama besarnya. Berbagai cara Ia usahakan agar Ia bisa bertahan dan dapat diangkat menjadi pegawai tetap. Seperti yang Ia lakukan saat ini.

Setiap ada acara seperti ini, selalu timbul keraguan dalam dirinya. Ia selalu meminta izin ke toilet untuk menenangkan diri sejenak. Walau sudah 7 bulan Ia berada dalam kegiatan seperti ini, tapi tak pernah sekalipun Ia jalani dengan senang hati. Malah Ia merasa direndahkan, tapi apa daya. Ia harus bertahan hidup. Ia butuh uang dan itu Ia dapatkan dari pekerjaannya kini. Ia ingin kehidupannya lebih baik dan nyaman.

Berada dibagian Marketing membuatnya harus bertemu dengan banyak klien. Satu hal yang Ia tak sukai dari budaya kerja diperusahaannya. Mereka harus selalu bisa menyenangkan klien, terutama pegawai wanita sepertinya. Chorong yang good looking, tentu saja menjadi andalan tim nya untuk acara makan malam seperti yang akan Ia lakukan kali ini. Ia harus tampil cantik dan menawan agar bisa menarik perhatian klien. Ia pun harus siap melayani mereka. Walau tak sampai harus tidur dengan kliennya, tapi tetap saja Chorong merasa jijik dengan hal yang Ia lakukan. Ia harus menuangkan minum, harus menemani mereka minum, makan, karaoke, bahkan terkadang Ia harus berdua saja dengan klien. Ia benci hal itu, tapi Ia harus melakukannya, karena selalu mendapat ancaman kontraknya bisa putus kapan saja.

Chorong mencuci mukanya agar terlihat segar. Setelah mengelapnya denagn tisu, Ia memoleskan bedak, menggambar eyeliner, dan juga mewarnai bibirnya dengan lipstik merah agar terlihat lebih menarik. Setelah selesai mempercantik diri, Chorong menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan. Ia berdoa sebentar memohon untuk dikuatkan.

Malam Ini Ia bersama manajernya, salah satu direktur perusahaannya akan bertemu dengan salah satu dirjen perpajakan nasional di restoran makanan khas korea. Sebenarnya ini bukanlah pekerjaan tim nya, tapi entah mengapa Ia dipanggil untuk datang ke acara makan malam ini. Demi bisa menjadi pegawai tetap, Ia terima ajakan atasannya tersebut.

Di meja makan manajer dan direkturnya sudah siap menyambut tamu mereka. Tak lama kemudian, tamu yang akan mereka sambut datang. Dirjen itu didampingi dua pria muda. Chorong memperhatikan salah satu pemuda yang mendampingi dirjen tersebut. Ia tampak mengenal orang tersebut. Pria itu sedang posisi menyamping, mempersilahkan atasannya masuk duluan. Saat pria itu mukanya menghadap ke arah Chorong, Chorong langsung menyadari. Tak menyangka Ia bertemu dengan sahabatnya saat dalam bekerja seperti ini. Ia tahu, sahabatnya itu bekerja di perpajakkan, tapi Ia tak menyangka salah satu tamunya adalah sahabatnya sendiri, Lee Changsub.

Changsub juga langsung menyadari kehadiran Chorong. Ia langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangan. Chorong membalasnya dengan senyum dan lambaian kecil. Ia harus menjaga sikap dihadapan atasannya. Chorong memberi tatapan. Ia mencoba “telepati” kepada Changsub agar menjaga sikapnya juga. Sudah berteman dan saling mengenal satu sama lain dalam waktu yang lama, Changsub langsung menangkap sinyal Chorong dan bersikap tenang.

Para atasan saling menyapa dan menjabat tangan. Chorong pun menjabat tangan dengan utusan kementrian tersebut. Saat berjabat tangan dengan Changsub, mereka saling mengeraskan jabatan tangan untuk saling menyapa dan jelas mereka tertawa akan hal itu, namun dalam hati. Saat bersalamn dengan dirjen, Dirjen itu bersalaman dengan dua tangannya dan sedikit mengelus punggung tangan Chorong. Chorong yang tak nyaman hanya bisa sedikit mengerutkan dahi, dan agak menarik tangannya sambil mencoba terus tersenyum.

Seperti pada acara makan malam biasanya, mereka berbasa-basi terlebih dahulu. Disaat seperti ini, yang menjilat tugas dari direktur dan manajernya. Ia hanya ikut tersenyum dan tertawa. Begitu juga dengan dua orang yang mendampingi dirjen perpajakkan tersebut. Mereka hanya ikut tertawa-tawa saja. Sembari makan mereak terus mengobrol. Saat mereka mulai minum, negosiasi lah mulai dilakukan. Negosiasi biasanya memang tugas Chorong. Ia dikenal sebagai salah satu tim marketing yang jago negosiasi. Biasanya saat acara makan malam seperti ini, Chorong melakukan negosiasi sambil melayani klien, tapi untuk malam ini berbeda. Ia bertugas hanya untuk melayani saja. negosiasi masalah pajak sama sekali bukan urusannya.

