[FF] Smile Drunk

Title               : SMILE DRUNK

Rate               : PG 13+

Genre             : seperti biasa ROMANCE, FLUFF

main Cast     : GONGCHAN B1A4, EUNJI A-PINK

length           : One shoT

Author          : mumpung HANAN HANIFAH punya ide

Disclaimer   : Gongchan-Eunji tuh couple yang tak pernah ada moment, tapi aku entah mengapa ngeship mereka. Random aja gitu aku mlih mereka buat dishippin wkwkwk. Rencana awalnya ini harusnya terbit april, tapi karena april aku sibuk uts dan tugas, jadi baru selesai me sekarang. gagal deh target aprilku. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY.

Cahaya matahari pagi menelisik mataku dan hilir ringan angina segar yang menggelitik hidungku cukup membuatku tersadar dari alam mimpiku, namun tak cukup kuat untuk membuatku terbangun. Kelopak mataku rasanya seperti tergantung karung beras sehingga terasa berat untuk membukanya. Aku memegangi kepalaku yang terasa amat pusing. Kepeningan kepala ini membuatku ingin melanjutkan aktivitas tidurku ini. Kupeluk kembali guling yang berada disebelahku.

Tunggu… guling? Kenapa bisa ada guling? Aku tidur dimana? Seingatku semalam aku masih minum di kedai dekat kampus. Aku raba-raba tempat tidurku. Ini sebuah Kasur. Aku tidur di Kasur siapa? Hal ini langsung membuat mataku terbuka. Aku melihat sekelilingku. Kini aku berada disebuah kamar bergaya maskulin. Terdapat gantungan baju futsal dan beraneka topi berlatar belakang tembok berwarna hitam putih. Jelas ini bukan kamarku. Tidak ada poster doraemon dan juga lampu hias berbentuk bintang. Seketika aku langsung bangkit dari Kasur. Aku mengira-ngira, dimanakah aku berada? Di apartemen siapakah aku? Melihat style kamar seperti ini tampaknya aku sudah dapat mengira, tapi aku merasa tak mungkin aku bisa terdampar di apartemen orang ini.

Aku pun segera keluar kamar untuk memastikan aku berada dimana, begitu membuka pintu aku langsung disambut dengan sofa berwarna merah tua dan juga sebuah televisi, dan juga sebuh radio tua dipojok kanan. Aku mengenal sekali ruangan ini. Beberapa kali aku pernah menginjakkan kaki di kamar ini. Berarti sekarang aku berada di apartemen…..

“Eunji! Akhirnya bangun juga. Ayo sarapan, sudah kubuatkan sup penghilang mabuk untukmu.” Sapa sang empu apartemen dari dapur. Kenapa aku bisa di tempat ini? mengapa aku bisa tersasar di apartemen Gongchan??? Ini semua pasti karena aku terlalu banyak minum semalam!

Aku hanya bisa menatapnya dengan penuh tanda tanya. Ditatap seperti itu malah membuatnya menghampriku dan mendorongku ke meja makan. Ia membuka kan kursi untukku dan mendudukkanku,, dan aku hanya bisa melihatnya dengan tatapan bingung.

“Kok kamu seperti yang linglung?” Tanya Gongchan sambil mewadahi sup untukku.

“Kenapa aku bisa disini?” Tanyaku langsung tanpa basa-basi.

“Kau yang memintaku datang.”

“Aku?”

“Iya, kau meneleponku memintaku untuk datang.” Angguk Gongchan.

jinja? Lalu kenapa kau malah membawaku ke apartemenmu?”

“Aku sudah berniat untuk membawamu pulang ke apartemenmu, tapi aku tak tahu password apartemenmu, dan kau sudah terlalu mabuk untuk ditanyai. Jadi daripada kau kuterlantarkan mending ku bawa pulang.”

Aku langsung mengambil ponselku di saku celanaku. Kuperiksa catatan panggilan untuk memastikan dia tak berbohong, dan sial Ia berkata jujur. Disitu tercatat kalau aku meneleponnya sebanyak lima kali dengan panggilan terakhir jam 11 malam. Urat Maluku rasanya kini menebal dan memanas. Aku malu sekali, kenapa aku bisa melakukan hal sebodoh itu. kugigit bibirku untuk menutupi rasa malu dan gugupku.

“Maafkan aku karena membuatmu repot. Aku tak sadar saat meneleponmu. Maaf ya.”

“Sudahlah. Tak usah dipikirkan. Makan saja dulu.” Sahut Gongchan sambil mengunyah.

Sendok stainless berisikan kuah sup dan nasi masuk bergiliran perlahan ke mulutku. Rasanya ingin mengetokkan kepalaku ke meja karena kebodohanku ini. kenapa bisa-bisanya saat mabuk aku malah menelepon dia? Aku harap hal bodoh yang kulakukan saat mabuk hanya sebatas itu. eh iya kan? hanya sebatas itu? aku tak melakukan hal bodoh lainnya kan? ah sungguh aku tak mengingatnya.

“Gongchan, saat aku mabuk aku tak melakukan hal bodoh lain kan?” Delikku penasaran.

“Hal bodoh? Seperti apa?” Dahi Gongchan berkerut.

“Ya hal bodoh, seperti aku meneleponmu saat mabuk.”

Mata Gongchan melirik ke atas tampak mengingat-ingat. “Hm… kurasa tidak. Saat kau mabuk kau hanya banyak bicara saja menceritakan masalahmu.”

“Masalah? Masalahku yang mana?” Panikku seketika.

“Kau yang punya masalah tentunya kau yang harusnya lebih ingat. Sudah akan saja dulu. berpikirnya nanti lagi.”

Dia bilang kalau aku membicarakan masalahku. Masalahku yang mana? Serius ini aku merasa panik. Wajar saja aku panik, karena aku terdampar di kedai minum karena dia. Jangan bilang jika aku malah menceritakan hal itu langsung pada orangnya. Mati aku! Aku otomatis langsung menepuk dahiku.

“Kenapa? Kau mengingatnya?” tanya Gongchan. Aku menggeleng.

Ia terkekeh melihatku seperti itu. “Hehehe, sudah makan saja dulu. jangan berusaha mengingat.”

Gongchan menyuruhku untuk tak berusaha untuk mengingat, tapi hal itu malah membuatku semakin ingin berusaha mengingat. Hal bodoh apa yang kuceritakan pada dia. Aku ingat sebelum aku mabuk, aku mendatangi kedai itu karena kekacauan hati yang kurasakan. Semua kekacauan itu disebabkan orang yang sudah membuat sup penghilang mabuk ini.

Hal ini bermula dari masalah hubungan kami. Hubunganku dengan Gongchan dapat dikatakan dekat, tapi untuk mengarah ke hal romantis, aku tak yakin. Hanya saja memang betul perasaaanku padanya lebih dari sekedar teman, tapi aku tak tahu dengannya. Dia sulit dbaca karena faktanya dia baik terhadap semua perempuan yang Ia kenal. Ia selalu tersenyum manis pada semua perempuan. Hal tersebut sulit bagiku untuk menebak siapa perempuan beruntung yang mendiami hatinya. Agar aku dapat mengetahui siapa perempuan beruntung itu, aku selalu memperhatikan perempuan yang dekat dengan dia selain aku. Pengamatanku itu menghasilkan beberapa nama, tapi pada akhirnya minggu lalu mengarah pada satu nama, Jiyeon, teman sekelas Aku dan Gongchan.

Minggu lalu aku sedang makan bersama dia dan satu teman kami, Jieun. Mereka berdua lalu pergi ke toilet, dan Jiyeon menitipkan ponselnya padaku. Diponselnya muncul sebuah pesan dari kakaotalk dan itu pesan dari Gongchan. Hal itu membuatku penasaran dengan isinya, saat Jiyeon telah kembali aku berusaha untuk mengintip isi pesan tersebut saat Jiyeon sedang membalasnya. Aku pun beberapa kali melihatnya saling berbalas pesan. Dari pesan itu dapat kusimpulkan jika mereka sangat akrab. Hal yang mereka bicarakan tak sekedar tugas, tapi hal tak penting lainnya. Disitulah aku menyadari tampaknya ada sesuatu diantara mereka, dan tentu saja itu membuatku merasa jatuh.

Kekecewaanku ternyata terus berlanjut dengan puncaknya sore kemaren. Aku sedang berjalan di parkiran menuju gerbang kampus untuk pulang. Aku tak sengaja melihat ke arah parkiran mobil, dan aku melihat pemandangan tak mengenakan –setidaknya untukku–. Aku melihat Gongchan dan Jiyeon berdiri disamping mobil Gongchan. Tampak terlihat dari raut wajah mereka yang mendalam, mereka sedang berbicara hal serius, dan hal yang membuatku hancur adalah Gongchan memeluk Jiyeon. Disitulah aku benar-benar tersadar jika aku dan Gngchan hanya sebatas teman. Hanya aku yang berharap lebih, dia tidak.

Kejadian itu membuat pikiranku tak berada diragaku. Aku melangkah kaki ke sembarang tempat untuk menghilangkan kegundahan itu. Pelukan itu terus terputar diotakku. Aku merasa hatiku benar-benar hancur. Langkah kaki sembarang itu malah membuatku ke kedai minum dekat kampus. Sejujurnya kedai minum itu mempunyai kenangan tersendiri. Kami berdua pernah minum bersama dan mengobrol tak berarah hingga dini hari menjelang. Mengingat itu membuatku makin banyak menghabiskan botol soju. Aku mengingat hanya sampai situ saja. Setelah aku dalam pengaruh alkohol masih samar dalam ingatanku.

Setelah selesai makan, Gongchan menyodorkan bajunya untuk kupakai setelah mandi. Sebenarnya aku ingin bolos saja, tapi tak mungkin karena sjadwalku hari ini praktikum. Untuk pulang dulu pun takkan keburu karena sejam lagi akan dimulai. Perjalananku dari sini ke apartemen memakan waktu setengah jam, dari apartemen ke kampusku pun butuh setengah jam. Belum macet dan menunggu bis. bisa-bisa aku telat dan tak boleh masuk. Pilihan Gongchan meminjamkan baju adalah hal yang tepat.