Chorong mulai menuangkan arak ke gelas sang dirjen dan juga atasannya. Ia pun tak lupa menuangkan minuman tersebut kepada “pengiring” dirjen.  Saat suasana makin naik, mereka semua mulai bernyanyi-nyanyi, dan Chorong lah yang harus terus menyanyi dan menari. Selain itu juga Chorong harus mengeluarkan aegyo setiap atasannya mengajukan penawaran pada sang dirjen. Melihat hal itu Changsub merasa ada yang enggak beres dengan Chorong. Ia melayangkan pandanganya ke Chorong dan menatap Chorong dengan serius. Ia tahu, sahabatnya itu bukanlah tipe yang suka diperlakukan seperti itu. Changsub dengan jelas bisa menangkap rasa tidak nyaman dari Chorong, tapi yang jadi pertanyaannya, kenapa Chorong mau melakukan hal itu.

Changsub mencoba memberi sinyal pada Chorong. “Chorong ssi. Tak apa jika aku memintamu menuangkan lagi minuman ke gelasku?” Ya!! bodoh! Apa yang kamu lakukan?

Chorong menatap Changsub dengan senyum palsu. Ya! kenapa kamu menyuruhku?!

“Hahahahahaha, jangan sungkan Changsub ssi. Itulah tugasnya dia berada disini hahahaha.” Sahut manajernya Chorong.

Chorong  melirik sinis manajernya dalam 0,1 detik, namun hal itu langsung tertutupi dengan topeng senyumnya. “Iya tak masalah. Betul, itu memang tugasku.”

“Tak apa?” Tanya Changsub serius. Kamu enggak apa-apa berada dalam situasi macam ini?

Chorong menangkap sinyal yang dimaksud Changsub. Sambil menuangkan minuman, Chorong mengangguk. “it’s okay”. Aku tak apa. Aku bisa mengatasinya. Percayalah.

“Nona cantik, tolong tuangkan juga untukku, dan anak buahku yang satu lagi juga.” Pinta sang dirjen dengan centil. Chorong membalas lagi dengan topeng senyum dan menuangkan minuman ke gelas anak buah dirjen dan dirjen. Saat menuangkan minuman ke gelas dirjen, dirjen itu memegang tangan Chorong.

“Park Chorong ssi, wanita semuda dirimu, pastinya belum menikah kah?” Tanya Dirjen tersebut. Chorong berusaha melepaskan perlahan.

“Jangankan menikah pak, pacar saja dia tak punya. Betul kan, Chorong?” Jawab Manajernya dalam keadaan mulai tidak sadar. Chorong menjawabnya dengan senyuman.

Dirjen itu agak kegerahan. Ia membuka jasnya dan melonggarkan dasinya. “Ehem… begini Direktur Yeo, Manajer Jung. Masalah tunggakan pajak perusahaan kalian, jika kalian ingin mencicilnya, tentu harus membangun hubungan yang lebih baik dulu, bukan begitu?”

Direktur dan Manajer Chorong langsung terbahak basa-basi. “Hahahaha, betul. Kita harus membangun hubungan baik.”

“Aku tak suka cara melanggar hukum seperti menerima hadiah. Aku ini seorang pns yang menjunjung tinggi keadilan hahaha.” Dirjen itu menatap Chorong dengan nakal. “Aku lebih suka menjalin hubungan baik dengan ya ngobrol-ngobrol dan makan malam seperti ini. Agar hubungan lebih solid, tentunya, alangkah lebih baik memulai dari bawah, betul?”

Lagi, Direktur dan Manajer Chorong terbahak sambil mengangguk.

“Oleh karena itu, mungkin bisa dimulai dari Chorong ssi? Besok bisakah kita makan malam agar hubungan perpajakkan dengan Get Beauty Corp menjadi lebih erat.”

Changsub terkejut mendengar permintaan atasannya. Ia langsung melirik Chorong yang sama terkejutnya mendengar permintaan itu. Ini bukan pertma kalinya Chorong mendapat permintaan seperti itu, tapi tetap saja Ia merasa terkejut dan tidak nyaman. Guratan wajahnya bicara akan hal itu, dan Changsub tahu betul hal itu.

“Kamu pasti kosong kan besok? Kan tidak punya pacar. Manajer Jung besok jangan buat dia lembur.” Seru Direktur Yeo.

Chorong menarik nafas. Rasanya Ia ingin menolak, tapi Ia teringat akan kontraknya yang akan habis. “Saya kosong kok pak besok.”

Mendengar jawaban Chorong, Changsub terkejut tak bisa mengontrol dirinya. Mulutnya langsung menganga lebar dan pupil matanya pun ikut membesar menatap Chorong heran. Kenapa Chorong mau? Apakah Chorong sudah gila? Jelas-jelas Ia tak mau, dan Ia adalah tipe yang jika tak mau pasti akan menolak sekeras apapun, tapi kenapa Ia menerima ajakan gila tersebut. Changsub tak mengerti. Ia merasa ada yang salah dengan pekerjaan Chorong.