Kubiarkan kucuran air mengalir deras di kepalaku. Aku berharap dengan begitu ingatanku akan kembali lancar. Dinginnya air tampaknya memang berhasil membuat kesadaranku benar-benar pulih dan perlahan ingatanku mulai kembali. Ya sekarang aku ingat kalau aku meneleponnya. Aku baru ingat kalau ini kebiasaanku, jika aku punya maslaah dnegan orang itu dan aku sampai mabuk biasanya aku akan meneleponnya, tapi biasanya aku tak menyuruh orang itu untuk menemuiku. Aku hanya mengumpatnya. Kenapa Dia bisa datang menghampiriku? Ku mencoba membuat reka adegan dalam otakku saat tadi malam.

*****

Baca lebih lanjut

Iklan

[FF] Bantuan

Title               : BANTUAN

Rate               : PG 13+

Genre             : Kembali ke genre pasaran tapi penuh minat ROMANCE, FLUFF

main Cast     : uri KAISTAL – KAI EXO AND KRYSTAL F(X)

length           : One shoT, VIGNETTE, FICLET

Author          : mumpung HANAN HANIFAH punya ide

INSPIRED        : Shinichi Kudo yang membantu Ran Mouri diam-diam.

Disclaimer   : Idenya terlintas begitu saja, makanya nampaknya akan kurang matang. Lagi kangen couple satu ini, jadi aku bikin FF mereka. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY.

 

Kai terkejut begitu memasuki apartemen Krystal. Tak biasanya apartemen Krystal dibiarrkan dalam keadaan seperti kali ini. Jarum-jarum tertusuk begitu saja di atas bantal. Kain-kain perca betebaran disemua sudut. Benang-benang terbelit acak, melihatnya saja rasanya sulit untuk mengurainya, apalagi melakukannya. Kostum kelinci dan gajah dibiarkan begitu saja terlipat kusut di atas sofa. Krystal terlihat sednag asyik memotong pola sambil bersenandung. Kai teringat jika kekasihnya itu sedang membuat kostum untuk pertunjukan amal ke panti asuhan. Melihat Krystal sibuk, Ia teringat ajakan Krystal tadi siang. Kai menjadi ragu ajakan Krystal akan terlaksana.

“Kita jadi enggak nih mau nonton? Kau tampak sibuk.” Tanya Kai sembari terkantuk-kantuk.

“Jadi dong!” Seru Krystal dengan semangat.

“Tapi Krystal, Kasur lebih menggoda daripada bioskop.” Kai melirik Sofa –jika dibuka lipatannya dapat menjadi Kasur– yang terletak di tengah ruang tengah apartemen Krystal dengan senyum jahil.

Krystal langsung melotot tajam. “Maksud kamu?”

Kai tertawa kecil, “hahaha, kamu mikirnya kemana?” Kai mencubit pipi Krystal gemas. “Maksud aku tuh, tubuhku lelah. Tidur tampak lebih enak dibanding nonton.”

“Ah… jangan! Terserah kamu deh di bioskop mau nonton apa tidur, yang penting kamu harus menemaniku! Semua teman-temanku sudah menonton film itu, hanya aku yang belum.” Rajuk Krystal.

“Ya terus kalau teman-temanmu sudah kenapa sih?”

“Film itu lagi jadi trending topic obrolan. Aku bingung sendiri, tak tahu apa yang mereka bicarakan.”

Aigo…” Kai geleng-geleng kepala. “Dasar wanita! Ya sudah, aku temani, tapi memangnya keburu? Sekrang sudah jam Sembilan malam.”

“Kostumnya harus jadinya besok malam. Masih ada waktu kok, aku cuman tinggal menjahit lima kostum binatang lagi. Midnight nanti kita nonton, setelah itu tidur sampai pagi, terus jahit sisanya. Deadline terpenuhi kan?”

Tiba-tiba terdengar dering ponsel dari ponsel Krystal. Krystal dengan cepat eraih ponsel yang tergeletak begitu saja diatas karpet. Ia membaca pesan yang sampai. Wajahnya yang mulanya terlihat ceria, setelah membaca pesan itu raut wajahnya langsung menjadi panik sekaligus kecewa.

Aigo! Gawat! Luna baru saja memberitahuku kalau kostum harus jadi besok siang, karena pertunjukannya dimajukan menjadi besok sore! Kostum yang belum kujahit ada lima, bisa-bisa aku tak tidur untuk menyelesaikan ini! ah… bagaimana ini?” Otot muka Krystal langsung menunjukkan rasa cemasnya. Ia sudah selesai membuat pola, hanya tinggal menjahitnya, tapi kostum yang harus Ia buat  cukup banyak. Sebenarnya dalam waktu semalam, kostumnya bisa jadi, tapi itu artinya Ia tak tidur, sedangkan Ia harus tampil prima dalam pertunjukan amal itu.

“Baguslah, jadi kita enggak usah nonton. Aku bisa istirahat.” Sahut Kai sambil membongkar sofa menjadi Kasur, kemudian Ia langsung merebahkan dirinya.

Krystal menghela nafas. Wajahnya langsung murung, “Yah… kita enggak jadi nonton ya? ah… sedih… katanya hari ini terakhir tayang, huhuhu.”

“Ya sudah enggak apa-apa ketinggalan satu film hits. Nanti juga bisa tonton di internet.” Celetuk Kai dengan mata terpejam.

“Hei, Kai! Jangan tidur dulu! Bantu aku menjahit dulu! polanya sudah kupotong, kau tinggal jahit saja.” Pinta Krystal sambil melemparkan pola yang akan dijahit pada Kai.

Sireo! Aku lelah, pertunjukan tadi menguras habis tenagaku. Lagipula, dulu aku pernah membantumu menjahit, kau mengomel karena jahitanku tak rapi.” Tolak Kai sambil melemparkan kembali pola yang harus dijahit.

“Ini keadaannya urgent, jadi enggak apa-apa jahitannya enggak rapi, yang penting jadi dan aku bisa istirahat supaya aku besok tampil fresh.” Krystal benar-benar memohon bantuan Kai, tapi orang yang diminta bantuannya malah menggelengkan kepala dengan cepat menolak permohonan orang yang butuh pertolongannya.

“Hais… kalau kau tak mau bantu, untuk apa kau disini? sudah sana pulang saja!” Usir Krystal kesal karena tak mau membantunya.

“Krystal… aku benar-benar mengantuk. Aku tak dapat menyupir dengan baik jika aku mengantuk. Jadi biarkan aku tidur.” Pinta Kai sambil membalikkan badannya dan matanya tentu saja sudah menutup dengan baik. Tampaknya Kai benar-benar sudah mulai memasuki fase tidur, dan mengingat kebiasaan Kai yang suka tidur, tentu saja sulit mengganggunya untuk meminta bantuan. Krystal pun akhirnya hanya bisa membiarkan Kai tidur.

“Haish… punya pacar kok enggak guna, susah diminta bantuannya. Dasar tukang tidur!” Gerutu Krystal kesal. Mau tak mau Krystal pun harus melanjutkan pekerjaannya seorang diri. Ia pun mulai mengambil benang jahit berwarna putih, lalu memasukkan benang tersebut kedalam lubang jarum. Jarinya kini dengan gesit menyatukan satu pola dengan pola lainnya dengan benang. Baca lebih lanjut

[FF] Kesalahan

Title               : KESALAHAN

Rate               : 13+ AJA KOK

Genre             : ROMANCE, FLUFF lah apa lagi klo tentang kaistal

main Cast     : KIM JONGIN (KAI EXO) , JUNG SOOJUNG (KRYSTAL F(X))

OTHER CAST   : KANG SEULGI RED VELVET

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH hadir lagi

INSPIRED        : dulurku terkasih,ANATOMI

Disclaimer   : Ini idenya terlintas begitu saja. Awalnya aku sedang berusaha membereskan ceita chendy tapi stuck, dan ada satu ff lain tapi sama belum bere juga, eh tba-tiba malah kepikiran ini. ya udah mumpung ada ide langsung aku tulis. Biar kekejar juga targetku. Sebenarnya aku lagi banyak tugas, tapi saking banyaknya aku gatau tugasnya apa saja, jadi daripada nganggur, aku tulislah cerita ini. NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

 

“Soojung!” Jongin merentangkan tangannya untuk mencegat langkah Soojung. Soojung melirik Jongin ketus.

“Kamu masih marah? Sms, kakaotalk enggak dibalas. Telepon pun tak kau angkat.” Tanya Jongin dan telrihat jelas raut wajahnya panik karena hal ini.

Soojung melipatkan tangannya di dadanya “Kamu sudah sadar belum apa kesalahan kamu?”

“Ya ampun kamu marah dari kemarin sampai sekarang hanya gara-gara aku enggak mendengarkan ceritamu?”

Soojung menghela nafas kesal. “Heol! Kamu belum sadar juga ternyata. Sampai kamu belum sadar apa kesalahan kamu, jangan hubungi aku!” Ultimatum Soojung tak main-main. Iya mengatakannya dengan penuh kemantapan dan kilatan kesal di mata.

“Lah? Memangnya salahku apa lagi sih? Soojung masa kayak gitu saja kamu marah? Soojung! Soojung!” Soojung mengacuhkan panggilan Jongin. Ia terus melengos pergi tak mempedulikan teriakan Jongin. Jongin yang kesal menendang udara kosong sert mengacak-acak rambutnya sebagai tanda frustasi.

Jongin pun pergi ke kantin untuk memesan minuman sekaligus untuk berpikir. Sungguh, ia tak tahu apa salahnya? Ia hanya tahu saat kemarin Soojung sedang bercerita, tiba-tiba saja Soojung marah. Wajar sebenarnya Soojung marah, karena saat Soojung bercerita, Jongin sedang bermain games sehingga Ia tak fokus, tapi jika hanya karena itu tak seharusnya kan Soojung marah hingga seharian? Hah, wanita memang sulit dimengerti!