Ia mencoba mengingat curhatan Chorong beberapa waktu lalu. Dia memang pernah cerita mengenai budaya perusahaannya yang buruk, dan kontraknya yang hampir habis. Chorong harus bertahan karena memang butuh uang. Changsub langsung ngeh mengapa seorang Park Chorong mau melakukan hal itu. Chorong butuh bantuan.

Changsub meminum alkoholnya dalam satu teguk. “Hm.. Dirjen Kim. Bukankah sebagai PNS yang tak melanggar hukum, sebaiknya menghindari zina?”

Atasan Changsub menekuk wajahnya. “Maksudmu? Yang aku lakukan itu zina?”

“Tak baik seorang pria beristri mengajak seorang wanita lajang makan malam. Apalagi jika wanita itu sudah mau bertunangan.”

Sang Dirjen kebingungan. Begitu juga dengan Manajer dan Direktur Chorong. Manajernya pun langsung memastikan. “Chorong, kau btul tidak punya pacar kan?”

Chorong mengangguk. “Be..bet…” Belum juga selesai Chhorong menjawab. Changsub langsung berdiri dan membungkuk 45 derajat.

“Maaf sebelumnya, tapi perkenalkan saya Lee Changsub, kekasih dari Park Chorong.”

Baca lebih lanjut

Iklan

[FF] THE DRUNK STORY

Title               : THE DRUNK STORY

Rate               : 13+ aja kok, enggak usah lebih

Genre             : a ROMANCE and a little FRIENDSHIP dengan bumbu ANGST sediiiikit

main Cast     : SUNNY SNSD, YURI SNSD

OTHER CAST   : TAEYEON SNSD, BAEKHYUN EXO, MINHO SHINEE, ONEW (LEE JINKI) SHINEE

length           : One shot

Author          : si penulis amatir HANAN HANIFAH

INSPIRED        : salah satu kisah di FF ini terinspirasi dari curhatan salah satu sobatku, dan juga lagu Rio Febrian – Memang Harus Pisah

Disclaimer   : Aku sedang mencoba membuat dua cerita *masalah tepatnya* yang mirip dijadiin satu cerita, tapi kayaknya hasilnya bakalan berantakan -,-. Aku juga pengen mencoba membuat cerita yang agak dewasa. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

“Maafkan aku tapi aku harus melepasmu. Kita tak ditakdirkan bersama. Kita harus berpisah.” Ujar seorang pria pada kekasihnya. Mendengar hal itu kekasihnya hanya dapat menangis. Tangisannya makin keras saat pria pergi dari hadapannya.

“Kok lemah banget sih jadi laki-laki? Malah pergi begitu saja!” Seru Sunny yang baru saja masuk ke dalam kedai. Ternyata tadi merupakan adegan drama, dan Sunny mengomentari adegan tersebut.

“Hai, kau sudah datang?” Sapa Taeyeon, sang pemilik kedai.

“Bawakanku telur dadar, dan soju!” Pinta Sunny.

“Tunggu dulu, Gun! Kenapa kita harus berhenti! Kenapa enggak kita coba buat mempertahankan?” Ternyata adegan drama itu masih berlanjut, dan Sunny masih memperhatikan adegan drama itu.

Dalam drama tersebut pria itu hanya diam dan menggeleng. “Itu sulit, enggak akan bisa!”

Adegan drama itu benar-benar menyentuh perasaan Sunny yang sedang sensitif.

“Ya! Kenapa kamu menyerah? Masalahnya sebesar apa sih sampao.kamu nyerah?” Gerutu Sunny sebal.

“Mereka harus putus hanya karena sahabat si pria menyukai si wanita semenjak pria dan wanita itu belum bertemu.” Sahut wanita jangkung yang duduk sendiri disebrang meja Sunny.

“Apa? Hanya karena itu? payah banget sih! Enggak ada semangat juang!”

“Betul! Jadi lelaki itu jangan gampang menyerah! Baru juga masalah kayak gitu!” Wanita jangkung itu ikut menimpali.

“Belum berhadapan dengan keluarga kan? Belum enggak dapat restu kan?”

“Belum tiba-tiba disuruh putus kan, padahal pacaran sudah lama!”

“Wah-wah kalian tampaknya punya masalah yang sama.” Sahut Taeyeon sambil menyimpan pesanan Sunny.

“Dia siapa?” Tanya Sunny.

“Dia pelanggan tetapku. Seminggu sekali pasti kesini. Biasanya dia bersama kekasihnya.” Jawab Taeyeon. “Yuri, kenalkan dia sahabatku, Sunny.”

Yuri menganggukkan kepalanya. “Annyeong.”

“Lalu mana pacarmu? Tumben sendiri? Apa kalian ada masalah?”

Yuri hanya tersebyum tipis sambil menenggak sojunya.

Sunny menoyor kepala Taeyeon. “Hei, kau bodoh apa? Tadi kan kau sendiri yang bilang bahwa kami berdua tampaknya punya masalah yang sama setelah mendengar kami berbicara! Jadi, tentu saja jika dia disini tak bersama pacarnya karena sedang ada masalah.”

“Maaf.” Hidung Taeyeon kembang-kempis seperti sedang mencium sesuatu. Ia mendekatkan hidungnya pada mulut Sunny. Taeyeon pun sadar asal bau yang Ia cium. “Kau sudah minum sebelum kemari?”