“Hei! Kok muram amat sih?” Sapa Seulgi yang tiba-tiba kini sudah duduk dihadapan Jongin.

“Kelihatan ya mukaku muram?” Tanya Jongin.

Seulgi tertawa mendengar pertanyaan Jongin. “Hahaha iyalah. Muka ditekuk terus tatapanmu tampak kusut sambil terus menerus mengaduk-aduk jusmu tak jelas. Kenapa sih?”

Jongin menghela nafas. “Soojung marah, tapi aku engga ngerti kenapa dia marah sampai segitunya.”

“Ya tanya dong ke dia, kenapa Soojung marah ke kamu.” Sahut Seulgi sembari menyeruput cappucinonya.

“Masalahnya dia menyuruhku untuk mencari tahu sendiri kesalahanku dimana. Kan aku bingung! Coba, masa hanya karena aku enggak mendengarkan ceritanya, dia marah seharian?!”

Seulgi mengerutkan keningnya. “Enggak mungkin ah! Soojung bukan tipe orang kayak gitu.”

“Nah maka dari itu,Seulgi! Aku tak mengerti!” Jongin menyedot jusnya dengan penuh emosi.

“Pasti bukan hanya karena itu. Rinci ceritanya dong apa yang sebenarnya terjadi.”

“Jadi Begini….”

Baca lebih lanjut

[FF] Mineral Water

Title               : MINERAL WATER

Rate               : 13+

Genre             : FLUFF, ROMANCE

main Cast     : PARK CHORONG A-PINK

OTHER CAST   : JINYOUNG B1A4, WOOHYUN INFINITE, SUHO EXO

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH yang bikin

INSPIRED        : dari ff ku yang BRACELET, heehe

Disclaimer   : gara-gara liat video ereka di youtube, aku jadi tertarik sama couple ini. lucu liat chorongnya =)) kesannya kok kayak dia yang suka banget =))), ya tapi video shipper shipper begituan sih buat lulucuan aja. jangan terlalu dipikirin, jangan dianggap serius apalagi dimasukin ke hati hehehe. SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

 

Suasana lapang tampak ramai. Orang-orang tampak menyebar di bawah puluhan lampion yang tergantung diatas lapang. lampion warna-warni tersebut tampak indah menyembul dibawah gelapnya langit. Ada yang berkumpul di depan Panggung berukuran 4×4 m berdiri dengan kokohnya di ujung barat lapang, ada pula yang berkeliling mengunjungi stand-stand yang ada di pinggir lapang. Semua mahasiwa larut dalam acara tahunan fakultas mereka, yaitu festival seni. Setiap tahun, fakultas seni dan musik selalu mengadakan festival seni yang selalu mengadakan berbagai macam perlombaan kesenian.

Chorong pun tak mau melewatkan acara tahunan tersebut. Ia berada di kerumunan orang yang berkumpul lapangan gedung fakultasnya. Ia tak sendiri berada disana. Ia bersama seorang temannya, yaitu Jinyoung. Mereka berdua bergabung untuk menyaksikan perlombaan-perlombaan yang berlangsung.

Saat ini dipanggung sedang berlangsung kompetisi band. Jinyoung fokus menyaksikan aksi panggung, berbeda dengan Chorong. Chorong terlihat tak begitu fokus  menonton. Seringkali mmata dan kepalanya melihat ke seluruh penjuru arah, seolah sedang mencari sesuatu. Mulanya Jinyoung tak sadar akan kelakuan Chorong. Ia tersadar saat berdiskusi tentang band yang tampil.

“Gila itu drummernya keren banget!” Seru Jinyoung. “Itu juga yang main gitar siapa?oh si Chanyeol ya? heol, jago juga. Mereka aransemen lagunya bagus banget, mana vokalnya pakai Eunji pula! Wah, Ini band bisa menang nih!”

Chorong diam tak menjawab. Ia tak mendengarkan apa yang Jinyoung ucapkan. Ia masih asyik celingak sana celinguk sini sambil memakan eskrimnya. Jinyoung menunggu tanggapan dari Chorong, tapi tak terdengar suara Chorong. Disitulah Ia sadar.

“Park Chorong! Tadi kamu dengar enggak aku ngomong apa?” Protes Jinyoung sambil mencolek bahu Chorong. Setelah dicolek bahunya, Chorong barulah sadar.

“Hah? tadi kamu memang ngomong apa?” Tanya Chorong bingung.

Jinyoung mendesah sebal. Ia melihat Chorong dengan tajam. Ia pun melontarkan pertanyaan untuk menguji, apakah Chorong tadi fokus terhadap panggung atau tidak.

“Menurut kamu band yang barusan tampil gimana?”

Chorong terlihat sedikit gelagapan. “Eu… hm… biasa saja.”

“Kamu enggak memperhatikan ya?”

“Ah enggak kok!” Sangkal Chorong sambil pandangannya menatap arah lain, bukan menatap Jinyoung.

“Enggak usah bohong! Mata kamu tuh, keliaran kemana-mana. Cari apa sih?”