Sunny mengangguk “Aku minum 2 kaleng bir. Aku kira itu akan cukup menenangkan hatiku, tapi ternyata tidak.”

“Kau sedang ada masalah dengan Minho?” Taeyeon kembali bertanya pada Yuri.

Begitulah.” Jawab Yuri sambil terus meminum Sojunya.

“Tampaknya kita mempunyai masalah yang serupa. Rasanya menyenangkan kan jika kau tak sendiri menghadapi masalah seperti ini? Yuri, kau duduk disini saja. Kita saling berbagi kesedihan!” ajak Sunny. Yuri awalnya tampak mempertimbangkannya, tapi tak lama kemudian Ia menyetujui Ide Sunny dan bergabung dengan Sunny dan Taeyeon.

“Wah tampaknya aku akan sangat sibuk melayani dua orang frustasi ini. Untung kedai sudah tak begitu ramai lagi.” Ujar Taeyeon.

“Ya tapi kau lebih baik izin dulu dengan suamimu, yang mengelola kedai hari ini kan cuman kalian berdua aku lihat.” Saran Yuri.

“Lah bukannya kau punya part time dua orang?” Seloroh Sunny

“Suga besok ujian jadi kusuruh libur, sedangkan Bomi dia sedang sakit.” Jawab Taeyeon.

“Baekhyun-ah! Kami pinjam dia dulu ya? kami butuh dia.” Rajuk Sunny pada suami Taeyeon. Baekhyun mengacungkan jempolnya sebagai tanda Ia setuju.

Yeobo, kalau kau sudah kewalahan melayani pelanggan, panggil aku!” Teriak Taeyeon manja.

“Siap, sayang!” Sahut Baekhyun yang sedang asyik merebus ramen.

Taeyeon mengetuk-ngetukan sumpit ke piring kosong milik Yuri sebagai tanda sesi curhatnya dimulai. Sumpit tersebut Ia letakkan di hadapan mulutnya, seolah-olah itu adalah sebuah mic “Iya, kembali lagi dengan Mama Taeyeon, curhat yuk! Silahkan keluarkan keluh kesah kalian. Apa yang menganggu hati dan pikiran kalian? Mama Taeyeon siap mendengarkan.”

Yuri yang baru tahu jika tingkah laku Taeyeon yang ajaib –setidaknya menurut dia – cukup terhibur akan hal itu. Yuri tertawa kecil, sedangkan Sunny hanya diam sambil mengunyah telur dadarnya.

“Hari ini kita kehadiran nona Yuri dan nona Sunny. Yuri ini merupakan pelanggan tetapku dan Sunny merupakan sahabat lamaku. Kita mulai dari siapa ya? Mereka berdua sama-sama tampak frustasi. Aku harus memulai dari siapa ya?”

“Taeyeon, kau seperti penyiar radio asli. Seharusnya kau daripada bisnis kedai seperti ini, harusnya kau jadi penyiar saja.” Usul Yuri saat melihat kemampuan Taeyeon membawakan acara.

“Kau tidak tahu? sebelum menikah aku ini seorang penyiar! Sejak menikah aku berhenti karena ingin menjadi istri yang baik. Baru-baru ini aku ditawari lagi untuk membawakan acara di radio, dan sedang kupertimbangkan.”

“Terima saja tawaran itu!”

“Baek juga sudah mengizinkan sih sebenarnya. Ya kalau jadwalnya cocok dan tidak menganggu bisnisku ini, sepertinya akan kuterima.”

“Hei, kalian ini bicara kemana saja. Sudah aku saja yang bercerita duluan.” Sunny merebut sumpit yang ada di tangan Taeyeon. Ia pun mulai bercerita.

“Tadi siang Jinki memutuskanku.” Sunny mulai bercerita dengan wajah murung. “Dia bilangnya memang dari dulu ingin mengakhiri hubungan kami, tapi aku yakin dia pasti ingin mengakhirinya karena obrolan dengan ibuku kemarin malam!”

“Loh kenapa dia ingin mengakhiri hubungan kalian dari lama?” tanya Yuri

 “Jadi kemarin malam, seperti biasa setiap sabtu malam Jinki selalu ke rumahku. Saat dia tiba aku sedang mandi. Dikesempatan itulah ibuku berbicara empat mata saja.”

“Lalu, apa yang mereka bicarakan?” Taeyeon mulai penasaran.

“Ya mereka bicarakan masalah hubungan kami dan keadaan Jinki….”

*****

Malam itu, seperti biasa Jinki mendatangi rumah kekasihnya, dan seperti biasa Ibu Sunny selalu menyambut Jinki dengan hangat. Ibu Sunny tersenyum menyapa Jinki. Awalnya mereka hanya mengobrol hal-hal ringan, tapi Jinki bisa merasa jika Ibu Sunny sedang menyembunyikan sesuatu. Terlihat sekali dari raut wajahnya yang tampak cemas dan ingin menyampaikan sesuatu. Jinki tampak tak nyaman akan hal itu. Jinki mempunyai feeling hal yang ingin dibicarakan Ibu Sunny masalah hubungan mereka. Sebenarnya kalau boleh memilih Jinki lebih ingin tak membicarakan hal itu, tapi a tahu hal ini pasti akan tiba juga saatnya. Akhirnya Jinki pun bertanya pada Ibu Sunny.