Chorong menggeleng. “Enggak cari apa-apa kok. Cuman mau liat keadaan sekitar saja. Ramai apa enggak.”

Jinyoung yang sudah mengenal Chorong sebagai sahabat selama 3 tahun kuliah dijurusan yang sama yaitu komposer, tentu saja Ia tak mudah dikelabui Chorong. Ia tak percaya begitu saja.

“Enggak usah bohong deh sama aku! I know you so well. Kau takkan bisa menipuku. Kau pasti sedang mencari seseorang kan?” Jinyoung berbicara dengan sedikit membungkukkan badannya.

Chorong yang ketahuan berbohong hanya bisa menggigit bibirnya sebal. Melihat itu Jinyoung tertawa keras.

“Hahaha sudah kuduga, pasti kamu sedang mencari…” Obrolan mereka terpotong oleh kedatangan teman mereka, sekaligus orang yang dicari Chorong semenjak tadi.

“Hei,bro!” Sapa Jinyoung kepada kedua temannya.

“Halo,bro!” Woohyun membalas sapaan Jinyoung. Mereka berdua melakukan high five.

“Kemana saja anak jurusan tetangga ini?” Tanya Jinyoung sambil menunjuk Suho

“Tak kemana-mana kok, hahaha.” Balas Suho sambil bersalaman dengan Jinyoung.

“Oh ada Chorong? Halo!” Sapa Woohyun sambil tersenyum.

“Hai, Chorong!” Senyum Suho sambil melambaikan tangan

Mendapat sapaan dari orang yang Ia harapkan membuat Chorong tersenyum dan mukanya terlihat jelas memerah. Ia pun membalas sapaan mereka berdua dengan senyuman manis.

“Kalian ikut lomba menyanyi kan?” Tanya Jinyoung.

Keduanya mengangguk.

Jinyoung mendorong bahu Woohyun pelan. “Ah kamu ngambil jatah anak jurusan Vokal! Anak Komposer sih harusnya ikut lomba aransemen, bukannya ikut lomba menyanyi! Hahaha.”

“Hahaha, iya nih, ambil jatah aku saja!” Suho ikut bercanda menyalahkan Woohyun.

“Lah kan enggak ada larangan selain anak jurusan vokal enggak boleh ikut menyanyi. Jadi kan hak aku dong buat ikutan. Hahaha.” Sahut Woohyun penuh tawa.

“Tampil ke berapa?”

“Kita di awal berturut-turut nih. Aku ke tiga, Suho ke empat.” Jawab Woohyun.

Terdengar suara pengumuman jika lomba menyanyi lima menit lagi akan dimulai. Saatnya Woohyun dan Suho menuju backstage untuk bersiap. Mereka pun segera mengkhiri percakapan mereka.

“Wah kita sudah dipanggil nih! Yuk!” Ajak Suho pada Woohyun.

“Kita lomba dulu ya!” Pamit Woohyun.

“Oke bro, semangat! Sukses!”

Chorong yang daritadi diam saja karena malu dan takut salah tingkah akhirnya ikut bersuara. Sambil tersenyum dan mengepalkan tangannya, Chorong berkata “Fighting!” Ia mengatakan itu seolah untuk mereka berdua, padahal matanya hanya tertuju pada satu orang.

“Terima kasih Chorong!” Sahut mereka berdua.

Sepeninggalan mereka berdua, Jinyoung langsung menggoda Chorong.

“Cie.. begitu ada dia langsung diam seribu bahasa gitu. Biasa aja dong, enggak usah merah gitu mukanya. Hahahaha” Goda Jinyoung.

Chorong memukul lengan Jinyoung karena sebal digoda.

“Kenapa diam saja daritadi? Padahal kan kesempatan bagus buat ngobrol.”

“Malu.” Ujar Chorong sambil menunduk saking malunya padahal orang yang Ia suka sudah tak ada di hadapannya lagi.

“Ah payah! Gimana mau maju kalau kamu diam saja, cuman nunggu. Jangankan mengobrol, nyapa saja kamu enggak berani kan?”

Chorong mengangguk lemah.

“Kenapa enggak berani? Nyapa doang loh padahal! Walau beda jurusan, kamu sama dia kan kenal! Kalian kan sama-sama anak teater. Sapa saja padahal!” Seru Jinyoung berapi-api saking gregetnya dengan sikap Chorong yang pemalu.

“Habisnya aku malu, lagian aku juga takut dia enggak suka di sapa sama aku.” Ujar Chorong lemas seolah ia hilang harapan.

“Kenapa harus takut? Percaya deh, dia pasti senang juga kok di sapa kamu. kalau aku liat dari matanya dia ada ketertarikan sama kamu, cuman mungkin dia masih agak ragu makanya dia enggak bertindak. Nah makanya kamu harus tunjukkin kalau tertarik sama dia, jadi dia enggak ragu untuk mengambil tindakan!” Jinyoung berusaha memberi semangat pada Chorong.

Chorong tak percaya dengan perkataan Jinyoung. “Ah bohong!”

“Eh malah enggak percaya. Ya, Park Chorong! Aku ini pria, aku tahu arti tatapan setiap pria. Tatapan dia ke kamu itu terlihat sekali kalau dia memiliki ketertarikan dengan dirimu! Nah makanya sekarang tunjukkan aksimu!”

Chorong menatap mata Jinyoung. Terlihat dari sorot mata Jinyoung, kalau Ia sedang tidak berbohong. Chorong pun akhirnya percaya.

“Terus aku harus apa?”

“Mulai dari hal kecil. sekarang kasih dia semangat secara pribadi untuk lomba sekarang.” Sarran Jinyoung.

“Hah? gimana caranya? Masa aku tiba-tiba datang ke backstage, terus bilang sama dia, ‘hai, semangat ya!’ ya kali kayak gitu. Kan enggak lucu!”

Jinyoung menepuk dahinya. “Ya enggak gitu juga. Kamu datang sambil bawa minum, terus kasih ke dia, terus kasih semangat deh. Kan dia mau nyanyi, pasti butuh air mineral.”

“Benar juga.” Chorong mengangguk-angguk setuju. “Tapi…”

“Tapi kenapa lagi sih? Malu?”

Chorong mengangguk lemah.

Jinyoung menghela nafas dengan kesal. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya tuhan!”

Terdengar suara MC berkumandang. MC mengumumkan jika peserta pertama akan tampil. Jinyoung berdecak kesal.

“Ayo, Chorong! Lakukan! Bentar lagi Dia tampil!”

Baca lebih lanjut

[FF] Bracelet

Title               : BRACELET

Rate               : 13+

Genre             : FLUFF, ROMANCE

main Cast     : KIM JONGIN EXO

OTHER CAST   : DO KYUNGSOO EXO, JUNG SOOJUNG F(X)

length           : One shot

Author          : HANAN HANIFAH punya

Disclaimer   : ada yang pernah marah-marah sama saya gara-gara kaistal. Kata dia sih ngapain sih ngeshippin mereka, belum tentu bener juga. Ya aku sih ngeshippin mereka karena aku suka aja sama mereka, chemistry mereka sekuat yoonhae, khunfany wkwkwk, tpi ya terlepas dari itu, aku ngeship mereka hanya sekadar fun aja, ga ampe yang maksa bgt krystal harus sama kai, kai harus sama krystal! Enggak gitu. Ya terserah mereka mau pacaran sama siapa aja, ya tapi aku sih syukur dan seneng klo mereka beneran, HAHAHAHA *evil laugh*, tetapi ya sudahlah kan ship-ship gini mah bebas,semau kita gada yg larang, kecuali yg kita ship adalah sodara kandung, jadi ya suka-suka kita. Kita boleh berkhayal, got it kan? Jadi yak lo aku sering bikin kaistal ya krna suka aja, dan sekali lagi aku ga maksa kalau kai harus sama krystal atau sebaliknya yaaa! Aduh maaf panjang inih pengantarnya.  SUKA NGGAK SUKA sih itu selera kalian, tapi mohon dengan sangat NO BASHING. GOMAWAEYO udah mau baca. MIANHAEYO kalo jelek. Aku sangat merespect orang yang menghargai karya orang, SO, PLEASE DON’T COPY THIS FF AND PLAGIARISM THIS. Please ENJOY =D.

 

 

Jongin menatap dua buah gelang yang beranyamkan tali kur dengan hiasan cangkang siput tersematkan diatasnya. Pancaran matanya terlihat ada kebingungan dan sedikit rasa sesal. Ia menyesali kenapa Ia tak tegaan dan dengan mudah kasihan dengan orang.

Sejam yang lalu Ia keluar untuk membeli beberapa makanan kecil ke minimarket. Saat Ia baru saja melangkah kaki keluar dari minimarket, tiba-tiba ada seorang nenek menghampirinya. Nenek itu tampak lesu, dan dari wajah tergurat dengan jelas rasa lelah dan putus asa. Pakaiannya agak lusuh, punggungnya yang agak bungkuk makin terlihat bungkuk karena Ia harus menanggung beban tas yang Ia bawa. Tas itu tak begitu besar, tapi cukup berat tampaknya.

“Anak muda, kemari!’ Panggil nenek tersebut sembari jalan menghampiri Jongin. Jongin pun menghampiri nenek itu dengan bingung.

“Kamu punya pacar enggak?” Tanya nenek itu dengan serius. Jongin menggeleng.

“Ah tapi ada orang yang kau suka kan?”

Jongin menatap nenek tersebut dengan pandangan bingung. Untuk apa nenek tersebut menanyakan hal pribadi seperti itu,, padahal mereka tak pernah saling kenal. Jongin diam tak menjawab.

“Haish, anak muda ini tak sopan sekali! Jangan diam saja, jawab pertanyaanku!” Gertak nenek itu kesal sambil memukul lengan Jongin. Mau tak mau Jongin pun menjawab.

“Eu… iya ada.” Angguk Jongin dengan muka memerah. Setiap membayangkan wanita idamannya pasti muka Jongin memerah.

“Ah baguslah!” Lega nenek. “Kau pasti ingin bisa bersama orang yang kau sukai itu kan?”