“Ibu, aku lihat daritadi kayaknya ibu tak tenang. Ada hal yang mengganjalkah bu?” Tanya Jinki.

Ibu Sunny tersenyum. “Kamu jadi lelaki bagus ya, peka. Tak seperti ayahnya yang enggak punya kepekaan. Pantas saja Sunny betah banget sama kamu.”

Jinki tersenyum mendengar pujian tersebut. “Apa ada yang ibu ingin bicaakan denganku?”

Wajah Ibu Sunny yang daritadi tampak sumringah kini mulai berubah serius. “Jinki sebelumnya, ibu ingin tahu. Kamu dan Sunny sudah berpacaran berapa lama?”

“Sudah hampir enam tahun bu.”

“Sudah lama juga ternyata. Sekarang umur kalian berapa tahun? Kalian seusia kan?”

Jinki mengangguk. “Dua puluh tujuh tahun.” Sampai pertanyaan ini Jinki sudah merasa tak enak. Dua pertanyaan tadi, Ia tahu akan mengarah kemana.

“Dengan waktu pacaran selama itu, dan usia kalian yang sudah matang pasti kalian sudah mulai berpikir untuk melangkah ke depan. Sudah mempunyai pikiran untuk berhubungan yang serius dan komitmen yang lebih lagi kan?”

Jinki diam saja. Ia tak menjawab pertanyaan Ibu Sunny. Sebenarnya Ia ingin menjawabnya, tapi Ia tahu Ia tak layak untuk menjawab pertanyaan tersebut.

“Diusia Sunny ini, Ibu berharap dia sudah punya pendamping hidup. Inginnya sih, tahun depan dia paling telat sudah menikah. Sebagai seorang ibu, pastinya Ibu berharap Ia mendapatkan yang terbaik. Seseorang yang bisa menjaganya, menyayanginya, mencukupi kehidupannya, yang benar-benar memperlakukannya dengan baik dan dapat membimbingnya.”

Jinki mulai menundukkan kepalanya. Ia tahu pasti Ibu Sunny akan membicarakan mengenai kondisinya kini.

“Ibu tahu sebenarnya Sunny sudah memilih orang yang tepat dari enam tahun lalu. Ibu percaya kamu memang mencintai Sunny dengan tulus dan apa-adanya. Selama ini kamu sudah mengarahkan Sunny ke arah yang jauh lebih baik. Hanya saja ada satu hal yang ibu khawatirkan. Untuk masalah materi, sesungguhnya kamu amat menjanjikan. Pekerjaanmu sebagai direktur dan tak lama lagi pasti kau akan menggantikan ayahmu menjadi CEO, tapi ada satu hal yang mengganjal. Kamu tahu maksud ibu?”

Jinki mengangguk lemah. “Pasti mengenai kursi roda ini kan bu?” Jinki menunjuk kursi roda yang Ia duduki. Baca lebih lanjut

[FF] Ikhlas

Title                      : IKHLAS

Rate                      : PG 13+

Genre : ROMANCE, ANGST tapi gagal, FRIENDSHIP

main Cast         : LEE JINKI SHINEE (ONEW)

OTHER CAST       : SHINEE’S MEMBER (KIM JONGHYUN, KIM KIBUM, CHOI MINHO, LEE TAEMIN) LUNA F(X)

length               : One shot

Author              : HANAN HANIFAH hadir lagi

Disclaimer       : ini udah beres dari jaman kapan. Ini sebenernya udah bisa aku posting dibulan februari tapi karena ada satu hal baru bisa ku posting sekarang. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

Rinai hujan turun membasahi bumi.  Jinki sedari tadi hanya berdiiam diri didepan jendela, memandangi titik hujan yang menghiasi jendela kamarnya dengan wajah sendu serta tatapan kosong.

“Hujan. Hal yang sangat kau sukai,bukan?” gumam Jinki. Jinki memainkan jarinya dijendela tersebut. Jari-jarinya berpindah dari satu titik air ke titik air lainnya. Jinki kemudian memalingkan wajahnya ke meja yang ada disampignya. Ia menatap sebuah figura foto, kemudian Ia berbicara kepada foto itu.

“Setiap hujan pasti Kau selalu memandanginya dipinggir teras rumahmu. Sambil tersenyum kau  menjulurkan tanganmu keluar agar tanganmu dapat terkena tetesan hujan,” Jinki menghela nafas sesaat Andai saja Aku bisa melihat hal itu lagi.”

Jinki kembali menghadap jendela. Telunjuk kanannya kemudian menulis rangkaian huruf Hangeul pada jendela yang berembun. Bogoshipda,Luna.

Terdengar suara pintu terbuka, namun Jinki tak menyadari hal itu. Ia hanya menatap tetesan hujan dijendela.

Hyung.” panggil Taemin.

Jinki diam, tak menggubris panggilan sahabatnya itu.

“Mau makan enggak? Sudah jam dua siang nih. Sudah lewat waktunya makan siang.”

Jinki seolah tak mendengar pertanyaan Taemin. Ia hanya diam.

“Apa Hyung enggak lapar? Hyung kan belum makan apa-apa daritadi pagi. Terakhir Hyung makan kan kemarin malam.”

Lagi, Jinki tak menanggapi perkataan Taemin. Taemin mulai frustasi.

Hyung, jebal. Makanlah.” Mohon Taemin.

“Aku enggak lapar.” Akhirnya Jinki bersuara.

“Hm… kalau begitu, jika Hyung merasa lapar, panaskan saja sup jamur yang sudah dibuat Kibum Hyung. Aku harap sebelum waktunya makan malam, Hyung sudah makan siang.” Ujar Taemin sambil pergi keluar kamar Jinki. Taemin khawatir dan merasa sedih melihat keadaan,sahabat yang sudah dianggap sebagai Hyungnya sendiri itu, seperti itu.

Taemin menghampiri ketiga sahabat Jinki lainnya duduk di sofa ruang tengah. Ketiga orang itu langsung mencecarnya dengan pertanyaan.

“Gimana, berhasil ngebujuk Dia buat makan?” Tanya Kibum penasaran

Taemin menggeleng lemah.

“Apa Dia masih meratapi hujan?” Tanya Jonghyun.

Taemin mengangguk sedih.

“Ya Tuhan! Kalau Dia kayak gini terus, bisa-bisa Dia nyusul Luna!” Cemas Minho sambil mondar-mandir tak jelas.

“Aku tadi sudah memaksanya, tapi Dia bilang, Dia masih kenyang.” Ujar Taemin.

“Kenyang dari Hongkong! Jelas-jelas Dia terakhir makan tadi malam. Hari ini Dia hanya minum air putih saja! Gimana bisa Dia bilang kalau Dia masih kenyang!” kesal Jonghyun.

“Kesedihannya dan ketidakikhlasannya bikin Dia kenyang.” lirih Minho.

“Sudah 5 bulan Dia hidup seperti ini. Sejak ditinggal Luna, Jinki Hyung begitu kacau. Rambutnya dan bulu-bulu diwajahnya dibiarkan tumbuh tak terawat. Makan sehari sekali. Kerjaanya cuman diam di kamar, bengong. Diam meratapi semua itu. Dia enggak bisa hidup kayak gitu terus. Dia harus bangkit. Kita enggak bisa ngebiarin Dia hidup seperti ini!” seru Jonghyun semangat.

“Ah, gimana kalau aku dan Minho mencoba mengajaknya keluar. Dia harus menghirup udara luar, siapa tahu dengan begitu Dia bisa bangkit.” Kibum mencetuskan idenya.

“lakukanlah! Secepat mungkin! Kalau bisa besok!” titah Jonghyun.

Minho mengangguk “Tenang saja Hyung. Akan kami lakukan besok.”

*****

Minho, Kibum, dan Jinki sedang berjalan di Taman Yeouido Sungai Han. Baca lebih lanjut

Come and Go (This Memories Will Always be There)

 

Pelayan meletakkan buku menu dihadapan Seruni. Seruni membuka lembaran daftar menu itu satu per satu, hingga lembar terakhir. Setelah mencapa lembar terakhir, Ia membuka beberapa lembaran sebelumnya. Di halaman itu lah Seruni memutuskan pesanannya.

“Mojito yang non alkoholnya satu.” Pesan Seruni.

“Makanannya?” Tanya sang Pelayan.

Seruni menggeleng pelan, “Nanti saja. Sekarang Saya pesan minum saja dahulu.”

“Baik.” Angguk Pelayan itu seraya pergi.

Sembari menunggu pesanannya datang, Seruni memperhatikan isi resto tersebut. Resto yang dikunjunginya kali ini bernuansa modern. Banyak furnitur dan ornamen-ornamen khas lifestyle masa kini. Musik yang mengalun menemani pengunjung makan merupakan musik yang sanggup menghentakkan tubuh dan kaki. Suasananya tak begitu ramai. Hanya ada segelintir orang saja di resto itu. Sekumpulan orang kantoran yang walau sedang hari libur tetap terpaksa bekerja berada di depannya. Disudut lain ada sepasang muda-mudi yang asyik bercengkrama. Sementara dibelakangnya ada beberapa wanita yang asyik bergosip, dan di arah jam dua ada seorang pria yang sedang sendiri sama seperti dirinya. Entah lah Dia sedang menunggu seseorang atau berniat datang sendirian.

Orang-orang berseliweran di Resto itu. Ada yang datang dan ada juga yang pergi. Seruni merasa keadaan resto tersebut layaknya hidup. Ada yang datang dan adapula yang pergi. Tak mungkin kita berada pada keadaan dan situasi yang sama untuk selamanya. Pasti aka nada yang berubah. Ada yang datang pada kehidupan kita, adapula yang pergi dari kehidupan kita.