Jongin kembali mengangguk bingung.

Nenek itu membuka resleting tas yang Ia jinjing tadi, Ia mengeluarkan dua buah gelang yang kini menjadi miliknya. Nenek itu menyodorkan gelang tersebut padanya. “Ah kalau begitu belilah gelang ini, nak. Gelang ini buatanku sendiri dan sudah kuberi doa di kuil. Gelang ini dapat menjadi jimat cinta! jika kamu dan orang yang kamu sukai akan bersatu dan kekuataan cinta kalian akan bertahan selamanya. Aku menjualnya khusus padamu hanya 250 won saja untuk dua gelang. Aku biasanya menjual 300 won”

Jongin menatap gelang tersebut dengan tatapan aneh. Dahi terlihat jelas mengkerut saat mendengar penjelasan sang nenek. Sejujurnya Ia tak percaya dengan hal seperti itu. Ia pun memutuskan untuk menolaknya, namun Ia menjadi ragu saat melihat mata nenek tersebut. Mata sang nenek terlihat jelas begitu berharap besar pada Jongin. Jongin pun menjadi tak tega.

“Hm… kalau begitu aku beli satu saja ya nek gelangnya.” Ujar Jongin.

Nenek itu menggerakkan jari telunjuk kanannya ke kiri dan ke kanan. “aniya! Tidak bisa! Jika kua ingin gelang ini berfungsi sebagai jimat kau harus membeli keduanya dan memberikan gelang yang satunya pada gadis yang kau sukai. Ayolah anak muda belilah kedua gelang ini.”

Jongin melihat penampilan nenek yang ada dihadapannya. Nenek tersebut tampaknya sudah bejalan cukup jauh membawa dagangannya. Nenek itu tampak sesekali memegangi pinggang dan kakinya. Mata nenek tersebut masih memancarkan secercah harapan pada Jongin. Jongin menghela nafasnya. Ia tak tega melihat nenek itu. Ia jadi membayangkan bagaimana jika itu adalah neneknya sendiri. Dengan niat menolong akhirnya Jongin merogoh saku celananya mengeluarkan 250 won. Tanpa banyak bicara Ia langsung memberikan uang itu pada nenek tersebut, dan nenek tersebut sangat berterima kasih pada Jongin karena telah mau berbaik hati membeli dagangannya.

Kini Jongin agak menyesali kebaikan hatinya tadi. Ia bingung apa yang harus Ia lakukan dengan gelang tersebut. apa Ia harus benar-benar memberikannya pada gadis yang Ia sukai? Sayangnya Jongin tampaknya tak punya keberanian untuk melakukan hal itu. Ataukah Jongin harus membuang gelang tersebut? tapi Ia mengingat perkataan nenek tadi jika nenek tu membuat gelangnya sendiri. Rasanya terlalu kejam jika Ia membuang jerih payah nenek tersebut, dan lagipula Ia merasa sayang dengan uang 250 wonnya. Ia tak mau 250 wonnya itu sia-sia. Atau pilihan lainnya, Ia memberikan kedua gelang tersebut pada pasangan lain. Huh… tapi Jongin merasa tak rela untuk melakukan itu. Tetap saja dala lubuk hatinya Ia ingin memberikan gelang itu pada gadis itu.

Jongin pun meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi LINE. Jarinya mengetikan sebuah nama. Nama yang Ia cari pun tertera di layar ponsel. Ibu jarinya bersiap untuk menyentuh nama tersebut untuk mengirim pesan, namun entah mengapa rasanya ibu jarinya tak mau bergerak. Jempolnya mendadak terasa kaku.nyalinya kembali ciut. Dengan kesalnya Ia melempar gelang ke sofa yang Ia duduki. Jongin mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Untuk melepas rasa kesalnya Jongin berteriak.

Kyungsoo yang baru membuka pintu kamarnya setelah bangun dari hibernasinya terkejut melihat Jongin berteriak. Kyungsoo segera menghampiri Jongin dengan khawatir.

“Terjadi sesuatu?” Panik Kyungsoo sambil duduk disebelah Jongin.

Jongin menggeleng lemah.

“Terus kenapa kamu teriak? Kayak yang histeris. Bikin kaget orang, tahu!” Protes Kyungsoo.

Jongin diam menatap Kyungsoo dengan muka sinis bercampur sebal. Kyungsoo jelas makin tak mengerti diberi tatapan seperti itu.

“Kenapa kau memberiku tatapan seperti itu?”

Jongin langsung memukul bahu Kyungsoo dengan keras. Sudah asti Kyungsoo langsung meringis dan protes.

“Ya! Kenapa kau memukulku?” Protes Kyungsoo sebal.

“Kau menduduki gelangku!”

Kyungsoo pun langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia mengambil gelang yang telah Ia duduki dan melihatnya dengan tatapan tak percaya sekaligus remeh. “Ya ampun, cuman gelang ini. biasa aja kali, enggak usah histeris.”

“Ini tuh enggak cuman, tapi…” Jongin tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

“Tapi kenapa?”

Baca lebih lanjut