Setiap kita pindah pada suatu fase kehidupan yang baru akan muncul orang-orang baru dan orang-orang lama perlahan-lahan akan pergi. Tentu saja hal itu sebenarnya tak ingin terjadi, tapi karena kita adalah manusia yang hidup pasti akan mengalami terus roda perputaran. Tak mungkin kita akan terus bersama orang tersebut untuk selamanya. Bersama keluarga pun takkan kekal. Ada yang dipisah karena perceraian, berpindah alam atau ketika beranjak dewasa perlahan-lahan anak-anak akan meninggalkan rang tua karena ikatan janji suci berupa pernikahan. Kelurga pun seperti apalagi teman yang pastinya akan mencapai masa dimana tidak bisa bertemu setiap hari, setiap bulan, bahkan mungkin setiap tahun.

Seruni sangat merasakan hal itu. Ia menyadari itu semua. Hal tersebut mengingatkannya pada sahabat-sahabat masa SMAnya. Kenangan tentang mereka kembali terputar di otaknya. Seruni membuka galeri foto di tabletnya. Ia membuka folder-folder lamanya. Ia melihat lagi satu per satu foto-fotonya bersama sahabat-sahabatnya itu. Ah sungguh hatinya kembali merindu. Rasanya Ia sangat ingin kembali ke masa-masa itu, dimana tiada hari tanpa bersama mereka.

Delapan tahun sudah Ia melepas seragam putih abunya. Sudah selama itu pula Seruni dan kawan-kawannya tak bertemu untuk setiap hari. Mulanya mereka masih bisa saling bertemu setiap minggu, lama kelamaan karena ada yang datang pada kehidupan masing-masing sehingga intensitasnya makin berkurang. Sampai akhirnya mereka hanya bisa saling bertemu minimal setahun sekali. Terkadang lebih dari sekali, tapi itu pun harus curi-curi waktu di sela kesibukan. Sekalinya pun kumpul belum tentu lengkap. Seringkali kekurangan personil karena Dia sangat sibuk dengan kehidupan yang tak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Seiring keidupan yang terus bergulir pun, komunikasi pun bisa terbilang jarang. Hanya sesekali saling mengomentari, atau sekedar chatting. Itu pun jika ada topik. Tak seperti dulu yang chatting untuk membicarakan hal-hal yang sangat tak penting tapi sangat menyenangkan untuk diobrolkan.

Lamunan Seruni terbuyar dengan kehadiran pelayan yang memberikan pesanannya. Seruni langsung menyambut mojitonya itu. Rasa segar mint bercampur sedikit asam dan sedikit sengatan kecil dari soda membuat pikiran dan hatinya tenang. Setidaknya Ia tak begitu tenggelam dengan rasa rindunya.

Hanya saja itu tak berlangsung lama. Seruni kembali menatapi foto-foto itu. Seolah seperti rol film, otaknya kini memutar setiap momen yang pernah terjadi diantara mereka semua. Momen saat mereka SMA dimana mereka saling menjahili satu sama lain, belajar bersama, mengacak-acak rumah salah satu dari mereka, makan bersama. Beranjak lulus mulai sering keluar bermain mengunjungi satu tempat, berwisata kuliner, bertukar cerita mengenai kampus masing-masing. Beranjak dewasa mulai saling bertukar pikiran mengenai kehidupan nyata macam masalah politik, sosial. Mengunjungi pernikahan teman bersama-sama. Sudah bertahun-tahun Seruni mengenal dan bersama mereka. Ada satu yang tak pernah hilang walau mereka beranjak dewasa, yaitu canda dan humor mereka tak pernah berubah. Rasa canda dan humor itu malah semakin berkembang sesuai usia mereka.

Mengingat itu semua benar-benar membuat Seruni ingin mengulang masa-masa itu. bisa bersama mereka setiap harinya. Hanya sekedar bertemu mengobrol dan bercanda itu merupakan suatu keindahan dan kenikmatan bagi dirinya. Namun inilah kehidupan, ada yang datang dan ada yang pergi. Saat ada yang datang pasti aka nada yang pergi. Begitupula dengan Seruni dan kawan-kawannya. Perlahan-lahan orang datang dan mereka dengan sendirinya harus meninggalkan kehidupan lama.

Kini yang bisa Ia lakukan adalah biarkan itu semua menjadi kenangan. Dengan kenanganlah persahabatan mereka tetap  hidup dalam sanubari mereka masing-masing. Dengan kenanganlah mereka dapat ingat bahwa mereka pernah ada pada masa yang sama. Melalui kenangan tersebut akan tetap hadir rasa rindu dan rasa saling memiliki. Akibat kenangan itulah Seruni berada disini.

Baca lebih lanjut

[FF] Obat

Title               : OBAT

Rate               : pg 13+

Genre             : FRIENDSHIP, CRIME tapi aku ga yakin, cuman garnish kali yaa

main Cast     : EXO BEAGLE LINE, OUR 92LINE, BYUN BAEKHYUN, KIM JONGDAE (CHEN), PARK CHANYEOL

OTHER CAST   : POLISI PENDEK DAN POLISI TINGGI

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH punya

Disclaimer   : Mumpung belum banyak tugas, mumpung masih sempet bikin ff. tahun 2014 ini tampaknya aku akan sibuk, karena aku mengikuti dua organisasi di kampus *eh maap malah curcol*.  Eh ya maaf ya kalau agak lebay, dan ga nyambung. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

Suasana klub tampak riuh. Bau alkohol merebak sepanjang klub. Kebulan asap rokok muncul diantara kelap-kelip lampu warna warni. DJ memainkan perannya dengan baik. Semua orang menggerakan tubuhnya sesuai irama musik dengan wajah sumingah. Bagi yang tak terjun ke lantai dansa, Mereka terlihat duduk santai, Ada yang sedang mengobrol sambil sesekali tubuhnya bergerak mengikuti irama musik, adapula yang sambil minum ditemani wanita-wanita cantik.

Di salah satu pojok klub, ada tiga orang lelaki yang sedang melarikan diri dari kerumitan kehidupan kampus. Mereka adalah Baekhyun, Jongdae, dan Chanyeol. Mereka terlihat sedang asyik bersantai. Mereka menikmati sebotol wine yang mereka beli patungan sambil mengobrol dan tertawa. Tak lupa juga mata mereka sesekali jelalatan mencari pemandangan yang menyegarkan.

“Kita disini mahal-mahal masuk hanya untuk duduk menikmati wine? C’mon let’s dance!” Ajak Baekhyun sambl menggoyang-goyangkan tubuhnya mengikuti irama musik.

Slow saja lah. Baru juga sampai. Nikmati dululah pemandangan yang ada.” Sahut Chanyeol dengan senyum nakal.

“Lagian kita belum dapat mangsa untuk menemani kita bersenang-senang.” Mata Jongdae berkeliaran mencari mangsa.

“Masalahnya waktu kita cuman sebentar. Kita bisa disini cuman sampai jam satu. jam setengah dua kita harus sudah ada di kampus.” Keluh Baekhyun sambil meminum seteguk wine.

“Kamu saja sana yang ke sana. Aku sih ogah.” Tolak Chanyeol.

“Kamu serius mau ikut penelitian Yura ke pantai?” Tanya Jongdae.

Baekhyun bersandar pada sofa dengan pasrah. “Sebenarnya Aku malas buat ikut terjun ke penelitian Dia, tapi karena Dia yang minta, Aku enggak bisa nolak.”

“Mau-maunya mengorbankan diri untuk tak bersenang-senang hanya demi Yura. Mending kalau Yura mau nerima cintamu itu.” Cibir Jongdae sambil mengambil rokok dari dalam tasnya.

“Ya namanya juga usaha,bro.

“Usaha melulu, tapi enggak ada kemajuan. Itu artinya Kamu cuman sebatas teman sama Dia.” Chanyeol menasehati Baekhyun.

“Kata siapa? Dia belum pernah menolakku secara terang-terangan. Itu artinya Aku masih punya kesempatan.” Sangkal Baekhyun.

“Iya enggak tersurat, tapi secara tersirat. Dia nolak Kau dengan halus. Dia jarang kan membalas LINE mu? Dia bales kalau cuman ada butuhnya doang kan? Itu artinya Dia menganggapmu hanya sekedar teman.”

“Sok tahu!” Baekhyun menoyor kepala Chanyeol.

“Yee… terserah Kamu deh kalau enggak percaya.”

“Ya begitulah orang yang dibutakan cinta. jadi terlihat bodoh.” Ejek Jongdae sambil tertawa diikuti oleh Chanyeol yang juga ikut tertawa. Baekhyun melirik kesal kepada kedua sahabatnya.

“Sial. Lihat saja akan kubuktikan, kalau Dia juga minat denganku!”

Chanyeol dan Jongdae saling berpandangan. Sorot mata mereka menunjukkan kalau mereka meremehkan niat Baekhyun. Mereka berdua pun kembali tertawa.

Baekhyun yang kesal langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Dengan gayanya yang sok asyik Ia langsung ikut gabung dengan segerombolan remaja perempuan di lantai dansa. Ia pun ikut menggoyangkan tubuhna,namun karena Ia muncul secara tiba-tiba dan tampak sok asyik, para remaja itu mengabaikan kehadiran Baekhyun. Melihat itu, Chanyeol dan Jongdae pun tertawa semakin keras.

“Jongdae, minta rokok dong.” Pinta Chanyeol.

“Enggak modal. Minta melulu.” Protes Jongdae sambil melemparkan tasnya, walau Ia protes tapi Chanyeol tetap dibaginya rokok yang Ia punya. Chanyeol pun mencari rokok dari dalam tas Jongdae.

“Dimananya?” Tanya Chanyeol sambil terus merogoh tas Jongdae mencari rokok.

“Didalam, di kantong yang kecil.”

“Ah ini.” Chanyeol pun menemukan kantong kecil itu. dia membuka resleting kantong itu. Ia pun menemukan benda yang Ia cari, namun selain tembakau beracun ada barang lain yang menarik perhatiannya. Dalam kantong itu selain rokok adapula plastik kecil bening berisi beberapa tablet berwarna kuning. plastik isi obat itu tak hanya satu, tapi ada tiga. Chanyeol terpaku melihat obat-obat itu. Tiba-tiba Ia merasa curiga dengan Jongdae.

Baca lebih lanjut